Tags

, , , , , , , , , , ,

“… the true test is in how you handle things after those decisions have been made.”

 

 

Untuk banyak wanita, kehamilan dapat mendatangkan banyak kebahagian. Menyadari bahwa di dalam diri sedang berlangsung suatu keajaiban tak pelak membuat wanita  – dan seharusnya para lelaki juga – lebih mengapresiasi hidup. Tapi tentu saja, kehamilan bisa juga menjadi sebuah tantangan. Membuat beberapa wanita cemas dan takut. Sebab kehamilan berarti suatu perubahan besar-besaran. Baik itu secara fisik maupun secara mental. Dibutuhkan persiapan yang luar biasa matang dan dewasa untuk menjadi seorang ibu. Terlebih untuk wanita seusia Dara, yang sebenarnya – kalo kata Britney Spears masih “..not a girl, not yet a woman”

Dara termasuk murid pintar di SMA-nya. Nilai Dara paling tinggi di antara teman-teman sekelas. Dara yang penggemar berat segala hal berbau kekoreaan punya cita-cita untuk melanjutkan pendidikan dan mengejar karir di negara tersebut. Tapi suatu hari, Dara dan sahabat dekatnya – Bima – berhubungan terlalu ‘dekat’. Dua garis yang kemudian mereka lihat pada tespek memberi peringatan bahwa hidup mereka sebagai pelajar akan segera berakhir. Dara dan Bima setuju untuk mempertahankan bayi yang dikandung. Mereka bermaksud merahasiakan peristiwa itu dari keluarga mereka. Tentu saja hanya masalah waktu sebelum buntelan kebohongan itu ketahuan. Drama tuntutan tanggungjawab pun tak dapat terhindarkan. Dan mimpi Dara ke Korea tampak semakin menjauh dari jangkauannya.

Dibaca dari sinopsisnya, Dua Garis Biru ini mirip seperti cerita For Keeps? (1988), film komedi-romantis si Ratu Film Remaja 80an Molly Ringwald. Pun permasalahan yang dihadapi Dara dan Bima ini ada kemiripan dengan Jenny, Juno (2005), film yang beneran berasal dari Korea. Namun, ada perbedaan kultur sosial yang nyata-nyata membuat ketiga film tersebut menjadi totally berbeda. Amerika, Korea, dan Indonesia jelas berbeda. Dua Garis Biru dengan kuat menggambarkan keadaan dan katakanlah sanksi sosial yang bisa merundungi, bukan hanya remaja seperti Dara dan Bima, melainkan juga keluarga mereka. Karena banyak norma yang dilanggar. Penggambaran hal tersebut membuat cerita film ini sedikit berbeda. Dua Garis Biru bahkan bukan film Indonesia pertama yang membahas persoalan kehamilan remaja. Tapi tetap saja film ini terasa unik dan segar sebab sutradaranya; Gina S. Noer memberikan pandangan yang sangat personal – sebagai wanita, yang berkaitan dengan sudut pandang dan pilihan penting yang diambil oleh tokoh film di akhir cerita.

Peter Parker galau karena mendadak mikul tanggungjawab superhero? Pfffttt.. tanggungjawab kita lebih berat!

 

 

Yang sudah pernah menyaksikan review Dua Garis Biru di channel Oblounge FFB (klik di sini untuk menonton) pasti tahu betapa aku dan dua temanku sangat terkagum-kagum oleh kuatnya sudut pandang wanita yang dikuarkan oleh sutradara sekaligus penulis Gina S. Noer. Ada banyak adegan yang dimainkan begitu berbeda sehingga aku saat menontonnya dapat banyak kejutan-kejutan kecil. Adegan yang biasanya bakal berakhir dengan berantem jika dibuat oleh sudut pandang lelaki, di film ini jadinya sedikit lain. Berantem juga, tapi dalam tanda kutip, tidak seperti yang kita kira.

Drama dalam film ini dapat menjadi sangat emosional. Terutama ketika cerita sudah mulai mengikutsertakan keluarga dari pihak Dara dan Bima. Film enggak mengelak dari menampilkan betapa ‘kacaunya’ keadaan bisa terjadi jika punya bayi saat kalian masih seumuran Dara dan Bima. Dalam nada tertingginya, film mengangkat pertanyaan seputar standar keberhasilan suatu rumah tangga, seberapa siap seseorang untuk menjadi orangtua. Bahkan orangtua dalam film ini juga merasa bersalah, bahwa fakta anaknya hamil adalah tanda kegagalan dia sebagai orangtua. Noer selalu punya cara untuk menangkap luapan-luapan emosi itu ke dalam kamera, masing-masingnya terasa segar dan unik. Enggak melulu konfrontasi suara secara langsung. Kadang secara simbolik seperti Dara yang membayangkan janinnya sebagai buah strawberry. Dara yang memandang dirinya di cermin saat kesulitan memakai outfit yang ia beli bersama teman-temannya. Salah satu adegan simbolik penting Dara mengambil keputusan adalah saat ia melihat, dan kemudian memimpikan/membayangkan, ondel-ondel. Aku pikir aku tidak perlu menjelaskan keparalelan dirinya dengan ondel-ondel yang menyadarkan Dara tentang keadaannya.

Kita tidak bisa menyudahi pembicaraan tentang adegan penting Dua Garis Biru tanpa menyebut adegan di UKS sekolah Dara dan Bima. This single six-minutes scene is so powerful, dan membuatku menantikan apa lagi yang bisa dibuat oleh Gina S. Noer. Menginspirasi sekali gimana dalam debut sutradara, seorang penulis mampu menggarap adegan sesulit ini. Adegan UKS ini kuat oleh emosi, ini adalah ketika semua orang mengetahui kehamilan Dara, dan semua karakter-karakter faktor berkumpul di sini. Bereaksi. Beraksi. Kamera menangkap semuanya dalam satu take yang panjang, tanpa putus. Seperti kerja Akira Kurosawa; adegan tersebut punya depth yang luar biasa. Hal-hal terjadi kontinu di depan, di belakang, di luar ruangan. Pergerakan kamera sangat mulus, fokusnya bergeser mengarahkan perhatian kita kepada hal penting yang terjadi sehingga kita tidak tersesat mengikuti kejadian di dalam sana.

Dan semua orang di film ini memberikan penampilan akting yang sangat emosional. Cut Mini sebagai ibu dari Bima bahkan berhasil menyampaikan semuanya, mulai dari emosi yang dalam diam hingga benar-benar meledak. Untuk dua remaja pemain utama, Adhisty Zara alias ZaraJKT48 dan Angga Yunanda, jelas sekali ini adalah penampilan terbaik yang pernah mereka suguhkan sepanjang karir mereka yang juga masih muda belia. Masih banyak ruang dan kesempatan untuk menjadi lebih bagus lagi bagi mereka berdua. Zara dan Yunanda tampak natural di awal-awal, saat mereka masih anak sekolah biasa, saat cerita masih ceria. Ketika cerita mulai berat oleh emosi, terkadang pembawaan Zara masih tampak terlepas dari tokoh di sekitar, kadang yang ia ucapkan tidak konek dengan emosi yang seharusnya ditampilkan. Dara, dimainkan oleh Zara, tidak selalu tampak concern dengan keadaannya. Tapi sepertinya ini juga masalah pada naskah – yang akan segera kubahas di bawah. Begitupun dengan Yunanda. Karakter yang ia perankan, Bima, adalah yang paling ‘pendiam’ di sini. Bima menjalani kehidupan yang baru, mendadak ia menjadi ayah yang bertanggungjawab, dan masuk akal bila dia punya banyak untuk diproses, untuk dipikirkan. Terlebih di adegan awal tokoh ini memang digambarkan tidak brilian dalam urusan otak. Hanya saja terkadang, ekspresi Bima terlalu kelihatan seperti bengong ketimbang memikirkan apa yang terjadi. Tokoh ini juga tidak diberikan motivasi personal di luar ingin benar-benar bertanggungjawab. Bima has nothing to lose oleh kejadian ini karena dia tidak tampak punya keinginan sebelum inciting incident film ini dimulai.

gak mau belajar teori, maunya langsung praktek

 

Tapinya lagi, justru di situlah permainan sudut pandang wanita yang dimiliki oleh film ini. Film sepertinya setuju bahwa dalam kasus ‘kecelakaan’ pria bukanlah korban. Cowok bukan pihak yang dirugikan. Laki-laki masih bisa bebas keluar main. Bukan laki-laki yang berkurung di kamar, membelit perut supaya tidak kelihatan membelendung. Dan bicara perut, bukan laki-laki yang menanggung berat dan ‘bahayanya’ melahirkan. Dalam kasus Dara dan Bima, film menegaskan hanya Dara yang punya mimpi. Hamil dinilai merugikan untuk pihak wanita. Inilah yang diangkat oleh sudut pandang film, yang berusaha diberikan pandangan oleh sutradara. Bahwa wanita harus selalu ‘rugi’ itu tidak benar. Bahwa hamil, atau menjadi orangtua, tidak seharusnya menjadi penghalang bagi wanita untuk mengejar mimpi. Film ingin menunjukkan bahwa jalan menuju karir itu masih ada, dan satu-satunya cara untuk mencapainya adalah membuat keputusan untuk mengejar.

Menjadi dewasa dan bertanggungjawab bukan berarti tidak melakukan kesalahan. Setiap orang senantiasa pernah melakukan kesalahan di dalam hidupnya, persoalannya adalah bagaimana kita menangani keputusan yang sudah dibuat sebagai pertanggungjawaban dari kesalahan tersebut. Dara dan Bima memilih menjadi orangtua muda. Hidup mereka menjadi tak lagi sama, dan baru di saat itulah kedewasaan mereka benar-benar diuji

 

Dengan gagasan tersebut, maka film ini sepertinya perlu untuk ditonton oleh remaja dengan bimbingan orangtua. Malahan menurutku film ini wajib disaksikan oleh orangtua. Karena film mengajarkan untuk mengambil tindakan mana yang diperlukan. Kehamilan remaja merupakan hal nyata yang perlu mendapat perhatian lebih, dan satu-satunya cara adalah dengan edukasi dan bimbingan. Pilihan yang dilakukan Dara di akhir film ini tergolong ‘berani’. Sebuah film enggak harus selalu benar di mata kebanyakan. Sebuah film boleh punya moral sendiri. Dan Dua Garis Biru, meski punya intensi yang bagus, menghadirkan suatu jawaban yang sekiranya bisa membingungkan untuk remaja seusia Dara. Butuh obrolan dan bimbingan yang lebih lanjut dari orangtua sehingga film ini bisa punya kekuatan untuk membantu pasangan yang mendapat masalah yang sama, dan bahkan juga mencegahnya dari terjadi in the first place.

Karena film ini kurang menghadirkan sense of consequences. Semuanya tampak selesai mudah. Keluarga mereka dengan cepat menjadi suportif. Bima tidak punya masalah dalam mencari kerja. Dari latar agama, sosial, budaya, bahkan pendidikan, film sesungguhnya tidak banyak menampilkan edukasi langsung. Tentu, ada percakapan mengenai apa yang sebaiknya dilakukan dan tidak dilakukan, bagaimana pasangan ini sebaiknya dinikahkan, dan seputar masalah kesehatan. Tapi pendidikan soal tanggungjawab aftermathnya seperti ditangguhkan oleh solusi win-win yang ditawarkan oleh gagasan cerita. Film melontarkan pertanyaan demi pertanyaan yang harus dilalui oleh para tokoh. Tapi begitu semestinya mencapai bagian konsekuensi, film seperti melompati pertanyaan tersebut. Instead, film mencoba meraih suatu kompromi supaya semuanya tampak adil. Gue udah ‘terkurung’ sembilan bulan, dan sekarang giliran elu untuk melaksanakan tanggungjawab. Dua Garis Biru memperlihatkan situasi real yang bisa hadir dalam situasi seperti yang dialami oleh Dara, Bima, dan keluarga mereka, tanpa benar-benar menampilkan penyelesaian. Semuanya kompromi begitu saja. In a way, film ini sungguh-sungguh seperti cewek. Kadang emosional, dan berikutnya selesai. Kemudian emosional lagi untuk hal yang lain. Selesai lagi. Ada satu adegan intens saat Dara dan Bima ‘ribut’ sehingga Bima pulang ke rumahnya. Dan adegan berikutnya adalah mereka lagi bersama-sama di rumah sakit, mendengar Asri Welas melucu. Di adegan setelah itu baru mereka ‘ribut’ lagi. Kayak mood-swing cewek.

 

 

 

Pengarahan dengan sudut pandang yang kuat membuat cerita ini menjadi segar dengan banyak kejutan-kejutan kecil. Film menggambarkan konflik demi konflik yang real dalam berbagai cara yang unik. Banyak pertanyaan seputar masalah kehamilan remaja yang diangkat sepanjang cerita. Film memilih untuk tidak benar-benar membahas apa itu kehamilan, bagaimana terjadinya, edukasi di sini berupa gambaran besar. Film lebih ke memperlihatkan situasi yang benar-benar bisa terjadi dan bagaimana orangtua dan keluarga menanggapinya. Yang bisa saja bakal jadi pelajaran yang lebih efektif. I would like to see more tokoh-tokoh film ini mengarungi hari dan konflik yang muncul lebih organik, ketimbang seperti lompat-lompat antara gambaran dampak satu ke dampak lain. Karena pace cerita agak keteteran dibuatnya. Film dimulai dengan cepat, dan pada pertengahan seperti berjalan gitu aja oleh banyaknya pertanyaan yang diangkat silih berganti. Ada lebih dari satu kali aku menyangka ceritanya sudah akan berakhir, namun ternyata masih berlanjut. Sebenarnya film ini bisa lebih nendang dan berani lagi, dengan memadatkan dan lebih menonjolkan motivasi karakter Dara. Tapi setelah semua ekuasi, dua garis film ini toh tidak menyambung membentuk sebuah negatif.
The Palace of Wisdom gives 6.5 gold stars out of 10 for DUA GARIS BIRU.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Setujukah kalian dengan keputusan yang diambil oleh film terkait pilihan tokoh Dara? Apakah menurut kalian film ini bisa memancing kontroversi?

Share with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.