Tags

, , , , , , , , , , , ,

“All the stress and misery of life comes from fear of loss”

 

 

 

Orang bunuh diri gak bisa ke surga! Itulah hal yang paling dikhawatirkan oleh Mia, gadis cilik yang ibunya meninggal akibat menembak kepala sendiri karena ditalak cerai. Tapi enggak ada orang yang paham ama ketakutan Mia tersebut. Tidak ayahnya yang mau menikah dengan wanita muda yang pernah jadi pasien konseling sendiri. Tidak pula abangnya, Aidan, yang marah lantaran ayah mereka karena memilih cewek “psikopat” penyintas dari sekte bunuh diri. Notice ‘bunuh diri’ muncul dua kali? Kejadian menjadi mengerikan ketika dua agen atau pihak-yang-bersinggungan dengan ‘bunuh diri’ ini bertemu. Mia dan Aidan actually diajak oleh ayah mereka untuk berlibur bareng Grace, si calon ibu tiri yang cakep, untuk saling mengakrabkan diri. Namun begitu ayah pergi, meninggalkan mereka bertiga di vila di tengah badai salju menjelang Natal, kejadian tak-terjelaskan mulai terjadi. Pemanas yang mati. Waktu yang seperti tak bergerak hari demi hari. Makanan dan barang-barang lenyap, termasuk boneka Mia yang didandani mirip ibunya, dan obat anti-stress Grace yang masih dealing dengan trauma survivalnya. Apakah ini kegilaan yang menerpa? Atau hantu dari masa lalu? Ataukah dugaan Aidan memang benar; bahwa mereka bertiga sebenarnya sudah meninggal.

Meninggalkan keluarga di tempat terpencil tanpa mobil di tengah salju, sungguh bukan teknik parenting yang jitu

 

 

Film ini mengingatkanku kepada The Turning (2020). Ada banyak kesamaan pada dua film ini, hampir seperti mereka berkompetisi satu sama lain. Basically, kedua film sama-sama mengambil lingkungan tertutup dengan cerita wanita muda mengasuh dua anak. Karakteristik tiga tokoh sentral ini pun mirip. Anak cewek yang menggunakan boneka sebagai emotional crutch. Remaja cowok yang sayang pada keluarga, tapi juga bisa terkesan sedikit bandel. Dan creepy. Pada kedua film terdapat adegan yang melibatkan remaja cowok, wanita muda, dan kamar mandi. Lalu tentu saja ada karakter wanita muda yang diharapkan harus bonding dengan kedua anak, sementara dia sendiri punya trauma pada masa lalu – dia punya ketakutan personal atas sesuatu yang menjadi asal usulnya, dan tokoh ini akan menapaki downward spiral menuju ke kegilaan. Untungnya, meskipun juga banyak mengandalkan adegan mimpi untuk menyampaikan momen-momen horor, The Lodge enggak menipu kita dengan satu sekuens full kejadian-yang-tidak-beneran-terjadi kayak di The Turning. Naskah dan arahan duo sutradara Severin Fiala – Veronika Franz hadir dengan sama-sama artsy namun sedikit lebih baik. Sedikit.

Inceran dari cerita horor ‘terjebak’ ini tentu saja adalah keambiguan. Film ingin menempatkan kita pada perasaan bingung yang sama dengan yang dirasakan oleh tokoh cerita. Misteri dari apa yang sebenarnya terjadi, ditambah dengan sensasi kehilangan kewarasan menjadi goal dari kengerian film ini. Berkaca dari horor-horor klasik, The Lodge paham cara meraih itu semua. Yakni dengan pembangunan atmosfer. Inilah yang dilakukan dengan indah oleh arahan film. Suasana menakutkan, sensasi berada di tengah-tengah keganjilan, dihadirkan dengan begitu ‘bergaya’ oleh kamera. Tone warna juga turut andil menciptakan kesan yang bukan hanya suram, warna-warna dingin itu menimbulkan kesan sebuah dunia kelabu yang kita enggak pasti apakah hanya sebuah fantasi atau kenyataan.

Secara estetik, film ini sepertinya pengen dimirip-miripin ama Hereditary (2018), sebab The Lodge juga menarik perhatian kita terhadap perbandingan perspektif dunia nyata dengan dunia boneka. Adegan pembuka film ini juga memparalelkan rumah boneka dengan rumah nyata, yang eventually akan diperlihatkan bahwa rumah boneka Mia punya interior yang sama dengan interior vila keluarga tempat mereka terjebak nanti. Boneka-boneka di dalam situ berada pada posisi khusus, yang nantinya bakal ‘menjadi kenyataan’ saat para tokoh beneran berada di posisi seperti yang sudah diramalkan. Sedari awal film sudah menjebak kita ke dalam misteri, ke dalam ketidakpastian – sebagai hook agar kita terus terpaku di tempat duduk, bertanya-tanya di dalam hati benarkah ada kekuatan supernatural atau semua itu hanya bukti bahwa ada pihak yang telah merencanakan perbuatan mengerikan di villa nanti. Misterinya ini sangat menarik, sepanjang durasi film akan terus membawa kita kembali ke perbandingan rumah boneka tadi – digunakan sebagai transisi adegan – sebagai petunjuk di tengah-tengah beragam distraksi yang sayangnya lebih mendominasi. Yang kumaksud dengan distraksi di sini adalah elemen horor lainnya, seringkali bagian dari karakter, yang tidak benar-benar membuahkan apa-apa selain bikin kita bingung mencari pegangan pada perspektif utama.

Dalam horor, perspektif adalah hal yang krusial. Kita hanya bisa peduli pada tokoh jika sudut pandang terfokus pada dirinya, sebab horor membahas ketakutan personal. Kita harus mengerti trauma, atau tragedi, atau hal yang menurut si tokoh mengerikan, dan ini bisa dicapai jika kita enggak sering teralihkan oleh horor dari orang lain, kecuali ketakutan mereka menyangkut hal yang sama. The Lodge tidak pernah memutuskan perspektif ini. Hal teraneh yang dimiliki oleh cerita ini bukanlah barang-barang yang hilang mendadak, sekte sesat, ataupun perilaku si ayah yang ngajak liburan kemudian malah pulang buat bekerja. Melainkan, hal teraneh di cerita adalah sudut pandang yang mendadak berubah dari Mia ke Grace.

“Jadi maksudmu kita nonton mereka nonton internet sia-sia belaka?”

 

 

Babak pertama sepertinya sudah menetapkan ini adalah cerita dari sudut Mia, kita melihat keluh kesahnya. Kita mengerti ‘ancaman’ dari sudut pandang Mia adalah Grace; sosok wanita muda yang at the time kita ditanamkan informasi bahwa dia ‘psikopat’, dia somehow bisa survive dari sekte di usia 12 tahun, lantas dia yang masih kecil itu merekam mayat-mayat bunuh diri di sekte. Babak awal ini menempatkan Grace dalam cahaya misterius, film bahkan mengadegankan momen perkenalan Mia dengannya dengan membangun narasi “siapa wanita ini, bisakah ia dipercaya. Film bermain-main dengan rasa penasaran Mia atas wajah si Grace (wajah cakep Riley Keough akan diporsir untuk berbagai emosi dan kegilaan). Untuk kemudian pada babak kedua, kita dijauhkan dari Mia dan sudut pandangnya. Kita direnggut dan kemudian malah ditempatkan di posisi Grace. Dengan cepat, semua perspektif Mia tadi rontok bagi kita karena sekarang kita melihat sudut Grace. Seorang survivor yang masih trauma sama adat-adat agama – ia bergidik saat doa makan malam, ia takut melihat salib dan lukisan Bunda Maria (sepertinya, mungkin aku salah mengenali objek lukisan tersebut). Namun Grace sungguh berusaha untuk hidup normal. Dan tantangan bagi Grace bukan cuma trauma, melainkan juga kenyataan bahwa dua anak ini kehilangan ibu mereka gara-gara dia. Ada rasa bersalah yang menghantui. Serta tentunya berat bagi Grace untuk berusaha membangun hubungan saat seisi rumah mengingatkan penghuninya pada orang yang posisinya sedang berusaha Grace isi.

Teorinya, dua perspektif itu dihadirkan supaya kita bisa mengerti konflik kedua belah pihak. Namun kenyataannya, malah membuat kita memilih harus simpati kepada siapa, dan akan butuh waktu lama untuk kita memutuskan sehingga pada saat itu justru kita terdetach dari mereka semua. Film ini meminta kita untuk mengkhawatirkan keselamatan Mia dan abangnya karena orang asing ini bisa saja berbahaya. Lalu berputar arah, film jadi meminta kita untuk lebih bersimpati kepada si orang asing. Untuk kemudian berputar kembali. Setelah kita mulai mendukung tokoh ini – dan berpikir “tau rasa kalian anak-anak ngeselin!” – film malah mengembalikan kita kembali kepada Mia dan abangnya. Dari sudut mereka, sebagai penutup, kita dikasih peringatan untuk tidak mempermainkan orang yang punya masalah kejiwaan.

Satu-satunya keparalelan yang konsisten pada kedua pihak – anak dan Grace – yang diperlihatkan oleh The Lodge adalah bahwa mereka sama-sama takut akan kehilangan koneksi terhadap hal yang dikasihi. Mia terlalu dekat dengan boneka. Grace butuh obat untuk percaya dia sudah sembuh. Teror sebenarnya datang dari dalam diri masing-masing pihak. Membuat mereka takut dan gak percaya kepada hal di luar. Ketakutan inilah yang menghambat tumbuhnya cinta di antara mereka. Konklusinya memang ironis; semakin kita takut kehilangan, kita justru akan kehilangan lebih banyak hal.

 

Dilihat dari kedua sudut itu, cerita film ini jatohnya insulting. Jika kita percaya ini adalah cerita peringatan untuk anak-anak, film ini gagal karena tidak memberikan kesempatan kepada tokoh anaknya untuk melihat orang dari sisi lain. Babak kedua film ini completely dari sudut Grace, kitalah yang dibuat mengerti, bukan dua anak itu. Mereka tidak belajar. Bagi sudut pandang mereka, mereka hanya menyesal karena Grace jadi ‘ngamuk’ dan ada beberapa kejadian di luar rencana mereka. Jika kita percaya ini adalah cerita psikologis seorang yang mengalami kejadian buruk di masa lalu sehingga mentalnya terganggu, film ini juga gagal karena orang tersebut dibuat kalah dalam berjuang. Yang menyampaikan kepada kita bahwa, ya, orang gangguan mental memang berbahaya, trik anak kecil saja sanggup untuk ‘menghancurkan’ mereka.

 

 

 

Karena itulah, maka film ini buatku terasa sempit, padahal sudut pandangnya lebih dari satu. Elemen horornya jangan ditanya. Ada soal pandangan soal bunuh diri. Ada soal ritual atau praktik agama. Ada soal relasi dengan orangtua. Ada soal keadaan mental juga. Namun film membuat kita frustasi. Semua itu hanya pernak-pernik. Kita mengharapkan banyak dari ambiguitas yang dihadirkan, hanya untuk menemukan jawaban yang sangat simpel dari topik paling simpel yang ada pada film ini. Dan film meminta kita untuk mengoverlook semua hal gak make sense dari perbuatan yang ditampilkan. Sehingga meskipun banyak visual dengan suasana yang bikin ngeri (shot favoritku adalah pas menjelang akhir; Grace duduk dengan spektrum cahaya di belakang kepalanya, sehingga dia kayak juru selamat) hal paling aneh dan bikin bergidik pada film ini justru adalah pilihan yang mereka, seperti mengganti-ganti sudut pandang.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for THE LODGE.

 

 

 

That’s all we have for now.

Kebayang gak sih kalo pas karantina gini, kalian mengalami hal yang sama seperti Grace dan Mia.. hiii… Jadi apakah kalian punya kiat tertentu untuk mengisi waktu bersama adik atau si kecil?

Bagaimana menurut kalian cara terefektif untuk menumbuhkan kepercayaan dari orang jika kita ingin menggantikan posisi orang yang mereka sayangi?

 

Share  with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.