Tags

, , , , , , , , , , , , ,

“Teachers are the unsung heroes”

 

 

Pernah penasaran sama yang namanya ‘uang pembangunan’ di sekolah? Pernah kesal karena setiap bulan selalu ditagih tapi enggak pernah jelas untuk membangun apa? Well, Bad Education arahan Cory Finley bakal bisa memberikan salah satu jawaban atas pertanyaan tersebut. And while at it, drama komedi ini juga bakal menggugah simpati kita dengan pertanyaan lain, yakni benarkah seorang guru tidak memerlukan ‘tanda jasa’?

Karena film ini dibuat berdasarkan kisah nyata dari skandal penggelapan uang sekolah di Amerika. Seorang superintendent bernama Frank Tassone dikenal sebagai guru yang baik. Dia dicintai bukan hanya di kalangan guru dan sejawat, tapi juga oleh murid-murid di setiap sekolah yang ia tangani. Dia akrab dengan orangtua mereka. Tassone benar-benar peduli dan memperhatikan pencapaian akademik dan kepentingan sekolah. Penulis skenario Mike Wakowsky actually adalah mantan murid dari the real Frank Tassone. Dalam film ini Mike menuliskan sosok gurunya itu sebagai pria berpenampilan rapi yang ingin memajukan Roslyn High School sehingga menjadi peringkat satu senegara-bagian. Pria yang lembur di kantor demi menghapal nama murid dan orangtua. Yang mengingat prestasi semua murid tanpa terkecuali. Yang menggebah Rachel, salah satu murid di ekstrakurikuler jurnalistik, untuk mengerjakan tugas lebih dari yang ditugaskan. Rachel kala itu datang hanya untuk meminta komentar soal pembangunan Skywalk. Saran Tassone-lah yang menyemangati Rachel untuk menyusun laporan lebih dalam, sehingga siswi ini menemukan kejanggalan yang mengkhawatirkan pada laporan keuangan sekolah.

Seperti anggaran lem aibon yang mencapai 80 Milyar, eh tapi itu kasus di sekolahan kita yah

 

Skandal nyata yang bisa dibilang terjadi lumayan recent itulah – tahun 2002, tepatnya – yang dijadikan hook pada film ini. Ceritanya menelisik reaksi sekitar karena peristiwa tersebut sensasional sebab dilakukan oleh seseorang yang begitu kharismatik dan disukai, seperti sosok Frank Tassone. Di balik senyum penuh pancaran semangat dan motivasi, ternyata ia telah bertahun-tahun menggelapkan anggaran. Masuk ke kantong pribadi dan kantong orang kepercayaan. Film mengajak kita mengalami rasanya semua itu terjadi. Cerita dibuat semakin ‘seksi’ dengan mengubah sedikit kejadian dari dunia nyata; intensitas digenjot dengan membuat muridnya lah yang melakukan investigasi yang mengungkap semua – sementara pada kejadian nyata, murid dan koran sekolah hanya menyebutkan sekilas yang kemudian langsung dilalap oleh media luar. Secara skenario – pembangunan konflik dan sebagainya – ini adalah yang keputusan yang tepat. Menambah banyak bobot pada drama karena kita akan mendapat banyak interaksi antara Tassone dengan Rachel yang berfungsi sebagai device untuk mengeksplorasi kontras antara kebutuhan guru dan tanggungjawabnya terhadap pendidikan murid.

Bad Education actually adalah pelajaran berharga tentang keadaan dunia pendidikan bagi kita semua. Film tidak melupakan kemanusiaan yang menjadi literally aktor utama di balik skandal menghebohkan jagat pendidikan tersebut. Kita diberi kesempatan untuk melihat siapa sebenarnya Frank Tassone. Dan film melakukan ini tidak dengan cara ‘menipu’. Alias, tidak sekadar dibikin twist atau ‘ternyata’, kayak Tassone diperlihatkan sebagai orang baik di awal kemudian busuknya terungkap oleh koran. Tidak. Film menyetir cerita ini keluar dari jalur Tassone si Good-Looking Con Man. Melainkan menyorotinya dengan sebanyak mungkin kevulnerablean manusiawi. Film dengan subtil menanamkan karakter Tassone. Genuinenya dia terhadap kondisi pendidikan anak-anak diperlihatkan selaras dengan sifatnya yang memang hobi berbuat ‘curang’. Kita melihat dia cheat on his diet. Hingga ke Tassone cheat on his life-partner. Namun semua kecurangannya itu dipastikan oleh film berakar pada kepedulian Tassone terhadap murid-murid.

Salah satu elemen penting sebagai usaha naskah menampilkan kehidupan pribadi Tassone adalah soal hubungannya dengan Kyle, lelaki yang merupakan mantan muridnya saat masih mengajar sebagai guru bahasa Inggris. Ini bukan sekadar menonjolkan preferensi seksual atau sekadar supaya sama dengan kejadian asli, melainkan berfungsi sebagai penanda karakter. Sebab ketertarikan Tassone kepada Kyle bermula saat dia mengetahui mantan muridnya ini gagal sebagai penulis. Ini menunjukkan bahwa tokoh ini tak bisa menahan keinginannya untuk membantu muridnya, Tassone ingin membantunya sukses. Dan dia rela menghabiskan apapun untuk itu. Film juga menunjukkan perbedaan yang mendasar antara korupsi Tassone ini dengan korupsi salah satu sejawatnya yang lebih ke arah tamak. Memperbaiki rumah, belikan Playstation, beli perhiasan. Tassone tidak seperti demikian. Uangnya ia pergunakan untuk bepergian dalam acara pendidikan. Ia pakai untuk perawatan diri karena ia percaya sekolah butuh sosok seperti dirinya.

“I don’t give a damn about bad education”

 

Jadi ada keambiguan pada ‘penyakit’ dan keinginan tulus Tassone sebagai seorang pengajar/pendidik. He almost beg for a sympathy, sementara kita tahu apapun alasannya menggelapkan uang – mencuri uang – itu adalah perbuatan yang salah. Inilah yang menyebabkan film ini menarik menit demi menitnya. Membuat kita mempertanyakan diri sendiri bagaimana seharusnya perlakuan kita terhadap guru. Pekerjaan guru, mengajar, seharusnya mengutamakan kepada outcome; berhasil atau enggak dalam mencerdaskan anak-anak, memajukan pendidikan bangsa dan segala macam. Tapi bagaimana dengan income; bagaimana si guru tersebut. Tidakkah mengatakan mereka pahlawan tanpa tanda jasa tidak bakal jadi beban bagi mereka? Kita banyak mendengar guru dibayar kecil, gaji guru enggak seberapa. Tokoh Frank Tassone berargumen soal ini, sebagai pembenaran atas apa yang ia lakukan.

Monolog saat Tassone menumpahkan keluh kesah kepada orangtua murid yang merupakan tumpukan ‘kekesalan’ pribadinya, sekaligus bisa kita gunakan sebagai cermin terhadap dunia pendidikan. Tassone kurang lebih bilang, “Pernahkah Anda mengingat wajah guru yang duduk bersamamu, yang membimbing, mengajarkan berhitung dan membaca? Anda mungkin lupa. Tapi kami tak pernah lupa. Karena kalian hanya menganggap sekolah sebagai tempat pacuan kuda, anak-anak digempur, dan kamilah pengurus kuda-kuda itu.” Itulah akar dari permasalahan ini menurut dirinya; bahwa orang-orang abai kepada guru. Bahkan ketika dirinya terpaksa memakai duit sekolah dengan jumlah tak seberapa – awal dari semua ini – bertahun-tahun yang lalu, orang-orang gak ada yang peduli. Orang-orang hanya peduli pada kinerja. Sekolah yang mendapat peringkat empat. Mereka mendapat gengsi dan anak-anak yang pintar. Guru hanya mendapat tepuk tangan. Dan bagi Tassone, itu semua enggak cukup.

Pahlawan tanpa-tanda jasa berarti pahlawan yang mengerjakan kebajikan tanpa pamrih. Mereka harus kita apresiasi, diberikan pengakuan, penghargaan. Kita harus memberikan kepada mereka, tanpa diminta. Sebab begitu tanda jasa itu diminta, maka mereka bukan lagi pahlawan. Mereka bisa berubah menjadi penjahat yang mengambil sesuatu lebih dari haknya.

 

Entah pembelaannya itu tulus atau tidak, entah semua ucapan emosionalnya itu beneran atau cuma alesan, is it a classic ‘help me help you’ scenario? Film mengembalikan semuanya kepada kita. Korupsi, bagaimanapun salah karena telah merugikan orang banyak. Hanya, ada suatu pokok yang bisa kita renungkan di balik ini semua. Dalam konteks ini, penampilan akting menjadi penentu nomor satu kesuksesan bercerita. Dan, wow, Hugh Jackman benar-benar luar biasa memerankan sang superintendent. Kita percaya ketika dia mengajar dan menyemangati anak-anak murid. Namun kita juga merasa dicurangi ketika semua perbuatannya terungkap. Jackman berpindah dari orang yang dihormati, ke pasangan yang dicintai, ke tikus yang licik dengan sangat meyakinkan. Monolog yang aku sebut tadi, sebenarnya setelah itu dia melakukan monolog lagi berupa menjelaskan kepada anak kecil pengucapan kata ‘accelerate’. Penyampaiannya sangat menakjubkan, Jackman benar-benar menyelam sempurna ke dalam perannya. Dia tampak seperti orang yang punya passion mengajar beneran.

Meskipun begitu, di babak awal film ini sebenarnya berjalan kurang mulus. Penonton yang belum tahu bahwa film ini berdasarkan kasus korupsi dana sekolah, akan bingung ke mana arah alur cerita. Motivasinya kurang tertanam, film seperti berkubang pada set up yang menuntut kita untuk mendengar para tokoh lalu seperti terpecah dua saat Rachel si jurnalis sekolah muncul. Film akan membawa kita bergantian dari momen Rachel ke Tassone, dan untuk awal-awal terasa seperti ketidakmantapan sudut pandang. Sampai akhirnya kita tahu bahwa film ini berdasarkan satu event – kejadian terungkapnya kasus di sekolah – dan lantas film berkembang menjadi menarik. Dan terasa sangat relevan karena setiap kita pasti punya kecurigaan sekolah kita menarik uang untuk yang tidak-tidak.

 

 

 

Yang akan menghantam kita saat menonton film ini adalah perasaan terkhianati oleh orang yang paling kita percaya sedunia, dan kemudian gelombang intropeksi apakah kita yang menyebabkan dia jatuh dari kesempurnaan. Naskah mencoba mengulik semua kompleksitas berdasarkan kasus di kehidupan nyata pada dunia pendidikan. Kita dapat merasakan usaha untuk membuat cerita ini lebih dari sebuah peristiwa penipuan. Juga sekeras mungkin berusaha untuk ambigu, dan melihatnya dari sisi pelaku. Menonton ini nyaris dua jam, kita gak akan bosan karena diisi oleh topik yang memancing dan penampilan akting yang jempolan.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for BAD EDUCATION.

 

 

 

That’s all we have for now.

Apakah menurut kalian sistem pendidikan kita sudah benar-benar menghormati dan menghargai guru sebagaimana pekerjaan mereka?

 

Share  with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.