Tags

, , , , , , , , , , , ,

“If you hit rock bottom, the only way to go is up”

 

 

Pesimistis merupakan gambaran sikap atau keadaan pikiran seseorang yang mengharapkan yang terburuk dalam hal apapun. Yang belum apa-apa udah gak antusias duluan, hilang harapan, dan gak mau muluk-muluk mikir bakal berhasil. Si pesimis inilah yang jadi tokoh utama kita dalam sci-fi horror/thriller Underwater. Namanya Norah. Salah satu kalimat perkenalannya kepada kita literally soal dia yang menjadikan sifat pesimis sebagai zona nyaman. Sebagai seorang mekanik di stasiun pengeboran minyak raksasa di bawah laut, ia curhat ketika soal di bawah sana, dia enggak tahu lagi hari dan hanya melakukan kerjaannya. Dia gak ngeluh, just stating a fact. Aku akan kehilangan minat sama sekali ama tokoh ini, jika kemudian aku tidak melihatnya bimbang sejenak dan mengurungkan niatnya mengguyur laba-laba di wastafel. Adegan kecil inilah penentu yang mengisyaratkan cewek bondol yang diperankan Kristen Stewart ini bukan satu-dimensi, bahwa ada sesuatu yang menyebabkan dia ‘menipu’ diri dengan bersikap pesimis.

Jadi jangan pesimis duluan sama film ini. Memang, film jenis ini sudah banyak. Dan dengan ‘jenis ini’, yang aku maksud adalah film-film sci-fi horor yang meniru Alien (1979). Let’s just face the fact, di tahun 2020 ini Alien sudah sah jadi kakeknya horor-horor sci fi. Setiap film generasi baru dalam genre ini hampir pasti bakal mirip, entah itu nyontek, ngasih tribute, ataupun memparodikan dirinya. Sebegitu hebatnyalah Alien. Kita bakal terus membanding-bandingkan cerita seperti ini dengan Alien, karena film itu udah jadi batas atas. Salah satu poin minus Underwater toh memang meminjam banyak elemen dari Alien. Dalam film ini kita bahkan akan menjumpai adegan bayi monster yang melompat keluar dari tubuh korbannya. Formula ceritanya mirip, karakter-karakter pendukungnya mirip. Banyak yang menyipitkan mata menyebut film ini hanyalah Alien di dasar laut, alih-alih luar angkasa. Namun actually, perbedaan tempat ini berhasil menjadi penanda yang memisahkan antara keduanya.

Stasiun raksasa tempat Noah bekerja meledak. Bersama beberapa orang yang selamat, Norah berusaha mencari cara untuk menyelamatkan diri ke permukaan. Mereka harus berjalan kaki di dasar laut, menuju stasiun sebelah yang masih memiliki kapsul penyelamat. Masalahnya adalah kondisi di sana sama sekali belum stabil. Ledakan susulan bisa terjadi kapan saja. Belum lagi tekanan air dan jarak tempuh yang berkemungkinan perjalanan menjadi terlalu beresiko bagi mereka. Dan ketika mereka beneran nekat mencoba, satu faktor bahaya lagi muncul. Penyebab ledakan fasilitas pengeboran mereka ternyata adalah monster-monster. Norah beserta rekan-rekan kini tak ubahnya bebek mainan di kolam. Menunggu monster-monster datang ‘mempermainkan nyawa’ mereka.

gimana gak pesimis; sudah 2020 dan tetep, blackman game over duluan

 

Underwater mengikuti semua klise sekelompok orang yang terjebak kemudian harus survive dari monster yang satu persatu memangsa mereka. Namun semuanya dilakukan dengan kompeten, dan menarik. I did enjoy this very much. Dalam teori skenario yang keren, tokoh utama akan selalu dipaksa untuk mengambil tindakan. Rintangan demi cobaan selalu datang menghantam. Tokoh akan selalu ditempatkan di posisi yang mengganggu baginya, yang menantang kepercayaannya. Underwater punya ini semua. Norah si pesimis terus disuruh untuk aktif menyelamatkan diri. Musuh Norah bukan hanya monster-monster kayak alga. Melainkan juga keadaan. Ledakan dan runtuhnya struktur stasiun. Tekanan air. Film enggak membuang waktu untuk terus menyerang Norah. Belum ada lima-belas menit, kita sudah melihat adegan aksi menyelamatkan diri dari stasiun yang meledak, bocor, kemasukan air. Lingkungan film ini semuanya digunakan sebagai halangan untuk tokoh utama, menyebabkan cerita selalu berada dalam kondisi menegangkan.

Setiap menit yang disediakan, berusaha dimanfaatkan oleh sutradara William Eubank untuk membangun kengerian sekaligus karakter. Kredit pembuka film ini saja dipakai untuk menampilkan judul-judul berita, sebagai usaha film melandaskan cerita seputar pembangunan stasiun pengeboran, batas alam mana yang mereka langgar sehingga bumi, katakanlah, menyerang balik. Antara adegan survival satu dengan yang lain, cerita akan mengerem sebentar untuk mengembangkan karakter. Norah diberikan hubungan emosional dengan rekan-rekannya. Dan di sinilah peran Kristen Stewart sangat dibutuhkan oleh film. Sekali lagi, jangan pesimis dulu padanya mentang-mentang ia jebolan Twilight. Stewart adalah bagian terbaik dalam film ini.

Dari nyeletuk soal apapun yang mereka lakukan mereka bakal jadi mayat yang ngambang di permukaan laut, hingga ke keteguhannya untuk tinggal dan menyelamatkan, Norah punya banyak momen pembelajaran. Stewart membawakan itu semua dengan sangat meyakinkan. Helm dan baju selam bukan hambatan bagi aktingnya. Jujur, waktu yang dipunya oleh film ini untuk development karakter sebenarnya enggak cukup. Underwater pada akhirnya masih tampak seperti aksi demi aksi dengan tokoh-tokoh yang mudah dilupakan. Jika bukan karena Stewart yang kini kuat dalam permainan ekspresi dan emosional, Norah bisa ikut-ikutan terlupakan. Tapi enggak. Perjalanan tokoh ini soal mengubah pesimis menjadi amunisi yang produktif tetap terasa sebagai tulang punggung film.

Sifat pesimis tidak melulu menghasilkan sesuatu yang negatif. Norah dalam film ini menyontohkan bahwa pesimis justru membuat dirinya bisa berpikir selangkah lebih maju. Membuatnya mengantisipasi hal-hal merugikan, dan mengubahnya menjadi langkah pencegahan dan menolong orang. Pesimis bisa dijadikan sebagai tameng defensif yang mencegah kita untuk terlalu kecewa tatkala sesuatu yang buruk sudah dikenali sedari awal. Orang-orang yang pesimis, dalam kondisi terbaik mereka, selalu adalah yang pertama kali sadar mereka berada di bawah dan jalan satu-satunya bagi mereka adalah ke atas.

 

orang yang optimis akan jalan kaki sambil membayangkan lewat di depan rumah nanas

 

Dunia Underwater terwujud dengan ciamik. Set dan desain produksi film ini cukup niat, sehingga semua yang terjadi di depan mata kita tampak otentik. Baju selam yang mereka kenakan aja terbangun dengan kuat, sampe-sampe aku merinding sendiri saat melihat mereka yang berdiri di dalam lift yang turun hingga terendam air. Baru sekali itu aku kepikiran betapa mengerikan rasanya mengetahui tubuh kita berada di dalam air, tapi badan kita sama sekali enggak basah. Itu gak normal. Dan aku beneran jadi merinding sendiri di bioskop.

Aku suka satu adegan kematian yang melibatkan helm baju selam yang rusak, karena ini juga menambah suspens dan dilakukan dengan menarik. Monster-monster juga diperlakukan dengan pas. Aku enggak tau budget film ini, tapi melihat banyaknya adegan gelap – jalan di dasar laut dapat jadi cukup membosankan karena gelap dan berlumpur tak kelihatan apa-apa jika dibandingkan dengan adegan-adegan di awal film – seperti mengisyaratkan film ini berusaha memaksimalkan budget mereka (terkait penggunaan efek). Dan ini efektif. Monster-monster hanya diperlihatkan sekelebat di tempat-tempat gelap, yang menambah kesan seram berkali lipat. Dan ketika mereka ngejumpscare, rasanya alamiah, sebab tentu saja makhluk yang mendekat diam-diam ingin memangsa kita akan menerkam di detik-detik terakhir. Ada shot keren yang aku suka banget menjelang akhir saat Norah menembakkan flare ke laut untuk melihat sosok ‘bos’ film ini, dan kita juga hanya melihat monster raksasa itu dari pendaran flare yang menembus air. Memberikan ruang bagi imajinasi kita untuk berenang liar, membuat monster ini jadi lebih seram dari yang bisa diciptakan oleh film ini. Pikiranku malah sampe ke Emerald Weapon FFVII saat menyaksikannya.

Range yang cukup curam dari ledakan dan runtuhnya bangunan ke berjalan dalam kegelapan membuat bagian tengah film ini memang terasa membosankan. Apalagi film juga tak menghindar dari membuat tokoh-tokoh pendukung melakukan hal-hal bego, seperti balik mengambil pistol yang ketinggalan di dalam goa. Namun tidak ada yang lebih merusak tone daripada tokoh yang diperankan oleh TJ Miller. Sepertinya memang dalam setiap grup harus selalu ada satu orang yang aneh, yang begitu random sehingga membawa boneka kelinci ke manapun dalam situasi apapun, orang yang suka ngelucu meskipun tak-pada tempatnya. Tokoh tipe ini memang dimasukkan sebagai peringan suasana, biar film gak serius amat, mengendorkan tensi dan semacamnya. Akan tetapi, mengingat film ini punya waktu yang sempit untuk memberikan dorongan dramatis untuk tokoh utama, gimmick tokoh yang dimainkan Miller ini kerasa mengganggu development Norah, dia tampak enggak cocok berada di sana, dan ya, terasa membuang-buang waktu saja.

 

 

 

 

Baru dua minggu di 2020, dan kita sudah mendapat kejutan yang menyenangkan. Film ini benar klise, banyak mengambil adegan dari film lain, punya tokoh-tokoh yang tipikal. Tapi ia melakukannya dengan sangat baik. Ini adalah jenis horor/thriller yang simpel; lari, ngobrol, lari, ngobrol, lari, tapi ia terus menemukan cara untuk membuat memaksimalkan perjalanan tokoh utama. Semuanya dijadikan sebagai musuh, sebagai tantangan. Membuat cerita original dengan shot-shot menegangkan ini menjadi superseru. Jikalau proyek ini mendapat perhatian yang lebih serius lagi, dapat waktu yang lebih banyak untuk cerita lebih dieksplorasi, bukan tidak mungkin dia bakal jadi salah satu mutiara di tengah lautan perfilman. Untuk saat ini, ia cukup menjadi pembuka memuaskan dari skena horor di tahun ini.
The Palace of Wisdom gives 6.5 gold stars out of 10 for UNDERWATER.

 

 

 

That’s all we have for now.

Jika menjadi optimis terlalu susah, cobalah untuk memanfaatkan pesimismu sebagai keuntungan. Menurut kalian apa sih bedanya antara pesimis dengan mudah menyerah? Pernahkah kalian punya masalah overthinking?

 

Share  with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.