IF: IMAGINARY FRIENDS Review

 

“We grow old because we stop playing”

 

 

Orang dewasa sudah lupa caranya menjadi anak-anak. Atau mungkin lebih tepatnya, orang dewasa ‘terpaksa’ melupakan caranya menjadi anak-anak. Karena ketika sudah dewasa, kita harus berhadapan dengan banyak realita kehidupan. Dan memang realitanya; hidup itu cepat dan keras. Menuntut tanggung jawab besar, serta kita harus bersiap menyongsong begitu banyak perpisahan. Saat dewasa, sudah tidak ada lagi waktu untuk bermain-main. Maka lantas kita merasa jadi dewasa itu berarti kudu serius, enggak boleh kekanakan. Sutradara John Krasinski punya kontra-argumen soal ini.  Bahwa jadi dewasa bukan berarti harus melupakan sisi kanak-kanak yang kita punya. Belakangan banyak membuat horor, Krasinski kali ini mengeksplorasi dunia imajinasi penuh fantasi dengan nada yang ringan dan hangat untuk tontonan keluarga. Dia pun kembali menapaki sisi playful dirinya yang kita kenal ketika dia sebagai seorang aktor yang meranin karakter ikonik, Jim, yang suka ngeprank dalam serial The Office (2015). Ya, Krasinski pertama-tama tampak ingin menampakkan bahwa dirinya sendiri belum lupa. Lalu kemudian lewat IF ini, Krasinski mengajak kita untuk belajar bagaimana caranya kembali menjadi anak-anak.

IF bicara tentang Imaginary Friends – ‘teman khayalan’ yang mungkin kita semua punya saat masih anak-anak. Saat kita masih suka mengkhayal tentang robot, dinosaurus, Goku, ataupun kuda poni. Jangan sampe ketuker ya antara IF dengan Imaginary (2024), karena keduanya memang sama-sama tentang teman khayalan, tapi tentu saja pendekatannya berbeda. Krasinski sebenarnya juga jago membangun dunia horor, hanya kali ini dia lebih memilih untuk bangun dunia fantasi yang lebih ‘magical’. Jadi IF ini bercerita tentang anak perempuan bernama Bea yang membantu para monster-monster imaginary friends untuk mencari anak-anak baru sebagai teman bermain. Monster-monster itu kesepian karena anak-anak yang menciptakan mereka udah pada gede dan melupakan mereka. Bea bergabung bersama Calvin, pria yang tinggal di kamar di lantai atas apartemennya, bekerja sebagai semacam biro jodoh untuk klien mereka; monster-monster yang kini tinggal di tempat rahasia yang hidup berkat imajinasi anak-anak manusia. Tadinya tempat itu boring, kayak rumah panti jompo, karena dibangun dari imajinasi Calvin yang sudah dewasa. Tapi semenjak Bea bergabung, tempat itu jadi lebih ceria,  lebih fantastis!

review if
‘Bea’ as in ‘Be-a-kid again!’

 

Kreativitas dari desain dunia dan monster imaginary friendsnya itulah yang jadi salah satu yang bikin film ini menyenangkan. Di tempat para monster tadi misalnya, logika yang dipakai film ini persis kayak old-cartoon’s logic. Yaitu tempat yang begitu imajinatif, sehingga akal sehat kita gak berlaku di dalam sana. Kita hanya bisa terkesima bernostalgia ke masa kecil saat menonton kartun, masa ketika lokasi ajaib itu terasa sangat menakjubkan, bukannya annoying bagi kita. Para monster yang dihadirkan juga beragam, desain 3Dnya mentok-mentok, ada yang makhluk berbulu besar dengan style ala Monster Inc, ada yang kayak kupu-kupu tapi ala kartun klasik Disney, ada yang random kayak monster gelembung ataupun yang wujudnya segelas air putih dengan satu kubus es (my favorite!), ada juga yang totally aneh berupa monster yang tak-kelihatan. Si Calvin sampe ngedumel anak macam apa yang membayangkan teman yang tak bisa dilihat, hihihi.. Namun di situlah aku sadar alasan desain segala-gaya tersebut.  Karena monster-monster itu terlahir dari khayalan anak-anak, maka otomatis wujud mereka pun begitu beragam, sesuai dengan personality dan lingkungan yang membentuk imajinasi si anak. Makanya nanti kita ikut merasa seru dan penasaran menebak siapa kira-kira anak original dari masing-masing monster. Film pun lantas semakin meriah karena pengisi suara monster-monster tersebut basically cameo dari nama-nama besar, ‘teman-teman’ John Krasinski, yang sering juga castingnya mereference kepada inside joke tertentu sehubungan karir para aktor atau juga clue tentang siapa sebenarnya si karakter.

John Krasinski sendiri pernah bilang filmnya ini seperti film Pixar live-action. Mungkin karena tampilannya yang mencampurkan dunia nyata, manusia asli, dengan karakter-karakter animasi dengan desain beragam tadi.  Serta karena IF juga berfokus kepada drama karakternya. Of course, sekali lihat, tema teman khayalan yang dilupakan ini bikin kita teringat sama Bing Bong di Pixar’s Inside Out (2015) Cerita IF memang terasa seperti berakar pada salah satu adegan paling bikin mewek di film tersebut, yaitu ketika Bing Bong si teman khayalan, merelakan dirinya dilupakan. Tapi kalo dilihat-lihat muatan dan ceritanya keseluruhan, IF juga bisa terlihat kayak versi lebih ringan dari gabungan antara The Boy and the Heron (2023) dengan The Sixth Sense (1999). Nah lo?

Mirip karena Bea ngalamin hal yang mirip dengan Mahito. Sama-sama harus berdamai dengan kematian ibu. Bea yang menginjak usia dua-belas tahun itu tumbuh jadi anak yang hardened oleh kematian tersebut. Dia yang tadinya cheerful dan penuh imajinasi – seperti yang terceritakan lewat footage opening yang perfectly set up keluarga Bea – kini mengikhlaskan hidupnya tak bakal seceria dulu. Bea siap mental untuk hidup yang lebih ‘real’. Bea merasa dirinya sudah bukan anak kecil, dia gak mau lagi menengok gambar-gambar karyanya waktu kecil. Despite ayahnya terus ngajak bercanda dengan beragam practical jokes, Bea yang sekarang ini tidak pernah seceria dulu. Karena deep inside, Bea khawatir kehilangan lagi. Bea khawatir ayahnya yang sakit jantung bakal menyusul ibu. Film dengan tangkas menceritakan perasaan Bea; meskipun di awal pace sedikit agak lambat tapi kita akan mengerti dengan cepat, dan tone film tidak sampai jatuh terlalu depress. Kehadiran monster-monster IF dengan segera mengisi baik itu perasaan khawatir Bea, maupun tone film sehingga kembali ceria. Para monster dan tempat yang hanya bisa dilihat oleh Bea dan Calvin menjadi panggung dinamis tempat film perlahan mendevelop karakter Bea. Berangsur gadis kecil ini kembali menjadi ‘anak-anak’. Dengan membantu para monster menemukan anak sebaagi pasangan bermain, Bea menemukan kembali penyadaran bahwa hidup harus diwarnai oleh cerita-cerita. Di sinilah hati film menunjukkan wujudnya. Terenyuh sekali rasanya melihat usaha Bea demi para monster, melihat para monster konek kembali dengan anak mereka. Hingga ke momen ada salah satu karakter yang Bea gak nyadar sebenarnya karakter itu adalah teman khayalan, dan membantunya berarti membantu dirinya sendiri.

Kita berhenti bermain bukan karena kita sudah tua. Sebaliknya, kita tua justru karena kita memutuskan untuk berhenti bermain. Kita tumbuh tua dan menyedihkan karena telah melupakan kebahagiaan yang kita anggap hanya bisa dimiliki saat anak-anak. Padahal sebenarnya tidak ada yang menghalangi kita untuk hidup dengan lepas dan ceria seperti masih kecil dulu. Kita tidak harus lupa ataupun menunda bahagia ketika hidup got real.

 

Bukti orang dewasa lupa rasanya jadi anak-anak dapat kita lihat pada film anak-anak. Yang seringkali antara punya karakter anak yang terlalu kaku dan bertingkah exactly kayak orang dewasa yang sedang berpura-pura jadi anak kecil (kayak, mana ada anak kecil nyebut kuburan sebagai ‘areal pekuburan’) ataupun film anak yang terlalu memanis-maniskan – membuat orang dewasa di sekitarnya blo’on ataupun tidak berani memberikan konsekuensi nyata kepada karakter anaknya. Or worse, karakter anak cuma dijadikan korban karena mereka yang paling gampang dikasihani. John Krasinski setidaknya membuktikan dia tidak lupa bagaimana jadi anak-anak. Dia tidak takut untuk berkreasi dengan pengarahan dan kamera. Pun, dia tahu persis bagaimana posisi protagonis ceritanya. Anak kecil yang sudah siap menjadi dewasa karena kehilangan, tapi sebenarnya belum benar-benar siap. Bea tampak natural, dia beneran tampak seperti gimana anak seumuran itu – anak yang merasa dirinya dewasa tapi belum – bertindak. Nge-cast Cailey Fleming yang memang sebearnya lebih tua dibanding umur karakternya membuat Fleming jadi tampak effortless ngasih aura dewasa di balik keinnocenant Bea. Chemistry-nya dengan Ryan Reynolds yang jadi Calvin (dengan dinamika standar orang dewasa penggerutu dengan anak yang lebih loose) juga terasa cukup natural.

Temanku dulu kok begini, tapi kini tak nampak lagi

 

Namun bahkan John Krasinski yang punya perhatian pada world-building dan pesona utamanya sepertinya memang berada pada persona kekanakan (sebagai Ayah Bea di sini, dia persis kayak Jim  di serial The Office) belum sepenuhnya lancar bercerita di dunia fantasi petualangan. Aplikasi horornya ke cerita anak-anak baru seujung kuku Guillermo del Toro. Karena naskah dan arahan IF pada akhirnya berbelok lebih ke galian dramatisasi terhadap kenangan masa kecil, terhadap kembali teringat pada masa kecil, ketimbang pendalaman. Secara emosi memang berhasil, tapi masih ada pembeda tegas antara bentukan cerita IF dengan cerita anak Pixar maupun dongeng del Toro. Film punya konsekuensi – Bea boleh jadi tidak akan bahagia lagi kalo nanti ayahnya meninggal, tapi film ini urgensinya masih kurang. Stake-nya masih kurang. Sebuah film memang gak harus ada villain atau antagonis, tapi itu bisa dilakukan jika ceritanya bisa establish stake dari sekitar protagonis. IF kurang nendang karena batasan atau pertaruhannya kurang ditekankan. Like, para monster dibuat tidak menghilang jika dilupakan oleh anak yang menciptakan mereka. Mereka cuma terlantar di tempat rahasia bersama-sama. Sehingga jikapun Bea gagal membantu, terasa tidak begitu jadi soal. Perkara Bea takut kehilangan ayahnya; film ini pun kurang karena incaran relasi antara father-daughter kurang mendapat screen time, dan perjuangan Bea membantu monster tidak diparalelkan dengan Bea, mungkin misalnya, menyelamatkan ayahnya. Atau mungkin membantu ayahnya ketemu sama monster IFnya semasa kecil. Instead, relasi utama terbagi dua, yaitu satu lagi antara Bea dengan Calvin. Tapi karena relasi mereka ini konsepnya adalah revealing yang mengharukan, maka mereka juga tidak benar-benar ada naik turun. Krasinski pada akhirnya terasa terlalu sibuk mengarahkan agar ceritanya tidak berakhir seperti modelan biasa, sehingga ceritanya ini kurang terasa nendang.

 

 




Komedi dan drama yang jadi hati film ini memang mampu mengena. Kreasinya juga cukup sukses bikin kita terpana, membuat kita kembali juga kepada kenangan masa kecil. Mengingat betapa bahagia dulu di masa itu, serta orang-orang yang ada di masa itu bersama kita sehingga masa itu rasanya bahagia sekali. Lewat sudut pandang anak yang cope with family loss, bahasan dunia teman khayalan ini pengen dibuat mature, hanya saja ternyata eksplorasinya tidak sedalam itu. Film akhirnya lebih mengandalkan kepada dramatisasi dari ketemunya para monster dengan anak-anak teman bermain mereka. World building yang menakjubkan itu akhirnya terasa kurang komplit, karena urgensi cerita masih kurang terasa. Film ini jadinya terasa sama dengan para monster khayalan; cute dan loveable, namun untuk penilaian, dia samanya dengan nama protagonisnya. Bea, alias dalam bahasa Inggris dibaca ‘B’
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for IF: IMAGINARY FRIENDS

 

 




That’s all we have for now.

Pernahkah kalian punya teman khayalan? Di umur berapa kalian mulai menyadari dan melupakan teman tersebut?

Silakan share di komen yaa

Yang pengen punya kaos film lebaran Siksa Kubur versi My Dirt Sheet bisa pesen di sini yaa (ada 2 model, loh!) https://www.ciptaloka.com/+mydirtsheet/

Bagi kalian  melewatkan di bioskop, atau pengen nonton ulang Killers of the Flower Moon, film ini bisa ditonton di Apple TV. Kalian bisa subscribe dari link ini yaa https://apple.co/3QWp4Yp

Get it on Apple TV
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA and BEST BOOK REVIEW HORROR & THRILLER EDITION ON TWINKL


GODZILLA MINUS ONE Review

 

“He who fights and runs away may live to fight another day.”

 

 

Dunia memang terlalu besar untuk ditinggali sendiri, manusia harus belajar untuk hidup harmoni bersama makhluk lain. Begitulah pretty much konsep dari film-film creature atau monster. Godzilla pun lahir dengan latar belakang yang serupa. Dinosaurus-like, monster raksasa, dianggap sebagai setengah-dewa penghancur setengah-dewa pelindung Bumi dari monster/kaiju lain. Manusia dalam cerita monster seperti Godzilla harus co-exist dengan makhluk yang terganggu oleh polusi atau teknologi tak-bertanggungjawab yang kita ciptakan. Lucunya,  dunia perfilman juga ternyata terlalu besar untuk ditinggali oleh satu jenis film Godzilla. Kita harus belajar untuk hidup harmoni dengan tipe-tipe film tersebut. Ada film Godzilla yang cheesy, yang isinya monster raksasa saling bertarung, dengan karakter manusia sok asik for the sake of ‘entertainment’ (misalnya Godzilla X Kong baru-baru ini), dan ada juga film Godzilla yang lebih ‘serius’. Karya Takashi Yamazaki ini masuk ke dalam tipe kedua. Godzilla Minus One tidak semata bersandar pada aksi monster yang ridiculously gede, melainkan berfokus kepada kisah kemanusiaan yang hidup menyertainya. Minus One pada judulnya merujuk kepada keadaan manusia Jepang yang luluhlantak oleh perang, dan mereka masih harus berhadapan dengan kemunculan Godzilla yang set them more far back, karena monster ini justru muncul saat manusia-manusia itu berusaha membangun hidup dari nol.

Untuk meng-emphasize poin keadaan hidup di bawah garis nol tersebut lebih jauh, Godzilla Minus One memanggil protagonis kepada Shikishima, seorang pilot tempur pesawat bunuh diri, yang mangkir dari misinya di akhir Perang Dunia II. Shikishima berdalih ada yang rusak di pesawatnya sehingga dia mendarat di pulau untuk reparasi oleh teknisi militer di sana. Di pulau itulah, malamnya, Shikishima pertama kali bertatap muka dengan Godzilla. Monster itu menyerang pulau, dan sekali lagi Shikishima mempertontonkan kepengecutannya dengan tidak sanggup menembak Godzilla dengan senjata di pesawat. Sejak itu, Shikishima hidup dengan rasa bersalah menggerogoti hati. Cerita Godzilla Minus One berpusat pada Shikishima yang tinggal di puing bekas rumah orangtuanya, bersama seorang perempuan asing dan anak kecil yang butuh pertolongan. Shikishima menampung mereka, mereka hidup bersama, tapi Shikishima tidak mau menganggap ataupun menjadikan mereka sebagai keluarga. Karena Shikishima belum selesai dengan ‘perang personalnya’. Godzilla di cerita Shikishima bertindak sebagai perwujudan yang harus dikalahkan oleh Shikishima dalam journey personalnya. Shikishima bekerja jadi penyapu ranjau di laut, dan di sanalah kesempatannya bertemu sekali lagi dengan Godzilla. Bertekad untuk tidak lagi kabur, Shikishima sekarang berniat untuk benar-benar mengorbankan dirinya, demi masa depan tanpa Godzilla.

reviewGodzillaMinusOne
Sudah perang, diserbu Godzilla pula

 

Biasanya nonton film monster kayak Godzilla ini kita suka kesel kalo Godzilla-nya hanya muncul sebentar. Tapi hal tersebut tidak pernah menjadi masalah pada film ini. Godzilla-nya memang hanya muncul sebentar saja (paling cuma belasan persen dari total durasi dua jam), dan sebagian besar cerita membahas tentang kehidupan manusia, tapi film tidak pernah terasa membosankan karena bahasan manusanya benar-benar berbobot. Manusia di film ini tidak seperti pada Godzilla X Kong: The New Empire, misalnya, yang cuma sok eksentrik dan dialog-dialog one-liner yang sok asik. Manusia di film ini adalah hati, bahasannya grounded, real, dan kita akan benar-benar peduli dengan mereka. Dialog film ini tidak berisi mumbo-jumbo teknologi yang harus dicari oleh tim manusia untuk mengalahkan Godzilla atau monster lainnya. Tidak ada tempo supercepat ala Hollywood yang terkesan kayak memburu-burukan cerita yang hampa supaya cepat sampai ke bagian monster raksasa. Godzilla Minus One adalah bahasan karakter yang meluangkan waktu untuk membawa kita menyelami karakternya. Kita dibuat peduli sama Shikishima yang bercela. Kita dibuat ingin dia hidup berkeluarga melupakan rasa bersalahnya, tapi sekaligus kita juga pengen dia berhasil mengalahkan rasa bersalah itu tanpa mempertaruhkan keluarganya.

Memang, tidak semua orang menganggap kabur dari battle adalah perbuatan membanggakan. Apalagi orang yang dibesarkan dengan prinsip harga diri dan pride tinggi seperti Shikishima, sang prajurit Jepang. Negara di mana bunuh diri demi perjuangan dipandang sebagai hal terhormat.  Sepertinya inilah salah satu gagasan yang diusung film terhadap budaya negaranya tersebut. Bahwa bunuh diri, kendati terhormat, bukan lantas jadi satu-satunya bentuk mulia perjuangan.  Bahwa ada satu aspek lain yang tak kalah pentingnya, yaitu survive supaya bisa terus melanjutkan perjuangan. Journey Shikishima dan karakter lain di film ini merupakan penyadaran terhadap hal tersebut, bahwa nyawa berharga bukan untuk dikorbankan, melainkan untuk diperjuangkan.

 

Sehingga sebenarnya yang jadi antagonis di dalam cerita ini bukanlah semata Godzilla. Melainkan prinsip mengorbankan diri yang telah jadi tradisi di negara itu sendiri. Para manusia harus ‘mengalahkan’ prinsip tersebut sebelum bisa mengalahkan Godzilla. Makanya film ini terasa lebih membesar lagi. Perjuangan manusia-manusia Jepang dalam menghalau Godzilla, digambarkan sebagai perjuangan kolektif masyarakat. Situasi negara setelah Perang Dunia II dijadikan panggung yang mempush warga untuk segera melakukan tindakan sendiri, karena negara tidak bisa langsung turun tangan. Kita lihat veteran perang seperti Shikishima berembuk untuk menyusun siasat mengalahkan Godzilla, kita lihat ada percikan drama sehubungan dengan pilihan mereka untuk kembali mempertaruhkan nyawa, mempertanyakan apakah kali ini untuk negara atau bukan. Bagi mereka ini sudah bukan lagi soal patriotisme, melainkan hal yang lebih personal. Film bahkan menyebut betapa ‘cerahnya’ wajah para pejuang ketika mereka bekerja di kapalPerundingan siasat ini nyatanya lebih menarik dan lebih kita mengerti ketimbang misalnya obrolan tetek bengek sci fi yang biasa kita temui pada Godzilla versi Hollywood. Film Jepang ini paham untuk membuatnya tetap pada gagasan dan tema, sehingga bahkan ketika tersempil paparan untuk majunya plot pun, film ini tidak terasa terbebani.

Notice gak gimana Godzilla menggigit, tapi sama sekali tidak pernah memakan manusia?

 

Dan ketika beneran sudah memperlihatkan aksi-aksi manusia berusaha survive dari monster raksasa, film ini pun tetap bertaring.  Efek visual nya memang tidak mentereng, spektakelnya memang tidak bombastis, tapi bukan berarti yang disajikan film ini hiburan B-Class. Justru, demi menyeimbangkan dengan cerita yang grounded, visual film ini dibuat dengan sense realisme yang tinggi. Lihat saja adegan ketika kapal rongsok penyapu ranjau yang dinaiki Shikishima dan tiga rekannya dikejar oleh Godzilla. Feelingnya intense banget, padahal yang kelihatan dari Godzilla itu cuma duri-duri di punggung dan puncak kepalanya. Terakhir kali ngerasain kayak gitu di film creature, ya pas film Jaws yang hiunya irit, tapi dread dan impact keberadaannya menguar dari karakter manusia. Build up Minus One inipun gak ada minus-minusnya, mereka membangun kemampuan Godzilla lalu kemudian ngasih punchline sedemikian rupa. Ketika Godzilla hendak menembakkan nuklirnya, misalnya, kita diperlihatkan gimana tubuhnya ‘ngecharge’ dan kemudian ketika dia menembak, efeknya begitu dahsyat. Sehingga ketika next sequence kita melihat Godzilla ‘ngecharge’ lagi, kita ikut khawatir akan dampak yang bisa ditimbulkan. Sound dan musiknya juga bekerja dengan sangat efektif membangun suasana. Baik itu di malam hari, di laut, ataupun di kota, film ini berani dan selalu punya cara unik dalam menampilkan Godzilla. Beberapa adegan mungkin ada yang tampak terlalu ‘anime’, tapi itu hanya karena perbedaan gaya atau pendekatan khas Jepang dengan film Godzilla versi Hollywood yang biasa kita saksikan.

 

 




Clearly, Godzilla yang satu ini dikepalai oleh orang-orang yang paham betul bagaimana membuat fantasi kaiju raksasa bisa co-exist dengan cerita dengan penokohan dan bahasan yang berbobot. Yang membuat film ini jadi luar biasa bagus adalah cara mereka menghadirkan manusia dan Godzilla di dunia yang sama dengan kepentingan yang saling tak tergantikan, sementara juga mengambil resiko dengan tidak benar-benar bersandar kepada spektakle monster dalam menyuguhkan kisahnya. Cerita bertapak pada manusia dengan perspektif dan identitas lokal yang kuat, tentang posisi mereka pada situasi terendah setelah perang, dan Godzilla jadi brutal force yang menguji pandangan hidup mereka. For di antara mereka masih ada yang belum tuntas dengan ‘perangnya pribadi’. Ketika menyuguhkan Godzillanya, film ini juga tidak main-main. Craft mereka menghidupkan Godzilla di dunia Jepang 1940an pantes banget diganjar awards – dan memanglah film ini layak menjadi film Godzilla pertama yang memenangi piala Oscar untuk Visual Efek Terbaik. Yang membuat, film ini bukan saja berhasil menjadi sajian fantasi sci-fi, tapi sekaligus berhasil sebagai period piece perang! Melihat Godzilla di film ini bukan sekadar seru karena besar, dan epic karena pertarungannya dahsyat. Tapi, yang lebih penting, melihat Godzilla di sini, perasaan kita akan tergugah. Takjub dan takut bergulir menjadi satu. Mungkin seperti menonton film inilah rasanya melihat Godzilla sungguhan; beautiful, majestic, tapi juga begitu menakutkan sampai menggetarkan hati.
The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold stars for GODZILLA MINUS ONE.

 

 




That’s all we have for now.

Menurut kalian apakah makna Godzilla sebagai simbol bagi lingkungan ataupun kepercayaan masyarakat?

Silakan share di komen yaa

Yang pengen punya kaos film lebaran Siksa Kubur versi My Dirt Sheet bisa pesen di sini yaa (ada 2 model, loh!) https://www.ciptaloka.com/+mydirtsheet/

Bagi kalian  melewatkan di bioskop, atau pengen nonton ulang Killers of the Flower Moon, film ini bisa ditonton di Apple TV. Kalian bisa subscribe dari link ini yaa https://apple.co/3QWp4Yp

Get it on Apple TV
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA and BEST BOOK REVIEW HORROR & THRILLER EDITION ON TWINKL



DUA HATI BIRU Review

 

“It’s not about being better than anyone else; it’s about being better than you used to be”

 

 

Dua Garis Biru (2019) berhasil menorehkan impact. Bahasan pernikahan dini yang diangkatnya, mencuat berkat perspektif dan gagasan modern yang kuat. Solusi win-win yang diberikan Gina S. Noer kepada karakter-karakternya di film tersebut, bukan tanpa ‘kontroversi’. Menikah karena hamil di usia begitu muda (like, di usia sekolah!) bukan berarti hidup Bima dan – terutama – Dara berakhir. Bahwa perempuan seperti Dara masih bisa kok meneruskan dan mengejar karirnya. Bahwa bukan hanya  selalu perempuan yang harus menanggung beban punya-anak. Hidup baru mereka justru baru saja dimulai. Syd Field bilang, sebuah film yang bagus ketika film itu tamat, ceritanya tidak ikut berakhir. Melainkan dunia karakternya masih berlanjut, mereka seolah masih terus hidup di dalam kepala kita. Well, sekarang kita bisa berhenti membayangkan gimana kelanjutan Bima mengasuh anak sepeninggal Dara yang lanjut kuliah ke Korea. Karena Gina S. Noer, kali ini bersama Dinna Jasanti telah membuat kisah officialnya. Dua Hati Biru adalah lanjutan yang membahas struggle personal baik itu Bima maupun Dara yang menjadi orangtua muda, lengkap dengan beban, root keluarga, dan masing-masing ego mereka.

Setelah empat tahun, Dara kembali ke tengah-tengah Bima, Adam, dan keluarga besar mereka. Selama ini Bima mengasuh Adam sendirian, dengan bantuan ayah dan ibunya. Angga Yunanda basically meranin cowok yang jadi single dad selama empat tahun. Sebagai lulusan SMA, Bima bekerja sebagai penjaga kolam bola di mall, sehingga dia bisa curi-curi kesempatan untuk membawa dan bermain dengan Adam sambil gawe. Sehingga Adam pun otomatis lebih dekat dengan Bima, ketimbang dengan Dara yang hanya berkomunikasi lewat video call. Kehadiran kembali Dara yang kini lebih dewasa (kali ini diperankan oleh Aisha Nurra Datau), dengan benak penuh mindset baru termasuk juga dalam hal parenting,  tentu saja mengubah semua dinamika tersebut. Tidak segampang itu bagi Dara yang ingin Bima dan dirinya mandiri, lepas dari tangan keluarga besar yang merasa lebih tahu cara merawat anak. Tidak segampang itu bagi Dara untuk bonding dengan Adam yang menolak kehadirannya. Sebaliknya, sama tidak gampangnya bagi Bima untuk ‘evolve’ seperti Dara; tidak segampang itu bagi Bima untuk menerima nafkah dari istrinya. Ah, menjadi orangtua ternyata memang banyak ‘tidak segampang itu’-nya. Let alone menjadi orangtua muda.

review dua hati biru
Adam was right soal mamanya beda

 

Serta merta, anaklah yang jadi stake rumah tangga Bima dan Dara. Terjadi apa-apa sama Adam, berarti kegagalan mereka sebagai orangtua. Sepertinya ini jugalah (selain judul) kenapa film memutuskan untuk tidak memilih di antara dua sebagai satu perspektif utama. Film tidak memulai cerita dengan memperlihatkan kenapa Dara memutuskan untuk pulang, dan sebaliknya film tidak  dimulai dengan detil kehidupan sehari-hari Bima mengasuh Adam, melainkan hanya lewat montase singkat. Dua Hati Biru ingin membahas kedua sudut pandangBima dan Dara secara menyeluruh supaya konflik rumah tangga pasangan muda ini terbahas semua. Karena keduanya memang masih harus banyak belajar bagaimana cara menjadi orangtua yang baik, bukan yang sempurna. Film menampilkan banyak masalah sehari-hari parenting mereka lewat kejadian-kejadian yang relate banget. Permasalahan yang memang bisa kita jumpai pada rumah tangga orang beneran. Anak yang menangis karena mainan kesayangannya ‘hilang’, suami yang kedapatan kebanyakan main hape/game, ibu mertua yang gak taat sama jam tidur anak. Kedekatan kejadian atau masalah-masalah mereka membuat film ini menyenangkan untuk ditonton, sebab sedikit banyak kita pasti akan membawa kisah ini kepada pengalaman, sehingga tanpa sadar kita ikut melibatkan dalam usaha penanganan masalah yang mereka lakukan. Film berhasil menghindar dari menggurui.

Value-value yang disajikan perihal hidup berumah tangga toh memang berharga sekali. Salah satu yang disorot adalah tentang komunikasi. Di masyarakat sepertinya lumrah, yang namanya keluarga mau itu kelas menengah ataupun atas, biasanya komunikasi ya itu pakek emosi. Pakek nyolot. Aku tergelak melihat adegan meja makan Dara-Bima-Adam bersama keluarga Bima. Masing-masing ngobrol, dengan suara keras. Tergelak karena teringat keluargaku begitu juga, kalo udah ngobrol semua berebut ngomong. Semua berebut nyumbang pendapat untuk satu masalah sepele. Semua ngotot ingin ‘ngatur’. Dua Hati Biru meluangkan waktu untuk menguliti cara komunikasi begini. Film dengan perspektif menyeluruhnya memperlihatkan kenapa para karakter jadi begitu. Karena mereka sama-sama peduli sama keluarga. Mereka sama-sama capek kerja, mikirin yang terbaik buat si kecil. Apa yang disebut ego itu sebenarnya cuma rasa khawatir dan peduli yang sama besarnya, sehingga masing-masing merasa knows better. Padahal enggak. Komunikasi ‘berantem’ begitu justru membuat perasaan semakin sulit tersampaikan dengan benar.

Perbedaan Dara dan Bima bukan sebatas soal beda kelas sosial atau beda level pendidikan. Tapi juga soal mindset. Yang satu belum bisa berubah sementara satunya sudah mengerti pentingnya untuk evolve. Hanya saja, keduanya sama-sama failed to realize berubah itu bukan berarti menjadi lebih baik dari orang lain. Film menyebut anak-anak belajar dari orangtua mereka. Dara dan Bima kendati sudah jadi orangtua, mereka juga berangkat dari anak yang melihat kepada orangtua mereka. Dan mereka merasa harus berubah menjadi lebih baik daripada orangtua mereka. Yang mereka perlukan sebenarnya menyadari tidak ada orangtua yang sempurna. Mereka cuma perlu menjadi lebih baik dari diri mereka sendiri sebelumnya.

 

Bahasan perspektif yang menyeluruh ini tentu saja memerlukan penampilan akting yang maksimal. Inilah yang juga jadi salah satu kekuatan film ini. Akting yang terutama terasa natural.  Pemeran pendukung membuat dunia lebih hidup karena mereka semua tampak luwes. Pemeran anak Farrel Rafisqy akan mencuri perhatian kita karena – satu kata – gemas. Mbak Gina ternyata jago juga mendirect aktor cilik; bukan hanya penulisan dialognya tidak tampak dipaksa, aktingnya juga. Aisha Nurra Datau juga ‘temuan’ yang sangat jeli; presence maupun permainan aktingnya sebagai Dara versi sudah evolve jadi dewasa sungguhlah patut kita apresiasi. Dia melanjutkan karakter ini tanpa canggung. Namun di luar itu, aku penasaran juga gimana kalo Dara tetap diperankan oleh Adhisty Zara; karakternya yang sudah dewasa ini tentu secara meta harusnya bisa jadi pembuktian Zara memerankan karakter yang sedikit lebih dewasa dari biasanya. Sementara, Angga Yunanda tampak semakin terasah. Membandingkan dengan penampilannya di Dua Garis Biru, aku merasa Angga yang sekarang ready for more emotional ataupun adegan yang lebih demanding lainnya. Sehingga aku sempat menyayangkan juga film ini tidak seperti film pertama yang fokus pada satu perspektif, yaitu Dara. Aku menyangka bakal gantian di film keduanya ini, giliran Bima yang jadi fokus

Nontonin Adam hilang, aku malah lihat Max ama Ucil di layar

 

Itulah, sebenarnya perspektif dan bahasan yang banyak ini merupakan sandungan yang biasa kita rasakan pada film-film Gina S. Noer belakangan ini. Dua Hati Biru, sama seperti Like & Share dan Cinta Pertama, Kedua, & Ketiga sebelumnya, melimpah ruah oleh bahasan. Akibat yang pertama ternotice adalah ada beberapa yang seperti tidak membangun kepada apa-apa. Misalnya, soal giliran Dara yang kerja, tapi rintangannya adalah dia harus melepas cincinnya; pura-pura masih single. Kirain ada konsekuensi atau akibat lanjutan dari dia melepas cincin, tapi ternyata tidak ada bahasan susulan. Kemudian, flow ceritanya pun lebih seperti buku ketimbang sekuence film dengan tiga babak. Alih-alih masalah puncak yang terbuild up dari masalah-masalah lain yang timbul sepanjang proses pembelajaran karakter, alur dalam film ini terasa seperti episode; masalah satu datang setelah masalah yang sebelumnya reda, terus begitu sampai struktur naskah seperti tidak muat membendung. Jadilah sering muncul kesan “oh udah mau beres, eh ternyata belum” saat menonton film ini.  Susah untuk pinpoint di mana cerita akan mendarat, karena penggalian masalah/bahasan terus dilakukan  sampai bener-bener waktu mau habis, saking banyaknya bahasan. Dan ketika nanti cerita bener-bener tamat, efeknya jadi kurang berasa. Permasalahan yang dialami karakter jadi seperti rutinitas saja. Apalagi konteks masalahnya adalah rumah tangga, yang kita semua tahu bakal terus ada masalah, sehingga dengan memusatkan pada masalah silih berganti, ending dengan penyelesaian masalah terakhir itupun jadi kurang kuat. Hidup mereka yang lanjut saat film berakhir pun jadi kehilangan bobot menarik karena kita sepanjang film juga mengikuti siklus yang sama. Tidak seperti pada film Dua Garis Biru yang penyelesaiannya benar-benar terasa seperti gagasan unik milik film itu sendiri, Dua Hati Biru endingnya terasa seperti just another peace moment. Solusi dari karakter terasa bisa sampai lebih cepat jika film lebih fokus pada perspektif ketimbang masalah.

Rutinitas pasangan muda dengan segudang masalah menanti mungkin lebih cocok jika diarahkan kepada semacam slice of life. Mungkin, bahasan yang banyak seperti ini bisa lebih terakomodir jika film berani memainkan bentuk atau arahan keluar dari zona yang biasa. Aku pikir di kursi sutradara film panjang keempatnya ini, Mbak Gina mestilah sudah lebih dari sekadar capable untuk mencoba bereksperimen dengan gaya storytellingnya. Afterall, adegan long take di UKS pada Dua Garis Biru jadi bukti bahwa pengarahannya cukup peka dan berani. Pada Dua Hati Biru pun kamera berhasil ngasih kesan dinamis yang benar-benar menempatkan kita di tengah-tengah karakter, seperti yang bisa kita rasakan saat Bima dan Dara beserta keluarga masuk ke rumah kontrakan baru. Aku menunggu permainan long take berikutnya, dan ngerasa kayak missed opportunity ketika adegan mereka semua menelusuri gang demi mencari Adam yang hilang tidak dilakukan dengan treatment spesial. Pada penulisan, Mbak Gina terus memperdalam eksplorasi bahasan dan tema, dan itu bagus karena film-filmnya jadi punya kedalaman materi. Sudah saatnya storytelling/directingnya juga ikut dikembangkan untuk mengimbangi bahasannya.

 

 




Cocok loh sebenarnya film ini buat tayang di libur lebaran. Bukan semata karena kreditnya dihiasi sketsa ala lagi lebaran. Ceritanya; yang seputar keluarga hadir dengan vibe dan value berharga yang positif lagi menghangatkan. Permasalahan yang serius seperti parenting dan komunikasi di-tacklenya tidak dengan menggurui, melainkan seperti mengajak duduk membahasnya bersama. Berhasil mengambil jalan tengah dari bentrokan antara permasalahan ‘temurun’ dengan mindset yang lebih modern. Karakter-karakternya pun lovable (terutama Adam yang pasti mencuri perhatian semua penonton). Cuma memang dibandingkan dengan film pertamanya, film kali ini terasa sedikit lebih generic (kehilangan bobot unik karena pasangan muda basically masalahnya sama aja dengan pasangan umumnya), perspektifnya pun lebih bloated, dan tidak diimbangi oleh storytelling yang harusnya bisa dicari bentuk yang lebih cocok untuk menampung semuanya.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for DUA HATI BIRU.

 

 




That’s all we have for now.

Apakah kalian punya tips parenting atau komunikasi dengan pasangan tersendiri?

Silakan share di komen yaa

Yang pengen punya kaos film lebaran Siksa Kubur versi My Dirt Sheet bisa pesen di sini yaa (ada 2 model, loh!) https://www.ciptaloka.com/+mydirtsheet/

Bagi kalian  melewatkan di bioskop, atau pengen nonton ulang Killers of the Flower Moon, film ini bisa ditonton di Apple TV. Kalian bisa subscribe dari link ini yaa https://apple.co/3QWp4Yp

Get it on Apple TV
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA and BEST BOOK REVIEW HORROR & THRILLER EDITION ON TWINKL



SIKSA KUBUR Review

 

“There is no truth, only who you choose to believe”

 

 

Horor-horor modern Joko Anwar, kuamati, cenderung tersiksa oleh narrative yang melemah. Karakter dengan development mengambang, bahasan atau gagasan yang mengawang, dan lantas mengirim kita pulang dengan ‘easter eggs’ instead. Aku sampe pernah membuat thread di Twitter soal protagonis di film-filmnya tersebut basically gak ngapa-ngapain, kurang ‘dihajar’, karena narrative yang tidak mencapai banyak selain keseruan wahana horor. My honest opinion; Joko Anwar desperately need to step up his writing. Sukur Alhamdulillah, usaha untuk peningkatan penulisan tersebut bisa kita rasakan pada horor terbarunya yang diset sebagai tontonan lebaran tahun ini. Siksa Kubur yang tadinya kupercaya sebagai pengembangan dari film-pendek yang dibuat Jokan tahun 2012 (dulu hits banget di Kaskus) ternyata berusaha menyajikan lebih. Bahasan mencoba lebih terarah kepada tema yang lebih jelas, yakni soal kepercayaan. Arahan yang pede menggiring bahasan agama tersebut sehingga tidak terkesan seperti horor-horor lain yang belakangan banyak beredar yang menjual ‘gimmick agama’ semata. Dan terutama sudut pandang protagonis utama yang kali ini benar-benar ditempa.

Kayaknya kita semua pernah, deh, punya hal yang kita percaya saat masih kecil, namun saat dewasa kita sadar yang kita percaya itu ternyata bohongan. (Like, aku dulu nyangka Kane dan Undertaker itu beneran kakak-adik, sampe bela-belain mendebat dan berantem ama teman). Nah, Siksa Kubur seperti berangkat dari soal kepercayaan tersebut, tapi tentunya dengan bahasan yang lebih serius, dan puteran yang lebih mencengangkan. Karena yang dipercaya Sita sedari kecil sejak dua orangtuanya jadi korban bom bunuh diri adalah bahwa agama justru membuat orang menjadi jahat. Bahwa agama cuma ‘alat’ atau alasan orang. Sepeninggal kedua orangtua, Sita dan abangnya, Adil, dibesarkan oleh pesantren. Di lingkungan religius itu pun, kepercayaan Sita bahwa agama cuma kedok menjadi semakin kuat. Sita tidak lagi percaya ajaran agama. Dia tidak mau, sebab pemimpin yang jadi donatur pesantrennya justru juga seorang pendosa yang melukai anak-anak, termasuk abangnya. Sita tumbuh besar dengan tekad untuk membuktikan kepercayaannya. Hal nyata yang bisa ia lakukan adalah dengan ikut masuk ke dalam kuburan, Sita ingin merekam bukti bahwa siksa kubur itu tidak ada. Jadi, di panti jompo itulah Sita dewasa menunggu. Menunggu pak tua yang menurutnya paling keji sedunia untuk mati supaya dia bisa segera melaksanakan pembuktiannya.

review siksa kubur
Siksa kubur Pak Wahyu? I was there.

 

Sita might be the most interesting Joko Anwar’s character so far. She’s so conflicted. She doesn’t even belief what she believed. Like, kita percaya pada agama, kita beriman, tanpa merasa perlu untuk bisa melihat wujud tuhan ataupun mukjizat religius yang lain. Kita seperti yang juga berulang kali disebut dalam dialog film ini; percaya berarti meyakini – tidak perlu melihat dengan mata, melainkan ‘melihat’ dengan hati. Dengan ini, berarti beriman adalah percaya tanpa perlu menuntut pembuktian kalo kita yang percaya itu adalah benar. Kita beriman kepadaNya justru karena kita percaya Dia-lah kebenaran in the first place. Sedangkan Sita, tragedi yang menimpanya membuat perempuan itu tidak percaya akan agama. Keluarganya justru terbunuh, menderita, oleh orang-orang yang percaya pada agama. Orang yang teriming-iming imbalan dari agama, orang yang takut terhadap ancaman/peringatan pada agama. Orang jadi leluasa jahat karena berlindung di balik agama; itu yang Sita percaya. Menurut Sita, moral justru terpisah dari agama. Bahwa dia, dan harusnya juga manusia lain, bisa berbuat baik sekalipun tanpa imbalan atau petunjuk agama. Namun iman Sita terhadap kepercayaannya ini masih lemah, karena berbeda dengan orang beragama yang tidak perlu membuktikan apa-apa terhadap kebenaran yang dianut. Sita justru ngotot untuk membuktikan kepercayaannya tersebut benar. Dia ingin masuk ke kubur, ingin menangkap bukti – yang juga sama conflictednya. Karena pertama, Sita ingin membuktikan siksa kubur – dan agama – itu tidak ada (sehingga perbuatan teroris bom bunuh diri yang menewaskan orang tuanya itu benar adalah kriminal bodoh yang tertipu suara rekaman siksa kubur palsu), tapi sebaliknya terlihat juga secercah harapan Sita untuk adanya siksa kubur karena ada dialog dia seperti frustasi menyebut jangan sampai orang sejahat Pak Wahyu saja terbukti tidak disiksa di dalam sana,

What if everything you believed turned out to be false? what if agama yang kita percaya cuma dongeng belaka? Gimana pula jika kita telah mati-matian percaya agama itu dongeng, tapi ternyata kepercayaan itu-lah yang salah? Enggak akan ada habisnya keraguan, dan di situlah masalah Sita. Dia gagal menyadari bahwa sebuah kepercayaan tidak membutuhkan pembuktian kebenaran. Yang harus dipelajari Sita dalam cerita ini adalah bagaimana membuat dirinya percaya pada apa yang ia pilih untuk percaya. 

 

Basically, yang dieksplorasi sebagai horor dalam film ini adalah state of mind dari Sita. Cara film melakukan itu pun sangat menarik. Sita seperti tegas tidak percaya pada hal gaib, baik itu tuhan maupun setan, tapi kemudian film mengontraskan itu dengan memperlihatkan bahwa pikiran Sita merupakan relung-relung kenangan dan harapan yang menyeleweng dari fakta. Kenangannya terhadap momen terakhir bersama orangtuanya, misalnya, kita saksikan sendiri kenangan Sita itu slightly berbeda dengan peristiwa ‘asli’ kejadiannya. Ketidakstabilan state Sita yang membuatnya menjadi unreliable sekaligus vulnerable, menambah banyak pada elemen horor psikologis film ini. Untuk memperkuat kesan surealis (film membidik ke vibe yang terasa calm, kalo gak dibilang slow, sebagai kontras dari kecamuk kepercayaan yang dirasakan Sita), film menerjunkan kita ke dalam cerita lewat kamera yang bergerak di tengah-tengah dunia. Teknik yang menghasilkan kesan immersive sekali, juga tentunya ampuh saat sekali-kali film berniat mengagetkan kita lewat jumpscare. Struktur cerita pun didesain demikian horor. Meskipun jika kita menghitung durasi, naskah film ini clocked out right on time – point of no return-nya tepat di tengah durasi saat Sita masuk kubur, misalnya – tapi alur yang dibuat linear itu sengaja dipatah-patah oleh, misalnya, skip waktu antara Sita kecil ke Sita dewasa, atau antara mana yang realita dan mana yang surealis (yang sampai review-telat ini ditulis pun batas realita film ini masih seru, santer diperdebatkan di linimasa).

Kesan immersive dalam dunia surealis tersebut salah satunya terjaga lewat penampilan akting yang benar-benar terasa berkesinambungan. Lihat saja bagaimana Reza Rahadian sebagai Adil dewasa ‘meneruskan’ nada maupun gestur weak dan awkward dari Muzakki Ramdhan (weak awkward yang diniatkan karena karakter Adil yang abang dari Sita ini punya wound personal sendiri). Karakter-karakter orang tua di panti jompo, ataupun guru-guru di pesantren, semuanya aktornya paham untuk menampilkan kesan ganjil tersendiri.  Salah satu kritikanku buat horor modern Joko Anwar adalah protagonisnya kurang ‘disiksa’; di film ini, aku tidak lagi jadi kaset rusak karena Sita benar-benar dipush out of her limit. Baik itu Widuri Puteri maupun Faradina Mufti, dapat ‘jatah’ masing-masing untuk mengeksplorasi ketakutan psikis yang didera Sita dalam tahap usia masing-masing.  Mana film tepat banget mengclose up  Sita saat teriak-teriak tobat. Sita terutama akan terasa perkembangannya saat di pertengahan awal dia seperti lancar memegang kendali, tapi di pertengahan akhir semuanya tampak menganeh dan spin out of her control.

Konsep neraka-personal film ini versi lebih calm dari episode terjebak di lubang ketakutan di ‘Fear No Mort’ Rick and Morty

 

Untuk menjelaskan kelogisan dari hal-hal aneh dan di luar kendali Sita setelah dia mencoba masuk ke liang lahat dan merekam jenazah Pak Wahyu, film tampak menggunakan konsep yang serupa dengan yang ada pada film Jacob’s Ladder (1990) atau Stay (2005)-nya Ryan Gosling. Bahwa semua itu terjadi di dalam kepala karakter yang sedang sakaratul maut. Jadi Sita debat dengan Adil, Sita melihat salah satu kematian orang tua di panti, kasus selingkuh di panti yang berujung pembunuhan, semuanya hanya terjadi di dalam kepala Sita yang sedang dikubur hidup-hidup bernapas bermodalkan pipa. Bukinya beberapa dialog film ini menyebut soal kekurangan oksigen dapat mengakibatkan halusinasi. Dan inilah yang membedakan penerapan konsepnya dengan Jacob’s Ladder ataupun Stay. Karena di dua film tersebut jelas kapan momen kritis dan nasib sang protagonis. Sedangkan film Siksa Kubur yang mengelak dari potensi dikecam me-reka sesuatu yang tidak seharusnya dibayangkan oleh manusia beragama, membuat sampai akhir semuanya tetap ambigu. Kendati Sita ‘dilock’ mati oleh naskah pun, film tetap mengaburkan kapan exactly matinya Sita. Adegan siksa kubur yang ujug-ujug over the top itu (mendadak jadi lebih seperti vibe chaos Evil Dead ketimbang tone atmosferic dan slow yang di awal konsisten dibangun film – sampe jadi kayak video karaoke lagu reliji segala!) bisa ‘berlindungi di balik alasan toh gambaran itu masih ambigu nyata atau tidaknya, benar atau salahnya, karena perspektif realita Sita yang dikaburkan.

Dari perbedaan keadaan untuk menerapkan konsep dan perspektif yang harus dikaburkan itulah muncul sedikit masalah pada arahan/penceritaan film ini. Karena di dalam ‘vision-kubur’ Sita (kita sebut saja begitu) juga terdapat perspektif Adil. Jadi semuanya nyampur dan film seperti kehilangan pegangan sehingga bergerak keluar dari perspektif dan jadi lebih seperti untuk bermain dengan penonton directly saja. Film seperti memuat development Adil ke dalam perspektif Sita, meskipun mustahil bagi Sita mengetahui apa yang terjadi kepada abangnya. Kayak soal ular yang mendekati Adil di atas makam aja, film went off memperlihatkan ular tersebut merayap melewati Adil (untuk petunjuk bagi penonton) dan kemudian Adil muncul dengan mata bengkak. There’s no way Sita tahu di atas sana Adil sedang didekati ular, sehingga mustahil juga untuk dia bisa menghalusinasikan Adil menyelamatkannya dengan kondisi seperti habis diserang ular. Jikapun adegan tersebut ternyata nyata, maka itu berlawanan dengan ‘rule film’ soal Man Rabbuka yang didengar Sita setelah escape tersebut (bahwa adegan escape tersebut supposedly terjadi saat Sita meninggal). Sebenarnya yang rugi di sini adalah Adil, karena film udah extra menginclude dirinya, tapi kemudian jadi kabur begitu saja karena film harus stay pada ambigunya perspektif Sita. Yang turut terasa extra sebenarnya banyak, seperti Ismail, seteru kecil Sita dengan keluarga Pak Wahyu, hingga panti jompo itu sendiri. Kepentingannya sebenarnya bisa kita pahami, mereka jadi elemen dalam development Sita (menunjukkan Sita soal tadinya dia pegang kendali, menunjukkan apa yang harus dia pelajari/lakukan, dsb), tapi yang mengganjal adalah kenapa film tidak tetap di pesantren. Semua aspek extra tersebut tampak masih bisa dilakukan, goal film terhadap development karakternya masih bisa tercapai, tanpa Sita (dan Adil) melompat sejauh itu.

 

 




Mungkin film tidak mau terpaku pada konteks satu agama tertentu? Mungkin juga, karena salah satu yang menarik dari film ini adalah memang identitas karakternya adalah Islam tapi dialog-dialog bahasan soal kepercayaan yang relate dan tidak mengunci pada satu ajaran saja. Mungkin seperti Sita, film ini ingin ‘menjauh’ dari agama. Namun pilihan film tersebut tidak serta merta bisa kita judge sebagai hal yang salah. Karena pilihan tersebut dijustifikasi oleh bahasan psikologis yang cukup eksplorasi. Dialog yang baik adalah dialog yang seperti pembicaranya terlibat pertikaian serang dan defense, dan di film ini Sita terus didera perdebatan soal kepercayaannya. Ini membuat kita juga ikut masuk dan peduli. Untuk setelahnya arahan horor yang sedari tadi merayap, mengambil alih dan menghantarkan kita sampai ke finale yang ambigu. Bentukan dan karakter yang hebat untuk sebuah horor psikologis yang surealis. Usaha yang patut diapresiasi, karena kali ini film Joko Anwar tidak semata nyerocos soal easter eggs dan reference, tapi benar-benar ada usaha untuk ngasih something deeper untuk dibicarakan. Aku terutama tertarik dengan karakter utamanya, si Sita yang menyita perhatian.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for SIKSA KUBUR.

 




That’s all we have for now.

Apa kalian punya hal yang dulu kalian percaya tapi sekarang terbukti bahwa hal itu palsu?

Silakan share cerita dan pendapat di komen yaa

Yang pengen punya kaos Siksa Kubur versi My Dirt Sheet bisa pesen di sini yaa (ada 2 model, loh!) https://www.ciptaloka.com/+mydirtsheet/

Bagi kalian  melewatkan di bioskop, atau pengen nonton ulang Killers of the Flower Moon, film ini bisa ditonton di Apple TV. Kalian bisa subscribe dari link ini yaa https://apple.co/3QWp4Yp

Get it on Apple TV
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA and BEST BOOK REVIEW HORROR & THRILLER EDITION ON TWINKL



TIGER STRIPES Review

 

“Tigers don’t change their stripes”

 

 

“Aku jugak mau rotiii!” sekali waktu kecil dulu itu aku nimbrung dengan antusias pas mendengar dua tanteku bisik-bisik bilang nitip mau beli roti. Tapi jawaban mereka aneh. Mereka cuma berpandangan, lalu bilang itu roti untuk orang dewasa. Baru bertahun-tahun kemudianlah aku ngerti roti apa yang sebenarnya dimaksud. Pernah juga waktu SMP, ada teman sekelasku yang perempuan menangis lalu berlari pulang karena diledekin anak-anak yang lain, “Bendera jepang, bendera jepang!” Begitulah entah kenapa di lingkungan kita perihal menstruasi perempuan dianggap sebagai hal yang entah itu seperti Voldemort – tidak boleh disebutkan – atau juga hal yang seperti memalukan. Aku juga tidak banyak bertanya, karena ya itu tadi, urusan orang dewasa dan bukan urusanku yang laki-laki. Ternyata di negeri tetangga juga sama. Mungkin karena lingkungan kita juga masih serupa. Film Tiger Stripes karya Amanda Nell Eu menggali bahwa ketabuan soal hal sepenting itu, ternyata justru berdampak enggak sehat bagi anak perempuan. Karena jangankan anak laki-laki, anak perempuan juga gak tau apa yang terjadi pada diri mereka, dan mereka hanya tahu itu kotor. Tambahkan pula kisah tentang jati diri ke dalamnya, jadilah kisah anak usia 11 tahun ini jadi seperti Turning Red (2022) versi horor!

Di sekolah anak perempuan itu, Zaffan memang cukup dikenal sebagai anak yang badung. Mengunci toilet supaya enggak ada masuk sehingga dia bersama dua temannya bisa puas berseloroh merekam video joget-joget, ataupun bikin corat coret doodle seronok di buku tulisnya, adalah keseharian yang kita lihat Zaffan lakukan. Jilbab seragamnya tidak mampu membuat Zaffan stop mengekspresikan diri, dan seringkali Zaffan kena hukuman karenanya. Baik itu di sekolah maupun di rumah. Dalam level sepermainannya pun, gak sedikit teman Zaffan yang tidak menyukai sikap Zaffan yang ‘liar’. Terlebih ketika anak itu (sepertinya) jadi yang pertama kedatangan bulan di antara mereka. Dengan teman-teman yang menjauhi, dengan lingkungan yang tidak pernah membahas itu melainkan hanya menyebut larangan-larangan yang harus ia patuhi, Zaffan jadi tidak tahu harus mengadu ke mana. Dan mulailah horor itu. Zaffan melihat ada orang di atas pohon. Zaffan merasa tubuhnya berubah. Keluarga dan orang sekitarnya menyaksikan sendiri gimana anak itu berubah menjadi siluman harimau.

review tiger stripes
Aing maung!!!

 

Alih-alih panda merah yang cute, Zaffan berubah menjadi manusia setengah harimau dengan mata menyala ungu, dan dia gak segan untuk menyantap hewan-hewan kecil. Proses transformasinya juga gak ada komikalnya sama sekali. Zaffan mendapati tubuhnya memar-memar, rambutnya rontok, kukunya copot-copot. Ada bulu kasar yang tumbuh, dia cabut, aduh sakit sekali! Transformasi itu digambarkan oleh film lewat image-image dan tone ala body horor. Like, bener-bener disturbing. Cara film ini memvisualkan itu enggak kayak ketika horor anak-anak seperti Goosebumps yang jatohnya lebih ke over the top dan cheesy. Kengerian Zaffan akan tubuhnya itu terasa kuat, dan ini tuh sebenarnya adalah pilihan film, buat menekankan gagasannya. Apa itu gagasannya? Well, transformasi Zaffan ini dipicu oleh satu hal.  Malam itu Zaffan terbangun dan mendapati kasurnya ada noda darah. Kita tidak melihat dia yang bingung dan takut itu dikasih penjelasan apapun. Ibunya yang datang menolong hanya bilang “Kau kotor sekarang.” Jadi kebayang dong seperti apa yang Zaffan rasakan. Dia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhnya, yang ia dengar tentang itu cuma rumor mengerikan, dan betapa itu adalah penanda bahwa dia jorok – anak perempuan gak boleh ibadah selama dapet – membuat dia percaya bahwa dirinya, tubuhnya, berubah menjadi sesuatu yang mengerikan.

Perlakuan mentabukan menstruasi, seolah hal itu lebih kotor daripada seharusnya dijadikan pemantik horor di film ini. Menstruasi adalah fase natural yang dialami perempuan. Memang, pengetahuan dari ajaran agama menerangkan soal orang yang dapet itu berarti dalam keadaan tidak suci. Tapi somehow pada masyarakat, ‘tidak suci’ itu berkembang menjadi selayaknya hal yang benar-benar menjijikkan. Kita mendengar teman dekat Zaffan – yang memang sedari awal punya bibit-bibit jealousy kepadanya – openly mengungkapkan rasa disgust dekat-dekat sama Zaffan yang lagi dapet. Bau-lah. Jijik-lah. Sikap teman-teman sepantarannya itu menunjukkan bahwa bukan hanya Zaffan, melainkan tidak satupun dari anak perempuan di sana yang benar-benar mengerti fase yang bakal mereka lewati. Padahal mereka ini tumbuh dan dididik di lingkungan agamis, dan strive untuk pendidikan yang maju. Jadi film sebenarnya sedang menggugat lingkungan tempat Zaffan tinggal. Lingkungan, yang malangnya, relate dengan lingkungan kita. Dan kemudian memang pada lingkungannya itulah Tiger Stripes memusatkan penggalian.

Suasana kampung melayu dihidupkan, dan dijadikan kontras dengan pribadi Zaffan. Inilah mengapa tadi diset bahwa Zaffan tampak lebih badung dibandingkan teman-temannya. Perspektif Zaffan, teman-teman Zaffan, guru dan orang tua, dan tak ketinggalan relasi kuasa umur dan gender mulai dicuatkan oleh film. Sehingga terjadi juga pergeseran tone dan elemen horornya. Seiring Zaffan semakin dijauhi, seiring dia mulai menerima dan mengembrace yang terjadi kepadanya (ada sedikit juga mengingatkan kepada protagonis di The Animal Kingdom yang perlahan menjadi serigala) tentu dia jadi tidak takut lagi kepada dirinya. Yang semakin takut justru adalah orang-orang di sekitarnya. Horor Tiger Stripes memudar menjadi penyadaran gelap dan dramatis buat kita, saat kita menyaksikan Zaffan menjadi ‘monster’ di mata lingkungannya. Mata-mata itu memandangnya takut, sementara kita dibuat melihat siapa sebenarnya Zaffan, si ranking tiga dan kadet terbaik di sekolah. Tapi bagi orang kampungnya, Zaffan adalah siluman harimau liar, berbahaya dan penuh dosa, anak perempuan berikutnya yang bakal hilang dari desa mereka. Adegan paling heartbreaking film ini adalah ketika Zaffan dirukiyah – disaksikan satu desa – oleh Ustadz yang memperlakukan exorcism ini sebagai entertainment show yang dia siarkan live lewat hape. Semacam perbandingan paralel ngerecord joget-joget; hobi Zaffan. Film juga menurutku bijak sekali membiarkan si Ustadz itu ambigu, apakah dia beneran bisa ngusir atau cuma ‘tukang-obat’, kita dibuat tak pernah persis tahu.

Sama seperti kiasan ‘keliatan belangnya’. Konotasi tersebut memang terasa negatif, karena bermakna seseorang terbongkar kelakuan aslinya. Tapinya lagi, emangnya kenapa dengan kelakuan aslinya tersebut. Memangnya kenapa jika seseorang akhirnya berani jujur dan memperlihatkan siapa dia sebenarnya. Kan tidak mesti semua belang itu pasti buruk dan merugikan orang lain. Yang kita lihat pada Zaffan juga demikian, kita mungkin setuju tidak semua perbuatannya pantas, tapi anak sekecil – apalagi sepotensial itu; dalam urusan otak dan kreasi – harusnya dibimbing. Tapi bahkan soal alamiah dan paling personal dari dirinya sebagai perempuan pun, tidak bisa sepenuhnya dia dapatkan.

“Ooooh crazy, but it feels so right”

 

Berbeda dengan Turning Red yang langsung melandaskan dunianya fantasi, bahwa perubahan Meilin menjadi panda merah itu bukan fenomena ganjil melainkan kekuatan turun temurun yang dirahasiakan darinya; bahwa berubah menjadi panda merah masuk ke dalam kotak ‘possible’ di dalam dunia cerita, Tiger Stripes membiarkan dunianya terbangun surealis. Dibilang normal, jelas enggak. Dibilang beneran gaib, ya kok sepertinya kejadiannya kayak berbeda dan sering tiba-tiba Zaffan dan semuanya seperti normal lagi. Arahan membawa ke ranah surealis, karena dengan begitu, perspektif yang banyak tadi mungkin untuk dilakukan. Supaya shift dari body horor yang lekat pada persoalan Zaffan memandang dirinya ke drama makhluk siluman yang mengenaskan ketika film lebih banyak menampilkan bagaimana Zaffan terlihat oleh mata penduduk, bisa terbungkus tanpa benar-benar mengubah perspektif karakter utama.  Sehingga pengalaman nonton film ini bagi kita terasa seperti sebuah mimpi yang begitu liar. Enggak semua orang bakal suka, tho. Elemen horor film ini berpotensi dianggap ngawang-ngawang, kejadiannya bisa tampak seperti tak konsisten dan gak jelas; film ini sendirinya bisa jadi kayak ‘belang-belang’, dan mudah bagi penonton untuk kehilangan poin. Membuat mereka mengharapkan penjelasan yang tentu saja tak akan pernah ada. Karena yang diincar film adalah mempertanyakan, menggugat, keadaan.

Tapi tentu saja itu merupakan resiko-kreatif yang diambil oleh film. Buatku, itu membuat film ini terasa lumayan fresh. Seperti ngasih variasi ke dalam bentuk-bentuk cerita coming of age horor atau fantasi yang sudah ada sebelumnya. Perspektif dan lingkungannya juga membuat film ini unik. Meskipun film ini seperti punya lebih banyak, tapi yang disuguhkan baru beberapa. Kayak sekolahnya Zaffan. Dari dialog-dialog dan keadaan, film ini seperti menyentil soal sosial unik negara mereka berkaitan dengan stereotipe kelas penduduk/etnis, tapi kita tidak benar-benar melihatnya. Zaffan disebut ranking tiga, dengan juara satu dan duanya kita dengar dari nama-namanya adalah murid dari etnis Cina dan etnis India (yang membuat Zaffan practically etnis Melayu terpintar di sekolah), namun di lingkungan sekolah itu seperti ekslusif menampilkan etnis Zaffan. Mungkin ada konteks sosial lain bahwa mereka tidak benar-benar satu pergaulan, tapi menurutku since film ingin menggugat lingkungan sosial yang lebih tertutup, akan bisa jadi warna atau sudut pandang tambahan gimana teman sekolah Zaffan yang lain memandang dirinya setelah jadi siluman. At least, narasi kurasa  tidak akan dirugikan oleh pembanding tambahan.

 




Kalo Farah iri sama Zaffan, aku iri sama Malaysia karena berani membuat film ini. Karena ini tuh bener tipe film yang ingin kita perlihatkan kepada orang luar. Kita ingin lihatkan gimana di daerah kita punya perspektif dan lingkungan tersendiri sehingga cerita coming-of-age yang formatnya familiar pun bisa jadi unik. Untuk kasus film ini jadi literal misteri dan horor mengerikan. Dengan strong narrative dan arahan yang bertaring, film ini menerobos belukar conventional, dia ingin menggugat lingkungan tempatnya tumbuh. Lingkungan yang bikin ‘susah’ bagi anak perempuan untuk tumbuh menjadi diri sendiri, karena soal ‘dapet’ aja mereka tahunya cuma itu kotor. Dan bicara soal karakter anaknya, film ini punya penampilan akting yang bukan sekadar template akting kesurupan, mereka terasa natural seperti anak-anak umumnya tapi karena tuntutan arahan untuk menghasilkan kesan surealis, playfulness dan keingintahuan mereka yang raw, dapat dengan cepat mereka kondisikan sebagai something yang jadi lebih dark dan dramatis. Bayangkan cerita dengan karakter anak-anak, tapi vibenya udah surealis dan sedisturbing body horror. In other words, selain arahan yang bertaring, film ini juga punya akting yang mengaum.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for TIGER STRIPES.

 




That’s all we have for now.

Menurut kalian kenapa haid itu berkembang menjadi seolah perkara yang tabu di masyarakat kita dan, apparently juga di Malaysia?

Silakan share di komen yaa

Bagi kalian  melewatkan di bioskop, atau pengen nonton ulang Killers of the Flower Moon, film ini bisa ditonton di Apple TV. Kalian bisa subscribe dari link ini yaa https://apple.co/3QWp4Yp

Get it on Apple TV
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA and BEST BOOK REVIEW HORROR & THRILLER EDITION ON TWINKL



AMERICAN FICTION Review

 

“We live in a fantasy world.. the great task in life is to find reality”

 

 

Kita sekarang hidup di dunia fiksi. Memperdagangkan trauma dan kesedihan. Itulah realita yang digambarkan dalam American Fiction, debut penyutradaraan Cord Jefferson. Film adaptasi novel ini di tangannya menjadi komedi satir yang aku pikir bakal bikin gerah beberapa orang, seperti penulis buku/pembuat karya yang memang jadi subjek di dalamnya. Dan walaupun di judulnya ada kata Amerika, satir di film ini gak akan luput mengenai kita di Indonesia. Karena ironisnya, cerita di film ini relate juga dengan kondisi di ‘rumah’. I mean, lihatlah pekarangan sosmedmu. Berapa banyak yang bikin konten yang menuai cuan dari cerita-cerita sedih, cerita orang-orang berantem, atau bahkan cerita kebegoan. Konten yang menjual kalangan minor, ataupun yang sengaja menyasar kepada stereotipe-stereotipe lainnya. Kita sekarang hidup di dunia fiksi. Dunia di mana, sesuai dengan salah satu dialog film ini yang bikin aku ngakak; “The dumber I behave, the richer I get” Film ini begitu lucu karena yang diceritakan benar adanya!

Ya, jaman sekarang idealisme dianggap tidak bisa menghasilkan apa-apa selain stress dan kelaparan. Di cerita film ini, seorang dosen, punya pendidikan dokter, dan penulis novel, Thelonious Ellison yang akrab dipanggil Monk, hidupnya juga mulai menghimpit tatkala novel-novel yang ia tulis dengan serius dan sepenuh hati, katakanlah, tidak laku. Satir film ini langsung ngegas saat publishernya yang kulit putih itu meminta Monk untuk menulis cerita yang lebih ‘black’. Bayangkan disuruh untuk menjadi lebih lokal oleh orang yang sama sekali tidak punya kaitan apa-apa sama kelokalanmu. Lagipula, lanjut sang publisher, pasar cuma butuh dahaga mereka akan konfirmasi bahwa mereka adalah orang yang peduli sama isu terpuaskan. Maka Monk kepikiran menulis novel satir yang isinya penuh oleh stereotipe yang dikenal publik pada ras kulit hitam. Dia menulis buku itu sebagai olokan. Tapi justru buku itu laku keras di pasaran. Kritik dan penikmat kasual – yang hampir semuanya kulit putih – menyukai novel yang sengaja dibikin sebagai pembuktian sampah oleh Monk. Novel, yang ia kasih gimmick ditulis bukan oleh dirinya, melainkan oleh seorang tokoh rekaan. Seorang napi yang kabur dari penjara. Makin meledaklah penjualan novel tersebut saat ‘identitas’ penulis itu diungkap. Sampai-sampai ada produser yang ingin memfilmkan novelnya. Monk, demi keuangan keluarganya, lantas harus memilih; antara tetap menjadi dirinya yang tak bisa menjual apa-apa, atau terpaksa menjadi penulis dan kisah-nyata bohongan yang ia ciptakan sendiri.

reviewamericanfiction
Abis nonton ini, ngereview pun lantas jadi was-was, takut kemakan jebakan pembuat yang seperti Monk

 

American Fiction tayang di bioskop Amerika bulan Desember tahun lalu, hampir bertepatan dengan waktu Jatuh Cinta Seperti di Film-Film memeriahkan bioskop tanah air. Menarik, karena dua film ini basically menggunakan konsep meta yang serupa. Pun sama-sama punya komentar soal industri film/karya tulis negara masing-masing (sama-sama parodiin produser/publisher hahaha). Jatuh Cinta Seperti di Film-Film yang tentang seorang penulis skenario berusaha menulis dan memfilmkan kisah romans dari kehidupan cintanya, currently bertengger di posisi ke delapan dalam daftar Top-8 2023 Movies-ku, dan alasan film itu berada di posisi tersebut adalah karena ada yang mengganjal dari struktur meta yang digunakan terhadap journey karakter utamanya. Film American Fiction ini lantas memberikan kepada kita contoh cara yang benar dalam menghandle konsep tersebut, sehingga journey Monk sebagai karakter utama terasa tetap ‘real’.  Karena American Fiction tidak lantas give in kepada gimmick cerita metanya. Alih-alih menggunakan hitam putih sebagai pembeda, film menggunakan layer akting yang beneran dikaitkan kepada narasi. Monk pria terpelajar kelihatan dari gaya dan cara bicara dia, tapi kita benar-benar ditekankan kepada Monk harus mengubah cara dia bicara, gaya dia menulis, menjadi sesuatu yang stereotipe dan menurutnya degrading ketika dia menulis novel sesuai tuntutan publisher. Akting Jeffrey Wright main betul, dan memang pantas diganjar nominasi. Cara film ini dalam menampilkan sebuah adegan yang ternyata hanya karangan Monk dilakukan dengan sureal namun tetap terang sehingga apa yang sebenarnya terjadi kepadanya tidak pernah tersamarkan sebagai kejadian yang tidak pernah beneran terjadi. Dalam artian, journey yang dilalui Monk tetap jelas, growth yang ia alami tetap kita lihat terjadi kepadanya.

Adegan Monk menulis novel full of stereotypes itu dilakukan dengan menarik oleh film. Monk udah kayak sutradara yang mengawasi dua karakternya berdialog, lalu karakter-karakter tersebut akan balik bertanya “Gue ngomong apalagi nih bos?” atau malah mengkritiknya “Gue ngomongnya gak kayak gitu!” Menyangkut ke perihal satirnya, adegan tersebut dirancang dengan precise sehingga untuk kita – yang merupakan salah satu sasaran sindiran – adegan tersebut akan menghasilkan sedikit perasaan mendua. Adegan dialog itu supposedly nunjukin parody yang jelek, atau beneran bagus. Ketika kita merasakan itulah, pembuktian satir film bekerja dengan benar. Lewat adegan menulis cerita penuh stereotype dan menjual ‘ras’ padahal sebenarnya shallow itulah film membuktikan benar bahwasanya kita sebagai konsumer kadang dengan begonya kemakan konten orang. Kita melihat ‘oh film dari ras minoritas pastilah real, emosinya raw, dan mengusung bahasan sosial yang penting’ padahal itu bisa jadi cuma gimmick. Bisa jadi penulis ceritanya seperti Monk, just making stuff up, memasukkan sebanyak mungkin stereotype karena memang itulah yang lebih gampang laku. Bahwa sekarang kita tidak melihat berdasarkan isi yang sebenarnya, melainkan hanya ikut-ikut tren agenda.

Sebagai seorang terpelajar, Monk tentu saja melawan industri seperti ini.  Ketika ada pengarang kulit hitam lainnya, menulis novel setipe (alias sama-sama jualan stereotipe ras mereka semata), ditambah dari sudut pandang perempuan pula, Monk melihat novel tersebut sebagai gimmick semata. Tentu saja orang akan suka, toh itu cerita hidup perempuan dari ras minoritas. Malah bukan ‘akan suka’ lagi, melainkan ‘harus suka’. Karena kalo ada orang yang tidak suka cerita itu, apalagi si orang yang tidak suka ini adalah kulit putih, maka dia akan beramai-ramai dicap sebagai seorang rasis yang gak peka. Kalo dia pria, maka niscaya dia akan dicap anti feminis. Sebagai pengulas film, aku bisa mengerti yang dirasakan Monk, karena seringkali aku juga merasa ada film yang kayak cuma ngejual stereotype, atau cuma ngejual agenda, tapi dalam menyampaikannya aku agak susah karena takut diserang balik sebagai gak dukung perempuan atau tone deaf terhadap sosial.  Dan permasalahan ini dijadikan film sebagai inner journey dari Monk. Dia yang awalnya berusaha idealis dan blak-blakan menolak, dihadapkan kepada situasi yang membuat dia melihat kenapa ‘industrinya’ jadi begini, dan ultimately dia harus memilih. Pilihannya nantilah yang jadi puncak satir film ini. Ending yang bakal ninggalin kita topik untuk dipikirkan. Karena film yang dibuat sebagai gambaran ini, tidak menawarkan solusi. Melainkan tetap berpegang kepada pencerminan dunia nyata.

Kisah-nyata seperti di fiksi-fiksi

 

Sebenarnya persoalan ini sudah pernah disentuh oleh Jordan Peele dalam filmnya yang berjudul Nope (2022). Secara umum film yang bentukannya horor-creature sci fi itu membicarakan gimana manusia suka mengekspoitasi hal yang berbeda sebagai spektakel. Atau tontonan hiburan. Dan hal yang berbeda itu bisa meliputi ke ras mereka yang dalam cerita film seringkali hanya digunakan sebagai role-role stereotipe dan cukup hanya di role tersebut. Film American Fiction ini tidak lain dan tidak bukan membahas persoalan tersebut lebih dalam dan lebih personal lagi. Stakenya dibuat lebih grounded, supaya filmnya sendiri tidak menjadi hal yang ia kritik. Inilah yang membuat film ini meskipun tidak ada solusi, tapi tetap terasa powerful sebagai gambaran. Karena semuanya dikembalikan kepada karakter yang terpaksa harus memilih. Karena keadaan. Therefore, kepada kitalah sebenarnya cerita ini meminta penyadaran.

Karena pasar gimanapun juga terbentuk oleh permintaan konsumen. Dunia kita sekarang adalah dunia fiksi yang jualan yang laku bukan jualan yang berbobot, melainkan jualan ringan dan not necessarily harus asli, asalkan jualan tersebut bisa membuat orang konsumernya merasa lebih mulia. Sehingga muncullah penjual-penjual yang memperdagangkan kepalsuan. Stereotype, cerita sedih, kebegoan. Semuanya semu, yang dijual maupun yang dirasakan oleh yang beli.

 

 

 

Jadi gimana cara film ini mempertahankan ke-real-an journey karakter? Dengan actually memparalelkan soal kerjaan Monk nulis buku, dengan konflik di dalam keluarganya, yang semuanya dokter. Monk punya adik dua orang (yang satunya mungkin jadi penyebab kenapa film ini gak tayang di bioskop Indonesia), punya asisten rumah tangga yang sudah dianggap sebagai keluarga sendiri, punya Ibu yang mulai digerogoti Azheimer. Dan ayah mereka telah lama jadi urban legend di kota kelahiran, lantaran dulu bunuh diri dengan menembak kepalanya sendiri (film pun sempat-sempatnya menebar dark jokes seputar peristiwa ini dari karakter yang innocently lupa Monk punya riwayat tragedi tersebut). Yang terjadi kepada ayah, kepada ibu, kepada keluarganya keseluruhan digunakan oleh film sebagai stake dan pendorong bagi Monk untuk menentukan keputusan. Serta jadi tempat hati cerita ini berada. Benar-benar terasa seperti kisah karakter yang berjuang. Monk bisa saja menulis tentang keluarganya sendiri, tapi itu tetap belum cukup. Karena seperti ironi yang acapkali dicuatkan oleh film, itu tidak akan terasa real enough bagi pembaca. Satir pamungkas dilakukan oleh film ketika memperlihatkan adegan diskusi Monk dan sejawat sesama juri award literatur, pendapat otentik Monk sama sekali tidak didengarkan oleh juri yang lain, dengan alasan ‘black voices has to be heard’.

 

 




Semakin jauh Monk menulis dari kenyataan, semakin liar dia menggunakan stereotype dan identitas, semakin shallow bahasa yang ia gunakan, semakin nyeleneh judul novel yang ia ajukan, bukunya justru semakin laku. Aku rasa ini adalah salah satu film in recent years yang paling jago dalam menggunakan sindiran ke dalam penceritaan. Kena dan telak semua! Mungkin judulnya aja yang kurang tepat. Dan itupun karena kisah di film ini tidak hanya sedang terjadi di Amerika. Sindiran film akan mengena bahkan kepada kita. I honestly think, kayaknya ini adalah masalah global dunia yang tersentuh sosial media. Bahwa orang-orang peduli sama isu, bukan karena mereka benar-benar peduli sama isunya, melainkan karena dengan merasa peduli mereka merasa jadi pribadi yang lebih baik. Jadilah isu tersebut soal unjuk agenda kosong semata. Makanya film ini terasa urgent. Di luar itu, melihatnya sebagai drama keluarga pun film ini terasa sama kuatnya. Menunjukkan film ini juga punya hati, selain punya otak dan nyali. 
The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold stars for AMERICAN FICTION.

 

 




That’s all we have for now.

Menurut kalian apakah ada alasain lain kenapa sekarang kita seperti mudah kemakan sama konten-konten yang menjual gimmick ketimbang bobot?

Silakan share pendapatnya di komen yaa

Yang penasaran sama serial detektif cilik Home Before Dark yang kusebut di-review Petualangan Anak Penangkap Hantu kemaren, bisa subscribe Apple TV untuk menontonnya yaa. Mumpung ada promo free seminggu nih. Tinggal klik di link ini https://apple.co/3SqRITp

Get it on Apple TV
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA and BEST BOOK REVIEW HORROR & THRILLER EDITION ON TWINKL



KERETA BERDARAH Review

 

“Trains are a reminder that life is always on the move.”

 

 

Naik kereta api, tut.. tut.. tut!! Siapa hendak semaput? Genre horor kita dibawa naik kereta api oleh sutradara Rizal Mantovani. Kereta api sendiri, selalu adalah setting yang menarik untuk dijadikan cerita. Malah udah kayak subgenre tersendiri. Mau itu misteri detektif kayak ceritanya Agatha Christie, Murder on the Orient Express, atau action kayak Bullet Train, drama thriller psikologis The Girl on the Train, atau bahkan kisah perjuangan kayak di film jadul Kereta Api Terakhir, mekanisme dan cara kerja kereta api yang melaju cepat dan banyak gerbong mampu menambah suasana semakin intens lewat konsep kereta api yang unik; ruang tertutup yang bisa mencakup begitu luas. Belum lagi ruang tersebut juga menawarkan tantangan pada pemandangan sinematik yang mungkin untuk dicapai. Metaforanya juga bisa banyak. Kereta api yang berhenti di tiap-tiap stasiun bisa dilihat sebagai perlambangan kehidupan. Bong Joon Ho, misalnya, mengomentari struktur kelas sosial masyarakat pada Snowpiercer, film sci-fi post apocalyptic yang menceritakan penyintas yang berada dalam kereta api yang melaju kelilingi dunia. Maka dari itulah film Kereta Berdarah ini bikin penasaran. Meskipun kecurigaanku soal film ini mungkin cuma ingin meniru Train to Busan (2016) – horor zombie populer dari Korea yang juga merupakan komentar sosial dari gaya hidup kapitalis yang individualis – ketat membayangi, aku menontonnya karena ingin tau apa yang mau ditawarkan oleh film ini dengan penggunaan set kereta api.

Sentral dari cerita adalah dua kakak beradik, Purnama dan Kembang. Purnama ngebook perjalanan naik kereta api khusus ke resort untuk menghabiskan hari bersama adik kesayangannya. Sebagai perayaan dia sudah keluar dari rumah sakit. Tapi dua kakak beradik, dan penumpang lainnya, hanyalah turis. Mereka gak tahu menahu kalo kereta dan jalurnya yang baru saja diresmikan itu punya masalah, bahkan sejak masih dalam proyek pengerjaan. Jalur Kereta Sangkara yang bergerbong lima, dibuat menembus hutan lebat keramat. Hutan yang kini penunggunya amat sangat marah. Perjalanan Purnama dan Kembang yang mestinya ceria berubah menjadi mengancam nyawa karena setiap kali kereta mereka masuk terowongan, akan ada gerbong yang menghilang. Diteror lalu diambil oleh sang penunggu untuk dijadikan bagian dari hutan.

Naik bis, terjebak konflik separatis. Naik keretaapi, kena teror hantu. Kak Hana lain kali naik pesawat aja yaa!

 

Keputusan film tepat dengan early membahas drama di balik hubungan Purnama dan Kembang. Purnama yang tampak bersemangat (dimainkan oleh Hana Malasan  sebagai karakter yang tampak ceria, ekspresif, dan rather flirtatious di luar) ternyata menyimpan sesuatu. ‘Rahasia’ Purnama akhirnya terbaca oleh Kembang (Zara Leola jadi adik yang tampak lebih ‘realistis’ dari kakaknya). Dan tahulah kita semua kalo Purnama yang baru keluar dari rumah sakit, ternyata bukan karena dia telah sembuh dari kanker. Purnama hanya mencuri waktu untuk menghabiskan hari-hari terakhirnya bersama sang adik. Bagi Purnama, hidupnya telah ada di stasiun terakhir. Dengan actually membicarakan hal ini di awal-awal, ketika nanti teror supernatural beneran terjadi menimpa Purnama dan Kembang, kita jadi punya pegangan dramatis untuk mengkhawatirkan mereka. Bukan lagi sekadar pengen mereka survive dari setan. Melainkan ada layer yang lebih dalam. Relasi dan konflik yang sudah dibangun ini menambah intensnya horor karena kita jadi peduli apakah mereka bakal tetap bersama atau tidak.

Namun hidup bukanlah stasiun, Hidup justru adalah kereta apinya. Inilah yang jadi inner journey Purnama. Hidup adalah kereta api yang terus bergerak, stops at no station. Dari lahir hingga mati, kehidupan merupakan perjalanan yang konstan oleh perubahan dan tantangan.

 

Sangkara yang jadi nama kereta api yang mereka tumpangi diambil dari bahasa sanskerta.  Yang dapat diartikan sebagai perjalanan batin yang mencerminkan pengalaman, pertumbuhan, dan perubahan seseorang dalam konteks emosional dan spiritual. Ini klop dengan yang dilalui Purnama, seorang penderita kanker yang sudah mau menyerah dan pasrah menghadapi akhir hayatnya. Yang sudah capek berjuang. Horor dan teror gaib yang dia alami bersama adik yang berusaha ia lindungi akan membuka matanya untuk melanjutkan hidup. Sebagai protagonis utama, Purnama memang tidak terlalu banyak dikenai derita fisik lagi, tapi mentalnya-lah yang terus ‘diserang’. At one point, dia melakukan suatu hal mengerikan yang bisa dilakukan oleh manusia beradab, yaitu membunuh orang. Gak sengaja atau tidak, dia harus dealing with aksi yang ia lakukan ini mentally.

Secara desain memang penulisan film ini cukup niat. Dari urusan nama misalnya, bukan hanya Sangkara tadi yang seperti dipikirkan untuk perlambangan. Ada juga nama karakter yang bakal jadi kayak heads up terhadap apa yang terjadi pada karakter itu di akhir cerita. Perkara setting kereta api sebagai konsep horor, dimainkan oleh film menjadi teror yang time sensitive dari gerbong-gerbong yang menghilang setiap kali kereta masuk melewati terowongan. Ini menghasilkan dua efek yang berbeda, pertama karakter jadi berburu dengan waktu untuk segera keluar dari gerbong yang bakal menghilang – ini menambah keseruan. Dan kedua, membuat cerita jadi predictable dan repetitive. Sehingga jadi agak boring. Desain hantunya sendiri sebenarnya seram dan juga klop dengan cerita. Bentuknya berupa demon stration, eh salah, demon hutan, Setan dengan sulur-sulur kayu yang bakal menjerat korban. Membuat mereka keluar urat-urat sebelum akhirnya meledak. Mitologi kemarahan setan digali dari tema manusia dan alam, serta kepercayaan mistis vs, pandangan materialistis. Tapi dalam penceritaannya, disederhanakan lagi menjadi si kaya lawan si miskin. Di ‘gerbong’ inilah film stop bekerja original dan malah jadi kayak di’shoe-horned’ kepada cerita Train to Busan.

Kecurigaanku yang merambat tadi ternyata benar. Film ini jadi agak lupa diri karena di tengah, dia jadi lebih kayak kopian versi lite dari Train to Busan. Ujug-ujug ada soal orang kaya yang gak mau orang miskin masuk ke gerbong eksekutif/VIP mereka. Ada bisnisman jahat yang mau cari selamat sendiri. Ketika Train to Busan melakukan bahasan itu, tema ceritanya tepat dan konsisten. Film itu ingin menunjukkan gimana orang Korea modern lebih memilih untuk selamatkan diri sendiri, atau golongan mereka. Jurang pemisah antarkelas di sosial mereka terbentuk karena orang jadi individualis baru bisa sukses. Bahkan karakter utamanya paralel dengan bapak kaya yang egois, karena dia juga awalnya cuma mementingkan keselamatan putrinya. Pada Kereta Berdarah, bahasan si kaya dan si miskin kayak dipaksa masuk karena tidak benar-benar inline dengan permasalahan perjuangan hidup yang dimiliki Purnama dan adiknya. Pembahasannya pun seadanya kayak gimana orang kaya sombong kepada orang miskin seperti di sinetron-sinetron.

review Kereta Berdarah
Serem-serem begitu, kereta api mah aman nyimpan uang di dalam tas, gak ada yang nuker jadi keramik

 

Ini makin unfortunate karena sebenarnya bahasan pekerja lawan bos juga sudah dibuild up. Tapi karena gak paralel dengan karakter utama, maka dua bahasan ini gak benar-benar saling menyokong. Dan Putri Ayudya yang berperan sebagai penumpang yang identitasnya adalah istri dari pekerja proyek rel yang hilang – yang udah ngasih penampilan akting sangat serius sebagai seorang dengan bantuan pendengaran, kayak melebihi dari yang diniatkan film – jadi kayak tidak diberdayakan maksimal oleh film ini. Dengan level akting begitu, mestinya ada lebih banyak adegan dan bahasan cerita tentang permasalahan karakternya. Buatku kasian sekali karakter dengan bobot tak kalah dramatis ini terkesampingkan. Penonton di studioku malah ketawa dengan nada “oh please not again” loh waktu dia untuk kesekian kalinya ngasih lihat foto suaminya kepada karakter lain. Menurutku, penonton gak salah juga bereaksi begitu. Toh basically memang cuma itu yang dilakukan oleh karakter Ramla ini pada sebagian besar durasi. She needs more screen time.

Di babak akhir, film memang kembali ke rel yang lurus yakni permasalahan Purnama dan Kembang, dan untuk beberapa waktu, mereka bersama Ramla. Film menghandle penyelesaian dengan cukup tepat, melingkar ke permasalahan Purnama di awal. Menutup journey-nya for good. Namun di bagian ini aku juga berpikir harusnya film bisa melakukan dengan lebih baik lagi. Karena ending film yang mestinya haru, sekaligus optimis, cenderung lebih terasa flat. Karena film kebanyakan mengeja apa yang sebenarnya terjadi kepada para karakter. Momen-momen penyelesaian itu diisi terlalu banyak oleh eksposisi penjelasan, padahal mestinya bisa lebih kuat (dan aku yakin penonton pun pasti bisa menyimpulkan sendiri) jika film menyerahkan kepada tanda-tanda fisik dari karakter yang selamat. Tapinya lagi, kalo diingat-ingat memang begitulah sebagian besar dialog film ini ketika hal sudah mulai ‘menapaki’ misteri. Dialognya suka berubah menjadi ejaan penjelasan. Takut yang dirasakan karakter aja sering kurang membekas karena dialog mereka jadi lebih menjelaskan gerbong hilang setelah lewat terowongan.

 




Film ini sebenarnya punya modal untuk jadi dirinya sendiri. Karakterisasi dan drama personal diberikan kepada tokoh utama ceritanya. Inner journeynya ada. Ini kan sebenarnya adalah perjuangan seorang penderita kanker untuk mengarungi hidup. Untuk memperkaya bahasan, film juga punya komentar tentang nasib pekerja di perusahaan yang cuma tau cuan dan citra. Film juga punya unsur lokal dengan kepercayaan tahayul, dikontrakan dengan pandangan modern.  Desain horornya juga stands out enough. Tapi semua itu belum digodok dengan benar-benar matang. Film ini jadinya kayak mencukupkan diri dengan goal sederhana yaitu menjadi seperti Train to Busan, dan modal-modal tadi dijejalkan ke penceritaan yang serupa film tersebut. Agak sayang aja film ini kemungkinan hanya akan diingat karena bandingannya dengan film lain yang lebih populer, padahal mestinya kita bisa punya horor decent dengan setting kereta api, 
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for KERETA BERDARAH.

 

 




That’s all we have for now.

Apa kalian punya pengalaman seram waktu naik kereta api?  Apa film favorit kalian yang berlangsung di dalam kereta api?

Silakan share ceritanya di komen yaa

Yang penasaran sama serial detektif cilik Home Before Dark yang kusebut di-review Petualangan Anak Penangkap Hantu kemaren, bisa subscribe Apple TV untuk menontonnya yaa. Mumpung ada promo free seminggu nih. Tinggal klik di link ini https://apple.co/3SqRITp

Get it on Apple TV
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA and BEST BOOK REVIEW HORROR & THRILLER EDITION ON TWINKL



AGAK LAEN Review

 

“Making mistakes doesn’t mean you’re a failure”

 

 

Wahana rumah hantu di pasar malam. Kalo ditengok-tengok, memang, dari setting-nya aja drama komedi dengan unsur horor karya Muhadkly Acho ini udah agak laen. Kok sepertinya merakyat sekali. Melihatnya sebagai horor, ini bukan horor tentang kutukan-kutukan, bukan horor ritual-ritualan, bukan budaya mistis, lain sebagainya. Pun melihatnya sebagai drama orang yang struggle berbisnis, film ini juga bukan membahas persoalan bisnis yang muluk-muluk. Hanya empat sekawan yang pengen wahana rumah hantu mereka di pasar malam (not even rumah hantu canggih di taman hiburan gede) rame, supaya mereka bisa punya cukup uang untuk kebutuhan hidup masing-masing. Melihatnya sebagai komedi, well ya, film ini pecah oleh guyonan,  dan karena kedekatannya dengan jelata tersebut, maka jadi banyak juga yang membandingkan Agak Laen dengan film-film komedi Warkop DKI. Apalagi Agak Laen juga dipentoli oleh komedian (komika-komika stand up) yang punya acara cuap-cuap yang populer. Dan di film ini mereka juga menggunakan nama ‘panggung’ mereka yang asli. Menurutku pribadi, however, Agak Laen lebih sedikit berisi daripada komedi-komedi, bahkan Warkop. Jika di luar ada istilah elevated-horror, maka aku bilang film Agak Laen merupakan versi elevated dari gimana biasanya film-film kita menghandle komedi, apalagi dan horor bersamaan.

Yang bikin aku surprised terutama adalah pada penulisan karakternya. Aku gak nyangka film ini punya karakter utama. Karena biasanya kan komedi yang sentralnya adalah grup atau sekelompok-orang, akan membuat cerita yang seperti ensemble. Like, they will work as an unit of main characters. Kayak, di film Warkop misalnya. Penokohan Dono-Kasino-Indro bisa bertambah sesuai cerita filmnya, tapi pada setiap film tersebut fungsi mereka sama. Dono bisa jadi seorang anak orang kaya dari desa, tapi karakternya selalu yang polos sehingga sering dijahili, atau juga sial. Indro seringnya kebagian peran anak orang kaya, anak kota, yang sedikit  belagu, Kasino jadi wild card, usil iya, oportunis iya, ngasal iya.  Dan film-film mereka akan ultimately bekerja pada fungsi tersebut. Dalam film Agak Laen, drama-lah yang bekerja. Empat karakter sentral memang diberikan porsi masing-masing, tapi juga naskah dengan berani menunjuk satu orang sebagai perspektif utama. Sebagai sumber aksi, sumber drama, sebagai ‘pemimpin’ kalo boleh dibilang. Sementara karakter lainnya juga diberikan penokohan dan drama personal yang bukan sebatas gimmick pembeda.

Oki, di sini ceritanya adalah seorang mantan napi, melihat wahana rumah hantu pasar malam tempat Jegel, Bene, dan Boris bekerja sebagai peluang satu-satunya dia bisa mendapat uang untuk obat mamaknya yang sakit. Dialah tokoh utama cerita. Kita akan melihat dia sebagai flawed character – yang membuatnya jadi karakter utama yang menarik – melakukan aksi nekat supaya diterima menjadi bagian dari kru, dan gimana dia punya ide-ide untuk membuat wahana tersebut menjadi lebih seram lagi. Karena rumah hantu mereka itu sangat sepi. Pengunjung yang masuk lebih terhibur ngeledekin para hantu ketimbang oleh adrenalin rush ditakut-takuti. Ide si Oki bikin rumah hantu jadi semakin seram, sayangnya terlewat berhasil. Salah seorang pengunjung tewas ketakutan. Oki yang gak mau urusan ama polisi lagi, mengusulkan untuk menguburkan jenazah di bawah properti kuburan, dan teman-temannya yang juga butuh duit untuk urusan unik masing-masing setuju. Mereka akan berpura-pura tak tahu apa-apa. Sampai akhirnya hantu dari bapak yang tewas tersebut justru bikin rumah hantu mereka viral. Duit memang mengalir deras, tapi begitu juga rasa was-was mereka semua. Gimana kalo rahasia perusahaan sampai mereka ketahuan?

Aku dulu juga sempat kepikiran untuk buka usaha rumah hantu, karena ‘modal’ yang kupunya juga sama ama Oki dan kawan-kawan

 

Premisnya sebenarnya komedi sekali. Penulisannya pun sangat terukur dalam menempatkan pion-pion cerita, menanamkan poin-poin yang bakal mekar jadi punchline. Bene, Boris, Jegel juga diberikan permasalahan masing-masing yang situasinya kocak karena dekat juga dengan persoalan kita sehari-hari. Kepekaan mengembangkan situasi komedi memang tampak dimanfaatkan betul oleh para komika ini menjadi cerita yang liar tapi sangat koheren menuju akhir. Aku penasaran banget gimana mereka merancang cerita film ini, like, biasanya di stand up komedi kan ada tuh sesi yang mereka nyebut nama tempat random, nyebut nama kerjaan random, lalu bikin cerita lucu dari situ. Nah uniknya, film ini tuh kayak dibikin spontan seperti itu “Rumah hantu!” “Mantan napi!” tapi ujung-ujungnya bisa sangat koheren ngasilin tontonan yang menghibur, lagi punya kekuatan drama. Pengunjung yang meninggal itu seorang caleg, gimana dirinya yang mendadak menghilang bakal jadi berita, dia juga lagi selingkuh sehingga otomatis bakal ada yang nyari dia. Lalu tentu saja dalam setiap kasus bakal ada saksi mata, tapi alih-alih saksi yang secara kiasan sekaligus literal anak yang buta masalah orangtuanya seperti pada film serius Anatomy of a Fall (2024), film ini memenuhi janjinya sebagai komedi dengan menghadirkan saksi ‘bisu’.

Desain komedinya itu yang membuat Agak Laen menjadi sangat menghibur. Komedinya menyerempet ke mana-mana, mulai dari politik bahkan ke komedi meta bagi aktor-aktornya. Just like any good old comedy does, candaan di film ini berani menyerempet hal-hal yang mungkin sekarang dinilai sensitif. Leluconnya benar-benar outrageous. However, film ini juga ada beberapa kali nyelipin iklan sponsor, yang dilakukan dengan kocak meski memang ‘in-our-face’ sehingga honestly aku sempat ragu ini beneran iklan atau bukan. Tapi either way, ‘iklan’ itu  memang agak sedikit mengganggu karena tetap membuat kita sedikit terlepas dari cerita yang sebenarnya. Anyway, buatku secara personal, ada dua aspek yang bikin film ini secara khusus terasa relate sehingga menjadi nambah lucu. Yaitu bahasa canda dialek Sumatra – although film tidak membatasi range diversitynya di sini karena bahasa daerah lainnya juga – yang membuatku agak rindu kampung halaman (dan rindu kucingku yang hilang, karena kalo di Bandung ini aku pakek gaya ngomong gitu cuma kalo ngobrol sama kucing haha). Dan bisnis rumah hantu. Dulu selepas kuliah dan mutusin out dari jalur jurusan, aku sempat kepikiran mau buka rumah hantu dan lantasi suka datengin, nyobain, berbagai macam wahana rumah hantu. Film ini membuatku ngakak karena aku baru kepikiran suka duka kerjaan itu

Dan memang penulisan yang terukur itulah, ditambah quick with wit, peka, dan penggalian yang fresh yang akhirnya bisa menyulap premis komedi soal rumah hantu viral karena hantu beneran itu menjadi drama menyentuh soal pemuda yang merasa gagal membanggakan ibu atau keluarganya. Bobot drama tersebut hadir di balik momen-momen komedi tadi dengan subtil. Kita gak akan nyadar muatan cerita ini sampai tiba-tiba kita merasa sorry for the characters. Kita tidak lagi menertawai mereka. Kita sadar kita jadi ikut tertawa, sedih, dan kalut bareng mereka. Para pemain utama pun seperti sudah mempersiapkan diri untuk momen-momen yang lebih dramatis. Jegel, Boris, dan khususnya Oki dan Bene mendapat ruang untuk menampilkan range, karakter mereka tidak melulu konyol dan serampangan. Hati film ini justru datang dari gimana masing-masing menghadapi permasalahan sendiri. Dan kepada masing-masing. Sebuah tantangan yang berhasil di-tackle karena film sama sekali tidak goyah tone maupun pace-nya saat membahas masalah yang lebih ‘drama’.

Memang cumak iklan-iklannya aja yang bikin agak malas

 

Semua orang pernah melakukan hal yang seharusnya tidak mereka lakukan. Semua orang pernah mengucapkan hal yang harusnya tidak mereka ucapkan. Semua orang pernah melakukan kesalahan. Dan kesalahan-kesalahan tersebut bukanlah penanda mana orang yang baik, mana orang yang jahat. Bikin kesalahan tidak lantas berarti kita jadi orang jahat. Melainkan hanya berarti kita belum tau yang lebih baik. Dan salah juga bukan berarti gagal. Yang menandai kita jahat atau bukan, gagal atau bukan, justru adalah apa yang kita lakukan setelah melakukan kesalahan. Menyesal atau tidak. Berjuang untuk berubah atau tidak.

 

Satu lagi yang dilakukan dengan benar oleh film ini adalah tidak meniadakan konsekuensi. Ini nilai plus yang mengangkat cerita lebih tinggi lagi, karena biasanya film-film akan dengan mudah melupakan konsekuensi demi menjaga status karakter utamanya. Menerima konsekuensi ini penting bagi karakter karena itulah yang menandakan mereka sudah melalui pengembangan. Ketika mereka rela mendapat hukuman atas tindakannya, di situlah arc karakter mereka komplit. Journey mereka tercapai. Menghadapi konsekuensi juga berarti karakter-karakter di film ini tidak diberikan jalan keluar yang mudah bagi permasalahan mereka. Film ini memberikan akhir yang tepat bagi para karakter tanpa mengurangi bobot journey mereka, meskipun ada beberapa poin cerita yang terasa agak terlalu cepat. Misalnya, ketika ‘rahasia’ mereka diketahui oleh satu karakter. Proses ‘tahu’nya si karakter itu kayak cepat, kok dia bisa nyimpulin, gitu. Jadi kayak ejaan naskah saja jadinya. Tapi, paling enggak, film tetap melakukan itu di dalam konteks karakter. Kelihatannya saat nonton mereka ketahuan itu karena mereka kurang jago ngeles, ketimbang karena naskahnya kurang detil menuliskan proses.

 




Kalo sineas lokal bisa bikin dan produksi cerita merakyat yang fresh seperti ini, buat apa lagi kita meremake materi komedi horor dari negara laen? Aku salut banget sama Imajinari, yang film-filmnya kayak konsisten mengangkat cerita original, dan dengan range yang berbeda. Drama keluarga dengan kultur Batak di Ngeri-Ngeri Sedap (2022), drama romance dengan konsep meta filmmaking di Jatuh Cinta Seperti di Film-Film (2023), dan sekarang drama komedi dengan unsur supernatural/horor. Bahkan perihal karakter utamanya aja Imajinari berani ambil resiko. Sepasang orang tua yang pengen anaknya pulang. Jatuh cinta di usia yang tak lagi muda. Gak peduli mereka sama penampilan ‘bintang’. Di film ini, protagonis dan gengnya adalah kru rumah hantu. Mereka cuek ngangkat cerita dari sudut pandang tak biasa, sehingga menghasilkan galian cerita yang terasa grounded pada level yang berbeda. Rancangan komedi menghantarkan penonton menuju hiburan non-stop, sementara muatan drama diam-diam mengangkat film ini menjadi tontonan yang bergizi. Tiga film, dan tiga-tiganya konstan di tier atas blog ini. Genre drama komedi, atau bahkan komedi horor kita punya standar yang baru. 
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for AGAK LAEN.

 




That’s all we have for now.

Apa pengalaman terseram kalian masuk wahana rumah hantu?

Silakan share ceritanya di komen yaa

Yang penasaran sama serial detektif cilik Home Before Dark yang kusebut di-review Petualangan Anak Penangkap Hantu kemaren, bisa subscribe Apple TV untuk menontonnya yaa. Mumpung ada promo free seminggu nih. Tinggal klik di link ini https://apple.co/3SqRITp

Get it on Apple TV
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA and BEST BOOK REVIEW HORROR & THRILLER EDITION ON TWINKL

 

 



PEMUKIMAN SETAN Review

 

“Doesn’t the fight for survival also justify swindle and theft?”

 

 

Pemukiman Setan, horor kedua dari Charles Gozali, boleh saja punya premis yang terdengar mirip ama Don’t Breathe (2016) tapi bukan berarti kita juga bakal menahan napas saat menontonnya. Malah kebalikannya! Film ini justru mendorong kita untuk menjerit sejadi-jadinya. Mengumpat sekeras-kerasnya. Karena horor yang ditawarkan adalah jenis yang ‘sinting gila miring’. Ala Evil Dead, Pemukiman Setan merupakan horor dengan sosok setan edan yang untuk mengalahkannya para karakter harus siap melakukan aksi berdarah-darah. Horor yang sangat physical di tempat yang basically tertutup ini dibuat sebagai sajian hiburan utama, menutupi narasi yang kali ini dibuat lebih tipis oleh Charles Gozali. Will it be enough tho?

Motivasi Alin (Maudy Effrosina sekali lagi dikasih kesempatan untuk buktiin dia bisa jadi ikon ‘Final Girl’ di horor modern Indonesia) adalah masalah ekonomi. Gadis itu harus ngasih makan adiknya. Dia harus bayar hutang bapaknya. Jadi Alin memaksa temannya, Ghani, untuk mengajaknya serta. ‘Namu’, alias merampok ke rumah orang. Setelah sempat tengkar sama dua teman kelompok Ghani yang udah erat kayak sodara, Alin akhirnya memang diajak. Kali ini mereka menyatroni rumah kosong di tengah hutan. Celakanya baru setelah sudah di dalamlah, Alin dan geng maling itu merasa ada yang gak beres pada rumah tersebut. Dan saat mereka membebaskan seorang perempuan muda yang terikat di basement, sepertinya hendak dijadikan tumbal ritual, keadaan menjadi semakin mengerikan. Yup, alih-alih rumah seorang pria buta yang turned out seorang veteran perang yang mematikan seperti pada thriller Don’t Breathe (2016), geng perampok di Pemukiman Setan lebih apes karena ternyata yang mereka masuki adalah rumah sekte ilmu hitam Mbah Sarap. Basically tempat itu jadi rumah hantu tertutup yang bakal menyiksa mereka mental, dan tentunya fisik.

Seketika jadi korban demit balas dendam

 

Tahun lalu, lewat Qodrat, Charles Gozali ngasih kita sajian horor yang vibenya kayak action 80-90an, era saat Ustad ‘berkelahi’ menumpas angkara murka setan dan iblis di dunia. Film tersebut benar-benar stand out di jagat perhororan kita buatku karena bukan saja mengembalikan ‘pakem simpel’ kebaikan melawan kejahatan (di saat film horor modern gagal mencari dan menggali ‘lawan’ alternatif dari kejahatan dan malah jadi ribet dengan twist gak karuan), tapi juga melakukan itu dengan mengangkatnya ke arahan yang baru. Ustad tidak serta merta dibuat suci dan selalu menang seperti cerita jaman dulu, melainkan dibuat seperti karakter utama dalam cerita superhero modern. Karakter yang harus menemukan kembali rasa kemanusiaan di dalam dirinya sebelum bisa menggunakan kekuatan ‘super’ menolong orang lain. Film tersebut menapakkan karakter ustad ke ground yang kita bisa relate dengannya. Sebagai sesama manusia yang pernah berbuat, atau punya tendensi terjerumus ke dalam, perbuatan yang salah. Jadi selain punya battle action yang seru  melawan setan sebagai bentuk exorcist, film itu punya narasi yang kuat pada inner journey karakter utamanya

Dalam film horor keduanya kali ini, battle action horor tersebut dilipatgandakan oleh Charles Gozali. Film ini totally is all about aksi-aksi horor supernatural yang edan dan berdarah-darah. Alin dan teman-teman seperjuangannya akan benar-benar berjuang untuk bisa keluar dari rumah itu. Mereka diteror oleh halusinasi mengerikan yang membuat mereka saling serang satu sama lain. Mereka juga dikejar-kejar oleh Adinda Thomas yang ngasih performance memorable banget sebagai perempuan yang jadi keturunan si dukun ilmu hitam berkekuatan setan. Make up-nya boleh saja ngingetin kita sama sosok ibu setan di Evil Dead Rise (2023), tapi gerakan dan gestur-gesturnya merapal kutukan sambil jongkok-jongkok, udah kayak lokal banget. Senjata tim protagonis untuk melawan? Well, vibe ala karakter superhero juga kembali dilakukan pada film ini. Alin  dan teman seperjuangannya (at least yang tersisa di antara mereka) harus mencari keris yang dalam legenda (alias flashback masa lalu yang juga jadi opening cerita) merupakan satu-satunya senjata yang bisa melukai Mbah Sarap. Senjata itulah yang memberikan kekuatan kepada Alin – yang by the way, sedari awal memang sudah mulai dibuild up sebagai cewek yang sudah ready to do rough things saat keadaan mendesak.

Keadaan terkadang memang mampu membuat seseorang terpaksa merampok, seperti yang dialami oleh Alin dan karakter-karakter di cerita ini. Mereka merampok bukan semata soal supaya bisa survive. Namun ini juga adalah perkara kebebasan. Seseorang yang terdesak dapat menjadi pencuri jika dia melihat itu satu-satunya kesempatan baginya untuk keluar dari lingkaran setan kehidupan.

 

Perbedaan mencolok antara film ini dengan Qodrat terkait naskah, adalah Pemukiman Setan ini terasa lebih simpel. Narasinya secara keseluruhan lebih tipis. Pertama, lebih mudah bagi penonton untuk langsung konek dengan Alin dan masalah ekonominya. Ini sebenarnya adalah kesempatan bagi film untuk bisa dalam-dalam mengeksplorasi perkembangannya karakternya. Hanya aja pembahasan Alin sebagai karakter utama juga terasa tipis. Hubungan Alin dengan ayah – terkait hal yang ia terpaksa lakukan di masa lalu – jadi momok yang terus membayangi Alin hingga sekarang, tapi persoalan ini tidak benar-benar diselami selain untuk menunjukkan darimana Alin draw her strength. Koneksi dia dengan trio perampok Ghani, Fitrah, Zia,  juga kurang terasa perkembangan relationshipnya. Yang kerasa dramatis justru koneksi antartrio perampok itu. Film punya momen-momen dramatis, dan itu semuanya lebih terasa datang dari relationship yang terjalin antara Ghani, Fitrah, dan Zia – tiga orang yang menjadi saudara, bukan oleh ikatan darah, melainkan oleh kesamaan nasib. Alin terus saja terasa seperti outsider dalam dinamika mereka. Kita pun tidak pernah benar-benar mengenal Alin, karena Alin ini kayak lebih banyak ditutup. In which, remind me of film-film superhero yang banyak aspek dari karakternya sengaja disimpan untuk sekuel. Alin sebagai Final Girl, hero dalam horor, terasa seperti berjalan sendiri. Tau-tau bisa nemu dan handle Keris. Kenapa dia bisa kayak the chosen one, masih hanya dibahas di permukaan oleh film.

Kalo Ustad Qodrat di akhir berasa kayak Ksatria Baja Hitam, si Alin di akhir film ini berasa kayak jadi shinigami di Bleach

 

Padahal penting untuk kita melihat keparalelan protagonis dengan antagonis. Misalnya kayak di Don’t Breathe, secara simbolik film itu membandingkan makna rumah bagi cewek karakter utama dengan pria buta sebagai villainnya. Yang satu sebagai pahlawan perang menganggap rumah sebagai hal yang harus dipertahankan, sementara yang satunya merampok rumah ironically karena dia pengen punya modal untuk keluar dari rumahnya sendiri, alias pengen mencari kesempatan di tempat lain. Keparalelan seperti itu menciptakan dinamika antara protagonis dan antagonis sehingga perjuangan mereka jadi punya intensitas yang lebih dalam. Alin dan Sukma tampak kurang diberikan keparalelan seperti ini. Hanya Sukma kadang suka tampil sebagai hantu ayah Alin sebagai simbol Alin harus mengalahkan momok personalnya sendiri. Makanya aku bilang penulisan film ini mestinya lebih mengeksplorasi lagi. Namun karena sekarang targetnya adalah to keep things lighter, film jadi banyak ‘mempermudah’ persoalan.

Karakter yang diperankan dengan pesona tersendiri oleh Teuku Rifnu Wikana adalah personifikasi dari kemudahan tersebut. Kemunculannya terasa seperti pedang bermata dua. Di satu sisi, karakter orang sakti yang dia perankan membawa tone unik (antara misterius dan lucu) yang menambah warna pada cerita, bikin suasana lebih hidup. Tapi di sisi lain, karakternya tidak lain tidak bukan adalah penyampai eksposisi dan fasilitas kemudahan bagi perjuangan Alin. Pak Urip ini bikin misteri jadi dull, cerita seperti dituntun olehnya yang lebih seperti perpanjangan dari penulis naskah yang mengejakan langsung poin-poin berikutnya kepada karakter, alih-alih menuliskannya ke dalam bentuk narasi yang lebih mengalir. Tapinya lagi memang, keberadaan Urip di tengah-tengah Alin dan geng Ghani masih mending ketimbang saat gak ada Urip. Naskah malah sampai terasa kayak seadanya dalam nampilin informasi. Kayak Fitrah yang dituliskan langsung nuduh dengan tepat gitu aja Alin ngambil barang berharga lebih banyak dari yang seharusnya (padahal dia gak lihat ada berapa jumlah total barang tersebut), atau kayak Alin yang udah aman di mobil, malah ke rumah setan itu lagi buat nabrak Sukma. Atau kayak Alin udah punya keris tapi malah nabrak pakai mobil setelah dia nyaris berhasil kabur.

Final Battle mereka itu sebenarnya oke secara pengadeganan atau koreografi, heck the shot is awesome. Tapi sirkumtansi yang mengelilingi bisa sampai terjadinya dari stand point karakter, ganjil. It would make more sense kalo setannya ngejar ke apartemen atau semacamnya. Dan lagi aku sampai sekarang masih merasa ada yang ‘lucu’ dari gimana cerita film ini membuat pilihan si Alin kayak gak ngaruh banyak, like, dia ikut atau gak ikut merampok ujung-ujungnya dia bakal tetap dapat duit. Cerita ini lebih impactful buat Ghani dan saudara-saudarinya at this moment. Kayak, petualangan Alin di sini baru benar-benar ngefek kalo ada cerita lanjutannya nanti.

 




Buatku ini belum cukup. Sajian aksi horor, akting fun, dan momen-momen dramatis kecil dari karakter pendukung memang ngasih hati dan bisa memberikan 90an menit hiburan brutal tersendiri, tapi secara narasi film ini terlalu simpel dan baru skim the surface. Qodrat sebenarnya udah formula yang bisa dibilang tepat bobotnya. Aku berharap sekuelnya nanti dibuat less seperti film kali ini, dan tetap stay mengembangkan di jalur film tersebut. Nonton film ini aku tetap terhibur meski cukup banyak menguap bosan juga karena kemudahan perjuangan dan eksposisi yang semakin mempersimpel narasi. Kalo ditanya suka, aku masih suka, tapi juga yang jelas I’m not holding my breath up for the next of this clone of Evil Dead.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for PEMUKIMAN SETAN

 

 




That’s all we have for now.

Bagaimana pendapat kalian tentang perampokan /pencurian oleh orang dengan alasan terdesak sebagai usaha terakhir? Apakah menurut kalian itu justifikasi yang cukup untuk tindakan kriminal?

Silakan share pendapatnya di komen yaa

Yang penasaran sama serial detektif cilik Home Before Dark yang kusebut di-review Petualangan Anak Penangkap Hantu kemaren, bisa subscribe Apple TV untuk menontonnya yaa. Mumpung ada promo free seminggu nih. Tinggal klik di link ini https://apple.co/3SqRITp

Get it on Apple TV
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA and BEST BOOK REVIEW HORROR & THRILLER EDITION ON TWINKL

 



PETUALANGAN ANAK PENANGKAP HANTU Review

 

“Greed makes a ghost story”

 

Sebagai anak yang tumbuh bersama generasi kartun Scooby-Doo dan buku-buku detektif misteri anak seperti Trio Detektif dan Lima Sekawan, tentu saja aku tertarik pengen nonton film Jose Poernomo yang satu ini. Genre yang terbilang langka buat anak-anak di masa sekarang. Serta merupakan langkah yang cukup beresiko di tengah gempuran horor ‘beneran’ di skena perfilman lokal. Terbukti saja, saat menonton memang cuma aku satu-satunya ‘anak’ di dalam studio. Anak-anak benerannya mungkin pada lebih tertarik sama horor yang lebih dewasa, atau sama film orang pacaran. Enggak sepenuhnya bisa disalahkan, tapi aku heran aja sih. Karena, di luar bagus atau tidaknya kualitas, konsep sekelompok anak kecil membantu orang dewasa memecahkan kasus misteri ini used to be staple dalam cerita untuk anak-anak. Cerita-cerita semacam inilah yang awalnya memperkenalkan anak-anak 90an ke genre horor atau misteri atau thriller whodunit. Apakah zaman memang sudah seberubah itu? Anyway, kembali ke filmnya. Petualangan Anak Penangkap Hantu mengikuti format cerita detektif misteri anak, enggak ada hantu beneran – cuma manusia yang tamak sebagai dalang kejahatan. Lucunya, yang perlu dijadikan catatan adalah, film ini, berakhir jadi beneran creepy. Tapi untuk alasan yang lain.

Anak Penangkap Hantu adalah nama grupnya. Anggota mereka adalah Rafi, Chacha, dan Zidan. Dari poster dan hiasan di kamar masing-masing, kita tahu Rafi anaknya suka petualangan, Zidan brain of the group, dan Chacha, well, kamarnya berhias poster Princess Disney, versi live action modern! Jadi kita tahu Chacha bukan anak cewek lemah yang harus diselamatkan. Malahan, Chacha dengan senang hati berperan sebagai umpan saat mereka mulai menangkap ‘hantu’. Ya, tiga anak ini pemberani, slogan mereka aja “Saatnya hantu takut sama anak-anak!” Geng APH percaya hantu itu gak ada, mereka menangani banyak kasus hantu yang ternyata adalah kasus orang mau maling, lalu nyamar jadi hantu. Kepercayaan mereka tersebut mendapat ujian, saat mereka dimintai tolong oleh Kak Gita untuk mengungkap kasus kutukan penunggu hutan di desa Segoro Muncar. Desa tersebut telah lama kekeringan dan banyak kasus orang hilang. Gak gampang bagi geng APH menguak kasus di sana, karena kepercayaan mereka berbenturan dengan adat istiadat warga desa yang percaya sama makhluk gaib. Makhluk yang, by the way, dalam beberapa kesempatan menampakkan wujudnya. Menakuti-nakuti Rafi, Chacha, dan Zidan.

You know Zidan is a ‘real deal’ begitu lihat di kamarnya ada poster Elon Musk sebelahan ama poster Einstein lol

 

Sebenarnya apa sih yang bikin cerita detektif misteri anak-anak seperti ini bisa menarik bagi audiens cilik? Ini pertanyaan yang bikin aku kepikiran, kenapa dulu waktu kecil aku rela telat ikut main di luar rumah, supaya gak ketinggalan episode Scooby-Doo? Sampai nekat nyelipin buku Trio Detektif di dalam Al-Quran untuk dibaca di sela-sela belajar ngaji? Yang bikin kecantol in the first place, rasanya adalah dunia dan karakter-karakter ceritanya. Entah itu Scooby-Doo (anjing yang bisa ngomong!) dan sobat manusianya Shaggy yang lucu dan paling penakut, Georgina di Lima Sekawan yang tomboi dan lebih suka dipanggil George, atau trio Jupe-Pete-Bob dengan dinamika mereka yang saling mengisi kelemahan masing-masing.  Lalu tentu saja misteri yang ditawarkan. Misteri siapa yang jadi hantu, siapa sebenarnya pelaku, gimana sesuatu yang mengerikan ternyata cuma trik. Bukan hanya soal jawaban, tapi ada sesuatu yang justru melegakan buatku saat masih kecil itu untuk mengonfirmasi bahwa hantu yang selama itu mengganggu Scooby-Doo ternyata cuma manusia. Bukan hantu beneran. Bahwa semua hal supranatural ada penjelasan masuk akalnya. Ngikutin cerita membuka tabir misteri, walaupun masih dalam tahap sederhana, selalu sukses jadi daya tarik.

Untuk urusan pembangunan misteri tersebut, film Petualangan Anak Penangkap Hantu ini pun melakukannya dengan cukup menarik. Setidaknya, berhasil menjaga di dalam garis yang bisa dinikmati oleh penonton cilik. Unsur horor sebagai red herringnya cukup tampak mengerikan dengan benda-benda bergerak sendiri dan sosok hantu yang seperti melayang dengan jubah menjuntai. Dari segi penulisan, film ini pun masih dalam taraf yang bisa dimengerti oleh anak. Tidak banyak memakai istilah yang membingungkan. Investigasinya ringan. Jawaban berbagai misteri soal kenapa desa kekeringan, kenapa banyak orang yang menghilang, kenapa hantunya bisa kayak gitu, bisa gerak-gerakin benda, perlahan diungkap dan dijawab di akhir dengan penjelasan yang bisa dimengerti oleh anak-anak. Penonton cilik akan bisa mengikuti misteri yang dihadirkan. Sembari melakukan itu, film ini juga bicara kepada penontonnya tersebut soal gimana generasi sekarang, generasi yang lebih muda, harusnya bisa lebih menghormati budaya sendiri. Aku suka alasan pertama Rafi ingin menolak rekues kasus dari Kak Gita, karena dia takut nanti mereka tak tahu adat di sana, takut mereka nanti salah bertindak dan dianggap tidak menghormati warga. Sudut pandang warga yang percaya hal gaib dalam cerita ini diwakili sebagian besar oleh Wak Bomoh yang diperankan oleh Sujiwo Tejo. Beliau adalah tetua yang mengurusi ritual-ritual kepercayaan sehubungan dengan penunggu hutan di desa, yang berperan sebagai rintangan terbesar geng APH dalam menyelidiki kasus. Wak galak ini yang ngasih larangan dan aturan-aturan yang tak boleh dilanggar, termasuk main ke hutan. Yang, ya bisa ditebak, setengah aturan tersebut langsung dilanggar oleh APH yang malah kemping di dalam hutan dekat tempat sesajen hahaha

Untuk penonton dewasa, film ini lewat kasus yang ditangani APH kayak ngasih gambaran lucu. Karena, ini adalah kasus di mana seseorang yang berkuasa memanfaatkan kepercayaan warga untuk keuntungannya pribadi. Ketamakannya membuat ia tega mengarang cerita palsu dari kepercayaan warga, ketamakannya membuat ia rela melakukan stage act, aksi-aksi panggung, gimmick hantu untuk memuluskan uang masuk ke koceknya. Di mana ya sepertinya kita melihat tindak-tanduk yang sama?

 

Walau konflik dan dinamika antarkarakternya juga bisa dimengerti dan dekat dengan anak-anak, karakter-karakter ceritanya itu sendiri masih belum luwes. Masih seperti hidup dalam pengertian orang dewasa yang berusaha menulis karakter anak. Urusan karakternyalah, menurutku, letak kelemahan film ini. Dinamika yang menarik sebenarnya ada, kayak, Rafi dalam usia beranjak remaja, mulai naksir-naksiran sama Chacha. Natural dan relate, hanya film ini seperti gelagapan menjadikan itu sebagai sandaran utama menghidupkan karakter. Selebihnya karakter film ini, at best, aneh. Di momen satu-satunya cerita ini ada stake – saat geng APH actually dalam bahaya – film meremehkan efek kejadian tersebut untuk momen flirt Rafi ke Chacha. Bayangkan anak sekecil itu jatuh dari tebing karena tali panjat tebingnya diputus, dan dia masih bisa bercanda untuk memancing simpati temannya.

Panjat tebing? film ini punya wild sense of adventure. Mungkin untuk menunjukkan anak-anak jaman sekarang sangat capable menggunakan gadget dan teknologi, maka film menggunakan banyak aksi yang way over the top sebagai sarana para detektif cilik menginvestigasi kasus. Jadi, mereka ingin menelurusi sungai untuk melihat kenapa air sungai itu kering dan alirannya gak sampai ke desa. Karena gak mungkin jalan kaki sejauh itu, maka kupikir mereka akan menggunakan drone. But oh boy, betapa kelancanganku sebuah dosa besar. Rafi, Chacha, Zidan yang pemberani itu pakai drone? Cuih lemah. Mereka langsung terbang ke lapangan, as in terbang melayang pakai parasut! In a way, kalolah film memang mengincar sesuatu yang over sebagai pengganti momen-momen komedi dari tingkah laku ajaib Scooby dan Shaggy, aku pikir film ini berhasil dengan segala gadget parasut, panjat tebing, dan hal-hal luar biasa untuk dilakukan sekelompok anak kecil di dalam hutan seperti itu. Tapi masalahnya, momen-momen aksi itu cuma momen. Vibe film, apakah seru over the top, apakah konyol seperti Scooby Doo, apakah spionase sersan (serius tapi santai) seperti Spy Kids, tidak diset oleh film. Yang diset baru soal misteri dari peristiwa supranatural.

Muzakki Ramdhan udah kayak McKenna Grace versi Indo, filmnya begitu banyak sehingga kayak muncul random, kadang dia masih kecil kadang dia udah dewasa

 

Pemerannya, Muzakki Ramdhan, Giselle Tambunan, M. Adhiyat, sih tampak fun-fun aja. Film yang justru seperti kesusahan membentuk karakter mereka. Tidak ada development. Yang ada justru karakter mereka seperti berubah-ubah. Kadang Zidan kayak serius pinter, kadang kayak anak kecil clueless ala film horor yang malah mendekat ke arah bayangan hantu. Film juga cuma bisa nunjukin Zidan ama Chacha kakak-adik dengan adegan pelukan setiap kali mereka selamat dari kejaran hantu. Selebihnya, mereka jarang sekali berinteraksi berdua. Si Rafi, kadang disebut pemberani, tapi di lain adegan justru dia yang paling teriak-teriak ribut saat sesuatu yang seperti hantu menampakkan diri. Kalo kita ambil perbandingan kartun Scooby-Doo sekali lagi, Rafi ini kayak Fred dan Shaggy disatukan. Scooby-nya siapa? Well, karakter di film ini memang seperti kekurangan sesuatu. Maskot. Kalo di cerita detektif cilik 90an, biasanya geng protagonis punya peliharaan. Ada Scooby, ada Timmy. Yang fungsinya perekat yang menyatukan para karakter. APH punya paman yang nyupirin mereka ke mana-mana. Namanya Bang Dul. Dia inilah yang perannya seperti Scooby-Doo, sebagai comedic relief, juga sebagai penolong anak-anak.

Dalam cerita yang ditulis dengan lebih matang (meski cerita untuk anak), karakter-karakter itu tidak akan melulu soal menyelediki hantu. Akan ada growth pada sifat mereka. Maybe, kelompok ini akan gagal, atau akan berselisih paham, atau berpisah, lalu dibantu damai kembali oleh Bang Dul yang membuat mereka melihat situasi dan kesalahan mereka. Karakter Kak Gita, juga tidak akan cuma jadi orang yang minta tolong, lalu jadi korban hilang. Kenapa orang dewasa sampai meminta tolong anak-anak, juga akan digali oleh naskah yang kuat penulisan karakternya. Tidak hanya sekadar menyederhanakan karena mereka sudah terkenal mampu. At least, saat nanti dalam bahaya, harusnya ada kekhawatiran dari orang dewasa seperti Gita. Film ini kelewat simpel, sampai-sampai hal menjadi unintentionally menjadi amat sangat creepy, dan di film ini justru jadi solusi, justru jadi waktu bagi karakter Bang Dul memenuhi fungsi perannya sebagai penolong. Bang Dul berhasil melacak Gita karena dia yang kesengsem sama gadis itu diam-diam telah menaruh tracker di dalam kalung yang ia berikan. Duh! Film ini mau bicara tentang tindak kriminal? That is the crime hahaha

 




Aku senang ada film ini. Genre detektif cilik selalu dapat tempat di hati. Menurutku anak-anak perlu lebih banyak tontonan horor atau misteri yang benar selevel dengan mereka. After all, bayi merangkak dulu baru bisa lari kan. Hanya saja, untuk standar cerita anak sekalipun, film ini aim terlalu rendah. Dari segi penulisan kasus dan arahan misteri supranaturalnya, film ini cukup mengerti bagaimana melakukan itu ke dalam level penonton anak-anak. Kadar ngerinya pas, kadar teka-teki atau investigasinya pas. Tidak sampai berat atau membingungkan. Tapi dari segi penulisan karakter, film ini masih meraba-raba. Akibatnya karakterisasi geng protagonis tidak konsisten, mereka beneran lebih kayak sekelompok anak di tempat yang tak seharusnya, dan tau-tau bisa banyak hal dan memecahkan kasus. Lewat bantuan tindakan seorang creep hahaha…. Menurutku, vibenya aja sih yang belum terset dengan kuat. Biarkan anak-anak bertingkah seperti anak-anak, dari situ cerita akan bisa lebih flexible. Mau konyol seperti Scooby Doo bisa, mau agak serius seperti serial detektif anak Home Before Dark (2020-2021)-nya si Brooklyn Prince juga bisa.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for PETUALANGAN ANAK PENANGKAP HANTU

 




 

That’s all we have for now.

Sedih juga film ini kemaren yang nonton di studioku cuma aku sendiri. Menurut kalian apakah memang anak-anak sekarang kurang tertarik sama genrenya? Kenapa, apakah karena mereka terlalu cepat dewasa?

Silakan share pendapatnya di komen yaa

Yang penasaran sama serial detektif cilik Home Before Dark yang kusebut di-review (2 season), bisa subscribe Apple TV untuk menontonnya yaa. Mumpung ada promo free seminggu nih. Tinggal klik di link ini https://apple.co/3SqRITp

Get it on Apple TV
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA and BEST BOOK REVIEW HORROR & THRILLER EDITION ON TWINKL