KERAMAT 2: CARUBAN LARANG Review

 

“Culture is the arts elevated to a set of beliefs.”

 

 

Yang keramat dari genre mockumentary (dokumenter ala-ala, yang sering ditampilkan dengan gaya found footage) adalah kesan otentiknya. Dalam artian, penting bagi genre ini untuk menjaga ilusi bahwa mereka adalah ‘dokumenter-asli’ meskipun kita semua tahu yang di layar itu cuma film yang bentuknya saja yang seperti dokumenter, sementara ceritanya adalah fiksi dan sebagian besarnya merupakan parodi dari bentuk-bentuk dokumenter yang ada. Untuk menjaga kesakralan ilusi otentik tersebut, maka biasanya mokumenter menggunakan gimmick-gimmick, mulai dari teknis seperti kamera handheld yang goyang-goyang, hidden cam, adegan-adegan interview, dan estetik kamera jadul – atau at least grainy supaya kesan raw footagenya dapet.  Beberapa bahkan sengaja dibuat dengan skrip minimalis (hanya poin-poin, sementara pemeran bebas improvisasi dialog, dan sebagainya). Hingga gimmick di luar teknis pembuatan, seperti pemasaran yang menyatakan filmnya adalah kisah nyata. Dan oh boy, betapa di horor, mokumenter dapat jadi storytelling yang begitu efektif. Film found footage The Blair Witch Project di tahun 1999 bisa sangat fenomenal – orang pada nyangka itu kejadian horor beneran – karena terbantu oleh mokumenter Curse of the Blair Witch yang ditayangkan di televisi sono beberapa minggu sebelumnya. Sementara di skena film lokal, Keramat – found footage tentang dokumentasi kru film – jadi sensasi di tahun 2009. Sukses membuat penonton yang belum kenal hiruk pikuk internet terheran-heran apakah itu kejadian yang beneran dialami oleh Poppy Sovia dkk saat syuting film.

Jadi, ya, memang yang harus digarisbawahi adalah kesan otentik – yang kini, bisa dibilang semakin ‘susah’ untuk dicapai. Pertama, karena people sekarang bisa lebih cepat tahu dan dapat informasi apapun dari internet. Ini terjadi juga di dunia pro-wrestling. Kayfabe is dead. Ilusi gimmick semacam Kane adalah adik dari Undertaker gak bakal laku dipakai di jaman sekarang karena orang-orang bisa nyari sendiri info siapa sebenarnya dua pegulat itu di real life. Dan kedua, karena seperti yang sudah sering kukeluhkan dalam review-review film mokumenter ataupun found footage sebelum ini; jaman sekarang orang bikin video YouTube saja sudah canggih semua. Grainy video sudah ditinggalkan, semua bisa dengan mudah ditouch up pake efek, sehingga bahkan video asli pun bisa dicurigai settingan saking semuanya overedit. Makanya buatku menarik, kini, setelah tiga-belas tahun, Monty Tiwa membuat sekuel dari Keramat. Tentu dengan gimmick dan estetik mokumenter yang disesuaikan dengan keadaan sekarang – keadaan di mana kesan otentik itu tampak tidak lagi begitu ajaib. Apakah film Keramat 2 ini bakal bisa jadi sensasi seperti pendahulunya? Trik apa yang akan mereka gunakan supaya bikin film ini terlihat ‘asli’? Atau mungkin, cerita seseram apa yang disajikan supaya kelemahan ilusi itu bisa teroverlook?

MKN di Langgar Penari

 

Ternyata setelah ditonton, tidak ada satupun kutemukan jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut yang benar-benar memuaskan buatku.

Dari segi cerita, sebenarnya Keramat 2 dimulai dengan cukup menjanjikan. Set up karakternya ada, kenapa mereka harus ada di sana, backstory tugas akhir  dan persahabatan yang melandaskan stake para karakter di sini clearly terbangun lebih solid daripada film yang karakternya lagi KKN itu. Keramat 2 berkisah tentang Umay Shahab dan dua teman YouTubernya; Ajil Ditto dan Keanu pengen membantu mendokumentasikan tugas akhir kelompok tari gebetannya si Umay. Jadi pergilah mereka bersama Arla, Jojo, dan Maura ke Cirebon, ke sanggar tari Caruban Larang yang ternyata sudah lama kosong. Di sana, mereka membuka peti terlarang, dan menemukan soal The Lost Dance. Tarian yang sudah lama hilang (beserta penari-penarinya) semenjak jaman penjajahan Jepang. Saat meriset itulah mereka semua bersinggungan dengan dunia mistis. Dan seperti pada film pertama, anak-anak muda ini harus masuk ke dalam dunia gaib demi mencari teman mereka yang hilang. Selain itu juga ada substory tentang tim YouTuber Keanu, yang pecah karena Lutesha si cenayang memisahkan diri sehingga Keanu dan Ajil – yang gak punya kemampuan mistis – harus bikin channel horor yang baru  (MKN) sebisa mereka, yakni dengan bumbu komedi. Misteri kenapa Lutesha cabut nanti akan mengikat kepada masalah Lost Dance yang mereka semua harus hadapi.

Bicara tentang seni tari yang hilang, dari Keramat 2 sebenarnya kita bisa memetik pesan soal melestarikan seni. Heck, hantu di film ini aja kayak lebih aware soal itu dengan meminta tari mereka ditonton supaya bisa diturunkan ke manusia. Memang agak miris sih, ketika tarian – seni aktualnya justru hilang sementara ritual seputarnya tetap ada dan lestari menjadi pantangan-pantangan sakral (yang aneh dan kayak takhayul) yang tidak boleh dilanggar.

 

Benar-benar terlihat seperti set up cerita horor yang mumpuni. Semua karakter punya masalah, ada drama. Elemen mitologi dan investigasi mistis yang mampu membawa penonton ikutan nebak-nebak juga ada. Namun, kesemuanya itu ternyata tidak dikembangkan menjadi plot yang ‘bener’. Keramat 2 adalah tipe film yang menghabiskan paruh-paruh awal untuk setup dan untuk eksposisi, lalu tiga puluh menit terakhirnya hanya menampilkan karakter yang berlarian, berusaha mencari jalan keluar. Masing-masing karakter tidak punya progres journey yang personal. Pengalaman horor itu seperti tidak berarti apa-apa untuk growth mereka as a character, melainkan ya cuma untuk konten saja. Dan karena ini didesain dengan skrip yang gak ketat mengatur, maka dengan cepat karakter-karakter muda ini resort ke hal-hal yang annoying. Marah-marah, berantem, teriak-teriak. Keluar kata-kata makian. Untuk mengisi durasi, kadang mereka juga melakukan hal horor yang konyol. Yang jelas, mereka seperti lebih enjoy bermain di elemen konyol ketimbang horor – saat mereka harus ‘berpura-pura’ ketakutan. Mitologi penari juga tidak dikembangkan lebih jauh dari sekadar apa yang terjadi pada para penari sebenarnya. Padahal kupikir film ini bisa menggali fantasi tarian dan ritual yang seperti pada mitologi game Fatal Frame, ternyata harapanku terlalu muluk. Dan misteri soal Lutesha, itu juga sama zonknya. Lutesha nanti datang gitu aja. Dan karakter ini sebagian besar jadi convenience ke dalam plot. Ngasih petunjuk ini itu, harus kemana, harus ngapain. Totally membunuh misteri dan eksplorasi dalam cerita.

The best part tetap adalah bagian ketika mereka udah masuk dunia lain. Tapi, yah, experience horor yang dihadirkan film ini tidak pernah sekuat film yang pertama, Yang karakter-karakter saat itu bener-bener gaktau harus ngapain, sehingga kita seperti ikut mereka ‘meraba-raba’ misteri. Dalam Keramat 2, kita cuma menonton mereka ngikutin kata Lutesha. Tidak ada elemen surprise, pengungkapan edan, dan sebagainya. Ada sih satu yang menggelitik, yang bikin penggemar Keramat bakal gembira karena memperdalam galian mistis dunia tersebut. Dan kupikir itu juga ide yang bagus, tapi aku gak akan bocorin di sini, kecuali satu hal. Yakni sebaiknya memang kita nonton Keramat original dulu sebelum nonton sekuelnya ini. Ngomongin soal Keramat pertama, memang film kedua ini memakai formula yang sama. Seperti memegang teguh tradisi, Keramat 2 mengikuti Keramat pertama nyaris beat per beat. Hanya saja seperti salah menduga. Karena seperti yang sudah kutulis di atas, Keramat pertama jadi sensasi bukan semata karena adegan lari-larian, atau kelompok yang berantem, atau bahkan misterinya dieksekusi dengan baik, tapi juga karena ilusi otentik. Film tersebut berhasil menguarkan kesan raw yang kuat. Sebaliknya Keramat 2, dengan tampilan mulus seperti video-video YouTube masa kini, dan dengan karakter yang lebih nyaman melucu ketimbang berhoror ria, jadi tampak seperti video settingan yang panjang banget.

Nabrak kucing hitam, buka peti, main jailangkung, mau berapa larangan lagi yang mereka langgar sebelum jera?

 

Penonton yang lebih muda mungkin gak akan mempermasalahkan. Aku boleh jadi terdengar kayak bapak-bapak tua yang ngomel lihat kelakuan anak muda. Mungkin, bagi penonton muda otentik itu datang dari betapa naturalnya para karakter berinteraksi antarsesama. Like, mungkin memang ‘hectic’ seperti itulah anak muda bersosialisasi sekarang. Bukan soal kamera yang terlalu poles dan bagus, karena toh memang seperti itulah tren sekarang.  Sehingga ya, film ini masih mungkin untuk menjadi sensasi di kalangan penonton muda. Walau bukan untuk hal yang sama dengan film pertamanya. Tapi bahkan jika itu benar, bahwa mungkin aku saja yang sudah terlalu tua untuk film kayak ini, tetap saja magic dari movie itu sendiri yang sebenarnya dipermasalahkan. Dan visual itu membantu kita masuk dan percaya. Kualitas gambar yang sederhana membantu kita percaya bahwa video yang kita lihat benar-benar direkam candid, tidak ada settingan. Nonton awal-awal Keramat 2, adegan-adegan tampak meragukan – beneran hantu yang mereka lihat atau mereka lagi ngerekam prank atau trik sebagai konten YouTube.

 




Dalam mokumenter seperti begini, gak cukup hanya dengan menggunakan real name para aktor. Apalagi jika kita tahu mereka di real life tidak melakukan hal yang mereka lakukan di film. Semua konsepnya harus didesain matang demi mencapai ilusi otentik.  Effort ke sanalah yang masih tampak minimal dilakukan oleh film ini. Konsep mokumenternya sebenarnya kurang kuat. Film ini tidak akan banyak beda pencapaiannya jika dibuat dengan konsep penceritaan yang biasa. POVnya tidak terasa urgen karena gagal untuk digunakan  ngasih gambar-gambar horor yang unik (pas adegan terjun aja, pov kameranya gak dimainin). Mitologinya tidak dibahas mendalam, sebatas apa yang terjadi saja. Tidak ada hooknya ke journey personal karakter. Film ini seperti film pertamanya, tapi tanpa magic dan ilusi yang bikin film tersebut jadi disukuri ada sekuelnya. Setelah ditonton, yah, film ini tidak semembekas itu. Untuk seru-seruan bareng teman, sih sepertinya masih bisa. Bagian di hutan goibnya tambah menarik dengan surprise from the past. Karakternya yang annoying dan gak ngapa-ngapain mungkin masih bisa beresonansi dengan anak muda dan pergaulan keseharian mereka. Karena otentik film ini sepertinya dimunculkan dari sana.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for KERAMAT 2: CARUBAN LARANG

 

 




That’s all we have for now.

Menurut kalian, apa sih yang menarik dari genre mokumenter?

Share  di comments yaa

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



Comments

  1. Aaron says:

    Keramat 2 ini lebih enak disimak dibanding pendahulunya secara produksi, lebih modern tapi seiring durasi filmnya semakin kurang menarik, adegan menari yang seharusnya jadi highlight terutama di pantai singkat sekali. Kurang digali padahal salah satu goalnya itu, di ending juga gitu doang, gak ada interaksi berarti yang menutup perjalanan sekembalinya mereka dari alam lain, Umay yang bawel di awal hingga tengah pada akhirnya diam di akhir tanda tanya besar. Keanu dan Lutesha penyelamat film ini

    • Arya says:

      Umaynya kurang berperan ya dalam cerita, tugasnya sebatas nguburin mayat kucing yang ditabrak aja. Fungsi kameranya dia bawa-bawa gitu juga kurang buatku.
      Menutup perjalanan mereka begitu itu menurutku karena film gak ngasih plot buat karakternya, gak ada perubahan di awal dan di akhir, gak ada goalnya. Sehingga abrupt gitu aja jadinya. Malah stake 3 orang gak selamat, ditimpakan kepada karakter surprise. Agak cari aman juga sih film ini, gak ada karakter dari kelompok protagonis yang celaka (kecuali yang untuk kejutan di kredit)

  2. Ilham says:

    SPOILER SPOILER!!!!!!

    Siapa tahu bang arya bisa jawab beberapa pertanyaan yang entah aku gak ngeh atau emang sound bioskopnya yg kurang bagus

    1. Itu pas di akhir ada orang ngebukain papannya yg kalo gasalah nyari adeknya itu siapaa, kayak kenapa tiba tiba banget dan kenapa dia bisa tahu kalo adeknya ada sama skumpulan muda mudi itu. Trus adeknya itu siapa sih emangnya karakter itu prnah mncul di keramat 1 ya atau aku lupa haha. Dan di post credit itu mauranya ngomong apasih gaada subtitle nya jadi aku gpham apa yg diomongin 🙂

    2. pas masuk ke dunia lain plisss kenapa gelap banget bener2 gelap sampe gatau apa aja yang ada dilayar. Adegan penggal kepala yang jelas di trailer pun gak keliatan di bioskop.(Nasib nnton di bioskop kecil)

    • Arya says:

      1. Orang yang nanyain adeknya pas di akhir itu, dan tiga orang yang ikut lari-larian di dalam hutan gaib, adalah karakter di film pertama. Tiga orang ini ternyata tidak selamat di ending film satu, alias masih di dunia goib. Nah, si Ute dalam kurun dia misah dari Keanu-Ajil, kayaknya janji mau bantuin mencari tiga orang tersebut. Kalo diliat pas adegan sebelum mereka semua masuk ke kuburan kayu, si Ute ada ngangkat telfon “Halo, Kak” gitu, si orang terakhir itu kayaknya yang nelfon utk nanyain progres, di mana, gimana dsb.

      Kalo soal si Maura ngomong apa, ku juga gak ngerti boso jowo hihihi.. tapi adegan itu maksudnya bukan sukma si Maura yang ada dalam tubuh itu. Mungkin si Suryani

      2. Sama, di bioskop ku juga gelap. Yang adegan si Ajil kepisah sendiri terus ada sosok Maura nyamperin, aku gak tau dia ngeliat sosok apa karena layarnya gelap banget; mulai dari dia sampai kabur dan ketemu lagi ama rombongan, aku pun tak lihat jelas gimana prosesnya

      • Ilham says:

        Kalo untuk ketiga orangnya aku inget kog poppy dan kawan2nya akhirnya selamet di ending yg pertama yang gempa bumi.

        1. Tapi yang aku pertanyakan yg orang terakhir itu, kalo dari awal ute(lutesha) udah ada niatan buat nyari poppy, migi dan kawannya yg logikanya udah hilang 13 tahun yang lalu, kenapa harus dengan cara kebetulan bareng sama tragedi geng keanu di masa sekarang ya.

        Agak bingung dibagian ini sebenernya, ini termasuk plot hole gak sih bang, karna malah banyak bgt pertanyaan sehabis nnton film ini.

        2. Kedatangan Ute di awal yang di rumah sakit itu juga tiba tiba itu dipanggil sama ajil/umay apa emang ute niat dateng karena mimpinya yg muncul lagi apa gimana ya agak rancu ceritanya.

        Maaf ya bang kalo aku banyak tanya tpi emang kaya ada yg ganjel aja gitu selama nonton pdhal aku udah nnton yang pertama tpi benang merah ceritanya sebenernya ada dimana dan cara buat bisa kesambung, itu yg gak aku paham. Okelah kalau emang gasengaja ktmu di tengah dan ute bener bener gakenal 3 orang ini. Tpi yg bikin pertanyaan yang orang terakhir itu

        • Revan says:

          Bantu jawab sebisaku ya..

          Jadi cewe terakhir rambut pendek itu ternyata Miea yaitu ibu sutradara di keramat 1 yang jahat itu, dan kenapa bisa selamat aku juga kurang tahu soalnya seingetku di keramat 1 miea patah tulang dan di gendong sama cungkring habis itu ditinggal sama ke 3 sahabatnya. Yang logikanya matahari udah terbit Miea masih di dalam tapi trnyata malah Miea yg berhasil keluar. Dan 3 orang yg berhasil keluar malah ternyata masih kejebak di dalem. Entah ini plot hole apa gimana aku jg agak bingung sih. Mungkin bang arya bisa bantu ngelurusin.

          Dan untuk hubungan lutesha sama si Miea ini jg ga di jelasin dan kenapa antara poppy,migi,sadha sama keanu dan gengnya dunia lainnya bisa nyatu juga agak rancu. Entah ini dari awal udah di rencanain sama lutesha atau ga sengaja ketemu aku juga masih bingung. Kalo dugaanku sih sengaja ya karna dri awal sprti yg dikatakan bang arya, lutesha sama Miea udah kontek2 an. Tpi agak ganjel aja gitu disengaja atau gaknya.

          Kalo keanu dan kawan kawan gak ngebuka kotak keramat itu apakah lutesha juga akan ttp nyari temen2 nya Miea di dunia lain? Kenapa harus serba kebetulan gitu yg aku juga sama bingungnya. Malah jadinya banyak pertanyaan di otak haha

          • Arya says:

            Continuity error dengan film pertamanya ya, karena ditwist ternyata 3 orang itu justru yang tidak selamat.

            Nah itulah, poin-poin kebetulan itu semua sebenarnya berarti sudah bisa ditangkap penonton bahwa film ini tidak punya naskah yang bener. Okelah mungkin Ute memang sifatnya suka kerja dengan serbaberahasia, tapi ya kelihatan sendiri gimana itu cuma jadi excuse untuk kebetulan-kebetulan dalam cerita yang gak bikin berkembang tapi malah bikin cerita maju kayak poin-poin. Ute hilang, ute datang, ute kesurupan, ute sembuh, dll. Ute ini bukan karakter , melainkan cuma device buat gabungin maksa semua kejadian.

            Kalo naskahnya bener, mestinya Ute dijadikan sudut pandang utama. Tapi kalo gitupun, si Ute keliatan banget blo’onnya. Kenapa? karena dari timeline; dia mimpi peringatan 3 tiang itu kan pas 2018, dia nyangka kelompok yutubnya yg bakal mati. Sedangkan kejadian Poppy ilang dari 2009. Nah, mau itu Ute udah kontekan ama Miea sedari 2009 atau setelah dia misah dari Keanu-Ajil, yang jelas, berarti si Ute sometimes between dia misah dengan kejadian yang sekarang, ada masa ketika dia sudah megang dua poin: ada 3 orang ilang, dan peringatan 3 orang bakal mati. Yah, kalo aku jadi dia sih, logika aja. Aku tinggal nelpon si Miea “maaf kak, kata khodam saya, adek2 kakak gak bisa selamat”, dan nelpon Keanu “nu, maaf ye gue udah kabur, kirain kita dalam bahaya” Beres.

            Singkat kata, kejadian di film kedua ini gak bakal bersinggungan dengan kejadian di film pertama kalo si Ute ditulis layaknya sebagai karakter/orang beneran. Malah mungkin kalo ada Ute di sana, kejadian film kedua gak bakal terjadi. Tapi kan enggak, film ini dibikin dengan desain supaya ada surprise dari film pertama, sehingga Ute ditulis sebagai convenience – dia harus ilang dulu, baru mendadak muncul lagi dsb. Sebagai kemudahan/kebetulan dalam cerita supaya kedua kejadian bisa dipaksakan masuk.

  3. Arlene says:

    Yang menarik dari film horor salah satunya adalah tension yang diciptakan. Idealnya di awal -awal, jadi sepanjang film mencoba meng-address tension yang uda dibuild di awal. Yang paling common itu include juga revealing kenapa para pemerannya digangguin / ikutan kena dampak digangguinnya.

    Keramat 2 ini aku masih gampang following sampe adegan Jalangkung. Hotel creepy di awal-awal, plus adegan Jojo si ratu story yang ngereveal alasan sebenernya dia ngelakuin itu semua, uda bisa bikin aku relate “horor” banget keadaan Jojo. Tapi setelah adegan Jalangkung, trus Uthe dateng, aku setuju sama mas Arya: berasa lagi nonton reportase, tinggal ikutin aja arahan presenter Uthe.

    Sama buat aku, adegan teriak – teriak di film ini ga cuma dari jerit ketakutan aja, tapi karena labil emosi juga, for the sake of content yang lagi dibuat. Keramat 1 kayaknya juga ada teriak-teriak, tapi lebih bisa relate (kalo ga salah karena tertekan dikejar waktu untuk shooting dan pre shootingnya molor gitu). Terus habis adegan teriak-teriak, ada jeda black screen gitu, terus jadi bikin agak patah, tadi sampe mana ya gitu.

    Overall masih lebih suka suka Keramat 1. Keramat 2 masih bisa dinikmatin sih, tapi ada kesan “Settingan” karena mengangkat tema content yang menurutku masih bisa dieksplore lebih dalam lagi.

    • Arya says:

      Nah iya itu, teriak-teriak di film itu tu kayak boongan. Kayak, setiap beberapa menit sekali film butuh untuk ada drama teriak-teriak. Kalo di film pertama, masih beralasan; sutradara yang panik filmnya gagal, temen ilang, dll. Di film kedua, segala kursi digeser dikit aja berantemnya dahsyat. Diprank kuntilanak aja buntutnya heboh. Giliran ada yang kesurupan, paginya pada nyantai cek-cek hape.

      Jadi penyelamat tapi bikin gak fun lagi ya, si Uthe haha.. serbatahu serbabisa begitu

  4. Albert says:

    Aku jadi nonton Keramat 1 dulu mas gara2 semua bilang berhubungan. Tapi sebetulnya 3 orang itu ga ada juga gpp bukan sih? Toh akhirnnya ga selamat juga, di dunia lain juga ga bantu apa2. Jadi 3 orang yang di mimpi Uthe mati itu 3 orang ini atau Uthe Keanu Anjil ya?

    Kalau di Keramat 1 dukunnya ga ikut masuk. Karakternya tahu2 pingsan udah ada di alam lain. Kalau yang kedua ini Uthe ikut masuk bisa jadi petunjuk jalan. Walau katanya baru pertama, petunjuknya bener jadi ga seru rasanya. Dan yang kedua karakternya setuju masuk ke dunia lain. tapi kalau aku sih rasanya ga mau ya, salah2 aku yang mati. Yang pegang kamera ada 2 kayaknya ya? Jadi bisa dilihat dari beberapa sudut pandang sama aja kayak film biasa. Tapi aku masih bisa menikmati sih. Keanu lucu banget.

    • Arya says:

      Yang dimaksud mimpi si Uthe ternyata memang tiga orang di film pertama itu. Haha aneh ya.. si Uthe katanya takut sama mimpi itu, awalnya kan pada belum tau pasti tiga orang yang dimaksud mimpi itu siapa, tapi semua karakter di sana (termasuk si Uthe sendiri) gak ada perlawanan berarti pas disuruh ritual dikubur. Harusnya drama mereka berantem2 itu cukup di nentuin ikut ritual ini atau enggak aja, gak usah tiap beberapa menit sekali pake berantem-berantem gak jelas buat dramatis xD

      Kamera mereka dua, yang dipegang Ajil, ama yang dipegang Umay. Sama ada satu drone, tapi cuma dipakek pas di jalanan mau suting dokumenter, gak ikut dibawa ke alam sono. Padahal kalo naskah bisa nemuin alasan mereka dikubur bawa-bawa drone, bisa seru tuh pov drone di hutan gaib itu. Bisa banyak dimainin kamera dan kreasi horornya

      • Albert says:

        Oh sia2 dong Keanu sama Anjil ditinggal kalau bukan mereka yang mati di mimpi ya. Munculnya Uthe di rumah sakit juga dibuat kebetulan biar dramatis. Tapi kok aku seneng2 aja adegan di RS itu ya ketemu banyak setan sih Hehehe.

        Konsep pindah alam lain itu raganya tetap di dunia nyata atau ikut pindah ya? Kalau tetap di dunia nyata ya susah memang 3 karakter itu bisa selamat, pasti udah belasan tahun raganya udah ga ada? Kalau Midhi di film pertama ilang sebadan2nya, kalau film kedua ini kayaknya Maura dan yang dikubur raganya tetap di dunia nyata.

        Bagusan Qorin ya mas? Nilai Keramat sama Qorin terbalik sih, yang review lain umumnya keramat bilang bagus yang Qorin bilang jelek. Coba nanti kubaca ah poin2 review Qorin di sini hehehe.

        • Arya says:

          Aku malah awalnya ngira di rs itu konten gimmick doang – apalagi kemudian si Ummay tiba-tiba gak ada, kan. Kirain dia yang pura-pura jadi hantu haha.. Soalnya ku ngiranya dari build up Keanu ngonten horor ala kadar di basecamp, dan dari cuma Uthe yang diestablish cenayang beneran dan kini si uthe cabut, MKN itu channel mistis gimmick alias palsu – buat lucu-lucuan.

          Mestinya sih raga mereka tetap di dunia nyata sih ya? eh tapi gatau juga sih, kalo raganya tinggal, masa iya si Uthe gatau itu artinya dia sudah pasti tidak bisa menuhin janji balikin 3 orang itu lantaran raganya udah gak ada?.. Mungkin raganya juga ikut sih ya? soalnya waktu ketemu dengan Maura, treatment mereka beda. Maura rohnya balik ke rumah sakit dengan terbang ke atas. Mereka balik ke dunia nyata dengan terjun ke jurang.

          Ya bagusan Qorin, naskahnya lebih bener, temanya ada ngelingker, lebih berisi, cuma memang agak lebih terbata dibanding konsep Keramat 2 sehingga sekilas terasa agak lebih mudah menikmati Keramat 2.

Leave a Reply