MINI REVIEW VOLUME 17 (MONKEY MAN, LATE NIGHT WITH THE DEVIL, SIKSA NERAKA, IMMACULATE, ARTHUR THE KING, PERFECT DAYS, KUNG FU PANDA 4, DUNE: PART TWO)

 

 

Dari panda jago kung fu ke anjing pintar yang ikut adventure race; dari pria yang contempt dengan keseharian ke pria jalanan yang ingin balas dendam kepada polisi, ke ‘the chosen one’ yang akhirnya naik tahta;  dari acara bincang-bincang ke penyiksaan, bahkan di tempat yang mestinya sakral sekalipun. Mini Review Vol.17 sudah siap untuk disantap!!

 

 

ARTHUR THE KING Review

A feel-good movie adalah film yang paling susah untuk direview. Karena susah banget buat gak bias kepada film yang udah berhasil menyentuh hati kita. The movie feels so good, susah buat melepaskan apa yang kita rasakan dengan hal-hal yang katakanlah lebih objektif untuk penilaian. Contohnya ya kayak film buatan sutradara Simon Cellan Jones ini.

Arthur the King, dari kisah nyata yang begitu inspiratif tentang seorang adventure racer yang di tengah-tengah lomba bertemu dengan anjing jalanan yang penuh luka. Development karakter Michael, si racer, adalah dia yang tadinya berlomba untuk menang berubah menjadi lebih peduli sama teman tim – termasuk pada anjing tadi. Sehingga filmnya pun berevolusi, dari yang awalnya bersemangat kompetisi (sampai ada bagian drama ngumpulin teman-teman tim segala) menjadi tentang bonding dengan anjing yang serta merta jadi maskot tim, dan ultimately menjadi tentang penyelamatan sang maskot yang ternyata mengidap bakteri mematikan di dalam lukanya.

Jika dilakukan properly, tipe film yang berevolusi seperti begini biasanya (walau jarang nemu) aku kasih nilai 9. Arthur the King hits all the emotional notes. Yang ‘berubah’ menjadi better person pun bukan cuma Michael seorang, film berhasil menunjukkan pengaruh Arthur bagi anggota tim yang lain. Bahkan bagi dunia yang menonton perlombaan mereka. Ketegangan lomba di alam bebas yang treknya dipilih dengan bebas juga oleh peserta juga dapet banget. Karenga serunya, tim Michael selalu milih trek yang paling menantang. Yang akhirnya membuatku urung  ngasih 9 untuk film ini adalah mereka belum maksimal ‘mengintroduce’ Arthur ataupun memparalelkannya dengan Michael. Supaya tidak terkesan tiba-tiba berubah menjadi film tentang penyelamatan anjing sekarat, film memang bijak me-reka sendiri gimana Arthur sebelum bertemu Michael. Kisah Arthur di jalanan disisip-sisipkan di antara set up Michael menuju hari H perlombaan. Kita butuh lebih banyak dari satu adegan dia dikejar anjing liar untuk melandaskan Arthur memang anjing tangguh , sehingga misteri atau keajaiban kenapa Arthur bisa mengikuti tim Michael bisa lebih ‘believable’ – bukan lagi terkesan sebagai dramatisasi film

The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for ARTHUR THE KING

 

 

DUNE: PART TWO Review

Denis Villeneuve mencacah novel epic Dune menjadi (yang sepertinya) banyak film. Film Dune bagian pertamanya, aku lumayan suka, tapi menurutku, selain visual storytelling yang amazing, film itu bukan film yang benar-benar bagus. Narasi dan journey karakternya terasa incomplete karena harus bersambung ke film bagian kedua yang kala itu beritanya entah beneran akan dibuat atau tidak. Now, here we are, dan Dune Part Two beneran terasa lebih padat dengan journey yang ‘complete’ karena mengambil fokus kepada proses Paul Atreides menjadi sosok legenda Lisan Al-Ghaib.

Baru di film keduanya ini visi Denis kerasa kuat. Dia menjadikan cerita ini ke dalam beberapa bagian untuk tujuan adaptasi yang lebih ‘besar’. Di film keduanya ini Denis ‘went off book’, dia ngasih sensasi tragis dari terpenuhinya prophecy, dia meminta kita untuk turut fokus kepada karakter Chani-nya si Zendaya sehingga kontras dramatis dari journey Paul yang tadinya enggan dianggap penyelamat kemudian malah total jadi messiah, benar-benar jadi vibe yang menguar membuat film jadi tidak hanya spektakel luar angkasa. Dune: Part Two sangat padat, dan kupikir film ini bisa berdiri. Kita tidak benar-benar perlu untuk belajar sejarah dunianya, ataupun menonton ulang film pertama untuk bisa ngerti, karena di sini journey triumphant-namun-gelap Paul dibuat sangat melingkar. Endingnya pun (yang juga seperti mengarah kepada interpretasi Denis yang lebih bebas dari sourcenya) tidak demikian terasa seperti menggantung karena akhir film ini sudah mengestablish sisi kelam dari Paul yang sudah jadi Lisan Al-Ghaib.

Yang bikin angker mungkin memang durasinya aja. Tapi untungnya film ini punya pace yang kejaga. Tidak pernah terlalu slow ataupun terlalu lompat-lompat. Film justru memastikan kita mengexperience semua yang terjadi kepada karakter di planet gurun itu. Mulai dari surfing di atas cacing raksasa, hingga duel satu lawan satu, kamera film selalu berhasil menekankan kepada skala dan dunianya sehingga elemen sci-fi adventurenya bener-bener hidup sebagai pencapaian sinema modern.

The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for DUNE: PART TWO

 

 

 

IMMACULATE Review

Urgh aku gak mau bayangin misalnya Rosemary’s Baby dibuat di masa sekarang; hasilnya pasti gak jauh beda dari film Immaculate ini. Horor yang seperti diejakan, harus ada pihak yang jahat, dan tentu saja dengan nada feminis. It’s not really about character, tapi lebih ke tentang pemerannya disuruh ngelakuin apa. It’s not really about story, tapi lebih ke ending/penjelasan mencengangkan terkait pesan/gagasan yang diusung.

Oleh karena itulah, Immaculate karya Michael Mohan terasa mengecewakan. Feels like, mereka cuma ngandelin Sydney Sweeney yang meranin suster taat sebagai protagonis dan berharap apapun yang mereka lempar kepadanya worked. Masalahnya mereka tidak pernah melempar sesuatu yang unik, ataupun wah, melainkan malah kayak cenderung main aman. Padahal jelas kontras yang diniatkan dari judul, setting, tema, adalah hal brutal yang mengeksplorasi tubuh perempuan (kehamilan). Untuk menjadi sekadar body horor biasa pun, film ini enggan. Instead, mengambil bentukan horor cult yang misterinya pun tidak engaging. Yang sedihnya, di film ini aku malah melihat si Sydney jadi kayak versi knock off dari Mia Goth dan tipe karakter horor yang biasa ia mainkan.

Tapi memang yang patut ditiru dari horor barat adalah mereka gak pernah ragu untuk ‘menyiksa’ protagonis, yang memang kebanyakan cewek. Karena audiens dan pembuatnya tahu, ‘siksaan’ itu semata adalah simbol perjuangan yang harus mereka lalui, bahwa ini bukan soal survive dari makhluk jahat, tapi juga pergulatan diri untuk lepas dari bentuk ikatan atau kungkungan tertentu.

The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for IMMACULATE.

 

 

 

KUNG FU PANDA 4 Review

Momen sinema yang paling melegakan 2024 sejauh ini bagiku adalah tidak jadi mendengar suara teriakan Awkwafina di Kung Fu Panda 4 saat adegan karakternya ingin menyampaikan pengumuman penting untuk satu kota yang ribut, aku udah siap-siap nutup telinga karena si rubah itu udah ambil napas untuk teriak, tapi lalu tidak jadi hahaha sukurrr…… Well, ya, sebagai sekuel yang tidak disangka oleh semua orang (termasuk penggemar Kung Fu Panda) film ini memang bisa dibilang ambil resiko dengan tidak lagi menghadirkan The Furious Five (beserta aktor-aktor kawakan pengisi suaranya) sebagai teman Po (Jack Black) bertualang, instead menggantinya dengan presence seseorang (dan secempreng) Awkwafina yang jadi rubah pencuri.

Dinamika Po dan Rubah Zhen terutama terasa awkward karena sebenarnya mereka lebih mirip sebagai pasangan di dalam film aksi spy ketimbang komedi kungfu seperti vibe tiga film terdahulu. Kung Fu Panda 4 terasa lebih buru-buru, dan lebih mengandalkan kepada aksi-aksi konyol, dengan hiasan celetukan atau komentar atau rekasi yang berusaha memancing komedi dari para karakter. Harusnya film ngerem sedikit dan benar-benar embrace bahwa relasi yang mereka punya sebagai heart of the story adalah relasi yang baru, yang dua karakternya ini butuh dibuild up benar-benar terlebih dahulu. Tapi di sini, being more like an action, ceritanya lebih menyibukkan diri kepada twist&turn karakter.

Padahal dari sisi tema/gagasan, film ini lumayan berbobot. Po enggak siap untuk menyerahkan gelar Dragon Warrior kepada penerus, Po merasa belum sebijak gurunya dalam menggembleng murid (itu juga kalo dia berhasil menemukan dan kalo ada yang sudi berguru kepada dirinya yang merangkai kata-kata wisdom aja gak bisa). Bahasannya mengangkat soal kita adalah apa yang kita lakukan, dan bagaimana kita harus bisa beradaptasi dengan tuntutan perubahan, karena gimana pun kita gak boleh stuk terus, kita harus berkembang as a person. Semakin dipertajam bahasan ini dengan desain karakter jahatnya, yaitu Chameleon yang bisa berubah wujud menjadi siapapun, termasuk musuh yang sudah dikalahkan oleh Po. Sepertinya arahan Mike Mitchell dan Stephanie Stine memang terlalu gasrak-gusruk dalam menceritakan tema tersebut.

The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for KUNG FU PANDA 4




LATE NIGHT WITH THE DEVIL Review

Konsepnya dibikin kayak sebuah dokumenter dari acara talkshow di televisi. Sebelumnya, kita diberikan backstory oleh narator mengenai host talkshow tersebut; Jack Delroy, yang naik daun berkat program tersebut, lalu gimana dia dirumorkan terlibat dalam sebuah sekte misterius, dan gimana dia sempat depresi setelah istrinya meninggal dunia karena kanker. Lalu film berfokus kepada ‘rekaman’ show terakhir dari Jack Delroy. Show spesial Halloween, bintang tamunya antara paranormal beneran, paranormal yang kini jadi skeptis, serta seorang ilmuwan dan subjek penilitian yang kini sudah dianggap anak sendiri; remaja yang berbagi tubuh dengan setan. ‘Menonton’ talkshow ini sudah jelas bakal lain dari biasanya, karena kejadian aneh semakin menjadi-jadi.

Sutradara Cameron dan Colin Cairnes sukses membius kita semua. Bukan saja menonton film ini terasa seperti nyaksiin ‘talkshow beneran yang gone wrong beneran‘, tapi juga karena sepanjang acara itu kita juga dibuat terombang-ambing. Orang bilang “the greatest trick the devil ever pulled was convincing the world he doesn’t exist”, nah film ini seperti the devil itu sendiri. Atau setidaknya, film ini berhasil bikin kita gonta-ganti pendapat siapa setan beneran di cerita ini.

Sama seperti karakter-karakternya yang mempertahankan ilusi/gimmick masing-masing, film ini pun menaruh perhatian yang sangat detil untuk menciptakan dunia panggungnya. Ketika lagi mereka lagi on-air, treatment yang diberikan film pada kameranya akan berbeda dengan saat nanti mereka break iklan dan kita ‘dipersilakan’ melihat ke panggung tempat mereka benerin make up, atau juga ke backstage saat si host mulai mencemaskan yang terjadi di panggung tadi itu adalah trik produser atau memang fenomena gaib. Kesan 70an pun menguar kuat lewat cara bicara, pakaian, dan style acara. Ketika iklan, mereka memperlihatkan animasi ‘we’ll be back’ khas acara televisi. Begitu juga ketika nanti horor beneran terjadi, efek praktikal digunakan dengan berani. Menjadi horor psikologis pun film ini tidak ragu, beberapa menit terakhir film menunjukkan kebolehan arahan dengan menggunakan klip-klip yang mirip dengan montase pembuka hanya kali ini dengan angle dan perspektif yang membuatnya beneran tampak eerie, sureal, dan disturbing.

The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for LATE NIGHT WITH DEVIL

 

 

 

MONKEY MAN Review

Legenda Hanoman digunakan oleh Dev Patel sebagai tema/gagasan yang mengelevasi kisah action revenge yang jadi debut penyutradaraannya, memberikan genre tersebut sedikit bobot dan akar identitas budaya yang merekat. Hasilnya, sure, Monkey Man punya aksi brutal menghibur ala John Wick (film ini sendirinya menyebut John Wick, for fun), backstory karakternya yang kesumat mencari polisi jahat yang dulu membunuh ibu pun tampak plot standar, tapi setidaknya di balik itu semua kita ditahan di tempat duduk oleh paralel antara si monkey man dengan Hanoman yang dulu sering diceritakan oleh ibu, melawan raksasa Rahwana.

Baik akting maupun directing, Dev Patel di sini tampak sangat ambisius. Dari sinematografi saja, Monkey Man sudah sedahan di atas film laga biasa yang cuma ngandelin cut-cut cepat. Di film ini, aku kagum sekali sutradara pertama seperti Patel, mampu menghadirkan adegan-adegan berantem yang seperti punya ritme. Kalo film bollywood menari lewat adegan tari-tarian, Monkey Man (yang nyatanya suting di negara kita ini) ‘menari’ lewat adegan berantem. Setiap adegan berantem menceritakan kisah/state si monkey man pada saat itu. Sehingga masing-masing adegan berantem terasa berbeda, dan terasa punya bobot emosi yang berbeda. Patel memang tampak ingin menitikberatkan kepada journey personal protagonisnya yang penuh duka dan trauma. Hal yang termanifestasi pada telapak tangannya yang bergurat-gurat bekas lecet dan api. Patel juga sering membawa kita berayun ke dalam memori-memori pahit karakternya, menciptakan imaji-imaji yang tak kalah heavy dari sana.

Sandungan film ini menurutku cuma nature dari genrenya yang memang generik. Gak peduli betapa jauh Patel ngajak kita ke identitas dan culture yang ia angkat, film ini tetap balik dan berjalan pada poros yang sangat familiar. Sehingga, tur ke kepala protagonis, justru dapat berbalik membosankan bagi penonton yang ingin segera balik ke aksi-aksi. Menurutku pribadi, yang kurang dieksplorasi dari film yang memang terlalu fokus pada satu karakter ini adalah, tokoh jahatnya. Si kepala polisi masih terlalu satu dimensi. Sementara ada satu lagi, yang merupakan paralel tuhan/dewa dalam kisah hanoman – seorang guru bernama Shakti Baba yang tadinya juga nobody tapi jadi penguasa yang menggerakkan semua kejahatan politik di balik kedok orang suci – tidak benar-benar dieksplorasi sebagai lawan ‘sesungguhnya’ dari protagonis kita.

The Palace of Wisdom gives 6 gold stars out of 10 for MONKEY MAN.

 

 

 

PERFECT DAYS Review

Beberapa tahun lalu pernah ada film yang seperti ini, judulnya Paterson (2017). Filmnya hening, kisah keseharian seorang driver bus, dan mengisi waktu luangnya dengan menulis puisi. Perfect Days karya Wim Wenders bedanya cuma protagonisnya seorang janitor taman-taman kota, dan mengisi waktu luang dengan mendengarkan musik (dari kaset tape),membaca buku sastra, dan memotret pohon-pohon. Mengikuti rutinitasnya sehari-hari, kita akan menjadi semakin kenal dengan pak Hirayama, dan we might learn satu-dua hal tentang latar belakangnya, yang membuat pilihan hidupnya sekarang semakin emosional bagi kita.

Perfect Days memang bukan film yang bakal ada kejadian besar. Film ini justru memusatkan kita pada hal-hal rutin dan kecil yang berlangsung di hari-hari yang tampak disukuri sekali oleh pak Hirayama. Film membawa kita ngikutin beliau mulai dari bangun tidur di apartemen kecilnya, berkeliling ke ‘kantornya’ yakni toilet-toilet taman Jepang yang unik-unik dan estetik (mindblowing banget lihat toilet transparan yang seketika memburam pas pintunya dikunci), istirahat makan siang di taman, sebelum pulang mampir ke bar kecil yang ibu penjaganya jago nyanyi, lalu tidur. Begitu terus. Aku terutama tertarik pada bagian ketika Hirayama tidur. Karena dia pasti mimpi, dan mimpinya – yang digambarkan hitam putih, lewat berbagai image random – terlihat kadang seperti masa lalunya, atau mungkin juga penyesalannya, atau juga hal yang ia rindukan.

Film, seperti juga Hirayama, memang menolak membicarakan masalahnya secara langsung. Tapinya lagi, memang itulah konteks gagasan film ini. Bukan soal resolving problem. Melainkan gimana kita mengusahakan hidup mensyukuri hal-hal kecil tanpa terdistraksi oleh masalah fana ini. Pentingnya kita untuk menyadari setiap hari adalah hari yang sempurna untuk mensyukuri hidup; dengan rutinitas masing-masing, dengan fungsi masing-masing, regardless ada masalah atau tidak.

The Palace of Wisdom gives 7.5 gold star out of 10 for PERFECT DAYS.

 

 

 

SIKSA NERAKA Review

Neraka bukan setting baru dalam sinema. Kebanyakan film membangun neraka versi mereka sendiri, sebagai tempat mengerikan yang berkaitan dengan karakternya. Makanya nerakanya beda-beda, kadang ada yang tempat panas, ada yang tempat penuh mayat hidup, kadang ada Hadesnya, kadang merujuk pada kepercayaan tertentu yang kemudian dibentrokkan dengan keadaan karakter; neraka bagi Frieza justru tempat yang ramah dan menyenangkan (karena penjahat di Dragon Ball tersebut gak tahan sama yang namanya kebaikan). Atau neraka dalam Pah’s Labyrinth justru seperti tempat kerajaan negeri dongeng, di mana protagonis kita akhirnya menjadi putri raja. Yang jelas, neraka selalu adalah tempat mimpi buruk personal, yang seringkali berupa tempat supernatural yang berbeda dengan realitas di Bumi.

Ketika Anggy Umbara menggarap Siksa Neraka, referensinya adalah buku komik untuk anak-anak belajar tentang surga dan neraka sesuai dengan ajaran agama Islam, buku komik yang memang penuh gambar-gambar sadis orang-orang yang disiksa. Di sinilah hal menjadi ruwet. Mengadaptasi adegan-adegan neraka tersebut berarti dengan pedenya memvisualkan gambaran neraka menurut agama. Sutradara yang lebih humble akan membelokkan gambaran tersebut sebagai sesuatu yang lebih dekat kepada neraka personal (keadaan psikologikal), atau at least mengeset dunia-ceritanya punya neraka versi sendiri. Tapi Umbara, yang juga gagal berpijak pada satu perspektif utama dalam mengembangkan cerita ini, membuat seolah benar neraka yang dikunjungi karakternya benar adalah neraka yang kita percaya, dan filmnya benar memuat ajaran dan pesan supaya para penonton tobat.

Inilah kenapa aku menyebut kita gak bisa menilai film hanya secara subjektif dari pesan yang diangkat. Karena semua film, bagus ataupun jelek, pasti punya bahasan atau pesan moral yang bisa dipetik, tergantung subjektivitas yang nonton. Dan membahas pesan tersebut memang bisa seru, tapi untuk penilaian harusnya dikembalikan kepada filmnya. Apakah pesan tersebut disampaikan lewat storytelling yang baik atau tidak. Di Siksa Neraka, storytellingnya kacau. Ceritanya berpusat pada empat anak ustad yang celaka saat menyeberang sungai yang meluap (karena one of them insist supaya cepat sampai tujuan sebaiknya jangan lewat jembatan tapi langsung masuk ke sungai!) dan keempat-empatnya ended up di neraka dan disiksa karena dosa mereka di dunia. Hanya satu yang ada di sana sebagai out of body experience (mati suri) dan tidak benar-benar disiksa karena bukan waktu dan tempatnya. Harusnya cerita tetap stay di perspektif yang selamat ini supaya nerakanya tetap ambigu, toh film sudah melandaskan logika-dalam si anak dari kecil dapat melihat hantu. Tapi film memindah-mindahkan perspektif. Pertama kita melihat anak pertama disiksa, lalu kilas-balik ke kisah hidup dia saat melakukan dosa, begitu terus polanya. Sehingga semua neraka yang clumsy dan bad cgi itu nyata.

Jadi film ini sebenarnya lebih terasa sebagai torture-fest, yang berkedok ajaran kebaikan (untuk bertobat dari perbuatan dosa). Sebagai drama horor keluarga yang religious-based pun, film ini tetap terasa kosong karena karakterisasi dan dialog yang dangkal. Arahannya cuma mau berasik-asik siksa menyiksa, penulisannya pun tak bisa ngembangin bahasan lebih dalam (wong, stay true kepada ajaran sourcenya aja dia gabisa)

The Palace of Wisdom gives 1 out of 10 gold stars for SIKSA NERAKA.

 




 

 

That’s all we have for now

Walau telat, mohon maaf lahir batin semuaa!

Thanks for reading.

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



MINI REVIEW VOLUME 16 (GODZILLA X KONG: THE NEW EMPIRE, ARGYLLE, IMAGINARY, MILLER’S GIRL, MEAN GIRLS, NOT FRIENDS, ROAD HOUSE, LISA FRANKENSTEIN)

 

 

Di bulan Film Nasional ini pun aku ternyata kembali gagal menonton film-film Indonesia. Instead, karena kesibukan mudik dan sebagainya, maka kompilasi Volume 16 ini berisi oleh satu film impor baru, dan film-film impor pilihan yang terlewatkan di bioskop beberapa bulan lalu – also film yang memang tidak tayang di bioskop kita – yang menurutku layak untuk kita bahas dan bicarakan.

 

 

ARGYLLE Review

Argylle, kalo aku gak salah itung, adalah film ketiga dalam beberapa bulan ini yang punya konsep memvisualkan aksi dari tulisan/karangan protagonis. Dan Argylle ini punya cara spesifik – yang sayangnya sering jatoh annoying – dalam melakukan konsep tersebut.

Jadi ceritanya, karakter yang diperankan oleh Bryce Dallas Howard adalah seorang penulis novel action spy populer. Namun, walau dia merasa tidak tahu sama sekali tentang dunia ataupun profesi yang ia tulis sebagai karangan, para penjahat dan spy beneran tertarik untuk mengetahui ceritanya lebih dalam, karena ternyata there are some truths pada karangannya tersebut. Alhasil, perempuan dan kucing peliharaannya itu terseret ke dalam petualangan seru seperti cerita karangannya, only it’s real. Yang bagi kita, sayangnya lagi, film ini semakin berjalan, semakin mengada-ada.

Berniat untuk bikin jadi fun, plot film ini dibuat dengan bersandar pada twist demi twist. Karakter-karakternya bakal bikin kita “oh ternyata dia jahat, eh, ternyata bukan! Eh, bener jahat, ding!! Eh, baik sih kayaknya.” hingga berakhir dengan “Eh… aduh, ini apa sih sebenarnyaaa” Konsep memvisualkan aksi dalam karangan pun tampak aneh dan chaos karena film memilih untuk melakukannya dengan membuat Bryce melihat seorang spy beneran – atau juga dirinya sendiri – sebagai karakter di dalam karangannya, dan switch visual itu dilakukan terusmenerus sepanjang sekuen action. Menurutku memang ini sayang sekali, selain karena film ini bertabur-bintang, tapi terutama karena sutradara Matthew Vaughn sebenarnya punya arahan aksi yang menarik. Ketika film tidak sibuk dengan konsep pengungkapan yang overstylish, film ini baru terasa benar-benar  fun. Misalnya pas sekuen aksi skating di tumpahan minyak. Itu konyol tapi juga memberikan karakternya aksi yang unik.

The Palace of Wisdom gives 4.5 out of 10 gold stars for ARGYLLE

 

 

GODZILLA X KONG: THE NEW EMPIRE Review

Godzilla dan Kong adalah tag team that we all deserved, tapi sebaliknya, we are all deserved a better Gozilla Kong movie than this. Karena meski yang ditawarkan Adam Wingard ini memanglah sungguh spectacle porsi titan, tapi spectacle tersebut terasa masih hampa. Masalahnya ada pada pilihan kreatif yang sama sekali tidak menguntungkan bagi spectacle ini.

Yang menarik dari Godzilla, ataupun Kong, adalah melihat mereka yang super size itu berinteraksi dengan manusia. Ya aksinya, ya ‘relationship’nya. ‘Movie magic’ dari film seperti ini adalah melihat mereka hidup di antara kita. Dampaknya apa, ancamannya apa, simbolismenya apa. Sama seperti menonton gulat, pertandingan baru akan menarik jika pihak-pihak yang terlibat dikembangkan, kontrasnya dicuatkan, diberikan cerita. Pada aspek itulah film terasa unbalanced. Cerita yang mengambil tempat di Hollow Earth – dunia yang memang dihuni oleh banyak makhluk raksasa dan menakjubkan lainnya – membuat Kong dan Godzilla kehilangan kontras mereka yang menakjubkan. Melihat mereka di film ini ya kayak ngeliat monster di hutan saja.

Cerita dengan pihak manusia pun terlalu basic. Plot the chosen one, lalu ada juga soal ibu angkat yang mungkin harus berpisah dengan anaknya, tema soal kembali kepada your own clan, tidak cukup kuat dan menarik sebagai fondasi final battle yang megah. Terasa seperti kita bisa langsung skip nonton final battle, tanpa melewatkan banyak hal baru – ataupun malah hal penting. Yang bikin aku makin jenuh adalah karakter manusianya yang template film-film spectacle hiburan. Sekelompok orang eksentrik yang suka nyeletuk lucu.

The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for GODZILLA X KONG: THE NEW EMPIRE

 

 

 

IMAGINARY Review

Ngomongin soal klise, well, horor karya Jeff Wadlow bersama Blumhouse ini akan terasa seperti bunch of other horrors dan yea, kemiripan itu bukanlah imajinasi kita semata. Film ini dikembangkan dari elemen-elemen horor populer lain seperti masuk ke dunia ‘gaib’ kayak Insidious, dan yea tentu saja trope anak yang berteman dengan hantu.

Teman khayalan umum dimiliki oleh anak kecil, apalagi yang sedang dalam masa kesulitan untuk bersosialisasi. Efek baik dari punya teman khayalan ini sekiranya dapat membantu anak dealing with their emotions karena ini basically bicara pada teman yang tak nyata itu adalah bicara dengan diri sendiri. Efek buruknya, ya tentu saja bicara dengan yang tak ada terlihat creepy sehingga dijadikan film horor. (Makin-makin kalo filmnya kurang tergarap baik seperti film ini). Pertama karena Imaginary membahas teman khayalan lewat sudut yang ribet. Perspektif utamanya adalah seorang ibu tiri yang dulu punya teman khayalan, nah si teman inilah yang ternyata beneran hantu dan kembali untuk meneror anak angkatnya. Tapi bahasannya itu tidak pernah dalem. Cuma ada satu bahasan psyche si karakter utama yang menarik (ketika there is no bear!). Film tampak lebih tertarik mention-mention Bing Bong dari Inside Out – mentone down bahasan ketimbang benar-benar mengolahnya. Hingga akhirnya film ini kena masalah yang kedua, yaitu klise tadi.

Tahun ini kita actually bakal dapat dua film tentang imaginary friend, dan setelah menonton film ini, ekspektasiku buat  film yang buatan John Krasinski jadi tinggi. Semoga pada genrenya dia tidak mengecewakan seperti film ini pada horor.

The Palace of Wisdom gives 3 out of 10 gold stars for IMAGINARY.

 

 

 

LISA FRANKENSTEIN Review

Lisa Frankenstein debut penyutradaraan film panjang Zelda Williams sebenarnya juga sama kayak Imaginary dalam hal ngejahit banyak elemen film lain ke dalam pengembangan ceritanya, like, ini literally based on Frankenstein, tapi film ini benar-benar mengembrace elemen-elemen tersebut, dan sama seperti si monster buatan itu, film wear those parts proudly sehingga jadi berjalan seperti diri sendir dan dengan menyenangkan pula.

Film enggak peduli sama moral, wokeness bahkan dijadikan salah satu running komedi. Ceritanya tentang Lisa, remaja yang trauma sepeninggal ibu, dia jadi suka ngadem di kuburan, dan dia tertarik sama satu nisan patung, dan dia make wish bisa bersama si mayat. Petir menyambar, mayatnya hidup, dan mereka berdua semacam went on killing spree untuk mengganti anggota tubuh si mayat hidup yang busuk dengan anggota tubuh orang lain. Mulai dari dialog, karakter, hingga kejadian, film ini gotik-gotik kocak. Arahan Zelda membuat film ini jadi punya awkwardness yang charming. Saking cueknya, film ini gak peduli bikin adegan main piano yang supposedly romantis, tapi Kathryn Newton yang jadi Lisa gak bener-bener bisa nyanyi tapi tetep disuruh nyanyi. Yang jelas, ini bakal jadi nomine yang paling unik di Best Musical Performance award blog ini tahun depan.

Mungkin karena nyeleneh itu juga film ini gak tayang di bioskop kita. Sayang, karena bisa jadi kita keskip kesempatan nonton di layar lebar apa yang sepertinya bakal jadi modern cult classic di masa depan.

The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for LISA FRANKENSTEIN




MEAN GIRLS Review

Oh, boy! Bicara soal modern cult classic, here comes remake musikal dari salah satu teenage movie terbaik, instant classic dari era 2000an…. kalo aku punya Burn Book, aku akan nulis film karya Samantha Jayne dan Arturo Perez Jr. ini ke dalam buku tersebut.

Mean Girls 2024 hanyalah remake plek-ketiplek dari film originalnya. Jadi bayangin aja, dialog-dialog ikonik film originalnya, adegan-adegan populer yang aku yakin banyak devoted fans yang apal luar kepala, dibawakan ulang dengan canggung dan lewat arahan komedi yang downgrade dari aslinya. Yang diubah pada film ini basically cuma dua, menambah diversity pada cast dan nambah adegan-adegan musikal. Sementara pada jejeran cast, film ini masih bisa terasa fresh, namun modernisasi dari karakter mereka malah membuat mereka tampak annoying.

Adegan musikalnya digunakan untuk menyuarakan perspektif karakter lain, bermaksud supaya kita lebih dalam mengenal mereka – lebih dari sekadar geng plastik – hanya saja, film originalnya udah melakukan itu tanpa perlu banyak mengejakan, tanpa lagu yang jadi eksposisi feeling mereka, kita udah dapat menangkap, misalnya gimana Regina George juga punya rasa insecure sendiri deep inside. Sehingga adegan musikal di film ini terasa redundant, dan membuat film ini tampak seperti ya itu tadi, mengejakan. Dan adegan-adegan musikal itu memperlambat tempo karena film tidak pernah benar-benar menggubah naskah sehingga sesuai dengan kebutuhan untuk musikal. Film ini berjalan kayak film yang original, dengan diselingi adegan-adegan nyanyi dari beberapa karakter pada saat momen-momen mereka. Kalo ada yang masih ingat di ending film original, ada 3 junior plastic yang dibayangkan oleh Cady ketabrak bus, nah film ini persis kayak tiga junior plastic itu.  Cuma pengen meniru-meniru melanjutkan legacy yang lebih populer.

The Palace of Wisdom gives 3 out of 10 gold stars for MEAN GIRLS VERSI 2024.

 

 

 

MILLER’S GIRL Review

Jade Halley Bartlett setidaknya ‘berhasil’ membuat apa yang di dunia nyata jelas siapa yang harus bertanggungjawab menjadi cerita yang tampak kompleks dan berimbang dari dua sudut pandang. Membuatnya jadi kontroversial. Sehingga, mengulas film debutnya inipun jadi terasa sama ‘berbahaya’nya dengan terpikat masuk ke pikiran gadis remaja.

Dengan penampilan akting yang terukur all-around, dengan karakter yang dibuat abu-abu – kalo gak mau dibilang sama bercelanya – Miller’s Girl yang basically tentang guru dan murid saling tertarik dengan pikiran dan kehidupan masing-masing (sama-sama dalam state haus pengakuan) harusnya bisa jadi tontonan yang menantang. Yang mencegah film ini untuk mencapai potensi maksimalnya itu adalah ‘kehati-hatian’ arahan dan naskahnya itu sendiri. Film ini berdiri terlalu dekat dengan objeknya. Sehingga alih-alih membuat kita mengobservasi mereka, film ini lebih seperti mengajak kita untuk ‘supportive’ untuk lalu kemudian mematahkan dengan semua bahasan dan gagasan utama yang ingin diangkat. Sehingga pada akhirnya film ini sendiripun terasa seperti karangan yang dibuat oleh karakter si Jenna Ortega – karangan picisan yang ternyata jebakan.

The Palace of Wisdom gives 6 gold stars out of 10 for MILLER’S GIRL.

 

 

 

NOT FRIENDS Review

Not Friends dari Thailand terasa seperti nostalgia yang tak pernah kualami. Film ini kayak ngingetin kembali sama masa-masa dulu nyoba-nyoba bikin film ala kadar bareng teman, sekaligus juga ngingetin ke masa-masa sekolah, hanya saja bagi diriku dua masa itu sama sekali tidak berhubungan. Itulah yang bikin aku sadar sutradara Atta Hemwadee berhasil menggabungkan bahasan tentang pertemanan dengan passion membuat film menjadi sebuah penceritaan yang manis. Mengulik persoalan pergaulan di sekolah – yang bisa dilihat sebagai satir dari bagaimana kita menjadi teman, tapi juga bukan teman yang benar-benar kenal dengan bahkan teman sebangku – ke dalam bahasa yang pas buat anak sinefil kayak kita-kita (kita?)

Passionnya memang sangat kentara. Melihat mereka bergabung menjadi tim, berusaha membuat adegan dari cerita pendek, melakukan ‘movie magic’ alias treatment dan efek-efek praktikal untuk membuat seolah adegannya beneran astronot di pesawat luar angkasa, misalnya, tampak begitu menarik. Kita seperti diundang masuk ke dalam grup mereka. Hebatnya film gak pernah terlalu in the face dalam menggarap adegan-adegan bikin film ataupun celetukan teknikal lainnya. Film tetap berpegang kepada storytelling dari drama dari karakter.

Karenanya bahkan penonton yang gak share kecintaan yang sama dengan filmmaking pun bakal masih bisa mengikuti drama anak sekolah yang disajikan sebagai hidangan konflik utama. Film tidak membiarkan kisahnya menjadi overdramatis ataupun jadi lebih ‘besar’ daripada persoalan anak sekolah. Melainkan tetap renyah dan menapak. Jikapun narasinya mengandalkan kepada rangkaian ‘ternyata’, rangkaian itu tidak difungsikan untuk mengecoh ataupun mematahkan plot, melainkan sebagai tantangan berikutnya dari protagonis utama sehubungan dengan development pribadinya yang ingin membuat film tentang teman sebangku yang ia akui sebagai bestienya saat sang teman itu meninggal dunia, sebagai jalan pintas untuk keluar dari masalah masa depan pendidikannya.

The Palace of Wisdom gives 7.5 gold star out of 10 for NOT FRIENDS.

 

 

 

ROAD HOUSE Review

Enggak seperti Mean Girls versi modern tadi, remake Road House karya Doug Liman mengambil resiko yang lebih  bijak dalam meremajakan kisahnya. Dia membawa cerita ini ke setting lebih modern, sehingga jadi ada kontras vibe yang menarik, dan langka, karena pada intinya Road House adalah cerita jadul yang kayaknya udah jarang dibuat. Karena ini bukan soal pria yang ternyata jago berantem dan dia terpaksa oleh untuk membalas dendam. Ruh tipikal modern itu memang masih terasa, tapi pada awalnya Road House tetap adalah cerita ala western, di mana seorang pria yang ternyata jagoan, datang ke suatu tempat, dan akhirnya menyelamatkan rakyat di tempat itu dari cengkeraman tuan tanah yang jahat. Hanya saja pada Road House, koboynya adalah seorang mantan petarung UFC, dan tempat yang ia lindungi adalah bar tempat dia disewa sebagai bouncer.

Kontras cerita jadul di dunia modern, serta penampilan akting dari Jake Gyllenhaal yang memang jarang sekali mengecewakan, membuat film ini jadi menarik. Komedi dari celetukan/smark juga masih ada, dan dijaga untuk tidak benar-benar membuat film ini jadi kayak over the top. Paruh pertama film ini terasa fresh dan everything just work fine. Aku tertarik melihat Dalton berinteraksi dan menjalin pertemanan dengan orang-orang di bar dan sekitarnya. Bagaimana dia perlahan membuka kepada mereka, juga berarti dia perlahan membuka kepada kita, mengetahui masa lalunya sebagai petarung UFC perlahan membuat kita semakin simpati.

Pada paruh kedualah film mulai agak goyah dalam mempertahankan kontras.  Penanda kegoyahan ini adalah kemunculan ‘algojo’ yang diperankan oleh Connor McGregor. Connor sendiri sebenarnya tampak have fun dan menghibur memainkan karakter ini. Karakternya yang brutal tampak menarik, dan benar-benar jadi hambatan yang sepadan untuk Dalton. Tetapi saat dia muncul dan cerita berlanjut, film ini seperti kebobolan pertahanan dan akhirnya menjadi over-the-top seperti film originalnya. Dan itu berarti film tidak lagi konsisten dengan vibe yang sedikit lebih dewasa yang dilandaskan di awal. Mereka membuat karakter Connor terlalu ‘dominan’ as in terlalu besar berpengaruh kepada arahan dan tone film keseluruhan.

The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for ROAD HOUSE.

 




 

 

That’s all we have for now

Selamat Hari Film Nasional, dan have fun liburan menuju lebaraannn!

Thanks for reading.

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



24 JAM BERSAMA GASPAR Review

 

“Hope is a desperate feeling in a desperate situation”

 

 

Apa coba persamaan detektif di film-film? Ya, kasus misteri yang mereka tangani dengan susah payah itu ternyata paralel dengan masalah personal mereka. Tapi detektif Gaspar memanglah beda (jantungnya aja di kanan!)  Kasus baginya sedari dulu cuma satu; mencari teman masa kecil yang hilang di dunia yang semakin canggih tapi moral semakin bobrok itu, Sutradara Yosep Anggi Noen mengadaptasi cerita Gaspar dari novel, ke dalam genre yang baru baginya. Jika dua film Yosep sebelumnya kita ibaratkan kayak orang introvert; irit berkata-kata, penuh visual storytelling yang mengajak berkontemplasi, maka film Gaspar ini kayak ekstrovert. Berisik, menggebu-gebu, ambisius, penuh aksi. Satu buku dipadatkannya ke dalam 90an menit, sumpek berisi urusan tentang dunia masa depan, tentang situasi sosial politik yang kok kayaknya gak jauh-jauh amat dengan keadaan kita sekarang, lagu non-diegetic yang kayak mengejakan perasaan karakter, dan pencarian desperate dari seseorang yang memegang teguh cinta dan harapan. So yea, ini adalah film detektif yang begitu berbeda sehingga menantang bukan cuma buat kita, tapi juga bagi pembuatnya. Jantungnya aja ada di kanan!!

Gaspar yang jantungnya ada di kanan itu (yang udah nonton film ini ampe abis pasti bisa tahan pengulangan ini hahaha) mendapat petunjuk tentang keberadaan atau nasib teman masa kecilnya, Kirana, yang hilang sejak lama. Selama ini Gaspar menekuni pekerjaan detektif, memang untuk mencari Kirana, dan along with that job, Gaspar juga melihat kebobrokan dunia tempatnya tinggal. Saat menangani satu kasus, Gaspar dihajar ampe babak belur. Dan dokter di underground fight club milik Agnes, memvonis alat di jantungnya yang ada di kanan udah game over sehingga Gaspar cuma punya 24 jam untuk hidup, 24 jam untuk mencari kebenaran soal Kirana. Gaspar harus segera menyimpulkan dan menyerang targetnya. Supaya bisa mendapat pembalasan dan closure sebelum dia mati.

review 24 jam bersama gaspar
Gaspar, jantung kamu di mana?  *insert meme Bart Simpson* Di kanan… Yeaayy!!!

 

Gak banyak film Indonesia yang membahas tentang detektif, dan lebih sedikit lagi film kita yang mengangkat setting distopia negara kita. Makanya menit-menit awal film ini begitu menarik. Kamera 24 Jam Bersama Gaspar memotret fantasi itu dengan kontras antara kecanggihan dan kebobrokan yang kentara. Suasana daerah slum-nya udah kayak dalam game-game seperti Final Fantasy VII. Orang berantem di mana-mana, sementara aktivitas komunal tampak patuh dengan aturan seperti penggunaan gawai yang seperti merecord semua. Feelnya strange, kayak jauh tapi juga terasa dekat secara bersamaan. Tapi maksud dari pembangunan dunia distopia seperti itu tidak pernah benar-benar kita tahu, karena seiring durasi berjalan, film seperti melupakan settingnya. 24 Jam Bersama Gaspar actually akan berubah menjadi aksi heist-gone-wrong, dan lingkungan yang kita lihat jadi kayak daerah jelata, ‘sudut kota Jakarta itu keras, Bung’ seperti yang biasa-biasa saja. Film tidak lanjut menggali bangunan dunia reka uniknya itu, misalnya rule apa yang berkembang di masyarakat di jaman itu, apa yang beda dari jaman cerita itu, ataupun kenapa di masa depan yang keras itu orang-orangnya pada kembali memakai bahasa baku.

Sebenarnya soal bahasa baku ini buatku tidak masalah. Toh baik itu Reza Rahadian, Laura Basuki, ataupun Shenina Cinamon terdengar tidak demikian canggung dalam membawakannya. Bahasa baku ini juga jadi kontras yang menarik di dunia mereka yang penuh kriminal dan hitam. Like, hidup susah seperti itu, terus digencet ekonomi sampai pada bunuh diri dan ada yang jual anak, tapi bahasa mereka masih terjaga. Baku. Terdengar di telinga kita yang sehariannya pakai bahasa nyampur aduk dan ngasal, jadinya kayak ‘sopan’. At least, mereka kayak masih menjaga emosi. Kesan yang timbul dari kontras bahasa dan situasi itu jadi seperti mereka ini orang-orang yang dingin sekali. Mungkin mereka dingin karena sudah biasa hidup makan hati tergencet situasi seperti itu. Bahasa ini bisa jadi much deeper ketimbang persoalan pilihan biar beda, tapi ya itu tadi, kita hanya bisa menduga karena film seperti tidak peduli-peduli amat sama bangunan dunia distopianya tersebut. They just did it in the first minutes, dan kemudian ya jadi malah membahas persoalan simbolik lain, yaitu kotak hitam penuh misteri yang dimiliki ‘tersangka utama’.

Alih-alih melanjutkan world building sebagai panggung tempat karakternya harus beraksi, mengungkap pencarian seumur hidupnya, film ini lebih tertarik mengobrolkan backstory. Lewat flashback-flashback masa kecil. Intensinya sebenarnya cukup jelas. Film pun menggunakan flashback itu untuk mengontraskan antara Gaspar yang masih kecil dulu, lebih riang karena punya Kirana, dengan Gaspar yang sekarang – bayangkan Harrison Ford di Blade Runner, atau Ryan Gosling di Blade Runner 2049, tapi lebih volatile dan desperate. Suasana visualnya pun jadi pembanding yang diniatkan untuk menguatkan perkembangan karakter dan dunia. Hanya saja film melakukan bolak-balik ini dengan sangat sering, padahal poin dan tujuannya sudah terlandaskan. Basically paruh pertama film akan sering banget berpindah-pindah ini, dan ini memperparah tempo film yang sedari awal memang sudah mentok banget antara arahan slow burn yang biasa Yosep lakukan dengan konsep mendesak dari waktu 24 jam tadi.

Biasanya waktu yang mendesak itu membuat stake cerita semakin dramatis. Misalnya, karakter yang cuma punya 3 jam untuk mengejar pacar yang mau pindah ke luar negeri, atau karakter harus keluar dari dunia gaib sebelum portal menutup di pagi hari. Himpitan waktu memacu karakter untuk segera beraksi, mengambil resiko, membuat pilihan. Ketegangan datang dari melihat mereka berjuang hingga detik terakhir tapi seolah mereka bakal gagal. Pada Gaspar, kejaran waktu yang ditekankan oleh film bahkan hingga lewat visual angka pengingat seolah detik bom waktu, tidak terasa seperti dibarengi oleh urgensi, karena cerita seringnya bolak-balik menelisik Gaspar berkontemplasi dengan kehilangannya akan Kirana (yang sebenarnya ini juga jadi cara film melontar eksposisi) Dan juga stake kurang terasa karena Gaspar sebenarnya sudah siap untuk mati. Jantung di kanan ternyata cuma alasan mudah membuat Gaspar harus mati, karena gak banyak dan mendesak efek rintangannya pada saat adegan aksi. Pria ini sudah demikian bijak, dia sudah punya semua jawaban, dia hapal betul gimana dunianya bekerja, dia telah memahami persoalan rakyat kecil seperti mereka – orang baik yang terpaksa berbuat nekat demi mewujudkan harapan mereka akan hidup lebih baik. Journey Gaspar terasa tidak memerlukan gencetan. Karena inti dari inner journey-nya itu adalah dia butuh untuk percaya jawaban yang ia cari ada di dalam kotak, meskipun sebenarnya kotak itu bisa jadi bahkan bukan sesuatu yang spesial. Karena harapan terhadap ada kotak itulah yang mendorongnya untuk terus. Dan karena film membuat Gaspar telah berdamai dengan pemahamannya tersebut, dan sudah berdamai dengan kematian yang pasti akan datang, maka perkara dia berhasil atau tidak, secepat apa dia menemukan kotak itu,  tidak terasa benar-benar jadi soal.

Jantung hatinya-lah yang dia gak tahu ada di mana

 

Dulu ada lagu Zamrud yang liriknya mlesetin makna pepatah berakit ke hulu berenang ke tepian itu menjadi  “Bersakit dahulu, senang pun tak datang, malah mati kemudian” Ini actually selaras dengan gimana film ini memandang nasib rakyat kecil seperti Gaspar dan teman-teman seperjuangannya di dunia distopia mereka. Mereka cuma bisa terus berakit dan berenang, karena yang mereka punya cuma harapan akan ada senang kemudian. Ketika harapan mereka itu menjadi semakin desperate, maka mereka akan berakit dan berenang dengan menghalalkan segala cara asal nanti bisa sampai ke tepian, entah di mana letaknya. Di sinilah ketika moral itu menjadi abu-abu. Orang baik akan melakukan hal jahat, ketika mereka jadi begitu desperate berharap ada imbalan yang pantas mereka dapatkan setelah perjuangan selama ini.

 

Supaya gak terlalu berat dan serius, film ini pun melunakkan tensi. Kayak dari karakternya Dewi Irawan yang memang sepertinya diniatkan sebagai comedic relief dengan tone yang tetap sesuai ama vibe film. Atau juga saat heist kecil-kecilan mereka ke toko emas. Ya, Gaspar tidak berjuang sendirian, Film memasuki bagian aksi sebagai babak final. Yang dijamin bisa bikin penonton yang mungkin tadi cukup lelah menjadi melek. Walau mereka terkadang dipotret dalam shot yang menarik, sebenarnya geng Gaspar ini pun kurang maksimal dikembangkan. Kita paham mereka direkrut atau bergabung karena ‘musuh’ yang sama, cause yang sama, tapi hubungannya dengan Gaspar terasa kosong. Like, kalo di game RPG kita paham karakter-karakter yang bergabung jadi party kita itu selain punya masalah personal dengan musuh, mereka juga terdevelop menjadi punya ikatan personal dengan karakter utama, sehingga masalah personal yang masing-masing tadi jadi masalah bersama. Gaspar di film ini terasa berjarak dengan mereka. Yang beneran punya kepedulian terhadap journey Gaspar cuma Kik, yang diperankan Laura Basuki. Tapi itupun kehadiran karakternya aneh, like, kita awalnya udah percaya Gaspar adalah anak kecil kesepian, punya teman Kirana sehingga tidak sendiri lagi, lalu Kirana hilang dan ini jadi motivasi dia sampai gede. Tapi ternyata diungkap Gaspar teman masa kecilnya bukan cuma Kirana. Ada Kik. Aku gak tau kenapa film kayak sengaja gak langsung menyebut ada Kik di awal. Meski memang masih sesuai tema – bahwa mereka ikut Gaspar cukup karena harapan bisa katakanlah dapat balas dendam dan duit – tapi ini membuat kita susah peduli sama mereka. Mereka juga jadi berjarak dengan kita.

 




Film detektif yang pada akhirnya tidak terasa seperti menonton cerita detektif. Film distopia yang pada akhirnya tidak terasa seperti sebuah bangunan dunia reka yang utuh. Kalo bobroknya sih, dapet banget. Maka menonton film ini terasa seperti melihat puing-puing reruntuhan masyarakat sosial, yang mungkin tidak lama lagi bakal kejadian. Ketika orang-orang tidak punya motivasi selain berpegang pada harapan – yang bisa saja kosong – namun tetap secara desperate mereka percaya. Also, puing-puing karena film ini terasa seperti pecahan konsep-konsep yang tidak berjalan saling menyokong. Cerita butuh untuk karakternya ‘melambat’ tapi jebakan waktu membuat seolah ini adalah aksi yang harus terus bergulir. Beberapa orang mungkin menemukan keindahan pada puing-puing, tapi bagi beberapanya lagi, puing-puing bisa tampak tak lebih berharga dari onggokan batu di pinggir jalan. Semua itu mungkin tergantung dari jantung kalian ada di mana.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for 24 JAM BERSAMA GASPAR.

 

 




That’s all we have for now.

Menurut kalian, di manakah jantung Gaspar?

Silakan share… ahaha bercanda ding.. Menurut kalian apakah menurut film ini berarti tidak ada baik dan jahat, melainkan hanya siapa yang duluan merasa desperate saja? Silakan share di komen yaa

Bagi kalian  melewatkan di bioskop, atau pengen nonton ulang Killers of the Flower Moon, film ini bisa ditonton di Apple TV. Kalian bisa subscribe dari link ini yaa https://apple.co/3QWp4Yp

Get it on Apple TV
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA and BEST BOOK REVIEW HORROR & THRILLER EDITION ON TWINKL



POOR THINGS Review

 

““God’ is whatever is the next obvious step towards wholeness in yourself and your life; ‘Ego’ is whatever within you stops you taking it.””

 

 

Bikin film adalah urusan menciptakan dunia. Ketika bikin karakter amnesia dirasa terlalu kacangan sementara bikin karakter alien sepertinya terlalu pasaran, maka sutradara Yorgos Lanthimos sekalian saja membuat dunia reka yang totally menantang akal sehat, supaya karakternya yang gak punya ingatan dan perjalanan yang ditempuhnya menuju aktualisasi-diri itu dapat terlaksana dengan spesial. Tapi meskipun dunia ceritanya kali ini aneh, dunia tersebut toh masih ada sama-samanya ama dunia kita. Karena di situ juga banyak makhluk-makhluk malang yang hidup di dalamnya. Dan sebagai drama komedi, yang paling lucu dari film ini adalah,  bahwa persepsi kita tentang siapa yang ‘makhluk malang’ – The Poor Things itu – akan berubah. Akan berbeda di akhir cerita.

Pernah dengar paradoks Kapal Theseus? Misalkan Kapal A, satu persatu secara bertahap bagiannya diganti dengan bagian yang baru, apakah kapal tersebut ketika semua bagiannya sudah baru, masih bisa disebut sebagai Kapal A? Lalu lantas jika bagian-bagian lamanya tadi dikumpulkan, dan dibangun kembali menjadi kapal dengan bentuk yang persis sama seperti sebelumnya, apakah hasil kapalnya itu bisa disebut kapal A? Mana yang kapal A sebenarnya di antara dua kapal ini? Paradoks tersebut mengulik soal makna identitas, dan mirip seperti itu jugalah cerita film Poor Things. Protagonis utamanya, yang diperankan dengan lugas dan berani oleh Emma Stone, adalah seorang perempuan yang  fisiknya dikenali oleh beberapa konglomerat sebagai Victoria, tapi dia sendiri tahunya dia bernama Bella Baxter. Gadis yang dibesarkan oleh seorang ilmuwan bernama Godwin, yang ia panggil dengan simply “God”. Dan memang persis seperti God – Tuhan-lah sosok Godwin bagi kehidupan Bella. Karena perempuan berambut hitam panjang itu actually diciptakan Dr. Godwin dari mayat Victoria yang otaknya diganti sama otak bayi dari dalam kandungan Victoria sendiri. Jadi Bella, tanpa maksud merendahkan, adalah freak of nature. Awalnya dia polos kayak anak-anak baru belajar bicara, Godwin-lah yang mengajari dia banyak pengetahuan. Tapi kelamaan, Bella mulai berani memilih jalan hidupnya sendiri. Selama ini gak boleh keluar rumah, dan dijodohkan sama asisten Godwin, Bella minta ijin untuk pergi bertualang melihat dunia luar. Walaupun orang-orang yang dia temui mencoba untuk – in some ways bisa disebut mengekang – Bella percaya dirinya adalah identitas utuh yang baru, yang punya pilihan dan keinginannya sendiri.

review poor things
Mereka yang aneh ini, anehnya, menurutku terasa seperti Kurotsuchi Mayuri dan Nemu versi yang lebih manusiawi

 

Bella hidup di London, dari kostumnya seperti di era Victorian, tapi teknologinya dunia Bella seperti bahkan lebih ‘canggih’ dari dunia kita. Canggih dalam artian absurd haha.. Like, jangan bayangkan ilmuwan Dr. Godwin seperti ilmuwan steril dan terpelajar. Godwin more like a mad scientist. Di rumahnya berkeliaran hewan-hewan ajaib seperti ayam berkepala babi, ataupun angsa berkaki empat. Kalo Godwin bersendawa, yang keluar bukan angin. Tapi gelembung kayak gelembung sabun. Dunia ini tentu saja difungsikan sebagai konteks yang memungkinkan cerita perempuan hasil transplant otak ini dapat bekerja, tanpa kita harus merisaukan perkara etika ataupun kelogisannya. Karena film selalu nomor satu adalah soal konteks. Terms seperti ‘retarded’ yang boleh saja secara moral kita terkesan degrading, akan terasa jadi ‘tak mengapa’ ketika kita sudah dilandaskan betul karakter yang menyebut term tersebut. Perspektif dan karakterisasi film ini mengalir kuat dari gimana tegas dan tanpa sungkannya ‘suara’ para karakter divokalkan. Ilmuwan yang dari luar tampak kurang etis, tapi ternyata punya sisi parenting yang humanis – eventho sisi itu ditempa dari kelamnya perbuatan yang ia terima di masa kecil. Dan Bella, dia dibuat seperti orang yang melihat dunia sebagai orang dewasa tapi dengan pandangan ‘polos’ anak kecil yang melihat dan ngalamin semua hal sebagai untuk pertama kali. Karakter Bella jadi ruang bagi film untuk menelisik sistem sosial yang cenderung patriarki, sehingga film bisa membenturkan banyak nilai feminis yang diharapkan membawa perbaikan dengan sistem yang mengukung. Lihat saja ketika film membuat solusi keuangan Bella di Paris adalah dengan bekerja di rumah bordil.

Dengan melandaskan dunia yang absurd, dan mindset ‘ilmuwan’ sebagai basic dari karakternya, film meminta kita untuk meninggalkan kacamata etika dan purely menyelam ke dalam pikiran Bella yang delevoping concern sesuai dengan yang ia lihat dari sekitar. Untuk experience tersebut, film gak segan mengganti lensa tanpa tedeng aling-aling sepanjang cerita. Kadang gambar yang kita lihat seperti melingkar, hampir kayak fish-eye. Kadang pemandangannya begitu wide. Kadang kita notice kamera ngezoom membuat sekeliling blur. Ini sebenarnya menyesuaikan dengan sense penasaran dan eksplorasi yang sedang dialami oleh Bella ketika dia melihat dunia. Pun, film menggunakan kode warna yang selaras dengan pandangan Bella. Di babak awal film, ketika Bella paling terasa kayak anak polos, yang gak boleh keluar rumah, yang cuma bisa tantrum ketika dilarang, layar film tergambar hitam putih. Tanpa warna. Namun begitu Bella mulai kenal sensasi kewanitaan, begitu dia keluar rumah menemukan segala sesuatu yang baru, begitu dia ngerasain yang namanya ‘furious jumping’, layar yang kita lihat meledak oleh warna. Teknik kamera dan coloring yang digunakan ini selain memvisualkan development karakter Bella, tentu juga bekerja sama efektifnya memperkuat kesan dunia absurd dan komedi pada cerita. Dengan setting dunia yang boleh saja terasa amat aneh, tapi Poor Things could not be any clearer dalam menyampaikan tema soal identitas dan self-actualization dari sudut pandang perempuan.

Menjadi diri sendiri di tengah dunia yang terus-terusan meminta kita untuk menjadi sesuatu yang lain, yang terus-terusan mendorong kita untuk mengikut keseragaman, yang terus-terusan mengingatkan kita untuk tahu diri – tidak melupakan dari mana kita berasal – jelas adalah suatu perjuangan yang berat. Bella Baxter memperlihatkan ini kepada kita. Dirinya  disuruh untuk realistis. Untuk berhenti berharap. Puncaknya, Bella disekap, akal dan nafsunya akan dirampas darinya. But they didn’t stop her.

 

Development Bella kerasa banget. Cara film bercerita pun dibuat ngikut dengan perkembangan itu. Ketika nalar Bella masih ‘bayi’, film ngambil resiko dengan seolah cerita ini dari sudut pandang Max, mahasiswa yang dimintai tolong jadi asisten di rumah mereka oleh Dr. Godwin. Cerita seolah dimiliki oleh Max dan Dr. Godwin, dua orang yang meneliti perilaku Bella. Perlahan, status mereka tersebut tergantikan. Dengan subtil – namun tegas – Bella mulai mengambil alih komando cerita. Dia mulai berani menyuarakan keinginan. Dia mulai berani mengambil aksi. Hingga di akhir babak satu, Bella membuat keputusan otonom. Ikut Mark Ruffalo ke luar negeri. Dari segi akting pun development Bella menguar, tadinya Bella dimainkan oleh Emma benar-benar limited. Ya dari kosa katanya, maupun dari geraknya. Tapi seiring identitasnya bertumbuh, raganya pun terisi dengan semakin matang. Bella using big words, sering mengutip bahasa-bahasa buku yang ia baca, gesturenya semakin percaya diri. Dominasi lelaki di sekitarnya pun, kita rasakan semakin mengendor. Dari sinilah film sebenarnya perlahan ngasih development sarkas yang ultimate. Bahwa yang dimaksud oleh judul sebagai Poor Things ternyata bukan Bella. Ternyata bukan perempuan yang hidupnya ditekan, diatur, diejakan oleh standar yang terbentuk dari kuasa laki-laki. Melainkan, ya, laki-laki itulah the real poor things.

Madame ngajarin Bella nasihat yang maknanya literally ‘Berani kotor itu baik’

 

Setiap manusia memang fight their own battle, dengan kondisi yang memaksa dan menantang mereka. Film dibuka dengan Emma Stone terjun dari jembatan, membuat kita membatin “kasihan sekali dia”. Kemudian adegan berikutnya kita melihat dia seperti orang yang cacat mental. Tapi di akhir cerita, Bella yang telah menyadari kekuatan dan tujuan dari eksistensinya menunjukkan kepada kita bahwa laki-laki seperti Duncan yang cengeng, Harry yang gak berani berharap, God yang bahkan gak bisa mengelak dari kematian dan lebih butuh dirinya ketimbang dia butuh Godwin, dan Alfie yang literally ditulis oleh naskah sebagai manifestasi traits terburuk dari lelaki; mereka-lah yang lebih malang. Bukan perempuan yang beraksi demi kebebasan menjadi dirinya sendiri itu yang kasihan. Adegan di akhir, ketika Bella ngajak Max nikah. Bukan hanya pembalikan dari momen di awal, tapi dari adegan tersebut terasa sekali ada shift. Max is the good one, ‘dosanya’ cuma dia tak pernah berani ‘nembak’ langsung. Kini justru Bella yang bukan saja sudah jadi ekual, tapi juga memegang kendali.

Di tangan naskah yang kurang cermat, karakter seperti Bella ini bisa terkesan sebagai terlalu ideal. Membuat cerita jadi pretentious, atau malah terlalu dibuat-buat. Terlalu muluk. Hal itu tidak pernah terasa ada pada Poor Things. Karena nyalinya tadi untuk menggali Bella sebagai orang dewasa yang melihat dunia dengan pemikiran seperti anak kecil. Semua dicoba. Pengen tahu apapun hal yang baru. Kemauannya harus dituruti. Ini oleh naskah dijadikan cela yang menambah layer karakternya itu sendiri. Yang akhirnya membentuk desain film seperti apa. Film jadi vulgar, lancang, bikin kita gak nyaman, sometimes degrading. Tapi lewat semua itulah pembelajaran Bella berlangsung. Enggak ada dunia yang sempurna. Bahkan dunia seabsurd ini pun tidak bisa sempurna. Bella tahu itu, dia akhirnya tahu salah dan benar, tapi juga dia tahu apa yang lebih penting dari itu. Yaitu untuk menjadi diri sendiri, dan terus berharap dan berusaha dirinya bisa mengubah dunia menjadi lebih baik dari sebelumnya. Tidak ada yang sempurna, tapi semua orang mestinya berjuang untuk menjadi lebih baik. Ah, ini pandangan ilmuwan sejati. Godwin pasti bangga pada Bella!

 

 




Akhirnya, semua film nominasi Best Picture Oscar 2024 sudah rampung semua direview di blog ini. Dan kurasa somehow tepat film ini jadi film penutup karena in some ways, film ini seperti gabungan dari film-film tersebut. Weird, hitam-putih, karakter yang dealing with siapa dirinya – apa yang ia kerjakan, sound desain dan dunia yang ajaib, dinamika relationship yang berpusat pada relasi kuasa perempuan dan laki-laki. Mungkinkah film ini yang bakal menang? Itu terserah Academy sepenuhnya.  Tapi yang jelas, drama komedi romance ini merupakan sebuah perjalanan dari karakter dengan sudut pandang dan suara yang kuat. Penulisannya pada development karakter juga kuat sekali. Film ini boleh saja aneh, tapi pesannya akan sangat tegas dan bisa kita cerna dengan relatif mudah. Dan film ini tak pernah jadi pretentious dalam melakukan hal tersebut. Also, film ini punya banyak penampilan akting yang menarik. Unik. Yang bikin kita gak nyangka aktornya berani melakukan itu. 
The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold stars for POOR THINGS.

 




 

 

That’s all we have for now.

Apa menurut kalian tindakan Bella nge-transplant otak kambing ke mantan suaminya hanyalah sebuah balas dendam, atau sebuah statement? Statement apa kira-kira? 

Silakan share pendapatnya di komen yaa

Yang penasaran sama serial detektif cilik Home Before Dark yang kusebut di-review Petualangan Anak Penangkap Hantu kemaren, bisa subscribe Apple TV untuk menontonnya yaa. Mumpung ada promo free seminggu nih. Tinggal klik di link ini https://apple.co/3SqRITp

Get it on Apple TV
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA and BEST BOOK REVIEW HORROR & THRILLER EDITION ON TWINKL



MINI REVIEW VOLUME 15 (SINDEN GAIB, THE ANIMAL KINGDOM, ORION AND THE DARK, NO WAY UP, SUNCOAST, #OOTD: OUTFIT OF THE DESIGNER, NIGHT SWIM, MEMORY)

 

 

Februari kita boleh saja mengecewakan karena 14 Februari yang bikin ‘blue’, namun kompilasi edisi kali ini meski dominan biru juga, at least bakal bikin terhibur juga. Karena itulah hebatnya film. Tidak perlu ‘bagus’ untuk menghibur. Tapi juga jangan salah, daftar ini juga memiliki beberapa film yang sukses jadi bagus dan menghibur. Mari kita lihat satu-satu

 

 

#OOTD: OUTFIT OF THE DESIGNER Review

Debut penyutradaraan aktor Dimas Anggara ini menawarkan sesuatu, tapi berakhir menjadi sesuatu yang lain.

Dari gimana ceritanya dimulai, film ini tampak seperti kisah mahasiswi desainer di luar negeri yang ingin menyelesaikan pagelaran fashion yang mencuatkan nilai budaya tanah air, sebagai tugas akhir kuliah. Aku menikmati, sebenarnya, cerita di awal-awal ini. Karena walau bukan film fashion pertama, tapi setting dan perspektifnya toh memang menarik. Melihat Nare-nya Jihane Almira berusaha mencari ide, bersosialisasi dengan teman-teman modelnya, menjalin romansa dengan fotografer. It is a nice change of pace-lah, meskipun secara arahan belum tajem karena adegannya banyak yang masih terasa kayak sekadar lintasan klip berlatar bagus (Lagu latar yang itu-itu melulu bakal bikin kita either ngakak atau jengkel setengah mati). Tapi kita peduli karena challenge yang harus dikerjakan protagonis menarik, sementara soal latar belakang keluarga antara dia dengan cowoknya juga dibuild up seolah bakal jadi konflik utama nantinya.

Ternyata, konflik utama film romance ini bakal beda lagi. Hubungan mereka mendapat tantangan ketika Nare ‘bablas’ saat mabok di pesta. Bahasan atau penanganan konfliknya sebenarnya gak buruk, menurutku lumayan sudut pandang baru juga dari bagaimana Nare menghandle situasinya. Like, kalo yang menimpa dia terjadi di dalam negeri, pada karakter yang lifestylenya ketimuran, mungkin choice actionnya bakal beda. Jadi, poin plus sebenarnya adalah film ini bener-bener ngasih sudut pandang asimilasi dari Nare yang orang Indonesia tapi punya cara pandang yang lebih, katakanlah, barat. Cuma, ya itu, film ini kayak masih banyak sekrup yang longgar. Dari naskahnya juga masih melebar sehingga jadi kayak dua cerita dalam satu, alih-alih melebur dengan mulus.

The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for #OOTD: OUTFIT OF THE DESIGNER

 

 

MEMORY Review

Orang yang gak bisa lupa, bertemu dengan orang yang pelupa. Kalo ini film komedi, mungkin premisnya cukup segitu. Tapi yang dibuat oleh Michael Franco bukan komedi, jadi seolah premis tadi dia kasih layer terus. Dan jadilah sebuah kisah cinta paling menyembuhkan yang bisa kita tonton tahun ini. Seorang perempuan yang masih dibayangi trauma dari kekerasan seksual yang dia alami waktu kecil, bertemu dengan pria dengan gangguan dementia.

Cara film menangani yang diderita oleh masing-masing karakter, benar-benar subtil tapi lantang. Aku gak ngerti gimana ungkapannya yang tepat haha.. tapi di sini kita sekali lihat karakternya Jessica Chastain, kita tahu dia punya trauma dan itu bikin efek gak enak ke kehidupannya sekarang, ke orang-orang sekitarnya sekarang. Film gak ragu menggali ke keluarga, tapi juga gak lancang dalam melakukannya. Timing penceritaannya begitu pas. Pertama kali Sylvia itu dan Saul ketemu, aku sampe rasanya gak sanggup nonton karena di awal itu Sylvia yakin Saul adalah kakak senior yang dulu pernah melecehkan dirinya di sekolah. Dan akar trauma Sylvia bahkan bukan peristiwa di sekolah. Film ini ngehandle segitu besar dan banyaknya raw emotions. Dan perlahan emosi-emosi itu digodok, dileburkan, diademkan

Makanya ngeliat relationship mereka terbentuk tu rasanya healing banget. Walau mungkin kita gak ngalamin yang tepatnya terjadi kepada karakter, tapi kita bisa ikut merasakan healing-nya mereka, have found each other like that. Nonton film ini kayak ngeliat kayu bakar kebakar api, tapi perlahan apinya padam, dan berangur kayu tersebut tumbuh lumut dan daun-daunnya menghijau kembali.

The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for MEMORY

 

 

 

NIGHT SWIM Review

Keluarga pindah ke rumah baru, rumah tersebut ada kolam renang – yang perfect buat terapi kaki ayahnya, dan buat tempat bersantai dua anaknya – tapi ada sesuatu pada air di kolam tersebut yang menarik orang-orang tenggelam ke dalamnya.

Cerita horor keluarga yang sebenarnya simpel. Level enjoyablenya setara-lah dengan cerita-cerita horor di buku Goosebumps. Namun sutradara Bryce McGuire ternyata menemui kesulitan mengembangkan horor ini, kesulitan membuat bagaimana kolam tersebut seram tanpa membuat adegan-adegannya terasa repetitif dan makin ke sini semakin kayak mengada-ada. Jika kita melihat drama keluarga di baliknya, kita bisa melihat sumber masalah dari penceritaan film ini. Sudut pandangnya. Bayangkan jika The Shining tokoh utamanya bukan Jack Torrance. Bayangkan jika kita hanya melihatnya sebagai orang yang jadi gila dan pengen membunuh keluarganya, tanpa benar-benar kita dibuat menyelami kenapa dia bisa begitu. Kayak ‘skenario’ itulah Night Swim bekerja. Film ini anehnya, justru berpindah dari galian sudut pandang ayah ke ibu, begitu ayah mulai berperilaku aneh.

Jadi kentara kenapa film ini horornya gak kerasa, malah cenderung membosankan. Karena siapa juga yang bisa membuat tiga orang ‘dikerjai’ oleh kolam renang, tanpa membuatnya jadi itu-itu melulu. Penggalian harusnya datang dari karakter Ayah. Horor harusnya datang dari konflik dia yang ingin sembuh dan tertarik nurutin ‘kata-kata’ kolam, tapi tradenya keselamatan keluarga.

The Palace of Wisdom gives 3 out of 10 gold stars for NIGHT SWIM.

 

 

 

NO WAY UP Review

Satu lagi film horor/teror di air, dan sayangnya film yang satu ini juga enggak bagus. But at least, Claudio Fah tahu dia sedang bikin cerita yang konyol, sehingga film hiu ‘masuk’ pesawat ini berjalan mantap di garis standar rendahnya tersebut.

Karena bagaimana pun situasinya, dimangsa hiu tetaplah sebuah kejadian mengerikan yang gak ada satu orang pun yang mau terjadi kepadanya. Menambahkan setting pesawat yang tenggelam – dengan beberapa korban masih hidup dan harus segera berenang ke permukaan sebelum pesawat beneran terjun ke dasar – hanya akan menambah hal-hal tidak masuk akal yang harus dilandaskan Fah sebagai pembuat film kepada kita. Ya pada intinya, sebenarnya film ini sama kayak pesawat di air itu. Udah gak ketolong. Sutradarnya cuma bisa ngasih something supaya kita sedikit lebih betah.

Dan apa yang dia kasih? background karakter yang sebenarnya menarik – protagonis anak presiden, yang liburan  sama temen-temen, tapi bawa-bawa bodyguard. Ada anak kecil sama kakek neneknya yang veteran di medan perang. Dua karakter itu berusaha dijadikan simpatik, sementara karakter-karakter lain tipikal karakter annoying yang berusaha ngelucu, atau teriak-teriak ribut sepanjang waktu. Bare mininum, yang akhirnya tercoreng dan gak jadi menarik juga karena annoying. Dan bahasan karakter yang dangkal.

The Palace of Wisdom gives 2 out of 10 gold stars for NO WAY UP




ORION AND THE DARK Review

Seorang anak kecil, bisa takut gelap. Takut bicara di depan kelas. Takut menyapa anak yang disukai. Takut jatuh dan terluka saat bermain. Takut dimarah orangtua. Banyak deh pokoknya hal yang bisa bikin takut anak-anak. Dan Orion and the Dark, supposedly adalah cerita petualangan yang bakal ngajarin anak untuk menumbuhkan keberanian dengan menghadapi rasa takut, bukan menghindarinya. Sementara itu, aku rasa fair juga kalo kita bilang, orang dewasa juga bisa ngalamin ketakutan yang sama (karena rasa takut saat kecil itu belum ‘sembuh’) Jadi mungkin itulah sebabnya film adaptasi karya Sean Charmatz ini kayak bingung, dirinya untuk anak kecil atau orang dewasa.

Aku senang sekali kreativitas film ini. Konsep kegelapan adalah makhluk, bahwa dunia malam penuh oleh makhluk-makhluk lain yang bekerja menjaga kestabilan alam dan bikin manusia tidur untuk istirahat, bahwa malam atau siang punya fungsi masing-masing, dan sama pentingnya, digambarkan menjadi karakter-karakter yang sangat imajinatif. Yang aku kurang sreg adalah bangunan cerita film ini. Film seperti pull the rug ketika di akhir babak pertama, cerita Orion adalah kisah yang sedang diceritakan Orion dewasa kepada putrinya. Like, kenapa gak sedari awal saja di set up ada anak perempuan yang sedang ‘dibacain’ cerita oleh Orion. Film ini pun jadi semacam mendua kayak OOTD tadi, apakah ini beneran tentang anak yang takut gelap, atau tentang orang tua yang sedang berusaha bonding dengan anaknya lewat mengarang cerita bersama.

Bahasan-bahasan itu memang akhirnya diikat juga oleh film sebagai satu bangunan cerita. Tapi tetap saja, untuk bercerita kisah untuk orang tua dan anak ini, Orion and the Dark memilih cara yang paling ribet – dan justru menyuapi penonton dengan pertanyaan yang diejakan oleh karakter, ketimbang berimajinasi dan berpikir kritis sendiri.

The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for ORION AND THE DARK.

 

 

 

SINDEN GAIB Review

Ada adegan ketika para sinden melantunkan Lingsir Wengi – yang sudah lama dikenal jadi tembang pemanggil kunti –  tiba-tiba sosok Ayu yang kerasukan Mbah Sarinten langsung menyanyikan Soro Wengi. Aku ngerasa adegan tersebut adalah sebuah statement dari Faozan Rizal, bahwa inilah ‘lagu hantu’ terbaru. Bahwa film ini adalah perkenalan kita dengan sosok mistis yang bisa jadi ikon horor terbaru.

And yea, they could be. Penampilan Sara Fajira cukup memorable juga dalam membawakan karakter yang unik ini. Makhluk gaib dan manusia dalam raga yang sama. Mereka cuma butuh cerita yang lebih solid. Karena film yang katanya diangkat dari kisah nyata Ayu ini seperti terkena ‘penyakit’ yang sama dengan film-film lain yang diangkat dari cerita orang asli. Terlalu ‘mengistimewakan’ si sosok. Dalam artian, cerita jadi kurang menyelami, melainkan hanya sebatas sosok itu menarik karena hal yang ia lakukan.

Kita gak dilihatkan siapa Ayu sebelum dia kesurupan, kita gak tahu journey personal dia apa. Kita gak tau apa peristiwa kesurupan Mbah Sarinten bagi dirinya, mereka memilih ‘bekerja sama’ di cerita hanya karena ada faktor luar. Alih-alih menggali karakter unik ini, film malah pindah fokus ke drama tiga orang yang datang menyelidiki dan hendak menolong kasus Ayu kesurupan. Film cuma menjadikan karakter unik Ayu sebagai sarana untuk peristiwa-peristiwa horor yang standarlah dilakukan oleh film horor pada umumnya. Jadi menurutku film ini benar-benar sebuah missed opportunity dalam penggalian sosok yang berpotensi jadi ikon baru.

The Palace of Wisdom gives 4 gold stars out of 10 for SINDEN GAIB.

 

 

 

SUNCOAST Review

Menarik sekali gimana Laura Chinn menceritakan hubungan antara remaja perempuan dengan ibunya dalam Suncoast ini. Kita tahu anak cewek dan ibu seringnya udah kayak tinggal menunggu waktu berantem. Sylvia di film Memory tadi, juga ‘berantem’ dengan ibunya. Dan berantem mereka ini selalu adalah soal komunikasi yang gak kena. Makanya cerita keluarga kayak itu bakal mengaduk-aduk emosi.

Yang bedanya, di Suncoast mereka gak lantas ribut. Doris tetap nurut apa kata ibunya, yang memang terlalu occupied oleh keadaan anak laki-laki – abang Doris – yang sakit, katakanlah dalam state tinggal nunggu waktu.  Ibunya terus menyuruh Doris ini itu, ngelarang ngapa-ngapain. Ibunya ditulis nyerempet-nyerempet garis annoying, tapi seperti Doris, kitapun gak bisa sepenuhnya membenci si ibu. Karena kita tahu keadaan emosional mereka. Doris enggak meledak karena dia punya ‘pelampiasan’ yakni berteman dengan geng keren di sekolah, dan punya teman curhat berupa Woody Harrelson yang ceritanya selalu mengingatkan dia untuk mensyukuri hidup.

Suncoast kayak cerita sehari-hari, menyenangkan melihat karakter dan penampilan akting mereka yang ‘supel’ dan gak dibuat-buat, dan juga sedikit intens karena kita tahu kesedihan dan pertengkaran itu bisa ‘meledak’ kapan saja. Di antara film-film di kompilasi volume ini, menurutku film ini yang paling bergizi untuk ditonton bareng keluarga. Muatan dan pesan soal ‘cherish yang ada bersama kita’ sangat berharga. Kekurangannya cuma, sometimes kejadian film ini terasa terlalu dipas-pasin biar seru.

The Palace of Wisdom gives 6.5 gold star out of 10 for SUNCOAST.

 

 

 

THE ANIMAL KINGDOM Review

Dari anak perempuan dan ibunya, kita beralih ke koneksi antara anak laki-laki dengan ayahnya. The Animal Kingdom bertempat di dunia yang penduduknya terkena wabah misterius; yakni tiba-tiba, perlahan-lahan mulai berubah menjadi random animal. Dan karena belum ada obatnya, perubahan tersebut berbahaya bagi masyarakat. Para penderita jadi dijauhi. Mereka ditangkap untuk diteliti. Karakter sentral adalah Emile dan ayahnya, yang pindah ke kota kecil yang lebih dekat dengan facility tempat ibu yang kena wabah hendak diobati. Tapi si ibu lepas bersama sejumlah pasien lain. Mereka sembunyi di hutan. Dan Emile, mulai merasakan gejala dirinya berubah jadi serigala.

Karya Thomas Cailley ini terasa unik tapi sekaligus kayak belum maksimal. Unik karena dunia yang dia gambarkan begitu solid. Society yang ngeshun ‘animal people’. Orang-orang yang terpinggirkan. Kita bisa ngegrasp gagasannya soalnya how to treat each other equally. Elemen fantasy-nya pun terasa oke, karena makhluk setengah manusia dan setengah hewan itu tergambar meyakinkan. Struggle mereka pun meyakinkan, kita dibuat bisa merasakan pergulatan insting hewan mereka dengan kemanusiaan yang masih tersisa di dalam diri mereka. Gimana seseorang berusaha berpegang kepada kemanusiaannya, itulah yang paling utama ditonjolkan oleh film ini

Sehingga cukup sering, drama sentral antara Emile dan ayahnya tertahan, dan baru agak lama dibahas lagi. In a sense, maksudku adalah film ini masih agak terlalu bloated. Belum bekerja secara precise. Bahasan dan dunianya terlalu ‘luas’ sedangkan penceritaannya bergerak lebih ke arah kontemplatif. Dua hal itu membuat film terasa punya banyak rongga yang mestinya bisa diisi dengan sesuatu yang lebih menggenjot percakapan kita dengan filmnya.

The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for THE ANIMAL KINGDOM.

 




 

 

That’s all we have for now

Lima volume mini-review tayang tiap bulan berturut. Mungkin karena semangat tahun baru, but I must warn you, bulan depan dan April mungkin review gak bisa sebanyak ini. Karena kalo mudik, aku jarang bisa nonton film hahaha.. So, kesempatan ini aku gunakan untuk mengucapkan selamat menuju bulan puasa hahaha

Thanks for reading.

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



THE ZONE OF INTEREST Review

 

“When we ignore the world outside the walls, we suffer – as does it”

 

 

The Zone of Interest currently – menurut istilahku – ada di posisi tier 0 dalam kompetisi Piala Oscar tahun ini. Karya Jonathan Glazer ini sukses mengantongi empat nominasi utama; Skenario, Naskah, Film Internasional, dan Film Terbaik,  yang artinya film ini berpotensi sapu bersih nominasi-nominasi utama tersebut. So pasti interestku buat The Zone of Interest melambung tinggi, dengan skeptis dan perasaan tertantang membayangi di baliknya. Apa beneran sebagus itu. Kejadian berikutnya udah kayak iklan before after. Sebelum nonton aku tersenyum membayangkan sajian menantang seperti apa yang bakal disantap oleh mata dan pikiran. Dan setelah menonton, rasanya kayak kesan yang hadir saat melihat poster di atas. Hitam, hollow. Rasanya seperti kena tonjok tepat di nurani dan urat kemanusiaan. Telingaku rasanya berdenging sebuah dengkingan panjang yang kering. Itu semua bukan karena filmnya buruk atau mengecewakan. Film ini justru depicts so much truth, soal betapa canggihnya kemampuan manusia untuk nyuekin kekejian di sekitar, bahkan ketika semua itu mulai ada dampaknya bagi jiwa kita.

Target Pak Sutradara kentara untuk menghasilkan kesan realisme. Kita dapat menangkap ini dari gimana kamera film yang dibuat statis mungkin. Tidak ada zoom, tidak ada gerakan sensional, tidak ada drone shot fantastis. Kita dibuat seperti beneran di sana menyaksikan sendiri dari jarak yang cukup dekat kehidupan sehari-hari keluarga Komandan Rudolf Hoss di rumah mereka yang nyaman. Rumah itu cukup besar tapi tidak sedemikian mewah. Ruangannya kayak rumah dinas biasa, dipenuhi oleh sejumlah pelayan yang sibuk. Punya halaman hijau yang cukup luas. Ada kolam renang kecil. Ada kebun bunga dan sayur yang diurus oleh Hedwig, istri Hoss. Tidak jauh dari rumah ada sungai tempat Hoss dan anak-anaknya berenang. Nyobain sampan baru hadiah dari istrinya. Hoss dan istrinya cinta tempat itu, bahkan ketika disuruh pindah karena tugas pun, sang istri minta bertahan dan Hoss merelakan mereka harus ‘LDR’ sementara. Semua kenyamanan hidup tak terkira itu tentu saja demi anak-anak mereka. Komandan Hoss tampak relate dengan kita yang pengen keluarganya untuk bahagia sejahtera. Cumaa, Rudolf Hoss ini actually adalah komandan Nazi. Dan, ssstt, cobalah dengar suara-suara di luar rumah mereka. Ya, rumah impian keluarga tersebut tetanggaan sama concentration camp tempat Hoss bekerja. Camp Auschwitz, salah satu camp nazi yang paling dikenal karena tindakan kejam pembunuhan dan pembakaran terhadap orang-orang Yahudi di sana udah kayak rutinitas sehari-hari.

review the zone of interest
Yup, keluarga makmur yang hidup sehari-harinya gak beda jauh dari kita itu ternyata evil Nazi!

 

Pilihan film ini sekilas memang tampak ganjil, Kenapa tokoh utamanya adalah Nazi dan dimanusiakan sedemikian rupa kayak kepala keluarga biasa. Jangan keburu menjudgenya sebagai tontonan yang tidak berpihak kepada korban. ‘Nazi is evil’ tetap jadi headline utama. Hanya penggambarannya yang dilakukan dengan unik, dan terbukti menghasilkan kesan yang powerful, oleh film ini. Kekerasan, kejahatan, derita dan trauma tidak melulu harus digambarkan lewat visual. Lagipula, film adaptasi novel berdasarkan historical person dan event ini tentu saja tidak butuh lagi untuk memperlihatkan langsung gimana kejinya perlakuan Nazi, mempertontonkan hal itu hanya akan membuat film ini jadi eksploitasi. Jadi yang dilakukan film untuk mencuatkan kekejian mereka yang punya ideologi mereka manusia yang paling layak dibanding Yahudi adalah dengan mengontraskan kehidupan sehari-hari mereka sebagai manusia, dengan keadaan di luar rumah. Kontras yang memperlihatkan mereka bisa hidup biasa aja padahal di luar pagar mereka terjadi pembantaian dan penembakan.

Suara-suara tembakan, suara teriakan, suara perintah galak – yang kadang teredam oleh suara mesin motor ataupun kereta api – secara konstan terdengar memenuhi udara halaman mereka. Merayap di balik percakapan ringan ibu-ibu rumah tangga. Aku bahkan gaingat apakah film ini ada pakai skor musik atau enggak, karena suara-suara kejadian penyiksaan dan pembunuhan itu yang paling bergaung. Ngasih sensasi disturbing luar biasa karena di layar kita melihat orang-orang yang menjalani hidup seperti biasa. Film sudah ngasih kita peringatan untuk awas terhadap suara sejak dari momen pembuka yang cuma layar hitam dengan suara kayak mesin yang bikin feeling uneasy. Selain desain suara yang jelas-jelas jadi kekuatan khusus film ini, juga memperlihatkan kepada kita clue-clue visual. Pesawat pengebom yang ‘tersibak’ di langit di antara kain-kain putih yang dijemur. Asap yang muncul menghiasi background, menandakan lagi ada yang dapat giliran dibakar hidup-hidup di gedung sebelah. Air cucian sepatu boot Hoss yang berwarna merah, menandakan dia baru saja dari medan ‘pembunuhan’. Badan anak-anak Hoss yang penuh pasir saat dimandikan sepulang berenang di sungai, menandakan mereka baru saja berenang di air yang mengalirkan sisa pembakaran tadi. This is actually horrifying gimana keluarga ini menjalankan hidup normal padahal di sekitarnya orang-orang sedang dibantai. Gimana mereka memilih bertahan di sana dengan anak-anak mereka.

Itulah kejahatan manusiawi yang ingin ditonjolkan oleh film. Alih-alih membuat mereka berlaku kasar dan biadap seperti biasanya film-film menunjukkan kekejaman Nazi, film ingin memperlihatkan mereka jahat karena mereka tega-teganya hidup seperti itu. Dan pada gilirannya, kita juga kena sentil, karena walau mungkin dalam hati kita bilang gak akan pernah sejahat Nazi, tapi nyatanya film bisa menarik garis relate dari kita yang berusaha hidup tentram sekeluarga, sementara mungkin tetangga ada yang sedang kesusahan. Ketika kita membaca berita perang di timeline, menonton berita tragedi di tv atau di internet, posisi kita sudah seperti keluarga Hoss. Kita ‘mendengar’ jeritan itu. Namun seberapa besar tragedi itu mempengaruhi kita. Ending film ini mendorong gagasan itu lebih dekat lagi dengan actually memperlihatkan masa sekarang. Saat ‘hasil kerja’ Hoss dan gengnya nampang di museum. Memorabilia kejahatan itu dijaga, dipajang. Buat apa? Pengunjung museum datang melihat dan belajar sejarah, tapi nyatanya sejarah itu bakal terulang. Karena perang masih ada. Sedang berlangsung.

How do we all sleep at night? Nyenyakkah tidur kita di balik ‘pagar’ masing-masing, meskipun ‘mendengar’ masih banyak kekejian di luar sana?

Pertanyaan tersebut tidak dibiarkan terbuka oleh film ini.  Inilah yang actually bikin film lebih kuat. Karena dia bukan sekadar gambaran realis yang puitis dan menohok. Film punya jawaban dan itu bukan menuding kita semua sama jahatnya ama keluarga Hoss. Film ini justru memperlihatkan bagaimanapun Hoss dan keluarganya berusaha cuek, tapi deep inside mereka terpengaruh juga. Bahwa sebagai manusia, kita tidak akan pernah bisa untuk benar-benar tidak peduli. Dan sebenarnya manusia bakal sama-sama menderita atas kejahatan yang dilakukan kepada manusia lain.

Bukan suara dengung nyamuk yang mengusik saat duduk di taman ini

 

Film ini ingin menggugah kita. Makanya film yang mengincar realisme ini lantas gak ragu untuk di beberapa tempat menjadi sangat jarring. Tiba-tiba menggunakan transisi warna merah tok, misalnya. Film benar-benar ingin memastikan apa yang kita menonton, terasa mengganggu bagi kita. Satu adegan paling tak biasa yang dilakukan oleh film ini adalah adegan di malam hari dengan menggunakan kamera thermal. Kita melihat sesosok perempuan remaja, meletakkan buah-buahan di hutan dan di tempat-tempat yang sepertinya bakal dilewati oleh tahanan di camp. Dia melakukan itu saat hari sudah benar-benar gelap, dan film ini karena mengincar realisme tadi, tidak menggunakan lighting buatan. Melainkan pakai kamera yang memotret suhu tubuh. Alhasil nonton adegan tersebut bergidiknya bukan main. Sosok perempuan itu berpendar putih sementara latarnya gelap. Buatku adegan itu kesannya gadis itu kayak secercah harapan, sekaligus juga nunjukin manusia itu di dalamnya ya ‘putih’.  Baek. Tapi kita semakin jarang punya kesempatan atau keberanian untuk nunjukin itu.

Karakter nenek yang menginap, diceritakan akhirnya pulang diam-diam, karena nuraninya gak kuat mendengar jeritan yang semakin jelas di malam hari yang senyap. Dia gak bisa tidur. Anak-anak Hoss, ada yang diam-diam mengoleksi gigi korban dan merenunginya. Ada juga anak yang mendengar suara orang ditembak dan bergidik sebelum akhirnya kembali main tentara-tentaraan.  Gak ada yang sebenarnya bisa benar-benar hidup nyaman dalam kondisi berperang seperti begitu. Bahkan Hoss pun mendapat pengaruh secara psikologis. Ini jadi cara film untuk mendesain inner journey dari karakter utama. Untuk membuat dia bisa mendapat sedikit simpati, sekalipun aksi nyatanya membuat dia seorang protagonis yang selamanya tidak akan pernah kita jadikan hero ataupun layak mendapat simpati itu. Hoss yang kerjaannya bikin gas chamber, sedang pesta,  semacam dia naik pangkat. Tapi di akhir itu kita melihat dia curhat kepada istrinya lewat telefon, bahwa dia anehnya merasa pengen ngegas orang-orang Nazi di pesta itu. Ini hampir seperti nurani-nya yang bicara. Yang menyeruak keluar. Terbangkitkan karena selama ini dia tinggal begitu dekat dengan para korban. Perjuangan terakhir Hoss sebelum kita melihatnya menghilang ke dalam kegelapan saat turun tangga, adalah pergulatan batin nurani lawan ideologi. Hoss muntah tapi tidak ada yang keluar. This is as good as we can get dari journey dari karakter seperti Hoss, meski kita tahu siapa dari yang menang dari pergulatan personal tersebut.

 




Kupikir, begitu rasa penasaranku dari capaian nominasi film ini terpenuhi, alias sudah nonton, aku bisa tidur nyenyak. Ternyata enggak. Film ini berhasil bikin mikir sampai gak bisa tidur. Desain penceritaannya luar biasa. Menunjukkan betapa ngerinya manusia bukan dari kekejaman fisik, bukan dari eksploitasi kesadisan, ataupun menjual trauma, tapi dari mengontraskan situasi. Dari gimana satu keluarga berusaha hidup nyaman, dengan nyuekin hal di sekitar mereka. Naskah juga enggak puas dengan hanya menjadi gambaran itu. Inner journey karakter, juga tetap digali seperti relationship mereka turut dibahas. Dan film berhasil melakukan itu tanpa merusak gagasan yang diusung. Membuat kita simpati tapi tidak sampai membuat karakternya jadi hero ataupun pantas untuk simpati itu. Siap-siap saja kalau mau menonton ini, karena film ini boleh jadi adalah film paling menakutkan tahun ini. 
The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold stars for THE ZONE OF INTEREST.

 




That’s all we have for now.

Pernahkah kalian melakukan sesuatu yang membuat kalian tidur tidak nyenyak di malam hari? 

Jika berkenan, silakan share ceritanya di komen yaa

Yang penasaran sama serial detektif cilik Home Before Dark yang kusebut di-review Petualangan Anak Penangkap Hantu kemaren, bisa subscribe Apple TV untuk menontonnya yaa. Mumpung ada promo free seminggu nih. Tinggal klik di link ini https://apple.co/3SqRITp

Get it on Apple TV
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA and BEST BOOK REVIEW HORROR & THRILLER EDITION ON TWINKL



AMERICAN FICTION Review

 

“We live in a fantasy world.. the great task in life is to find reality”

 

 

Kita sekarang hidup di dunia fiksi. Memperdagangkan trauma dan kesedihan. Itulah realita yang digambarkan dalam American Fiction, debut penyutradaraan Cord Jefferson. Film adaptasi novel ini di tangannya menjadi komedi satir yang aku pikir bakal bikin gerah beberapa orang, seperti penulis buku/pembuat karya yang memang jadi subjek di dalamnya. Dan walaupun di judulnya ada kata Amerika, satir di film ini gak akan luput mengenai kita di Indonesia. Karena ironisnya, cerita di film ini relate juga dengan kondisi di ‘rumah’. I mean, lihatlah pekarangan sosmedmu. Berapa banyak yang bikin konten yang menuai cuan dari cerita-cerita sedih, cerita orang-orang berantem, atau bahkan cerita kebegoan. Konten yang menjual kalangan minor, ataupun yang sengaja menyasar kepada stereotipe-stereotipe lainnya. Kita sekarang hidup di dunia fiksi. Dunia di mana, sesuai dengan salah satu dialog film ini yang bikin aku ngakak; “The dumber I behave, the richer I get” Film ini begitu lucu karena yang diceritakan benar adanya!

Ya, jaman sekarang idealisme dianggap tidak bisa menghasilkan apa-apa selain stress dan kelaparan. Di cerita film ini, seorang dosen, punya pendidikan dokter, dan penulis novel, Thelonious Ellison yang akrab dipanggil Monk, hidupnya juga mulai menghimpit tatkala novel-novel yang ia tulis dengan serius dan sepenuh hati, katakanlah, tidak laku. Satir film ini langsung ngegas saat publishernya yang kulit putih itu meminta Monk untuk menulis cerita yang lebih ‘black’. Bayangkan disuruh untuk menjadi lebih lokal oleh orang yang sama sekali tidak punya kaitan apa-apa sama kelokalanmu. Lagipula, lanjut sang publisher, pasar cuma butuh dahaga mereka akan konfirmasi bahwa mereka adalah orang yang peduli sama isu terpuaskan. Maka Monk kepikiran menulis novel satir yang isinya penuh oleh stereotipe yang dikenal publik pada ras kulit hitam. Dia menulis buku itu sebagai olokan. Tapi justru buku itu laku keras di pasaran. Kritik dan penikmat kasual – yang hampir semuanya kulit putih – menyukai novel yang sengaja dibikin sebagai pembuktian sampah oleh Monk. Novel, yang ia kasih gimmick ditulis bukan oleh dirinya, melainkan oleh seorang tokoh rekaan. Seorang napi yang kabur dari penjara. Makin meledaklah penjualan novel tersebut saat ‘identitas’ penulis itu diungkap. Sampai-sampai ada produser yang ingin memfilmkan novelnya. Monk, demi keuangan keluarganya, lantas harus memilih; antara tetap menjadi dirinya yang tak bisa menjual apa-apa, atau terpaksa menjadi penulis dan kisah-nyata bohongan yang ia ciptakan sendiri.

reviewamericanfiction
Abis nonton ini, ngereview pun lantas jadi was-was, takut kemakan jebakan pembuat yang seperti Monk

 

American Fiction tayang di bioskop Amerika bulan Desember tahun lalu, hampir bertepatan dengan waktu Jatuh Cinta Seperti di Film-Film memeriahkan bioskop tanah air. Menarik, karena dua film ini basically menggunakan konsep meta yang serupa. Pun sama-sama punya komentar soal industri film/karya tulis negara masing-masing (sama-sama parodiin produser/publisher hahaha). Jatuh Cinta Seperti di Film-Film yang tentang seorang penulis skenario berusaha menulis dan memfilmkan kisah romans dari kehidupan cintanya, currently bertengger di posisi ke delapan dalam daftar Top-8 2023 Movies-ku, dan alasan film itu berada di posisi tersebut adalah karena ada yang mengganjal dari struktur meta yang digunakan terhadap journey karakter utamanya. Film American Fiction ini lantas memberikan kepada kita contoh cara yang benar dalam menghandle konsep tersebut, sehingga journey Monk sebagai karakter utama terasa tetap ‘real’.  Karena American Fiction tidak lantas give in kepada gimmick cerita metanya. Alih-alih menggunakan hitam putih sebagai pembeda, film menggunakan layer akting yang beneran dikaitkan kepada narasi. Monk pria terpelajar kelihatan dari gaya dan cara bicara dia, tapi kita benar-benar ditekankan kepada Monk harus mengubah cara dia bicara, gaya dia menulis, menjadi sesuatu yang stereotipe dan menurutnya degrading ketika dia menulis novel sesuai tuntutan publisher. Akting Jeffrey Wright main betul, dan memang pantas diganjar nominasi. Cara film ini dalam menampilkan sebuah adegan yang ternyata hanya karangan Monk dilakukan dengan sureal namun tetap terang sehingga apa yang sebenarnya terjadi kepadanya tidak pernah tersamarkan sebagai kejadian yang tidak pernah beneran terjadi. Dalam artian, journey yang dilalui Monk tetap jelas, growth yang ia alami tetap kita lihat terjadi kepadanya.

Adegan Monk menulis novel full of stereotypes itu dilakukan dengan menarik oleh film. Monk udah kayak sutradara yang mengawasi dua karakternya berdialog, lalu karakter-karakter tersebut akan balik bertanya “Gue ngomong apalagi nih bos?” atau malah mengkritiknya “Gue ngomongnya gak kayak gitu!” Menyangkut ke perihal satirnya, adegan tersebut dirancang dengan precise sehingga untuk kita – yang merupakan salah satu sasaran sindiran – adegan tersebut akan menghasilkan sedikit perasaan mendua. Adegan dialog itu supposedly nunjukin parody yang jelek, atau beneran bagus. Ketika kita merasakan itulah, pembuktian satir film bekerja dengan benar. Lewat adegan menulis cerita penuh stereotype dan menjual ‘ras’ padahal sebenarnya shallow itulah film membuktikan benar bahwasanya kita sebagai konsumer kadang dengan begonya kemakan konten orang. Kita melihat ‘oh film dari ras minoritas pastilah real, emosinya raw, dan mengusung bahasan sosial yang penting’ padahal itu bisa jadi cuma gimmick. Bisa jadi penulis ceritanya seperti Monk, just making stuff up, memasukkan sebanyak mungkin stereotype karena memang itulah yang lebih gampang laku. Bahwa sekarang kita tidak melihat berdasarkan isi yang sebenarnya, melainkan hanya ikut-ikut tren agenda.

Sebagai seorang terpelajar, Monk tentu saja melawan industri seperti ini.  Ketika ada pengarang kulit hitam lainnya, menulis novel setipe (alias sama-sama jualan stereotipe ras mereka semata), ditambah dari sudut pandang perempuan pula, Monk melihat novel tersebut sebagai gimmick semata. Tentu saja orang akan suka, toh itu cerita hidup perempuan dari ras minoritas. Malah bukan ‘akan suka’ lagi, melainkan ‘harus suka’. Karena kalo ada orang yang tidak suka cerita itu, apalagi si orang yang tidak suka ini adalah kulit putih, maka dia akan beramai-ramai dicap sebagai seorang rasis yang gak peka. Kalo dia pria, maka niscaya dia akan dicap anti feminis. Sebagai pengulas film, aku bisa mengerti yang dirasakan Monk, karena seringkali aku juga merasa ada film yang kayak cuma ngejual stereotype, atau cuma ngejual agenda, tapi dalam menyampaikannya aku agak susah karena takut diserang balik sebagai gak dukung perempuan atau tone deaf terhadap sosial.  Dan permasalahan ini dijadikan film sebagai inner journey dari Monk. Dia yang awalnya berusaha idealis dan blak-blakan menolak, dihadapkan kepada situasi yang membuat dia melihat kenapa ‘industrinya’ jadi begini, dan ultimately dia harus memilih. Pilihannya nantilah yang jadi puncak satir film ini. Ending yang bakal ninggalin kita topik untuk dipikirkan. Karena film yang dibuat sebagai gambaran ini, tidak menawarkan solusi. Melainkan tetap berpegang kepada pencerminan dunia nyata.

Kisah-nyata seperti di fiksi-fiksi

 

Sebenarnya persoalan ini sudah pernah disentuh oleh Jordan Peele dalam filmnya yang berjudul Nope (2022). Secara umum film yang bentukannya horor-creature sci fi itu membicarakan gimana manusia suka mengekspoitasi hal yang berbeda sebagai spektakel. Atau tontonan hiburan. Dan hal yang berbeda itu bisa meliputi ke ras mereka yang dalam cerita film seringkali hanya digunakan sebagai role-role stereotipe dan cukup hanya di role tersebut. Film American Fiction ini tidak lain dan tidak bukan membahas persoalan tersebut lebih dalam dan lebih personal lagi. Stakenya dibuat lebih grounded, supaya filmnya sendiri tidak menjadi hal yang ia kritik. Inilah yang membuat film ini meskipun tidak ada solusi, tapi tetap terasa powerful sebagai gambaran. Karena semuanya dikembalikan kepada karakter yang terpaksa harus memilih. Karena keadaan. Therefore, kepada kitalah sebenarnya cerita ini meminta penyadaran.

Karena pasar gimanapun juga terbentuk oleh permintaan konsumen. Dunia kita sekarang adalah dunia fiksi yang jualan yang laku bukan jualan yang berbobot, melainkan jualan ringan dan not necessarily harus asli, asalkan jualan tersebut bisa membuat orang konsumernya merasa lebih mulia. Sehingga muncullah penjual-penjual yang memperdagangkan kepalsuan. Stereotype, cerita sedih, kebegoan. Semuanya semu, yang dijual maupun yang dirasakan oleh yang beli.

 

 

 

Jadi gimana cara film ini mempertahankan ke-real-an journey karakter? Dengan actually memparalelkan soal kerjaan Monk nulis buku, dengan konflik di dalam keluarganya, yang semuanya dokter. Monk punya adik dua orang (yang satunya mungkin jadi penyebab kenapa film ini gak tayang di bioskop Indonesia), punya asisten rumah tangga yang sudah dianggap sebagai keluarga sendiri, punya Ibu yang mulai digerogoti Azheimer. Dan ayah mereka telah lama jadi urban legend di kota kelahiran, lantaran dulu bunuh diri dengan menembak kepalanya sendiri (film pun sempat-sempatnya menebar dark jokes seputar peristiwa ini dari karakter yang innocently lupa Monk punya riwayat tragedi tersebut). Yang terjadi kepada ayah, kepada ibu, kepada keluarganya keseluruhan digunakan oleh film sebagai stake dan pendorong bagi Monk untuk menentukan keputusan. Serta jadi tempat hati cerita ini berada. Benar-benar terasa seperti kisah karakter yang berjuang. Monk bisa saja menulis tentang keluarganya sendiri, tapi itu tetap belum cukup. Karena seperti ironi yang acapkali dicuatkan oleh film, itu tidak akan terasa real enough bagi pembaca. Satir pamungkas dilakukan oleh film ketika memperlihatkan adegan diskusi Monk dan sejawat sesama juri award literatur, pendapat otentik Monk sama sekali tidak didengarkan oleh juri yang lain, dengan alasan ‘black voices has to be heard’.

 

 




Semakin jauh Monk menulis dari kenyataan, semakin liar dia menggunakan stereotype dan identitas, semakin shallow bahasa yang ia gunakan, semakin nyeleneh judul novel yang ia ajukan, bukunya justru semakin laku. Aku rasa ini adalah salah satu film in recent years yang paling jago dalam menggunakan sindiran ke dalam penceritaan. Kena dan telak semua! Mungkin judulnya aja yang kurang tepat. Dan itupun karena kisah di film ini tidak hanya sedang terjadi di Amerika. Sindiran film akan mengena bahkan kepada kita. I honestly think, kayaknya ini adalah masalah global dunia yang tersentuh sosial media. Bahwa orang-orang peduli sama isu, bukan karena mereka benar-benar peduli sama isunya, melainkan karena dengan merasa peduli mereka merasa jadi pribadi yang lebih baik. Jadilah isu tersebut soal unjuk agenda kosong semata. Makanya film ini terasa urgent. Di luar itu, melihatnya sebagai drama keluarga pun film ini terasa sama kuatnya. Menunjukkan film ini juga punya hati, selain punya otak dan nyali. 
The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold stars for AMERICAN FICTION.

 

 




That’s all we have for now.

Menurut kalian apakah ada alasain lain kenapa sekarang kita seperti mudah kemakan sama konten-konten yang menjual gimmick ketimbang bobot?

Silakan share pendapatnya di komen yaa

Yang penasaran sama serial detektif cilik Home Before Dark yang kusebut di-review Petualangan Anak Penangkap Hantu kemaren, bisa subscribe Apple TV untuk menontonnya yaa. Mumpung ada promo free seminggu nih. Tinggal klik di link ini https://apple.co/3SqRITp

Get it on Apple TV
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA and BEST BOOK REVIEW HORROR & THRILLER EDITION ON TWINKL



MINI REVIEW VOLUME 14 (SOCIETY OF THE SNOW, SELF RELIANCE, NAPOLEON, WONKA, SOUND OF FREEDOM, EILEEN, NEXT GOAL WINS, MAESTRO)

 

 

Kompilasi pertama di tahun 2024 ini disusun sebagai semacam penebusan rasa bersalahku buat film-film Indonesia yang tahun lalu cukup sering dicuekin. Maka, bulan Januari ini, film-film Indonesia yang dapat review full, sementara film impornya dikumpulin untuk edisi iniii. Here they are!

 

 

EILEEN Review

Udah cukup lama gak nemu trope Manic Pixie Dream Girl, eh tau-tau muncul dalam film garapan William Oldroyd, dan ini bukan romance atau something yang fun. Melainkan sebuah thriller psikologis!

Gak banyak yang ngomongin soal film ini, padahal ceritanya lumayan intriguing, dengan ending yang dibikin open perihal akhir dari dua karakter sentralnya. Atau mungkin satu karakter? Di situlah menariknya. So it’s about perempuan muda bernama Eileen, yang gak pernah kemana-mana karena harus ngurus ayahnya; pensiunan sheriff yang kasar dan paranoid, perempuan yang meskipun kerja di penjara tapi hidupnya datar dan bosenin. Sampai penjara tempatnya bekerja kedatangan psikolog baru; Rebecca. Perempuan yang lebih dewasa, lebih berani, lebih luwes, ah betapa menariknya si pirang itu di mata Eileen. Rebecca clearly perwujudan dari hidup ‘impian’ Eileen, relasi mereka benar-benar digali namun dengan underline ambigu dan cukup dark. One thing right yang dilakukan oleh film dalam relasi mereka adalah dengan establish bahwa Eileen bukanlah sudut pandang yang reliable.

Banyak adegan yang caught me off guard, Eileen tiba-tiba menembak kepalanya sendiri, lalu aku baru nyadar adegan itu cuma yang dibayangkan oleh Eileen dan yang dia lakukan sebenarnya berbeda total. Hal-hal kayak gini yang bikin menarik karena kita seperti berjalan di dalam kepala Eileen. Kepala yang punya banyak dark dan deep thought. Tapi di sisi lain, aku bisa melihat kenapa film ini score audiens Rotten Tomatoes-nya rendah. Simply, tidak akan memuaskan jika cerita tidak ngasih kejelasan yang lebih clear dari karakter-karakternya.

The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for EILEEN

 

 

MAESTRO Review

Honestly ini satu film di akhir 2023 yang sengaja kulewat karena kelihatan tipe Oscar bait, biografi berat, method acting, dan banyak ngobrolnya. Tapi ternyata baitnya itu banyak juga yang kena masuk nominasi-nominasi penting di Oscar. Jadi sekarang aku punya PR berat harus nonton film karya Bradley Cooper ini.

Dan setelah nonton, aku rasa aku punya pendapat aneh soal film ini. I know ini adalah cerita tentang komposer legendaris Leonard Bernstein, tentang karir dan kehidupan cintanya. Tapi kok rasanya lebih menarik jika dibahas dari sudut pandang istrinya – yang diperankan oleh Carey Mulligan? Karena istrinya ini yang kayak lebih banyak menanggung drama perihal suaminya yang openly kepada kerabat juga suka lelaki. Konflik internal Leonard memang diselami, gimana dia merasakan efek hampa dari rumah tangganya terhadap performanya menggubah musik. Tapi karena juga dibangun dia seorang genius, dan dia gak pernah benar-benar memilih, cerita dari sudut pandangnya ini jadi lebih kerasa kayak momen-momen untuk showcase ‘bagaimana menjadi seorang Leonard Bernstein’ saja ketimbang beneran sebuah journey karakter.

Makanya film ini jadi terkesan pretentious. Dengan segala treatment hitam putih dan segala macam, film ini masih terasa bermain di area luaran dari kehidupan karakter titularnya.

The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for MAESTRO

 

 

 

NAPOLEON Review

Satu lagi biografi yang masih bermain di luaran. Karya Ridley Scott ini supposed to be epic, tapi malah kayak skip-skip kisah perjuangan Napoleon Bonaparte tanpa banyak menyelami tokohnya sebagai karakter dengan segala kericuhan emosi manusiawi.

Napoleon yang di medan perang gagah naik kuda putih, di rumah tangga ‘galau’ karena pengen punya anak, tapi istrinya yang suka selingkuh, tidak bisa memberikannya anak. Yang diincar film ini sebenarnya kita bisa mengerti; film ingin mengontraskan gimana Napoleon di medan perang, dengan ketika dia di rumah. Dan tentunya juga gimana ketika dua itu bersatu. Apa yang bakal diprioritaskan oleh pejuang yang cinta tanah airnya tersebut. Namun permasalahan utama datang dari pijakan siapa Napoleon itu sendiri. Kita tidak pernah diajak mengenal dia terlebih dahulu. Kita hanya tahu dia orang ambisius, yang punya strategi dan also flawnya tersendiri. Kita tidak melihat ke dalam, kenapa dia bisa menjadi seambisius itu.

Aku gak pernah terlalu mempermasalahkan keakuratan sejarah, kostum, atau malah bahasa sekalian. Karena aku sendiri juga gak paham, dan kurang banyak baca. Hanya, ketika karakternya tidak bisa kita ikuti, ketika kita hanya disuruh lihat kehebatan dan kejatuhannya, film jadi masalah karena hanya kayak cerita kosong. Hiburan nonton film yang durasinya panjang banget ini cuma adegan-adegan perangnya saja. Adegan perang di salju buatku lumayan memorable.

The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for NAPOLEON.

 

 

 

NEXT GOAL WINS Review

Dari kisah nyata tim sepakbola American Samoa yang bukan hanya gak pernah nyetak gol, tapi juga terkenal lantaran pernah kalah dengan skor lebih dari 30 – kosong lawan Australia. Aku bahkan bukan penggemar sepakbola, tapi aku tetap nonton karena tau ini buatan Taika Waititi, jadi aku ngerti ngarepin humor yang seperti apa. Dan aku memang beneran terhibur menyaksikannya sampai habis.

Humor khas Waititi udah kayak acquired taste. Waititi mendaratkan karakter sebagai manusia dengan membuat mereka bertingkah konyol dan norak. Terkadang konsep ini susah diterima oleh penonton, terutama ketika manusia yang jadi subjek cerita diambil dari misalnya tokoh nyata, atau sesuatu yang dipandang lebih serius. Waititi pernah mencupukan drakula, menorakkan Dewa Asgard, pernah mengkonyolkan ideologi nazi, dan kali ini dia mengkarikaturkan perjuangan atlet sepakbola. Buatku ini gak masalah. Yang perlu diingat adalah dia tidak melakukan itu untuk semata meledek, tapi untuk membantu kita melihat karakternya di level yang menapak. Hati di balik ceritanya masih terasa serius. Kayak di film ini.

Secara plot, memang ini formula standar tim/karakter underdog yang bakal berjaya di pertandingan/kompetisi. Mereka menang sebagai bentuk menjadi diri yang lebih baik, yang ‘dipelajari’ selama latihan dan menjalani hubungan persahabatan bersama. Tapi dengan konsepnya, Taika Waititi bisa membuat ‘match puncak’ cerita ini punya penceritaan yang berbeda. Dan konsep penceritaan itu works, karena karakter-karakternya lebih mudah untuk kita dekati. Protagonis utama film ini adalah pelatih kulit putih yang dikirim untuk melatih tim samoa, awalnya sebagai hukuman. Bagi si pelatih, ini juga adalah journeynya menemukan peace terkait sepakbola dan hubungannya dengan putrinya. Taika Waititi juga ngasih pendekatan baru sehubungan dengan relasi putrinya tersebut. Jadi, kelihatan usaha untuk tidak membuat cerita ini kayak white savior story, dengan bahasan ke grup sepakbola dan protagonis sama-sama berjuang memperbaiki diri. Menurutku sebenarnya film ini bisa lebih banyak lagi bermain di arahan yang kuat, dan mestinya bisa benar-benar lepas dari formula bangunan cerita yang sudah seperti ada standarnya.

The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for NEXT GOAL WINS.

 




SELF RELIANCE Review

C’mon. Ada Anna Kendrik, ada Jake Peralta, dan ini film dibuat oleh Nick Miller! Of course, I’m gonna watch it and like it!!!

Bias aside, kupikir komedi-thriller debut penyutradaraan Jake Johnson ini dosanya cuma satu. Kurang aneh. Pembelajaran karakternya terlalu on the nose diakui oleh si tokoh utama. Sepanjang ngikutin cerita menguak itu, kayak, kita ngarepin kekonyolan yang lebih wah, tapi film seperti menahan diri. Hampir seperti agak sedikit terlalu mengasihani karakter utamanya. Atau mungkin, Jake gak mau terlalu absurd pada film pertamanya ini, jadi merasa kudu jaim dikit.

Padahal dari ceritanya aja udah gak biasa. Pria bernama Timmy kesepian yang bosan sama hidupnya (bukan bosan hidup loh) terpilih ikut game dark web aneh berhadiah uang yang banyak. Selama sebulan dia akan jadi buruan, orang-orang akan membunuhnya, jika dia tidak bersama orang lain. Jadi Timmy berusaha meyakinkan kerabat untuk terus bersamanya. Dia sampai membayar gelandangan untuk basically jadi bayangannya ke mana-mana. Premis yang menggelitik. Karakter-karakternya ajaib, mulai dari keluarga Timmy yang gak percaya, sampai pemburu-pemburu dengan ‘cosplay’ unik. Yang paling bikin ku ngakak adalah ‘ninja-ninja’ tim produksi dark web yang ngikutin Timmy tanpa disadari. Bahasan yang dikandung di balik itu semua sebenarnya juga sama menariknya, tema utamanya adalah soal hubungan kita dengan orang lain – kepercayaan, ketergantungan, dan sebagainya. Menurutku film ini berhasil ngehandle bahasan tersebut dengan baik di balik karakter dan situasi yang gak biasa.

The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for SELF RELIANCE.

 

 

 

SOCIETY OF THE SNOW Review

Kita tahunya cerita tentang tim rugby Uruguay yang pesawatnya jatuh di pegunungan Andes 70an adalah cerita yang cukup sensasional. Horor, kalau boleh dibilang. Karena mereka survive berminggu-minggu itu dengan terpaksa jadi kanibal. Makan daging dari teman-teman mereka yang gugur lebih dulu. Sutradara Spanyol J.A. Bayona mengadaptasi buku yang menceritakan kisah survivor, menjadi film yang tidak menjual horor keadaan tersebut, melainkan film yang dengan respek menyelami keputusasan personal dari yang masing-masing para penyintas kejadian tersebut alami.

Lihat saja gimana film menceritakan soal makan mayat itu sendiri. Dilema moral yang dialami para karakter terasa bahkan lebih menusuk daripada angin salju mematikan yang harus mereka tahan. Dulu Hollywood pernah bikin film dari kisah ini. Film Spanyol ini melakukan banyak hal lebih baik dari yang dilakukan oleh film tersebut. Film ini benar-benar membangun para survivor sebagai satu tim. Kita melihat mereka sebelum, saat, sesudah kejadian naas tersebut. Karenanya, kita dibuat merasakan langsung naik turun dan penderitaan mereka. Cara film membalancekan porsi, serta juga tone cerita juga sangat apik. Jelas ini bukan cerita satu tim yang bisa diapproach dengan komedi seperti yang dilakukan Waititi di Next Goal Wins tadi, tapi film ini paham untuk tidak serta merta menjual tragedi dari tim ini. Hubungan erat mereka yang terjalin semakin erat dipotret benar seperti dari sudut pandang anak muda. Momen-momen kayak mereka menikmati secercah cahaya mentari terasa sama kuat dan menggetarkannya dengan momen mereka harus meringkuk saling menghangatkan badan di tengah dinginnya malam.

Yang dilakukan sedikit aneh oleh film ini menurutku cuma naratornya. Berbeda dengan film Alive buatan Hollywood tahun 1993 dulu, film ini gak punya karakter utama yang jelas. Narator yang ‘bicara’ kepada penonton actually adalah tokoh yang enggak survive, tewas di pertengahan cerita. Mungkin ini disadur langsung dari bukunya. Menurutku, paling baik jika kita menganggap karakter utama film ini adalah mereka semua sebagai satu tim. Bukan sebagai perseorangan. Walau, sangat jarang sekali ada naskah yang mengtreat sudut pandang utama seperti begitu.

The Palace of Wisdom gives 7.5 gold stars out of 10 for SOCIETY OF THE SNOW.

 

 

 

SOUND OF FREEDOM Review

Film ini bukannya tanpa kontroversi. Meski maksudnya baik. Sutradara Alejandro Monteverde mengangkat isu perdagangan anak, crime serius yang berlangsung – ngerinya – di berbagai belahan dunia. Lewat film ini dia ingin supaya kepala-kepala kita lebih serius menoleh ke persoalan ini. Betapa mengerikannya bagi orangtua untuk kehilangan anak. Sindikat dan tindak kriminal ini harus segera diberantas hingga ke akar-akarnya. Dan ultimately jangan sampai ada anak lain yang jadi korban.

Masalahnya film ini easily fall ke jebakan cerita yang seperti diacknowledge Taika Waititi di Next Goal Wins tadi. Bahwa ceritanya bakal jadi kayak glorifikasi white savior belaka. Lubang jebakan inilah yang tidak diberhasil terhindari sepenuhnya oleh penceritaan Sound of Freedom. Alih-alih mencuatkan awareness kita terhadap kasus perdagangan anak, film yang diangkat dari penyelamatan nyata ini hanya seperti mengadegankan ulang dengan fokus cerita kepada keberhasilan si karakter utama, polisi kulit putih, memenuhi janjinya kepada ayah korban. Walaupun si protagonis ini reflect so hard soal dia juga sebagai ayah, dan bisa saja itu terjadi kepadanya, tapi film ini memang tampak seperti terlalu Hollywood dengan aksi penyelamatan heroik dan sebagainya. Seolah itulah jualan utamanya.

Belum lagi gambaran penculikan anak, dan keadaan anak-anak yang jadi korban itu divisualkan terlalu sering dan terlalu gamblang. Yang sebenarnya gak perlu. Seperti yang kusebut waktu review Like & Share (2023), kita tidak perlu ‘melihat’ langsung untuk bisa bersimpati.

The Palace of Wisdom gives 4 gold star out of 10 for SOUND OF FREEDOM

 

 

 

WONKA Review

“Oompa, Loompa, doompa-dee-doI’ve got another review for youOompa, Loompa, doompa-dee-deeIf you are wise, you’ll listen to me”

Hahaha enggak ding. Aku suka aja sama lagu Oompa Loompa, baik itu di versi film original maupun versi film Tim Burton. Such a classic characters, Willy Wonka dan Oompa Loompa. Ketika ada film barunya, digarap oleh Paul King yang udah sukses ngasih dua film Paddington yang penuh fantasi dan komedi, aku dilanda ekspektasi dan kebingungan sekaligus. Wonka versi mana yang bakal diikutin. Turns out, film ini seperti berhasil mengambil jalan tengah dalam mempersembahkan kisah Willy Wonka waktu masih muda. Dan film ini pun dengan gemilang mengadaptasi karakter-karakter unik – yang di film-film terdahulu bisa kita perdebatkan ‘sedikit usil atau memang secretly jahat’ – ke dalam sebuah penceritaan magical dan kini terasa lebih bersahabat. Lezat!

Seperti coklat, what’s not to like dari film ini? Paling mungkin si Wonka-nya sendiri, yang tampak agak terlalu optimis dan terlalu baik. Film ini ceritanya tentang Wonka yang tiba di kota, bermaksud membuka toko coklat sendiri. Tapi buka usaha itu gak gampang. It’s about rebutan pasar. Bisnis vs. idealis. Wonka ketipu dan kini dia malah harus menebus dirinya kerja di laundry, never to make chocolate again. Bersama teman-teman yang tersentuh oleh coklat dan keajaibannya, Wonka berjuang membangun tokonya sendiri. Karakter Wonka ini toh punya vulnerable dan misi personalnya sendiri. Dia pengen penuhin janji kepada ibu. Dan ini yang mendaratkan karakter yang punya segudang coklat ajaib itu. Kemudahannya membuat coklat, keajaiban-keajaiban sulapnya, itu bukan exactly yang ingin dibahas oleh film. Struggle seorang seperti Wonka-lah yang jadi menu utama.

Tone sebagai hiburan keluarga terasa kuat, adik-adik yang baru kenal akan terhibur karena di sini juga banyak musical numbers yang sama ajaibnya, sementara kakak-kakak yang pengen nostalgia akan seseruan melihat gimana awal Wonka bisa kerja sama ama Oompa Loompa

The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for WONKA.

 




 

 

That’s all we have for now

Januari memang kerasa panjang banget. Dengan mini review ini, berarti ada total 14 film yang berhasil direview bulan ini. Awal yang bagus untuk 2024. Semoga bisa bertahan di sekitaran ini untuk ke depan yaa hahaha

Thanks for reading.

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



ANCIKA: DIA YANG BERSAMAKU 1995 Review

 

“Don’t ever go back to your old ways that do not work. That’s the reason you changed them in the first place.”

 

 

Oh Tuhan, there’s two of them!” Kemudian aku tergelak di bioskop. Dilan ada dua, dan maksudku bukan soal ini adalah film Dilan dengan pemeran yang berbeda. Melainkan, karena di cerita Pidi Baiq yang kali ini disutradarai oleh Benni Setiawan, Dilan finally found his match. Dan ‘match’ yang kumaksud bukan soal pasangan doang, melainkan lebih ke Dilan akhirnya ketemu ‘lawan’ yang sepadan. Dalam wujud perempuan berambut sebahu bernama Ancika. Like, Dilan mau ngegombal dikit, langsung kena selepet yang gak kalah ngocol dari Ancika. Belum pernah kan lihat Dilan nginyem karena dicounter? Haha ya, akhirnya film yang jadi penutup perjalanan cintanya ini memang menghadirkan sosok yang sedikit berbeda dari Dilan yang sudah familiar. Dilan kini agak lebih kalem. Dia sudah lebih dewasa dari terakhir kali kita menontonnya. Dilan sudah kuliah, dan itu adalah tahun 1995 yang mulai bergejolak dengan situasi politik. Karena itu, tentu saja kita jadi punya ekspektasi bahwa cerita yang dihadirkan juga jadi sedikit lebih dewasa dari sebelumnya Dan again, maksudku dewasa dalam artian lebih matang loh, bukan dewasa yang ngeres. Itu mah namanya bajingan, kalo kata Ancika.

Mungkin karena Ancika memang masih anak SMA. Film ini sukurnya tidak lagi mempertahankan konsep ‘lucu’ trilogi Dilan, yang perspektifnya gak klop ama judul; Dilan 1990Dilan1991 tapi ceritanya dari perspektif Milea, eh begitu judulnya Milea, ternyata ‘suara’ dari Dilan! Film Ancika ini memang mengambil perspektif utama dari Ancika, gadis remaja yang ngocol, pinter. berani, bahkan cenderung galak sama cowok-cowok yang nekat naksir dia. Zee JKT48 nails her character’s traits soundly. Secara karakterisasi, Ancika jauh lebih kaya ketimbang karakter Milea di film 1990. Ancika tidak pernah tampak seperti kertas kosong. Kehidupan sekolahnya terasa lebih kuat. Ancika ini kayak Dilan versi cewek, ketika dia berinteraksi kepada teman-temannya hahaha.. Kita juga gak perlu nunggu film berikutnya untuk mengenal lebih dekat Ancika dalam lingkungan keluarga dan pribadinya. Ancika juga sudah punya motivasi dan sikap yang tegas.. Dia pengen masuk Unpad. Dia gak mau pacaran. Inilah yang mendapat ‘tantangan’ nanti ketika dia bertemu dengan salah satu teman kuliah mamangnya, yaitu si Dilan.

Mengingat kondisinya, aku pikir film mengintroduce Dilan ke dalam cerita Ancika dengan well done. Humble, mungkin lebih tepatnya. Tidak demikian terasa seperti sosok yang dikultuskan. Meskipun memang di dalam cerita si Dilan ini dikenal oleh banyak orang. Aksi dan kisah cintanya udah kayak urban legend di Bandung 1995. Teman-teman sekolah Ancika, terutama anak-anak cowok yang hobi motoran, menganggap Dilan sebagai senior yang wajib dihormati. Tapi si Dilan itu sendiri tampak ‘kalem’ dan ya, lebih dewasa di balik keunikan yang menjadi pesonanya. Dilan versi film ini adalah mahasiswa seni rupa ITB, seorang aktivis. I give huge props buat Arbani Yasiz yang membuat kayak gampang meranin berbagai karakter yang punya identitas lokal yang kuat. Belum lama ini dia beliveable banget jadi pemuda Minang di Ranah 3 Warna (2021), dan kini dia pentolan pemuda Sunda, yang amazingnya lagi melanjutkan ke versi yang lebih dewasa dari karakter yang populer dimainkan oleh aktor yang lain sebelumnya, without missing any beats of that character. Dilan versi Arbani tampak lebih tenang, lebih bijak, tapi tetap dengan tingkah dan effort yang ajaib. Dibilang less gombal, enggak juga. Dilan versi Arbani tetap punya segudang kata-kata maut yang ampuh untuk membuat perempuan se’tangguh’ Ancika tersipu. Kayaknya, karena Dilan versi Arbani ini lebih believable sebagai aktivis yang turun ke jalan, yang berantem, maka kita lebih gampang ‘tolerir’ terhadap gombalnya. Membuat dia jadi enggak cringe. Karena dia kelihatan lebih dari sekadar tukang gombal sok jagoan

Tidak lagi pengen nimpalin dengan teriakin ‘Pret!!’ setiap kali Dilan selesai ngomong.

 

Hati dari cerita memang masih seputar romans. It feels genuinely sweet, dengan karakter yang juga genuine menarik. Ancika tumbuh ketertarikan sama Dilan. Pemuda yang mengucapkan terima kasih telah dibikinin minuman, lewat secarik surat. Mahasiswa yang membantunya bikin PR resensi novel, walaupun berakhir memalukan. Cowok yang bilang mereka banyak kesamaan, mungkin karena salah satu dari mereka ada yang nyontek – purposely bermain-main dengan ekspektasi dirinya. Film membuat Dilan mencuat di mata Ancika bukan karena pemuda itu ngotot mengejar si anak SMA. Tapi ada build up. Film ngasih ruang bagi Ancika untuk melihat dan membandingkan Dilan dengan cowok-cowok lain yang tertarik kepadanya. Aku suka gimana Ancika yang digambarkan cuek dengan penampilan, merasa perlu dandan padahal occasion-nya cuma belajar bareng Dilan di ruang tamu. Ketertarikan yang naturally bertumbuh itu jadi layer, di balik ‘konflik’ yang juga dibangun seputar Dilan yang punya masa lalu. Dan masa lalu Dilan bukan cuma tentang Milea, melainkan juga soal ‘hobby’-nya sebagai geng motor. Masa lalu – mantan-mantan – Dilan ini yang bikin Ancika ragu. Ancika bukannya mau ‘memperbaiki’ Dilan, seperti yang berusaha Milea lakukan di Dilan 1991. Ancika cuma khawatir Dilan akan kembali kepada masa lalunya tersebut, kepada either or both of those. Apalagi kemudian Ancika melihat Dilan ikutan demo mahasiswa, Berantem ama polisi? Bagi gadis itu cowok yang ia suka itu begitu volatile. Bisa sewaktu-waktu kembali ke masa lalu, dan itu berbahaya baginya.

Ke-insecure-an Ancika bersumber dari masa lalu Dilan. Sikap yang relate sih buat remaja-remaja generasi sekarang. Apalagi belakangan marak narasi seputar ‘mau gimanapun, kita akan kalah sama mantan’. Kisah Ancika dan Dilan mengajarkan kita bahwa masa lalu memang akan jadi bagian dari kita, enggak akan pernah lepas dari siapa diri kita sekarang. Tapi bukan berarti kita harus kembali kepada masa lalu. Kita kudu ingat bahwa ada alasannya masa lalu itu menjadi masa lalu. Karena ada sesuatu yang not working, dan kita mau memperbaikinya. Jadi, biarkanlah masa lalu untuk jadi pembelajaran saja.

 

Kita bisa lihat sebenarnya cerita Ancika ini memang punya modal untuk garapan yang lebih berbobot (kalo gak mau dibilang dewasa) walaupun perspektifnya datang dari anak SMA. Bahkan sebenarnya justru menarik ketika persoalan seperti penangkapan aktivis dipandang dari mata anak sekolah. Gimana orang-orang yang sedang fokus berjuang ke depan ‘terhalang’ oleh jebakan masa lalu. Aku suka saat Ancika marah kepada Dilan, karena marahnya bukan sekadar cemburu. Melainkan karena merasa dipermalukan. Aku sebenarnya pengen film ini mengeksplorasi lebih banyak pada sudut-sudut dan emosi yang unik seperti demikian. Toh Ancika memang dibentuk berbeda dari Milea. Ancika punya cerita dan masalahnya sendiri, mau itu personal maupun terkait Dilan. Sayangnya, film yang memuat karakter yang lebih dewasa dari sebelumnya ini, yang punya perspektif muda dalam lingkungan yang lebih berbobot ini, yang berpesan untuk tidak kembali kepada masa lalu ini, sendirinya masih terasa tidak mau berbeda dengan film-filmnya yang telah lalu.

Dalam artian, film ini sendirinya seperti menolak untuk jadi dewasa. Masih menolak untuk berpikir audiens mereka bisa menghandle cerita yang lebih berbobot. Sure, film ini dibuat untuk anak muda. Lebih untuk remaja usia Ancika ketimbang usia Dilan. Tapi lihatlah si Ancika. Perspektifnya yang lebih mature dari Milea, atau bahkan beberapa kali lebih mature daripada Dilan yang lebih sering kegep kembali menekuni perbuatan di masa lalu, terasa enggak mencapai full potensial ketika cerita masih meng-treat karakter mereka untuk pacar-pacaran ‘biasa’ saja. Film seperti melihat kesuksesan trilogi terdahulu – yang kurasa kita setujui bersama sebagai film kayak snack yang isinya angin doang – dan menganggap itu sebagai standar yang harus dikalahkan. Bahwa film ini harus ngimbangin itu, maka film ini juga harus sukses menarik perhatian anak muda/remaja dengan cara yang sama. Yang malah membuat film ini seperti meremehkan Ancika-Ancika lain di luar sana.

On second thought, penggemar JKT48 mungkin berpendapat berbeda soal film ini dibuat untuk remaja usia Ancika?

 

Bayangan keberhasilan film-film terdahulu, menurutku membuat film ini tak maksimal sebagai cerita barunya sendiri. Momen-momen seperti Dilan hilang, curiga tertangkap saat aksi demo, seharusnya bisa membuat babak ketiga cerita lebih intens bagi Ancika. Namun justru pada babak terakhir-lah film ini flat. Film seperti mengawang, bingung mendaratkan cerita. Bingung mencari daratan yang bikin lebih baper, ketimbang aksi atau konklusi yang lebih true ke development karakter. Akibatnya, sikap Ancika yang di awal tegas menolak label pacaran (also, momen seru lain sebenarnya melihat Dilan ‘struggle’ menyingkapi tolakan Ancika dengan respek) jadi gak terasa punya journey yang clear sampai bisa berubah menjadi mau pacaran. Penyelesaian manis tiga tahun kemudian pun lantas jadi seperti diburu-burukan. Apa yang seharusnya dapat menjadi sebuah konklusi suka ci(n)ta dari kehidupan segitu banyak karakter yang saling terhubung di setting dunia yang sudah kuat merekat, jadinya hanya terasa berfungsi seperti hiasan cute supaya penonton pulang dengan perasaan puas semata.

 

 




Fungsinya memang terlaksana. Film ini jadi penutup yang hangat. Tapi kupikir harusnya film ini bisa lebih. Satu film ini harusnya bisa lebih nendang ketimbang trilogi sebelumnya, karena memang ini much better secara materi dan eksekusi teknis. Dari trilogi Dilan, menurutku yang paling lumayan adalah Dilan 1991, dan film kali ini bahkan lebih kuat daripada film itu. Props juga buat akting dua karakter sentral. Dinamika dan chemistry mereka tampak fun. Tapi kemudian film ini melakukan hal yang sudah benar tidak dilakukan oleh karakternya. Kembali ke masa lalu. Keinginan untuk tetap ringan, menghambat film. Karena ceritanya sebenarnya sudah berkembang, sudah lebih dewasa. Karakter-karakternya juga. Walau masih muda, perspektif mereka lebih berbobot. Film tidak diarahkan mengikuti kedewasaan mereka. Sehingga belum terasa maksimal. Aku gak minta untuk jadi ribet dan njelimet, tone ringan dan uniknya sudah tepat, tapi at least development mereka tidak diloncat. Manis tidak diburukan. Situasi latar dunianya juga bisa paralel dan lebih nyantol dengan lebih enak.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for ANCIKA: DIA YANG BERSAMAKU 1995

 

 




That’s all we have for now.

Dari empat film universe Dilan, urutan favorit kalian seperti apa? Apakah menurut kalian, Dilan bakal jadi romans remaja klasik di masa depan?

Silakan share pendapatnya di komen yaa

Jangan lupa untuk subscribe Apple TV, ada banyak serial dan film-film original yang tayang di sana. Di antaranya adalah Killers of the Flower Moon yang masuk dalam Daftar Top-8 Film Favoritku tahun 2023. Tinggal klik di link ini yaa https://apple.co/3QWp4Yp

Get it on Apple TV
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA and BEST BOOK REVIEW HORROR & THRILLER EDITION ON TWINKL



TRINIL: KEMBALIKAN TUBUHKU Review

 

“How do you sleep at night?”

 

 

Fenomena ketindihan jadi salah satu bahasan dalam comebacknya Hanung Bramantyo ke ‘ranah’ horor. Waktu kecil, aku cukup sering ngerasain ketindihan. Mungkin karena dulu itu aku suka minum softdrink dan minuman manis-manis lainnya, sehingga walau badan udah tidur, pikiranku masih aktif kemana-mana kebanyakan gula. Memang, secara medis, ketindihan yang disebut dengan sleep paralysis merupakan keadaan ketika seseorang tidur tapi dia merasa masih sadar, hanya tidak bisa bergerak ataupun berbicara, sampai mulai mengalami ilusi yang dianggap mengerikan. Aku masih ingat jelas betapa anehnya perasaan saat ketindihan. Yang kualami, udara atau ruang di kamar itu terasa membebani sementara mataku terpaku ke gorden di jendela, gak bisa pindah melihat ke titik lain. Lalu suara-suara. Aku mendengar suara orangtua lagi ngobrol di luar kamar, tapi suara mereka terdistorsi. Seperti ada yang memainkan setting audio sehingga kadang suara itu jadi melambat, atau juga jadi mencepat. Maka dari itu aku tertarik pengen nonton Trinil: Kembalikan Tubuhku ini. Aku ingin melihat gimana jadinya jika experience ketindihan tersebut ‘diadaptasi’ jadi full cerita horor. Bagaimana pengalaman seperti yang pernah kualami itu divisualkan. Terlebih, kalo di barat sono, ketindihan diasosiasikan dengan iblis wanita seperti Succubus atau Incubus yang duduk di dada orang yang berbaring hendak tidur. At least, kupikir Trinil bakal ngasih serangan horor psikologis. Tapi ternyata, Hanung membuat film ini dengan lebih straight forward. Ketindihan itu hanya bentuk lain dari kesurupan. Despite latar peristiwa politik 70an yang membayangi, Trinil yang diadaptasi dari drama radio 80an ini hanya horor kejadian-kejadian, yang berisi eksposisi dan pengungkapan, tanpa benar-benar menyelami karakternya.

Trinil adalah panggilan masa kecil untuk Rara, perempuan keturunan wanita pribumi dengan meneer Belanda juragan perkebunan teh di Jawa Tengah 1977an.  Meski panggilan kecilnya sama, tapi Rara enggak seperti Ibu kita Kartini. Rara orangnya cerdas, tapi cukup galak. Ketika dia dan suaminya kembali ke rumah besar mereka di tengah perkebunan dari bulan madu, Rara yang gak sadar dirinya mengalami ketindihan setiap malam, memarahi orang-orang yang berusaha menolong. Areal perkebunan mereka memang sedang dihantui oleh sosok hantu kepala perempuan, yang diduga menjadi penyebab banyak pekerja yang mati misterius. Either gantung diri, atau tercekik di tempat tidur masing-masing. Sutan suami Rara mengundang teman yang bisa mengusir hantu ke rumah mereka, tapi Rara pun sempat ribut dengan Yusof si dukun Melayu. Memprotes cara kerja Yusof yang ingin menyelidiki origin si pengganggu, Rara justru inginnya si hantu kepala terbang itu segera diusir sebelum kejadian mengerikan di perkebunan mereka diketahui publik secara luas.

Begitu lihat pemainnya, ku baru ngeh kenapa kepala hantu itu mirip Scarlet Witch

 

Dua film horor Hanung sebelumnya, Legenda Sundel Bolong (2007) dan Lentera Merah (2006), dibuat dengan landasan sejarah yang kuat. Sama-sama berhubungan dengan peristiwa politik di tahun 1965. Pada film horor terbarunya ini pun, Hanung mengisi latar itu dengan latar sejarah. Era 70an saat Indonesia memasuki fase Pemilu dengan tiga partai peserta untuk pertama kalinya. Soeharto akan menjabat kembali, situasi politik memanas, dan banyak pembunuhan terjadi terutama di kalangan ulama. Namun sebagaimana dengan ekspektasiku terhadap bahasan ketindihan, ekspektasiku terhadap landasan sejarah ini juga tidak mendapat balasan yang memuaskan. Selain set up informasi dari headline koran-koran sebagai kredit pembuka, latar tersebut tidak terasa betul dimainkan di dalam cerita. Mungkin karena aku juga gak begitu paham seperti apa kejadian politik tersebut, asumsi terbaik yang bisa kuberikan adalah kemelut rumah tangga atau keluarga yang dialami karakter, kejadian-kejadian mengerikan yang terjadi kepada mereka, tebas-tebas kepala, tidur di malam hari dalam ketakutan, merupakan penggambaran horor dari kejadian politik tersebut. I’m not sure, mungkin kalian yang lebih ngerti politik bisa berbagi di komen soal gimana latar politik itu actually dimainkan ke dalam penceritaan film ini.

Bagiku sebagai penggemar film khususnya horor, yang jelas cukup berhasil dilakukan oleh Hanung di sini terkait era jadul adalah menghantarkan vibe horor di era tersebut. Film ini dengan sosok kepala terbangnya, ketawa cekikikan khas hantu wanitanya, bahkan penyelesaian dengan ayat suci, terasa seperti horor era 80an. Hanya dengan kualitas desain yang lebih kinclong. Percakapan dari para karakter yang sangat diverse juga menambah pada kesan ini. Karakter ceritanya ada yang orang Jawa, Medan, Belanda, hingga Melayu. Cukup memberikan warna. Harapannya sih harusnya semua aspek di sini diperdalam lagi. Penceritaannya dilakukan dengan lebih matang lagi. Karena yang actually kita saksikan, bisa dibilang masih berantakan. I don’t even know where to start. Baiknya mungkin dari tampilan horornya. Film ini sebenarnya bermain dengan build up yang baik dan terencana. Kita dikasih tau dulu ‘suasana’ yang mencirikan si hantu bakal muncul. Ada lagu khususnya, juga. Film perlahan membendung sosok si hantu. Awalnya ditampilkan lewat bayangan kepala terbang. Ini buatku efektif sekali, karena somehow kayak lihat sebuah pertunjukan shadow puppet alias wayang yang sangat seram. Kemudian di tengah-tengah durasi barulah film beralih ke trik-trik jumpscare. Si hantu kepala terbang itu bisa muncul kapan saja, tau-tau ada di akhir panning kamera. Inilah bentuk film menaikkan intensitas horornya seiring meningkatnya tensi cerita. Arahan yang jempolan, hanya saja masalahnya adalah cerita yang dipunya. Seperti yang sudah kusebut, film ini tidak menyelami karakternya.

Ketindihan tidak dibuat sebagai teror psikologis seseorang yang restless atas hal buruk yang di masa lalu pernah mereka lakukan dan mereka masih dihantui perasaan tersebut meskipun berusaha bersikap keras untuk move on hidup seperti biasa. Ketindihan di sini hanya bentuk lain dari kesurupan, dan karakternya hanya bereaksi terhadap rasa takut. Siapa dan apa yang sebenarnya mereka rasakan di balik ketakutan itu ditutupi oleh film, yang memilih bercerita dengan formula pengungkapan-pengungkapan ‘ternyata begini, ternyata begitu’

 

Ini sangat mengecewakan karena karakter Rara dan Sutan suaminya sebenarnya kompleks. Mereka ini bentukan protagonis yang amat dark. Tapi alih-alih membahas psikologis mereka sebagai sudut pandang utama, film memilih untuk menyimpan sebagai ‘twist’ dan karakter mereka dari awal hingga ke pertengahan-akhir di-reduce sedemikian rupa, hingga penonton di studioku lebih banyak ketawa ngelihat mereka teriak-teriak ketakutan. Ngeliat Sutan yang kayak penakut kocak. Ngeliat Rara yang kayak sok galak tapi nyalinya ciut juga. Selain motivasi, dinamika dua karakter sentral ini sebagai pasangan juga jadi tidak jelas. Like, film bahkan tidak benar-benar berhasil melandaskan kenapa mereka bisa jadi suami-istri yang kompak dan saling cinta. Karena peristiwa mereka bisa ‘jadian’ itu saja melibatkan sengketa berdarah yang cukup pelik. Dengan ‘menyembunyikan’ kompleksnya karakter mereka, film malah jadi bergantung kepada karakter pendukung untuk menggerakkan cerita. Di sini bagiku konyolnya. Karakter dukun dari Malaysia itu, si Yusof, entah kenapa malah dibentuk seperti hero utama. Bentukan dan karismanya dibuat lebih gede daripada Sutan. Dia lebih rasional dan lebih beralasan daripada Rara. Plot jalan karena investigasi yang dia lakukan – bayangkan seorang detektif yang nyentrik, dan supernatural. Dia dibentuk seperti hero, tapi lantas dicut dari cerita sebagai just another surprise setelah fungsi utamanya dirinya sebenarnya terlaksana. Yaitu jadi alat buat mewakili kita mendengar flashback eksposisi.

Trinil: Kembalikan Waktuku

 

Ah, ya, flashback eksposisi. Plot device kegemaran horor-horor Indonesia yang terlalu napsu pengen tayang cepet sehingga malas merampungkan naskah dengan benar. Sebenarnya makek flashback itu gak dosa. Cuma yang sering gak bener adalah pemakaiannya, yang kebanyakan hanya jadi shortcut, hanya jadi ‘kemudahan’ untuk menyampaikan sesuatu. Gini, ketika seorang karakter menceritakan kejadian masalalu, maka flashback kejadian yang kita tonton harusnya ada menampilkan si karakter tersebut. Karena logikanya, dia tidak bisa bercerita tentang hal yang tidak ia ketahui. Kecuali yang ia ceritakan adalah sebuah legenda. Tapi meskipun begitu, film yang bagus akan menggunakan flashback legenda tersebut sebagai sesuatu untuk sang karakter. Entah itu legendanya ternyata salah karena ia adalah karakter yang tak-bisa-dipercaya, atau at some point diungkap peran dia terhadap legenda tersebut lebih besar daripada kelihatannya. Di Trinil, flashback eskposisinya adalah masa kecil Rara, dan kejadian sebenarnya di balik ibu Rara yang menghilang, yang menghubungkan misteri kematian dengan hantu kepala terbang. Flashback tersebut diceritakan kepada Yusof, oleh seorang karakter yang tidak pernah dibangun reliabilitasnya kenapa dia bisa sampai tau semua itu. Kenapa dia bisa sampai tahu posisi eksak orang-orang di dalam cerita, kenapa dia sampai tahu cerita dari berbagai sudut pandang tokoh. Inilah kenapa aku bilang penceritaan harusnya dilakukan dengan lebih matang. Karena semua informasi itu belum benar-benar diramu penyampaiannya. Naskahnya masih kayak basic draft, bahkan karakter-karakternya masih terasa lebih seperti device ketimbang manusia yang hidup di dunia cerita itu sendiri. Pembelajaran Rara, momen yang nunjukin dia berubah jadi pribadi yang lebih baik; dilakukan dengan tiba-tiba ada ‘hantu’ ayahnya datang memberikan nasehat.

Mantra yang berkali-kali terucap di kepalaku saat menonton adalah, masa iya Hanung bikin film kayak gini? Sebenarnya ini gak separah horor-horor ngasal, cuma yang kudapati di sini adalah ‘penyakit’ yang biasanya dilakukan oleh sineas baru yang cara berceritanya belum punya bentuk. Yang belum se-establish seorang Hanung Bramantyo. Apakah tuntutan industri sedemikian jadi momok? Dari segi akting aja, udah kerasa lepas dari standar Hanung yang biasa. Para pemain ekstra tampak lebih lumayan kebentuk dibanding karakter sentral.  Yang paling lumayan adalah Wulan Guritno, karena kebutuhannya di sini adalah jadi hantu yang over-the-top, easily tackled by her. Namun Rangga Nattra sebagai Sutan, jadi kayak lagi main komedi. Fattah Amin mungkin memang diniatkan sebagai stealer, tapi karakternya diintroduce dan diperlakukan dengan build up yang aneh. Carmela van der Kruk, mungkin aku salah satu dari sedikit orang yang sampai sekarang masih ngikutin perkembangan Gadis Sampul, dan aku selalu excited dan dukung dan selalu berusaha nonton kalo ada Gadsam main film. I’m happy Carmela dapat peran utama dan main horor pertama. Apalagi ini filmnya Hanung! Di sini talent fashionnya kepake banget pake dress-dress cute ala Eropa. Jadi kontras setting yang seru di lingkungan horor. Tapi pelafalan dialognya need more work. Apalagi untuk kalimat-kalimat panjang yang masih sering dilakukannya dalam satu tarikan napas. Again, ini seperti kurang tight pengarahan yang dilakukan oleh sutradara di bawah standar Hanung yang biasa.

 




Film pertama yang kutonton di tahun 2024, bukanlah sebuah tontonan yang memuaskan. Setidaknya ada dua ekspektasiku (dari yang seperti yang dijanjikan film) tidak terpenuhi. Pertama soal teror ketindihan, yang ternyata hanya kesurupan biasa, dan film lebih sebagai sebuah sajian teror kejadian-kejadian seram dan eksposisi alih-alih sebagai penyelaman karakter terhadap hal kelam nan kompleks yang mereka lakukan. Kedua soal era politik/sejarah yang dijadikan latar, yang ternyata tidak benar-benar jadi bahasan. Yang mungkin cuma jadi gambaran saja. Ultimately, film ini mengejutkanku karena tidak terasa seperti standar buatan Hanung yang biasa. Bahkan dramanya saja tidak terasa benar-benar kuat. Mungkin ada yang putus lagi selain kepala hantunya?
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for TRINIL: KEMBALIKAN TUBUHKU

 




 

That’s all we have for now.

Jangan lupa untuk subscribe Apple TV, ada banyak serial dan film-film original yang tayang di sana. Di antaranya adalah Killers of the Flower Moon yang masuk dalam Daftar Top-8 Film Favoritku tahun 2023. Tinggal klik di link ini yaa https://apple.co/3QWp4Yp

Get it on Apple TV
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA and BEST BOOK REVIEW HORROR & THRILLER EDITION ON TWINKL