SPENCER Review

“A bird in a cage is not happy, even if you bought him a golden cage.”

 

 

Lady Diana dikenal sebagai sosok yang tragis. Peristiwa dan aftermath kematiannya yang naas jadi sensasi perbincangan berita di tahun 1997. Maka, sutradara Pablo Larrain yang sebelum ini menggarap biopik figur First Lady Jacqueline Kennedy yang tak kalah ‘sedihnya’ (Jackie), merasa tepat untuk membuat kisah hidup Diana sebagai sebuah cerita tragis pula. Larrain mengarahkan film Spencer sebagai cerita tentang perempuan yang bagai burung terkurung dalam sangkar emas. Bukannya mau nyamain cewek ama burung – apalagi perempuan yang begitu berpengaruh seperti Lady Diana si Princess of Wales, tapi memang Larrain menjadikan Spencer bukan sebagai biopik sejarah yang utuh. Melainkan sebagai sebuah fabel yang berdasarkan kepada tragedi nyata. Dongeng yang benar-benar terus mengedepankan ketaknyamanan hidup perempuan di dalam istana yang seperti penjara. Seolah terpenjara itulah yang membuat Diana bisa relate kepada kita.

Malanglah juga, buat penonton yang mungkin enggak tahu atau mungkin dulu masih terlalu muda untuk mengerti apa yang menimpa Lady Diana. Karena Larrain tidak tertarik untuk berlama-lama menjelaskan tragedi apa yang terjadi di kehidupan Diana Spencer, yang jadi anggota kerajaan Inggris. Informasi latar belakang seperti soal rumah tangga Diana dengan Pangeran Charles sedang genting karena ada rumor affair, atau keadaan di istana Sandringham, atau perihal eating disorder yang diderita Diana, akan langsung ditampilkan saja di dalam narasi yang ia susun berpusat pada minggu Natal di tahun 1991.

Plot Spencer berpusat kepada eksplorasi perasaan Diana terhadap keluarga dan aturan dan gaya hidup kerajaan yang harus ia jalani sebagai istri dari putra mahkota. Diana datang terlambat ke Sandringham. Meski sepertinya dia memang beneran nyasar, tapi kita bisa melihat Diana menikmati keterlambatannya itu. Menikmati momen-momen saat dia ada di luar sana. Alih-alih di dalam istana, yang jadwal buka kado hingga pakaian yang ia kenakan saja diatur. Dia gak bisa milih dress proper dan asesoris yang wajib ia kenakan setiap kali jamuan makan. Bahkan jamuan makan itu sendiri bisa jadi siksaan emosional untuk Diana. Bulimia yang ia derita bentrok dengan kewajiban makan dan berat badan yang harus ia patuhi. Tidak ada di ruangan itu yang tampak peduli kesehatannya. Diana justru tampang dipandang sebagai pelanggar aturan oleh keluarga kerajaan. Gak mau patuh. Kalung mutiara yang ia kenakan pun lantas menjadi simbol kekangan bagi dirinya.

spencer-kristen-stewart-as-princess-diana-lede
POW di bajunya itu singkatan Princess of Wales atau malah Prisoner of War?

 

Film ini disebut banyak orang sebagai sebuah masterpiece. Dan itu benar. Spencer adalah masterpiece dalam menggambarkan ketaknyamanan yang kerap mendera Lady Diana. Ambil adegan makan malam sebagai contoh. Kita melihat Diana masuk terlambat (sekali lagi) ke ruang makan. Mengenakan gaun hijau dan kalung mutiara yang sebenarnya enggan ia pakai. Kemudian prosesi makan malam mereka berlangsung dengan sangat kaku. Lengkap dengan pelayan-pelayan yang udah terlatih kayak militer. Mereka makan dalam diam, badan tegap, siku gak boleh nyentuh meja dan segala macam. Tapi, kita diperlihatkan ekspresi Diana, yang masih belum menyentuh sup hijaunya. Cara kamera merekam, editing yang dilakukan, plus permainan akting Kristen Stewart membuat kita merasakan sensasi tak nyaman. Kita seperti merasakan sejumlah pasang mata memelototi Diana. Konteks lain di sini adalah Diana punya ‘kebiasaan’ muntahin kembali makanannya, jadi dia justru diharapkan dengan tegas untuk tak melakukan itu lagi – meski dia tidak punya kendali atas penyakitnya itu. Kecemasan Diana ditangkap oleh film, dan kemudian digambarkan lewat adegan sureal berupa Diana merenggut lepas kalung mutiara yang ia kenakan. Mutiara-mutiara itu berjatuhan ke dalam mangkuk supnya, dan Diana memakan sup itu, lengkap dengan toping mutiara-mutiara yang keras. Adegan yang beberapa menit kemudian diungkap sebagai bayangan dari Diana tersebut benar-benar efektif dalam menunjukkan seberapa besar tekanan di situ bagi dirinya.

Ironis, Diana justru merasa lebih terkekang di rumah yang melindunginya seratus persen lewat aturan dan berbagai tata krama dibandingkan di luar, di tempat paparazi diketahui akan mengintai kemana pun dia pergi. Kungkungan ternyata jauh lebih bikin stress.

 

Gambar-gambar Spencer yang gorgeous sekali memang dimanfaatkan dengan seefektif itu. Sandringham bahkan udah kayak karakter tersendiri. Dengan build-up yang cermat terhadap bagaimana tempat mewah itu malah jadi seperti penjara. Kamera akan melayang memperlihatkan bentuknya yang tertutup. Lalu juga ada adegan demi adegan yang memperlihatkan betapa strict-nya di sana; bahkan urusan dapur saja benar-benar diawasi oleh pasukan khusus. Dan Diana ada di sana, sebagai presence yang mempertegas bukan hanya ‘kecantikan’ melainkan juga kontras keinginan untuk bebas dan kungkungan itu. Semua aspek penceritaan lewat visual tadi itu dimainkan sehingga saat adegan perasaan pembebasan diri di menjelang akhir, kita semua jadi ikut merasakan seberapa gemetarnya tangan Diana untuk merenggut kalung (kali ini beneran) dan betapa plongnya nanti emosinya terasa.

Ketika film-film tentang Lady Diana sebelum ini masih berusaha untuk tampil berimbang, Spencer tidak ragu untuk memihak. Tidak ragu untuk menunjuk antagonis. Diana ke dapur tengah malam aja, ditegor. Dia gak nutup gorden jendela aja lantas dimarahi, karena ternyata ada paparazi yang mengintai setiap saat bahkan saat dia berganti pakaian. Diana heran kenapa harus dia yang ‘kena’, seperti kalo di kita ada perempuan yang dilecehin maka yang disalahkan pasti si perempuan, bukan para cowok yang harusnya dilarang. Diana gerah harus mengikuti protokol dan gak bisa kemana-mana, gak bisa ngapa-ngapain sendirian. Memang, sebaliknya, bisa terdengar Diana-lah yang egois. Supaya gak keliatan seperti itu, maka naskah mencuatkan posisi Diana. Bahwa semuanya bermuara kepada concern Diana kepada anak-anaknya. Kekhawatiran Diana atas kesehatan mereka (Istana yang dingin, dan menolak gedein pemanas) serta perhatian saat ayah memaksa mereka ikut berburu burung. Ini jadi memperlihatkan Diana sebagai ibu yang baik di atas segalanya. 

spencer03042ce3-ede2-4c4e-ac72-18cad07ae5d0-SPENCER_by_Pablo_Larrain_courtesyNEON
Waktu kecil, aku punya teman yang ‘diledek’ ibunya mirip Lady Di

 

Aku gak tau aslinya Lady Diana seperti apa, tapi banyak yang bilang penampilan Kristen Stewart di sini mirip banget – bahwa Stewart menghilang ke dalam sosok Diana Spencer. Aku gak bisa konfirm soal itu, but I do have some opinions. Stewart memang berhasil nampilin sosok yang terkekang lahir dan batin. Dia ngomong aja suaranya kayak bisik-bisik, bahkan saat sedang adu argumen dengan koki atau pegawai di istana itu. Cara ngomong yang semakin memperkuat kesan bahwa perempuan ini saking merasa gak bebasnya, sampai bicara pun gak bisa lepas. Namun di sisi lain, lama kelamaan kok ya agak monoton juga. Somehow jadi terasa susah juga bagi kita untuk masuk ke dalam karakter ini, karena kita literally dan figuratively kurang bisa ‘mendengar’ yang berusaha ia keluarkan. Padahal kalo dia lepas aja, kayak waktu dia ngobrol di pantai bareng sahabat yang jadi pelayannya, karakter ini lebih mudah untuk kita ‘dekati’.

Ini jugalah yang jadi sedikit ganjelan buatku. Spencer terlalu lama menghabiskan waktu untuk menunjukkan Diana adalah korban sangkar emas. Diana nangis, Diana muntah, atau melakukan keduanya bersamaan – sambil pakai dress menakjubkan, Diana melukai diri sendiri. Intensitas yang terus naik untuk menunjukkan perasaan terkekang yang semakin besar. Film kekeuh banget nunjukin ketatnya si pihak antagonis sehingga Diana jadi hancur lebur. Tanpa pernah menonjolkan keberimbangan. Padahal tak sedikit juga pelayan atau pihak istana yang ngasih Diana nasihat dan nunjukin support kepadanya. Tapi she just cry dan segera balik ke mode ‘gue korban’. Aku bukannya gak berada di sisi Diana atau gimana, tapi aku melihat ada kecenderungan begini: dalam narasi yang ada elemen pelaku dan korban, kalo narasi itu pembahasannya fokus ke pelaku tanpa atau sedikit sekali menggali perspektif korban, pasti bakal dikecam. Namun sebaliknya, tidaklah mengapa kalo yang dibahas adalah perspektif korban doang. Pelaku tidak dikembangkan, melainkan justru kalo bisa harus terus diantagoniskan. Buatku ini kecenderungan yang mengkhawatirkan sih. Membuat film jadi kentara banget fokus nomor satu kepada agenda. Alias memihak tapi untuk kepentingan menggaet ‘marketing’ tertentu.

Dan Spencer ini aku hampir ngerasanya kayak begitu. Film ini membuat seolah Diana itu berada di tempat yang tidak ia mau. Seolah dia jadi tawanan di sana. Penonton yang sama sekali gak tahu siapa Diana boleh jadi akan menganggap Diana dipaksa menikah, atau mungkin malah ‘dijual’ kepada keluarga kerajaan. Padahal kan tidak. Diperlihatkan Diana bukan putri paman petani (bukan Diana yang di lagu Koes Plus!) Diana putri bangsawan Eropa. Rumahnya juga gede. Walaupun dia diperlihatkan memang hidup lebih bebas di masa kecil, tapi tentunya Diana tahu seperti apa lingkungan istana – apa yang ia masuki ketika menikah. Inilah yang harusnya diberikan konteks oleh film. Boleh mengantagoniskan satu pihak, tapi juga tetap gak elok jika protagonisnya selalu dipush entah itu selalu benar atau selalu dibuat menderita tanpa menggali kenapa dia bisa merasa begitu pada awalnya. Development karakter Diana terlalu sedikit karena film terlalu sibuk mengantagoniskan pihak satunya dan  terlalu sibuk membuat protagonisnya ini menderita.

 

 

 

Tampaknya memang perspektif itu yang diincar. Film ini sepertinya memang tidak berniat untuk menggali lebih dalam melainkan hanya berpusat kepada kecamuk emosional yang sekiranya terjadi di dalam diri seorang Lady Diana selama ia hidup sebagai istri Pangeran Charles dan anggota kerajaan. Ingat, sekali lagi film ini adalah fiksi yang berdasarkan tragedi nyata. Jadi tentunya build up tragedinya itu yang diimajinasikan di sini. Dan untuk menghasilkan perasaan tak-nyaman, terkukung, dan stress karakternya tersebut, film ini melakukannya dengan luar biasa. Hanya, buatku, film yang dua jam isinya ‘memamerkan’ seseorang di posisi korban, bukanlah tontonan yang, katakanlah menghibur, atau yang benar-benar terasa penting. They just so undeniably great at being that one-sided, rather self-absorbed story.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for SPENCER

 

 

 

That’s all we have for now

Diana di kisah ini sering melihat vision dari cerita yang ia baca tentang Anne Boleyn yang dipenggal Raja Henry yang menolak menceraikannya. Menurut kalian apa makna cerita tersebut sampai begitu penting bagi Diana?

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

Comments

  1. Iman says:

    sangat menikmati akting Stewart, bagaimana gesture, cara berjalan, gerakan kepala/leher, cara berbicara, tatapan mata yg semuanya membuat pikiran sy ttg sosok Lady Di memang seperti itu, cinematography yang memanjakan mata serta setting, costume dan film score yang “padu” bikin film ini enak ditonton. beberapa saat sempat agak engap/sesak melihat scene, dan itu berhasil membuat sy menikmati filmnya.
    peraturan di lingkungan kerajaan sudah terjadi berabad2, semua yang ada disitu menjalaninya bukan karena suka tapi harus, mereka hanya menjalani kewajibannya.
    di sisi lain sosok Diana yang mungkin agak free spirited, background dia yang seorang guru anak2, sangat menikmati bergaul dengan selebriti, voulenteer di banyak sekali kegiatan amal (yg mengharuskan komunikasi yg luwes dan equal) menjadi sangat tidak “match” dengan segala peraturan ketat istana. mungkin dia hanya orang yang berada di lingkungan yang “tidak sesuai”, dan ketidaksesuaian ini bukan pula salah lingkungannya, dan “ketidaksalahan” lingkungan ini yang kurang tergali disini menurutku.
    tapi aku gak melihat lingkungan selain Diana di film ini digambarkan antagonis sih, mereka hanya menjalankan apa yg sudah menjadi tugas mereka saja.

    • arya says:

      Aku juga ngerasainnya gitu, kerajaan itu ya ada aturan dan segala macam, toh juga peraturannya untuk kebaikan sendiri. Diananya yang mengantagoniskan mereka, semua yang di situ jadi ada aja ‘salahin’ dia. Bukti antagonisasi Diana kepada istana itu salah satunya soal pemanas. Ya dia concern kepada anaknya, tapi dia membuatnya seolah istana gak ada yang peduli, seolah sengaja membiarkan tetap dingin dan ‘hanya memberi selimut’. Trus yang gorden juga menurutku cukup silly sih sebenarnya. Okelah, buka/nutup gorden setiap hari itu ya mestinya hak yang punya kamar, gak perlu diatur. Tapi mbok ya kalo ganti baju tutuplaaah. Masalah di cerita ini kan sebenarnya bukan exact ke ketatnya peraturan, kita bisa lihat itu, tapi Diana selalu melihatnya soal dia ‘dipojokin’ oleh aturan. Dan film yang memang ingin mengeksplorasi perasaan Diana itu, stick to that view. Itulah makanya ada yang gak in-line di narasi ini antara yang kita rasakan dengan si sudut pandang utama tersebut.

      • Iman says:

        setuju kl Diana yg mengantagoniskan istana, semua pelayan jdnya salah di mata dia, bahkan pelayan yg mau bantu urusan pakaian saja jd salah.
        keberimbangan sepertinya sudah diupayakan film, karena peran antagonis istana hanya dari mata Diana saja, tidak ada perlakuan ratu, petugas bahkan Charles yg “dipojokkan” film, bahkan di scene akhir dia dan ratu memperbolehkan william dan harry untuk ikut ibunya.

        • arya says:

          Tapi Diana tidak melihat itu. Di awal hingga akhir dia di dalem hati tetep tahunya, dia dikekang. Perubahan Diana cuma dia sekarang jadi berani ngambil keputusan untuk tidak terkekang. Kalo berimbang, development Diana mestinya dia berubah jadi melihat makna atau warna baru dari keadaan itu, karena dia telah belajar dari keadaan terkekang itu sendiri.
          Kalo udah nonton, bisa dibandingin karakter Diana ama karakter Yuni di film Yuni. Antagonis Yuni di situ kekangan juga; tapi konteksnya kekangan dari kebiasaan sosial perempuan remaja langsung nikah – apalagi kalo udah dilamar, dsb. Yuni sepanjang cerita juga lebur kayak gitu, dia juga berusaha berontak dan melawan. Tapi naskah juga membuat Yuni mencoba untuk memahami ‘pamali’ yang dikatakan orang-orang kepadanya. Perbedaan kecil itu dampaknya gede, cerita Yuni terasa lebih dramatis, karakternya lebih ‘tebal’. Well, at least yang versi festivalnya begitu.. gak tau ntar versi bioskopnya gimana xD

  2. akalnadi says:

    Diana bertingkah antagonis karena pemantiknya si Charles ketahuan slengki terlebih beliin kalung yang sama buat PIL-nya, Jadi kehidupan Istana yang awalnya pasti sudah diperkirakan tapi tiba-tiba jadi apa-apa gak diterima oleh Diana karena kelakuan slengkinya Charles. Diana boleh aja lahir dari bangsawan tapi hati perempuan kalo udah disakitin ya trennya gitu gitu aja; yang semula gak masalah jadi masalah, semua dibikin bete dan jadi bahan dumelan karena kondisi yang cukup sulit untuk mengungkapkan.
    Soal image Diana menjadi Ibu yang baik untuk anak-anaknya itu karena kekuatan korban slengki pasti ada pada anak-anaknya dan Diana kayak mau ngomong sm Charles “gak usah atur anak-anak gue jadi gentleman deh, lo aja banci berani selingkuh”

  3. soearadiri says:

    Jujur saya nonton nih film buat bandingin sama The Crown hihihi. Dan kalo baca review diatas The Crown lebih unggul. Di The Crown semuanya dapet jatah untuk menjustifikasi keputusan2 mereka. Dari mulai sikap yg diambil Ratu pada rumah tangga anak sulungnya hingga “Villain” dalam tragedi ini yaitu Charles dan Camilla (like Their Love is real dan bukannya nafsu sesaat, lagian semua juga setuju Diana Lebih cantik wkwk). Meskipun in the end, of course, karakter Diana yg pasti paling banyak dapat simpati. Yaa durasi sih gk bisa di compare juga series sama movie

    • arya says:

      Hahaha mungkin karena memang udah nyadar gak bakal muat semua-semuanya maka film ini milih maksimalin Diana aja. Khusus untuk melihat psyche-nya seperti apa. Bagus, tapi ya, yang lebih bergizi lebih enak sih, ya kan xD

  4. Feelstora (@Dailisya1) says:

    Aku cukup sering baca review di sini dan… wow memberikan insight banget. Dan aku baca ini tapi belum nonton filmnya, it’s okay aku bener2 punya gambaran buat film ini dan sedang mempertimbangkan apakah mau nonton atau enggak di tengah kesibukan (tapi sepertinya aku harus nonton di laptop).
    Aku jadi pengen minta review-in series series baru Indonesia (tapi sebenernya cuma sedikit series yang beneran aku suka karena banyak banget yang menurut aku lebih seperti sinetron berkedok web series). Paling rekomen serial Hitam karena itu cuma 4 eps dan menurut aku berkualitas. Tapi, abaikan aja kalau ngga berkenan. Toh review-an yang dibuat di sini akan tetap aku bacaaa (meskipun nggak seluruhnya ofc…)
    Good luck…. Aku bener2 suka dengan tulisan-tulisanmu di sini.

    • arya says:

      Wah terima kasih sudah sering mampir baca. Coba aja nonton pas senggang, soalnya bentar lagi film Yuni mau tayang, dan di dua film ini permasalahan protagonis perempuannya mirip (gak persis, tapi sama-sama terkukung aturan) Seru aja buat dibandingkan hahaha
      Makin banyak nih yang rekues review series, kayaknya harus bener-bener aku jadiin deh kalo udah gini xD Semoga tahun depan bisa ya, Cuma, aku mau minta usul atau saran dong. Kira-kira kalo review series, enaknya per episode atau serampung satu seasonnya?
      Terima kasih kembalii

  5. Farrah says:

    Maaf agak oot, tapi blm ada review baru lagi ya? Nungguin padahal hahaha, lagi banyak film bagus soalnya. Eyes of tammy faye ada rencana review nggak, mas? Udah ada di disney+ soalnya, aku mau nonton nunggu review dari sini dulu 😀

    • arya says:

      Haha iya nih, abis dari Jaff, aku masih mager padahal pr filmnya banyak bangeeeetttt
      Secepatnya sih, Seperti Dendam dulu kayaknya yang bakal direview. Eyes of Tammy Faye aku malah baru denger tuh, dimasukin list deh.
      Pokoknya seperti dendam, review harus ditulis tuntas xD

Leave a Reply