BELFAST Review

“To leave home is to break your own heart.”

 

Pembahasan Best Picture kita berikutnya adalah film Belfast. Ditulis dan disutradarai oleh Kenneth Branagh, sebagai sebuah semi-otobiografi. Branagh di sini bercerita dari pengalaman masa kecilnya sendiri di kampung halaman, Belfast di Utara Irlandia, tercinta. Melihat sembilan nominasi yang lain, Belfast memang yang paling ‘berbeda’. Satu-satunya yang hitam-putih, satu-satunya yang karakter utama anak kecil, dan satu-satunya yang bercerita di bawah seratus menit. Tapi ini bukan berarti lantas Belfast jadi anak-bawang. Malah bisa jadi ini justru kuda hitam(-putih). Sebab menonton Belfast rasanya sarat sekali. Sudut pandang anak-anak tersebut ternyata mampu membuat ceritanya kaya dan penuh oleh perasaan, tanpa jadi overly-ribet.

Basically ini adalah cerita tentang anak kecil yang gak mau pindah dari kota kelahirannya.Buddy (newcomer Jude Hill menghidupkan karakter refleksi masa kecil pak sutradara), dalam opening film, sedang bermain-main di daerah dekat rumah. Sungguh kawasan yang akrab. Semua orang di sana saling kenal, saling menyapa. Buddy main ksatria-ksatriaan, melawan naga dengan pedang kayu dan penangkis dari tutup tempat-sampah. Tapi mendadak daerah tersebut rusuh. Imajinasi berantem-beranteman Buddy seketika berganti jadi kericuhan yang nyata. Buddy ada di tengah-tengah kawanan pemuda Protestan menghancurleburkan properti, menyasar komunitas Katolik yang di tinggal di situ. Penangkis mainan Buddy kini benar-benar jadi pelindung dari lemparan batu-batu besar. Buddy yang masih kecil, gak sepenuhnya mengerti apa yang terjadi. Tidak benar-benar paham hubungan kejadian tersebut dengan tempat tinggalnya, dengan orangtuanya.  Buddy cuma tahu satu. Dia gak mau pindah dari sana, karena di Belfast itulah ada kakek neneknya, ada teman-temannya, ada anak-perempuan yang ia sukai. Di Belfast itulah hidup dan hatinya.

belfast063-4184-BW-D012-00132
Aku bukan anak bawang!

 

Kenapa harus pindah itulah yang sebenarnya pelik. Film ini memotret cekcok dalam sejarah. Konflik antarpemuda dua agama, yang juga berkaitan dengan politik, yang actually berlangsung tigapuluh tahun lamanya. Dari film ini kita jadi tahu soal The Troubles itu, dan juga bahwa ternyata detektif Hercule Poirot era kita berasal dari Belfast dan menjadi salah satu dari sekian banyak penduduk sana yang terkena dampak harus bermigrasi mencari keselamatan. Jadi meskipun cerita ini sebenarnya sangat personal bagi Branagh, tapi Belfast punya muatan yang membuatnya tak sekadar sebuah memori masa kecil dan surat cinta untuk kota kelahiran. Tidak seperti Licorice Pizza (2022) yang just trip to memory lane, film ini punya konflik di dalamnya yang ternyata masih beresonansi kuat, masih relevan, dengan keadaan sekarang. Saat konflik-konflik keagamaan, konflik kependudukan masih terjadi. Kita mungkin sampai saat ini masih beruntung belum ngerti rasanya harus ninggalin rumah yang nyaman karena sekarang rumah tersebut berada dalam lingkaran target huru-hara, atau malah perang seperti Rusia-Ukraina. Kita bisa bersimpati pada rasa takut dan kesedihan dari naasnya, tapi tidak heartbreak yang lebih personal. Dan Belfast hadir dalam level yang lebih personal tersebut. Karena memang Branagh tidak membuat Belfast fantastis, ataupun overdramatis dengan gambaran tragedi. Melainkan tetap dalam ‘pandangan’ mata anak kecil yang belum bisa mencerna semuanya dengan benar. Branagh menekankan kepada komunitas atau kehidupan daerah tersebut

Daerah yang penduduknya constantly ribut memang sedikit ngingetin sama West Side Story (2022), tapi sebenarnya buatku, nonton film ini ada kesan yang mirip ama nonton Jojo Rabbit (2020). Karena elemen konflik dilihat dari sudut pandang anak tersebut. Di Belfast, si protagonis anak malah lebih ‘inosen’ lagi. Bagi Buddy masalah itu adalah bagaimana supaya nilai matematika bagus sehingga dia dipindah duduk ke barisan depan, sebelahan sama anak cewek berkepang dua yang manis itu. Bagaimana supaya kakeknya bisa sehat. Dan bagaimana supaya dia bisa ikut nenek nonton film di teater. Buddy aware ada kericuhan, ada orang yang terus nanyain ayahnya yang kerja di Inggris. Jika ayah pulang, Buddy sering juga menguping ayah bertengkar dengan ibu soal tinggal di tempat lain. Tapi semua masalah itu hanyalah ‘warna’ lain dalam kehidupan Buddy. Film fokus memperlihatkan komunitas yang akrab, mulai dari kebiasaan hidup orang-orangnya, hingga tentu saja ke bagaimana Buddy mengarungi hidupnya. Jadi nonton ini, rasanya seperti kita jadi turut jatuh cinta sama tempat tersebut, yang ultimately berarti kita peduli sama Buddy. Ada dramatic irony juga yang kita rasakan karena kita tahu ke mana cerita ini berujung. Dan kita benar-benar concern tentang bagaimana Buddy menangani akhir cerita nanti. Kita hanya bisa berharap cinta yang terus tumbuh seiring berjalannya hari itu gak berakhir menjadi patah-hati yang demikian besar.

Kehidupan sehar-hari jadi fokus, sehingga film ini berjalan agak seperti ngalor-ngidul. Seperti ‘kelemahan’ yang biasa terasa dalam cerita-cerita slice of life. Sudut pandang tersebut dibuat Branagh semakin menarik lagi dengan menggunakan charm komedi ala british sebagai warna lain dalam narasi. Again, membuatku semakin mendekatkan film ini sama Jojo Rabbit. Namun dalam komedi pun, Belfast tidak pernah menjadi sebombastis itu. Tone tetap dijaga sederhana oleh Branagh. Kesannya film ini jadi serius tapi santai. Kejenakaan sebagian besar datang dari tindakan Buddy, seperti misalnya ketika dia ikut menjarah toko, tapi yang diambilnya cuma ‘satu benda itu’. Naskah pun lantas meluncurkan nasihat-nasihat, petuah-petuah lewat karakter yang menyingkapi tindakan Buddy. Salah satu relationship paling hangat dan menghidupkan cerita adalah antara Buddy dengan kakeknya. Dialognya dapat terdengar agak wordy, tapi seperti Buddy kita ikut duduk di sana mendengarkan dan membayangkan setiap kata yang terucap.

Pindah memang bukan hal sepele. Entah itu untuk mencari kesempatan yang lebih baik, atau untuk mendapatkan keamanan, pindah berarti akan ada yang berubah di dalam hidup. Akan ada yang ditinggalkan. Akan ada hal baru yang harus diterima dan disesuaikan. Orang dewasa saja banyak yang gak siap dengan kepindahan. Apalagi anak kecil seperti Buddy. Film ini menelisik efek kepindahan tersebut, mampu mengubah jalan hidup banyak orang, despite kepindahan tersebut diperlukan atau tidak.

 

Dengan banyak ‘warna’ dalam penceritaan, maka penggunaan warna hitam putih untuk tampilan film jadi kontras yang membuat kita ‘hmmm, berarti ada maknanya..’ Hitam putih di sini jadi gak pretentious kayak film C’mon C’mon (yang juga ada karakter anak kecilnya) yang sampai sekarang aku belum review karena aku masih berkutat mikirin alasan yang bagus kenapa film tersebut dibuat dengan hitam putih. Dalam Belfast ini, penggunaan hitam putih itu sendiri aja punya banyak lapisan alasan. Pertama, kita bisa memaknainya sebagai kontras tadi; kontras antara saratnya bahasan dan elemen bercerita yang semuanya ditampilkan lewat sudut pandang kepolosan anak-anak. Kedua, hitam putih ini adalah penanda waktu 1969 yang jadi panggung utama cerita. Film actually menggunakan gambar berwarna ketika memperlihatkan Belfast modern di awal dan akhir durasi. Jadi perbandingan Belfast di dua periode itu nyata ke kita. Sekaligus menguatkan cerita ini adalah flashback memori. Alasan ketiga adalah yang paling menarik. Karena sebenarnya film juga menggunakan adegan berwarna saat nunjukin film-film atau pertunjukan yang ditonton oleh Buddy dan keluarganya.

Dan aku harus bilang, Buddy yang suka nonton ini membuat cerita terasa jadi lebih relate lagi. Di rumah, Buddy nonton serial Star Trek. Di bioskop, Buddy dan keluarga nonton film-film koboi dan film musikal kayak Chitty Chitty Bang Bang. Tontonan yang membuat keluarga mereka ceria, Buddy benar-benar menikmati waktunya saat menonton. Keluarga Buddy sepertinya sama ama kita, menonton sebagai eskapis. Dengan memberi gambar berwarna kepada tontonan-tontonan tersebut, maka film seperti menyimbolkan harapan buat hidup/kenangan hitam-putih Buddy (atau kita bisa bilang Branagh). You know, seolah Branagh ingin bilang bahwa di masa itu film sudah menjadi harapan baginya.

Belfast-e1630871382558
Jadi film ini juga jadi surat cinta Branagh kepada perfilman

 

Secara pesan, film ini sebenarnya sudah terangkum lewat tiga kalimat yang muncul di akhir cerita. Tapi Branagh menawarkan lebih banyak lagi. Kekurangan Belfast cuma tensi. Slice of life ini gak bisa mempertahankan atau membangun tensi, karena sudut pandang anak yang melihat semuanya sebagai ‘just another thing happening’. Di satu momen mungkin kita ikut merasa ngeri saat kamera menghantarkan kita menuju Buddy yang menguping orangtuanya berdebat dari balik jendela, namun momen berikutnya permasalahan itu menguap dari Buddy yang kali ini melihat orangtuanya menarik bak aktor dalam film yang ia tonton. Tapi jika dipikir lagi, ‘kekurangan’ bukanlah sebuah kesalahan, karena memang seperti demikianlah Branagh maunya. Bahwa dia merancang ceritanya untuk berjalan seperti demikian. Karena mungkin itulah yang ia rasakan saat kecil dulu. Enggak benar-benar mengerti masalah ‘orang dewasa’, semuanya just goes by, hingga akhirnya baru kerasa saat dia harus meninggalkan semua.

 

 

Sebagai projek yang sepertinya paling personal yang pernah ia tangani, film ini berhasil dibuat oleh Branagh melebihi target. Enggak sekadar untuk memori. Enggak cuma berbagi pengalaman masa lalu. Personalnya film ini begitu kuat, mengakar menjadi identitas yang bakal mencuatkan film ini di antara yang lain. Branagh membawakan kepada kita kisah kehidupan yang manis-manis pahit, yang senang-senang susah. Pengalaman hidup yang begitu kaya. Dan teramat beresonansi dengan keadaan hidup sekarang. Film ini termasuk yang paling ringan dan yang paling singkat di antara nominasi Best Picture Oscar 2022, tapi merupakan pesaing yang kuat soal urusan urgensi dan kepentingan.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for BELFAST.

 

 

 

 

That’s all we have for now

Sedikit OOT, sistem nilai di sekolah Buddy yang mendudukkan murid di kursi sesuai dengan nilai mereka cukup unik atau cukup militan, tergantung dari bagaimana kita memandangnya. Bagaimana pendapat kalian tentang sistem tersebut? 

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

BAD EDUCATION Review

“Teachers are the unsung heroes”
 

 
Pernah penasaran sama yang namanya ‘uang pembangunan’ di sekolah? Pernah kesal karena setiap bulan selalu ditagih tapi enggak pernah jelas untuk membangun apa? Well, Bad Education arahan Cory Finley bakal bisa memberikan salah satu jawaban atas pertanyaan tersebut. And while at it, drama komedi ini juga bakal menggugah simpati kita dengan pertanyaan lain, yakni benarkah seorang guru tidak memerlukan ‘tanda jasa’?
Karena film ini dibuat berdasarkan kisah nyata dari skandal penggelapan uang sekolah di Amerika. Seorang superintendent bernama Frank Tassone dikenal sebagai guru yang baik. Dia dicintai bukan hanya di kalangan guru dan sejawat, tapi juga oleh murid-murid di setiap sekolah yang ia tangani. Dia akrab dengan orangtua mereka. Tassone benar-benar peduli dan memperhatikan pencapaian akademik dan kepentingan sekolah. Penulis skenario Mike Wakowsky actually adalah mantan murid dari the real Frank Tassone. Dalam film ini Mike menuliskan sosok gurunya itu sebagai pria berpenampilan rapi yang ingin memajukan Roslyn High School sehingga menjadi peringkat satu senegara-bagian. Pria yang lembur di kantor demi menghapal nama murid dan orangtua. Yang mengingat prestasi semua murid tanpa terkecuali. Yang menggebah Rachel, salah satu murid di ekstrakurikuler jurnalistik, untuk mengerjakan tugas lebih dari yang ditugaskan. Rachel kala itu datang hanya untuk meminta komentar soal pembangunan Skywalk. Saran Tassone-lah yang menyemangati Rachel untuk menyusun laporan lebih dalam, sehingga siswi ini menemukan kejanggalan yang mengkhawatirkan pada laporan keuangan sekolah.

Seperti anggaran lem aibon yang mencapai 80 Milyar, eh tapi itu kasus di sekolahan kita yah

 
Skandal nyata yang bisa dibilang terjadi lumayan recent itulah – tahun 2002, tepatnya – yang dijadikan hook pada film ini. Ceritanya menelisik reaksi sekitar karena peristiwa tersebut sensasional sebab dilakukan oleh seseorang yang begitu kharismatik dan disukai, seperti sosok Frank Tassone. Di balik senyum penuh pancaran semangat dan motivasi, ternyata ia telah bertahun-tahun menggelapkan anggaran. Masuk ke kantong pribadi dan kantong orang kepercayaan. Film mengajak kita mengalami rasanya semua itu terjadi. Cerita dibuat semakin ‘seksi’ dengan mengubah sedikit kejadian dari dunia nyata; intensitas digenjot dengan membuat muridnya lah yang melakukan investigasi yang mengungkap semua – sementara pada kejadian nyata, murid dan koran sekolah hanya menyebutkan sekilas yang kemudian langsung dilalap oleh media luar. Secara skenario – pembangunan konflik dan sebagainya – ini adalah yang keputusan yang tepat. Menambah banyak bobot pada drama karena kita akan mendapat banyak interaksi antara Tassone dengan Rachel yang berfungsi sebagai device untuk mengeksplorasi kontras antara kebutuhan guru dan tanggungjawabnya terhadap pendidikan murid.
Bad Education actually adalah pelajaran berharga tentang keadaan dunia pendidikan bagi kita semua. Film tidak melupakan kemanusiaan yang menjadi literally aktor utama di balik skandal menghebohkan jagat pendidikan tersebut. Kita diberi kesempatan untuk melihat siapa sebenarnya Frank Tassone. Dan film melakukan ini tidak dengan cara ‘menipu’. Alias, tidak sekadar dibikin twist atau ‘ternyata’, kayak Tassone diperlihatkan sebagai orang baik di awal kemudian busuknya terungkap oleh koran. Tidak. Film menyetir cerita ini keluar dari jalur Tassone si Good-Looking Con Man. Melainkan menyorotinya dengan sebanyak mungkin kevulnerablean manusiawi. Film dengan subtil menanamkan karakter Tassone. Genuinenya dia terhadap kondisi pendidikan anak-anak diperlihatkan selaras dengan sifatnya yang memang hobi berbuat ‘curang’. Kita melihat dia cheat on his diet. Hingga ke Tassone cheat on his life-partner. Namun semua kecurangannya itu dipastikan oleh film berakar pada kepedulian Tassone terhadap murid-murid.
Salah satu elemen penting sebagai usaha naskah menampilkan kehidupan pribadi Tassone adalah soal hubungannya dengan Kyle, lelaki yang merupakan mantan muridnya saat masih mengajar sebagai guru bahasa Inggris. Ini bukan sekadar menonjolkan preferensi seksual atau sekadar supaya sama dengan kejadian asli, melainkan berfungsi sebagai penanda karakter. Sebab ketertarikan Tassone kepada Kyle bermula saat dia mengetahui mantan muridnya ini gagal sebagai penulis. Ini menunjukkan bahwa tokoh ini tak bisa menahan keinginannya untuk membantu muridnya, Tassone ingin membantunya sukses. Dan dia rela menghabiskan apapun untuk itu. Film juga menunjukkan perbedaan yang mendasar antara korupsi Tassone ini dengan korupsi salah satu sejawatnya yang lebih ke arah tamak. Memperbaiki rumah, belikan Playstation, beli perhiasan. Tassone tidak seperti demikian. Uangnya ia pergunakan untuk bepergian dalam acara pendidikan. Ia pakai untuk perawatan diri karena ia percaya sekolah butuh sosok seperti dirinya.
“I don’t give a damn about bad education”

 
Jadi ada keambiguan pada ‘penyakit’ dan keinginan tulus Tassone sebagai seorang pengajar/pendidik. He almost beg for a sympathy, sementara kita tahu apapun alasannya menggelapkan uang – mencuri uang – itu adalah perbuatan yang salah. Inilah yang menyebabkan film ini menarik menit demi menitnya. Membuat kita mempertanyakan diri sendiri bagaimana seharusnya perlakuan kita terhadap guru. Pekerjaan guru, mengajar, seharusnya mengutamakan kepada outcome; berhasil atau enggak dalam mencerdaskan anak-anak, memajukan pendidikan bangsa dan segala macam. Tapi bagaimana dengan income; bagaimana si guru tersebut. Tidakkah mengatakan mereka pahlawan tanpa tanda jasa tidak bakal jadi beban bagi mereka? Kita banyak mendengar guru dibayar kecil, gaji guru enggak seberapa. Tokoh Frank Tassone berargumen soal ini, sebagai pembenaran atas apa yang ia lakukan.
Monolog saat Tassone menumpahkan keluh kesah kepada orangtua murid yang merupakan tumpukan ‘kekesalan’ pribadinya, sekaligus bisa kita gunakan sebagai cermin terhadap dunia pendidikan. Tassone kurang lebih bilang, “Pernahkah Anda mengingat wajah guru yang duduk bersamamu, yang membimbing, mengajarkan berhitung dan membaca? Anda mungkin lupa. Tapi kami tak pernah lupa. Karena kalian hanya menganggap sekolah sebagai tempat pacuan kuda, anak-anak digempur, dan kamilah pengurus kuda-kuda itu.” Itulah akar dari permasalahan ini menurut dirinya; bahwa orang-orang abai kepada guru. Bahkan ketika dirinya terpaksa memakai duit sekolah dengan jumlah tak seberapa – awal dari semua ini – bertahun-tahun yang lalu, orang-orang gak ada yang peduli. Orang-orang hanya peduli pada kinerja. Sekolah yang mendapat peringkat empat. Mereka mendapat gengsi dan anak-anak yang pintar. Guru hanya mendapat tepuk tangan. Dan bagi Tassone, itu semua enggak cukup.

Pahlawan tanpa-tanda jasa berarti pahlawan yang mengerjakan kebajikan tanpa pamrih. Mereka harus kita apresiasi, diberikan pengakuan, penghargaan. Kita harus memberikan kepada mereka, tanpa diminta. Sebab begitu tanda jasa itu diminta, maka mereka bukan lagi pahlawan. Mereka bisa berubah menjadi penjahat yang mengambil sesuatu lebih dari haknya.

 
Entah pembelaannya itu tulus atau tidak, entah semua ucapan emosionalnya itu beneran atau cuma alesan, is it a classic ‘help me help you’ scenario? Film mengembalikan semuanya kepada kita. Korupsi, bagaimanapun salah karena telah merugikan orang banyak. Hanya, ada suatu pokok yang bisa kita renungkan di balik ini semua. Dalam konteks ini, penampilan akting menjadi penentu nomor satu kesuksesan bercerita. Dan, wow, Hugh Jackman benar-benar luar biasa memerankan sang superintendent. Kita percaya ketika dia mengajar dan menyemangati anak-anak murid. Namun kita juga merasa dicurangi ketika semua perbuatannya terungkap. Jackman berpindah dari orang yang dihormati, ke pasangan yang dicintai, ke tikus yang licik dengan sangat meyakinkan. Monolog yang aku sebut tadi, sebenarnya setelah itu dia melakukan monolog lagi berupa menjelaskan kepada anak kecil pengucapan kata ‘accelerate’. Penyampaiannya sangat menakjubkan, Jackman benar-benar menyelam sempurna ke dalam perannya. Dia tampak seperti orang yang punya passion mengajar beneran.
Meskipun begitu, di babak awal film ini sebenarnya berjalan kurang mulus. Penonton yang belum tahu bahwa film ini berdasarkan kasus korupsi dana sekolah, akan bingung ke mana arah alur cerita. Motivasinya kurang tertanam, film seperti berkubang pada set up yang menuntut kita untuk mendengar para tokoh lalu seperti terpecah dua saat Rachel si jurnalis sekolah muncul. Film akan membawa kita bergantian dari momen Rachel ke Tassone, dan untuk awal-awal terasa seperti ketidakmantapan sudut pandang. Sampai akhirnya kita tahu bahwa film ini berdasarkan satu event – kejadian terungkapnya kasus di sekolah – dan lantas film berkembang menjadi menarik. Dan terasa sangat relevan karena setiap kita pasti punya kecurigaan sekolah kita menarik uang untuk yang tidak-tidak.
 
 
 
Yang akan menghantam kita saat menonton film ini adalah perasaan terkhianati oleh orang yang paling kita percaya sedunia, dan kemudian gelombang intropeksi apakah kita yang menyebabkan dia jatuh dari kesempurnaan. Naskah mencoba mengulik semua kompleksitas berdasarkan kasus di kehidupan nyata pada dunia pendidikan. Kita dapat merasakan usaha untuk membuat cerita ini lebih dari sebuah peristiwa penipuan. Juga sekeras mungkin berusaha untuk ambigu, dan melihatnya dari sisi pelaku. Menonton ini nyaris dua jam, kita gak akan bosan karena diisi oleh topik yang memancing dan penampilan akting yang jempolan.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for BAD EDUCATION.

 

 
 
That’s all we have for now.
Apakah menurut kalian sistem pendidikan kita sudah benar-benar menghormati dan menghargai guru sebagaimana pekerjaan mereka?
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

#TEMANTAPIMENIKAH2 Review

“Unplanned moments are always better than planned ones.”
 

 
 
Namanya udah nikah, urusannya sudah bukan lagi siap atau tidak siap. Melainkan ‘harus siap’. Siap dalam mengubah kebiasaan. Siap dalam berhadapan dengan yang ‘terburuk’ dari teman hidup yang sudah dipilih. Terutama, siap untuk mengurungkan rencana hidup yang sudah disusun. Menjadi pasangan berarti kudu siap menerima kejutan-kejutan rumahtangga. Toh, lagipula hidup tidak akan pernah berjalan sesuai rencana, dan di situlah letak indah dan berharganya kehidupan.
Ayu dan Ditto belum benar-benar siap dalam menghadapi kehidupan baru mereka. Sekian lama menjadi sahabat akrab, hal menjadi sedikit kikuk pada awal-awal pernikahan mereka. Tapi kurang lebih, Ayu bahagia, karena hidup mereka tidak banyak berubah. Berkarir, jalan-jalan. Sampai datanglah karunia tak terduga itu. Ayu hamil. Kehidupan ia yang dulu, rencana-rencananya, jadi harus ditunda. Kalo enggak mau dibilang harus dikesampingkan begitu saja. Ayu stress. Terutama ia takut kehamilan ini akan mengubah total dirinya. Namun dengan berpikir demikian, ia sudah berubah. Kalo kata Ditto, Ayu sekarang berasa serigala. Keseluruhan durasi Teman tapi Menikah 2 ini akan membawa kita mengarungi hari-hari kehamilan Ayu yang dihiasi oleh pertengkarannya dengan Ditto, kecemasannya melahirkan sesar, dan manis yang nanti ia rasakan saat bingkisan karunia dari Pencipta itu hadir ke dunia.

Teman tapi Menyiksa

 
Hal terbaik dari film ini adalah penampilan akting Mawar Eva de Jongh yang memerankan Ayudia Bing Slamet. Dan ini ‘harga’nya mungkin cukup tinggi, karena film actually mengganti pemeran dari film pertamanya yang meraih lebih dari satu-juta-lima-ratus orang penonton. Film sampai melakukan reka ulang beberapa adegan di film pertama sebagai montase pembuka. Langkah ini menimbulkan tandatanya cukup besar karena biasanya jika sebuah film tergolong laku sampai mendorong hadirnya sebuah sekuel, maka pemain terutama pemain utama akan dipertahankan sebab penonton asumsinya sudah klop dengan mereka. Kalopun ada penggantian, maka akan lebih mudah mengganti semuanya misalnya dengan membuat cerita yang periodenya berjarak jauh, sehingga pergantian tersebut menjadi beralasan. Dalam kasus Mawar menggantikan Vanesha Prescilla di film kedua ini, kita tidak melihat alasan yang jelas selain pernyataan sebagian penonton yang beranggapan Vanesha masih belum matang untuk memainkan karakter Ayu di film ini. Kalo memang itu alasannya, maka menurutku Falcon ‘jahat’ juga karena film ini seharusnya jadi kesempatan Vanesha membuktikan dirinya sebagai aktor karena maaaan, Ayu di film ini punya range yang luar biasa. Dan Mawar, untungnya, berhasil capitalized this chance dengan menunjukkan permainan akting yang terasa seperti ia benar-benar melalui semua kecamuk, kegelisahan, bahkan kesenangannya menjadi seorang ibu di usia muda.
Interaksi Mawar dengan Ditto yang masih diperankan oleh Adipati Dolken juga terlihat natural, maupun saat berantem ataupun saat mode pacaran. Malah Adipati yang terlihat lebih ‘lemah’ aktingnya di sini karena dia gak ada peningkatan dari film pertama. Jika dulu Adipati dan Vanesha sama-sama lemah dalam adegan emosional seperti menangis, atau berantem, maka film itu bisa menutupi dengan lebih banyak menonjolkan interaksi unyu hubungan tanpa-status mereka. Namun kali ini, film punya cerita yang lebih menguras emosi. Dengan Mawar bermain luar biasa, momen-momen emosional sering jadi timpang. Ngeliat Ditto di film ini nangis, kita gak pernah yakin dia beneran nangis atau lagi ngelucu.
Kehamilan yang tak direncanakan merupakan sebuah situasi yang tumpah meruah oleh begitu banyak emosi. Takut, panik, bingung, excitement, dan kebahagiaan. Mawar, sebagai Ayu, akan mengalami itu semua satu persatu. Soal kehamilan yang tiba-tiba ini adalah inti dari cerita Teman tapi Menikah 2, yang harusnya bisa menjadi pembahasan yang lebih padat, lebih berisi, dan menginspirasi pasangan suami istri muda seperti Ayu dan Ditto. Film ini bersinar saat mengangkat pembahasan pentingnya suami dan istri untuk saling support, dan bagaimana mereka juga butuh space. Salah satu poin perkembangan karakter Ayu adalah awalnya dia merasa harus selalu dekat dengan Ditto sebagai usaha menunjukkan support. Namun dia akhirnya untuk tidak harus memaksakan, karena dirinya sendiri butuh penyesuaian, ada batasan yang hadir dengan kehamilan. Dan seperti halnya melahirkan; tidak bisa dengan asal ngepush.
Film mencoba mengangkat konflik dramatis dari pasangan muda yang masih punya ego masing-masing, serta bagaimana mereka masing-masing berjuang untuk damai dengan kenyataan bakal punya anak; bahwa mereka kini hanya punya waktu sembilan bulan untuk puas-puasin mengejar mimpi/cita-cita. Baik Ditto maupun Ayu pada awalnya menghitung bulan ini, untuk alasan yang berbeda. Ditto menghitung waktu kebebasan bagai orang yang lagi di penjara, sedangkan Ayu seolah menghitung mundur hari penghabisan bagi dirinya. Tidak keduanya berkesan positif bagi kelangsungan rumah tangga. Namun sembilan bulan itulah durasi pembelajaran bagi keduanya. Dua-ratus-tujuh-puluh hari adalah waktu yang cukup bagi kebanyakan orang untuk menyesuaikan diri dengan perubahan, dan mengarahkan diri ke mindset yang lebih positif. Kita akan melihat Ayu semakin menumbuhkan cinta kepada bayi yang bertumbuh di dalam tubuhnya. Dia membuat banyak perubahan positif, dia berolahraga dengan benar, berusaha mencari cara kehamilan yang lebih sesuai. Begitu juga dengan Ditto yang mulai seperti mengeset ulang prioritas hidupnya. Setengah paruh akhir, sekitar babak ketiga film, adalah bagian yang paling ingin kita lihat dari cerita semacam ini. Di bagian ini lebih mudah untuk peduli kepada tokoh-tokohnya, karena saat ini kita melihat mereka memilih langkah yang, ditambah pula dengan penulisan yang lebih ketat dan lebih ekslusif kepada pekerjaan mereka sebagai publik figur alias bintang televisi. Layer inilah yang seharusnya ditonjolkan film sedari awal.

Terkadang kita harus menerima kenyataan bahwa beberapa hal tidak akan pernah kembali ke sedia kala. Things do change. Plans got scrapped, dan musti dipikirin lagi dari awal. Hanya ada satu yang konstan, dan itu adalah cinta. Si cinta ini bekerja secara misterius. Momen-momen yang terjadi atas nama cinta tidak bisa diprediksi. Sama seperti ketika Ayu yang tidak menyangka bakal nikah sama sahabatnya sendiri. Setiap bumil – direncanakan atau tidak – bakal merasakan kebahagiaan. Sehingga alih-alih berkubang pada hal yang harus digugurkan, nantikanlah cinta dan kedamaian yang hendak didapat sebagai gantinya.

 
Akan tetapi skenario seperti mengulur-ngulur dengan memasukkan banyak hal yang less-signifikan. Paruh awal, mungkin malah sekitar 60-70%nya diisi dengan konflik yang ngeselin. Film ini kasusnya seperti Dilan 1990 (2018) – bukan kesamaan dari cerita, melainkan sama-sama mengandung konflik, hanya saja sebagian besar konfliknya itu gak penting dan kayak diada-adain.

Teman tapi Memaksa

 
“Gak mungkinlah, kita kan baru nikah masa udah hamil” ucapan Ditto merefleksikan kualitas naskah film ini. Atau paling enggak, begitulah naskah nge-depict sifat kekanakan Ditto. Dengan narasi demikian, film seolah membuat kehamilan Ayu sebagai hal yang gak lumrah; ia berusaha membuat kehamilan ini lebih sebagai ‘kecelakaan’ ketimbang hal yang tidak direncanakan. Padahal mereka melakukan, lalu hamil, ya wajar, tapi film membuat mereka kaget karena mereka baru saja menikah. Reaksi ini terlalu dibuat-buat, bahkan untuk mereka berdua yang pasangan muda. I mean, mereka bukan di film Dua Garis Biru. Mereka menikah, komit, tahu cara kerja dan konsep kehamilan. Namun di awal-awal, oleh naskah kedua tokoh ini tampak seperti sedang main rumah-rumahan. Ini mungkin salah satunya disebabkan oleh film ingin tampil untuk penonton dengan rentang usia tiga-belas tahun ke atas, jadi pembahasannya gak boleh mature-mature amat.
Masalah yang membuat mereka berantem hanyalah masalah kecil seperti beda kebiasaan, sehingga setiap kali mereka ribut rasanya gak penting dan buang-buang waktu. Kita bisa melihat keduanya sama-sama salah. Dan ini terus berulang – formulanya selalu ribut, kemudian sadar udah emosi, kemudian maafan – dengan berbagai versi kejadian. Yang semakin mengada-ada. Di satu titik mereka berantem karena Ditti cemburu Ayu lebih perhatian kepada janinnya. See what I mean?
Dengan kejadian selemah itu, tidak pernah sekalipun mereka berantem terasa seperti hal yang mengancam. Kita tidak mengkhawatirkan mereka bakal pisah, kita tidak mencemaskan keadaan bayinya; tidak ada stake yang kuat. Film semestinya segera bermain dengan lapisan-lapisan supaya mereka berantem dengan masalah yang lebih natural dan gak repetitif. Soal kerjaan, soal posisi sebagai artis, soal duit, normal bagi film tentang pasangan muda membahas ini, dan normal juga untuk memantik sedikit dramatisasi demi film berjalan lebih menarik. Daging sesungguhnya ada di paruh akhir, namun pada poin itu sudah terlambat karena menjelang penghabisan film terasa nge-drag luar biasa.
 
 
 
It still has its charms. Ayu dan Ditto begitu lovable, kita suka melihat interaksi mereka. Dimainkan dengan sangat baik pula, terutama di bagian-bagian mereka berbagi suka. Secara narasi, film ini tidak terasa lebih besar dan signifikan dibanding film yang pertama. Padahal ceritanya sekarang mereka sudah menikah dan punya masalah dari kehadiran bayi yang tak-disangka. Masalah yang notabene lebih menguras emosi ketimbang persoalan ngungkapin cinta kepada sahabat. Mestinya ada banyak yang bisa digali, tapi film mengulur dengan menghadirkan konflik-konflik yang kurang menggigit sebagai penghantar.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for #TEMANTAPIMENIKAH2.

 
 
 
That’s all we have for now.
Kenapa sih menurut kalian menjadi ibu atau orangtua itu begitu membahagiakan?
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

FIGHTING WITH MY FAMILY Review

“Everyone wants to win”

 

 

 

Enggak, aku bukannya bias karena aku penggemar gulat. Tapi Fighting with My Family yang diproduseri oleh Stephen Merchant bareng The Rock dan WWE Studios ini memang bagus karena nawarin drama keluarga yang beneran menyentuh, dari dunia yang tak semua orang tahu.

 

Pro-wrestling memang masih salah satu media entertainment yang sering diremehkan. Mungkin malah tabu di Indonesia, yang melarang penayangannya semenjak kasus anak kecil meninggal menirukan adegan-adegan smekdon. Maka aku maklum kenapa film tentang kehidupan keluarga pegulat kayak gini enggak ditayangin di bioskop kita. Siapa sih yang masih nonton gulat jaman sekarang? Film actually sangat self-aware. Pertanyaan tersebut beneran digambarkan oleh film ini dalam sebuah adegan kocak ketika keluarga pegulat makan malam bareng keluarga pacar anak mereka. Bahkan di antara sesama penggemar wrestling saja, Fighting with My Family awalnya sempat dinyinyirin. Kenapa malah Paige yang dibikinin biografinya, kenapa bukan Stone Cold, atau Undertaker, John Cena, atau The Rock sekalian?  Aku percaya setiap orang punya cerita, dan setiap cerita pantas untuk difilmkan. Asalkan ceritanya genuine loh ya, bukan cerita hidup dikarang-karang kayak orang yang titisan atau bisa melihat setan. Terlalu cepat? Rasanya tidak juga, karena pengaruh Paige di WWE sendiri cukup besar; dia juara cewek termuda dalam sejarah (umur 21 tahun), dia mencetuskan gerakan Women’s Revolution yang membuat posisi pegulat cewek lebih baik dan lebih signifikan, dia masuk nominasi Unyu op the Year My Dirt Sheet FOUR, dan unfortunately kini Paige sudah menggantung sepatu bootnya; dia tidak bisa bergulat lagi karena cedera yang ia koleksi sebagai efek samping dari bergulat sejak kecil. Itu sebabnya waktu sudah bukan masalah, cerita Paige beserta keluarganya kalo bukan golongan unik, maka aku gak tau lagi makna unik itu seperti apa.

Ketika Paige kecil berantem rebutan remote tv dengan abangnya, ayah mereka bukannya melerai tapi malah mengoreksi pitingan yang mereka lakukan. Keluarga Paige memang hidup dari bisnis gulat, ayahnya adalah legenda lokal di kota mereka di Norwich, Inggris. Begitu pula ibunya; nama asli Paige, Saraya, sebenarnya adalah nama-alias si ibu di dalam ring gulat. Orangtua macam apa hahaha… Keluarga ini mengelola promosi gulat independen, Paige sedari kecil sudah nyemplung ke dalam dunia ini, dan begitulah cintanya terhadap wrestling tumbuh. Paige berlatih gulat bersama abangnya, mereka melatih anak-anak di sekitar sana, mereka melakukan pertunjukan di aula. Paige dan abangnya, Zack, ingin mewujudkan mimpi mereka menjadi pegulat sehebat The Rock. Jadi mereka mendaftar untuk try-out di WWE, perusahaan yang udah kayak hollywood-nya dunia gulat-hiburan. Mereka berhasil terpanggil. Namun hanya Paige seorang yang beneran diterima untuk tampil di acara WWE.

I didn’t realize it back then, tapi sekarang, aku bangga pernah menyaksikan secara live Paige bertanding gulat

 

Hati dan jiwa film ini terletak pada hubungan antara Paige dengan abangnya tersebut. Motivasi mereka sama-sama besar. Film berhasil melandaskan betapa eratnya relasi antara kedua tokoh. Mereka hampir tak terpisahkan. Berlatih bersama. Bertanding bersama. Mereka adalah bebuyutan di dalam ring, namun di belakang panggung, mereka adalah the best of friends. Enggak gampang hidup dengan pekerjaan yang dipandang sebelah mata oleh kebanyakan orang. Bagi keluarga Paige, berjuang di atas ring itu sejatinya adalah perjuangan mereka di dunia nyata. Dan hubungan Paige dengan Zack si abang, merefleksikan bagaimana hubungan satu keluarga ini secara utuh. Set-up cerita benar-benar membuat kita terinvest. Keluarga akhirnya menjadi stake cerita; Zack harus menghidupi istri dan anaknya, sebagaimana Paige juga harus sukses untuk membantu keluarganya. Makanya, saat mimpi kedua tokoh ini tidak berjalan sesuai rencana, konflik yang menyusul terasa kuat merasuk ke dalam diri kita yang melihat mulai tercipta kerenggangan di antara mereka. Dan kerenggangan itu terasa lebih jauh dari jarak yang tercipta antara Paige harus pindah ke Amerika, tempat markas WWE, dengan abangnya di Inggris.

Cerita dengan bijaknya tidak sekadar membuat rasa cemburu sebagai api konflik. Malahan, cemburunya terasa sangat kompleks. Bayangkan dua orang yang saling dukung dan bantu karena sama besarnya menginginkan hal yang sama, tapi hanya satu yang bisa mendapatkan. Paige kehilangan semangat juang di pelatihan WWE yang sangat menempa fisik, sementara abangnya melawan kecemburuan tersebut dengan berusaha mempercayai dia tidak terpilih lantaran sang adik lebih baik dari dirinya. Bagi Zack, tentu saja itu sangat pahit. Naskah sukses berat memparalelkan kedua tokoh ini, kita melihat mereka menempuh turunan tajam dalam hidup. Penulisan Paige dan Zack ini adalah contoh yang brilian dari yang disebut KONFLIK NILAI KARAKTER. Menurut John Truby dalam bukunya, The Anatomy of Story, konflik yang menarik itu dapat terjadi dengan cara mengestablish tujuan yang sama untuk dicapai tokoh-tokohnya, tapi buat para tokoh tersebut punya cara atau pandangan yang berbeda untuk mencapainya. Paige dan Zack punya tujuan yang sama; sukses sebagai pro-wrestler, mereka terluka oleh wound yang sama saat mereka terpisah. yang menyebabkan mereka menciptakan ‘kebohongan’ yang berbeda. Menghasilkan konflik yang luar biasa terasa ke hati kita. Paige’s lie – kebenaran palsu yang ia percaya – adalah ia tidak bisa sukses tanpa abangnya. Sedangkan lie-nya Zack adalah dia bukan apa-apa karena tidak mampu keterima di WWE.

These two needs to work things out. Harus saling dibentrokkan supaya mereka melihat di luar kebohongan personal yang mereka ciptakan masing-masing. Dan momen ketika mereka berbenturan di akhir babak kedua itulah yang menjadi momen terhebat dalam film ini. Kita semua tahu gulat itu gak benar-benar memukul lawan. Film menggunakan ini untuk memulai momen benturan antara kedua tokoh. Paige dan Zack bertanding kembali dan apa yang dilakukan Zack akan membuat kita membenci dan sedih melihatnya di saat bersamaan. Permulaan yang sempurna dari penyelesaian yang menyusul kemudian. Aku sungguh-sungguh tak menyangka bakal disuguhin adegan keluarga, kakak-adik, yang begitu heartfelt dalam film tentang pegulat!

Siapapun yang merasa dirinya manusia, pasti pernah menginginkan sesuatu, so intense you think you’d die without it. Sekiranya inilah yang ingin disampaikan oleh sutradara Stephen Merchant. Bahwa semua orang menginginkan hal yang sama dengan kita. Ingin ‘menang’. Namun bukan berarti itu menjadikan dunia sebagai ring kompetisi. Karena seperti dalam gulat, ketika kau kalah, kau membuat orang lain tampak hebat, tidak berarti kau kurang penting. Kita semua adalah pemenang by default, tergantung kita yang menunjukkan seberapa menang kita, bahkan dalam kekalahan.

 

Hal unik lain yang bisa kita dapatkan dari film yang sebenarnya punya formula standar cerita tentang orang yang akhirnya menjadi ‘juara’ adalah kita bisa mendapat pengetahuan yang lebih dalam tentang bagaimana WWE bekerja. Mendengar alasan dari pihak WWE dalam cerita soal kenapa Zack tidak terpilih benar-benar membuat mataku terbuka. Bahwa setiap kita punya peran sesuai dengan siapa diri kita sebenarnya. Film juga berhasil membuat WWE tidak tampak munafik. Cerita tidak mangkir dari kenyataan dari company ini sudah tidak seperti dulu, bahwa mereka tentu saja mementingkan brand-image. Mereka meng-hire sebagian talent memang dari tampang dan lekuk tubuh semata. Namun itu semua punya alasan yang berkaitan dengan tema ‘semua orang ingin menang di perjuangan hidupnya masing-masing’. Dan untuk percaya bahwa perjuangan yang satu lebih tidak penting dari yang lain, adalah hal yang salah kaprah. Paige belajar pelajaran yang sangat berharga ini lewat rekan-rekan seperjuangan yang tadinya ia remehkan.

baru umur 26 dan sudah ada film tentang keberhasilan hidupnya, aku?

 

Dengan pengawasan ketat dari The Rock, skrip film ini berhasil berkembang dengan baik, tanpa mengurangi nilai penulisan dan strukturnya sendiri. Lumayan ada banyak alterasi yang dilakukan oleh naskah terhadap kejadian asli, yang bakal jadi makanan empuk buat nitpick-nitpick penggemar gulat. Tapi aku tidak punya waktu untuk nitpick saat sedang sibuk tertawa-tawa oleh dialog-dialog dan penampilan akting yang kocak sekali. Keluarga Paige lucunya udah keterlaluan. Nick Frost sangat hebat memainkan Ricky Knight, ayah Paige yang lumayan ‘bar-bar’ tapi fair dan sangat menyayangi keluarganya. Saat Frost mengucapkan dialog gulat adalah agama, penyelamat mereka, aku percaya. Sudah seperti Ricky beneran yang mengucapkan. Hampir semua adegan yang ada Ricky, kita akan tertawa. Vince Vaughn juga tampil dalam film ini, sebagai pelatih Paige di WWE. He also funny. Perannya akan sedikit mengingatkan kita saat dia jadi Sersan di Hacksaw Ridge (2016), meski di sini sedikit lebih ‘pg-13’. The Rock porsinya sedikit, tapi cukup mencuri perhatian. Meskipun dia tidak satu frame dengan banyak lawan mainnya, interaksinya dengan tokoh si Vaughn sangat minimal hingga malah tampak awkward, tapi tidak pernah jadi persoalan besar.

Pujianku terutama tertambat kepada Florence Pugh yang berperan sebagai Paige. Umm, ralat, tepatnya sebagai Saraya Knight, karena Paige adalah tokoh yang ‘dimainkan’ Saraya di atas ring WWE, dan film ini lebih tentang personal Saraya yang harus memainkan Paige. Ada banyak emosi yang harus Pugh kenai. Ada elemen fish out of water saat Saraya baru nyampe ke Amerika, dia harus menyesuaikan diri dengan disiplin kerja WWE, juga kehidupan sosial di sana. Pugh actually harus bergulat beneran, yang berarti ada usaha fisik juga. Film beneran merekaulang debut Paige di televisi sebagai final dari perjalanan Saraya. Bagi yang udah tahu sejarahnya, yang menonton pertandingan asli debut Paige melawan AJ Lee di tv, sekuen final film ini mungkin bisa terasa sedikit rush. Kepandaian Paige terasa tercut-cut, tidak begitu dominan. Adegan ini juga bisa tampak sebagai usaha sia-sia mendramatisir pertandingan WWE yang semua juga udah tahu hasilnya sudah ditentukan. Namun kupikir, semua itu adalah pilihan kreatif yang diambil oleh film. Karena sekuen tersebut bukan untuk menunjukkan cara Paige jadi juara mengalahkan AJ Lee, melainkan untuk memperlihatkan Saraya akhirnya berhasil mengalahkan kebohongan personal yang ia percaya, ia membanting demam panggungnya keras-keras, di momen tersebut Saraya sudah percaya dia terpilih untuk memegang sabuk bukan karena abang yang membuat ia jadi terlihat lebih baik.

 

 

Meminjam catchphrasenya The Rock; “It doesn’t matter” apakah kalian penggemar gulat atau tidak. Film ini dibuat untuk setiap orang. Karena kita adalah tokoh utama dalam cerita hidup masing-masing. Kita punya keinginan. Kita harus belajar memahami apa yang kita butuhkan untuk mencapai keinginan tersebut. Dan also, kita juga punya keluarga. Film yang berdasarkan dokumenter keluarga Knight The Wrestlers: Fighting with My Family (2012) ini memang tidak spesial dari segi arahan, ini adalah film crowdpleaser dengan formula yang sama kayak film-film tinju ataupun film tentang kompetisi. Tapi penampilan dan naskahnya tergarap dengan luar biasa baik. It is really inspiring. Drama keluarga dan konflik-konfliknya akan sangat menyentuh. Dan siapa tahu, kalian jadi tertarik sama dunia gulat setelah nonton film ini. Karena seperti yang selalu kubilang pada ulasan-ulasan kategori wrestling, gulat itu sama aja kayak film. Hanya pake spandeks.
The Palace of Wisdom gives 7.5 gold stars out of 10 for FIGHTING WITH MY FAMILY.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Bagaimana pendapat kalian tentang gulat? Apakah kalian setuju dengan perkataan film ini bahwa manusia ada yang tercipta sebagai bintang, ada yang tidak, dan tidak seharusnya kita berjuang meninggalkan bagian kita?

Tell us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

BLACKKKLANSMAN Review

“There is life after hate.”

 

 

 

Manusia bisa jadi adalah satu-satunya spesies yang ngucilin sesamanya atas alasan berpikir bahwa golongan mereka lebih hebat daripada sebagian golongan lain yang berbeda. Mungkin aku salah, mengingat toh memang hewan ada yang punya sistem hierarki ala kasta, tapi rasa-rasanya aku belum pernah mendengar seekor zebra ngomong “Eh Kucrit, yang laen pada putih belang item, elu malah item garis-garis putih. Sono lu, nguli di pojokan!”. Aku belum pernah ngelihat singa albino dilemparin kerikil ama teman-temannya, diolok-olok “Anak bule! Anak bule!” (lagian siapa juga yang berani ngelempar singa hihihi) Dan aku seratus persen yakin belum pernah nemuin berita di koran tentang hewan-hewan kebun binatang menggelar aksi protes menuntut untuk enggak dikandangkan bareng hewan-hewan oposisi partai politiknya.

Tapi kita, karena kemampuan berpikir yang lebih canggih dengan kesadaran dan nurani yang lebih berkembang, gemar melakukan diskriminasi. Manusia tidak bertumbuh dalam kesamaan. Kondisi yang berbeda-beda, menyebabkan ketidakmerataan menjadi fitrah bagi manusia. Dan ini menciptakan perbedaan yang lebih jauh lagi. Ada orang-orang yang memandang perbedaan sebagai kekuatan, karena tujuannya adalah mencapai kesetaraan, seperti semboyan negara kita. Namun ada juga, perbedaan tidak seharusnya di-embrace; hanya ada satu kesempurnaan yakni kelompok mereka.

nonton bokep aja kadang kita suka rasis; lebih suka barat daripada jepang atau sebaliknya

 

 

KKK yang kalo dipanjangin berbunyi Ku Klux Klan adalah salah satu contoh dalam sejarah sebuah organisasi yang punya paham ekstrim mengenai kesempurnaan kelompok mereka; ras kulit putih. Berdiri sejak 1865, mereka ini anti semuanya deh, anti-Islam, anti-Yahudi, anti-komunis, anti-LGBT, anti-immigrant, mereka ini menjunjung tinggi supremasi kulit putih bangsa Amerika. Throughout history, kita dapat membaca kiprah mereka membantai warga kulit hitam, bahkan sesama kulit putih yang melindungi kulit hitam, dan catatan klan ini masih berlanjut hingga sekarang. Memang terdengar seperti dalam cerita-cerita horor sih ya, bahkan anggota klan ini tampil dengan seragam berupa topeng dan jubah putih, lengkap dengan simbol mereka. Aksi KKK memuncak di tahun 1960an, dan mendapat perlawanan dari african-american di Amerika. Marthin Luther King muncul, Malcolm X turun tangan. Menyerukan persamaan hak; bahwa manusia tetaplah manusia yang punya derajat yang sama.

Cerita yang diangkat oleh Spike Lee dalam film ini adalah bentuk ‘perjuangan’ yang berbeda. Begitu outrageous, malah. Sehingga membuatku terheran; betapa kerennya kejadian ini pernah beneran terjadi, dan saking kerennya sampai-sampai “kok baru kali ini loh ini difilmkan?” BlacKkKlansman menceritakan tentang Ron Stallworth (John David Washington berhasil keluar dari bayang-bayang bokapnya, Denzel, yang bermain di Malcolm X – film lain tentang Ku Klux Klan garapan Spike Lee), ia adalah seorang polisi yang berusaha menyusup ke dalam sebuah kelompok lokal yang diketahui bagian dari KKK, ia ingin tahu apa rencana mereka, sehingga bisa menyetop kekacauan sedini mungkin. Menariknya adalah, Ron adalah orang kulit hitam. Pada tahun segitu, sudah cukup dipandang miring gimana dia bisa dilantik sebagai anggota polisi. Apalagi gimana cara dia masuk ke dalam KKK tanpa diberondong peluru? Ron berkomunikasi dengan para anggota lewat telefon. Mencoba berakrab-akrab ria, menjadi teman mereka, memahami jalan pikiran dan langkah mereka. Dan ketika dibutuhkan untuk hadir ke dalam pertemuan KKK, Ron ‘diwakilkan’ oleh rekan polisinya, Flip Zimmerman (Adam Driver suprisingly kocak di sini), yang memang sih relatif aman karena dia berkulit putih, tapi bukan berarti tak ada resiko karena Flip seorang Yahudi. Sungguh gila situasi yang mereka alami. Film ini sejatinya punya cerita yang berlatar begitu kelam, namun oleh sang sutradara, semuanya dipresentasikan dengan keseimbangan hiburan yang menakjubkan.

Sebagian besar keasyikan kita menonton dua jam film ini berkat interaksi antara John David dengan Adam Driver. Mereka beradu pikiran soal bagaimana mereka akan melakukan penyusupan tersebut. Ada lapisan akting yang terjadi di sini. You know, John David musti berusaha terdengar sebagai orang kulit putih saat bicara di telefon, dia menutupi dialeknya. Film juga memancing kita dengan pertanyaan, seberapa beda sih gaya bicara golongan ini. Aku suka gimana polisi yang ditanyai oleh Ron soal perbedaan suaranya tidak bisa menjawab di mana persisnya letak perbedaan tersebut, dan sebaliknya, si Grand Wizard – pemimpin – KKK punya teori sendiri gimana cara membedakan dialek mereka, padahal kita melihat sendiri dia sedang ditipu mentah-mentah saat menjabarkan teori cerdasnya tersebut. Juga Adam Driver yang harus berakting sebagai orang yang berakting membenci kulit hitam dengan segala resikonya karena setiap pertemuan KKK, tokoh yang ia perankan selalu diancam dugaan dan ditodong oleh alat pendeteksi kebohongan.

kau tidak bisa pake Jedi Force, loh, di sini

 

 

Tapi bukan lantas berarti tokoh utama kita, si Ron, enggak benar-benar terekspos oleh bahaya. Dia pun masih harus menyusup ke dalam lingkaran orang-orang rasnya sendiri. Perannya dengan Flip sama, berundercover ria menjadi seorang yang bertentangan dengan pandangan mereka sendiri. Ron actually ingin menggiring saudara-saudara sebangsanya untuk melihat bahwa menyerukan “Black Power” bukan berarti musti bertindak sama dengan ‘musuh’ yang mereka lawan. Bahwa tidak semua polisi brengsek, bahwa kesetaraan itu bukan berarti ‘jika keinginan minoritas tidak dipenuhi, maka itu disebut semena-mena dan tidak toleransi’.

Ron yang kulit hitam menyusup di antara orang-orang kulit hitam. Flip yang kulit putih, juga berpura-pura di antara kulit putih. Tapi mereka berdua punya pandangan berbeda dari kelompok mereka. Inilah tema yang mendasari film ini; gimana wujud kita, rupa kita, akan mengarah kepada asumsi tindakan yang kita lakukan. Gimana orang-orang menilai apa yang kita percayai dari fisik semata. Beginilah kita setiap hari. Kita melihat yang berkulit gelap, berambut keriting, berbibir tebal, kita akan berpikir mereka tidak akan menjawab salam dengan Walaikumsalam. Kita melihat yang bermata sipit, kita mengira mereka jago main bulutangkis. Asumsi-asumsi fisik tersebut, tidak bisa dihilangkan karena fitrah kita adalah perbedaan. Yang harus disadari adalah asumsi-asumsi tersebut toh bisa digunakan untuk mejembatani hubungan yang lebih baik antara sesama manusia.

 

 

Bukan hanya dua aktor tersebut yang menyuguhkan penampilan akting luar biasa, bahkan aktor-aktor yang memerankan anggota KKK, ataupun polisi ‘babi’, mereka disuruh komit untuk melakukan ataupun mengucapkan sesuatu yang bakal bikin kita menyipit ngeri. Dan mungkin juga, jijik. Satu adegan, kita akan risih duduk mendengar apa yang sudah dilakukan oleh salah satu tokoh. Di adegan berikutnya, ketidaknyamanan itu sirna karena betapa kocaknya film ini mempersembahkan diri. Ron pernah ditanyai “apa yang kau lakukan jika nanti polisi di sini memanggilmu negro?” dan jawaban Ron akan mengundang tawa yang keras. Isu rasisme dipersembahkan oleh film ini sebagai sesuatu yang aneh dan berbahaya, maka penceritaan pun dibuat sama seperti demikian. Film akan membuat kita tertawa sekaligus waspada akan bahaya dari situasi, yang masih relevan sampai sekarang. Potongan adegan dari kejadian nyata situasi pemerintahan Trump di akhir film, membuat kita sadar kengerian yang sedang dihadapi oleh warga di sana. Tapi bukan berarti kita yang di sini aman-aman saja.

Untuk mencapai keseimbangan tone cerita seperti demikian, tentu saja ada keputusan yang diambil oleh Spike Lee, yang membuat cerita sedikit berbeda dari kejadian nyata. Ada aspek-aspek yang didramatisir, dilebih-lebihkan, dibuat menjadi lucu. Pendekatan yang diambil Lee adalah pendekatan bercerita yang lumayan mainstream. Dibuat untuk menyenangkan hati penonton. Ada ‘hukuman’ buat ‘orang jahat’. Ada imbalan buat yang baik. Pacing cerita, tak pelak, jadi sedikit terganggu dengan up dan down yang terkadang diulur demi romantisasi. Beberapa orang mungkin akan mengritik kekurangakuratan film ini. Tapi sebagai pembelaan, buatku tidak masalah apabila film yang diangkat dari kejadian dan orang nyata, diberi sedikit bumbu-bumbu untuk menyampaikan maksud cerita. Karena yang penting adalah pesan cerita. BlacKkKlansman penting untuk ditonton oleh sebanyak mungkin orang, dan cerita yang gelap ini enggak akan ditonton orang jika stay dark. Harus ada cahaya menyenangkan yang bersinar ke dalam ceritanya.

 

 

 

Menakjubkan gimana film ini berhasil mencapai keseimbangan sempurna antara kelucuan dengan tragedi. Tak muluk jika kita sebut ini adalah karya terbaik Spike Lee semenjak Inside Man (2006). Dari yang kita tertawa sampai menitik air mata, film akan membawa kita merneung menahan air mata lewat potret kemanusiaan yang tidak banyak berubah hingga sekarang. Cerita sepenting ini berhasil dibawa ke ranah merakyat. Jikapun ada sesal, maka itu adalah kenapa film ini enggak tayang di bioskop Indonesia.
The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold stars for BLACKKKLANSMAN.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Gimana sih menurut kalian hubungan antara kecerdasan dengan superioritas manusia? Apakah ilmu padi itu cuma mitos?

Menurut kalian, apa yang dipikirkan orang ketika mereka menyuarakan kebencian?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

 

 

WINCHESTER Review

Unresolved guilt is like having a snooze alarm in your head that won’t shut off

 

 

Tidur akan menjadi hal yang begitu susah untuk dilakukan jika nurani kita masih terganjal sama perbuatan salah yang pernah kita lakukan. Kalo kalian belum pernah kesulitan tidur gara-gara hal tersebut, wah salut deh. Aku pernah semalam suntuk melek mikirin mainan robot temenku yang tak sengaja kurusak dan malam itu, robot tersebut masih menelungkup di bawah sofa tempatnya kusembunyikan karena takut ketahuan. Sempat juga sih tertidur, tapi aku bermimpi robot itu datang menembak pantatku sambil teriak “perbaiki tanganku, perbaiki tanganku!” dan kemudian dia berubah menjadi kuntilanak.

Perasaan bersalah, perasaan yang menggantung, mengetahui kita sudah menyebabkan kesusahan bagi orang lain, sejatinya akan menghantui kita. Itulah yang ingin diceritakan oleh Spierig Bersaudara dalam film horor mereka yang diadaptasi dari tokoh dan lokasi nyata, Winchester.

 

Rumah gede Winchester itu dibangun oleh wanita eksentrik janda seorang pengusaha perusahaan yang memproduksi senapan dan senjata api lainnya. Hanya saja proyek pembangunan rumah itu dinilai begitu gila. Sarah Winchester mempekerjakan tukang bangunan dua-puluh-empat jam sehari, siang-malam rumah itu meriah oleh bunyi orang memaku dan memalu. Namun pekerjaan mereka tetap tak kunjung selesai. Kamar yang sudah jadi, kerap diminta si Nyonya Besar untuk direnovasi dan dibangun dengan model yang berbeda. Beberapa kamar malah dibangun hanya untuk dipaku rapat-rapat dengan tiga belas paku, tidak boleh lebih apalagi kurang. Oleh karena perilaku tak biasa itulah, tokoh utama kita, dokter Eric Price, dipanggil untuk menyelidiki kejiwaan Sarah Winchester. Dan tentu saja, dalam gaya horor yang biasa, begitu tiba di rumah yang udah kayak labirin fun-house tersebut, si Dokter malah merasa dirinya yang gila, sebab dia di malam-malamnya tinggal di rumah tersebut ia melihat banyak penampakan-penampakan, termasuk penampakan istrinya yang mati menembak diri sendiri beberapa tahun yang lalu.

Turns out, it was the guilt. Rumah Winchester dibangun sebagai perwujudan rasa bersalah yang dirasakan oleh Sarah Winchester yang mengemban beban perasaan mengetahui senjata-senjata buatan keluarga mereka digunakan sebagai senjata untuk membunuh banyak orang tak bersalah. Sarah enggak gila, dia hanya ingin membantu hantu-hantu tersebut mendapatkan kedamaian dengan membangun ruangan-ruangan yang dibuat persis sama dengan TKP kematian mereka masing-masing. Namun, meskipun memang Sarah masih waras, toh film ini tetap lebih mirip sebuah cerita ‘edan’ ketimbang nyeremin. Tentu, set rumah dengan segala pintu rahasia itu sangat menarik, film ini punya ‘panggung’ yang fresh dan enak dilihat, namun suasana seram itu terasa gelagapan dibangun. Menjadikan film ini malah seperti atraksi menyenangkan dalam sebuah rumah hantu. Pesan tersiratnya pun, yang relevan dengan keadaan Amerika saat ini; bahwasanya tidak ada hal baik yang dicapai jika menggunakan pistol sebagai senjata, hanya terasa sebagai parody dari pesan tersebut ketimbang actual pesannya sendiri.

Pistol bisa membunuhmu, dan mengubahmu menjadi hantu

 

Lantaran horor dalam film ini diolah dengan begitu basic.  Aku ingin menyukai film ini, aku suka film horor dan premise serta sejarah rumah itu sendiri sudah menjanjikan banyak hal yang mestinya sangat intriguing. Tapi tidak ada visi unik barang sedikitpun dari empunya film. Pada dasarnya, Winchester hanyalah sebuah horor kekinian yang klise dengan banyak mengandalkan jumpscare. Nyaris semua adegan seramnya mengandalkan suara-suara ngagetin atau sesuatu yang muncul mendadak di layar, atau keduanya sekaligus. Semua bagian sera mini sangat gampang ditebak. Misalnya ketika Price sedang becermin di kamarnya. Cermin tersebut kemudian akan bergoyang-goyang, meninggalkan kamera yang fokus ke tengah, dan setiap kali cermin bergerak kita diniatkan untuk menahan napas, “ada hantu enggak yaa?”, mengecewakan taktik kacangan semacam ini datang sekelas sutradara Spierig Bersaudara yang sudah memberikan keunikan tersendiri di Daybreakers (2014). Maksudku, ini adalah cerita tentang rumah yang dibangun dengan tak biasa, seharusnya taktik-taktik seramnya juga dibuat dengan sama inovatif dan kreatif, yang benar-benar integral dengan penceritaan – dengan tema besar cerita. Ada satu lagi adegan di mana jari keluar dari lubang alat komunikasi, adegan ini malah tampak lucu karena benar-benar tidak ada koneksinya sama sekali dengan segala hal yang diceritakan, and on top of that, scare di adegan ini hanya kita para penonton yang lihat, Pierce enggak tahu ada jari di sana. Jadi, gimana tuh coba? Sudut pandang film ini dari siapa, dari hantu? Sepertinya kita baru saja menyaksikan seorang hantu yang gagal menakuti manusia.

Di luar jumpscare dan klise horor yang melelahkan, sesungguhnya kita dapat penampilan akting yang lumayan ciamik dalam film ini. Khususnya, yang datang dari pemeran Sarah, Hellen Mirren. Aktor senior ini tak tampak sedikitpun menyepelekan perannya. Sarah Winchester pada awal-awal kemunculannya diniatkan sebagai karakter ‘red herring’, karakter yang dibuat seolah sesuatu namun tidak, dan dia dengan mulus menjalani transisi antara keduanya tanpa sekalipun tampil over-the-top. Kita digiring untuk percaya dia gila, atau malah dia hantunya, tapi ternyata dia punya motif yang… yah, bisa dianggap mulia. Mirren sama suksesnya tampil misterius dengan tampil begitu vulnerable ketika dia begitu overwhelmed oleh kekuatan-kekuatan tak terlihat yang berusaha ia selamatkan. Menyaksikan penampilannya di film ini benar-benar terasa seperti menemukan jarum emas dalam tumpukan jerami karena kemunculan tokohnya yang lumayan di tengah. Kita harus melewati banyak hal klise dan seram-seram yang medioker sebelum tokoh ini muncul layaknya colekan penghapus papan tulis pak guru ketika kita terkantuk-kantuk di dalam kelas.

Sarah Winchester punya karakter yang lebih menarik bahkan ketimbang tokoh utama. Beneran deh, Jason Clarke adalah aktor mumpuni, aku lancang kalo bilang aktingnya jelek. Hanya saja Eric Price yang ia perankan adalah seorang tokoh utama yang begitu hambar dan membosankan. Terutama sekali, sangat sukar untuk terkoneksi dengan karakter ini, walaupun dia memang diceritakan punya masa lalu yang traumatis, dan kita kerap dibawa melihat apa yang terjadi pada masa lalunya secara sekilas. Sesungguhnya ini adalah formula yang benar; tokoh utama dalam film horor haruslah punya sesuatu yang ia rahasiakan, yang paralel dengan horor yang temui, dan ultimately dia harus menghadapi – berkonfrontasi – dengan dua horor tersebut.  Akan tetapi, film menyimpan ‘rahasia’ Price begitu lama, malah lebih lama dari Sarah sehingga kita menjadi lebih peduli kepada Nyonya sinting ini daripada si tokoh utama. Sebenarnya, mengambil waktu yang panjang untuk menyibak tabir tokoh utama itu gak papa sih, malah ada banyak juga film-film lain yang makin nendang karena hal tersebut. Salahnya film Winchester ini adalah karena sedari awal, Price dibuat sebagai orang yang enggak mudah untuk diberikan empati. Tokoh ini diperkenalkan dalam sebuah adegan yang begitu unlikeable. Kita dengan segera melihatnya sebagai orang yang nyebelin dan sok jago dengan segala teori dan trik sulapnya itu.

sulapnya hebat, bisa menghilangkan simpati.

 

 

 

Kini, di kehidupan nyata, mansion Winchester itu dikenal sebagai salah satu destinasi tur horor yang paling banyak diminati. Jujur, membaca tentang tur-tur tersebut di internet, lebih menarik buatku ketimbang menyaksikan film ini sampai habis. Di luar penampilan akting dan desain produksi yang kece, aku suka sekali sama desain mansionnya, film ini tidak menawarkan apapun yang menggugah selera.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for WINCHESTER.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

DETROIT Review

“There is no justice, but it is the fight for justice that sustains you”

 

 

 

Ngelihat pak polisi di jalanan, biasanya bawaan kita negatif melulu. Kalo enggak takut, ya sebel. Kita putar balik  kalo tiba-tiba melihat ada razia. Kita mengutuk pas  jalanan macet, padahal ada polisi yang lagi ngatur lalu lintas. Anak kecil yang bandelnya kumat biasanya juga didiemin dengan anceman nanti ditangkap polisi. Pandangan sinis kita terhadap penegak hukum itu muncul karena enggak jarang kita mendengar berita tentang betapa polisi-polisi melakukan banyak hal yang dinilai ‘kejam’ terhadap orang-orang yang tak bersalah. Ketemu polisi itu berarti masalah, duitlah, apa-lah.  Dalam film Detroit, malah, pengalaman bertemu polisi itu digambarkan sebagai sebuah pengalaman yang ngalahin horornya ketemu hantu. Ada salah satu adegan yang menampilkan dua orang yang ingin keluar lewat pintu belakang, dan pada background kita melihat seorang polisi berjalan masuk lewat pintu belakang, dan kedua orang tadi seketika lari kembali ke tempat mereka datang. Film ini membuat polisi sebagai sebuah momok, adegan tersebut berhasil menguarkan perasaan mencekam, dan kita peduli kepada dua orang tadi. Bukan karena kita dituntut untuk membenci polisi. Hanya saja, lewat film ini, kita bisa melihat ada beberapa hal salah yang mestinya bisa diluruskan, tetapi semua orang bertindak begitu gegabah karena mereka diatur oleh sistem yang salah.

“salahkah bila diriku terlalu menggertakimu”

 

Tahun 1960 sudah tercatat di buku sejarah sebagai periode yang cukup kelam bagi kemanusiaan. Di Indonesia, masalah pemberontakan PKI mewarnai tanah di sejumlah daerah dengan darah. Di Amerika, kota Detroit yang menjadi medan pembantaian. Ketakutan merajalela di jalanan. Kerusuhan dan penjarahan tak pandang bulu. Dan sama seperti di Indonesia, orang-orang tak bersalah yang jadi korban; dipenjara, dipukuli. Dibunuh. Detroit benar-benar menggambarkan peristiwa kelam Amerika itu dengan intens dan kejam. Penggunaan kamera yang bergoyang-goyang menambah perasaan nyata itu berkali lipat, seoah kita mundur ke masa itu dan menyaksikan sendiri secara langsung. Film ini tidak terasa seperti film, if anything, dia hampir mirip seperti dokumenter. Kita akan ditaruh langsung ke tengah-tengah kota Detroit yang keamanannya sangat tak stabil, terutama pada malam hari.  Kita akan melihat pesta persembahan untuk tentara yang berjuang di Vietnam dengan cepat menjadi rusuh. Kita kemudian akan melihat seorang penyanyi teater yang harus mengcancel pertunjukannya karena suasana di luar mendadak menjadi begitu kacau. Kita juga akan kenalan dengan tokoh yang diperankan John Boyega yang malam itu kebagian shift jaga malam sebagai malam di toko. Tokoh-tokoh ini akan bertemu di Motel Algiers. Jika kalian ngikutin sejarah, kalian tahu apa yang terjadi di tempat itu. Basically, kejadian di Algiers ini jualah yang menjadi panggung utama film. Semua pengenalan karakter berujung pada sekuens panjang nan shocking di motel Algiers. Sejumlah remaja kulit hitam, termasuk penyanyi tadi, dan dua wanita kulit putih dijejerin menghadap dinding. Sejumlah polisi, aparat militer, dan pasukan gabungan lain mengepung mereka demi mencari sumber letusan senjata yang terdengar beberapa saat lalu. Polisi percaya salah satu dari merekalah yang membuat keonaran, tapi tidak ada satupun yang mengaku. Maka permainan ancam-ancaman maut itu pun dimulai. Berujung kepada tewasnya tiga orang yang tak jelas salahnya apa atau bahkan mereka tidak membahayakan siapapun.

Nonton film ini akan bikin kita geram, baik kepada polisi maupun kepada para rmeaja itu sendiri. Adegan yang ditampilkan bukanlah adegan yang gampang untuk kita lupakan. Dari awal hingga akhir, aku menonton dengan perasaan yang campur aduk. Marah, kalo boleh dibilang. Satu adegan di awal-awal cerita, di mana militer menyisir kota dan mereka menembak gitu aja salah satu jendela apartemen karena menyangka gerakan kecil yang mereka spot on adalah aktivitas sniper, padahal… yah, sedari permulaan, perasaan kesal ngelihat ketidakadilan itu sudah mulai menghinggapi kita. Film ini akan benar-benar menyedot kita masuk. Tentu saja elemen rasis turut menjadi poin vokal film ini. Di zaman itu, dalam keadaan chaos begitu, sebagian besar polisi-polisi di sana benar-benar digambarkan sebagai bajingan rasis yang melakukan tindakan-tindakan kurang berperikemanusiaan. Makanya, tokoh yang diperankan Boyega menjadi sangat menarik. Kita bisa melihat dia lumayan dihormati polisi lain hanya karena ia berseragam. Tapi sebenarnya, polisi itu tetap memandang rendah dirinya.  Mereka ‘membully’nya secara subtil, sementara tokoh Boyega itu menyaksikan banyak hal yang bikin ia geram, tapi perasaan tersebut harus ia sembunyikan rapat-rapat. Dan pada gilirannya, membuat kita berbalik kesal terhadapnya. Juga tehadap pihak-pihak lain yang tidak melakukan apa-apa padahal ketidakadilan dan kekerasan berlangsung di depan mata mereka. Geram aja gitu, demi ngelihat seharusnya ‘interogasi maut’ di motel itu bisa dihentikan dengan cepat, namun tidak ada yang mengambil tindakan hanya karena para polisi yang lain, polisi-polisi yang hatinya masih bener, tak bisa melanggar yurisdiksi dan sistem yang mengatur mereka, jadi mereka membutakan diri terhadap tindakan keji tersebut.

thus, membuat semua polisi di film ini jahat.

 

Salah satu aspek paling bikin miris adalah film ini bercerita dengan sesekali menyisipkan potongan footage berita kejadian yang asli, lengkap dengan foto-foto korban yang sebenarnya. Adegan filmnya memang dibuat sama persis, tokoh-tokoh yang jadi korban dibuat sedemikian rupa sehingga posisinya menyerupai tragisnya korban beneran, meskipun kejadiannya didramatisir. Malahan, tentu saja, kita tidak akan pernah tahu gimana kejadian yang sebenarnya. Kesaksian para saksi tak ayal berbeda dengan kesaksian para polisi yang menjadi pelaku, persis begitu juga yang diceritakan oleh film.

Film ini adalah tangisan keras bukan hanya buat korban dan kerabat peristiwa tersebut, melainkan juga bagi orang orang-orang di luar sana yang merasa tidak mendapat perlakuan yang adil dari aparat; dari sistem. Film ini berusaha memberikan keadilan tersebut bagi mereka yang sampai sekarang masih belum dapat tidur nyenyak supaya orang-orang tersebut bisa mendapat, jika bukan kejelasan, maka paling tidak mereka mendapat pandangan yang mampu menjawab gulana. Sebab apa yang mereka alami perlu untuk dilihat oleh banyak orang.

 

 

Dilema nonton film dari kejadian nyata seperti begini adalah aku pengen ngelihat kejadiannya sesuai mungkin sama kenyataan, tapi sekaligus melihatnya sebagai penceritaan yang ‘bener’ sesuai kaidah film. Dan mencapai keseimbangan antara kedua hal tersebut sungguh susah. Detroit ini misalnya, mereka berhasil menunjukkan banyak hal yang terjadi seputar peristiwa tersebut, namun tokoh-tokohnya enggak semua yang diberikan arc sinematis. Tokoh si John Boyega dibahas dengan paling menarik, tetapi penyelesaian arcnya sama sekali enggak kerasa ‘nendang’. Pembelaan yang bisa kita temukan untuk ini adalah di dunia nyata, kejadian-kejadian buruk menimpa manusia, dan bahwa terkadang keadilan itu memang tidak ada. Kita hanya bisa berusaha move on dari kejadian buruk tersebut, dan begitulah yang dialami oleh tokoh yang dimainkan Boyega.

Untuk kasus film Detroit, kejadian yang diceritakan tersebut memang tidak benar-benar dijelaskan, like, kita tidak akan tahu ke arah mana cerita bermuara jika kita tidak mengetahui peristiwa yang sebenarnya. Seperti yang kutulis di atas, kita langsung dilempar ke tengah-tengah peristiwa. Cerita sama sekali tidak membahas kenapa orang-orang kulit hitam tersebut begitu panas dan polisi harus menangani mereka dengan tangan besi, kecuali bagian opening film. Akan ada narasi yang menerangkan latar belakang kerusuhan, hanya saja diceritakan lewat montase animasi yang tampak begitu aneh dan enggak cocok sama tone cerita, sehingga aku curiga jangan-jangan bagian opening animasi ini ditambahkan begitu film sudah selesai digarap, karena banyak orang yang gak ngerti pada apa yang terjadi.

 

 

 

 

Para aktor bermain maksimal, enggak gampang memainkan peran yang begitu fisikal sekaligus subtil secara bersamaan. Film ini tidak membuat mereka seperti bintang, mereka benar-benar seperti peran yang mereka mainkan. Pun, ceritanya sukses untuk tidak tampil teatrikal. Sedikit kepanjangan sih, durasi ini terasa ketika kita serasa terlambat masuk ke bagian motel yang sesungguhnya jadi kejadian utama. Film terlalu asik bercerita tentang kerusuhan, memperkenalkan karakter, namun secara keseluruhan dia ingin memperlihatkan peristiwa ‘sebenarnya’ di motel demi keadilan, dan setelah ini pun film terasa ngedrag dengan adegan resolusi di pengadilan yang tidak benar-benar menutup arc dari tokoh-tokohnya. Ada banyak kekerasan, hal-hal rasis, dan sikap-sikap manusia yang bakal bikin kita geram sendiri saat menonton. Inilah yang membuat film terasa menyayat hati, dan pada puncaknya menjadi lebih seram daripada film horor.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of gold stars for DETROIT.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

#TEMANTAPIMENIKAH Review

“Happiness is being married to your best friend.”

 

 

“Kalo lo sampe suka sama gue, gue musuhin lo seumur hidup.” Seketika ucapan Ayu tersebut menjadi stake buat Ditto dalam film #TemanTapiMenikah. Ditto sudah suka sama Ayu semenjak masih menontonnya di televisi, dan sekarang, setelah mereka bersahabat – Ditto beruntung banget bisa satu sekolah, satu meja ama Ayu – Ditto ingin keluar dari friendzone dan actually mengungkapkan perasaannya. Tapi tentu saja enggak segampang itu. He has to bide his time. Ditto bisa saja terus jadi sahabat Ayu, tapi membiarkan cinta tidak terucap jelas adalah jalan tercepat menuju hati yang berat. Akan tetapi, bagaimana jika Ditto menyatakan cinta, hubungan mereka malah jadi awkward? Bisa-bisa mereka jadi gak temenan lagi

Akan susah sekali untuk kita hanya bersahabat dengan orang yang kita cintai, karena hati pasti akan menuntut.Di lain pihak, tidak ada yang lebih membahagiakan di dunia daripada menikahi sahabat terbaik yang sudah mengerti dan memahami kita sebagaimana kita mengerti mereka.

 

Film berdasarkan kejadian nyata ini tricky untuk dibuat karena kita sudah tahu endingnya bakal gimana. Ayudia Bing Slamet dan Ditto adalah figur yang sudah cukup dikenal, mereka berkecimpung di dunia pertelevisian, jadi sebagian besar penonton film ini pasti sudah tahu bahwa mereka menikah dan sudah punya anak. Bahkan buat yang belum pernah mendengar kedua nama itupun, judul film ini sudah memberikan informasi mengenai bagaimana akhir kisah mereka. Jadi, stake yang ada pun sebenarnya non-existent. Makanya, film ini menjadikan penampilan akting serta chemistry kedua tokoh sentralnya sebagai senjata untuk membuat kita betah duduk menonton.

it is not a spoiler, it is a result!

 

#TemanTapiMenikah paham untuk memainkan kekuatan dari para aktornya. Adipati Dolken selalu terbaik dalam meng-tackle peran yang less-serious. Dan Vanesha Prescilla enggak bisa nangis. Cerita memang sedikit menampilkan porsi yang emosional. Sebagian besar waktu kita akan melihat gimana Ditto dan Ayu mengarungi kehidupan remaja mereka yang tentu saja diwarnai dengan putus nyambung berpacaran. Not with each other. Dan build up menjelang kebersamaan inilah yang dimainkan alur cerita dengan baik. Ditto awalnya mencoba untuk menjadi pasif-agresif; Ayu pacaran sama kakak kelas, maka Ditto juga menjadikan playboy sebagai merek dagangnya di sekolah, untuk membuat Ayu cemburu. Semua yang dilakukan Ditto memang demi Ayu, dia nekuni alat musik perkusi, dia nabung buat beli mobil, sampai akhirnya dia juga jadi nongol di televisi, semua berlandaskan cintanya kepada Ayu. Tapi Ayu tidak pernah tahu. Dan mereka berdua ini deket banget, kesukaannya sama, gaya bercandanya sama, jahilnya sama. Inilah yang bikin kita geregetan sendiri melihat hubungan mereka. Mereka tampak seperti orang-orang yang kita kenal, yang kita tahu sebenarnya saling cinta tapi toh mereka enggak gerak-gerak.

Sementara lewat perannya sebagai Ditto Dolken membuktikan kenapa dia masih salah satu pilihan yang tepat jika menginginkan penampilan tokoh muda yang mengundang simpati, Vanesha juga menunjukkan masa depan yang cerah. Masih banyak yang bisa kita tunggu dari penampilan aktris muda ini, karena sejauh ini dia belum dapat peran yang benar-benar menantang range emosinya. Ayu luwes, cuek, dan punya karakter yang kuat, hanya saja tidak banyak berbeda dari remaja kebanyakan. Pekerjaannya sebagai aktor dan model juga tidak berbeda jauh dengan keseharian Vanesha; dia bermain lebih baik di film ini, tetapi tidak banyak tantangan pada perannya. Soal chemistry, Vanesha dan Dolken menguar percik-percikan yang meyakinkan. Untuk penggemar Gadis Sampul sepertiku, dalam film ini akan ada momen yang bikin menggelinjang karena di sini actually ada 2 alumnae Gadsam yang bermain. Aku gak yakin, tapi seingatku, terakhir kali aku melihat Diandra Agatha dan Vanesha Prescilla bersama adalah saat malam final angkatannya Vanesha, di mana Andra berseliweran di antara Vanesha dan teman-teman yang deg-degan sambil membawa mahkota Gadsam saat pengumuman pemenang.

Ketika banyak orang yang membandingkan film ini sama Dilan 1990 (2018) karena pemeran dan ph pembuatnya sama, aku malah teringat sama Star Wars: Episode II – Attack of the Clones (2002) saat menyaksikan Ditto dan Ayu. I mean, aku jadi kepikiran Anakin yang sebagai Jedi, dia gak boleh jatuh cinta. Akan tetapi, cerita malah membuat dia harus berada di samping Padme (yang kostumnya semakin akhir film semakin kebuka); Anakin harus menemani Padme ke tempat-tempat indah, sehingga perjalanan mereka basically adalah perjalanan paling romantis yang bisa dilalui oleh dua orang yang gak seharusnya jatuh cinta. Ditto dan Ayu juga begitu, stake yang ada pada film adalah mereka gak boleh jadian, akan tetapi mereka terus-terusan bersama. Cinta yang terlarang itu memang seru, seksi. Kalo #TemanTapiMenikah adalah film yang lebih serius dan punya lapisan yang lebih dalam, maka film mestinya juga akan membahas perihal cinta yang mereka rasakan. Bukan hanya sekadar turun-naik relationship dan gimana mereka bertindak seputar perasaan tersebut.

aku hampir nyanyi Cups di adegan opening

 

Reperkusinya tentu saja adalah seratus-an menit film ini jadi terasa sekali. Film bermain-main terlalu banyak menuju akhir walaupun mereka tahu kita sudah tahu apa yang bakal terjadi. Terutama pada babak ketiga, di mana Ditto dan Ayu pisah kota dan mereka punya pacar masing-masing. Aku mengerti ini adalah bagian yang lumayan penting bagi narasi. Ini adalah bagian ketika tokoh dilepaskan dari apa yang selama ini ia punya, untuk melihat apakah dia bisa hidup tanpanya, karena buat mengetes apakah kita pantas mendapat sesuatu, maka kita harus dilepaskan dulu darinya – to see apakah kita pantas mendapat apa yang kita inginkan. Ditto dan Ayu dipisahkan supaya mereka bisa melihat dan mengenali cinta. Cerita juga butuh untuk ngebuild up ‘hambatan’, menambah bobot drama, sehingga Ayu tidak langsung menerima Ditto. Tapi tetap saja bagian ini terasa unnecessarily long, karena kita sudah tahu apa ujungnya.

Jadi, menurutku film ini memang semestinya bisa bekerja lebih baik jika eventually menambah pembahasan. Menjadi sedikit lebih serius, meskipun itu merupakan tantangan bagi pemerannya. Selain Ayu, tentu saja Ditto juga harus belajar mengenali cinta. Di titik ini, sebaiknya film mengeksplorasi karakter Ditto lebih dalam seputar dia meragukan perasaannya terhadap Ayu. Menurutku akan menambah lapisan jika Ditto mengalami pergolakan apakah yang ia rasakan benar-benar cinta atau dia hanya cinta terhadap gagasan mereka sahabatan sehingga gak boleh pacaran.  Atau apakah ia hanya menganggumi Ayu karena Ayu artis televisi. Karena siapa sih yang gak punya crush sama  bintang film atau televisi. In that way, film masih menyisakan pertanyaan; sekalipun mereka bersama, apakah benar-benar cinta yang ada di antara mereka berdua. Tentu, semua itu pada akhirnya enggak jadi soal, karena Ditto dan Ayu telah berubah menjadi lebih baik berkat keinginan untuk bersama, namun sebagai sebuah tontonan menurutku semakin berdaging, akan lebih baik.

 

 

 

Meskipun tidak menyuguhkan permasalahan yang baru, ataupun ada permasalahan at all, film ini berhasil menjelma menjadi tontonan yang asik untuk dinikmati karena kedekatan cerita. Aku sendiri juga punya temen sekolah yang enggak disangka-sangka ternyata mereka berdua menikah., padahal satu geng main, dan gak keliatan punya niat pacaran. Tentu saja film ini didukung oleh permainan kamera dan akting dan penulisan yang enggak dibuat-buat. Menurutku menarik betapa televisi punya peran yang cukup besar dalam penyatuan dua insan tokoh cerita kita. Film ini memberikan harapan kepada setiap cinta yang tumbuh malu-malu di luar sana. Kalian yang menyintai sahabat sendiri, jangan khawatirkan pertemanan. Karena kita enggak berteman dengan cinta. Kita menikahinya.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for #TEMANTAPIMENIKAH.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

ALL THE MONEY IN THE WORLD Review

“You aren’t wealthy until you have something money can’t buy.”

 

 

Tidak ada yang menyangka, remaja cowok yang kurus itu, yang rambutnya pirang panjang dan berpakaian aneh itu, yang berkeliaran di pinggir jalan malam hari itu, adalah cucu seorang milyuner ternama di dunia. Tidak ada yang tahu, kecuali penculik yang lantas menyiduknya begitu saja ke dalam mobil van. Permintaan tebusan pun dilayangkan. Tujuh-belas juta dolar para penculik meminta uang kepada ibu si cowok. Tapi ibu yang malang itu enggak punya duit. Mantan mertuanya, kakek si remajalah, yang punya. Dan si ibu tahu lebih banyak soal minta duit kepada si kakek daripada para perampok. Bukan hanya susah, melainkan hampir tidak mungkin! All the Money in the World benar-benar mengejutkanku oleh kepintaran penulisan ceritanya sebagai sebuah thriller. Serius, sampe-sampe aku pikir aku harus meralat jawabanku mengenai film terhebat dari Ridley Scott tahun 2017. Bukan lagi Alien: Covenant (2017) yang bercokol di pikiran.

Lewat film ini, aku jadi tahu kalo orang seperti Gober Bebek beneran pernah ada hidup bernapas di muka bumi. Orang yang punya duit begitu banyak sehingga dia tidak pernah punya keinginan atau malah kesanggupan untuk menghitungnya. Orang yang punya sisi komikal – meskipun dark comic – kalo udah menyangkut uangnya.

dan salah satunya adalah, orang ini lagu tema hidupnya bukan “harta yang paling berharga adalah keluarga.”

 

Paul Getty ingin membangun dinasti. Dia sudah merupakan salah stau orang terkaya dalam sejarah dunia. Koleksi barang seninya udah semuseum lebih. Sebenarnya bapak tua ini enggak pelit-pelit amat. Ketika putranya yang sudah berkeluarga datang meminta pekerjaan, boom! si anak dijadikan wakil kepala perusahaan minyak gede di Arab. Kepada cucu yang tampak paling ia senangi, Getty berkata “Kita ini spesial. Seorang Getty enggak punya teman.” Jadi, ketika anaknya bercerai, Getty harus merelakan hak asuh sang cucu jatuh ke sang ibu, Getty merasa sudah bukan keluarga. Therefore, mereka bisa jadi adalah musuh. Makanya lagi, begitu si Ibu menelfon menjelaskan situasi penculikan, Getty enggak langsung percaya. All Money in the World dapat saja berakhir dalam sepuluh menit jika Getty bukanlah bisnisman yang punya prinsip. Apa susahnya bagi sang milyuner untuk merogoh kocek dan membayar tebusan, semuanya akan berakhir menyenangkan dengan sekejap. Tapi stake dalam film ini bukan soal enggak ada uang. Melainkan soal insekuriti yang jauh lebih personal.

Dalam film ini, uang sama sekali bukan semata soal uang. Uang merepresentasikan hal yang berbeda-beda bagi setiap orang. I mean, cara kita memandang harga suatu barang bergantung kepada prioritas kita terhadap kebutuhan tersebut. Kepentingan terhadap hal tersebut, terhadap kebutuhan kita tersebutlah yang actually menjadi harga, yang menentukan mutu sesuatu bagi kita secara personal. Makanya kita tidak akan pernah puas, kita tidak akan merasa kaya sampai kebutuhan tersebut terpenuhi. Sesuatu yang acapkali adalah hal yang tidak bisa dibeli dengan uang.

 

Dialog-dialog yang luar biasa cerdas, kuat, akan membuat kita bertahan di ujung tempat duduk masing-masing. Di sana sini akan ada adegan intens, malah ada satu momen yang kejam banget di tengah-tengah. Ngeliatnya bikin aku meringis ngeri. Akan tetapi, sesungguhnya ini bukanlah thriller yang mengedepankan aksi. Ini bukan kayak Kidnap (2017) di mana Hale Berry kebut-kebutan nyelametin anaknya yang disandera. Ini juga bukan bag-big-bug dahsyat ala Liam Neeson di franchise Taken. Film ini berat oleh percakapan yang ditulis dengan teramat baik. Jadi, ya, memang beberapa penonton yang mengharapkan semarak aksi, mungkin bisa dibuat bête saat menontonnya. Tapi sebaiknya memang kurangnya aksi ini jangan kita jadikan perkara, sebab All the Money in the World begitu pintar membangun ketegangan ceritanya. Naskahnya bakal memberikan tantangan buat moral kita, membuat kita bimbang apakah melempar uang kepada sesuatu benar-benar jawaban atas semua. Sebaliknya, apakah orang kaya sudah jadi demikian pelitnya jika menyangkut soal harta. Bagian ini sendiri sudah cukup untuk membuatku tertarik, dan film menawarkan lebih banyak untuk bisa kita nikmati.

Menumpukan cerita pada keunggulan dialog dan penulisan tokoh, film ini memang bergantung kepada kepiawaian permainan peran para aktor yang sebagai penghidup sosok-sosok sejarah itu. Michelle Williams bermain sebagai Gail Harris, ibu dari remaja yang diculik, and it was a very real world-class act. Tak banyak aktris hebat seperti Williams yang bisa demikian brilian, sepanjang cerita secara konstan dia berada dalam keadaan penuh stress. Dia berusaha keras meyakinkan pria tua mertuanya supaya berkenan membayarkan tebusan, sebab keselamatan anaknya dipertaruhkan. Dengan kematian anak di dalam benaknya, tokoh yang diperankan Williams mengalami banyak naik dan turun emosi, dan aktris ini memainkannya dengan sangat meyakinkan. Eventually dia harus berhubungan dengan Chase, pria mantan agen rahasia yang dipekerjakan oleh Getty untuk memastikan deal yang enggak membuat Getty rugi. Karakter si Chase ini semacam dealmaker yang memberesin banyak masalah pelik, dia membantu orang-orang mendapatkan kebutuhan mereka, kadang dia menjual atau memberi dari orang-orang tertentu yang ia kenal. Basically, Chase adalah orang yang kita tuju jika kita hendak melakukan sesuatu tanpa melibatkan pihak yang berwenang secara legal. Mark Wahlberg diserahkan tugas yang enggak sepele dalam membuat tokoh ini menuai simpati, karena in a way tokoh ini bisa kita sebut semacam tokoh penengah. Dia juga mendapat resiko yang enggak sepele, tak jarang dia harus menyampaikan informasi yang gak enak kepada tokoh Michelle Williams. Luar biasa exciting setiap kali menyaksikan interaksi dua tokoh tersebut.

udah semacam berusaha nenangin singa kebakaran jenggot

 

Aku enggak tahu apakah kalian memperhatikannya juga atau tidak, tapi aku melihat badan Mark Wahlberg dalam film ini agak-agak labil. Maksudku, di beberapa adegan badannya kelihatan agak kecil dibanding beberapa adegan yang lain. Seringkali ketika di adegan bersama Getty, Chase tampak kayak pria biasa, sedangkan ketika berbagi layar dengan tokoh Michelle Williams, Wahlberg kelihatan lebih tegap. Aku gak yakin apakah ini ada maksud simbolisnya, like, Chase tampak lebih dominan saat dirinya bersama siapa, atau cuma efek kamera. Atau mungkin juga, memang film mengalami banyak pengulangan syuting.

Tak bisa dipungkiri, nama All the Money in the World sendiri terangkat lebih deras ke publik lantaran mengalami pergantian tokoh. Aku gak bakal bahas detail soal itu di sini sebab aku gak mau apa yang semestinya murni ulasan film berubah menjadi kolom gosip. Aku hanya mau nyebutin bahwa Christopher Plummer tadinya bukanlah pilihan pertama untuk memainkan J. Paul Getty. Aktor gaek ini dipilih menggantikan Kevin Spacey di menit-menit akhir proses syuting berlangsung. Kita gak bisa bilang Plummer bermain lebih baik atau apa, yang jelas, keputusan memilih Plummer sebagai pengganti adalah sebuah langkah yang benar-benar membuahkan hasil yang manis. His take on Getty’s attitude, personality, and mannerism membuat tokoh ini sangat menarik untuk dianalisa. Membuat kita ingin tahu apa yang ada di balik pikirannya, apa yang melatar belakangi ‘kekikiran’nya. Film pun cukup bijak untuk memberikan kesempatan kita melihat lebih banyak soal karakter ini as dia diberikan cukup banyak screentime.

Yang mana membawaku ke satu-satunya ‘masalah’ yang kurasakan ketika menonton film ini. Dua jam lebih film ini kadang-kadang terasa berat juga lantaran ada poin-poin di mana aku mempertanyakan ke diri sendiri ‘kenapa sih aku ingin anak itu selamat?’ Film ini enggak sebego itu bikin tokoh-tokoh yang satu dimensi, termasuk tokoh penculik diberikan layer yang memperdalam karakternya, hanya saja aku merasa film kurang mengeksplorasi tokoh Paul Getty III, si remaja yang diculik. Mestinya bisa diberikan emosi yang lebih banyak lagi. Film enggak benar-benar memberikan kita alasan konkrit untuk peduli di luar kisah penculikan ini adalah kisah nyata dan anak itu benar-benar diculik jadi kita harus berempati dan berdoa supaya enggak ada kejadian serupa yang terjadi.

 

 

 

Sesuai dengan yang disebutkan oleh teks di penghujung film, ada banyak dramatisasi yang diambil sebagai langkah untuk membuat kisah nyata riveting menjadi narasi yang menarik Ada alasannya kenapa Ridley Scott adalah legenda dalam bidangnya, begitupun dengan Christopher Plummer. Selain beberapa yang kelihatan di mata – kadang kelihatan jelas tokoh sedang beradu akting dengan ‘stuntman’ – sesungguhnya tone dan editing film tampak berjalan dengan mulus. Ada beberapa reshoot yang dilakukan dan film tetap terasa klop mengarungi naskahnya. Produk akhirnya tetap tampak seperti cerita yang berkelas, sebuah thriller cerdas yang penuh dengan penampilan akting yang fantastis. Jelas, ini adalah salah satu karya terbaik Ridley Scott dalam beberapa tahun terakhir.
The Palace of Wisdom gives 8 gold stars out of 10 for ALL THE MONEY IN THE WORLD.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got the PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

THE GREATEST SHOWMAN Review

“Fake is, like, the worst word you could possibly use to describe anything..”

 

 

Orang bego enggak bisa masuk ke seni pertunjukan. Di lain pihak, kita bisa menjadi orang terjenius di dunia dan tidak mengerti apa maksudnya untuk mempunyai presence di atas panggung. Menjelma menjadi karakter, mengeksekusi pertunjukan secara langsung. Melakukan koneksi dengan penonton. Yang dilakukan oleh mereka sesungguhnya teramatlah kompleks, dan seringkali mereka kurang mendapat apresiasi.

 

Phineas Taylor Barnum paham bagaimana pentingnya untuk menampilkan sebuah show yang bisa menyentuh para penonton. Dia tahu apa yang harus dilakukan, apa yang harus dia ‘jual’, dan cara mengemasnya. Film The Greatest Showman adaah film musikal yang mendendangkan tentang perjalanan P.T. Barnum dari anak kecil pengutil roti di pasar sampai menjadi sebagai seorang ringmaster yang pertunjukan sirkusnya selalu dijubeli oleh banyak orang. Untuk memancing ikan paus, kita tidak bisa menggunakan umpan yang biasa. Harus yang spesial. Barnum, seorang suami yang tidak ingin mengecewakan pengorbanan istrinya yang anak orang borju namun memilih hidup susah bareng-bareng. Seorang ayah yang ingin menorehkan senyum di wajah kedua putrinya, jangan sampai mereka dipandang sebelah mata seperti orang-orang biasa memandang dirinya. Dia punya visi. Dia memancing orang-orang dengan keajaiban. Modal usaha Barnum adalah rasa penasaran dan dia membuat hal tersebut menjadi nyata.

Toh, Barnum yang sangat driven pernah tersesat dalam motivasinya. Ketenaran itu sempat membuatnya silau. Narasi banyak meninggalkan aspek-aspek terendah dalam hidup Barnum, apa yang kita dapat di sini adalah konflik yang terselesaikan dengan convenient, sebab film memang diniatkan untuk tampil semenyenangkan mungkin. Seolah sebuah pertunjukan mimpi yang begitu spektakuler.

menarilah sampai keringat merembes ke lantai!

 

Di balik cerita dan lagu-lagu yang menghentak, film ini menyematkan pesan hendaklah agar kita selalu ingat apa yang membuat kita pengen terkenal, alih-alih soal menjadi terkenal itu sendiri. Dan sekuen-sekuen nyanyian di sini tak pelak akan lama membekas karena semuanya dicraft baik sehingga begitu catchyMelihat penampilan Hugh Jackman sebagai Barnum di sini akan membuat kita merelakan dia melepas kuku adamantium untuk bernyanyi saja terus hingga bahagia selamanya. Susah untuk memilih penampilan musikal mana yang paling keren – “This is Me” digadang sudah kekunci bakal menangin Oscar – tapi buatku, Zac Efron dengan Zendaya saling mengikrar cinta bersenandung magis sembari berayun di tali adalah adegan musik yang benar-benar menyentuh. Chemistry mereka kuat sekali. Ini juga adalah salah satu adegan yang diolah dengan menggunakan efek komputer paling sedikit, dan kupikir itulah sebabnya kenapa terasa begitu real.

Actually, mengenai pemilihan lagu-lagu original yang disajikan; dapat menjadi turn off buat sebagian penonton. I mean, dengan setting jadul tahun 80an secara alamiah kita akan mengharapkan lagu-lagu klasik, akan lebih cocok dengan genre tersebut, namun demikian lagu-lagu yang kita dengar dalam film ini adalah lagu pop. Ada yang kedengarannya pake auto-tune juga malah. Ditambah lagi sebagian besar adegan-adegan nyanyinya dimainkan dengan banyak bergantung kepada CGI. Kita lihat hewan-hewan sirkus beraksi bohongan. Barnum suatu ketika naik gajah menjemput istrinya, yang mana menggelikan jika kita bayangkan gimana reaksi seluruh penduduk serta jerih payah Barnum mengendalikan hewan tersebut. Dan aku curiga tinggi manusia kerdil di grup sirkus Barnum juga sedikit dikurangi dengan efek komputer. Semua ini adalah resiko kreatif yang diambil oleh film. Oke, melatih singa melompati lingkaran api di sekeliling Hugh Jackman jelas beresiko, namun kenapa sutradara Michael Gracey memilih cara yang begini enggak klop dengan keseluruhan film patut kita pertanyakan.

Sesungguhnya semua itu ada alasannya.

Aku pikir film ingin menunjukkan bahwa Barnum begitu berbeda. Dia adalah orang yang lebih maju dari zamannya. Di saat masyarakat masih berprasangka terhadap kulit gelap, mengasingkan mereka, Barnum malah merangkul. Di saat masyrakat masih menganggap orang yang punya kelainan fisik sebagai makhluk yang berbahaya, dan mungkin menular, Barnum menjadikan mereka pertunjukan utama. Seleb yang untuk melihatnya, masyarakat yang biasanya memandang jijik, harus membayar uang. Ide Barnum membangun museum yang berisi hal-hal ganjil, mengumpulkan orang-orang freak untuk beratraksi, dianggap gila oleh masyarakat saat itu. Di mata mereka Barnum juga sama freaknya. Gagasan bahwa orang-orang hebat memang tampak gila bagi kenormalan memang belum terpikirkan oleh mereka, namun Barnum sudah bisa melihat ini. Dia adalah orang yang berani bermimpi. Efek-efek yang kita lihat saat adegan nyanyi mungkin hanyalah bagaimana adegan tersebut di mata, di kepala Barnum. Bagaimana hal itu adalah mimpi yang jadi nyata juga baginya. Ini adalah cerita hidup orang nyata yang disuarakan dalam nada fantasi, dan film tampaknya berniat untuk tampil seajaib mungkin.

American Success Story: Freak Show

 

Beberapa tokoh menampilkan adegan nyanyi dengan lip-sync, dan honestly aku gak yakin kenapa ini terjadi. Masa iya sih film demikian malasnya mengasting aktor dengan suara beneran bagus. Sekali lagi, saat memikirkan ini aku menemukan bahwa mungkin film memang sengaja. Mereka ingin membuat poin soal bahwa sekalipun tampak palsu, artifisial, sesungguhnya tidak ada yang ‘palsu’ dalam pertunjukan. Kita melihat Barnum juga adalah orang yang rela melakukan apa saja untuk menjual shownya. Dia memasukkan bantal ke dalam “Manusia Paling Berat” dan menaikkan beratnya dari 500 ke 750 pounds. Dia menjuduli orang tinggi yang dia rekrut sebagai Raksasa Irlandia, meski orang tersebut aslinya berasal dari Rusia. Barnum terang-terangan mengakui dia menjual hal bohongan, sesekali dia ingin mempersembahkan yang  nyata ketika dia kepincut sama talenta penyanyi opera dari Eropa.

Apa itu palsu? Palsu adalah ungkapan terburuk yang bisa kita sematkan kepada dunia pertunjukan. Sirkus, sandiwara, gulat profesional, bahkan film. Semua hal tersebut adalah sama. Ya, mereka punya skrip, mereka dikoreografi, ada trik, namun itu semua bagian dari usaha yang nyata. Senyum kita yang terhanyut menyaksikan pertunjukan mereka adalah senyata yang nyata bisa. As real as kelinci yang ditarik oleh pesulap dari topinya.

 

Setelah semua ‘kehebatan’ Barnum itu pun, The Greatest Showman bukanlah benar-benar pertunjukan paling hebat. Antara lagu ke lagu, narasinya bergerak begitu cepat sehingga kita belum sempat berpegangan kepada karakternya. Seluruh ‘kegampangan’ pada setiap solusi mematikan stake sehingga bikin ceritanya berlalu dengan dangkal. Kita hanya pengen cepat-cepat kembali ke adegan nyanyi. Dan bahkan liriknya yang enak itu tidak tampak ditulis dengan begitu dalem. Banyak yang semestinya digali tapi film menelantarkannya. Hampir seperti film tidak ingin ada yang stress dalam ceritanya. Aku sendiri pengen melihat lebih banyak antara Barnum dengan anggota-anggota sirkus, tapi mereka malah lama terpisahkan lantaran film pengen membangun konflik romansa yang ujungnya juga terasa selesai dengan buru-buru. Sambil lalu, film actually membahas banyak sehingga saat menontonnya aku teringat banyak cerita lain seperti American Horror Story, film Sing (2016), juga sedikit elemen The Shape of Water (2017)

 

 

 

Dengan pertunjukan musik selikeable ini, akan susah untuk kita melihat dengan enggak bias. Selagi aku berusaha mencatat poin-poin kelebihan dan kekurangan sangat menonton ini, aku melihat ada aku di layar. Haha yea film ini juga membahas hubungan Barnum dengan seorang kritikus. Yang mana menjadikanku bertekad untuk enggak mau menjadi ‘kritik palsu’ yang ngaku suka nonton tapi selalu menggerutui tontonannya. Aku mestinya jujur terhadap apa yang aku suka; setiap yang aku suka enggak mesti selalu hal yang bagus. Aku bisa, boleh, saja suka sama sesuatu yang biasa aja. Ataupun sama yang jelek. And so do all of you.
The Palace of Wisdom gives 7 gold stars out of 10 for THE GREATEST SHOWMAN.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got the PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017