BALADA SI ROY Review

 

“It’s good for young people to be angry about something”

 

 

Tayang berbarengan, Balada si Roy dan Autobiography ternyata memang punya banyak kesamaan. Keduanya adalah film yang cowok banget. Dan selain karena sama-sama ada Arswendy, kedua film ini basically bercerita tentang anak muda yang berusaha membebaskan diri dari rezim atau tatanan lama yang berkembang di masyarakat. Tapi tentu saja keduanya bercerita dan diceritakan dengan begitu berbeda. Balada si Roy membawa persoalannya ke dalam nada yang benar-benar menggebrak. Dengan mengusung semangat novel source materinya, Fajar Nugros meletakkan protagonis mudanya di tengah-tengah tatanan kuasa pada tahun 80an, dan berusaha memantik api inspirasi dari perjuangan kritis sang protagonis. Film ini seolah bilang ke anak muda jaman sekarang supaya jangan cuma taunya paham ‘woke’ dari luar, tapi juga harus benar-benar melek sejarah sendiri di dalam. Melek, dan lawan!

Aku sendirinya sebenarnya gak kenal ama Roy. As in, aku belum pernah baca novelnya dan gak juga nontonin versi sinetronnya. Sehingga, referensiku nonton ini paling cuma dari novel-novel atau film remaja yang sepertinya sejenis, kayak Dilan, dan yang paling dekat sepertinya Lupus. Dan aku memang benar-benar melihat kesamaan antara Roy dan Lupus. Mungkin karena ‘lahir’ di waktu yang berdekatan. Lupus nongol pertama kali tahun 86, dan Roy tahun 88. Lahir saat tren yang serupa, yang juga sangat berbeda dengan tren cerita remaja jaman sekarang. Perbedaan inilah yang bikin cerita Roy – dan tentu saja film Balada si Roy ini, terasa fresh.  Seperti Lupus, Roy enggak exactly tentang remaja pacaran. Mereka memang dikasih love interest, tapi keseluruhan ceritanya lebih fokus kepada kehidupan anak muda itu sendiri. Kepada si titular karakter. Kehidupannya. Seluk beluk sikapnya. Pandangannya.  Lupus sudah punya pacar bernama Poppy, tapi masih tetep suka godain cewek-cewek lain. Begitupun si Roy. Hatinya tertambat kepada Ani, tapi cerita akan memperlihatkan Roy juga menjalin pertemanan dekat dengan beberapa karakter cewek lain. Ya, begitulah anak muda. Masih bebas, ogah terikat. Bolos sekolah, berbuat nakal, berantem, protes kepada aturan adalah pemandangan biasa pada potret anak muda seperti mereka. Anak muda yang masih mencari jati diri itulah yang jadi gambaran pokok pada cerita 80an. Pada Balada si Roy ini. Bedanya dengan Lupus, Balada si Roy tidak menggambarkan itu dalam nada komedi. Bahkan bisa dibilang, Roy adalah versi dark dari Lupus.

Kalo lebih pedas lagi, mungkin judulnya udah ganti jadi “Balado si Roy”

 

Di hari pertamanya di sekolah baru, Roy udah bersinggungan dengan masalah. Roy yang bersepeda dan nekat membawa anjing kesayangannya, seketika jadi perhatian. Malah, sukses merebut perhatian seniornya yang bernama Ani. Sialnya, si Ani ini udah ada yang suka. Dullah, anak yang punya kota Serang. Sikap si Dullah yang sok kuasa sebelas dua belas dengan gimana sang ayah memimpin di kota. Tentu saja, Roy yang kritis dan keras – teman-teman menyebutnya ‘Kepala Batu’ – gak tinggal diam. Roy gak segan-segan untuk menantang Dullah dan menuliskan buah pikirannya tentang kota mereka di koran. Perlawanan Roy berhasil mempengaruhi anak-anak lain yang selama ini ditindas. Tapi peliknya, Roy tidak begitu saja dianggap pahlawan. Dia malah dicap sebagai biang onar. Dengan ‘musuh’ kuat, teman yang semakin lama semakin berkurang, dan nilai rapor yang kian menurun, hari-hari si Roy menjadi semakin berat. Film Balada si Roy menggambarkan naik turunnya kehidupan Roy.

Anak-anak muda harusnya kritis seperti Roy. Apalagi dengan api dan gejolak meledak-ledak yang dimiliki saat usia dan pikiran remaja, wuih gak heran anak-anak muda disebut sebagai agen perubahan.  Masalahnya ya cuma satu, penyaluran yang tidak tepat. Bahkan, Roy, masih sering menemukan dirinya menyalurkan emosi dengan cara yang kurang pada tempatnya. Karakter Roy memang bukan poster yang sempurna, tapi itulah yang membuat dia dapat jadi inspirasi yang nyata. His strength, keberaniannya, kemauannya belajar (termasuk belajar sejarah), sikap setia kawannya, bisa jadi panutan sembari kita belajar dari kesalahan-kesalahan yang ia buat.

 

Honestly, awal-awal, kalo di bioskop boleh loncat-loncat, aku udah jungkir balik saking senengnya. Aku merasa mendapat film yang hebat. Film remaja yang benar-benar menggali being a teenager, di lingkungan yang juga benar-benar dibuat hidup. Penuh layer. Sepuluh, tidak, lima-belas menit pertama Balada si Roy terlihat begitu perfect. Sekuen di sekolah, begitu hidup. Foreground, background semuanya gerak! Semua yang di layar beneran seperti punya kehidupan di situ. Desain produksinya juga keren. 80an terpancar dari penampilan para karakter. Daerahnya tercermin dari bahasa dan gaya hidup karakter. Roy sendiri langsung mencuat, bukan saja karena naik sepeda dengan anjing berlarian ngikutin dirinya, tapi ada aura berbeda dari cowok tinggi, berambut panjang, berjaket jeans ini. Di menit-menit awal ini, film melandaskan dunianya dengan efektif. Karakter-karakternya terasa menarik. Bahkan si Dullah, digambarkan berbeda dari anak-jahat lainnya. Dia diperlihatkan grogi juga ke cewek. Dia diperlihatkan vulnerable secara emosi (Bio One paling bagus jadi Dullah pas di momen-momen vulnerable yang berusaha ia sembunyikan tersebut). Hook emosional buat Roy, yang ‘dihadiahkan’ oleh Dullah juga intens abis! Kurasa gak harus jadi penyayang binatang, untuk kita merasakan luka si Roy. Semuanya seperti dibangun untuk transformasi  dramatis dari Roy yang di awal memang kelihatan agak terlalu ‘baik’. But then, it’s all downhill from there. Aku duduk di sana, terus berharap film merapikan dirinya, dan bercerita dengan keren lagi. Tapi itu tidak pernah terjadi.

Kayaknya bukan pada arahannya. Fajar Nugros benar-benar menyulap dunia dan para karakter itu menjadi hidup. Sama kayak yang dia lakukan pada grup Srimulat di Srimulat: Hil yang Mustahal Babak Pertama (2022). Abidzar Al Ghifari aja sukses didirectnya jadi karakter ‘bandel’. Yang Nugros lakukan pada Abidzar sebagai Roy di sini mirip kayak yang sukses ia lakukan pada Naysila Mirdad di Inang (2022); bermain-main dengan pengetahuan meta kita terhadap aktornya. Yang punya image anak baek-baek, diambil, dan direshape di sini menjadi karakter yang jauh berbeda dari image meta tersebut. Pengadeganannya pun, seperti yang sudah kucontohkan pada adegan awal di sekolah, digarap dengan benar-benar fluid. Tidak ada adegan yang pemainnya kayak baris-berbaris nunggu giliran dialog. Dimensi dan ruang adegan terus dimainkan. Adegan action, kayak berantem ataupun kebut-kebutan, dilakukan dengan sedemikian rupa sehingga adegannya tetap grounded. Gak over-stylized. Kamera memastikan kita melihat apa yang dirasakan karakter. Tantangan  bikin dunia 80an, tidak membatasi kelincahan Nugros untuk mempersembahkan cerita. Di sekolah, di pasar, di jalan; seperti Roy itu sendiri, film ini going so many places. Satu-satunya yang bikin aku kadang lupa bahwa ini cerita di tahun 80an adalah, kinclongnya gambar. Walau dandanan dan propertinya dipastikan 80an semua, tapi warna pada layar itu masih terkesan modern. Untuk soal bahasa, aku gak tahu juga 80an di Serang bahasa pergaulan daerahnya gimana, jadi ya selama terdengar kayak percakapan natural, buatku tak masalah.

Nice touch, main catur tapi satu bidaknya ilang dan diganti ama gulungan benang!

 

Tadinya aku mau bilang kalo film ini oke di penyutradaan namun lemah di penulisan. Tapi setelah melihat nama penulisnya, aku jadi bingung. Penulisnya ternyata Salman Aristo. Menulis banyak skenario keren sebelumnya. Adaptasi novel bukan barang baru baginya. Waktu aku belajar teori nulis skenario, modul-modul belajarku banyak yang fotokopian dari kelas asuhannya. I was like, apa yang terjadi sama film ini? Kok bisa jadi begitu saat ditonton? ‘

‘Begitu’ yang kumaksud adalah film ini ceritanya gak ngalir kayak bentuk skenario film. Ceritanya masih kayak bentuk chapter-chapter pada novel. Atau mungkin malah kayak cerita-cerita pendek digabungin jadi satu. You know, kayak episode. Roy dengan anjingnya. Roy tarung adat dengan Dullah. Roy kena santet (beneran, film ini bakal ada momen horor juga!), Roy dan usahanya ngapel Ani (harus ngalahin bokap Ani main catur dulu). Setiap episode punya konflik, penyelesaian, dan bahkan karakter pendukung spesial tersendiri. Selain dengan ibunya, Ani, dan teman-teman di sekolah, Roy juga berinteraksi dengan karakter-karakter lain nanti. Sepanjang nonton ini aku berasa jadi kayak meme Leonardo DiCaprio yang lagi nunjuk itu, karena bakal banyak sekali aktor-aktor yang ‘tau-tau’ muncul. Jadi sosok yang bakal ngajarin Roy sesuatu tentang hidup. Tapi semuanya tidak mengalir kayak struktur film, yang konfliknya ada di sekuen berapa dan penyelesaian nanti di sekuen berapa. Nonton film ini capek, kerasa panjang banget, karena formula yang sama terus diulang. Berkali-kali. Kita akan melihat Roy baik, terjemurus, berhasil, dan baik lagi, berulang kali. Tentu, semua itu ada garis besarnya; soal si Roy yang ingin mengubah tatanan sosial kota karena gak nyaman dan pengen menemukan rumah, jadi overarching plot. Bahasan satu orang versus satu kota itu memang keren. Juga bagus film memuat banyak. Tapi dengan struktur yang masih kayak novel ini, film terasa sepertl melompat-lompat di sekitar gagasan besarnya alih-alih berjalan mantap sebagai satu kesatuan. Development karakter Roy jadi gak terasa, karena setiap kali dia sudah berubah, dia kembali melakukan hal yang sama pada kesempatan berikutnya. Kita tidak tahu journey ini kapan mulai dan berakhirnya. Tau-tau Roy jadi anak motor, aja. Tapi lantas film berakhir dengan dia mengembara, tanpa kendaraan.

Cocoknya, cerita kayak gini memang dibikin sebagai slice of life. Yang fokus kepada karakter Roy. Pemikirannya. Pandangannya. Dia mengarungi hidup sehari-hari digambarkan dengan jelas dan runut. Interaksi dia dengan karakter lain, bertemunya dibuat lebih natural. Enggak seperti tau-tau ketemu, dan berfungsi hanya di satu ‘episode’ saja. Ada bagian ketika tau-tau ada cewek yang juga anak baru, Roy kenalan. Mereka jadi temen akrab, namun begitu ‘episode’ ini selesai, si anak baru pindah lagi dan gak muncul lagi hingga cerita beres. Mestinya kemunculan dan exit karakter ini bisa dipercantik lagi, dibuat lebih natural. Toh ketika sudah jadi film, naskah tidak harus sama persis dengan yang digariskan pada novel. Tergantung adaptasi kreatif mengolah novel menjadi sesuai bentuk naskah. Roy sebenarnya bisa menjadi slice of life, yang benar-benar menyentuh. Seperti pada menggarap bagian cinta, film paham untuk membuatnya tentang personal sebagai remaja itu sendiri. Harusnya ini dipertahankan supaya jadi slice of life. Tapi film jadi ambisius, sehingga fokusnya malah jadi kayak kompetisi antarlaki-laki. Bertarung. Main catur. Hingga balap motor. Aku gak yakin setelah kredit bergulir, penonton akan melihat  (dan mengingat) Roy sebagai sosok, sebagai pikiran dan perjuangannya, bukan sebagai aksi jagoan yang ia lakukan.

 




Sudah senyaris itu kita dapat film remaja yang berbobot, dengan penceritaan yang gak FTV alias receh menye-menye. Karena Roy memang berbeda dari tokoh cerita remaja kekinian. Roy mengajarkan pemikiran dan karakter yang tangguh, berani. Kisah Roy seharusnya menginspirasi untuk itu. Secara arahan karakter, dan produksinya sebenarnya sudah unik dan segar. Menit-menit awalnya aku suka banget. Semuanya seperti mengarah kepada development karakter dan alur yang tegas. Tapi ternyata enggak. Film ini malah merosot. Problem film ini adalah bentuk yang masih terlalu ‘novel’. Cerita yang tidak mengalir. Dan malah cenderung memfokuskan kepada adegan-adegan aksi/kompetisi, dan hal-hal ajaib lain yang tau-tau ada di cerita. Penonton akan bingung film ini sesungguhnya mau apa. Apalagi tidak ada romance yang biasanya mereka suka pegang. Aku kurang suka ama remake. Tapi kalo ada film yang aku ingin ada remakenya, maka film ini mecahin rekor karena baru saja tayang tapi aku berharap film ini diremake lagi (dengan struktur skenario yang gak usah ikut-ikut novelnya). Saking bagus gagasan namun kecewa eksekusinya.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for BALADA SI ROY

 




That’s all we have for now.

Kira-kira mengapa cerita remaja sekarang sudah tidak lagi atau jarang yang membahas pemikiran karakter – apalagi berbingkai nasionalisme seperti Roy dan remaja 80an?

Share pendapat kalian di comments yaa

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 



PUISI CINTA YANG MEMBUNUH Review

 

“Art comes from joy and pain… But mostly from pain.”

 

 

Aku terus kepikiran sama adegan pembuka film Puisi Cinta yang Membunuh. Aku merasa ada kemiripan antara yang dibikin oleh Garin Nugroho dengan yang dilakukan oleh Ingmar Bergman pada sekuen pembuka Persona (1966), yang ada anak kecil membelakangi kita nyentuh layar sinema, dengan close up wajah perempuan. Pada pembuka yang kompleks tersebut – Bergman udah kayak nyeritain sejarah singkat gambar-bergerak – hal terasa out-of-place tapi sekaligus terasa benar mewakili apa yang ingin disampaikan pada cerita utuhnya kemudian. Bergman ingin kita menatap langsung dan personal karakter perempuan dalam cerita, bahwa cerita perempuan ini adalah soal image yang tertangkap. Garin Nugroho memang tidak se-elaborate itu menyuguhkan opening Puisi Cinta yang Membunuh. Justru jauh lebih sederhana, tapi bobot dan kepentingannya dalam melandaskan tema terasa sama. Garin memperlihatkan kepada kita Mawar Eva de Jongh (saat itu tentu saja kita belum tau karakter yang ia perankan siapa) berdiri di tempat yang sepertinya studio foto, menghadap kita, mengangkat kamera sedada, dan bilang kepada kita penontonnya bahwa seni bisa menyembuhkan dan juga bisa membunuh. Aku terus kepikiran akan adegan ini karena menurutku Garin accomplished so much dengan pembuka ini. Seketika dia melandaskan tema dualitas yang nanti membayangi narasi cerita. Seperti kamera yang kini di depan kita, tidak lagi melihat bersama kita; Seketika Garin menantang kita untuk melihat berlawanan. Melihat sisi yang biasanya tidak disorot. Gimana jika membunuh, melukai, adalah proses seni. Gimana jika kriminal ternyata ‘hanya’ pergulatan dengan trauma. Gimana jika hantu bukan lagi untuk ditakuti, melainkan untuk dikasihani?

Dalam filmnya sebelum ini, Garin membahas trauma punya jejak pada tubuh. Trauma masa lalu dapat tergambar dalam gerak tubuh seseorang di sepanjang hidupnya. Seseorang yang punya trauma akan mengekspresikan itu di dalam kesehariannya; luka-diri itu lantas jadi seni. Untuk bertahan dan menguatkan diri. Gagasan itu dibawa ke luar oleh Garin kali ini. Ketika seni tersebut tidak lagi semata untuk diri sendiri, melainkan juga untuk dishare kepada orang lain, maka itu juga berarti trauma dan sakit yang dirasakan juga ikut terhantar – ikut dikenai – kepada penikmatnya. Itulah ketika puisi dapat membunuh.

 

Seketika film Garin ini jadi berbahaya. Menyorot gagasan bahwa tindak kriminal, aksi pembunuhan, bisa dipandang sebagai suatu perwujudan puitis. Jikalau gagasan ini dibicarakan dalam suatu diskusi umum, mungkin memang sinting, Nyeleneh. Tak dapat diterima. Mana ada yang mau disuruh melihat perbuatan keji sebagai karya berbudaya. Namun tempat Garin membicarakan ini adalah film. Sendirinya adalah seni. Toh, Garin bukan sutradara pertama yang menyoroti cahaya begini kepada soal perilaku kekerasan. Perbandingan terkini yang lantas melintas di kepalaku adalah Lars von Trier yang tahun 2018 lalu membuat film The House That Jack Built. Diceritakan di situ Jack menganggap pembunuhan yang ia lakukan sebagai kegiatan seni rupa. Jack membuat berbagai karya dari mayat-mayat korbannya. Mulai dari dompet, hingga, ya rumah. Film garapan Lars tersebut menyorot dari perspektif Jack saat dia berdialog dengan kepalanya sendiri perihal pembenaran atas seni yang ia ciptakan. Mengangkat diskusi soal kriminal dan seni dari sana. Memang, cara berceritalah yang pada akhirnya menentukan. Garin yang tentu saja paham akan hal tersebut, menggunakan kekhasannya sendiri untuk mengangkat diskusi. Bahasan soal trauma, gaya teater (dramaturgi), dan kali ini membalut cerita dengan tema duality dan menjadikan protagonisnya simpatik di tengah-tengah itu semua.

If looks could kill…

 

Karakter yang diperankan Mawar adalah an attractive, seemingly innocent young woman bernama Ranum. Mahasiswi tata busana yang keliatan cukup aktif. Mungkin dia ingin menyibukkan diri. Karena, well, Ranum suka merasa ada sesuatu yang bersama dirinya tatkala dia sendirian. Sesuatu yang sudah dari dulu selalu ia rasakan. Oleh Pak Sutradara, ‘sesuatu’ ini digambarkan sebagai bayangan tangan, dan sesekali sepotong tangan pucat beneran yang muncul dari balik selimut Ranum. Kehadiran tangan dan perasaan ada orang yang menyertainya itu belum apa-apa dibandingkan ketakutan Ranum yang paling hakiki.  Ketakutan ketika perasaan dia telah melakukan hal mengerikan terhadap orang-orang di sekitarnya muncul. Ranum aktif mengikuti berbagai kegiatan, tapi setiap kali dia bertemu dengan orang – dan orang tersebut punya niat yang bukan-bukan terhadapnya, keesokan harinya pasti orang-orang itu diberitakan tewas mengerikan. Dan Ranum bakal galau di kamar karena dia merasa dia yang telah membunuh mereka semua. Ranum bakal menjedotkan kepalanya berkali-kali ke tembok “Berdoa! Berdoa! Berdoa!” Perasaan bingung, takut itu, tak kunjung hilang. Misteri kematian tersebut sama sekali tidak berhenti.

Puisi Cinta yang Membunuh bekerja terbaik saat menunjukkan keambiguan dari kejadian seputar Ranum. Ketika Ranum cuma gelisah dan ngeri sendiri membaca berita kematian-kematian tersebut, kita melihat dirinya actually melakukan pembunuhan tersebut. Atau paling tidak, kita melihat sesuatu yang menyerupai dirinya. Kita menyaksikan ‘Ranum’ ini muncul, mengomandoi kejadian gaib terjadi, dan akhirnya membunuh sambil melafalkan bait-bait puisi. Kematian/pembunuhan aktualnya dilakukan film lebih banyak secara off-screen – kamera akan sengaja menyorot ke satu titik di dekat pembunuhan – namun karena diserahkan kepada imajinasi kita itulah maka setiap serangan ‘Ranum’ terasa semakin mengerikan. Shot-shot yang dilakukan film ini terkait horor dan thrillernya benar-benar didesain supaya kesan misterius itu mengalir deras. Supaya imajinasi kita menyambung semakin liar lagi. Sehingga adegan-adegannya terasa punya layer tersendiri. Adegan-adegan pembunuhan itu hanya akan jadi sebuah tindak balas dendam jika direkam dengan gamblang. Akan tetapi, lewat cara menampilkan seperti yang film ini lakukan, pembunuhan-pembunuhan tersebut terasa punya sesuatu yang lebih. Terasa seperti suatu pelampiasan yang mendorong kita terus masuk, terus peduli tentang apa ini sebenarnya.

Tentu saja, semua kesan dan efek itu turut terbantu tersampaikan lewat penampilan akting luar biasa dari Mawar Eva. Come to think of it, Mawar di sini memikul semua sendiri. Dia harus memainkan perempuan yang bingung dan takut, sekaligus juga diminta untuk jadi entitas misterius yang membunuhi orang-orang. Dan ini film Garin, loh! Yang terkenal dengan film-film nyeni yang ‘berat’ dan njelimet. Tapi Mawar di sini, bisa. Mawar paham menerjemahkan visi Garin ke dalam dual-acting yang total. Kalo gak liat sendiri, aku gak bakal percaya dia mau melakukan separoh dari adegan-adegan di film ini. Aku gak bakal percaya dia mampu melakukannya dengan tepat. Untuk aktor muda seperti Mawar, jelas ini adalah pencapaian luar biasa.

Melihat ‘Ranum’ membunuh sambil berpuisi, lalu mendengar ibu dosen Raihaanun membahas berita-berita real serial killer yang pernah ada di Indonesia (Robot Gedek, dan banyak lagi headline bikin merinding) otomatis membuat kita memikirkan soal kekerasan dan seni itu tadi. Sehingga sebenarnya tak lagi jadi soal mengenai siapa ‘Ranum’ yang membunuh itu. Kenapa ada ‘Ranum’ kedua yang membayangi ke mana Ranum pergi. Seni film ini, menurutku, salah satunya datang dari menjaga keambiguan Ranum dan ‘Ranum’ tersebut. Karena penonton akan punya interpretasi masing-masing. Akan mencoba mengaitkan sendiri dalam kepala kita apa yang menurut kita terjadi – tergantung dari masing-masing memaknai ceritanya. Mungkin akan ada penonton yang mengira semua pembunuhan itu hanya terjadi di benak Ranum saat ia menuliskan pengalaman tak-enaknya sebagai puisi. Mungkin akan ada penonton  yang mengira orang-orang itu sesungguhnya merasakan trauma Ranum lewat puisi. Menurutku, selama kesan sedih itu tersampaikan, gak masalah penonton menganggap kejadian pembunuhannya sebagai apa, pelakunya beneran Ranum atau bukan.

Datang. Baca puisi. Bunuh. Pergi

 

Predikat horor-art film ini justru jadi terusik saat naskah mulai menyebut soal kembar. Kemudian dengan gamblang membeberkan (lewat karakter lain pula!) di sana sini apa yang terjadi di masa lalu traumatis Ranum. Menjelaskan puisi yang kita dengar sebagai mantra pembunuh itu ternyata berasal dari komik lama yang dulu suka dibaca Ranum. Sehingga ini jadi bukan lagi tentang trauma dan seni. Melainkan jadi trauma dan manifestasinya secara literal gaib. Menuliskan narasi seperti ini tentu saja tidak salah, hanya saja penceritaannya kurang tepat untuk konsep film di awal. Yang film ini lakukan actually adalah membuat pengungkapannya sebagai plot twist yang kini terbuka. Keambiguan yang dibangun di awal jadi hilang. Jadi terjawab, walau sebenarnya tidak ada urgensi yang menuntut film untuk menjelaskan semuanya. Sebab kesan yang diniatkan untuk kita rasakan kepada karakter-karakternya (terutama duality karakter utama) sebenarnya masih bisa tersampaikan. Penonton gak akan bilang ini film horor seseram film jumpscare. Penonton gak akan bilang ini film romansa. Apalagi film komedi. Dari bagaimana horor pembunuhan, flashback karakter lain, hingga ke teror psikologis yang mendera Ranum, kita sudah bisa merasakan ada sesuatu yang tragis di cerita ini. Sesuatu yang menyedihkan. Menurutku, penjelasan naratif yang dilakukan film ini di babak akhir masih bisa dilakukan dengan cara yang lebih tersirat, dengan pengadeganan yang lebih subtil dan sureal. Like, aku lebih suka film ini saat mereka menempatkan dua Ranum begitu saja di satu lokasi, membuat kita sendiri yang berusaha menyimpulkan sendiri. Tapi ya, mungkin film merasa itu bakal too much buat penonton. Mungkin film ingin memastikan penonton mengerti sehingga lebih mudah untuk melihat ini sebagai alternatif horor – bahwa genre horor bukan sekadar wahana jumpscare.  Bahwa horor juga bisa dinikmati sebagai seni.

 

 




Memang, film ini vastly different dari horor lokal mainstream.  Not bad-lah sebagai film pertama yang kutonton di tahun 2023 – film lokal pula! Horornya disajikan lebih sebagai kiasan dari perasaan. Hantunya pun dihadirkan lebih dari sekadar keberadaan yang menakutkan. Bahkan bisa dibilang, hantu di sini sebenarnya adalah sosok yang paling menyedihkan. Karena film ini sesungguhnya bicara trauma, karakter-karakternya mengalami kejadian traumatis di masa lalu dan one way or another harus deal with that. Dan hantu di sini adalah produk dari trauma tersebut. Untuk membimbing penonton ke jalur ini, sedari adegan pembuka, Garin langsung menyambut dan mengarahkan perhatian kita untuk tertuju kepada duality; bahwa ada sisi lain yang jarang disorot dan itulah yang disorot sekarang olehnya di film. Karena itulah menjaga tetap ambigu jadi langkah terbaik yang bisa dilakukan film ini. Supaya kita tidak terlepas dari duality tersebut. Tapi film merasa perlu juga untuk menjelaskan dengan lebih gamblang, sehingga kesan tersebut dihentikan menjelang babak akhir dan film menjadi pengungkapan yang lebih clear. Yang sayangnya juga mengurangi kemagisan dan art-nya itu sendiri. 
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for PUISI CINTA YANG MEMBUNUH.

 

 




That’s all we have for now.

Mengapa menurut kalian perasaan negatif kayak marah, galau, derita, justru bisa menghasilkan karya seni yang lebih bagus – like, lagu bagus aja biasanya tercipta dari orang yang patah hati?

Share pendapat kalian di comments yaa

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



GLASS ONION: A KNIVES OUT MYSTERY Review

 

“Rippling water shows lack of depth”

 

 

Orang kaya kalo gak jahat, ya pembual. Banyak film telah mengestablish soal karakter tersebut, tapi Rian Johnson dalam Glass Onion membawa soal tersebut lebih tegas lagi. Bertindak sebagai kasus berikutnya dalam petualangan detektif Benoit Blanc, Glass Onion didesain oleh Johnson sebagai sindiran untuk milyuner-milyuner banci-tampil yang kita kenal di era teknologi canggih sekarang ini. Gimana kalo mereka sebenarnya gak sepintar image yang mereka tampilin? Gimana kalo sebenarnya mereka cuma bayar ide milik orang lain? Gimana kalo sebenarnya, mereka gak punya bakat apa-apa selain ya, bakat ‘jual-obat’; omong gede dan tampilan meyakinkan? Makanya film ini juga serta merta lucu ketika membahas karakter tersebut dan orang-orang yang nempel kepadanya. Yang enjoyable pada sekuel Knives Out (2019) ini bukan lagi misteri pembunuhannya. Honestly, buatku kasus dan si detektif itu sendiri adalah titik lemah dalam penulisan film kali ini. Melainkan, yang menyenangkan dari film ini adalah saat melihat jaring-jaring pertemanan mereka yang tampak erat itu mengelupas sendiri dan menampilkan sesuatu yang ternyata begitu rapuh. Persis seperti glass onion itu sendiri.

Set up-nya sih memang murder mystery banget. Sekelompok orang diundang oleh milyuner ke villa keren di sebuah pulau. Surat Undangannya gak tanggung-tanggung; kotak gede berisi rangkaian puzzle. Yang kalo berhasil dipecahin, maka di dalamnya ada undangan personal. Keren banget kan. Makin kagumlah orang-orang ini dengan si milyuner (eventho emak-emak saja bisa mecahin puzzle-puzzle tersebut) Tapi yah, karena actually mereka semua adalah teman segeng, teman lama yang sama-sama bikin bar sebelum masing-masing berhasil jadi orang gede, mereka tetap datang. Termasuk Andi, yang sudah keluar dari grup lantaran ada cekcok di masa lalu. Yang jelas. pusat kelompok mereka memang adalah si milyuner tech tersebut. Miles, yang sukses berat dengan perusahaan Alpha hingga sekarang dia ‘membantu’ teman-temannya dalam berbagai rupa. Miles telah merancang game misteri-pembunuhan sebagai hiburan di pulau. Tapi ternyata, terjadi pembunuhan-beneran. Salah seorang terbunuh, diduga keracunan. Untungnya bersama mereka hadir detektif Benoit Blanc – meskipun Miles sendiri mengaku tidak mengundang. Blanc harus menguak hubungan antara masing-masing mereka untuk mengetahui bukan hanya siapa pelaku, tapi juga apa sebenarnya kasus ini.

Puzzle-puzzle itu bikin aku teringat belum purchase game Mystery Case Files edisi tahun ini

 

Tapi Rian Johnson seperti tidak mau terjebak di penggarapan murder mystery yang itu-itu melulu. Whodunit yang sekadar mengungkap siapa pelakunya. Terutama, dia tidak mau film kali ini terasa seperti replika dari film yang pertama. Sure, ada beberapa ‘resep’ yang dipakai kembali. Kayak, jejeran cast yang ‘rame’. Selain Daniel Craig yang kembali untuk memerankan detektif yang dandy dan punya aksen tersendiri, Glass Onion punya segudang aktor lagi yang total meranin karakter dengan tipe dan kekhasan masing-masing. Batista di sini jadi tipe nerd unik yang got big, dia kayak golongan yang gak percaya covid dan percayanya pada hak megang pistol. You know, karena film ini nyindir orang kaya, maka otomatis juga berarti film ini membidik kelas sosial atas lainnya, seperti politisi. Karakter Kathryn Hahn literally senator cewek yang tampaknya cuma punya kepedulian terhadap citra dan elektabilitasnya untuk pemilu. Selain mereka juga ada scientist yang diperankan Leslie Odom Jr., dia ini kayak manut aja sama Miles. Kate Hudson malah meranin model, yang pikirannya zonk banget ampe bisa-bisanya ngira sweatshop itu pabrik tempat bikin sweat pants. Ada banyak lagi karakter yang tak kalah unik dan cameo yang tak kalah bikin kita excited. Malah ada juga satu karakter yang cuma numpang tinggal di tempat itu dan sesekali muncul di background untuk komedi singkat. Sampai sekarang aku masih bingung kenapa ada karakter itu, kepentingannya apa. Cuma, ya, maklum sih untuk bikin lucu aja haha..

Vibe dan tone pun masih basically mirip film pertama. Hanya tentu saja, yang namanya sekuel tentu pengen tampil lebih besar daripada film pertama. Apalagi cerita kali ini konteksnya tentang orang yang beriak tapi tak dalam. Maka panggung cerita dibikin lebih mentereng. Bangunan tempat mereka tinggal sangat mewah. Mulai dari mobil kinclong, glass onion raksasa, sampai lukisan Mona Lisa asli, dipajang oleh Miles. Kesan dilebih-lebihkan ini membuat film terasa semakin kocak. Dan menonton semua itu sambil menunggu kasus apa yang bakal terjadi, rasanya cukup fresh. Film ini masih belum bikin kita bosan meskipun tahun ini ada Bodies Bodies Bodies  (2022) yang juga cerita misteri pembunuhan dengan sindiran kelas sosial yang actually lebih solid dalam bercerita. Film Glass Onion begitu khawatir mengulangi rutintas cerita yang sama. Hal tersebut seems like a big no buat Johnson, sehingga dia mati-matian berusaha mencari cara yang unik untuk menampung misteri pembunuhan dan terutama sindiran kelas sosial. Johnson enggak sadar, dengan begitu dia justru terjebak dan sendirinya membuat sesuatu yang juga seperti glass onion yang ia simbolkan.

Indonesia mengenal pepatah air beriak tanda tak dalam untuk mengumpamakan orang yang gede omong doang tapi isi otaknya kosong. Orang barat gak kenal pepatah tersebut. Makanya film ini menggunakan simbol glass onion, ornamen mentereng dari kaca yang tampak begitu kompleks, namun semua orang yang melihat sebenarnya tahu benda itu kosong. Begitulah film ini mendeskripsikan milyuner teknologi seperti Miles. Bahwa semua kemewahan dan kecanggihan itu hanya ilusi, dan itu tidak terbatas kepada barang-barang. Karena film juga memperdengarkan itu lewat dialog. Miles menggunakan istilah-istilah ‘keren’ dalam speech-nya, padahal penggunaannya tidak tepat. Ironi lantas didatangkan dari dia yang merasa hebat sebagai disruptor, ternyata sendirinya segampang itu dihancurkan karena deep inside, dia gak punya pondasi apa-apa.

 

Glass Onion tidak bercerita dengan struktur tiga-babak tradisional. Pembunuhannya baru terjadi di mid-point cerita – seperti Death on the Nile (2022) – tapi Johnson tidak lantas melanjutkan ke sekuen tiga-babak berikutnya. Karena di ceritanya ini mid-point bukanlah point-of-no-return seperti pada struktur biasa. Melainkan, justru dijadikan point saat cerita mulai bergerak return ke awal. Sekuen ‘taktik baru’ film ini literally perspektif baru yang kita lihat pada Detektif Blanc, sebab di titik itu kita dibawa kembali saat dia masih di rumah, menerima undangan, dan ternyata dia sudah punya rencana tersendiri. Ternyata dia datang ke pulau itu tidak se-‘orang baru’ yang kita dan karakter lain sangka. Glass Onion seperti terbagi atas dua bagian. Sejam pertama kita masuk ke circle Miles bareng-bareng Blanc, kita sama-sama dengannya berusaha menyimak siapa orang-orang di sana. Lalu sejam kedua, kita hanya menonton Blanc, kita terlepas karena ternyata dia juga punya rahasia. Cerita Blanc kali ini bahkan bukan tentang dia mecahin kasus pembunuhan. Aku malah mendapat kesan Blanc ada di sana hanya untuk mencari bukti bahwa Miles memang salah dan dia memang pelaku pada malam itu. No aku salah. bahkan bukan Blanc yang menemukan buktinya. Dia cuma di sana untuk mengulur waktu dan karena dia dituliskan cerdas, saat mengulur waktu tersebut dia menemukan jawaban atas misteri pembunuhan.

Blanc doing nothing kayak impostor di game Among Us yang ia mainkan di awal

 

Aku mulai merasa aneh saat Blanc mengenyahkan gitu saja pertanyaan soal kenapa karakter korban itu mati, dengan jawaban untuk tahu itu harus diotopsi dulu. Like, maan, aneh banget seorang detektif tapi kayak gak mikirin lebih lanjut ketika ada orang yang mati kayak kecekek setelah minum, di antara kelompok orang yang ia tahu punya motif untuk saling menyakiti. Ini kalo cerita Detektif Conan, si Conan pasti langsung ngendus-ngendus korban, gelas; meriksa apapun yang bisa jadi identifikasi untuk racun. Nyelediki di mana, dari mana, dan kapan naro racunnya. Soalnya kan bahaya kalo itu memang racun dan korbannya salah-incar. Apalagi kalo ternyata itu racun yang belum ia tahu. Fokusnya pasti mencari tahu senjata pembunuhannya apa, Tapi Benoit Blanc gak peduli semua itu. Naskah memang punya alasan untuk membuat Blanc tidak ‘tertarik’ soal tersebut, namun itu juga lantas membuat Blanc terlihat seperti detektif yang kurang cakap. Kalo dia langsung nyeledikin, pastilah senjata pembunuh yang ternyata sepele itu langsung ketahuan dan pembunuhan lain dan kejadian-kejadian berikutnya tidak perlu terjadi. Film bisa langsung masuk ke babak tiga, dan tamat. Maka dari itulah, aku nyadar; bukan Blanc-nya yang gak cakap. Blanc jadi tampil sembrono kayak gitu karena naskahnya lah yang masih anak bawang dalam menggarap misteri sekaligus sindiran. Naskah yang tidak lagi benar-benar peduli sama misteri, melainkan cuma pengen masukin sindiran ke milyuner saja.

Struktur berlapis kayak bawang yang dilakukan Johnson tadi sebenarnya dilakukan untuk menutupi kelemahan cerita pembunuhan. Like I said, kalo dalam situasi normal, detektif seperti Blanc akan bisa menebak apa yang terjadi di ruang TKP itu. Cerita ini tidak punya puncak dalam misteri pembunuhannya. Konflik dan misterinya justru pada siapa sebenarnya si Andi. Itulah yang diusahakan untuk terceritakan secara dramatis oleh struktur cerita film ini. Apakah dia berhasil untuk itu? Aku bilang, untuk ngasih kejutan-kejutan dan bikin kita tetap melek; ya berhasil. Tapi struktur begini tidak ngasih apa-apa untuk development karakter. Blanc tidak mengalami pembelajaran apa-apa (bandingkan dengan Poirot di Death on the Nile yang sambil mecahin kasus, dia juga makin mengerti bahwa cinta membuat orang rela melakukan apa saja). Blanc mengaku dia payah dalam ‘dumb game’, dan sampai akhir dia tetap payah, karena tidak memecahkan kasus sedari pertama. Yang dilakukan Blanc di sini seperti kebalikan dari detektif lain. Blanc menebak cara membunuhnya, dari pelaku yang sudah ia curigai sebelumnya. Bukan dari menyelidiki kasus lalu menyimpulkan pelaku.  Miles juga tidak kelihatan sadar kesalahan. Karakter lain tetap seperti mereka di awal, begitu tidak bisa berlindung di balik orang, mereka ninggalin orang itu. Dan Andi, well, she’s got her revenge. That’s all. Jadi ya, setelah layer-layer dan gaya bercerita wah-wah dan sindiran untuk milyuner tersebut, film ini benar-benar kosong juga ternyata di tengahnya bagi para karakter.

 

 




Bukti satu lagi film ini tidak care sama misterinya adalah kita juga dibuat bisa langsung tahu kalo pelakunya adalah Miles. Film dengan berani memperlihatkan momen-momen penting pembunuhan. Penonton yang terbiasa menatap layar dengan total, gak perlu jeli-jeli amat, akan langsung bisa melihat keterangan Miles itu gak sesuai kenyataan. Terlebih film ini tayangnya bukan di bioskop, jadi adegan-adegan tersebut langsung bisa dikonfirmasi ulang. So in the end, jika misteri tersebut sedari awal tidak pernah diniatkan sebagai misteri, yang ditonton pada film ini sebenarnya cuma sindiran buat orang-orang kayak Miles saja. Sindiran yang dilakukan cuma dengan gaya. Tanpa development karakter manapun – sebanyak itu karakternya padahal. Detektifnya aja tak lagi tampak demikian hebat selesai film ini. Tampaknya film ini melakukan itu awalnya karena tidak mau misteri pembunuhan yang itu-itu melulu. Tapi mereka tidak memperhitungkan, bahwa film tentang sindiran kelas sosial pun sudah banyak yang melakukan. Like, Triangle of Sadness (2022) melakukan sindiran kepada orang kaya lebih baik dan kocak karena ada development dan meskipun tajam tapi gak lupa untuk diseimbangkan. Bodies Bodies Bodies melakukan gubahan misteri dengan lebih solid, juga dengan pesan sosial yang tak kalah kocaknya. So yea, film ini meluangkan banyak untuk gaya, mengorbankan karakter dan bahkan genre awalnya sendiri. tapi gak benar-benar mencapai hal baru. Just another smart-entertainment selama dua jam saja.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for GLASS ONION: A KNIVES OUT MYSTERY

 

 




That’s all we have for now.

Kenapa sih orang kayak Miles terbukti bisa lebih sukses daripada yang beneran punya keahlian? Apakah dunia memang lebih menghargai penampil daripada pemikir?

Share pendapat kalian di comments yaa

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 



CEK TOKO SEBELAH Review – [2016 REPOST]

 

“No legacy is so rich as honesty.”

 

cektokosebelah-poster

 

It’s about time ada yang buat film tentang kehidupan pemilik toko sembako!

Hahaha seriously, kita bisa menemukan toko-toko yang jual jajanan kebutuhan sehari-hari tersebut di mana-mana. Rumahku practically dikelilingi oleh mereka sampai-sampai panggilannya berubah dari “kedai acong” dan “kedai si Gu” menjadi sesimpel “kedai belakang” dan “kedai depan”. Namun entah apa sebabnya tidak ada yang berani bikin cerita yang berpusat di lingkungan toko-toko kecil tersebut, I dunno – mungkin sejak warung Mak Nyak, padahal mereka begitu dekat dengan keseharian. Orang lebih tertarik sama film yang berjalan-jalan ke luar negeri. Jadi itulah sebabnya mengapa aku masuk ke studio dengan harapan yang cukup tinggi buat film ini. This could be a very interesting movie, dengan ide yang sederhana (namun ngena!), yang benar-benar dialami oleh pemilik toko di luar sana.

Cek Toko Sebelah pun tidak melewatkan kesempatan untuk berdekat-dekat ria dengan penonton. Setiap dialog, setiap adegan, setiap jokes terasa sangat lokal. Tidak susah untuk kita mengerti, tidak sukar bagi kita untuk merasa akrab dan erat dengan apa yang kita saksikan di layar. Kata orang, “it’s funny because it is true!”, Cek Toko Sebelah did a great job dalam menjaga dirinya tetap relevan dengan isu-isu yang berkembang di masyarakat. Film ini menempatkan KOMEDI SEBAGAI KOMODITI DAGANGAN PERTAMA, DAN DRAMA KELUARGA SEBAGAI JUALAN KEDUA sekaligus sebagai penggerak narasi.

 “kalo gak percaya, cek toko sebelah!”

“kalo gak percaya, cek toko sebelah!”

 

Mari bicara soal drama keluarganya duluan.

Koh Afuk yang mulai sakit-sakitan ingin terus melanjutkan usaha toko yang sejak dahulu ia lakukan bersama almarhum sang istri. Bagi Koh, toko ini punya sentimental value yang luar biasa. Dari antara dua putranya, Koh Afuk mempercayakan toko ke tangan anak bungsu, Erwin. Dan di sinilah Cek Toko Sebelah mengeksplorasi sisi dramatisnya. Erwin adalah pemuda yang lagi sukses-suksesnya di kantor, he has a great life going on; sebentar lagi dia bakal dapat promosi dan dipindahtugaskan ke Singapura. So obviously, Erwin dan pacarnya yang kece rada enggan disuruh ninggalin semua itu demi duduk nyatetin bon utang di toko keluarga. Keputusan Koh Afuk juga menimbulkan percikan api di dalam diri Yohan, anak tertua di keluarga. Yohan merasa left out so bad. Padahal secara keadaan hidup, Yohan dan istrinya lebih membutuhkan toko untuk menyokong his own family.

Sembari cerita berlanjut, kita akan mengerti alasan di balik kenapa Koh Afuk lebih mempercayakan tokonya kepada Erwin. At it’s heart, film ini bercerita banyak tentang masalah-masalah yang umum timbul dalam keluarga; pemasalahan sepele menyangkut trust, kerelaan, yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan duduk baik-baik dan bicara. Film ini mencoba untuk menelaah problematika ini, yang justru terkadang bikin kita geram. Seringkali terbit rasa kesalku nonton ini karena realized apa yang tejadi kepada mereka bisa dengan segera beres jika Yohan mau ngomongin baik-baik keinginannya; jika Erwin dengan tegas untuk berkata “tidak” sedari awal.

Ada masing-masing sisi dari Erwin dan Yohan yang cukup terasa relatable buatku. Oh I’ve been there before. Aku tahu nyelekitnya enggak dipercaya oleh orang-orang yang sangat ingin kau pinjamkan pundak kepada mereka. Aku juga mengerti gimana beratnya untuk menolak permintaan dari orang yang kita cintai. And unfortunately, baik bagi Erwin dan aku, we learned in a hard way gimana ‘berpura’ menuruti kehendak demi nyenengin hati turns out adalah tindakan yang lebih menyakitkan. Inilah masalah terbesar dalam setiap keluarga; kita tidak terbuka dalam berkomunikasi. Dan lucunya, kita bertindak demikian dengan alasan menghindari konflik. Tanpa sadar bahwa itu justru membuat hal menjadi bagai api di dalam sekam.

 

Dan kemudian, ada sisi komedi.

Ada sejumlah anekdot segar dengan delivery timing yang oke yang bakal sukses bikin kita terpingkal. Sepertinya keputusan memakai para komika adalah tindakan yang tepat bagi film ini. There are some running-in jokes diintegralkan ke dalam narasi, yang actually punya pay-off dan really worked. Film ini akan memberikan kita hiburan yang konstan in terms of lawak-lawakan. Ketawaku paling keras datang pada adegan saat seorang satpam melakukan semacam mediasi antara Yohan dengan Erwin. Sebagai pembanding; kalo kalian suka nonton serial Scream Queens, kalian akan kebayang persisnya gimana humor dalam film ini bekerja. Over-the-topnya mirip, dengan lebih sedikit karakterisasi, sayangnya. Film ini juga memasukkan cerita persaingan antar-toko, untuk memperjelas struggle yang dialami oleh toko Koh Afuk, yang eventually membawa kita kepada salah satu adegan lovable yang really funny yang melibatkan dua pemilik toko yang ‘bersaing’.

 

Ayo siapa di sini yang udah sekolah tinggi-tinggi malah disuruh jagain legacy orangtuanyaa??

Namun begitu, aku tidak bilang Cek Toko Sebelah adalah film yang benar-benar hebat. It stands out sebagai film yang berani mengangkat topik original yang unconventional. Menghibur, iya. Dramatis, sering juga. Hanya saja tidak pernah tone tersebut terasa sejalan. Kurang mulus. Tone dan arahannya didn’t work for me. Setengah-pertama film – di mana kita akan melihat rangkaian adegan Erwin yang bekerja di toko yang diceritakan dengan menyerupai gaya montage – berat oleh unsur komedi, sementara dramanya baru datang setelah pertengahan. Film kerap pindah cut antara keadaan Erwin di toko dengan keadaan Yohan yang galau atau antara Koh termenung di toko dengan Yohan yang main kartu dengan teman-teman, dan setiap perpindahan adegan membuat kita terlepas dari emosi yang sudah terbangun di adegan sebelumnya. Membuat setiap sekuens rather episodic.

Kita tidak menyaksikan actual interaksi sodara antara dua tokoh sentral, Erwin dan Yohan, sampai ayah mereka jatuh sakit di tengah cerita. Di mana mereka kemudian bekerja sama, leads us ke sebuah resolusi yang terasa abrupt karena kita merasakan hubungan mereka, ataupun device untuk resolusinya, tidak diset-up properly. Isu terbesarku adalah dengan karakter Erwin. Yea, film ini menggunakan tiga tokoh yang berjalan paralel, akan tetapi hanya Erwin seoranglah yang tidak punya stake yang bener-bener bikin kita peduli kepadanya. Ditambah lagi, karakternya sendiri memang digambarkan kinda jerk, yang bagiku terlihat kayak rip-off serabutan dari karakter Schmidt di serial New Girl. Dia seorang yang selfish, but dia ngedraw a line soal gak mau bohong. And yet transisinya menjadi peduli kepada toko tidak pernah kelihatan. I mean, apa journey karakter si Erwin di sini?

 “Makasih ya”/ “Kok makasi? Kita gak ngapa-ngapain kok” EXACTLY

“Makasih ya”/ “Kok makasi? Kita gak ngapa-ngapain kok” EXACTLY!!

 

Ernest Prakasa menyabet banyak penghargaan penulisan skenario untuk filmnya Ngenest di tahun 2015 adalah salah satu yang bikin aku penasaran sama film Cek Toko Sebelah. I think skenarionya kali ini rada convoluted, tho. But, dari performancenya sebagai pemeran Erwin lah, Ernest terasa paling kurang. Literally, dia dengan sukses outperformed by any other casts, bahkan oleh komika-komika dan peran komikal mereka. Penampilan Erwin begitu forced, adegan yang nampilin dia dengan pacarnya sungguh susah untuk dinikmati. With that being said, penampilan terbaik di film ini datang dari Dion Wiyoko yang berperan sebagai Yohan dan aktor asal Malaysia Chew Kin Wah yang memainkan tokoh Koh Afuk. Karakter dan journey mereka lebih compelling sebagai tokoh utama. Pun mereka berdua memainkan range emosi masing-masing dengan seamless. Momen saat mereka berdua menjelang akhir film punya weight emotional yang kuat karena mereka memainkan peran dengan benar-benar contained.

 




Menawarkan adegan menghibur secara konstan. At times, menyenangkan. Meski begitu, aku tidak bisa bilang suka banget sama arahan narasi film ini, yang meski tak konvensional namun terasa konyol buat inti ceritanya. It feels a bit too orchestrated, tho. Bahkan segmen behind the scenes di closing credit kayak scripted. Padahal film ini berangkat dari premis yang begitu grounded. Komedinya kocak akan tetapi aku juga tidak bisa bilang film ini diselamatkan oleh komedinya. It work best when it tries to capture the dramatic side of its story. Film ini sepertinya aware dengan kelemahan resolusi-real yang dimiliki oleh ceritanya – as in nothing would happen jika mereka mau membicarakannya baik-baik sedari awal – jadi ia menyamarkannya dengan lanjut menjadi sedikit over-the-top. Dan untuk karakterisasinya, tidak banyak yang dijual selain pada tokoh Yohan dan Koh Afuk.
The Palace of Wisdom gives 7 gold stars out of 10 for CEK TOKO SEBELAH.

 




That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.



CEK TOKO SEBELAH 2 Review

 

“Never be ashamed of where you came from; Who your family is.”

 

 

Masih ingat Erwin yang menolak diwarisi toko kelontong oleh ayahnya, karena pengen berkarir di Singapura? Begini keadaannya sekarang; Erwin terduduk galau. Dia mendapat ultimatum keras dari ibu calon mertua. Kalo cinta dan masih mau menikahi Natalie, Erwin harus merelakan untuk tidak mengambil kerjaan di Singapur. Harus tetap stay di Indonesia. Tapi itu juga akan berarti dia telah membuat ayahnya – yang sudah merelakan toko keluarga demi mendahulukan anak-anaknya – kecewa. Ernest Prakasa menempatkan karakter yang ia perankan  dalam posisi yang sulit, sebagai kait emosi dalam sekuel Cek Toko Sebelah. Tanpa kehilangan warna komedi yang menghiasi latar dan karakter-karakternya, drama keluarga Tionghoa ini ternyata masih berlanjut, dengan permasalahan ‘permintaan orangtua’ yang lebih berat. Sampai bawa-bawa soal gender dan kelas sosial segala, saat keluarga Erwin yang sederhana ditemukan dengan tuntutan keluarga Natalie yang dikepalai oleh ibu yang powerful nan kaya raya.

Dari CTS jadi CRS; Crazy Rich Sebelah

 

Sementara Erwin bergulat dengan permintaan ibu Natalie, Yohan dan istrinya yang galak, Ayu (Dion Wiyoko dan Adinia Wirasti reprised their role, dengan penambahan muatan drama) harus berhadapan dengan permintaan baru dari ayah mereka. Koh Afuk meminta anak sulungnya itu untuk segera punya momongan. Agaknya, Koh Afuk yang sudah pensiun dari ngurusin toko itu merasa kesepian. Pengen main-main ama cucu. Masalahnya adalah, Ayu belum siap untuk punya anak. Sehingga ini memancing tensi di antara keluarga mereka. Apalagi ketika Koh Afuk dengan sengaja ngide supaya temannya menitipkan anak kepada Yohan dan Ayu. Kehadiran Amanda dan kameranya (Widuri Puteri, penampilan singkat dan berkesan) diharapkan ngasih perubahan suasana di rumah Yohan dan Ayu. Buatku, permasalahan keluarga Yohan terasa lebih menohok. Perspektif Ayu yang ditonjolkan di persoalan gak mau punya anak ini ngasih muatan emosional yang kuat terhadap tema yang menjadi benang merah keseluruhan cerita Cek Toko Sebelah 2. Yakni tentang tidak malu terhadap keluarga sendiri. Jika pada cerita Erwin, permasalahan tersebut tercermin secara gamblang; di hadapan ibu camer yang kaya, Erwin terdesak dan terpaksa bohong mengenai ayahnya yang kini pensiunan yang gak ada kerjaan dan mengenai abangnya yang pernah berurusan dengan substance terlarang, maka pada Ayu hal tersebut tercermin jadi suatu sudut pandang di level yang berbeda. Karena keluarga Ayu got real dark, dan ini scarred her for life.

Kita tidak bisa memilih di mana dan dari siapa kita lahir. Beberapa orang terlahir berkecukupan, sementara beberapa lagi lahir dalam kekurangan. Beberapa lahir dalam keluarga yang menyayangi, beberapa lahir basically sama saja kayak tanpa sosok orangtua. Tapi alih-alih malu, akar tersebut sebaiknya dijadikan pijakan untuk menjadi orang yang lebih baik. Seperti orangtua kita yang punya alasan tersendiri, kita juga mestinya punya alasan untuk jadi lebih baik. 

 

Memang, seperti film pertamanya, Cek Toko Sebelah 2 juga dikembangkan dengan multi-perspektif. Erwin, Koh Afuk, dan karakter lain punya cerita atau masalah sendiri. Tentu saja ini membuka ruang yang luas untuk eksplorasi karakter tersebut. Membuat mereka punya momen masing-masing, baik itu yang ringan maupun yang emosional. Kayak, kita jadi bisa melihat gimana hubungan Erwin dan Natalie yang sweet dan lucu terjalin. Karakter Natalie sudah ada sejak film pertama, namun baru di film ini personalitynya diperlihatkan mendalam. Dan Laura Basuki adalah pilihan yang lebih dari cukup, as in, Laura Basuki bener-bener menghidupkan karakter ini, jadi natural, berkat range aktingnya. Natalie di sini bisa menimpali awkwardnya Erwin dengan berbagai feeling, bisa unyu kayak anak remaja, bisa juga serius kayak orang dewasa pacaran beneran. Chew Kinwah juga mampu membawa Koh Afuk tetap dinamis, meskipun di film kali ini perannya cukup ‘berkurang’, dalam artian screen time maupun ya, literally gak banyak banget yang dilakukannya di sini selain gelisah Yohan belum punya anak dan Erwin bohong mengenai dirinya. But when he did, impact emosionalnya bakal gak kalah gede.

Dari semua karakter, yang mau aku khususkan di sini adalah antagonisnya. Si Ibu calon mertua,  yang diperankan oleh Maya Hasan. Penulisan karakternya keren. Antagonis sebenarnya tidak bisa begitu saja disederhakan sebagai penjahat. Antagonis lebih tepatnya adalah lawan dari protagonis; orang yang menjadi rintangan dari karakter utama cerita. Dan dalam cerita yang bagus protagonis versus antagonis bukanlah soal benar lawan salah, baik lawan jahat. Melainkan soal perbedaan prinsip, standpoint. Belief.  Antagonis yang hebat membuat kita mengerti standpointnya. Membuat kita paham dia bisa berpikir seperti itu darimana. Dengan kita paham si antagonis, maka otomatis kita jadi mengerti betapa dia jadi sebenarnya rintangan buat protagonis. Jadi hambatan yang bakal memaksa protagonis untuk berubah, memikirkan ulang pilihannya. Nah si mama Natalie ini persis demikian. Kita bisa melihat dia nyusahin Erwin dengan syarat-syarat dan campur tangan di segala urusan, tapi kita juga tahu dia ada benarnya. Omongan si tante soal keadilan dan tindakannya setelah tahu Erwin bohong, kita tidak melihat itu sebagai tindakan seorang yang jahat, walaupun kita tahu dia bakal bikin ‘hero’ kita sengsara. Aku memang lantas teringat sama ibu mertua di Crazy Rich Asians (2018). Sosok matriarkal yang sama powerfulnya. ‘Kebenciannya’ terhadap Rachel yang ia sangka gold-digger, terus mendorong si protagonis untuk menunjukkan bahwa ia orang yang tepat untuk anak si ibu. Membuat protagonis mengembangkan diri. Dan puncaknya adalah adegan mahyong yang menyabet Best Movie Scene di My Dirt Sheet Awards 8Mile (2018). Point is, dinamika antagonis dan protagonis membuat narasi jadi ada gonjang-ganjing sampai akhirnya punya konklusi yang terasa earned bagi semua orang. Saat journey mereka berakhir dan mereka melihat dengan lebih baik sekarang. Cek Toko Sebelah 2 harusnya bisa mencapai ketinggian emosi yang sama. Atau mungkin malah lebih, mengingat ada lebih banyak karakter dan masalah.

Erwin masih beruntung, seenggaknya calon mertuanya gak kayak mertua di Bajaj Bajuri hihihi

 

Aku terus menunggu ‘adegan mahyong’ versi Cek Toko Sebelah 2. Menunggu momen Erwin menunjukkan perkembangan, dan stand up for himself. Owning semua kesalahan sekaligus memperlihatkan dia sudah jadi orang yang lebih baik. yang paling pantas untuk Natalie. Dan adalah salah si ibu untuk tidak melihat semua itu. Tapi yang actually kita dapatkan adalah Erwin balik badan dan ‘kabur’ dari si ibu. Momen pembelajaran ternyata ada pada karakter si Ibu dan Koh Afuk. Dua orangtua yang tadinya meminta suatu hal. Kan jadi lucu. Film ini dibuka oleh sekuen dua anak muda yang bertemu lalu jadian , tapi resolve masalah di akhir adalah karakter lain. Like, kalo pembelajarannya memang pada orangtua, maka cara atau struktur bercerita film ini enggak sesuai dengan tujuan tersebut. Sebab dengan membuatnya seperti begini, justru yang tertampilkan adalah karakter utama kita – si Erwin – dan pasangannya – enggak ada problem. Enggak ada pembelajaran. Erwin ninggalin semua orang aja bisa beres dengan gampang.

Multi-stori atau multi-perspektif dituliskan oleh Ernest dengan lebih baik pada film Cek Toko Sebelah yang pertama. Di film itu ketiga karakter sentral selain punya masalah, tapi juga punya development masing-masing. Mereka diberikan stake masing-masing. Karir, cinta, dan warisan. Pada saat penyelesaian, ketiganya terasa ‘ngelingker’, terasa telah menjadi pribadi yang lebih baik ketimbang saat di awal cerita. Sedangkan pada film sekuelnya ini, terasa kayak dibagi-bagi. Yang punya stake adalah Erwin. Yang punya development atau perubahan adalah Ayu dan Ibu Natalie. Yang resolve semuanya Koh Afuk. Ini juga membuat keseluruhan narasi seperti terkotak-kotak episode. Oh awalnya episode kenalan Erwin ama Natalie. Terus pindah dulu ke episode Yohan dan Ayu mengasuh Amanda. Terus ke episode pernikahan. Tiap episode punya puncak dan penyelesaian sendiri. Enggak mengalir bareng-bareng.

Soal jokesnya, aku gak mau bilang banyak. Yang jelas gaya joke khas film-film Ernest tetap dipertahankan. For better and worse. Better, karena sekarang sudah lebih mulus masuk ke narasi utama. Worse, karena beberapa adegan lucu-lucuan tersebut not really add anything to the story. Misalnya kayak candaan soal pikun di sepuluh menit pertama film. Candaan yang sangat elaborate. Perlu diingat, sepuluh menit pertama krusial bagi film karena di periode itu film bakal mati-matian ngeset tone, stake, motivasi protagonis, serta tentang apa sih cerita mereka. Sehingga ketika ada candaan panjang yang membahas soal pikun, seolah film sedang mengeset permasalahan pikun sebagai yang bakal dihadapi oleh karakter. Tapi ternyata tidak. Pikun itu ternyata hanya sebatas candaan selewat, seperti banyak lagi nantinya candaan selewat yang menambah-nambah durasi. I mean, sungguh waktu yang aneh untuk memasukkan candaan, sementara sepuluh menit pertama mestinya digunakan untuk ngeset yang lebih penting. So yea, agak disayangkan penulisan film ini agak menurun dibanding yang pertama. Padahal secara penceritaannya sendiri, Ernest banyak menggunakan teknik-teknik baru. Seperti main di editing seperti jump cut, juga main di kontras warna seperti memberikan warna yang lebih kinclong saat di adegan-adegan orang kaya dan lebih oren saat di adegan lebih sederhana.

 




Setelah Teka-Teki Tika (2021) yang kayak api kebakaran hutan alias naskahnya merambat ke mana-mana, jadi besar secara liar, Ernest Prakasa slowly bangkit dan kembali ke yang bikin dia bercokol di perpetaan film tanah air pada awalnya. Yaitu cerita keluarga yang grounded. Dengan warna yang memberikan identitas kepada karakter dan dunia ceritanya. Sekuel ini berhasil menyambungkan cerita, mengekspansi karakter-karakter yang sudah dikenal lewat permasalahan baru. Multi-storinya membuat dunia cerita menjadi lebih kaya, memuat karakter lebih banyak dan lebih kuat personality. It has moments, hanya saja struktur berceritanya sedikit penurunan dibandingkan film pertama yang lebih ngalir. Film kedua ini dibentuk dengan lebih episodik, dan dibagi-bagi. Karakter antagonisnya dituliskan kuat, tapi protagonisnya tidak diberikan hal yang sama. Yaah, mungkin itu ‘sebelah’ yang dimaksud film ini. Pembangunannya sebelah-sebelah hihi
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for CEK TOKO SEBELAH 2

 

 




That’s all we have for now.

Bagaimana menurut kalian soal cowok yang actually punya penghasilan di bawah ceweknya, kayak Erwin dan Natalie?

Share pendapat kalian di comments yaa

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



AVATAR: THE WAY OF WATER Review

 

“Anywhere you go the problems will go with you”

 

 

Karanglah cerita setinggi langit, lalu daratkan ia dengan permasalahan realita. Itu memang bukan peribahasa, melainkan karanganku saja. Kenapa aku tega niru-niruin pepatah? Karena aku masih dalam pengaruh semangat James Cameron yang bikin film luar biasa mentereng dan jauhnya, tapi dengan permasalahan yang merakyat. Yang kita semua bisa mengerti bisa terjadi kepada kita. Semua film memang harusnya begini. Permasalahan yang kita bisa relate, tapi diceritakan dalam panggung yang seliar-liarnya.  Dua film Avatar adalah bukti James Cameron paham soal ini.  Dia telah menciptakan dunia nun jauh di sana, dengan makhluk-makhluk, ekosistem, aturan-aturan, hingga mumbo jumbo fiksi ilmiah dan spiritual lainnya tanpa menjadikan semua itu ribet. Inti ceritanya tetap membumi. Di  sisi lain, ceritanya boleh saja mirip dengan film lain yang kita ingat, namun karena pembangunan dunianya luar biasa, film tersebut lantas jadi beda. Pada Avatar pertama (aku actually nonton untuk pertama kali pada malam sebelum ke bioskop nonton sekuel ini) Cameron bicara urusan sesimpel menjaga hutan di balik perkara penjajahan dan tembak-menembak. Film kedua kali ini, cerita bahkan lebih dekat lagi. Kali ini urusannya adalah urusan keluarga. Bagaimana menjadi orangtua yang baik terhadap anak-anak.

Dulunya manusia, kini Jake Sully sudah tenteram hidup bersama bangsanya baru. Bangsa Na’vi bertubuh biru yang menghuni pedalaman hutan bulan Pandora. Anak Jake ada tiga, plus satu anak angkat, dan satu lagi anak manusia yang selalu bermain bersama. Keluarga yang besar berarti tanggungjawab yang juga besar. Ini membuat Jake jadi kepala keluarga yang sedikit kaku. Ketika Sky People (alias militer dari Bumi) kembali ke Pandora, kali ini dengan tujuan utama membalas dendam kepada dirinya, Setelah reunian berbahaya dengan former enemy, Jake langsung tahu ia tidak bisa membiarkan keluarga tetap dalam bahaya. Tak ingin melukai siapapun, mantan tentara ini memaksa istri dan anak-anaknya untuk pindah. Kabur sebelum Kolonel Quaritch yang dihidupkan kembali dari klone memory – dan kini juga bertubuh Na’vi – menyerang rumah mereka. Jake mengira dengan pindah, berbaur tinggal dengan klan air di Selatan, keluarganya bisa aman. Tapi tentu saja, kepindahan itu tidak mudah bagi anak-anak dan istri Jake. And also, tindakan Jake bisa berarti sama dengan ia menggiring musuh untuk membahayakan Na’vi-Na’vi air dan makhluk sekitarnya yang tak berdosa.

Jagalah laut dan jangan lupa hormat sama makhluk hidup di sekitarnya

 

Durasi yang sampai tiga jam lebih berusaha dimanfaatkan film ini untuk menggali banyak perspektif. Oh man, film ini punya banyak sekali perspektif. Kita gak hanya ngikutin Jake seorang. Kita juga diperlihatkan mulai dari masalah beberapa anak Jake, hingga ke persoalan personal klone kolonel Quaritch dan anaknya. Perspektif-perspektif tentu saja menambah layer dan bikin kita makin termasuk ke dalam dunia cerita. Karena dengan begini, film semakin nunjukin betapa hidupnya dunia mereka. Karakter-karakter di sana beneran punya sesuatu. Tidak sekadar ‘serang dan bertahan’. Dari putra tengah Jake, si Lo’ak kita melihat cerita anak yang berusaha memenuhi ekspektasi ayah untuk menjadi pejuang yang sama dengan abangnya. Cerita si Tengah yang selalu dibandingkan, padahal dia punya kelebihan lain dan so desperate untuk memperlihatkan siapa dirinya itu kepada orangtua. Lo’ak akan sering memisahkan diri, dia nanti akan punya sahabat-hewan tersendiri – yang sama-sama terkucil dari kelompok. Persahabatan Lo’ak dengan hewan kayak paus berbaju zirah itu actually jadi salah satu relasi yang heartwarming yang dipunya oleh film ini. Sehubungan soal misahin diri, kita juga diperlihatkan cerita Kiri, anak angkat keluarga Jake, yang merasa berbeda dari yang lain. Kiri punya origin dan kekuatan yang sama-sama misterius.

Dan satu lagi yang menarik adalah tentang Spider. Bocah manusia di antara keluarga mereka. Yang actually dipanggil monkey boy, karena dia memang kayak tarzan di sana. Spider sebenarnya adalah anak dari Kolonel – antagonis film pertama yang telah tewas, dan di film ini klonenya hidup kembali dan jadi musuh utama juga. Sehingga si Spider sebagian besar waktu akan berada di state yang bimbang dia sebenarnya harus apa, harus ada di pihak siapa. Koneksi antara Spider yang di lubuk hati pengen punya seorang bapak tapi bapaknya dia tahu adalah orang jahat, ketemu dengan si jahat yang punya reputasi to uphold (juga dendam yang harus dibayar tuntas kepada Jake dan keluarga birunya) sementara di lubuk hati dia pengen nunjukin sayang sama anaknya, sesungguhnya betul-betul menarik. Film ini sebetulnya kayak berada di dalam sebuah tambang emas emosional. Mestinya bisa kaya sekali oleh perasaan, Spider dengan ayahnya ini toh juga paralel dengan Jake dengan anak-anaknya. Bagi para orangtua itu, ini adalah soal “melihat” anak mereka. Ini adalah persoalan yang sama dengan yang dibicarakan oleh Pinokio versi Guillermo del Toro (2022), dan lihat gimana film tersebut mencapai ketinggian emosional  dengan benar-benar menggali relasi emosional tersebut. Level ketinggian emosional yang sayangnya tidak bisa dicapai oleh Avatar 2. Karena Cameron hanya membuka perspektif tapi tidak sedemikian dalam membahas masing-masingnya. Avatar 2 tetap dibiarkan simpel, dan sebagian besar hook emosional berusaha dihadirkan lewat cara lain. Yaitu lewat pengalaman visual.

Memang, kalo bicara soal visualnya, Cameron benar-benar menyuguhkan penampakan yang bikin kita berlinang air mata saking bagusnya. Atau kayak temenku, yang katanya matanya berair karena keberatan makek 3D dan kacamata beneran hahaha.. Intinya, semua dikerahkan Cameron supaya visual film ini maksimal. Shot-shot di bawah air semuanya tampak genuine. Cakep banget. Makhluk-makhluk fantastis itu juga kayak beneran hidup. Ini punya kepentingan khusus pada narasi, karena makhluk-makhluk itu diceritakan bakal berkomunikasi dengan karakter kita. Bahwa mereka adalah bagian dari planet dan masalah yang menimpa (thanks for the human) dalam cara yang lebih grande, lebih spiritualis ketimbang gimana kita melestarikan alam di dunia nyata kita. Makanya bagi film ini adegan-adegan seperti Lo’ak berenang bareng Tulkun (udah kayak menari!), Tuk dan Kiri eksplorasi laut, lebih penting untuk difungsikan sebagai penghantar emosi. Film ini lebih jor-joran menggali Tulkun melawan manusia, lebih menggali arc si manusia yang menganggap remeh mereka, ketimbang karakter lain, misalnya Spider yang malah tampak sengaja gak beneran dibahas dulu untuk hook ke film ketiga. Aku ngakak dan ngecheer melihat si paus armor ngadalin si manusia. Aku juga terhanyut sama pemandangan dan pembangunan dunianya. Tapi gimana pun juga, prioritas utama kita nonton kan cerita. Journey karakter. Ketika film berdurasi panjang, bioskop ber-AC dingin, sehingga bikin kebelet dan harus ngatur strategi kapan ke WC, aku tentu saja memilih untuk ‘break’ saat showcase visual ketimbang harus melewatkan adegan-adegan ngobrol. What I’m trying to say is, kemegahan visual enggak akan berarti banyak kalo ujung-ujungnya cuma jadi bathroom break lantaran adegan itunyalah yang terlalu extend dilakukan oleh film. Jadi, ya, menurutku film ini harusnya bisa mengatur waktu lebih erat lagi, karena ada begitu banyak spot indah dibanding adegan yang actually membahas konflik personal karakter. Like, berenang ama Tulkun aja muncul beberapa kali. Mestinya bisa bercerita dengan memanfaatkan waktu dengan lebih efektif lagi.

Pendapatku masih sama dengan pas nonton film pertama; Nih film kalo dijadiin game SNES pasti seru deh!

 

Film yang pertama, dengan bahasan yang lebih sempit, terasa lebih terarah. Pemanfaatan waktunya terasa pas. Babak set upnya saja sudah bikin aku kagum karena betapa efektifnya film tersebut menyampaikan eksposisi dan informasi. Tidak pernah terasa sumpek dan lambat, melainkan dilakukan dengan cepat dan tepat guna. Kita langsung mengerti rules dan konflik karakter dan segala macamnya. Sehingga ketika film itu masuk ke bagian yang total action, emosi itu semuanya tinggal mengalir dari bendungan build up yang telah tersusun rapi. Film kedua ini, tidak terasa begitu. Babak set upnya boring sekali (dan perlu diingat ini film tiga-jam, sehingga set up di sini berarti sekitar satu jam-an). Avatar 2 praktisnya persis dengan yang dikatakan Kolonel saat pep talk; using the same song. Lagu lama, digunakan untuk membangun masalah. Manusia yang datang untuk menjajah. Kolonel yang mau ngasih hukuman ke Jake, si manusia yang membelot ke pribumi. Cuma masalah lama (aku juga gak bilang aku suka sama pengulangan villain, dengan alasan teknologi klon memori blablabla) dengan cara yang sedikit dibedain. Penjelasannya, ditambah dengan pengenalan singkat keluarga Jake, terasa tumpang tindih. Film ini baru benar-benar menarik dan terasa beda saat Jake sudah pindah ke klan atau suku air. Ketika environment jadi baru. I wish film menemukan cara yang lebih baik lagi untuk menceritakan Jake harus pindah dan sebagainya, karena alasan Jake di sini pun sebenarnya sudah ada pada film pertama. Dia nyuruh pindah dan nyelametin diri, tapi istri dan na’vi hutan lain gak ada yang mau. Jadi basically, arc si Jake gak banyak beda ama film pertama.

Enggak ada orang yang jadi damai dengan kabur dari masalah. Tenangnya cuma sebentar, masalah itu pasti akhirnya akan menyusul. Masalah tidak akan hilang sebelum dihadapi, dan justru akan bisa semakin bertambah besar jika diabaikan. Karena problem sesungguhnya berasal juga dari dalam. Jake yang memutuskan membawa keluarganya lari supaya selamat, pada akhirnya membawa masalahnya itu kepada orang lain. Keselamatan keluarga semakin nyata terancam. 

 

Dan kalo dipikir-pikir lagi, bahkan konflik karakter lain tadi juga mirip kayak yang pernah dialami Jake di film pertama. Spider yang seperti berpindah-pindah, kadang dia mihak ke ayahnya, lalu next time dia ikut sepupu-sepupu angkatnya lagi; ini kayak Jake di film pertama berada pada titik dia bimbang mau menyelesaikan misi militer atau berpihak kepada bangsa Na’vi. Lo’ak yang menyendiri sama kayak Jake yang akhirnya jadi tidak diakui oleh dua pihak, dikucilkan oleh manusia dan juga Na’vi yang merasa dikhianati. Memang, sebenarnya film kedua ini punya beat-beat yang sama dengan film pertama. Hanya pelakunya saja yang dibikin beda-beda. Hanya tempat dan lingkungan saja yang bikin terasa fresh. Kali ini di air, dengan makhluk-makhluk air. Anak-anak Jake yang harus belajar berada di lingkungan itu sama saja kayak Jake di film pertama yang belajar bagaimana hidup bersama bangsa Na’vi di hutan. Di antara soal itu, dengan konflik karakter yang tidak dibahas mendalam either karena pengen tetap simpel ataupun karena disimpan untuk sekuel, film ini jadi kurang menggigit. Yang memuaskan di film ini jadinya cuma bagian aksi di akhir, yang sukurnya memang dibuat jor-joran dan epik.

 




Sebagai hiburan tentu saja film kedua ini punya nilai lebih. Dengan banyak karakter dan personality, cerita jadi lebih hidup. Lebih enak juga untuk ditonton bersama seluruh keluarga (meskipun ada beberapa adegan aksi yang terlalu intens untuk anak kecil). Dari segi cerita film ini ringan, dan sedikit terlalu simpel. Sampai ke titik film ini terasa kayak hanya punya visual sebagai senjata utama. Galian konfliknya kurang, padahal ada banyak perspektif. Cerita juga tidak banyak bergerak, sampai saat karakter sudah pindah ke dunia baru. Lalu baru di satu jam terakhir, di porsi aksilah, film jadi benar-benar hiburan untuk ditonton, karena sudah tidak ada lagi waktu untuk mereka berusaha memasukkan narasi-narasi simpel mengisi durasi. Dibandingkan dengan film pertama, menurutku film ini tidak lebih baik. Waktunya tidak termanfaatkan efektif. Bukannya terasa lama, tapi tidak efekti dari segi muatan cerita. Lebih fun, sih iya, tapi fun yang lebih kurang mengalir.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for AVATAR: THE WAY OF WATER

 




That’s all we have for now.

Apakah menurut kalian tiga jam adalah waktu yang lama untuk sebuah film yang sesimpel ini? Atau justru sebaliknya?

Share pendapat kalian di comments yaa

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



LIKE & SHARE Review

 

“To look beyond your own pain, to see the pain of others.”

 

 

Anak-anak cowok sih, sudah lama punya film ‘kebangsaan’ yang mewakili rasa penasaran ingin eksplorasi tubuh dan gejolak jiwa. Yang mengangkat pertemanan mereka bersama-sama mengarungi masa muda. Judul film ‘kebangsaan’ para anak cowok itu adalah American Pie (1999). Seru, ketawa-ketawa, filmnya komedi banget. It’s all fun and games ketika anak-anak cowok nonton bokep, pengen punya pacar dan bersaing gaet cewek. Film itu bahkan tetap kocak ketika ada yang kepepet pengen mencari penyaluran lewat makanan. Sebagai yang juga ikut keseruan yang ditampilkan film itu, aku selama ini memang tidak kepikiran di luar yang dialami cowok saat puber dan mulai naksir cewek. Sama sekali tidak terpikirkan olehku sebelumnya bahwa cewek-cewek, mau itu modelan cewek biasa kayak si cewek band-geek, atau model beneran, atau bahkan Stifler’s Mom, pasti juga mengalami gejolak eksplorasi yang sama. Saat nonton Like & Share, film panjang ketiga Gina S. Noer sebagai sutradara sekaligus penulis, inilah baru aku melihatnya. Melihat cewek juga ngalamin rasa penasaran yang sama dengan cowok-cowok. Cewek juga nonton bokep. Tapi berkebalikan dengan film-film remaja cowok kayak American Pie, saat nonton Like & Share aku baru sadar, eksplorasi gejolak muda pada anak cewek ternyata bisa sangat disturbing.

“Gue dan Lisa masih eksplorasi, Bang” kata Sarah, sahabat Lisa, ketika ditanya oleh abangnya perihal kegiatan mereka.  Dua sahabat ini memang sering ditanyain keluarga masing-masing. Lisa sendiri, sering ditegur oleh ibunya. Dilarang bikin video ASMR lagi. Disuruh nyari teman yang lebih baik daripada Sarah yang dianggap bawa pengaruh buruk. Lisa kegep nonton video bokep. Tapi itu memang bukan salah siapa-siapa. Namanya juga dalam fase eksplorasi diri. Lisa penasaran. Akhirnya dia jadi kecanduan. Film Like & Share berangkat dari sini. Dari persahabatan dua remaja yang terancam bubar. Film ini juga membuatku teringat sama satu lagi film anak cowok, Superbad (2007), yang juga tentang dua sahabat yang mau menempuh next step di kehidupan sehingga ada potensi mereka bakal berpisah. Bedanya, ya itu, Lisa dan Sarah terancam pisah oleh kejadian yang berat dan tragis. Ketika yang satu harus dealing with problem kecanduan video bokep, yang satu lagi harus berurusan dengan kekerasan seksual. Ketika Lisa belajar bikin ragi roti yang udah kayak makhluk hidup, Sarah dipaksa ngelakuin kegiatan yang bisa membuatnya bikin makhluk hidup beneran.

Penasaran, cewek kalo nonton bokep, yang ditonton apanya sih?

 

Menyaksikan Lisa (terbaik dari Aurora Ribero sejauh ini!) nonton video bokep diam-diam dari balik selimut, memang membuat pertanyaan itu terbesit di pikiranku. Apa yang ditonton oleh cewek kalo lagi nonton bokep, Toh kita kan sama-sama tau yang begituan, baik itu secara industri ataupun yang homemade (istilah jelatanya, video 3gp), dibuat oleh laki-laki. Dengan gaze laki-laki. Video yang ditonton Lisa juga digambarkan film dalam gaze yang sama. Then it strikes me. Yang bikin Lisa kecanduan ternyata bukan sekadar adegan yang ia tonton. Tapi di situ, film ingin memperlihatkan efek dari sudut pandang. Ketika pandangan perempuan Lisa bertemu video untuk kesenangan cowok, Ya, penasaran terhadap seksualitas itu ada (pikiran Lisa kemana-mana melihat mulut ikan di pasar), tapi kita juga bisa melihat bahwa Lisa tidak menonton video seperti kita yang cowok menontonnya. Lisa tidak melihatnya untuk kesenangan ataupun olok-olok, seperti yang dilakukan oleh Sarah. Lisa looks beyond , dan dia menemukan simpati. Lebih dari itu, Lisa merasakan empati kepada perempuan yang ada di dalam video yang ia saksikan diam-diam tersebut. Lisa menjadi ‘tertarik’ dengan orang itu. Lalu apa yang kemudian dilakukan oleh film ini? Mempertemukan Lisa dengan sang ‘bintang’. Fita (Aulia Sarah gak mau kalah ngasih penampilan terbaik), seorang wanita yang kayak kita temui di tempat perbelanjaan sehari-hari. Wanita yang nanti ngajarin Lisa bikin roti. Hubungan yang tercipta antara Lisa dengan Fita, actually jadi elemen terbaik yang dipunya oleh film ini. Apalagi karena Lisa digambarkan tidak akur dengan ibu kandungnya. Jadi hubungan mereka semacam jadi ibu-anak kedua, tempat curhat yang ultimately jadi saling menguatkan keduanya.

Lewat Lisa dan apa yang terjadi kepada Sarah, film mengajak kita untuk menumbuhkan rasa simpati lalu kemudian berempati.  Supaya kita tidak gampang ngejudge. Bukan sekadar kita merasa kasihan sama korban, it is easy to feel sorry lalu gak ngapa-ngapain. Film ingin lebih dari itu, Ingin supaya kita ikut merasakan apa yang dialami oleh korban. Untuk mengerti situasi mereka. Orang yang kecanduan bokep bukan lantas berarti otaknya cabul. Orang yang jadi korban kekerasan seksual jangan buru-buru dikasih nasihat ini itu, yang seolah menyalahkan. At least, film ingin kita yang berada dalam ruang aman menonton atau mendengar berita atau kasus semacam Lisa dan Sarah, untuk bisa mengambil langkah yang tepat dalam mendampingi mereka.

 

Dari situlah aku jadi tau bahwa film ini benar-benar mengembangkan ceritanya lewat desain dan konteks yang detil. Serta juga penuh rasa respek terhadap karakter dan permasalahan mereka. Ceritanya kaya oleh perspektif perempuan, di dunia yang sepertinya gampang menyalahkan perempuan. Sudut pandang yang kemudian diperimbang dengan sudut dari keluarga, dari laki-laki sebagai kepala keluarga, dan juga dari sudut agama.  Like & Share diframe dengan ratio yang lebih sempit ketimbang film-film pop bioskop lainnya. Demi menguatkan kesan remaja perempuan seperti Lisa dan Sarah memang dipepet oleh frame di sana-sini. Di lingkungan sekolah, di rumah, di tempat publik – Lisa diceritakan ikut bantu-bantu kerja di usaha seafood ayah tirinya – mereka ini punya aturan yang harus dijunjung. Punya ekspektasi yang harus dituruti. Film lantas mengontraskan itu dengan visual. Lisa dan Sarah enjoy membuat video ASMR. Mereka mendirect sendiri yang mereka lakukan. Mereka membuat video dengan makanan dan warna-warna cerah, Shot-shot yang indah dan estetik yang banyak dilakukan film ini pada akhirnya memang membuat film jadi lebih kerasa disturbing. Ceritanya gradually gets darker. Pada babak kedua, kita akan berpindah melihat cerita Sarah (penampilan akting Arawinda Kirana buktiin bahwa award yang diterimanya tahun lalu bukanlah beginner’s luck) yang terlibat relationship dengan pemuda yang sepuluh tahun lebih tua. Di sinilah ketika film mulai membahas soal kekerasan seksual, grooming, tipu-daya laki-laki. Film jadi nyelekit banget untuk ditonton. Dua adegan perkosaan yang ditampilkan oleh film ini dengan begitu intens, hanya akan lebih sakit lagi berkat kehadiran dialog antara Lisa dan Sarah, saat Sarah menolak mengakui dirinya diperkosa. Excruciating banget adegannya, apalagi karena direkam dengan long-take. Soal itu, ya film ini banyak memakai long take, yang bukan saja menantang para aktor untuk ngasih penampilan terbaik, tapi juga semuanya efektif menyampaikan emosi.

Saking intensnya, ku jadi canggung pas wawancara karena serasa nanya ke filmmaker di industry porn beneran

 

Terakhir kali film ini mengingatkanku pada sesuatu, yaitu adalah mengingatkan kepada serial 13 Reasons Why (2017) yang nunjukin adegan bunuh diri dan perkosaan yang problematik. Depictions, penggambaran, kekerasan seksual yang dilakukan Like & Share buatku jadi seproblematik serial tersebut karena sebenarnya tidak harus dilakukan dengan seperti itu. Aku ngerti, lewat adegan itu sebenarnya film ingin memperlihatkan gimana cewek udah nolak tetep dipaksa, gimana cewek bisa termanipulasi dalam sebuah hubungan yang dinamika powernya amat tak seimbang (dalam hal ini cowoknya lebih tua dan selalu pakai kata “kamu kayak anak kecil” buat balik-nyalahin). Film memperlihatkan itu supaya kita benar-benar melihat posisi korban. Namun ini membuat film tampak jadi punya cara penceritaan yang lemah. Orang-orang mungkin ada yang menyebutnya terlalu frontal (bukan saja adegan seksual, tapi juga dialog-dialog lainnya). Tidak lagi estetik. Tapi concernku sebenarnya adalah pada soal kita tidak lagi inline dengan karakter utamanya, yaitu si Lisa. Film berpindah antara Lisa ke Sarah membuat jadi tidak ada pembelajaran kepada Lisa, film jadi hanya ngajarin kita saja. Dan ngajarinnya itu ya agak ‘aneh’. Like, apakah kita memang harus melihat dulu supaya bisa simpati dan empati? Padahal di dunia nyata, kita yang membaca berita di zona aman, dari balik layar komputer masing-masing, tidak akan bisa melihat kejadian yang sebenarnya dari suatu kasus kekerasan seksual yang korbannya butuh pendampingan.

Bukankah justru sebaiknya; Yang harusnya film ini perlihatkan adalah gimana caranya kita bisa seperti Lisa. Gimana supaya bisa demikian percaya, peduli dan memihak kepada Sarah, tanpa harus melihat bagaimana kejadian Sarah diperkosa. Seperti ASMR yang mereka bikin, bukankah seharusnya cukup dengan ‘dengar dan rasakan’. Tidak perlu melihat mereka mengunyah mie, relaksasi bukankah datangnya dari mendengar suaranya? Apalagi untuk kasus kekerasan seksual. Kenapa kita harus melihat dulu baru bisa percaya dan peduli dengan korban. Seharusnya kita tetap dibikin stay dengan Lisa dan disejajarkan dengan posisi Lisa yang berusaha mengerti masalah sahabatnya tersebut.

Tapi film ini membagi dua. Yang membuatnya malah seperti permasalahan Lisa dipinggirkan untuk masalah Sarah. Membuat stake Lisa jadi kalah urgen ketimbang Sarah yang actually jadi korban. Di sini aku merasanya film seperti kebingungan menghimpun pokok-pokok konflik yang dimuat oleh naskah, Babak penyelesaian film ini jadinya terasa sangat keteteran, baik itu dalam tempo dan penceritaan. Banyak yang diburu-burukan. Permasalahan keluarga Lisa jadi tidak maksimal, padahal di awal-awal seperti disiratkan keadaan keluarga Lisa – bagaimana dia ditinggal ayah kandungnya yang “bule tapi kere”, gimana keluarganya seperti ‘diselamatkan’ oleh seorang bapak-bapak muslim. Akar dari karakter-karakter ini, yang di awal seperti ditanam untuk jadi penting di akhir jadi hilang tak terbahas karena film malah jadi sibuk mencari keadilan dan penyelesaian yang dramatik. Tidak terasa lagi sebagai story, bagian terakhir itu. Development Lisa pun jadi hambar karena dengan membuat kita tidak lagi inline dengannya (film membuatnya jadi dramatic irony saat kita melihat yang tidak Lisa lihat, tapi dia tetap peduli kepada Sarah tanpa ada kebimbangan), Lisa yang tadinya anak bermasalah kecanduan bokep, yang pengen ngaji tapi enggak bisa, jadi pihak yang paling baik tapi yang paling sedikit menempuh perubahan ataupun paling sedikit dikenai permasalahan. Soal mereka tak-terpisahkan pun juga kurang terasa, Tidak seperti Superbad yang karakternya akhirnya belajar untuk hidup masing-masing tapi tetap sebagai sahabat, film Like & Share yang ingin nunjukin perempuan saling support, ya akhirnya membuat mereka tetap bersama, dan Lisa terus percaya akan itu sepanjang durasi.

 

 




Eksplorasi diri pada remaja perempuan ternyata bisa jadi sedisturbing ini. Berbeda sekali penggambarannya dengan yang selama ini kita lihat dalam film yang dibuat oleh laki-laki, untuk laki-laki. Film ini punya maksud yang sangat mulia di balik cerita dua sahabat perempuan remajanya. Ingin meningkatkan awareness, ingin menumbuhkan rasa peduli kita. Supaya kita mendengar dan memihak korban, first. Hadir dengan sangat terencana dan hormat kepada karakter-karakternya. Dimainkan dengan usaha maksimal ngasih penampilan terbaik. Penggambarannya yang sangat intens, mungkin bakal membuat film ini susah untuk ditonton oleh sebagian orang. Dan menurutku sebenarnya tidak perlu sampai sedemikian intens. Film terlalu fokus ke sini, dan malah tampak agak sedikit keteteran membungkus semua yang diangkat. Film sepenting ini, menurutku, masih bisa dirapikan, dipercantik sedikit lagi, karena bagaimanapun juga yang diangkatnya adalah masalah yang benar-benar harus mendapat perhatian lebih. Apalagi di masa-masa sekarang ini. Semoga film ini tidak malah jadi di-guilt & shame.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for LIKE & SHARE

 

 




That’s all we have for now.

Apakah menurut kalian, kita memang harus melihat dan mendengar dahulu baru bisa merasakan? Kenapa harus?

Share pendapat kalian di comments yaa

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 



THE MENU Review

 

“…the only thing more pretentious than pretentious art is the people who love it”

 

 

Sebagai jemaat warteg, aku ternyata lupa kalo kuliner alias makanan bisa begitu.. fancy. Mewah. Dalam lingkup yang bukan sekadar estetik untuk dipajang di Instagram, melainkan mewah sedari konsep penyajian, pembuatan, dan cara menikmatinya. Kalo diliat-liat, seperti film ya, ada yang artsy-nya. Malahan saat nonton The Menu karya Mark Mylod, aku sempat kepikiran bahwa mestinya seorang sutradara film haruslah seperti si Chef di film ini. Apapun yang mereka sajikan haruslah punya konsep dan makna yang jelas dan terarah. Jika menu-menu masakan bisa dirangkai menjadi satu pesan storytelling, tentunya film juga bisa – dan harus – dibegitukan. Tapi ternyata bukan soal harus fancy begitu saja yang diingetin oleh film The Menu. Film ini mengulik dengan lebih dalam sehingga pada akhirnya memunculkan pertanyaan ultimate: apakah menjaga kemurnian kultur kuliner (dan mungkin, sinema) memang harus lewat seni yang fancy seperti itu? Tidakkah itu membuatnya pretentious? Apakah tidak cukup dengan sekadar menikmatinya saja? Bagaimana dengan kita, apakah kita benar-benar seorang penikmat seni, atau hanya menikmati ide bahwa ia harus mewah dan ide bagaimana kita adalah termasuk dalam kelompok elit yang mengerti kemewahannya?

Makanan dalam medium film sering dijadikan simbol, kadang dikaitkan sebagai imaji seksual, dan sering juga dimunculkan sebagai ungkapan-visual dalam cerita-cerita horor. Sepertinya itu karena makanan memang yang paling dekat dengan kebutuhan-kebutuhan mendasar manusia. Sesuatu yang kita butuhkan untuk survive, sesuatu yang mengingatkan bahwa manusia punya urge. Dalam The Menu yang dikemas dalam horor bernada dark-comedy, makanan yang ditampilkan adalah suatu kemewahan. Karakter-karakternya adalah orang-orang kelas atas yang klaim mengerti dan merasa berhak mendapatkan kemewahan dalam makanan tersebut. Kritikus makanan, seorang foodie, bintang film, karyawan perusahaan besar, konglomerat: duabelas orang diundang untuk jamuan makan malam oleh resto resort Hawthorne di sebuah pulau. Chef Slowik (Ralph Fiennes dapet banget mainin juru masak yang tampak kaku tapi brilian dan benar-benar perhatian terhadap yang ia lakukan) bukan saja telah mempersiapkan berbagai course menu sebagai sajian untuk malam itu, melainkan juga disertai oleh konsep storytelling mengerikan yang terselubung.  Sajian demi sajian sebenarnya didesain untuk ‘menghukum’ para tamu. Namun kesempurnaan rencana yang dimasak olehnya terancam cacat. Karena di sana duduk Margot (Anya Taylor-Joy dengan mata bulat besarnya seolah menantang masakan dan maksud sang Chef), perempuan yang sebenarnya tak masuk ke dalam daftar undangan. Margot hadir karena menggantikan pacar dari teman yang mengajaknya. The show must go on, Margot dituntut harus menentukan sikap dan pilihan, yang tentu saja baginya berarti hidup atau ikut mati.

Enggak lagi-lagi deh nyuruh Voldemort ngurusin konsumsi

 

Horor ruang sempit The Menu bukan datang dari siapa pelaku sebenarnya. Cerita dengan cepat mengestablish ‘penjahatnya’ dari sikap Chef yang udah kayak pemimpin cult itu.  Intensi dan maksud si Chef di balik makanan-makanan dan aksi teatrikal penyajiannyalah yang dijadikan sebagai umpan horor. Kalo course-nya dibahas satu persatu, makanannya apa, maksudnya apa, maknanya apa bagi karakter yang sedang ‘dihukum’ tentulah akan jadi sangat spoiler. I won’t do that karena bakal sama aja dengan membeberkan semua isi filmnya. The Menu memang ‘rapuh’ seperti demikian, namun kerapuhannya itu hanyalah remahan kecil dari kelemahannya sebagai film. Yang mau aku fokuskan di sini adalah, bahwa sebenarnya The Menu memang berpotensi menjadi film yang sendirinya pretentious, dengan naskah yang disokong oleh karakter utama yang lemah, jika diracik oleh tangan-tangan yang salah. Untungnya, sutradara Mark Mylod beserta dua penulis naskah Seth Reiss dan Will Tracy paham pada kelemahan yang cerita mereka punya. Sehingga mereka work around it. Dan kalo ada satu kata yang harus kugunakan untuk mendeskripsikan taste nonton ini, maka kata itu bukan “maknyoss”, tapi “lincah!”

Gimana tidak lincah. Begini, salah satu flaw dari desain cerita The Menu adalah protagonisnya. Si Margot, yang merupakan outsider. Literally orang luar. Dia tidak berkenaan dengan masalah di dalam cerita. Dia bukan penggemar makanan. Dia tidak diundang di sana. Dia tidak ada sangkut pautnya dengan konflik yang dijadikan motivasi oleh Chef Slowik. Gimana coba membuat seorang outsider ini menjadi tokoh utama yang akhirnya jadi penggerak alur cerita? See, di sinilah kecerdikan naskah. Kelincahan The Menu. Penulis yang cuek ama skenario dan cuma mau ngasih kejutan dan melempar pesan-pesan kemanusiaan gak akan peduli dan akan menghasilkan horor yang sama sekali kosong. Sebaliknya, penulis The Menu berjuang untuk mengukuhkan posisi Margot. Memberikannya alasan untuk ada di sana. Kayaknya aku belum pernah menyaksikan yang seperti ini. The way film menemukan cara supaya kejadian di pulau itu jadi personal bagi Margot. Cara film memberikan pilihan yang harus diputuskan oleh Margot, lewat Chef yang langsung ‘menunjuknya’ Misteri satu lagi yang dipunya film adalah siapa sebenarnya Margot, dan revealing yang dilakukan film terhadap karakter utamanya ini bukan membuat kita semakin jauh darinya, melainkan justru semakin dekat. Margot perlahan menjadi semakin grounded dan relatable. Penulisannya ini kalo mau pakek istilah makanan lagi; bener-bener *chef’s kiss!

Gagasan yang diusung cerita pun lantas masuk lewat sini. Lewat persamaan Margot dengan si Chef. Lewat perbedaan Margot dengan karakter-karakter lain, termasuk dengan Tyler – cowok yang actually mengundang dia ke sana in the first place. Untuk gampangnya, kita ibaratkan saja si Margot dan mereka semua sebagai penonton di sebuah pemutaran film. Namun Margot cuma penonton casual. Dia bukan sinefil, bukan kritikus, bukan seniman. Margot gak peduli sama color grading, ratio, sinematografi, bahkan tema filmnya. Sementara yang lain sok ‘mengerti’ film dengan ber-fafifuwasweswos akan segala hal kecuali cerita film itu sendiri, Margot merasa tidak dapat  menikmati film ini. Cuma Margot yang tidak menikmati hidangan yang disuguhkan Chef, karena ibarat kita yang ke bioskop untuk nonton film, Margot ada di sana untuk memenuhi ajakan temennya makan-makan. Sedangkan si Chef, menyuguhkan sesuatu yang lebih kompleks karena tuntutan kelas atas yang ingin menikmati – bukan actual masakannya, tetapi menikmati mereka ada di sana untuk sesuatu yang spesial. Menonton si kritikus makanan yang tampak lebih enjoy mengkritik dan mencari kata-kata untuk menulis ulasan alih-alih makanan itu sendiri, aku merasa tersentil juga. Apakah aku juga telah jadi seperti itu saat menonton film – asik berkutat nyari ide ulasan saja ketimbang menikmati si film di momen itu. Semoga tidak. Menyaksikan para konglomerat dan kelas jet set di film ini lebih peduli sama gambar yang menampilkan kelakukan mereka di atas roti ketimbang menikmati roti itu, membuatku teringat sama pejabat-pejabat di pemutaran atau festival film yang lebih heboh sama citra dan waktu mereka tampil di kata sambutan daripada peduli sama film yang diputar. Yang paling amit-amit ya jangan sampai kita jadi sinefil yang seperti foodie di film ini. Dalam salah satu course disajikan ke hadapan mereka roti, tapi tanpa roti (cuma piring kosong dan toping), dan si foodie dengan soknya mengatakan itu sajian paling lucu dan paling keren. Cuma Margot yang tampak tersinggung disajikan makanan yang gak ada makanannya.

Itulah, jangan sampai kita, atas nama menjaga kemurnian makanan, sinema, atau apapun, menjadi pretentious seperti karakter-karakter di film ini. Yang telah menodai bisnis kuliner dengan kepentingan untuk memuaskan ego, merasa paling elit, merasa paling jago, paling nyeni sehingga saat dikasih makanan padahal gak ada yang mau dimakan pun, kita senang-senang aja. Film ini menunjukkan bahwa seni ternyata bisa menjadi pretentious karena dinikmati oleh orang-orang yang pretentious.

 

Kalo suka bilang ke orang, kalo gak suka bilang ke saya

 

Jadi sebenarnya The Menu adalah cerita tentang Chef yang merasa mulai kehilangan passion. Dia memasak tapi bukan lagi supaya masakannya dinikmati orang, melainkan untuk mengenyangkan ego para elitis yang sebenarnya tidak cinta sama kuliner. Hal tersebut memakannya dari dalam, sehingga ia memilih untuk melakukan horor yang ia lakukan. Makanya juga, interaksi Chef dengan Margot berkembang menjadi dalam tingkatan sentimentil. Cara Margot keluar dari sana buatku sangat menyentuh. Karena ternyata begitu sederhana, simpel, semua orang bisa. Tapi gak semua orang mau melakukannya. Sebagai orang yang pernah bekerja di bidang melayani orang kayak mereka (aku pernah buka kafe dan served customers myself), aku jadi ngepick up sesuatu yang ekstra. Bahwa film juga bicara tentang gimana kita bisa kurang menghargai para pembuat atau penyedia jasa, seperti chef atau koki. Perkara sepele seperti tak ucapkan terima kasih, minta bumbu esktra, atau lupa nama makanan, ternyata dapat begitu menyinggung bagi pembuatnya. Dan di film ini aku juga baru tau kalo mau motoin makanan aja sebenarnya perlu ijin atau concent pembuat juga. Semuanya itu kembali ke soal respek terhadap sesama dan kepedulian atas orang lain di atas diri sendiri.

 




Dengan motivasi penggerak berasal dari ‘penjahat’, dengan kejadian dan karakter yang diset untuk memenuhi suatu gagasan – sehingga dark comedy digunakan untuk menutup tingkah gak make sense dari karakternya, seperti yang kubilang tadi, film ini berangkat dari resep yang kemungkinan gagalnya lebih gede. Tapi sebagaimana hasil dari sebuah resep tergantung dari tangan yang bikin, film ini ternyata jadinya bagus. Fresh dan ngasih sesuatu untuk dipikirkan tanpa ikutan menjadi pretentious.  Sepanjang durasi kita akan dibuat terus penasaran mengikuti apa yang sebenarnya terjadi, mengikuti course demi course yang janggal dari Chef. Permainan akting pemerannya pun pada takaran yang pas, sehingga karakter mereka yang gak relate-relate amat jadi tidak over annoying dan kita masih merasakan simpati meski borok dan angkuhnya mereka tercuat ke permukaan. Film ini memang seperti dibuat untuk dinikmati sambil tertawa-tawa renyah, tanpa mengurangi nilai estetik dan kandungan ‘gizi’ yang dimuat oleh ceritanya.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for THE MENU

 




That’s all we have for now.

Menurut kalian cara yang tepat untuk menikmati film itu seperti apa sih?

Share pendapat kalian di comments yaa

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



SRI ASIH Review

 

“The best fighter is never angry”

 

 

Waktu mewawancarai Sri Asih tempo hari (videonya bisa ditonton di sini), aku bertanya kenapa penting bagi film-film jaman sekarang untuk menampilkan karakter perempuan yang badass. Pevita Pearce dan Jefri Nichol kompak menjawab bahwa karena sudah bosan melihat pria-pria terus yang berantem dan jadi jagoan. Aku setuju dengan jawaban mereka. Perempuan bisa kok jadi jagoan. Setelah sekian lama selalu ditampilkan sebagai ‘dayang-dayang’ yang fungsinya untuk diselamatkan oleh pahlawan cowok, sekarang sudah waktunya untuk menampilkan keberdayaan perempuan. Film, khususnya genre superhero, harus aware karena inilah medium yang tepat untuk menyimbolkan hal tersebut. Like, tahun ini saja Marvel sudah membuat terobosan dengan mulai memperkenalkan ‘versi cewek’ dari  masing-masing karakter superhero laki-laki yang mereka punya. Perempuan mampu membela diri, menghajar orang jahat dan menyelamatkan dunia. Ini haruslah diperlihatkan dalam konten yang lebih daripada sekadar memperlihatkan perempuan bisa lebih jago daripada lelaki.

Dalam soal itulah aku agak kurang setuju dengan bagaimana Sri Asih garapan Upi menampilkan dan mengembangkan sosok karakter superhero perempuannya. Where do I start?

Alana punya origin story yang bisa dibilang paling aneh di antara superhero-superhero lain yang aku tahu, lokal maupun mancanegara. Alana tidak ditempa oleh tragedi. Dia seperti dilahirkan dengan kekuatan karena ibunya actually ngidam melihat gunungapi saat mengandung baby Alana. Seperti ada koneksi antara kekuatan api dengan dirinya semenjak masih bayi. Gunung Merapi seperti tahu kehadiran Alana yang keturunan Sri Asih, sehingga memuntahkan asap panas, Kedua orangtua Alana lantas meninggal dunia dalam peristiwa naas setelah mereka kabur dari letusan gunung. Alana jadi dibesarkan di panti asuhan, dan sejak kecil dia mimpi didatangi oleh Dian Sastro.. eh, Dewi Api! Mengenai kekuatannya, kita tidak diperlihatkan gimana Alana bisa mengendalikan atau dia sendiri tahu persisnya gimana. Karena sejak kecil dia sudah cakap berantem. Dia menghajar tukang bully di panti. Alana kecil lantas diadopsi oleh ibu-ibu yang ternyata adalah agen profesional underground fighter. Kali berikutnya kita melihat Alana, dia udah gede dan jadi fighter yang menghajar lawan-lawan cowok. See, jadi Alana ini adalah tipe karakter chosen one, tapi kita tidak pernah diperlihatkan dia belajar atau berjuang untuk menggunakan kekuatannya. Alana ini kayak Mulan yang versi live-action; yang sudah jago. Dan kesamaan itu otomatis jadi red flag.

Padahal Sri Asih mestinya bawa red selendang hihihi

 

Kenapa red flag, karena kalo sudah jago begitu, maka apa dong yang harus dipelajari oleh si protagonis? Journey apa yang harus ditempuh oleh karakter utama sebagai plot yang bisa kita simak. Mulan live-action adalah bukti kegagalan naskah mengeksplorasi cerita keberdayaan perempuan, dengan membuat karakternya sudah hebat dan gak punya pembelajaran. Beda dengan cerita film animasinya. film versi modern itu hanya seperti memperlihatkan si Mulan lebih jago dari siapapun, terutama laki-laki. Sri Asih sebenarnya masih punya ruang untuk menggali, film ini tidak sepenuhnya ngesok membuat Alana jagoan seperti yang dilakukan film Mulan kepada karakter pahlawan legendanya. Film Sri Asih sebenarnya masih membuka ruang untuk pengembangan dengan membuat Alana harus belajar mengendalikan amarahnya. Diceritakan meskipun Alana adalah keturunan Sri Asih, tapi jika dia membiarkan diri terbakar oleh rasa marah, maka kekuatan pengrusak dari Dewi Api – musuh dari Sri Asih – yang akan menguasainya. Jadi Alana, dengan bantuan teman-temannya, berusaha mengendalikan amarah.

Marah memang sebaiknya tidak ditahan-tahan. Marah jika disalurkan dengan baik, maka juga bisa jadi kekuatan – dan justru menyehatkan. Lihat saja Gohan di Dragon Ball. Kuncinya adalah di penyaluran. Alana harusnya membaca bukunya Lao Tzu. Karena founder Taoisme itu mengajarkan seorang pejuang haruslah tidak mempertontonkan amarah. Karena seorang pejuang bisa menang jika berpikir dengan tenang, membuat keputusan dengan melihat semua dengan jelas. Semua itu hanya bisa dilakukan ketika hati dan kepala tidak sedang terbakar oleh emosi.

 

Naskah harusnya berkutat di sini. Di pergulatan personal Alana dengan dirinya. Dengan amarahnya. Masalah pada naskah Sri Asih adalah it gets too ambitious. Durasi dua jam jika memang fokus kepada karakter Alana, luar – dalam, bukan soal dia mengalahkan lawan dalam caged fight saja, tentulah akan menghasilkan cerita yang lebih grounded. Cerita superhero yang lebih menginspirasi buat penonton, karena bagaimanapun juga manusia menonton film hakikatnya adalah untuk menyimak perjalanan seseorang dalam usaha menjadi orang yang lebih baik. Wonder Woman pertama (2017), misalnya. No wonder film itu jadi salah satu cerita superhero buku-komik terbaik – superhero wanita pula! sebab mengeksplorasi kenaifan Diana Prince yang menganggap manusia itu innocent. Film itu tahu sisi vulnerable Diana, dan sepanjang durasi dimanfaatkan untuk menggali hal tersebut. Diana ditempatkan di zona perang, dan sebagainya. Bagi Alana, sisi vulnerable itu adalah rage. Rasa marah. Formulanya sebenarnya bisa sama dengan Wonder Woman. Namun, naskah ambisius film ini membuat pembahasan soal itu melompat-lompat. Karena ada banyak lagi hal-hal di luar personal Alana yang hendak dibahas.

Kita bahkan gak pernah yakin si Alana ini jadi gampang marah karena apa. Masa iya karena sering mimpi api? Dari sebelumnya dia menang telak di dalam arena, kita lantas melihat Alana tanding gak stabil karena guncangan amarah. Tau-tau dia jadi disebut punya masalah kontrol emosi saja. Pengembangan soal Alana ini jadi semakin terasa choppy karena naskah tampak lebih tertarik nunjukin elemen cerita yang lebih berbau politik dengan segala kekelamannya. Orang kaya yang memandang rendah orang miskin. Polisi yang tidak memihak rakyat. Dan tentu mereka-mereka adalah cowok yang sebagian besar brengsek. Ada lebih banyak durasi yang digunakan untuk dengan gamblang menyebut cowok lawan cewek, ketimbang durasi yang disediakan untuk Alana confront emosinya. Like, kupikir dia bakal susah menjelma sebagai Sri Asih karena begitu banyak amarah. Tapi ternyata persoalan itu selesai dengan gampang. Alana tinggal menari tradisional dalam sebuah ritual untuk menerima/membangkitkan kekuatan Sri Asih. Enggak tau juga kapan dia belajar tariannya. Persoalan kostum juga sama sekelebatnya. Sudah tersediakan!

“Darimana mereka bisa tahu ukuran gue…?!” cue musik DHUAR DHUAR!!!

 

Sama halnya dengan Gundala (2019), film pertama dari Bumi Langit Universe, naskah Sri Asih dengan cepat membesar dari yang tadinya serius dalam ranah personal, menjadi seperti serius tapi semakin mendekati konyol. Serum amoral kini digantikan posisinya oleh tumbal mistis 1000 jiwa, dengan rakyat penghuni rusun miskin jadi calon korbannya. Buatku lucu sekali si tumbal mistis ini begitu spesifik sehingga kentara banget maksanya. Seribu jiwa harus dibunuh bersamaan. Like, emangnya siapa yang ngitung. Kalo kurang atau lebih satu, apakah si penjahat harus ngulang lagi ngumpulin seribu jiwa yang lain. Dan itu keadaannya jelas kurang satu, karena Tangguh – teman dari masa kecil Alana – sebagai salah satu penghuni rusun sudah tidak ikut terjebak karena ada di markas bareng Alana. Motif penjahat serta karakter jahatnya sendiri juga jadi tidak terestablish dengan baik, saking banyaknya yang mau diceritakan. Berpindah dari yang tadinya cowok kaya yang asshole abis ke sosok mistis dari mitologi ke seorang yang diniatkan sebagai revealing yang mengejutkan. Alias twist. Dan twist ini, sodara-sodara, justru bikin satu-satunya perspektif menarik yang digali oleh cerita, jadi kayak terbuang gitu aja. Karena tidak lagi berarti, toh ternyata si karakternya beneran jahat!

So yea, Sri Asih adalah tipikal film yang menganggap dirinya sangat serius sehingga semua dialognya jadi intense. Karakter yang ngucapinnya juga, kayak orang paling misterius dan serius-you-don’t-wanna-mess-with-me semua. Kalo butuh sedikit mencairkan suasana, film akan membuat Alana dan Tangguh ‘berubah’ jadi karakter dengan dialog ala Marvel sebentar. Tapi sebagian besar waktu, film ini punya dialog-dialog superintens, yang bahkan lebih intens daripada sekuen berantem superheronya.  Kalo mau diurutin bagian intensnya, nomor satu adalah dialog-dialog, kedua adalah berantem martial arts di arena fight, dan ketiga berantem superhero. Yang aku suka adalah berantem martial arts ala UFC yang grounded.  Tapi itu juga mungkin karena pengaruh Pevitanya, karena kita tahu dia menjalani ‘transformasi’ untuk peran ini – peran yang bisa dibilang di luar kebiasaannya, jadi kinda like melihat Pevita yang berantem. Kita jadi ada ketegangan ekstra, karena ada sedikit believe ni si Pevita yang jadi Alana bisa kalah. Camera worknya juga dibuat dramatis di adegan berantem yang ini. Beda dengan ketika sudah jadi full superhero. Karena sudah jagoan banget, kita udah ngerasa kayak mustahil Sri Asih kalah melawan gerombolan penjahat cecunguk yang senjatanya cuma pistol. Shot-shotnya pun sudah mulai pakai efek komputer kayak Sri Asih atau musuhnya beterbangan. Kesannya tidak sereal dan grounded lagi. Sehingga ya jadi kurang seru, gak peduli semirip apapun genjreng-genjreng musiknya dengan tema Wonder Woman.

 




Si Sri Asih memang ‘badass’. Aku setuju kita juga gak boleh ketinggalan menampilkan cerita dengan superhero perempuan, yang punya daya, bisa menyelamatkan dunia, dan bisa mengalahkan kelemahannya sendiri. Sosok Alana juga berhasil dihjdupkan dengan cukup ikonik oleh Pevita – yang aku yakin ke depan akan terus dipanggil orang sebagai Sri Asih berkat perannya di sini. Hanya saja, sebagai cerita, film ini sesuatu yang masih berantakan. Alurnya jadi lebih peduli sama hal yang lebih ambisius, alih-alih journey personal karakter perempuannya. Plot si protagonis jadi kayak lompat-lompat perkembangannya. It was just ‘bad’. Karakternya jadi kayak sudah jago aja. Dia kayak benar sedari awal. Makanya filmnya jadi kayak soal cewek bisa lebih jago daripada cowok saja.  Namun sukurnya, film ini masih menyisakan ruang untuk Alana sedikit belajar (meskipun tidak digarap maksimal oleh naskah) sehingga, yah lumayan lah,  tidak sampai segagal Mulan.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for SRI ASIH

 




That’s all we have for now.

Menurut kalian siapa yang menang duel antara Sri Asih lawan Wonder Woman?

Share pendapat kalian  di comments yaa

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



INANG Review

 

“A lot of times, we are trapped by our own false sense of security.”

 

 

Rilis di tanggal 13, angka dianggap banyak orang sebagai angka sial, Inang sendiri memang bicara seputar mitos malapetaka atau kesialan. Ada sebuah hari yang menurut penanggalan Jawa disebut sebagai Rebo Wekasan. Beberapa orang percaya di hari Rabu terakhir bulan Safar tersebut, diturunkan berbagai bala alias hal-hal negatif. Sampai-sampai, bayi yang terlahir pada hari atau tanggal tersebut harus diruwat, supaya terhindar dari nasib naas. Perihal anak yang lahir Rebo Wekasan tersebut dikemas oleh Fajar Nugros menjadi cerita pengalaman horor seorang perempuan yang hendak melahirkan. Sementara horor itu sendiri, bagaikan anak pertama bagi karir penyutradaraan Fajar Nugros, sehingga kita bisa merasakan sesuatu yang spesial coba untuk disajikan. Karena scare dalam Inang tidak sebatas hantu-hantuan, melainkan scare yang lumayan kaya. Kengerian Inang menguar dari gambar-gambar dan perasaan, yang seringkali mengontraskan antara kenyamanan dengan sesuatu yang lebih mengancam di baliknya.

Inang yang tayang perdana di Bucheon International Fantastic Film Festival, Juli lalu, memang bercerita terbaik saat membahas persoalan Wulan. Sang perempuan yang di ambang melahirkan bayi seorang diri (karena lakiknya ogah tanggungjawab). Masalahnya, Wulan bukan orang dengan ekonomi yang stabil. Dia cuma kasir supermarket. Jadi Wulan benar-benar mencemaskan nasib bayinya. Alih-alih aborsi, sebagai langkah terakhir, Wulan ikut program ibu asuh yang dia temukan di facebook. Di situlah Wulan dipertemukan dengan pasangan suami istri tua yang manis dan perhatian banget, yang bukan saja bersedia mengadopsi bayi tapi juga merawat dan membantu proses Wulan melahirkan di rumah mereka yang sangat berkecukupan. Wulan boleh saja merasa aman (dan sangat nyaman), tapi mendadak dia mulai dihantui mimpi buruk di rumah tersebut. Ada sesuatu yang aneh pada pasangan suami istri itu. Sesuatu di balik ritual-ritual yang harus ia jalani atas saran mereka, membuat Wulan tak lagi merasa bisa mempercayakan keselamatan dirinya dan anak yang dikandungnya kepada mereka.
Si Ladybug Bullet Train lahirnya di Rabu Wekasan juga deh pasti!

 

Meskipun gak spesifik menyebut diri sebagai sutradara komedi, toh Fajar Nugros memang punya kecenderungan mengolah drama berbau komedi. Dari Yowis Ben hingga Srimulat (2022) ia cukup piawai bermain di nada komedi. Dan di film Inang ini kita bisa merasakan insting komedi cukup berhasil juga menghantarkannya mengolah drama horor, hampir seperti keberhasilan horor filmmaker di luar yang berangkat dari komedi. Dalam Inang, Nugros keliatan punya ketajaman komentar sosial serupa yang dilakukan komedian Jordan Peele waktu bikin thriller horor Get Out (2017). Nugros juga mengisi layarnya dengan celetukan, gagasan, pandangan terhadap keadaan sosial. Terutama, soal perempuan kelas pekerja. Gimana perempuan-perempuan seperti Wulan harus melakukan sesuatu yang ‘ekstra’ untuk mencari nafkah. Memang komentar-komentar yang diselipkan tersebut lebih baik tidak banyak dibeberkan, lebih baik dibiarkan untuk penonton menemukan sendiri, tapi jelas, Nugros benar-benar bersenang-senang dengan gambar-gambar dan situasi yang ia masukkan. Image-image dalam film ini kayak punya sesuatu celetuk di baliknya. Cover buku yang menyebut ibu dan negara, misalnya. Atau bahkan ada selipan promo buat projek film Nugros berikutnya. Selain itu tentu saja film ini juga punya gambar-gambar horor, yang juga sama-sama ‘fun’. Nugros juga perlihatkan kedalamannya membuat adegan beratmosfer. Satu kali, dia menyelingi adegan Wulan masuk ke rumah ibu asuh dengan shot seekor tikus masuk ke perangkap. Memberikan kita perasaan tak-nyaman yang sedari awal langsung menghantui bahwa Wulan juga sama seperti si tikus. Sedang masuk dalam perangkap. Bagi film ini enggak masalah kalo kita tahu atau bisa nebak duluan bahwa suami istri itu gak bener, karena perasaan uneasy kita terhadap Wulan-lah yang diniatkan. Sehingga dramatic irony muncul, dan kita jadi semakin peduli kepada apa yang terjadi kepada si tokoh utama.

Perihal casting juga sama funnya. Kita telah melihat gimana Fajar Nugros menyusun personil Srimulat sehingga benar-benar terasa menyerupai ruh aslinya. Dalam Inang ini, well, Nugros tampak mengcast pemain dengan ‘kejutan-kejutan’ yang bermain dengan ekspektasi dan pengetahuan penonton akan si aktor itu sendiri. Naysila Mirdad, yang dikenal penonton sebagai salah satu spesialis pemeran perempuan lembut teraniaya, diberikan tweak pada karakter yang ia perankan di sini. Wulan yang ia perankan juga basically perempuan ‘teraniaya’; kekurangan duit, coba dimanfaatkan oleh lelaki, hingga dijebak ke situasi mengerikan oleh orang yang tampaknya baik. Belum lagi, nyaris seluruh durasi dihabiskannya dengan begitu vulnerable sebagai orang hamil. Tapi Wulan bukan karakter lembut. Foul mouth, malah. Ini, aku bisa lihat, jadi semacam kejutan kecil yang menyenangkan bagi penonton karena diperlihatkan sisi lain dari tipe karakter yang biasa. Naysila sendiri juga tampak have fun bermain sebagai Wulan ini. Dia menjaga aktingnya tetap natural, sehingga walaupun di luar kebiasaan, penonton tidak merasa aneh melihat ‘karakter barunya’. Also, Nugros mengcast ibu asli Naysila, Lidya Kandou sebagai ibu asuh yang tampak baik tapi punya maksud gelap terselubung. Yang juga memberikan lapisan ‘familiar’ tersendiri terhadap kesan kita saat menonton. Nah kesan itu paralel dengan tema di dalam cerita, bahwa film ini – seperti rumah asuh bagi Wulan – menyambut kita hangat. Meninabobokkan kita dalam sense of familiarity, seperti Wulan yang merasa nyaman terlena dalam sesuatu yang menurutnya aman, kemudian baru-lah horor dan kengerian yang perlahan tapi pasti menerjang.

Dunia yang kita hidupi memang keras, makanya gampang bagi kita untuk terjebak sendiri ke dalam rasa aman dan nyaman. Bahkan ritual yang dilakukan itu sendiri juga adalah bentuk dari false security dari orangtua yang takut anaknya ketiban sial. Tapi terutama, film ini kayak ngasih lihat kontras antara rude atau kasarnya lapisan bawah ternyata jauh lebih baik karena setidaknya orang-orang di jalanan, yang vulgar dan tampak barbar, mereka lebih ‘jujur’ Tampil ada adanya. Ketimbang lapisan atas, higher power, yang seperti menawarkan hal yang lebih baik tapi punya maksud yang lebih buruk di balik segala kemanisan tersebut. 

 

Tema narasi tentang perempuan hamil yang berurusan dengan pasangan tua yang tampak terlalu ‘ramah’ ke jabang bayinya memang lantas mengingatkan kita kepada salah satu horor masterpiecenya Roman Polanski, Rosemary’s Baby (1968). Yang sayangnya bagi Inang. standar itu berarti cukup tinggi. Perbandingan dengan Rosemary’s Baby jadi mengungkap banyak kelemahan pada naskah film Inang, yang ditulis oleh Deo Mahameru. Terutama dari segi eksplorasi. Rosemary’s Baby yang tentang perempuan hamil mendapat perlakuan manis dari tetangganya, yang ternyata mengincar bayi dalam kandungan untuk cult pemuja setan, benar-benar menyelam ke dalam psikologis karakter utamanya. Si Rosemary dibikin bingung dan curiga kepada gelagat baik tetangganya, ada peristiwa yang ganjil yang terjadi berhubungan dengan mereka, ada yang aneh di balik sikap mereka, dan konflik digali film tersebut dari kecurigaan Rosemary ditantang oleh orang-orang sekitar yang justru menyalahkan dirinya yang dianggap tak stabil secara mental. Sampai ke titik dia sendiri percaya dia yang senewen. Film Inang, gak punya semua itu. Karena sedari awal, kita sudah dikasih momen dramatis Wulan masuk ke rumah orang jahat, misteri yang ada hanya soal apa yang sebenarnya terjadi. Dan film gak benar-benar melakukan banyak terhadap bagaimana misteri di sana akhirnya terungkap.

Nugrosemary’s Baby

 

Adegan mimpi banyak digunakan untuk memantik suasana horor. Dan kita semua tahu, adegan mimpi dalam horor atau thriller merupakan aspek yang tricky untuk dilakukan. Mimpi jadi bagus saat digunakan untuk menggambarkan psikologis yang mendera karakter. Horornya bisa jadi sangat sureal dan benar-benar disturbing. Film Inang, seperti yang telah kusebut, punya imageries yang kualitas top. Ada makhluk creepy juga yang sempat muncul dalam mimpi Wulan. Selama memang digunakan untuk memvisualkan ketaknyamanan atau kecurigaan Wulan yang kian membesar, adegan mimpi film ini bekerja dengan efektif. Hanya saja, selain itu, film juga membuat adegan mimpi yang memperlihatkan Wulan ketemu sama korban-korban ritual sebelum dirinya. Dan karena ini tidak disebut alasannya kenapa bisa Wulan melihat mereka, atau tidak pernah ditekankan bahwa memang ada hantu yang semacam minta tolong, maka adegan-adegan mimpi yang melibatkan hantu korban itu jadi hanya berupa cara gampang film meletakkan eksposisi saja. Ini tidak lagi jadi menambah buat film, karena malah meminimalkan ‘kerjaan’ Wulan. Dia hanya disuapi info lewat mimpi, dan kemudian lebih lanjut lagi film mengkerdilkan peran perempuan yang set up dan perjuangannya sudah bagus itu menjadi seorang dalam situasi damsel in distress semata.

Selewat paruh pertama, film memperkenalkan karakter anak dari pasangan suami istri asuh tersebut, yang diperankan Dimas Anggara, yang praktisnya menjadi hero dalam cerita.  Si Bergas ini bakal menyelematkan Wulan, cerita juga berubah menjadi tentang dirinya yang berkonfrontasi dengan apa yang dilakukan oleh orangtuanya selama ini, dia juga harus berdamai dengan siapa dirinya. Wulan, dengan segala permasalahan perempuannya, jadi tersingkirkan. Jadi hanya sebagai orang untuk diselamatkan. Dan baru di ending, Wulan dikasih transformasi yang bertujuan untuk mengembalikan kembali posisinya sebagai karakter utama.

Bukannya mau bilang aku bisa bikin cerita yang lebih bagus (because I can’t), dan terutama reviewer gak boleh bandingan satu film dengan cerita yang gak exist. Tapi aku hanya ingin pointed out bahwa yang dipilih oleh film Inang, membuat karakter utamanya kehilangan power. Gak ngapa-ngapain yang membuatnya ‘deserved’ the transformation. Film memilih untuk mereduce karakter utama perempuan menjadi ‘korban yang harus diselamatkan’ oleh karakter lain yang dibuat lebih pantas dan lebih berkonflik langsung dengan ritual dan mitos Rabu Wekasan. Aku hanya ingin menyebut bahwa narasi Inang gak mesti mentok seperti ini. Masih banyak pilihan yang bisa diambil untuk mengembangkan ini, untuk membuat karakter utamanya lebih deserved all that. Misalnya, mungkin dengan membuat bayi yang Wulan lahirkan pas ritual actually bayi terkutuk, like devil-kid. Sehingga di akhir, rumah itu jadi chaos karena malapetaka yang dibawa, Wulan keluar dengan menderita, terluka juga oleh anaknya, dan dari perlawanan dia mempertahankan bayinya dari semua orang di sana. Yang jelas, Wulan membawa si anak yang she comes to love sehingga transformasi di akhir dia menjadi ibu pembunuh demi anaknya, jadi lebih dramatis, dan lebih well-earned. Masih ada cara untuk membuat Wulan gak ketinggalan action, dan tetap kuat sebagai tokoh utama. Plus mimpi-mimpi Wulan jadi ada musababnya dengan jika si anak dibuat ternyata berkekuatan gaib.

 

 




Cerita tentang perempuan yang mengusahakan kelahiran bayinya, di tengah kesulitan duniawi yang menghimpit, sehingga akhirnya terjebak ke dalam bujuk rayu ritual sesat sesungguhnya adalah materi horor thriller yang demikian dramatis. Film ini punya bahan-bahan yang tepat untuk menjadi drama mengerikan yang membuahkan banyak gagasan lewat komentar-komentar sosial. Bagusnya lagi, film ini bijak untuk tidak menjadi wahana rumah hantu, melainkan benar-benar menguatkan di atmosfer dan pada perasaan uneasy dan kelam sebagai faktor ketakutan nomor satu.  Sialnya, cerita ini tidak dibesarkan dengan benar-benar fokus di situ. Film berpindah ke masalah karakter lain, dan actually mengesampingkan permasalahan karakter utama. Hingga ke titik dia tidak benar-benar melakukan apapun, selain diselamatkan. Dan ceritanya dibuat melingkar begitu saja sebagai shock di akhir semata. Itu yang membuatku jadi tidak benar-benar bisa menyukai drama horor ini. Formulanya padahal sudah benar, protagonis yang melewati ketakutan sedemikian parah, babak belur fisik dan mental, sehingga ‘bertransformasi’ oleh horor yang ia lalui. Tapi film ini shift ke karakter lain, dan karakter utamanya skip gitu aja langsung ke ‘transformasi’. Ada denyut yang hilang di nada horor film ini.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for INANG

 




That’s all we have for now.

Apakah kalian percaya sama yang namanya hari sial? Bagaimana pandangan kalian soal kesialan itu sendiri?

Share pendapat kalian  di comments yaa

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA