SRI ASIH Review

 

“The best fighter is never angry”

 

 

Waktu mewawancarai Sri Asih tempo hari (videonya bisa ditonton di sini), aku bertanya kenapa penting bagi film-film jaman sekarang untuk menampilkan karakter perempuan yang badass. Pevita Pearce dan Jefri Nichol kompak menjawab bahwa karena sudah bosan melihat pria-pria terus yang berantem dan jadi jagoan. Aku setuju dengan jawaban mereka. Perempuan bisa kok jadi jagoan. Setelah sekian lama selalu ditampilkan sebagai ‘dayang-dayang’ yang fungsinya untuk diselamatkan oleh pahlawan cowok, sekarang sudah waktunya untuk menampilkan keberdayaan perempuan. Film, khususnya genre superhero, harus aware karena inilah medium yang tepat untuk menyimbolkan hal tersebut. Like, tahun ini saja Marvel sudah membuat terobosan dengan mulai memperkenalkan ‘versi cewek’ dari  masing-masing karakter superhero laki-laki yang mereka punya. Perempuan mampu membela diri, menghajar orang jahat dan menyelamatkan dunia. Ini haruslah diperlihatkan dalam konten yang lebih daripada sekadar memperlihatkan perempuan bisa lebih jago daripada lelaki.

Dalam soal itulah aku agak kurang setuju dengan bagaimana Sri Asih garapan Upi menampilkan dan mengembangkan sosok karakter superhero perempuannya. Where do I start?

Alana punya origin story yang bisa dibilang paling aneh di antara superhero-superhero lain yang aku tahu, lokal maupun mancanegara. Alana tidak ditempa oleh tragedi. Dia seperti dilahirkan dengan kekuatan karena ibunya actually ngidam melihat gunungapi saat mengandung baby Alana. Seperti ada koneksi antara kekuatan api dengan dirinya semenjak masih bayi. Gunung Merapi seperti tahu kehadiran Alana yang keturunan Sri Asih, sehingga memuntahkan asap panas, Kedua orangtua Alana lantas meninggal dunia dalam peristiwa naas setelah mereka kabur dari letusan gunung. Alana jadi dibesarkan di panti asuhan, dan sejak kecil dia mimpi didatangi oleh Dian Sastro.. eh, Dewi Api! Mengenai kekuatannya, kita tidak diperlihatkan gimana Alana bisa mengendalikan atau dia sendiri tahu persisnya gimana. Karena sejak kecil dia sudah cakap berantem. Dia menghajar tukang bully di panti. Alana kecil lantas diadopsi oleh ibu-ibu yang ternyata adalah agen profesional underground fighter. Kali berikutnya kita melihat Alana, dia udah gede dan jadi fighter yang menghajar lawan-lawan cowok. See, jadi Alana ini adalah tipe karakter chosen one, tapi kita tidak pernah diperlihatkan dia belajar atau berjuang untuk menggunakan kekuatannya. Alana ini kayak Mulan yang versi live-action; yang sudah jago. Dan kesamaan itu otomatis jadi red flag.

Padahal Sri Asih mestinya bawa red selendang hihihi

 

Kenapa red flag, karena kalo sudah jago begitu, maka apa dong yang harus dipelajari oleh si protagonis? Journey apa yang harus ditempuh oleh karakter utama sebagai plot yang bisa kita simak. Mulan live-action adalah bukti kegagalan naskah mengeksplorasi cerita keberdayaan perempuan, dengan membuat karakternya sudah hebat dan gak punya pembelajaran. Beda dengan cerita film animasinya. film versi modern itu hanya seperti memperlihatkan si Mulan lebih jago dari siapapun, terutama laki-laki. Sri Asih sebenarnya masih punya ruang untuk menggali, film ini tidak sepenuhnya ngesok membuat Alana jagoan seperti yang dilakukan film Mulan kepada karakter pahlawan legendanya. Film Sri Asih sebenarnya masih membuka ruang untuk pengembangan dengan membuat Alana harus belajar mengendalikan amarahnya. Diceritakan meskipun Alana adalah keturunan Sri Asih, tapi jika dia membiarkan diri terbakar oleh rasa marah, maka kekuatan pengrusak dari Dewi Api – musuh dari Sri Asih – yang akan menguasainya. Jadi Alana, dengan bantuan teman-temannya, berusaha mengendalikan amarah.

Marah memang sebaiknya tidak ditahan-tahan. Marah jika disalurkan dengan baik, maka juga bisa jadi kekuatan – dan justru menyehatkan. Lihat saja Gohan di Dragon Ball. Kuncinya adalah di penyaluran. Alana harusnya membaca bukunya Lao Tzu. Karena founder Taoisme itu mengajarkan seorang pejuang haruslah tidak mempertontonkan amarah. Karena seorang pejuang bisa menang jika berpikir dengan tenang, membuat keputusan dengan melihat semua dengan jelas. Semua itu hanya bisa dilakukan ketika hati dan kepala tidak sedang terbakar oleh emosi.

 

Naskah harusnya berkutat di sini. Di pergulatan personal Alana dengan dirinya. Dengan amarahnya. Masalah pada naskah Sri Asih adalah it gets too ambitious. Durasi dua jam jika memang fokus kepada karakter Alana, luar – dalam, bukan soal dia mengalahkan lawan dalam caged fight saja, tentulah akan menghasilkan cerita yang lebih grounded. Cerita superhero yang lebih menginspirasi buat penonton, karena bagaimanapun juga manusia menonton film hakikatnya adalah untuk menyimak perjalanan seseorang dalam usaha menjadi orang yang lebih baik. Wonder Woman pertama (2017), misalnya. No wonder film itu jadi salah satu cerita superhero buku-komik terbaik – superhero wanita pula! sebab mengeksplorasi kenaifan Diana Prince yang menganggap manusia itu innocent. Film itu tahu sisi vulnerable Diana, dan sepanjang durasi dimanfaatkan untuk menggali hal tersebut. Diana ditempatkan di zona perang, dan sebagainya. Bagi Alana, sisi vulnerable itu adalah rage. Rasa marah. Formulanya sebenarnya bisa sama dengan Wonder Woman. Namun, naskah ambisius film ini membuat pembahasan soal itu melompat-lompat. Karena ada banyak lagi hal-hal di luar personal Alana yang hendak dibahas.

Kita bahkan gak pernah yakin si Alana ini jadi gampang marah karena apa. Masa iya karena sering mimpi api? Dari sebelumnya dia menang telak di dalam arena, kita lantas melihat Alana tanding gak stabil karena guncangan amarah. Tau-tau dia jadi disebut punya masalah kontrol emosi saja. Pengembangan soal Alana ini jadi semakin terasa choppy karena naskah tampak lebih tertarik nunjukin elemen cerita yang lebih berbau politik dengan segala kekelamannya. Orang kaya yang memandang rendah orang miskin. Polisi yang tidak memihak rakyat. Dan tentu mereka-mereka adalah cowok yang sebagian besar brengsek. Ada lebih banyak durasi yang digunakan untuk dengan gamblang menyebut cowok lawan cewek, ketimbang durasi yang disediakan untuk Alana confront emosinya. Like, kupikir dia bakal susah menjelma sebagai Sri Asih karena begitu banyak amarah. Tapi ternyata persoalan itu selesai dengan gampang. Alana tinggal menari tradisional dalam sebuah ritual untuk menerima/membangkitkan kekuatan Sri Asih. Enggak tau juga kapan dia belajar tariannya. Persoalan kostum juga sama sekelebatnya. Sudah tersediakan!

“Darimana mereka bisa tahu ukuran gue…?!” cue musik DHUAR DHUAR!!!

 

Sama halnya dengan Gundala (2019), film pertama dari Bumi Langit Universe, naskah Sri Asih dengan cepat membesar dari yang tadinya serius dalam ranah personal, menjadi seperti serius tapi semakin mendekati konyol. Serum amoral kini digantikan posisinya oleh tumbal mistis 1000 jiwa, dengan rakyat penghuni rusun miskin jadi calon korbannya. Buatku lucu sekali si tumbal mistis ini begitu spesifik sehingga kentara banget maksanya. Seribu jiwa harus dibunuh bersamaan. Like, emangnya siapa yang ngitung. Kalo kurang atau lebih satu, apakah si penjahat harus ngulang lagi ngumpulin seribu jiwa yang lain. Dan itu keadaannya jelas kurang satu, karena Tangguh – teman dari masa kecil Alana – sebagai salah satu penghuni rusun sudah tidak ikut terjebak karena ada di markas bareng Alana. Motif penjahat serta karakter jahatnya sendiri juga jadi tidak terestablish dengan baik, saking banyaknya yang mau diceritakan. Berpindah dari yang tadinya cowok kaya yang asshole abis ke sosok mistis dari mitologi ke seorang yang diniatkan sebagai revealing yang mengejutkan. Alias twist. Dan twist ini, sodara-sodara, justru bikin satu-satunya perspektif menarik yang digali oleh cerita, jadi kayak terbuang gitu aja. Karena tidak lagi berarti, toh ternyata si karakternya beneran jahat!

So yea, Sri Asih adalah tipikal film yang menganggap dirinya sangat serius sehingga semua dialognya jadi intense. Karakter yang ngucapinnya juga, kayak orang paling misterius dan serius-you-don’t-wanna-mess-with-me semua. Kalo butuh sedikit mencairkan suasana, film akan membuat Alana dan Tangguh ‘berubah’ jadi karakter dengan dialog ala Marvel sebentar. Tapi sebagian besar waktu, film ini punya dialog-dialog superintens, yang bahkan lebih intens daripada sekuen berantem superheronya.  Kalo mau diurutin bagian intensnya, nomor satu adalah dialog-dialog, kedua adalah berantem martial arts di arena fight, dan ketiga berantem superhero. Yang aku suka adalah berantem martial arts ala UFC yang grounded.  Tapi itu juga mungkin karena pengaruh Pevitanya, karena kita tahu dia menjalani ‘transformasi’ untuk peran ini – peran yang bisa dibilang di luar kebiasaannya, jadi kinda like melihat Pevita yang berantem. Kita jadi ada ketegangan ekstra, karena ada sedikit believe ni si Pevita yang jadi Alana bisa kalah. Camera worknya juga dibuat dramatis di adegan berantem yang ini. Beda dengan ketika sudah jadi full superhero. Karena sudah jagoan banget, kita udah ngerasa kayak mustahil Sri Asih kalah melawan gerombolan penjahat cecunguk yang senjatanya cuma pistol. Shot-shotnya pun sudah mulai pakai efek komputer kayak Sri Asih atau musuhnya beterbangan. Kesannya tidak sereal dan grounded lagi. Sehingga ya jadi kurang seru, gak peduli semirip apapun genjreng-genjreng musiknya dengan tema Wonder Woman.

 




Si Sri Asih memang ‘badass’. Aku setuju kita juga gak boleh ketinggalan menampilkan cerita dengan superhero perempuan, yang punya daya, bisa menyelamatkan dunia, dan bisa mengalahkan kelemahannya sendiri. Sosok Alana juga berhasil dihjdupkan dengan cukup ikonik oleh Pevita – yang aku yakin ke depan akan terus dipanggil orang sebagai Sri Asih berkat perannya di sini. Hanya saja, sebagai cerita, film ini sesuatu yang masih berantakan. Alurnya jadi lebih peduli sama hal yang lebih ambisius, alih-alih journey personal karakter perempuannya. Plot si protagonis jadi kayak lompat-lompat perkembangannya. It was just ‘bad’. Karakternya jadi kayak sudah jago aja. Dia kayak benar sedari awal. Makanya filmnya jadi kayak soal cewek bisa lebih jago daripada cowok saja.  Namun sukurnya, film ini masih menyisakan ruang untuk Alana sedikit belajar (meskipun tidak digarap maksimal oleh naskah) sehingga, yah lumayan lah,  tidak sampai segagal Mulan.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for SRI ASIH

 




That’s all we have for now.

Menurut kalian siapa yang menang duel antara Sri Asih lawan Wonder Woman?

Share pendapat kalian  di comments yaa

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



Comments

  1. Moviegoers says:

    Dari puluhan akun sosmed dan youtube yg review film yang bener2 bs gw percaya objektif cm ini
    Dari jaman dahulu kala
    Dl jg sm perspektifnya soal gundala
    Love this review

    Note
    Review yg di shorts/reels/tiktok rata2 ngasal dan tidak objektif apalagi yg di repost sm filmakernya hehe

    • Arya says:

      Tapi karena begitu, sejak jaman dahulu kala juga tidak ada ph/platform yang tertarik ngasih proyek ke sini hahaha. Pernah ada beberapa, tapi langsung kapok kayaknya xD

      Yah itulah warnawarni review. Cuma yang aku tak ngerti, kalo review di short/tiktok itu seperti apa sih mereka ngobrolnya, bukannya durasinya singkat2, bahasnya gimana gitu?

      Tengkyu sudah baca terus yaa

  2. Febrian says:

    Aduh, iya lagi, Alana ini ujuk2 jago berantem dan ga jelas kenapa punya masalah kemarahan. Padahal bisa ya dibikin yg dibully pas kecil dia, karena terus2an jadinya ada perasaan marah yg terpendam yg suatu waktu bisa meledak, terus diadopsi sama ibunya dan dibantu menyalurkan amarahnya dalam bentuk fighting, misalnya. Ya kayak X-Men gitu lah. Tapi film milih menjadikan dia jagoan dari kecil, menolong temennya yg ujuk2 jago berantem juga pas gede.
    Soal dialog2 politik/politisi iya juga sih, agak berlebihan, tipikal Joko Anwar lah. Bahkan ada yg ga penting untuk cerita kalo menurut saya, yaitu pas scene pesta topeng. Scene ini kayaknya dibuat cuma untuk masukin dialog “filosofis” soal manusia pake topeng deh.
    Tapi buat saya poin plusnya, scene2 berantemnya bagus. Ada beberapa yg pengambilan gambarnya bikin saya wow… Oh iya, dan satu lagi, masih lebih suka dan menikmati ini sih ketimbang Gundala.

    • Arya says:

      Bener, at least kalo mau bikin dia udah jago berantem, karakternya mestinya benar-benar nunjukin Alana itu hotheaded. Jadi fighting itu jadi channel buat dia, dan dia diperlihatkan improve nahan marah. Alana yang sekarang kan kayak bersikap yang lembut – at least kayak orang biasa, cuma tiba-tiba suka marah. Gak kerasa bentukan karakternya.

      Hahaha iya juga ya, adegan pesta topeng kayak cuma buat masukin celetukan orang kaya pake topeng karena sebenarnya malu mereka kriminal/koruptor. Kirain mau kayak Raden Saleh, broke out action scene di pesta. Tapi ternyata enggak segitu wah juga setting di pesta itu kepakenya.

      Memang overall, lebih mudah nikmatin ini daripada Gundala ya. Faktor superhero cewek juga kayaknya

      • Febrian says:

        Nah iya, momen dia marah cuma ada pas dia lagi fighting, yg mana itu hal normal. Di luar itu biasa2 aja, bahkan senyum mulu.

        Jangankan break out action, sekedar hal baru soal filmnya aja ga ada di bagian pesta topeng. Mean less kalo buat saya. Hehehe…

        Btw, engeh ga, Bang, hampir semua scenes Alana selalu pake baju yg perutnya keliatan? Kayaknya pengen banget ngasih liat hasil workout Pevita ye? Hahaha…

        • Arya says:

          Eh iya ya? Aduh kasian dong kalo gitu, jangan-jangan Pevita masuk angin. Brb ngirim balsem dan duit logam ke rumah Kala xD

          Kalo dipikir-pikir, such a waste sih ya adegan pesta itu. Ujungnya sama aja dengan kalo adegannya dibikin Sri Asih simply nyusup ke rumah itu tengah malam. Gak perlu ada pesta haha..

          Makanya buatku ending Sri Asih nolongin anak kecil dan dikerumunin warga itu kurang nendang. Karena sedari awal ya dia gak ada kelihatan marah atau gimana gitu. Bandingannya dengan Batman Pattinson. Di awal kan dia percaya nolongin orang itu caranya adalah dengan menghajar kriminal. Ternyata dia salah, cara gitu cuma bikin dia sama kayak preman, kriminal lain. Sehingga di akhir, dia beneran turun nolongin orang. He learned something about being hero. Nah si Sri Asih ini bentukan dia di awal kan mestinya kan dia hothead, bergulat dengan rasa marah, tapi itu gak kelihatan. Jadi dia nolongin orang di akhir itu ya kayak sesuatu yang wajar. Tidak dramatik. Apalagi malah adegan dia actually nolong si anak kecil yang nyasar, dibikin off-cam. Tau-tau datang dengan gandeng si anak, aja.

          • Febrian says:

            Jangan2 nanti yg scene pesta topeng itu bakal ada threadnya di Twitter soal easter egg atau hubungannya sama film2 lain nih. Biasanya kalo film Abang itu kan selalu ada penjelasan tambahan di Twitter.. hhmmm…
            Hahahaha…

      • Rap says:

        Sayang bangett, film origin pertama superhero sebaiknya menitikberatkan pada karakternya dulu biar kita kenal dan cinta pada karakternya, di film ini malah kemana-mana ceritanya. Gundala juga kek gitu, scope penceritaannya luas banget… serasa ngegas banget mau bikin universe superhero yang bakalan saling nyambung. Kek iron man 1 gitu yang fokus ke toni dan perkembangan karakternya, nick fury cuma muncul di akhir sebagai ‘tanda’ film iron man 1 ini bakalan nyambung ke film2 mcu lain…

        • Arya says:

          Itulah yang kayaknya failed dilihat oleh sebagian besar orang soal MCU. Orang hanya melihat sukses MCU dari superhero dan aksi-aksi keren dan hype timeline phase-phase-an yang bisa membuat crossover superhero dengan menarik, dll. Padahal untuk bisa jadi kayak gitu MCU akarnya memang sudah kuat. Dari komik yang bertahun-tahun sehingga ikonik. Komik yang masih dibicarakan, sebelum filmnya booming. Dan bahkan dengan akar kokoh begitu, MCU sabar ngembangin sinematik universenya. Origin story mereka buat masing-masing superhero (kecuali Black Widow yang memang kayak maksa ada) benar-benar grounded dan digunakan untuk ngenalin superhero ke penonton film di luar penggemar komik. Singkatnya, gak instan.

          Nah, di kita. Dibikin juga superhero dari komik dan mitologi lokal, tapi introducenya gak kuat. Reality aja, komik itu bukan medium populer di kita. Jagoan-jagoan lokal itu yang tau ya generasi lama aja. Mestinya film-film ini hype ke komiknya dulu. Tapi itu kan effort dan lama, produser mana mau. Yang ditiru ya hype timeline-timeline aja. Nanti ada film superhero ini superhero itu, nantikan cameonya di film yang ini, dsb. Bukan soal ceritain superhero lagi. Lucunya, bahkan ada juga ph yang bikin timeline-timelinean padahal film-filmnya gak tau kita itu apa, siapa, tentang apa.

  3. Aaron says:

    Nonton film ini agak mixed emotion karena oke adegan aksinya bagus, revealingnya bisa diterima, tapi banyak plot mengganjal. Kenapa diperlihatkan Prayogo ritual pake kalung, siapa pembunuh anak Prayogo, ke mana perginya anak2 MMA? Dewi Api nya kirain bakal dieksplor lebih dengan merasuk ke sosok orang biasa yg juga diperankan Dian Sastro misalnya, tapi hanya murni CGI. Endingnya agak forgettable selain credit yg cukup artsy. Btw The Menu jauh lebih bagus dan enjoyable

    • Arya says:

      Mestinya bujukan marah terakhir itu dibikin lebih dramatis sih, gambarin gimana Alana ‘melawan’ Dewi Api. Soalnya udah dibuild up kan si Dewi Api ini, masa lawan akhirnya cuma si Roh Syetan itu.

      Wah jadi menu ke bioskop senin ah si The Menu xD

  4. Albert says:

    Tuh kan baca review Mas Arya jadi terasa jelek ini film. Padahal tadinya aku suka tuh hahaha. Sebetulnya lihat asal usulnya lebih cocok dia keturunan Dewi Api ini. Lahirnya di Gunung Merapi, penuh kemarahan juga. Kalau pas kecil bisa berantem sih ga tau dari mana, tapi kalau gedenya ya kan dia ikut klub mamanya. Mamanya juga jago berantem hehehe. The chosen one mungkin gitu ya sekali disuruh nari jadi keluar kekuatannya. Kebalikan ini dari Gatotkaca latihan mulu ga jadi2, sekalinya jadi gelap banget ga kelihatan. Hahaha.

    Menurutku paling mending sih dibanding Gundala sama Gatotkaca (kok 2G ternyata ya). Ceritanya masih bisa kumengeri walau cepat juga, Gundala kan berantemnya terakhir aja langsung lawan banyak tanpa kutahu siapa aja lawannya. Gatot kebanyakan twist tambah bingung. Yang Sriasih ini kayaknya dari awal Jatmiko udah kelihatan liat mata berapi gitu ya. Yang bunuh Mateo dan anak buah Surya Saputra itu mestinya Jatmiko juga berarti ya? Ga ada backgroundnya sih Jatmiko kok jadi jahat. Ya kutebak2 sendiri aja kebanyakan direndahin orang. Hehehe.

    • Arya says:

      Ya gak tau kita dia latihan atau tidak. Malah bisa aja kan si mamanya yang jago berantem buka usaha klub fighting karena ngadopsi putri jagoan hahaha.
      Gatot ama Gundala sebenarnya momen mereka jadi superhero lebih kerasa. Gundala awalnya malah gak mau nolongin orang, kan, takut petir, trus jadi punya kekuatan petir, nyoba-nyoba menggunakannya. Si Gatot malah mau berubah aja dia harus latihan dulu. Di luar penceritaan proses superhero mereka itu enak atau tidak, at least ada pembelajaran dan mereka terasa earned the power. Kalo Sri Asih ya kayak udah auto jago aja (semoga alasannya bukan karena cewek kali ini gak boleh terlihat lemah)

      Kayaknya sih begitu, Jatmiko yang bunuh Mateo dan yang lainnya. Sayang sih dia jadi jahatnya gak ada diceritakan, padahal awal-awal tuh yang pas dia nolongin anak tapi ditolak karena rakyat gak percaya pada polisi, itu buatku perspektifnya menarik

      • Albert says:

        Daripada belajar kekuatan, aku sebetulnya lebih tertarik Alana belajar menahan kemarahan sih. Anggap aja Dewi Api bujuk dia supaya kalau marah terus gabung Dewi Api gitu. Kayaknya awalnya pemarah banget tapi setelah dapat kekuatan hilang begitu aja marahnya. Sriasih ini mirip Wonder Woman rasanya ya. Cara nangkis peluru, pakai selendang mirip sabuk. Hehehe.

        Btw Seribu jiwa itu mirip pengabdi Setan ga sih? Kayaknya bapaknya Rini harus bunuh seribu jiwa buat bebasin kutukan keluarganya? Harusnya Jatmiko kerja sama aja dengan bapaknya Rini hehehe.

        Berikutnya Virgo nih Ga sabar nonton Zara sama Mawar 🙂

        • Arya says:

          Hahaha iya, sama-sama rumah susun miskin pula. Jangan-jangan nanti dibikin same universe lol

          Nah, Virgo aku tertarik, kayak lebih grounded dan fokus ke kehidupan virgonya sebagai anak remaja yang punya kekuatan api

          • Albert says:

            Baru dapat 300ribuan nih Sriasih. Kayaknya ga gitu banyak yang nonton. Artisnya jor2an ya BCU ini mas. Terkenal2 yang main.

          • Arya says:

            Karena saingan ama Wakanda sih kayaknya ya? Trus juga karena mau akhir tahun mungkin, orang-orang save duit buat taunbaruan ama banyak jadwal rilis yang lain juga desember

          • Albert says:

            Jadi belum nonton Black Panthernya mas? Aku the Menu nih kayaknya bakal lewat. Nonton cuma Minggu, kayaknya minggu besok udah turun hehehe.

          • Arya says:

            Iya, aku lewat Black Panther, nunggu di platform ajalah. Kemaren jadinya milih nonton The Menu hahaha, yang kalo kosong bakal kureview hari sabtu.

          • Arya says:

            Yup, apa ya istilahnya… lihai, mungkin. Enak kalo dijadiin contoh kasus cerita dengan protagonis yang outsider, yang bahkan pada permasalahan utamanya dia ‘gak diajak’ – yang ditulis dengan benar, lihai penulisnya bikin semua itu jadi cerita/journey si protagonis outsider tersebut.

          • Albert says:

            Ini udah Kamis, the Menu masih ada 3 bioskop di sini. Kayaknya kupilih Menu dulu deh daripada Keramat, semoga Keramat bertahan sampai minggu depan hehehe.

  5. Arios says:

    Aku pikir scene Sri Asih bawa terbang Bom ke langit dan dia terhempas, ada cameo/jagoan lain yg akan nolongin dia di langit. Hahahaa imajinasiku.

    Bdw, knp ya Dewi Api bisa menjumpai Sri Asih sedangkan dia belum dibangkitkan?

    • Arya says:

      Jangankan belum dibangkitkan, belum lahir – masih 5 bulan dalam kandungan – aja dia udah diincar oleh Dewi Api hahaha. Dan itu kayaknya ibunya ngidam ke gunung merapi juga pengaruh si Dewi Api, biar mereka pada gampang dibunuh

  6. Jazzy mahendra says:

    Ya Allah gini amat reviewnya jelas jelas filmnya sudah lebih bagus dan memperbaiki kesalahan2 dr film gundala.. Buat yg blm nonton nonton aja bagus banget kok filmnya rating dr saya 9.5/10 buktikan di Bioskop ya gaes sumpah filmnya bagus banget berasa kayak bukan film bikinan Indo 🙂

    • Arya says:

      Haha iya, yang mau nonton mah silakan. Namanya juga nonton itu subjektif. Sah-sah aja suka sama film yang jelek.
      Yang penting tau bahwa secara objektif, film ini ada peningkatan visual dan teknis dibanding Gundala, tapi sekaligus ada penurunan dari segi lain seperti naskah (pengembangan karakter utama)

  7. Farrah says:

    Setelah nonton Sri Asih, aku jadi nonton Gundala lagi di Netflix, dan bener, dari segi development karakter utama & development villain, lebih greget Gundala ya mas. Pengkor dengan segala idealisme ‘ngaco’nya soal rakyat miskin, tapi masih bisa dipahami gitu motifnya, karena dia mengalami trauma. Meanwhile, Prayogo di Sri Asih kan mirip2 kayak Alana versi villain aja, kalo Alana udah jago darisananya, Prayogo juga udah kaya darisananya, yaa walaupun dalang sebenernya si bukan mereka tapi Ario Bayu ini (lupa bgt nama karakternya). Tapi memang kalo soal visual, Sri Asih bagus bgt sih, aplg final battlenya yg sama Reza itu.

    • Arya says:

      Bener, ‘proses’ jadi Gundalanya juga lebih ngalir. Dengan Pengkor juga masih keliatan tolak belakangnya. Kalo Alana kan enggak. Prayogo bukan enemy sebenarnya. Dengan Reza, fightnya seru, tapi ya tidak terasa full karena dijadiin twist, adn everything just happen (tau-tau bisa kagebushin lol). Yang terbuild up sebenarnya dengan Dewi Api, tapi itu ternyata cuma segampang “saya bukan orang pemarah”

      • Farrah says:

        Ahhh iya! Baru sadar Sancaka sm Pengkor sama2 kehilangan kedua org tua dari kecil, tapi yg satu jadi protagonis, yg satu jadi antagonis. Soal Reza, iya lagi ujug2 bisa berubah gt hahaha, twistnya bukan cuma dari karakter tapi juga dari jurus ngilangnya 😀 btw aku tadi sempet mampir ke review Gundala, scorenya 5 juga ya mas, berarti memang Gundala sm Sri Asih ini masih sejajar ya

        • Arya says:

          Sebenarnya ada kesamaan antara Alana dengan si Jatmiko. Sama-sama harus melakukan hal yang tidak mereka setuju/yakini; polisi yang dibayar sama orang kaya nan culas, dan profesional fighter yang dibayar untuk kalah. Tapi hubungan antara mereka berdua ngawang aja, ketutupan sama bahasan lain, dan Jatmiko dijadikan twist bahwa dia sebenarnya memang jahat selama ini. Padahal mestinya bisa lebih dramatis, dia bisa dijadikan contoh apa yang terjadi kepada Alana kalo Alana juga ‘menyerah’ kepada bujukan Dewi Api.

          Haha iya, sama. Yang satu kurang di aksi, yang satu kurang di karakter, but basically keduanya film dengan nada dan keribetan yang sama xD

Leave a Reply