Tags

, , , , , , , , , , , ,

“Don’t let yourself drown”

 

 

 

Extraction, yang baru saja tayang di Netflix dan bikin gempar lantaran adegan aksi-tanpa-putus sepanjang 11 menitnya, adalah tipe film yang dengan gampang bakal disukai oleh orang Indonesia ‘saja’. Karena oh karena, orang kita sudah terkenal demen menyaksikan keributan. Entah itu keributannya tersebut berfaedah atau unfaedah.

Proyek terbaru Joe Russo ini sama seperti Avengers; sama-sama berdasarkan komik – lebih tepatnya, graphic novel. Extraction bercerita tentang seorang mercenary alias tentara bayaran yang dapat panggilan kerjaan ke India. Tugasnya adalah menyelamatkan putra seorang gembong narkoba dari tawanan pesaing bisnis ilegal di daerah tersebut. Sang mercenary, Tyler (bukan lagi Dewa Petir, Chris Hemsworth kini memainkan karakter yang lebih stereotipikal dan dangkal) awalnya hanya memikirkan duit upah saja. Namun begitu sampai di sana, setelah ia beraksi langsung – berhadapan dengan begitu banyak pihak mulai dari preman ampe polisi bobrok – Tyler menyadari bahwa nasib si anak tak ubahnya seperti daging bangkai yang diperebutkan oleh hyena-hyena. Jadi Tyler memutuskan untuk benar-benar tuntas menyelamatkan si anak, mengeluarkannya dari kota yang panas, kumuh, dan kejam tersebut.

kirain seragam putih abu

 

Kursi sutradara dipercayakan Russo kepada Sam Hargrave, yang biasa menangani aksi-aksi atau stunt dalam film-film laga ngehits seperti Avengers ataupun yang stylish kayak Atomic Blonde. Nah, sekarang kita paham darimana ‘datangnya’ take panjang 11-menit itu. Dalam debutnya sebagai sutradara, Hargrave berhasil menorehkan jejak yang mendalam lewat sekuen aksi yang menjadi jantung dari film ini. Ketegangan berhasil ia deliver secara maksimal. Mulai dari kebut-kebutan mobil di jalanan tanah sempit, hingga ke pengejaran dan baku hantam di apartemen yang gak kalah padetnya, untuk kemudian aksi itu dihamburkan kembali ke jalanan. Sama halnya pada seantero film 1917 (2020), unbroken shot pada film ini sebenarnya juga gak bener-bener kontinu tanpa putus. Kita dapat melihat pada setiap panning shot, atau gerakan kamera ‘melengos’, di situlah letak jahitan adegan per adegan. Tapi keseluruhan ilusi sama sekali tidak terputus, karena dilakukan dengan begitu mulus, yang tentu saja tidak akan bisa tercapai tanpa perencanaan dan keselarasan tingkat super dari kerja kamera, akting, koreografi, dan semua-semuanya.

Tyler is ridiculously strong. Dia ditanamkan kepada kita sebagai petarung keren nan tangguh, di adegan awal kita melihat dia terjun begitu saja dari tebing tinggi, nyemplung ke air dan duduk bersila di sana. Dibandingkan dengan pemuda-pemuda ceking yang kulit coklatnya keliatan semakin dekil karena terbakar terik matahari jalanan, Tyler menjulang tegap. Perkasa sekali. Menyaksikan dia menghajar para musuh kadang terlihat begitu mudah, sukar dipercaya dia bisa kalah dari mereka jika bukan karena jumlah. Film tahu persis akan hal ini. Maka, setiap adegan berantem dipastikan oleh sutradara untuk bergulir dengan real. Tyler dibuat harus selalu memposisikan diri agar tidak dikeroyok, dia juga bertarung dengan otak. Film berhasil mengelak dari jebakan ‘musuhnya datang kayak gantian’ berkat tempo dan koreografi yang benar-benar dipikirkan. Kita akan melihat banyak adegan berantem yang keren dan bikin nahan nafas.

Terlebih karena level kekerasan yang ditampilkan juga bukan main-main. Inilah salah satu kelebihan platform seperti Netflix dibandingkan bioskop; pembuat bisa lebih bebas berkreasi terkait soal rating tayangan tanpa perlu overthinking soal jumlah penonton dan layar. Kita yang nonton, juga, gak perlu khawatir ada yang kena sensor. Cukup harus kuat ‘perut’ aja. Si Tyler dalam film ini, orangnya senang menyerempet bahaya. Dia suka minum, dia memilih berjalan di antara hidup dan mati, untuk melampiaskan penyesalan pribadinya terkait anak di masa lalu. Jadi untuk ‘memuaskan’ si protagonis, film benar-benar memberondongnya dengan bahaya. Tubuh ditusuk, tertembus peluru, orang melayang ketabrak truk; adegan-adegan semacam demikianlah yang bakal jadi asupan untuk mata yang menyaksikan film ini. Dan beberapa akan semakin gak-enak, karena adegan kekerasannya melibatkan anak di bawah umur.

sayang anak, sayang anak

 

Salah satu tema yang digaungkan oleh film ini adalah soal ayah dengan anaknya. Mau itu tentara upahan, kroco, maupun pemimpin sindikat narkoba, mereka semua adalah bapak-bapak yang sayang kepada buah hati mereka. Presence anak-anak/remaja akan secara konstan dihadirkan dalam cerita yang nyaris non-stop kekerasan ini. Hingga ke poin, kekerasan terhadap anak jadi hal yang tak bisa dihindari untuk muncul di sini. But hey it’s okay karena film actually punya hal yang ingin disampaikan lewat itu semua. Dalam sekuen setelah midpoint, misalnya, kita akan melihat Tyler harus mengubah taktik perlawanannya karena ia sekarang berhadapan dengan musuh yang masih di bawah umur semua. Aku suka bagian ini, karena development Tyler diposisikan dengan tepat di sana. Sepanjang cerita Tyler, obviously, akan bonding dengan anak yang sedang ia selamatkan. Karena baginya, si anak remaja ini adalah kesempatan untuk menebus dosa atau kegagalan ia buat anak kandungnya. Hati film ini, journey Tyler, berputar pada masalah ia menyingkapi kehilangan anak. Film berusaha mengisi setiap jeda aksi dengan menanamkan persoalan tersebut. Membenturkan Tyler dengan anak-anak jahat adalah layer berikutnya dalam pembelajaran yang harus ia lewati. Anak-anak itu jadi device yang sempurna bagi perkembangan Tyler.

Setiap orangtua, setiap orang dewasa akan merasa bertanggungjawab terhadap anak atau orang yang lebih muda di sekitar mereka. Kegagalan untuk memenuhi tanggung jawab tersebut akan mengakibatkan rasa bersalah. Tyler deals with this feeling. Begitu juga dengan beberapa tokoh pria dewasa lagi dalam film ini. Namun mereka lebih baik daripada Tyler, karena saat kita bertemu dengannya Tyler literally membiarkan dirinya terbenam dalam perasaan tersebut. Misinya di India adalah perjuangan yang membuka matanya untuk terus berenang.

 

Di sinilah letak kekurangdalaman eksplorasi cerita. Yakni ada ketidakseimbangan antara Tyler dengan tokoh anak-anak/remaja, terutama remaja yang ia selamatkan. Anak-anak dalam film ini persis seperti yang diucapkan dalam salah satu dialog; hanya dipandang sebagai objek. Film belum menyentuh mereka sebagai subjek. Dalam kasus anak yang diselamatkan oleh Tyler; pengembangan itu datang terlambat, film hanya menguak permukaannya saja. Anak ini sebenarnya cukup banyak diperlihatkan sebagai tokoh dengan kondisi yang memancing keingintahuan kita. Dia diperlihatkan hobi main piano, dan punya cukup banyak teman. Sebagai anak bos narkoba dia dikawal ke mana-mana, karena bapaknya punya banyak musuh. Film tidak mengeksplorasi ini lebih dalam. Perjalanan anak ini tidak benar-benar paralel dengan Tyler yang seharusnya ia dukung secara journey. Bagi si anak, ini semua adalah persoalan keberanian. Dia yang di awal film bicara ke cewek aja takut, diperlihatkan menjadi orang yang mewarisi keberanian Tyler setelah berkali-kali nyaris mati dan selamat dari inceran orang-orang jahat. Namun semuanya itu memang hanya ditampilkan di awal dan akhir saja, sebatas untuk memperlihatkan ada yang berubah. Film tidak membahas kenapa si anak bisa tumbuh menjadi seperti itu pada awalnya, tidak seperti saat membahas Tyler yang kita bisa mengerti kenapa dia suka minum dan menantang maut.

Selain itu, ada pasangan remaja-dewasa yang lagi yang punya sesuatu yang menarik tapi tidak dibahas tuntas oleh film. Melalui mereka, film ingin memperlihatkan dunia kriminal sebenarnya adalah siklus hasil didikan tak-bertanggungjawab dari seorang pria dewasa kepada anak muda. Kita hanya dikasih lihat mereka ini ada, tanpa pernah diajak untuk menyelami persoalan tersebut – karena hingga film berakhir mereka tetap musuh. Objek untuk dibasmi oleh Tyler. Akibatnya gagasan dan keberadaan film sendiri jadi tidak cocok. Dia bicara tanggungjawab dan pentingnya relasi dan jadi pendukung satu sama lain, tapi bersuara lewat glorifikasi kekerasan seolah Tyler tokoh video game yang mendapat poin dengan membunuhi orang-orang yang dipukul rata semuanya jahat, padahal jelas-jelas banyak pihak dan kepentingan yang terlibat.

 

 

 

With all being said, film ini tidak akan dijadikan teladan dari penulisan ataupun dari penokohan. Terlalu generik, dengan banyak trope dan stereotipe. Ada sudut pandang yang cukup ‘berani’, tapi film memilih untuk tidak menggali. Ceritanya sangat basic, kita seperti sudah menontonnya berulang kali. Akan tetapi, film ini akan banyak dibicarakan orang mengenai teknis pembuatannya. Dia menunjukkan kemungkinan baru dalam merekam adegan berantem. Bagaimana supaya musuh yang mengeroyok tidak kelihatan menunggu. Bagaimana aksi selalu dinamis dan memanfaatkan surrounding dengan tampak natural. Sebagai laga, film ini sukses memenuhi fungsinya. Walaupun masih ada bentuk yang lebih prima dari cerita ini.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for EXTRACTION.

 

 

 

That’s all we have for now.

Apakah menurut kalian film ini jatuh ke dalam lubang ‘cerita white savior’? – pahlawan kulit putih datang membereskan persoalan bangsa lain, sementara ada antihero di sana yang perjuangannya lebih personal – Do you think film udah ngasih alasan yang cukup bagi Tyler untuk stay dan jadi penyelamat di sana?

 

Share  with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.