V/H/S/94 Review

“It was a simpler time”

 

 

Kaset video atau VHS memang adalah dinosaurus, jika dibandingkan dengan beragam gadget berteknologi tinggi yang bisa mudah dimiliki dalam genggaman setiap orang.  Kualitas gambarnya yang bersemut-semut kalah jauh ama kejernihan HD. Suaranya yang berdesir (dan kadang terdengar bindeng) bukan apa-apa deh dibandingkan dengan kualitas audio di jaman sekarang. Tapi VHS punya keunggulan sendiri. Tidak ada menu yang rumit, tidak ada loading screen yang annoying, tidak ada software updates. Gak ada iklan! Saat kita ingin merekam, tinggal pasang kamera dan rekam. Saat mau nonton, tinggal masukin ke video dan tonton. VHS akan selalu dapat tempat di hati orang-orang yang pernah mengalami langsung masa keemasannya.

Kita bisa bilang itu karena sentimen nostalgia. Tapi sebenarnya yang dirindukan darinya adalah karena VHS terasa mewakili kehidupan di tahun 80-90an. Hidup yang lebih simpel dan bahagia.

 

Sekarang, semuanya udah overproduce. Terlalu banyak polesan. Bikin video youtube aja sekarang harus benar-benar seperti profesional. Enggak cukup dengan gambar dan suara berstandar tinggi. Harus dilengkapi pake efek dan edit-edit yang mentereng. Makek software editing yang ketinggalan satu versi update-an aja, kita bisa diketawain. Gak usah jauh-jauh, aku bahkan merindukan tahun 2000an ketika video-video yang ada di youtube masih berupa home video sederhana. Yang produksinya lebih mirip video VHS ketimbang buatan stasiun televisi. Kenapa? Karena video-video rumahan tersebut terasa lebih real. Lebih jujur. Karena itulah, kehadiran V/H/S/94 ini, yang franchisenya seperti sudah mati lantaran V/H/S: Viral (2014) yang flop, jadi angin segar buatku. Aku udah jenuh sama film-film yang terlalu sibuk berlomba untuk menjadi besar, baik dari segi visual, efek, cerita, hingga twist. Terutama film hororSebab sesungguhnya, ‘real dan jujur’ itulah yang jadi situasi penentu kualitas cerita horor. Situasi menakutkan yang dialami oleh karakter harus benar-benar beresonansi kepada kita. Ketika mereka diganggu hantu, misalnya, perasaan bersalah atau perasaan duka yang dilambangkan oleh peristiwa menakutkan itu harus sampai ke kita. Film harus mampu membuat kita mengerti perasaan tersebut, dan in turn bisa relate dan percaya kita bisa saja mengalami perasaan serupa; thus make us scare.

Banyak horor modern yang gagal menyampaikan ‘real dan jujur’ tersebut, karena mereka terlalu fokus ke membuat spectacle horor. Ke membuat wahana rumah hantu – alias wahana kaget-kagetan. Ke merangkai plot rumit dengan twist, yang justru sebenarnya mengalihkan kita dari esensi cerita. Ke membuat hantu tampak senyata mungkin, padahal justru menjauhkan kita dari ceritanya. Dua film V/H/S original yang tayang pada tahun 2012 dan 2013 – enam tahun setelah berakhirnya era VHS, dan di tengah maraknya genre found footage modern – mengerti hal tersebut. Paham bahwa culture horor berkembang justru saat VHS lagi hits-hitsnya. Maka film itu mengembalikan penonton kepada masa tersebut. Mengatakan, ‘ini loh habitat natural found footage itu’. Sehingga kedua film V/H/S pertama tersebut jadi sukses dan digemari, baik bagi yang rindu era VHS hingga bahkan oleh penonton yang gak really aware sama ‘kekuatan’ konsep videonya. 

vhs_195562848_7810f16b-65d9-4068-8375-2722a80af17c-superJumbo
VHS reborn!

 

 

Mengikuti (dan melanjutkan) konsep terdahulunya, V/H/S/94 hadir sebagai antologi horor pendek yang digarap oleh filmmaker-filmmaker yang udah dikenal sebagai ‘pemain lama’ pada genre horor brutal nan berdarah-darah. Simon Barrett, Chloe Okuno, Ryan Prows, Jennifer Reeder, and our own Timo Tjahjanto. Masing-masing horor pendek tersebut didesain berupa tontonan kaset video jadul. Estetik yang dipakai dan dipertahankan di sini adalah sudut pandang orang-pertama, dengan layar yang bersemut, suara yang berdesir, dan kamera goyang-goyang. Ada lima cerita lepas, yang salah satunya difungsikan sebagai perekat atau tubuh utama film ini. Yakni tentang sekumpulan pasukan S.W.A.T yang menyerbu markas sebuah cult. Di sana mereka menemukan banyak hal-hal mengerikan, termasuk empat video yang juga bakal kita tonton.

Cerita favoritku adalah Storm Drain karya Chloe Okuno. Seorang reporter dan kameramennya sedang meliput sebuah urban legend tentang makhluk setengah tikus setengah manusia yang hidup di gorong-gorong. Kita dibuat melihat aktivitas meliput mereka lewat kamera si kameramen. Konsep low-quality dan pov dimainkan dengan pintar di sini. Lingkungan gelap yang mereka lewati terasa semakin mencekam lewat pandangan mata kita yang terbatas. Horor itu akan benar-benar terasa ketika Okuno memperlihatkan sekelebatan makhluk di dalam sana. Untuk membuat kita tetap tertarik, Okuno membuat karakter-karakternya berbobot. Ada motivasi, dan nantinya ada hal yang menjadi ‘antagonis’ dari motivasi tersebut. Napas pendek segmen ini jadi terasa begitu berarti. Set up, pengungkapan, bahkan aftermath cerita tidak disampaikan terburu-buru. Sama sekali tidak ada niat dari segmen ini untuk membuat cerita menyusur tempat gelap yang semata untuk mengagetkan penonton. Kalian bisa melihat betapa respek dan fokus ke berceritanya si pembuat dari cara ia membuild up dan memberikan pay off kepada makhluk legenda yang dicari oleh karakternya. Segmen ini bahkan dilengkapi oleh klip-klip iklan ala 90an, yang menambah kesan real television footage.

Konsep sederhana dari video itu dijadikan lebih sederhana lagi oleh cerita The Silent Wake, garapan Simon Barrett. Di malam berbadai itu, acara pemakaman seorang pemuda misterius terpaksa ditangguhkan. Perempuan penyelenggara, terpaksa tetap menunggu di sana, kalo-kalo ada pelayat yang datang. Eksekusi konsep segmen ini pun dilakukan dengan luar biasa. Kita hanya melihat dari tiga kamera, dua statis yang terpasang di ruangan, dan satu kamera mobile yang dipegang oleh si perempuan. Perpindahan view dari ketiga itulah yang excellent. Tempo dan irama horor terbangun maksimal dari sana. Karena sebenarnya, cerita ini standar banget, bahkan elemen seramnya juga. Mati lampu, peti mati bergerak sendiri, ada suara-suara, wujud setan yang over-the-top bloody. Perpindahan sudut kamera dan cut-to-cutnya lah yang membuat cerita ‘jaga mayat’ ini bekerja efektif. Sebagai kontras dari cerita ini, ada Terror garapan Ryan Prows. Lebih banyak karakter. Ruang lebih luas. Dan bahkan ada ledakan. Sekelompok kulit putih rasis berkumpul, menyempurnakan rencana mereka yakni sebuah mengembangkan ‘senjata rahasia’ untuk memurnikan Amerika. Secara cerita, film Terror ini sebenarnya gak maksimal untuk cerita pendek. Ini terlihat dari ending yang terasa terburu-buru, tidak terasa berkembang dengan sempurna. Tapi paling tidak, segmen ini masih setia mengikuti konsep 90an dengan video low-quality dan bahkan adegan-adegan bego yang khas sekali seperti konten home video yang tidak profesional.

Ketiga film tersebut membangun konsep dan setia pada tema. Lalu datanglah The Subject karya anak bangsa. Aku gak tahu, but lol, Timo yang Safe Haven karyanya masihlah entry terbagus seantero franchise V/H/S/, seperti gak dapet memo di sini. Alih-alih bikin low-quality, dia malah bikin visual mentereng, kayak film digital biasa. Kayak film yang dibuat dengan kamera di masa sekarang, bukan 90an. Timo cuma nambah filter frame kamera dan catatan waktu 94 (dan kemudian editor film mati-matian menambah efek grain). Ceritanya yang mirip-mirip Hardcore Henry pun terasa futuristik.  Seorang ilmuwan gila menculik beberapa orang, dan mengubah mereka menjadi makhluk hibrid manusia-mesin. Kekacauan terjadi tatkala markas si ilmuwan digrebek polisi di bawah pimpinan Donny Alamsyah. Semua horor di tempat itupun lepas. Imajinasi dan ide cerita memang sungguhlah liar dan perfect untuk cerita horor, apalagi Timo di sini seperti mengajak kita berdialog soal semakin menyatu dengan teknologi tidak lantas membuat manusia kehilangan hati. Yang bagiku di sini, itu berarti film ini berargumen denganku soal film yang wah bisa juga punya hati kayak film-film yang sederhana. Masalahnya, film segmen ini tidak pernah menempatkan hati pada ceritanya. Melainkan sebuah spectacle yang luar biasa. Udah kayak aksi-aksi video game. Apalagi makhluk horor hibrid itu juga terlalu kinclong. Aku mengharapkan efek atau kostum yang grotesque, yang perpaduan manusia dan mesinnya itu bikin kita benar-benar mual ala makhluk Cronenberg. Tapi tidak. Timo membuat mereka terlalu ‘bersih’. Akting kaku dan  over-the-top sebenarnya juga dijumpai pada segmen atau cerita yang lain. Namun karena yang lain mempertahankan kesan video amatir nan jadul, akting tersebut jadi passable. Pada The Subject ini, sebaliknya, jadi malah mengganggu. Sebagai single story, aku bukannya tidak suka. Aku juga enjoy. Tapi sebagai bagian dari antologi dengan konsep tertentu, this entry just feels very out of place.

VHSTheSubject1-RT-1024x582-1 - Copy
Greatest shooter of all time, menembak lewat punggung kameramen

 

 

Entry terburuk, however, jatuh kepada segmen yang jadi tubuh utama film ini. Dan ini tidak mengherankan sih. Batu sandungan seri V/H/S selalu pada bagian segmen tubuh utama. Film ini pun kewalahan ketika harus mengikat segmen-segmen cerita yang saling tak berhubungan itu ke dalam satu film utuh. Cerita penyergapan oleh pasukan S.W.A.T itu berakhir gak jelas. Dan bahkan lebih ‘kempes’ ketimbang ending segmen Terror. Build up mayat-mayat mengenaskan (dengan bola mata tercungkil keluar) dan misteri berbagai boneka dan salib terbalik, tidak mendapat pay off sama sekali. Malah seperti diabaikan. Instead, kita malah mendapat penutup standar “oh ternyata si anu jahat”. Sambung-menyambung ceritanya pun terasa melompat-lompat. Inilah yang harus diperhatikan lagi oleh franchise ini untuk di kemudian hari. Mereka harus menemukan cara atau narasi yang lebih natural untuk menconvey konsep video-video yang sudah jadi ciri khas.

 

 

 

Untuk sebagian besar waktu aku menikmati menonton film ini. Tidak sejelek film ketiga franchise ini, walau juga bukan film yang benar-benar kuat. Aku benar-benar mengapresiasi konsep video low quality dan cerita sederhana tapi horor over-the-top dan berdarah-darah yang mereka usung. Menjadikannya kontras yang sangat menarik. Tapi memang, naturally, horor antologi seperti ini akan punya masalah balancing dan penyatuan, yang oleh film ini pun masih tetap tidak bisa tertuntaskan dengan maksimal.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for V/H/S/94

 

 

 

 

That’s all we have for now

Apakah menurut kalian sekarang ini kita memang telah terlalu overproduce terhadap konten sehingga kehilangan elemen ‘real dan honest’ di dalamnya?

Share with us in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

CANDYMAN Review

“We need to define gentrification as separate from the process of displacement”

 

Awalnya, Candyman diciptakan sebagai horor tentang mitos. Ia merupakan gabungan dari legenda-urban Bloody Mary (panggil namanya di depan cermin berulang kali!) dan The Hookman (pembunuh bertangan kait-tajam). Cerita original Candyman menyebut, sosok Candyman akan muncul di belakang siapapun yang menyebut namanya lima kali di depan cermin “Candyman.. Candyman.. Candyman.. Candyman.. (kalian sambung sendiri, aku ogah!)”, lalu mengoyak tubuh mereka dari ujung ke ujung.

Tentu saja film originalnya tersebut sukses menjadi cult-horror, namun bukan karena terbangun atas unsur mitos yang fun dan oleh kesadisan berdarah-darah semata, melainkan juga karena kengerian gagasan yang dibicarakan sebagai tema yang menyelimuti cerita. Candyman bicara terutama tentang ketimpangan sosial antara si hitam dan si putih. Bahasan yang – to no one surprise – masih relevan dan penting untuk dibicarakan di masa sekarang, nyaris tiga-puluh-tahun kemudian. Sutradara Nia DaCosta dan produser Jordan Peele jeli melihat ini. Mereka tahu horor ketimpangan sosial itu masih berlanjut meskipun keadaan seperti sudah dipoles untuk mengesankan perbaikan. Candyman 2021 mereka hadirkan dengan turut memoles mitos dan legenda dalam cerita franchise horor ini supaya lebih cocok untuk memuat problematika injustice yang dihadapi saat ini.

candyman2992287039
Nyanyi lagu Candyman Aqua saat cuci muka di depan cermin masuk itungan nge-summon Candyman gak ya? Duh, gawat….

 

 

Film ini dengan cueknya mengabaikan film-film Candyman terdahulu, kecuali film originalnya yang rilis tahun 1992. Cabrini-Green (kompleks apartemen ghetto alias hunian warga kulit-hitam di Chicago) yang jadi lokasi begitu banyak pembunuhan sadis terkait Candyman, sudah dibangun ulang, diremajakan. Kini jadi kompleks yang cukup elit untuk kalangan seniman. Sejarah kelamnya ikut terkubur. Sampai ketika Anthony McCoy (peran mimpiburuk bagi Yahya Abdul-Mateen II karena intens dan beragamnya horor yang harus ia lakoni), yang lagi berjuang mencari ide untuk installment seni di galeri mendatang, mendengar tentang legenda Candyman. Anthony tadinya hanya tertarik untuk menjadikan Candyman sebagai karya seninya, tapi riset-risetnya tentang itu justru menguak kembali mitos kelam di daerah tersebut. Yang berarti satu hal; Candyman juga ikut bangkit, dengan kesadisan yang sama untuk menempuh tujuan dan bentuk yang sedikit berbeda. 

Naskah film ini dikerjakan bareng oleh Peele, DeCosta, dan Win Rosenfield. Mereka mengambil cerita film pertama sebagai landasan, dan kemudian berhasil mengikatkan cerita asli tersebut ke dalam naratif yang mereka kembangkan. Meskipun ada sedikit yang berubah, atau mungkin tepatnya disesuaikan untuk fit pada narasi yang mereka bikin, tapi film ini tetap menghormati apa yang sudah dilandaskan. Kejadian di film pertama jadi urban-legend baru pada dunia film kedua ini. Karakter-karakternya jadi sosok legenda. Malahan, ada karakter yang sama dimunculkan kembali; ada karakter yang di film pertama masih bayi, di sini akan dijumpai sebagai karakter yang berperan dalam cerita. Untuk karakter utamanya sendiri, si Anthony, well.. Pada review Fear Street Trilogy (2021) sebelum ini, aku sudah menekankan betapa pentingnya bagi cerita untuk mengeset kepentingan tokoh utama yang membuat dia pantas untuk berada di dalam cerita. Horor di dalam cerita harus benar-benar berkenaan, kalo tidak personal, bagi dirinya. Film Candyman terbaru ini tidak punya masalah dalam hal tersebut. Karena Anthony betul-betul digarap sebagai titik sentral. Kita bisa bilang horor film ini berputar di sekelilingnya. Tadinya aku SangChi — eh itumah film Marvel… tadinya aku sangsi karena Anthony ‘hanya’ baru saja mendengar urban-legend Candyman dari karakter lain. Tapi ternyata film berhasil memberikan Anthony purpose dan andil dan keterikatan yang kuat. Bukan saja baginya ini personal karena dia telah memilih Candyman untuk dijadikan proyek seni, tapi juga karena semua itu diungkap berkaitan dengan masa lalu Anthony. Kejadian di film ini jadi sungguh-sungguh berarti baginya, yang membuat kita jadi peduli dan jadi berarti juga bagi kita.

Mitologinya terkait banget, namun juga tidak benar-benar perlu untuk menonton film pertamanya bagi penonton yang belum pernah menyaksikan. Karena film ini sudah menyiapkan beberapa bagian eksposisi yang menuturkan apa yang terjadi sebelumnya. Dan penjelasan itu dilakukan dengan kreatif. Dari segi visual, film menceritakan itu lewat gaya animasi seperti wayang (alias berupa boneka bayangan). Lalu dari segi ceritanya sendiri, film melakukannya dengan variasi, seperti pertama-tama diceritakan sesuai dengan bagaimana kejadian tersebut dipandang oleh masyarakat kulit-hitam sekarang, lalu baru kemudian diceritakan bagaimana kejadian itu sebenarnya terjadi. Jadinya, walaupun cukup banyak eksposisi, tapi tidak terasa membosankan. Karena memang dari segi gaya, film ini melakukan perombakan yang bahkan mencuat di antara genre horor itu sendiri. Like, ada adegan pembunuhan yang dilakukan sembari film ngezoom out – selagi kita dibuat menjauh dari ruangan tempat pembunuhan itu berlangsung. Kita dibiarkan menyipitkan mata berusaha melihat apa yang terjadi. Dan ini menambah misteri dari sosok Candyman itu sendiri. Sosok yang dalam film ini ditampilkan beraksi lewat pantulan-pantulan di cermin. Pembunuhan di galeri seni jadi terasa benar-benar berkreasi saat film hanya membiarkan Candyman bisa kita lihat lewat cermin.

Indikasinya tentu saja adalah bahwa Candyman dipersembahkan sebagai refleksi dari situasi ketimpangan itu sendiri. Anthony melihat dirinya menjadi Candyman di cermin, Anthony mengerang ketika sengatan lebah di tangannya menyebar, membentuk kulit bolong-bolong kayak sarang lebah. Body horor seperti demikian juga merupakan cerminan yang memperkuat gagasan film ini tentang si Candyman. “He’s not a man” Melainkan situasi atau sesuatu yang dirasakan yang terpersonifikasi menjadi makhluk horor. Anthony menjadi Candyman berarti Anthony perlahan mulai merasakan situasi tersebut, perlahan paham bahwa dia perlu mengambil tindakan atas situasi tersebut.

candymanc3MjljZGI3MGQzXkEyXkFqcGdeQXVyMTE4Nzk0MzE4._V1_
Tadinya aku kira sedang nonton versi bajakan karena credit pembuka film ini diberi font terbalik atau mirrored.

 

Sekarang saatnya kita berjingkat memasuki ranah spoiler. Apa sebenarnya makna dari Candyman. Bagaimana film mengembangkan mitologi Candyman dari film pertama menjadi bentukan yang sekarang, menjadi sosok horor yang membawa semangat keadilan bagi masalah ras.

Dalam film pertama, Candyman adalah entitas – atau katakanlah hantu – yang hidup sebagai mitos. Aslinya dia adalah anak seorang budak yang disiksa sampai mati karena ketahuan jatuh cinta sama wanita kulit putih. Candyman bangkit untuk memastikan cerita ketimpangan yang ia alami terus tersampaikan. Dia kembali setiap kali ada orang yang menganggapnya tidak nyata, dan bermain-main dengan ‘mantra pemanggilannya’. Rekam jejak nasib naas orang kulit hitam tetap hidup selama mitos Candyman hidup. Sesuai dengan yang diperlihatkan film baru ini, setiap kali ada korban ketimpangan, mereka akan berubah menjadi versi berikutnya dari Candyman. Namun, keberadaan Candyman mengalami peyorasi. Di opening film diperlihatkan ada orang hitam yang dikeroyok oleh polisi kulit putih karena dia dituduh sebagai pelaku yang mencelakai anak-anak lewat permen berisi silet. Si orang tadi mati dan menjadi Candyman, tapi orang-orang malah mengingatnya bukan sebagai korban hakim polisi, melainkan dari sesuatu yang tidak ia lakukan. Inilah yang jadi motivasi dalang dalam cerita film baru ini. Dia ingin mengembalikan Candyman kepada ‘fungsi’ terdahulu. Karena si dalang tahu yang sebenarnya terjadi pada si Candyman terakhir. Bahwa ini masih masalah kulit putih menghakimi kulit hitam hanya karena warna kulit yang berbeda. Sistem, tidak peduli sudah dipercantik, tetap busuk seperti demikian di dalamnya. Jadi sekarang si dalang, menggunakan Anthony yang membangkitkan Candyman, berusaha menciptakan Candyman baru untuk tujuan tersebut. Memberantas racial injustice yang merayap di balik kemajuan zaman, di balik gentrifikasi tempat tinggal mereka.

Bangunan bisa direnovasi. Brand bisa di-rebrand. Reputasi bisa diperbaiki. Bahkan sejarah bisa ditulis ulang. Orang-orang bisa lupa akan kejadiannya yang sebenarnya jika tidak ada yang namanya legenda. Peristiwa yang turun temurun diceritakan dari mulut ke mulut. Film Candyman memperlihatkan bahwa legenda itulah yang seharusnya tidak boleh hilang. Karena sebelum mereka dikesampingkan menjadi mitos, mereka memuat yang paling dekat yang kita sebut sebagai kebenaran. Dan dalam sistem yang timpang, yang memandang ras satu lebih mulia atau lebih nestapa, sedang terjadi ‘gentrifikasi’ untuk menutupinya. Candyman, di film ini telah berubah menjasi sosok pelindung, sosok yang memastikan bahwa permasalahan racial injustice masih ada – di mana-mana.

 

Jadi, ya, film yang disebut sebagai ‘spiritual sequel’ ini lebih fokus pada satu gagasan. Tidak seperti film originalnya yang hanya menjadikan Candyman sebagai sosok mitos yang pengen eksistensinya selalu dibicarakan orang, dijadikan “writing on the wall”. Candyman yang baru ini mengaitkan mitos tersebut lebih jauh, mencerminkannya dengan realita sehingga film ini bisa lebih berbobot untuk jadi sesuatu yang dipikirkan. Akan tetapi, setelah dipikir-pikir, film baru ini malah jadi terasa kurang kompleks. Jangkauan film pertama ternyata lebih luas. Selain tentang ras, film itu juga bicara tentang dinamika gender dan kelas. Dan tentang rasnya itu sendiri, film tersebut lebih… apa ya, mungkin lebih balance tapi kurang tepat juga. Begini, pada film pertama Candyman menyerang siapapun yang mengucapkan namanya lima kali. In fact, Candyman khusus tampil di Cabrini-Green, kepada sesama kulit hitam. Dia jadi momok di sana. Candyman tidak peduli menumpahkan darah tak-bersalah. Film pertama itu berakhir dengan protagonis kulit putih yang balik mendapat prejudice sebagai black-hater, dan kemudian dia mendapat respek kembali dari komunitas minoritas tersebut. Bahkan diperlihatkan cewek yang bukan kulit hitam bisa juga kok jadi Candyman. Film itu terasa ‘whole’. Sedangkan pada film baru ini, Candyman hanya menyerang kulit putih. Candyman kini punya agenda untuk menegakkan keadilan. Dia tidak lagi membunuhi semua orang yang ada di ruangan (ada beberapa kali adegan Candyman tidak menyentuh orang kulit hitam yang ada saat dia beraksi)

Tentu, masalah polisi rasis, dan timpang ras secara umum adalah masalah serius yang perlu mendapat concern, dan kita semua perlu aware demi dunia yang lebih baik. Tapi dalam konteks conversations sebagai muatan film, Candyman baru ini terasa lebih sempit. Percakapannya terbatas jika dibandingkan Candyman original yang observasinya dari dua sisi. Film ini terlalu berusaha memberikan arti kepada sosok Candyman – bahwa dia harus melambangkan suatu gerakan atau agenda – sehingga bahkan elemen-elemen karakter lain jadi kurang mendapat porsi. Padahal karakter pacar Anthony punya backstory yang menarik; tentang hubungannya dengan adik, dengan ayahnya, juga soal pekerjaan dan perspektifnya sendiri. Menjelang akhir, memang ada seperti pergantian karakter utama – dari Anthony ke pacarnya ini, dan film kurang mulus pada transisi ini karena baik si pacar maupun Anthony selama durasi adalah nomor dua (dan tiga). Nomor satunya tetap bahasan Candyman. Dan itu kayak beating the dead horse, kita paham filmnya udah set Candyman sebagai penghukum orang putih yang cenderung rasis, jadi kenapa tidak expand the conversations a little more.

 

 

 

Bicara soal gentrifikasi, film ini sendiri juga melakukan perbaikan dalam beberapa hal yang ada pada film originalnya. Kesadisan masih tetap ada, tapi kali ini, nuansa film terlihat mewah dan stylish dengan gaya-gaya bercerita (bahkan gaya-gaya saat adegan pembunuhan) yang membuat film ini mencuat dari jenis horor pembunuh-hantu yang biasa. Ceritanya berhasil menyambungkan dengan film pertama sebagai landasan. Tapi juga dengan beberapa penyesuaian. Mitologi sosok ikoniknya juga diperbaiki sedikit, supaya sesuai dengan narasi yang diagendakan. Film ini punya gagasan, dan fokusnya pada gagasan tersebut membuat film sedikit terlalu banyak berusaha memberikan makna kepada sosok itu. Sehingga bahasannya jadi terbatas. Tidak sekompleks film originalnya.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for CANDYMAN.

 

 

 

 

That’s all we have for now

Bagaimana pendapat kalian tentang perubahan Candyman seperti yang digambarkan pada film ini? Film Candyman mana yang lebih kalian sukai?

Share with us in the comments yaa

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

 

 

THE SUICIDE SQUAD Review

“Everyone in life has a purpose”

 

The Suicide Squad dibuka dengan sebuah swerve. Dan kemudian untuk menit-menit seterusnya, hingga durasi kelar, sutradara dan penulis naskah James Gunn benar-benar mendedikasikan seluruh urat bersenang-senang dan denyut kreatif yang ada dalam hati dan kepalanya untuk menjadikan film serupa wujud dari karakter-karakter di dalam ceritanya, yang bukan orang baik-baik. Karakter-karakter yang beberapa di antaranya bahkan gak cukup baik sebagai kriminal super. Tapi justru itulah poinnya. Film ini, juga bukan film baik-baik. Namun dengan mengembrace sisi ‘bad’ tersebut, Gunn berhasil mengerahkan ‘pasukannya’ ini untuk menyelesaikan misi yakni menghibur kita, para penontonnya, dengan aksi dan komedi yang benar-benar super.

Not-so-direct-sequel ini adalah kelanjutan cerita dari proyek kelompok rahasia ‘korbanin napi untuk membereskan kerjaan kotormu’ yang digagas oleh officer Amanda Waller (Mata bulat penuh rahasia Viola Davis kembali menghidupkan karakter ini). Kali ini dia punya tugas baru untuk para napi-super di dalam tahanan. Menghentikan Proyek Starfish yang misterius di Pulau Corto Maltese yang penuh oleh tentara musuh. Bloodsport (Idris Elba menggantikan Will Smith’s Deadshot) ditunjuk sebagai pemimpin – dari kelompok penjahatsuper yang aneh-aneh. Demi sang anak, Bloodsport yang mematikan dan cukup handal – dia dipenjarakan karena menembak Superman dengan peluru kryptonite – harus rela digabungin ama hewan yang ia benci, yakni tikus. Sebab tikus-tikus itu adalah ‘senjata andalan’ rekan setimnya, Ratcatcher 2 (karakter Daniela Melchior ini bersalah atas mencuri hati kita!) Supervillain lain yang dipaksakan kepada Bloodsport untuk rekan tim adalah Peacemaker (John Cena bilang karakternya adalah Captain America versi douchebag), seorang pria bersenjata polka dot (jangan ngetawain Polka-Dot Man yang dimainkan David Dasmaltchian dengan aneh-tapi-charming kayak Neil di serial komedi Inggris The Inbetweeners), dan seoran-ehm, seekor makhluk setengah hiu yang kekuatannya berupa nafsu untuk memangsa manusia (disuarakan oleh Sylvester Stallone). Oh ya, Harley Quinn yang udah semakin luwes oleh Margot Robbie juga akan bergabung bersama mereka di tengah misi, membawa lebih banyak chaos dan warna-warni.

Tim orang-orang gak beres tersebut harus patuh sama perintah Waller yang bisa meledakkan kepala mereka kapan saja dari jauh. Tapi kemudian pemahaman mereka ditantang oleh kenyataan yang mereka temukan tentang Proyek Starfish yang super fishy. Bloodsport dan rekan-rekan harus memilih apakah mereka memang orang jahat tak-berguna atau mereka bisa jadi pahlawan.

suicidemaxresdefault
Aku akan bilang kepada anak-anakku kelak, bahwa ini adalah geng Jackass

 

Tapi bukan tim Bloodsport-lah yang kita lihat pertama kali. Inilah swerve yang aku maksud di pembuka tadi. Demi pembuka yang gak boring kayak Suicide Squad tahun 2016, Gunn siap untuk melanggar banyak aturan. Gunn totally memperlihatkan kita karakter lain, membentuknya seolah itulah karakter utama, membuat dia tergabung ke dalam tim penjahat super yang kocak dan absurd, dan lantas meledakkan mereka semua begitu saja. Darah mereka dipakai untuk membentuk ejaan judul. Aku tahu, sebenarnya normal sebuah film punya sekuen prolog seperti demikian. Seperti Scream yang memperlihatkan aktor muda yang lagi naik daun kayak Drew Barrymore di awal, yang kemudian ternyata hanya untuk membunuhnya sebagai pengantar. Di The Suicide Squad ini, Gunn berniat untuk menyambut kita dengan gemilang. Langsung ke pusat chaos, absurd, dan stake bahwa karakter-karakternya di sini bukanlah tipikal protagonis film superhero yang biasa – mereka semua either adalah orang jago tapi jahat, atau orang jahat tapi bego, dan mereka semua bisa mati tanpa terkecuali. Gunn tahu sebenarnya dia cukup dengan memperlihatkan kegagalan tim pertama, tapi Gunn tidak gentar untuk melangkah lebih jauh. Insting kreatifnya membuat dia mengambil keputusan untuk menjadikan film ini juga ‘jahat’ – gak peduli sama aturan. Jadi Gunn lanjut dengan menanamkan kecohan ‘karakter utamanya ternyata bukan dia’ tersebut. Kecohan yang efektif dan menghibur, walaupun memang jika dipandang lewat lensa penulisan itu bukanlah hal yang benar.

Dan setelah pembuka itu, instantly aku tahu sedang berurusan dengan apa. Sebuah film aksi komedi yang bakalan ‘susah’ untuk dinilai. Di opening tersebut Gunn telah sukses memberi isyarat dan melandaskan kehebohan seperti apa yang ia incar. Film ini akan gagal jika Gunn tidak berhasil mengfollow up opening tersebut dengan semakin banyak dan semakin gila lagi aksi dan semua-semuanya. Yang juga berarti bahwa keberhasilan film ini ditentukan dengan seberapa banyak lagi Gunn berani untuk melakukan hal-hal yang ‘gak bener’ dalam bangunan filmnya. Jadi, dengan memahami itu semua, aku bertanya pada diri sendiri. Apakah aku akan menilai film ini hanya dengan sebagai hiburan, atau menilainya dari seberapa banyak kesalahan yang sengaja diambil. Kreativitas yang ditonjolkan oleh Gunn, alih-alih usaha untuk menjaga film tetap stay di jalur kebenaran, memberiku pilihan ketiga. Menilai film ini dari kreasi yang dilakukan Gunn dalam mengolah hal-hal ‘gak bener’ yang harus ia lakukan dalam bangunan filmnya.

Cerita dengan karakter sebanyak ini cenderung untuk memerangkap sutradara ke dalam momen-momen pengembangan karakter yang gak imbang, ataupun dilakukan dengan tampak terpaksa; menyelipkan adegan-adegan ngobrol di antara aksi-aksi. Yang kaitannya dengan eksposisi. Film itu akan tampak terbagi oleh aksi dan penjelasan yang boring. Gunn melempar begitu saja karakter-karakternya kepada kita. Mengutamakan untuk memperlihatkan langsung apa yang karakter-karakter itu lakukan daripada lebih banyak menjelaskan origin. Dialog-dialog set up film ini cepat, sambar menyambar. Visualnya dibikin unik, mencolok dan berwarna bukan hanya untuk pamer, melainkan sebagai penguat karakter itu sendiri. Ketika momen-momen lambat itu betul-betul diperlukan, Gunn juga gak sekadar memberitahu kita, atau juga tidak sekadar flashback. Dia melakukannya lewat visual unik juga. Dia menggunakan jendela bus sebagai ‘jendela’ untuk melihat ke masa lalu karakter yang sedang diceritakan. Dia bahkan memindahkan sudut pandang, membuat kita masuk ke pandangan certain character supaya kita bisa langsung merasakan keanehan dirinya yang kocak (I love the ‘mom jokes’ di film ini!). Dengan membiarkan kita melihat sekaligus mendengar tentang mereka; mengexperience mereka, maka karakter-karakter dalam film ini bisa dengan mudah terkenang. Akan susah bagi kita untuk memilih siapa favorit, karena masing-masing mereka ternyata sudah kita pedulikan. Mereka bukan hanya komentar-komentar lucu, bukan hanya aksi-aksi keren. Mereka gabungan keduanya.

Adegan-adegan aksinya tentu saja sangat kreatif juga. Gunn tidak perlu khawatir menampilkan aksi yang impossible ataupun aksi yang klise kayak gedung runtuh, karena dia sudah berhasil melandaskan karakter dan dunia tersebut. Semua karakter berhasil dicuatkan pesonanya, dan itulah yang digunakan untuk memperkuat adegan-adegan berantem mereka. Salah satu hal keren yang dilakukan oleh film adalah memperlihatkan adegan berantem lewat pantulan helm. Aku sudah pernah melihat yang seperti ini di opening game Resident Evil 3 di PS satu; saat zombie bikin kacau kota diperlihatkan lewat pantulan di kaca helm polisi. Tapi aku belum pernah lihat adegan berantem yang bekerja efektif dari pantulan semacam itu di film sebelumnya. Satu lagi hal penting yang dimengerti oleh film ini adalah timing. Baik itu timing delivery dialog komedi maupun timing visual komedinya. Walaupun fast-paced dan kadang ceritanya balik bentar ke beberapa menit sebelumnya, karena banyak sekali karakter dan kejadian, film ini selalu tahu kapan harus ‘mengerem’. Kita tidak pernah dibiarkan bingung mengikuti ceritanya. Tulisan-tulisan konyol (dan keren) sebagai penanda bab/misi akan sering kita jumpai menuntun kita. Ini juga menghadirkan feels kayak sedang baca komik. Saat ceritanya balik sebentar pun akhirnya tidak terasa sebagai jeda atau sesuatu yang redundant, melainkan kita malah senang karena terasa seperti waktu tambahan untuk menyimak aksi karakter.

suicidesmaxresdefault
John Cena kabarnya di peran ini menggantikan Dave Bautista; rivalnya dalam storyline gulat

 

 

Ngomong-ngomong soal dunia gulat, aku selalu kepikiran Marvel dan DC ini kayak WWE dan AEW. Yang satu produk yang lebih ke hiburan keluarga, sementara satunya lebih mengincar ke penonton yang remaja/dewasa. Perbandingan itu semakin kentara melihat kerja Gunn di film ini. Gunn tadinya menyutradarai film Marvel, lalu dipecat, dan pindah bikin DC. Dan dia membuat film yang jauh lebih edgy di DC. Ini kan sama banget kayak superstar ex WWE yang dipecat, kemudian masuk ke AEW, dan merasa bebas, secara kreatif, untuk bermain dalam match yang lebih ‘brutal’. Gunn membuat The Suicide Squad penuh oleh aksi-aksi yang fun, as in penuh darah dan potongan tubuh yang melayang ke sana ke mari. King Shark makan orang aja ditampilin gak malu-malu. Afterall, karakter-karakter itu toh memang orang jahat. Kalo Suicide Squad pertama hanya mengingatkan kita lewat dialog yang setiap beberapa menit sekali menyebut “we are bad guy”, maka film kedua ini just having fun dengan karakter-karakter tersebut. Malah ada adegan tim Bloodsport membunuhi orang-orang tak bersalah, dan later mereka cuma salting dan bercanda gak mau mengakui perbuatannya. Dan maaan, sebagai penonton gulat yang sudah lama meminta John Cena untuk kembali jadi karakter jahat; film ini somehow terasa refreshing. Cena hillarious jadi karakter yang menjunjung perdamaian, tapi gak peduli siapa korban yang harus ia akibatkan demi perdamaian itu tercapai. Mungkin inilah yang terdekat yang bisa kita dapat kalo Cena masuk ke AEW?

Sepertinya karena itulah film ini jadi ngena. Karakter-karakternya terasa dalem. Ratcatcher 2 definitely favorit dan jadi hati di film ini. Pilihan yang para karakter buat setelah mengetahui kenyataan sebenarnya jadi terasa lebih bermuatan. Dan sebagai bigger picture, film ini memberikan kita sesuatu untuk dipikirkan. Cerita-cerita superhero DC dibuat dark dan gritty, kita butuh untuk melihat pahlawan dalam keadaan terbawah mereka, untuk menunjukkan perjuangan dan pengorbanan yang mereka lakukan. Sebaliknya, cerita penjahat seperti The Suicide Squad ini justru paling tepat ternyata dibuat konyol dan menghibur, meskipun tujuan arcnya juga sama; untuk melihat apa yang mereka perjuangkan. Jadi kenapa formulanya seperti itu? Apakah itu merefleksikan kalo baik itu boring, dan jahat lebih fun? Apakah membuatnya lebih ringan membuat kita jadi lebih mudah untuk mendekatkan diri melihat kenapa seseorang menjadi jahat?

Share pendapat kalian di komen yaa

 

Yang dilakukan film ini tidak lain hanya memperlihatkan bahwa orang-orang rendahan seperti para kriminal tersebut – yang bahkan beberapa gak kuat-kuat amat – sebenarnya juga punya kegunaan. Seperti juga ‘kesalahan-kesalahan’ yang ada pada film sebenarnya punya purpose.

 

 

 

 

Embracing bad side tidak hanya dilakukan oleh karakter-karakternya, tapi juga dilakukan untuk membentuk film ini. Namun film ini bukanlah proyek bunuh diri. Film ini melakukan hal yang gak benar, dan kemudian berkreasi dari hal tersebut. Dan dia menjadi sajian yang menghibur dan seru dan sangat asik karenanya. Kita dapat action, blood, lovable karakter, dan begitu banyak momen-momen memorable. Aturan dibuat untuk dilanggar. James Gunn melakukannya dengan passionate, mengerahkan kreasi terbaik yang ia mampu dari sana. Ia mencapai yang terbaik, meskipun naskah yang all-over-the-place, karakter yang gak dalem-dalem amat, dan struktur yang bolak-balik. Aku gak akan bandingin ini lebih lanjut sama film yang pertama, karena perbedaannya cukup jauh. Gak perlu tanya malaikat untuk tau siapa juaranya. Ini actually feels like a movie. Pembuatnya peduli sama cerita. Peduli sama karakter. Dan peduli sama kreasi.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for THE SUICIDE SQUAD.

 

 

 

That’s all we have for now

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

 

 

THE FOREVER PURGE Review

“Putting yourself in somebody else’s shoes”

 

Film The Purge, kata sutradara Everardo Gout, adalah film yang akan dipertontonkannya kepada alien jika suatu saat nanti makhluk-makhluk luar angkasa itu beneran datang ke bumi untuk mempelajari manusia. Karena menurutnya, The Purge ini memang salah satu dari sepuluh film yang benar-benar tepat merepresentasikan siapa kita. Manusia. Frasa ‘siapa kita’ yang disebutkan Gout tersebut secara lebih spesifik menyorot ke orang-orang Amerika. Panggung tempat semesta Purge berlangsung.

Lima film, dua serial tv; Purge selepas film pertamanya memang mulai mendedikasikan diri sebagai komentar dari berbagai situasi politik Amerika, di balik tema utama berupa kebrutalan manusia yang butuh pelampiasan kekerasan. They once released film Purge seputar kampanye presiden, bertepatan dengan masa-masa Pemilu mereka. Dunia Purge sendiri memang bicara tentang pemimpin Amerika yang melegalkan segala bentuk kekerasan untuk satu malam kepada warga sebagai gerakan untuk membuat Amerika jaya kembali. Yang padahal hanya membuat yang kaya semakin kaya, dan miskin semakin mati sia-sia

purgeThe-Forever-Purge-1170x642
Hey, kalo yang miskin makin mati sia-sia itu sih, Indonesia juga bisa relate!

 

Gout melanjutkan dunia Purge pada film kelima ini seiring dengan maraknya gerakan Hate yang berkembang di antara warga kulit putih terhadap warga pendatang, sebagai bentukan dari politik mantan presiden Donald Trump. Dan sebagaimana layaknya yang terbaik dilakukan oleh franchise Purge, Gout mengembangkan persoalan tersebut menjadi horor krisis kemanusiaan berskala yang bahkan lebih besar daripada biasanya, as tradisi Purge dibuatnya menjadi tak-terkendali. Namun juga sebagaimana layaknya yang failed dilakukan oleh franchise Purge, Gout juga ikut terlena ke dalam aksi thriller, dengan tidak membiarkan cerita menyelami lebih dalam aspek horor tersebut.

Empati dijadikan inti cerita kali ini. Gout menempatkan kita di sepatu ‘alien’ yakni pasangan imigran dari Meksiko, yang tinggal di Texas. Adela (Ana de la Reguera kembali jadi perempuan tangguh), yang jadi pekerja manufaktur, dan suaminya Juan (peran Tenoch Huerta di sini adalah yang paling stoic di antara yang lain) yang jadi pengawas kuda di rumah peternakan milik keluarga Dylan yang kaya raya. Gout memang gak membuang waktu untuk langsung men-tackle yang ingin ia komentari. Texas bukan saja dipilih karena paling dekat dengan perbatasan Meksiko, tapi juga karena sudah jadi rahasia umum negara bagian tersebut paling tinggi jumlah white spremacistnya. Keahlian Juan sebagai koboy diperlihakan dengan jelas bikin insecure bossnya, Dylan (Josh Lucas masuk banget ke image ‘koboi modern’ beneran). Tensi antara Juan (yang keliatan enggan menggunakan bahasa Inggris) dengan Dylan langsung ditonjolkan, dieksplorasi. Tapi tidak tanpa depth. Karena Dylan diniatkan oleh Gout sebagai wakil dari kulit putih Amerika yang nantinya akan ‘mengenakan sepatu’ Juan. Yang nantinya akan belajar menumbuhkan empatinya karena sebenarnya Purge dan Hate dan everything adalah masalah bersama kemanusiaan. Ya, keluarga Juan dan keluarga Dylan harus saling membantu dan bergerak menuju keselamatan di perbatasan, sepanjang hari yang penuh malapetaka itu.

Hari. Bukan lagi malam. Inilah salah satu keunikan The Forever Purge dibanding film-film Purge sebelumnya. Saat nonton ini, aku udah siap-siap karakter-karakter sentral bakal dikerjai (atau malah mengerjai) begitu malam Purge dimulai. Tapi ternyata enggak, mereka melewati malam yang relatif aman-aman saja. Bahaya justru datang di siang hari – film berkesempatan memasukkan lumayan banyak jumpscare pada sekuen-sekuen pagi sesudah malam Purge tersebut, mumpung kita yang nonton juga masih dalam state ‘merasa aman’. Diceritakan rakyat merasa gak cukup dengan hanya satu malam, dan ternyata ada kegiatan terorganisir untuk mengobarkan Purge selamanya. Menghabisi non-Amerika setuntas-tuntasnya.  

Situasi horor seketika berkembang dari development tersebut. Siapa orang-orang bertopeng yang masih nekat membunuh siang itu, siapa yang menggerakkan mereka, bagaimana kebencian bisa mendadak menyebar secepat itu, bagaimana dengan orang-orang Amerika yang gak rasis kayak anggota keluarga Dylan yang lain. Bagaimana hidup sosial Amerika survive di tengah peristiwa ini. Awalnya aku menyangka development ini sebagai kejutan yang menyegarkan. Sudah sejak lama toh kita penasaran dan pengen Purge menyorotkan kamera bukan hanya ke malam atau menjelang hari H itu saja. Kita mau melihat bagaimana masyarakat menata hidup setelah bunuh-bunuhan di pagi hari. The Forever Purge memberi kita sorotan baru tersebut, meskipun memang enggak exactly seperti yang kita pengen. Tapi at least, ini tetap berbeda dan membuka ke banyak masalah baru. Karena para penduduk cerita pasti pada bingung. It could be lead to tinjauan yang lebih mendalam mengenai reaksi dan kekacauan yang menggunung. 

Maka dari itulah aku kecewa. Karena film ini ternyata enggak menyelam ke sana. Melainkan tetap diarahkan ke ranah lari-larian. Protagonis-protagonis kita akan berusaha kabur naik mobil, dikejar-kejar pendukung Purge. Basically aksinya sama aja dengan Purge yang sudah-sudah. Hanya beda siang hari, tok. Dan ini malah mengurangi kespesialan seri Purge itu sendiri. Yang ciri khasnya orang-orang melakukan kekerasan yang dilegalkan selama batas waktu tertentu. Dengan membuat kali ini kekerasan dan kriminal itu legal untuk sepanjang hari (gak ada batas waktu), film ini jadi gak ada bedanya ama cerita-cerita thriller yang biasa. I mean, judul apapun kalo bikin cerita tentang imigran yang diburu untuk dibunuh, ya pasti filmnya bakal kayak gini. Di akhir film, para karakter akan mendengar berita soal keadaan Amerika yang jadi semacam kondisi perang-saudara (pro-Purge lawan anti-Purge) dengan visual Amerika seperti lautan api; Nah, potongan berita tersebut jauh lebih menarik ketimbang keseluruhan film ini. Aku ingin kita benar-benar ditaruh ke tengah-tengah development kekacauan Purge lepas-kendali ini. Ketimbang cerita karakter yang lari menuju keselamatan, yang paralel dengan film ini lari dari inti yang seharusnya diceritakan. In that way, film ini jadi terasa seperti filler. Jembatan sebelum the real meat yakni film berikutnya (kalo ada) yang aku yakin baru akan membahas kejadian di tengah-tengah perang saudara tersebut.

purgethe-forever-purge-1280x720
Gambaran sebenarnya orang Amerika?

 

Untuk tidak terus menangisi apa yang tidak terjadi, mari bahas bagaimana film ini tampil sebagai dirinya sendiri. Kayak laga thriller generik. Tidak kurang tidak lebih. Ini adalah tipe film yang saat ditonton itu kita akan ngerasa udah sering nontonn film kayak gini sebelumnya. Enggak benar-benar spesial. Meski begitu, Gout sebenarnya tetep berusaha untuk memasukkan pesan-pesan subtil sepanjang durasi kejar-kejaran.

Diberikannya subplot dua karakter interracial yang tumbuh cinta sebagai cara untuk bilang persatuan. Dunia lebih baik dengan cinta. Gout juga mengingatkan kepada Amerika bahwa the land is not their in the first place. Bahwa mereka juga pendatang yang menjarah dari bangsa native Indian. Dengan adanya Indian, Koboi, dan bahkan Koboi yang bukan orang Amerika, film ini udah kayak film koboi yang sangat unik. Ada banyak referensi juga ke genre koboi tersebut. Dan actually film bisa mengaitkan koboi dengan lasso itu sebagai simbol, bahwa semua orang bisa dan berhak menangkap kesempatan. Resolusi film terkait Dylan yang harus menyeberang ke Meksiko, juga mengusung semangat yang positif sekali. Bukan hanya untuk circled back karakternya – melainkan untuk truly menguatkan soal ‘wearing someone else’s shoes’. Untuk merasakan keperluan menjadi imigran, merasakan bagaimana rasanya mencari kesempatan, dan untuk diterima di tanah orang.

For all it’s worth, itulah sebenarnya yang kurang dimiliki oleh manusia jaman sekarang. Rasa empati. Kita telah menjadi lebih gampang untuk begitu curigaan, begitu takut, begitu insecure, sehingga melupakan semua orang punya perjuangan masing-masing.

 

Arc karakter Dylan memang lebih dramatis daripada arc karakter utamanya, Juan. Aku bisa mengerti kenapa bukan Dylan saja yang dijadikan karakter utama. Untuk menghindari cerita ini tampak sebagai another story of kepahlawanan kulit putih. Dan lagi karena film memang ingin membuat penonton berempati kepada imigran seperti Juan dan Adela. Supaya penonton lebih mudah mengalami apa yang mereka rasakan, sehingga berarti membuka perspektif baru bagi penonton yang mungkin masih ada juga yang bersikap seperti Dylan. Namun memang lagi, karakter Juan dan Adela arc-nya terlalu minimalis disiapkan oleh film. They are still murky. Adela yang berusaha menjadi nyaman sebagai warga Amerika, Juan yang sebenarnya juga berprasangka kepada Dylan; mereka ini kurang ada penyelesaian yang jelas. Di akhir itu hanya terlihat kayak mereka lega karena ada orang-orang seperti Dylan. Bahwa ada jalan untuk membuat orang mengubah pandangan sinis mereka. Yang berarti gak banyak perkembangan karakter yang mereka berdua alami sebagai karakter utama.

 

 

 

Refleksi mengerikan dari society yang penuh prasangka dan saling benci diberikan oleh film ini. Gambaran simbolik yang mungkin benar-benar tepat. Sayangnya film lebih memilih untuk mengembangkan ke arah thriller aksi generik, ketimbang ke aspek horor kemanusiaan itu sendiri. Semua cepat aja dibikin panas. Padahal di film The First Purge (2018) sebelum ini aja, diliatin saat pertama kali ada Purge gak semua warga yang langsung resort ke bunuh-bunuhan. Ada perkembangan menuju ke sana. Cerita film ini jadi kayak filler, sebelum ke cerita pembahasan yang lebih ditunggu hadir nantinya. Tapi perlu diapresiasi juga usaha film menghadirkan pesan-pesan positif dan semangat persatuan dengan subtil di balik cerita dan akting dan laga yang sama-sama generiknya.
The Palace of Wisdom gives 4.5 out of 10 gold stars for THE FOREVER PURGE

 

 

 

That’s all we have for now

Nonton film-film Purge selalu membuatku berandai bertanya-tanya. Kali ini terbersit, kalo ada Purge beneran kira-kira siapa ya yang datang ke rumah untuk membunuhku.

Bagaimana dengan kalian, kira-kira kalo ada Purge, kalian bisa menerka tidak siapa saja yang mungkin bakal datang untuk melampiaskan emosi terpendam kepada kalian? 

Share with us in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

 

 

 

SPACE JAM: A NEW LEGACY Review

“Let others be themselves”

 

Sekuel cenderung untuk menjadi lebih besar. Karena, tahulah, saat kita membuat sesuatu yang udah ada originalnya, kita akan otomatis dipush untuk menghasilkan sesuatu yang melebihi si origin tersebut. Jadi, sutradara Malcolm D. Lee berpikir;

Apa yang lebih besar daripada outer space – semesta luar angkasa? Cyber-space – semesta siber internet!

Apa yang lebih besar daripada NBA dan kartun Looney Tunes? NBA dan seluruh IP Studio Warner Bros!!

Dan apa yang lebih besar daripada Michael “Air” Jordan?? Well, itu pertanyaan untuk diskusi basket yang lebih mendalam. Aku jelas bukan ahlinya. Tapi untuk sekarang, cukuplah kalo mengenal Lebron James sebagai atlet basket tergede di era kekinian.

Memiliki ketiga faktor di atas, Space Jam: A New Legacy jelaslah lebih besar daripada pendahulunya, Space Jam, yang hadir dua-puluh-lima tahun yang lalu. Namun seiring kita ngobrolin soal film ini nanti, Space Jam kedua ini akan membuktikan bahwa menjadi lebih besar itu tidak serta berarti lebih baik. 

space-jam-new-legacy-trailer-tgj
Kalo soal akting sih, memang Michael B Jordan lebih besar

 

Yang jelas-jelas dilakukan dengan lebih baik oleh film kedua-yang-gak-really-bersambungan-dengan-film-pertama ini adalah konflik yang lebih berbobot secara emosional. Ada cerita hangat mengenai ayah dengan putranya sebagai inti cerita. Ayah dalam film ini adalah seorang atlet basket tersohor, yang mencapai posisi nomor satu sekarang tersebut dengan bekerja keras, tekun berlatih, dan membuang Game Boy (dengan game Bugs Bunny) kesukaannya ke tempat sampah. Sedangkan anak dalam film ini adalah seorang young man yang berjuang mengutarakan kepada ayahnya tersebut bahwa dia sebenarnya lebih tertarik kepada merancang video game – particularly game basket – ketimbang ke kamp basket; ketimbang bermain basket beneran. Nah langsung kebayang dong, dinamika ayah-anak yang jadi konflik dalam cerita ini. Si ayah ingin anaknya sesukses dirinya, tetapi dia terlalu memprojeksikan dirinya kepada si anak. Tidak pernah sekalipun dia bertanya si anak sebenarnya pengen apa.

Lebron James yang memainkan versi fiksi dari dirinya sendiri diberikan ‘lapangan bermain’ yang lebih emosional  ketimbang Michael Jordan di Space Jam yang karakternya unwillingly keseret ke dalam masalah tokoh-tokoh kartun yang harus tanding basket. Dalam film kedua ini, sikap James kepada Dom, anaknya, dan to some extend kepada hal lain selain basket-lah, yang memantik konflik lain. Yang membuat cerita bergulir maju. Sikap James eventually membuat sebuah program kecerdasan-buatan tersinggung. Sehingga A.I. tersebut – bernama Al G. Rhythm (dimainkan dengan fenomenal menghibur oleh Don Cheadle) – menculik James dan Dom ke dunia siber. Memisahkan ayah-anak tersebut. Dan menghost pertandingan basket di antara keduanya, dengan stake yang gak main-main. Kalo James kalah, semua manusia yang dia jebak untuk nonton pertandingan, akan terperangkap di dunia siber yang boring tanpa-Looney Tunes.

Percaya atau tidak, pada galian ini cerita Space Jam 2 sebenarnya masih ‘masuk akal’. Meskipun dimanipulasi sehingga gak tau yang sebenarnya, tapi Dom kentara lebih merasa enjoy bersama Al G. karena di situ dia bisa menjadi dirinya sendiri. Sementara, James, yang terdampar di dunia Looney Tunes dan bersama Bugs Bunny harus mengumpulkan tim Tunes Squad untuk melawan tim penuh kreasi bentukan Dom dan Al G., actually harus bisa menjadi seperti Al G. Tema mempercayai kemampuan dan pilihan orang lain bergulir terus, bahkan ketika pertandingan basket ‘curang’ mereka dimulai. Semuanya diberikan penambat berupa tema tersebut sehingga adegan-adegan dalam film ini tidak hanya menghibur semata, melainkan juga bukan tidak mungkin menghasilkan air mata. Film membuat kekonyolan kartun ala Looney Tunes (and you know betapa konyolnya Looney Tunes) menjadi seimbang dengan konflik yang grounded seperti ini. Anak-anak dan para orangtua yang menonton bisa menangkap pesan-pesan parenting dan bersosial yang dioper oleh film. 

Kita bisa saja meminta orang untuk menjadi sesuatu yang kita mau, atau untuk melakukan sesuatu sesuai dengan cara kita. Dan mereka mungkin akan melakukannya, entah itu karena hormat, atau segan, atau ngerasa gak enak. Or worse, karena takut. Semua itu enggak akan berujung baik kepada mereka sendiri. Bila mereka adalah anak, maka perkembangan si anak ini akan terhambat. Seperti Dom, yang ‘terpaksa’ memprioritaskan his dad’s things ketimbang hobinya. Seperti tim Looney Tunes yang babak belur karena menahan diri, mengikuti basket seperti yang James tahu. Kita seharusnya membiarkan yang lain menjadi siapa, apa yang mereka mau. Lihat apa yang terjadi ketika James akhirnya membiarkan Looney Tunes melakukan apa yang Looney Tunes biasa lakukan.

 

Untuk beberapa part pun, film menerapkan tema tersebut. Mereka membiarkan Lebron James menjadi Lebron James. “Gue bukan aktor, gue pemain basket!” seru karakter James dalam salah satu humor self-aware film ini. Ada usaha untuk meminimalisir screentime James berakting, karena ya walaupun dia punya karisma di dalam lapangan, tapi akting tetap tidak semudah itu. Film menggunakan cara yakni membuat James menjadi tokoh animasi 2D saat berada di dunia Looney Tunes. Kupikir ini bisa berhasil karena memang permainan ekspresi James sebelas duabelas ama Michael Jordan. Tapi ternyata, jadi tokoh kartun bukan jawaban tepat. Karena kini James harus menajamkan voice acting, yang ternyata malah lebih parah daripada akting live-actionnya hahaha.. Deliverynya sangat kikuk, apalagi harus bersanding dengan voice-actor profesional.

Maka film pun ‘mengembalikannya’ menjadi manusia saat bertanding di dunia game bikinan Dom dan Al G. Sebagai bonus untuk kita, saat bertanding, film membuat para kartun Looney Tunes menjadi animasi 3D tanpa meninggalkan kekonyolan khas mereka nanti. Untuk aku yang waktu kecil melihat Bugs Bunny, Daffy Duck, Tweety dan teman-teman, ini jelas adalah upgrade yang menyenangkan. Senang saja melihat tokoh-tokoh kartun yang jadi teman bermain dahulu diremajakan tanpa mengurangi ruh mereka. Aksi-aksi ‘basket’ ini pun pada dasarnya lebih seru daripada film pertama. Film menggunakan lebih banyak arsenal kartun dan nostalgia kita terhadapnya. Tepuk tanganku justru paling kenceng saat adegan Porky Pig ngerap. It was stupid, but hey, ini Looney Tunes!!

Space-space-jam-a-new-legacy-clip-features-porky-pig-rapping
Nominee Best Musical Performance untuk next My Dirt Sheet Awards!

 

Jika saja film ini stick to what they are. Jika saja film ini tetap bermain-main di nostalgia Looney Tunes saja, di humor-humor self-reference Lebron James saja, di cerita grounded ayah-anak sebagai fokus. Jika saja film enggak concern ke sekuel harus bigger…

Kritikus luar menganggap film ini adalah sebuah proyek iklan raksasa dari studi raksasa. Dan ternyata itu memang tidak melebih-lebihkan. Karena persis seperti itulah film ini terasa. Yang kusebutkan di paragraf-paragraf atas itu actually adalah hasil pemilahan yang sangat alot karena sebenarnya banyak sekali referensi-referensi melebar dan irelevan dengan cerita yang dimasukkan oleh film ini hampir dalam setiap kesempatan. Aku gak ngerti kenapa film ini enggak berpuas diri dengan referensi kartun Looney Tunes dan beberapa Warner Bros lain seperti Tiny Toon, Animaniacs, Flinstones, atau Scooby Doo saja. Lebih masuk akal, apalagi kalo memang mengincar pasar anak-anak. Akan ada bagian ketika Bugs Bunny dan Lebron James berkeliling universe, untuk mengumpulkan anggota Looney Tunes yang mencar-mencar. Mereka masuk ke kartun DC, okelah masih bisa dimaklumi. At least, masih kartun.  Untuk anak-anak. Walaupun alasan mencar itu sendiri tidak kuat. Inilah yang jadi masalah. Cerita ini menangani ‘crossover’ tersebut seakan memang cuma ditujukan untuk promosi silang saja. Tidak diberikan muatan cerita atau alasan yang berintegrasi dengan tema ataupun konteks. 

Tapi tidak cukup di situ. Film ini memasukkan semua merek produk-produk Warner Bros. Dari yang di luar kartun kayak Harry Potter, Kong, hingga ke yang gak ramah anak pun nongol, kayak Rick and Morty, dan karakter di A Clockwork Orange. Untuk alasan hura-hura yang gak jelas, film ini membuat pertandingan basket James dan Dom ditonton oleh semua produk Warner Bros. Ini jadi distraksi dan annoying karena seperti film malah ngajak penonton untuk nunjuk-nunjuk “ih ada si anu, si itu” ketimbang beneran fokus kepada cerita yang mereka miliki. Ini kembali kepada fundamental kenapa dibuat seperti itu dan apakah memang harus dibuat seperti itu. Dari jawaban atas itulah, film ini runtuh. Karena mereka melakukan dan invest banyak untuk hal-hal yang sebenarnya gak relevan. Dan gak perlu. Ketika membuat film, konsern sepenuhnya ya haruslah pada film itu sendiri. Tidak kemana-mana mengiklankan semua produk selagi bisa.

 

 

 

Hiburan di sini adalah melihat karakter Looney Tunes kembali melakukan hal yang membuat mereka, mereka. Melihat Lebron James melakukan yang ia bisa – main basket – dengan karakter-karakter kartun. Dalam lingkup cerita yang bisa relate dan punya pesan yang bagus. Hiburan di sini bukan melihat seliweran film-film lain – mengatakan mereka menghibur sama dengan mengatakan nonton iklan adalah hiburan bagi kita. Film ini, meskipun punya cerita yang lebih kuat dan emosional, terhimpun dari banyak sekali komponen untuk ngiklan. Film ini jadi besar karena memasukkan banyak iklan. Jadilah dia enggak cukup bagus sebagai sebuah film.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for SPACE JAM: A NEW LEGACY

 

 

 

Th.. th… tha… that’s all, folks!

Karakter ikonik Looney Tunes Pepe le Pew (sigung yang bucin banget sama kucing bernama Penelope) dicut dari film ini karena dianggap sebagai salah satu produk rape culture, sehingga tidak baik bagi tontonan anak-anak. Bagaimana pendapat kalian tentang ini?

Share with us in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

THE CONJURING: THE DEVIL MADE ME DO IT Review

“Till death do us part”

 

Sekuel kedua dari The Conjuring (dan kedelapan dari Conjuring Universe) jelas tidak dibuat karena disuruh oleh setan. It is more like, the ‘duit’ made them do it. Begitulah adanya industri. Suka atau tidak, kita tidak bisa menutup mata bahwa membuat franchise atau movie universe segede itu jelas enggak bisa dibilang gampang. Paling enggak, ada dua cara melakukannya. Pertama, just give audiences whatever they want; kasih ‘wahana’ yang itu-itu terus dan duduk santai mengeruk cuan sambil menyaksikan kualitas kreasi yang semakin lama semakin menurun. Atau, mencoba untuk mengemulasikan sesuatu yang baru; mengambil resiko untuk dianggap sedikit berbeda, tapi sekaligus juga berjuang menjaga ‘hati’ kreasi tersebut tetap pada tempatnya.

The Conjuring Tiga (nyebutnya gini aja biar singkat) ini, berjalan di garis batas dua cara tersebut. Film memberi kita panggung baru dan cara main baru pada kisah relasi dan aksi Ed dan Lorraine yang sudah kita semua cintai sejak film pertama, tapinya juga film ini berpegang erat pada elemen-elemen ‘wahana horor’ yang sudah membuat universe ini begitu laku dan dijadikan patokan horor mainstream kekinian (alias jadi banyak yang niru). And that leaves me with a really mixed feeling about this whole movie.

Cerita film ini dibuka layaknya Conjuring ‘normal’. Ed dan Lorraine sedang membantu sebuah keluarga yang anak bungsunya kerasukan. Namun kejadian lantas ngegas menjadi bahkan lebih menakutkan lagi ketika iblis yang merasuki si anak, pindah ke abang-abang pacar kakaknya si anak. Mendadak, keadaan menjadi tenang. Aftermath dari kejadian tersebutlah yang ternyata jadi fokus konflik cerita. Ini bukan lagi cerita tentang keluarga dan rumah baru berhantu mereka seperti yang sudah-sudah. Sepulangnya dari TKP, si abang-abang yang bernama Arne Johnson itu merasakan ada yang aneh pada tubuhnya. Dia juga merasa diserang oleh setan. Padahal aslinya, dia just killed a man, put a bulle.. eh salah itu lirik lagu Queen…. Aslinya, Arne telah membunuh seseorang. Arne ditangkap polisi dan hendak dihukum mati. Sehingga Ed dan Lorraine berusaha membantunya. Cuma mereka yang percaya bahwa yang membunuh itu bukan keinginan Arne. Ed dan Lorraine harus mengungkap kasus kesurupan tersebut secepatnya. Kasus yang ternyata lebih gede daripada sekadar ‘kesurupan’. Dan semua itu dilakukan sambil berurusan dengan penyakit jantung yang diderita Ed. 

conjuringng-the-devil-made-me-do-it-100-748x499
Kali ini, pasangan demon buster kita mungkin akan terpisah selamanya…

 

Pada bagian awal itu – dan pada beberapa bagian nantinya – Michael Chaves yang menggantikan posisikan James Wan sebagai sutradara berhasil memvisualkan adegan-adegan horor yang sehati dan sejiwa dengan film-film pendahulunya. Chaves juga berhasil memenuhi ekspektasi studio dalam membuat adegan horor tersebut jadi komersil. Alias sesuai selera mainstream. Kita akan lihat adegan kesurupan yang bombastis. Kita juga nanti bakal melihat adegan-adegan yang scarenya dibuild up banget, misalnya adegan Ed dan Lorraine di kamar mayat. Adegan tersebut membuatku berhasil ketawa nervous, which is my defense mechanism kalo lagi takut banget. Building up tampaknya memang jadi kekuatan film ini. Chaves berhasil menjaga tempo, dengan presisi mengatur kamera, dan bahkan penempatan tulisan yang ngasih tahu kasus nyata Ed dan Lorraine mana yang kini dijadikan inspirasi cerita dilakukan pada momentum yang tepat. Sehingga saat nonton ini di awal itu rasanya langsung ke-hook banget. 

Aku suka gimana film ini berusaha memberikan kondisi yang berbeda kepada Ed dan Lorraine. Sedari opening tadi itu kita sudah diperlihatkan Ed sekarang punya kelemahan. Karena si iblis, Ed jadi punya kondisi yang membuat jantungnya lemah. Untuk berlari saja dia kepayahan. Salah-salah bisa masuk rumah sakit lagi. Ini menciptakan stake yang sangat berarti bagi mereka berdua. Mengganggu dinamika yang sudah terbangun sejak dua film sebelumnya. Lorraine harus beraksi sendiri. Sementara Ed, mencoba untuk sebisa mungkin berada di sana bersama Lorraine. Feeling saling terkoneksi dan harus bersama itu dijadikan kontras oleh ‘penjahat’ film ini yang melakukan koneksi tapi untuk memisahkan. Vera Farmiga dan Patrick Wilson menunjukkan chemistry yang semakin kuat, on top of permainan akting yang emosional. Mereka membuat gampang bagi kita untuk bersimpati kepada mereka.

Kisah Ed dan Lorraine ini benar-benar seperti menemukan oase di padang pasir. Di tengah-tengah cerita horor, kisah cinta mereka berdiri untuk kita jadikan panutan. Karena bahkan godaan dan tipuan iblis pun tak mampu untuk memisahkan mereka berdua.

 

Yang di ujung tanduk di sini bukan hanya soal keselamatan nyawa Ed, tapi juga keselamatan ‘relationship’ mereka. Karena film juga mengestablish cara-kerja kesurupan; kita diperlihatkan pov mereka-mereka yang kesurupan, kita melihat mereka gak tahu mana yang nyata, mana yang bukan. Yang mereka lihat adalah orang terkasih mereka diserang iblis, sedangkan pada realitanya iblis itu justru sang kekasih. Relasi Ed dan Lorraine sebagai pasangan sudah demikian kuat mengakar, kita sudah melihat mereka menempuh banyak rintangan bersama. Nah di film inilah, kebersamaan itu terasa benar-benar terancam. Sehingga jadi ketegangan sendiri bagi kita yang sudah peduli. Film juga memperlihatkan sedikit soal kejadian bagaimana kedua orang ini bertemu, dan adegan kecil nan-singkat itu menambah bobot yang lumayan untuk memperkuat simpati kita terhadap hubungan keduanya.

Pembangunan film ini bekerja dengan baik, tapi tidak untuk waktu yang lama. Belum sampai pertengahan durasi, aku merasakan ketertarikanku berkurang. Dan itu tepatnya adalah saat cerita yang sudah seperti membangun ke arah yang totally berbeda dari Conjuring terdahulu, tapi ternyata hanya menjadi ‘gak beda-beda amat’. Cerita film ini berdasarkan kasus peradilan pertama di Amerika, dalam hal ini pertama kalinya terdakwa menggunakan ‘setan yang nyuruh gue’ sebagai pembelaan resminya. Film seperti akan mengarah ke membahas hal yang menjadi judul tersebut. Hal yang jadi sensasi banget back then at 80s’s America. Ada adegan ketika Ed dan Lorraine berusaha meyakinkan pengacara untuk mau membantu Arnie mencari keringanan hukum, karena you know, the devil did tell him to do it. Ini kan sebenarnya juga bisa jadi konflik yang menarik. Bagaimana investigator alam goib seperti mereka harus ‘beradu’ dengan polisi dan pengadilan. Bagaimana fakta-fakta kasus bertemu dengan spiritual. Aku pikir, wow film berani banget banting stir kalo bahas ke arah ini. Tapi ternyata memang tidak berani. Build up untuk meyakinkan pengacara tadi ternyata penyelesaiannya sangat gampang – dan malah dibuat komedi sepintas oleh film ini. Mainlah ke rumah, nanti kami kenalin kamu sama Annabelle.

Setelahnya, Ed dan Lorraine tidak pernah dapat kesulitan lagi perihal meyakinkan polisi kalo yang mereka omongkan soal kasus itu adalah kebenaran. Orang-orang hukum itu percaya aja. Bahkan ada adegan ketika polisi beneran minta kerja sama menyelidiki TKP. Film ini tidak berniat mengeksplorasi ‘kejadian nyata’, melainkan tetap berada di penggalian investigasi fantasi yang bahkan gak benar-benar ngasih hal baru. Atau malah ngasih hal yang mengerikan. Ed dan Lorraine jadi semacam detektif menyelidiki kasus, hanya saja penyelidikan mereka gak actually meneliti petunjuk. Melainkan memegang benda dan melihat vision tentang kebenaran. Come on! Vision si Lorraine ini basically cuma ekposisi yang dilakukan dengan cara yang paling gampang. Ini gak ada bedanya ama flashback berisi eksposisi kejadian sebenarnya yang dilakukan oleh Perempuan Tanah Jahanam (2020). Malah di Conjuring ini lebih parah, karena bukan cuma dilakukan satu kali.

conjuring_210423112659-962
Polisi dan pengacaranya jadi percaya seperti kita yang kadang-kadang percaya banget ama ramalan zodiak

 

Enggan menjadi pembahasan kasus dan psikologis pria yang membunuh karena mengaku kesurupan, karena bakal menyimpang jauh dari franchisenya, film ini toh memang berubah juga. Dari horor rumah hantu ke penyelidikan whodunit dengan unsur cult atau ilmu sihir.  Musuh utama mereka kali ini mungkin saja adalah manusia. Untuk stay true dengan jati diri franchise/universenya, film ini mempertahankan apalagi kalo bukan jumpscarenya. Masalahnya adalah keabsenan James Wan memang tak bisa untuk tidak ternotice. Untuk beberapa kali memang Chaves berjuang keras untuk katakanlah meniru gaya Wan, membuat ‘good’ jumpscare dari build up tensi. Tapi tidak jarang juga dia seperti kembali ke jumpscare-jumpscare basic. Chaves akan sering mematikan lampu. Membuat apa yang ada di layar itu jadi susah untuk dilihat. Ini gak sama dengan bermain lewat bayangan. Karena yang dilakukan Chaves di sini adalah betul-betul menutupi pandangan kita, membuat kita susah untuk melihat apa yang sedang terjadi. Kalo kita sedang sial, kita akan menyipitkan mata berusaha mempertajam penglihatan. Dan datanglah jumpscare itu!

Film ini enggak seram. Dan pilihan film untuk membumbui beberapa adegan dengan komedi certainly enggak membantu film dalam kasus ini. Malah membuat kita jadi tertawa juga di adegan-adegan yang mestinya memang didesain untuk seram. Ada waktu saat nonton film ini ketika aku tidak lagi tertawa nervous, melainkan tertawa ya karena yang kulihat itu menurutku lucu. Dan aku gak yakin film ini sengaja melucu atau tidak. Misalnya seperti ketika botol sekecil itu tapi air di dalamnya ternyata bisa dipakai untuk menggambar lingkaran yang cukup besar untuk orang dewasa duduk bersila di dalamnya. Atau ketika melihat tampang smug si pastor penjara begitu kesurupan bombastis itu berhenti. Maan, si pastor pasti ngira dialah yang berhasil menghentikan itu padahal semuanya karena musuh mereka telah berhasil dikalahkan nun jauh di tempat lain. Dan ngomong-ngomong soal musuh, film benar-benar menuliskan karakter ini dengan sangat awkward. Motivasinya gak jelas. Kenapa orang-orang itu yang ia target juga gak jelas, dan kenapa ngalahin dia gampang banget. Kenapa dia begitu ‘kebetulannya’ gak ada di altar padahal bukankah dia sedang melakukan ritual untuk bikin Arne kesurupan?

Mari kembali lagi ke awal ulasan karena aku jadi gak yakin sekarang. Who made you wrote — WHO MADE THIS?!!

 

 

 

Clearly, terburuk di antara tiga film The Conjuring. Film Conjuring yang kedua berhasil mencapai nilai 8 bintang emas, sementara Conjuring yang pertama sukses nangkring di posisi ke-8 di Top Movies of 2013ku. Sedangkan film ketiga ini kayaknya bakal masuk daftar Kekecewaan Bioskopku di akhir tahun nanti. Aku sudah seneng dengan kasusnya. Aku juga suka banget sama Ed dan Lorraine, serta situasi yang harus mereka hadapi dalam cerita kali ini. Hanya saja, film ini mengambil perubahan, tapi tidak benar-benar berani. Sehingga bahasannya jadi dangkal. Dan gak klop. Film berusaha membuat whodunit jadi seram, tapi gagal. Film-film santet Indonesia bisa lebih seram daripada ini.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for THE CONJURING: THE DEVIL MADE ME DO IT.

 

 

That’s all we have for now.

Setelah menyaksikan film ini, apa yang bisa kalian simpulkan dari perbedaan witchraft di Amerika dengan santet atau perdukunan di Indonesia? Apakah di Indonesia pernah ada kasus santet yang dibawa ke peradilan? Bagaimana hukum santet di mata hukum di Indonesia?

Share with us in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

A QUIET PLACE PART II Review

“A person’s most useful assets are a heart full of love, an ear ready to listen, and a hand willing to help others. “

 

Monster yang memburu manusia lewat sekecil apapun suara yang mereka dengar, sehingga untuk bisa survive, manusia haruslah bergerak dalam diam. Konsep yang jenius sekali untuk sebuah cerita horor. Perjuangan untuk tidak bersuara sama sekali itu mampu menciptakan ketegangan yang genuine, yang easily menular kepada kita para penontonnya. Membuka banyak sekali ruang untuk pembangunan thriller yang seru. Bagi para aktor, konsep ini juga jadi tantangan yang menarik; karena mereka dituntut untuk berakting dengan hening, untuk berdialog lewat ekspresi dan bahasa tubuh atau malah bahasa isyarat sekalian. Visual storytelling haruslah sangat kuat di sini. Dan sutradara John Krasinski sukses berat mengeksekusi semua itu dengan baik. Semua pencapaian itu sudah diraih oleh Krasinski sejak film A Quiet Place pertama tahun 2018. Di film kedua ini, Krasinski memang berhasil mempertahankan prestasinya tersebut dengan gemilang. For once again, kita dibawanya pacu jantung di dunia senyap yang penuh monster.

Namun, supaya review ini juga gak berulang – biar gak sama dengan film pertamanya itu – pertanyaannya adalah, apa dong hal berbeda yang ditawarkan oleh Krasinski dalam film kedua kali ini?

quiteA-QUIET-PLACE-2-Trailer-2020-2-17-screenshot-1024x576
Kalo produsernya alay, film ini akan berjudul ‘2 Quiet Place’

 

Krasinski membuat film kedua ini lebih besar, lebih cepat, lebih chaos, dan tentu saja lebih keras!

Beberapa yang sudah baca mungkin masih ingat di review film A Quiet Place pertama aku menulis soal alasan film tersebut tidak dimulai dari saat musibah monster pertama kali muncul, melainkan dari hari ke-89, saat keluarga Abbott sudah mulai menerapkan sistem bertahan sendiri. Karena film pertama tersebut fokusnya pada karakter, pada keluarga yang harus menyelesaikan masalah mereka bersama-sama. Tidak perlu untuk memperlihatkan hiruk pikuk massa, karena film membatasi diri pada satu keluarga itu saja. Nah, di film kedua ini barulah Krasinski menggunakan opening kejadian Day 1 musibah monster bisa terjadi. Kita melihat adegan Keluarga Abbott bersama seisi penghuni kota yang tadinya aman-aman saja berubah seketika panik ketika ada sesuatu yang seperti meteor jatuh melintasi langit mereka. Adegan opening yang dieksekusi dengan menakjubkan tersebut, ternyata juga efektif sekali. Karena sesungguhnya punya beberapa fungsi. Salah satunya ya sebagai penanda bahwa cerita kali ini adalah kelanjutan dari Keluarga Abbott, tapi dengan skala yang lebih besar.

Bahwa kali ini juga adalah tentang dunia yang mereka tempati. Tentang kemanusiaan yang keluarga tersebut merupakan bagian darinya. Film kedua ini langsung melanjutkan cerita pada film pertama. Emily Blunt beserta anak-anaknya; Millicent Simmonds, Noah Jupe, dan seorang bayi, pergi dari rumah mereka yang sudah tak lagi aman. Mereka menyusur hutan dalam usaha mencari orang atau pertolongan, karena mereka telah melihat api unggun dari kejauhan. Berbekal alat survival dan senjata pamungkas untuk mengeksploitasi kelemahan monster yang mereka ‘temukan’ di film pertama, Keluarga Abbott ini akan segera mengetahui keadaan dunia mereka sesungguhnya. Bahwa mungkin masih ada kelompok-kelompok manusia yang bertahan. Dan ngerinya, beberapa dari kelompok itu bisa saja lebih berbahaya daripada monster-monster itu.

Jadi fokus cerita kali ini bukan semata pada keluarga Abbott, melainkan juga pada manusia secara keseluruhan. Ada perbincangan soal manusia yang tersisa di dunia mereka, sudah tidak tertolong. Atau lebih tepatnya, sudah tidak pantas lagi untuk ditolong. The audience will soon to see why, tapi film kemudian mengangkat pertanyaan yang menarik dari pilihan yang diambil oleh karakternya. Anak sulung keluarga Abbott yang diperankan dengan – I mean, like a pro! – oleh Millicent Simmonds telah memutuskan untuk mengambil resiko pergi ke pulau. Bukan hanya untuk mencari keselamatan, melainkan karena terutama dia yakin akan bisa mengalahkan monster-monster dan menyelamatkan semua orang. Walaupun itu berarti dia harus mengambil resiko mengorbankan alat bantu pendengarannya. Film ini secara keseluruhan memang terasa tampil lebih ringan (lebih mirip blockbuster biasa daripada film pertamanya) tapi elemen cerita yang diangkatnya tersebut membuatku cukup terharu. Aku tahu film ini sebenarnya direncanakan untuk tayang tahun lalu, sebelum pandemi. Tapi menontonnya sekarang, apa yang terjadi di cerita itu ternyata mirip dengan situasi yang kita hadapi.

Situasi covid yang terus bertahan hingga saat ini. Seperti monster-monster di film ini yang menuntut semua orang harus diam tak-bersuara supaya mau selamat, pandemi coronavirus juga merupakan situasi yang membuat kita harus tergantung sama orang untuk ikut patuh menjaga protokol kesehatan. Tapi kan semakin hari, orang-orang semakin acuh. Semakin banyak yang malas pakai masker. Semakin banyak yang gak-percaya. Ini menciptakan gap pada masyarakat. Yang satu mencela pihak lainnya. Film ini bisa berfungsi sebagai pengingat bahwa semua orang pantas untuk diselamatkan, bahkan orang yang paling covidiot sekalipun. Bahwa kita tidak akan bisa selamat dari wabah ini, jika kita tidak saling menyelamatkan. 

Diam itu emas. Tapi benar juga kata tagline poster film ini. Diam itu enggak cukup. Kita tidak bisa menyelamatkan siapapun hanya dengan berdiam. . Jika film pertamanya dulu membahas tentang pengorbanan demi menyelamatkan keluarga, maka film kedua ini adalah tentang menyelamatkan atau membantu orang lain, walau sekilas mereka seperti tak pantas untuk diselamatkan. Padahal bagaimanapun juga kemanusiaan itu masih perlu untuk diselamatkan. Dan itu ditunjukkannya dari karakter yang rela mengorbankan miliknya demi keselamatan orang lain.

 

Adegan opening film ini juga difungsikan untuk memperkenalkan karakter baru yang diperankan oleh Cillian Murphy. Karakternya sebagai teman dari keluarga Abbott saat dunia masih damai itu punya peran yang besar. Dialog dan relasinya dengan putri sulung Abbott jadi kunci dan actually adalah yang membawa narasi soal ‘manusia perlu/tidak perlu diselamatkan’ tadi. Karakter ini juga sepertinya dibangun sebagai pengganti sosok ayah bagi keluarga Abbott nantinya. Ada beberapa adegan yang mengarah ke sini, seperti saat karakter Emily Blunt meninggalkan cincinnya di kuburan suami, yang bisa ditafsirkan sebagai pertanda move-on. Ataupun ketika pertengahan film hingga akhir, karakter sentral film ini terpisah menjadi dua kelompok. Noah Jupe dan bayi dengan Emily, Simmonds dengan Murphy. Ini seperti mirroring adegan pembuka ketika keluarga tersebut sempat terpencar jadi dua kelompok yang sama, only, of course, Simmonds bersama ayahnya instead of Murphy.

quietmaxresdefault
Sayang, musuh bebuyutan keluarga ini, si paku biadab, enggak tampil lagi

 

‘Pemisahan kelompok’ tersebut bukan saja memastikan semua karakter mendapat porsi horor masing-masing (termasuk sang bayi!), tapi juga memang pada akhirnya membawa efek yang sangat amat positif bagi keseruan aksi kejar-kejaran melawan monster – seperti yang juga sudah ‘terinfokan’ oleh adegan pembuka. Film akan sering memparalelkan, ngematch cut kan, aksi dari kedua grup yang terpisah. Misalnya seperti ketika satu grup dikejar-kejar monster di stasiun radio, sementara grup satunya sedang terjebak di dalam brankas keselamatan, dengan monster menunggu sambil mencakar-cakar di pintu. Aksi-aksi terpisah ini didesain dengan kesamaan-kesamaan khusus, sehingga saat berpindah dari satu kelompok ke kelompok lain, terasa semakin seru dan tidak ada beat aksi yang terlepas dari kita. Suspens dan ketegangan itu jadi bisa tetap terjaga. Sehingga tak heran jika nanti ada karakter yang menjerit, kita akan ikutan menjerit padahal di bioskop sama-sama gak boleh berisik hihihi

Jika ada satu lagi fungsi adegan opening film ini, maka mungkin itu adalah sebagai bridge yang menyamarkan pertumbuhan aktor. Film ini kan alurnya langsung menyambung film pertama, sedangkan jarak kedua film ini cukup jauh untuk membuat aktor-aktor cilik bertambah gede dengan cukup signifikan. Menampilkan adegan opening yang dishot dalam keadaan sekarang, membuat kita tidak membandingkan dua aktor cilik pada kedua film. Sehingga lebih mudah mempertahankan ‘ilusi’ bahwa film ini langsung dimulai beberapa waktu setelah film pertama berakhir.

Ngomong-ngomong soal berakhir, kayaknya memang hanya di adegan akhir alias ending saja aku merasa gak sreg sama film A Quiet Place Part II. Treatment akhirannya sebenarnya mirip juga ama film pertama; didesain kinda abrupt sehingga lowkey jadi cliffhanger untuk (siapa tau) sekuel. Tapi film pertama terasa lebih emosional, lebih terasa seperti penyelesaian. Mereka sudah menyelesaikan masalah di rumah, dengan kehilangan ayah, dan sekarang sudah saatnya babak baru. Film kedua ini, endingnya kurang mewakili perasaan seperti begitu. Hanya terasa seperti mereka kini sudah tahu pasti cara mengalahkan monster, sudah tahu ‘posisi’ mereka dalam perang melawan monster ini, dan dua pejuang sudah ter-establish. Journey mereka kurang terasa emosional. Malahan yang benar-benar punya inner journey di sini adalah karakter Cillian Murphy, yang mengubah cara pandangnya.

Sebagian besar keluarga Abbott di sini justru malah lebih dangkal. Mereka di sini ‘hanya’ dikejar, kaget, terluka, atau melakukan beberapa hal bego (yang untungnya tidak pernah bener-bener dieksploitasi melainkan sebatas kegugupan karakter). Tidak benar-benar ada eksplorasi, terutama pada karakter Emily Blunt dan Noah Jupe. The latter malah nyerempet annoying karena banyak ngelakuin wrong things. Kita juga tidak melihat hal baru dari para monster. Hanya ada sekilas perihal origin mereka. Tapi monster yang kita lihat di sini tidak banyak perbedaan penggalian dengan yang di film pertama. Film masih bermain aman dengan menempatkan mereka di tengah-tengah. Tidak sebagai karakter, dan tidak pula hanya sebagai sebuah spectacle. Mungkin karena mengincar sekuel lagilah maka film kali ini memutuskan untuk bungkam mengenai monster-monster tersebut.

 

 

 

Memang, bintang sebenarnya film ini adalah sutradaranya. John Krasinski berhasil menceritakan soal manusia yang harus tak-bersuara dikejar monster ini sebagai cerita yang simpel dan stay true sebagai dirinya sendiri, namun berskala luas. Konsep unik tersebut sekali lagi berhasil dia eksekusi menjadi horor yang efektif, yang terus-terusan membuat kita takut menarik napas. Adegan openingnya menjadi adegan paling penting, dan tak pelak merupakan salah satu opening horor terbaik sepanjang tahun ini. Film ini keren, tapi jika dibandingkan dengan film pertama, aku tidak berpikir ini jatohnya lebih baik. Buatku, lebih seperti, film pertama itu Krasinski bermain di horor yang lebih senyap dan lebih emosional, dan dia sukses. Dan kini, dia mencoba bermain di volume yang lebih keras dan lebih ke seru-seruan. Dan dia sama suksesnya.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for A QUIET PLACE PART II

 

 

That’s all we have for now.

Apakah bagi kalian ada orang-orang tertentu di dunia ini yang tak pantas diselamatkan, atau mendapat pertolongan? Orang-orang seperti apa itu kira-kira?

Share with us in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

STAND BY ME DORAEMON 2 Review

“You need to be happy with yourself or you’ll never be able to be happy in a relationship”
 

 
 
Tentu saja Doraemon punya tempat spesial di dalam diriku. Aku tumbuh besar dengan mengkhayal punya alat-alat ajaib seperti yang ada di kartun Doraemon yang tak pernah ketinggalan ditonton. Aku beberapa kali nekat bolos ngaji supaya bisa nonton Doraemon. Aku – yang waktu itu masih berumur empat tahun – bahkan bersikeras memberi adikku nama Nobita, meskipun ternyata adikku itu adalah perempuan. Orangtuaku ngalah, tapi toh mereka berhasil membujukku mengganti huruf ‘b’ di Nobita menjadi huruf ‘v’. Alhasil kasian adikku, sampai sekarang dia selalu dituduh lahir di bulan November padahal lahirnya itu di bulan September.
Mengenai Nobita, memang, orangtuaku dulu selalu mewanti-wanti untuk tidak menjadi seperti Nobita. Jangan jadi anak cengeng kayak Nobita. Gak boleh niru Nobita yang penakut. Jangan kerjanya malas-malasan nanti jadi kayak Nobita. Rajin belajar, jangan sampai nilainya nol kayak Nobita. Ah, Nobita, Nobita… Kalo dipikir-pikir sekarang, Nobita boleh saja selalu dapat nilai merah dalam pelajaran sekolah. Tapi untuk pelajaran kehidupan, Nobita tak pelak adalah juara kelasnya. Dalam film Stand by Me 2 ini saja, petualangan Nobita menembus waktu akan banyak memberikan dirinya – dan kita semua – pelajaran berharga tentang menemukan rasa bahagia atas diri sendiri demi membahagiakan semua orang di sekitar kita.

Akhirnya menikah, tapi kok malah sedih?

 
 
Hari itu berawal cukup normal di rumah Nobita. Doraemon sedang maintenance alat-alat di kantongnya. Dan Nobita… well, dia barusan kena omel sama Ibu karena ketahuan menyimpan nilai nol. Nobita jadi kangen sama neneknya yang udah meninggal. Kata Nobita nenek adalah satu-satunya yang sayang sama dia. Lantas pergilah Nobita dan Doraemon ke jaman dirinya masih kecil naik mesin waktu. Untuk bertemu Nenek. Cerita keseharian seperti inilah yang bikin Doraemon itu gampang melekat untuk anak kecil. Kita melihat kehidupan Nobita itu ya gak jauh dari kehidupan kita. Tentunya waktu kecil kita pernah sekali dua kali ngayal kita adalah anak pungut saat dimarahi ayah-ibu. Ngayal kalo ada orang dewasa lain di luar sana, yang lebih baik dan rajin beliin mainan, yang bakal datang menjemput kita karena mereka adalah orangtua kita yang sebenarnya. Kita lebih senang sama nenek kakek karena mereka gak pernah marahin dan selalu manjain kita. Menonton cerita seperti ini sekarang, berhasil melempar aku ke nostalgia. Bukan hanya nostalgia kepada dunia Doraemon yang ajaib dan penuh oleh karakter-karakter yang terasa akrab, tapi sekaligus juga nostalgia kepada masa kecil diriku sendiri.
Film ini tahu persis siapa penonton mereka. Aku benar-benar merasa film ini dibuat untuk diriku. Setelah menyambut kita dengan manisnya nostalgia, sutradara Ryuichi Yagi yang kali ini team up sama Takashi Yamazaki, mulai menghidangkan daging sesungguhnya dalam cerita. Sekuel Stand by Me ini dihadirkan sama seperti film pertama yang keluar enam tahun yang lalu; permasalahan Nobita dan Doraemon di sini bukanlah perihal petualangan besar ke dunia luar seperti pada film panjang kartunnya. Melainkan permasalahan yang lebih dekat ke ‘rumah’. Yagi dan Yamazaki mengajak penonton Nobita dan Doraemon yang kini telah dewasa untuk mengarungi permasalahan yang juga sama dewasanya. Nenek Nobita ingin melihat pasangan cucu kesayangannya tersebut saat menikah. Permintaan yang gampang bagi Nobita, karena dia sudah tahu di masa depan bakal menikah dengan Shizuka, dan dia tinggal mempertontonkan pesta mereka kepada Nenek lewat Televisi Waktu. Namun ada sesuatu yang salah. Pesta itu gak mulai-mulai, karena Nobita di masa depan, Nobita Dewasa yang akan menikah itu, tidak kelihatan ada di mana-mana. Maka bergegaslah Nobita dan Doraemon ke masa depan, mencari Nobita Dewasa dan membetulkan banyak hal sebelum semuanya terlambat. Sebelum masa depan Nobita berubah menjadi tanpa Shizuka.
Tidak seperti film pertamanya yang tersusun dari beragam cerita dan episode dari komik/kartun, film animasi 3D kedua ini lebih fokus pada satu permasalahan. Walau memang banyak yang actually akan dikejar dan dikerjakan Nobita, tapi semuanya mengerucut ke satu permasalahan yang sama. Yakni kenapa Nobita di masa depan menghilang dan seperti jadi bimbang (got cold feet) beberapa jam sebelum menikah. Film kali ini actually membahas sangat personal seputar karakter Nobita itu sendiri. Narasinya disusun sedemikian rupa dalam membangun rasa insecure dan ketidakpuasan Nobita terhadap dirinya sendiri. Mulai dari bagaimana Nobita penasaran dirinya anak pungut atau enggak, hingga ke bagaimana Nobita enggak suka sama namanya, dan tentu saja ke bagaimana Nobita Dewasa merasa kasihan sama Shizuka yang mau menikah karena ingin melindungi dirinya. Semua eksplorasi soal itu diceritakan dengan cukup subtil sehingga terlihat di permukaan sebagai celotehan anak bandel yang konyol. Ini tentu saja karena film ini tidak melupakan para penonton cilik. Kelucuan tingkah serta keajaiban dunia dan karakter-karakternya tetap dijadikan pesona utama untuk dinikmati oleh anak kecil. Sementara di balik itu semua, para penonton dewasa (yang sudah setia bersama Nobita dan Doraemon sejak kecil) bisa merasakan sesuatu yang relate alias mewakili perjalanan hidup mereka. Di balik Nobita mencela dan mendebat pilihan Nobita Dewasa lewat percakapan yang sangat amusing, kita tahu bahwa itu adalah cara film menggambarkan kontemplasi karakter lewat kekhususan dan identitas Doraemon itu sendiri.

Di dalam diri kita akan selalu ada sosok anak kecil yang rapuh dan selalu ‘ingin dimanja’. Di dalam diri kita semua, akan selalu ada si Nobita. Itulah yang diajarkan oleh film ini lewat kisah Nobita yang kabur dari pernikahannya sendiri. Bukan karena dia tidak cinta lagi, tetapi justru karena dia cinta makanya dia kasihan kepada Shizuka yang mau padanya. Kini hanya dirinya sendiri yang bisa menyelamatkan dirinya. Masalahnya dia justru menganggap dirinya sendiri sebagai masalah. Padahal Nobita – dan Nobita dalam diri kita yang vulnerable – bukanlah sesuatu yang perlu dibenci atau dienyahkan. 

 
Setting Nobita menikah bukan hanya kuat di nostalgia, tapi juga membentuk panggung yang menarik, yang mampu memikul banyak bobot emosional untuk disampaikan kepada kita. Karena perihal Nobita menikah dengan Shizuka itu sudah sejak dari zaman kartun televisi, bahkan zaman komiknya, selalu jadi goal dramatis dari karakter Nobita ‘si anak lemah’ itu sendiri.

Rasanya pengen menyelimuti diri sendiri dengan Selimut Waktu

 
 
Semua itu dilakukan dalam balutan petualangan menembus waktu. Elemen time-travel ini memang selalu jadi bagian penting dalam semesta Doraemon. Dan dalam film ini pun, sebagaimana film-film kartunnya, elemen time-travel ini dilakukan dengan detil tanpa menjadi memberatkan. Cerita didesain betul supaya elemen time-travelnya benar-benar terikat dan tidak menimbulkan loop yang mengganggu. Sehingga meskipun film ini periodenya luas – menyangkut masa lalu, masa kini, dan masa depan Nobita – tapi tetap terasa contained. Ceritanya tertutup dan gak meluas menjadi teori-teori yang gak perlu.
Akan tetapi, tentu saja elemen time travel yang bertemu dengan konsep alat-alat ajaib, akan beberapa kali membawa cerita sampai pada titik eksposisi. Akan ada beberapa adegan yang terdengar terlalu ‘telling’ dan membuat emosi film harus tertunda. Untuk sebuah cerita yang memfokuskan pada sisi emosional karakter, dan petualangan time travel, film ini memang at times sedikit terlalu mendikte. Ada beberapa dialog yang sepertinya bisa lebih manis dan berasa jika diperlihatkan lewat emosi atau ekspresi visual. Emosinya lebih banyak dituturkan. Mungkin ini ada kaitannya dengan budgetnya. Film ini walaupun terlihat sangat kawaii dan lembut, memainkan lingkungan tiga periode berbeda dengan detil dan distinctive, tapi dari segi karakter-karakter, mereka seperti terbatas.
 
 
Dengan lebih memfokuskan kepada karakter Nobita dibandingkan petualangan Doraemon dan kawan-kawan, film ini berhasil memberikan bobot kepada nostalgia dan haru-haruan yang mereka incar. Hubungan antara Nobita dengan karakter lain seperti Doraemon, Shizuka, Neneknya, Ayah-Ibunya, dan bahkan Giant dan Suneo berhasil dikembangkan dengan dewasa. Film ini menggunakan time-travel dengan ringkas sebagai elemen utama sehingga tidak memberatkan cerita. Malah film ini sebenarnya berhasil menjadi cukup simpel tapi sangat mengena bagi kita semua. Bahkan bagi penonton lepas yang somehow belum pernah nonton Doremon sebelumnya (jika ada)
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for STAND BY ME DORAEMON 2
 
 
 
 

 

That’s all we have for now.
Saat masih kecil, alat doraemon apa yang kalian paling ingin punya?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA
 

ASIH 2 Review

“A real parent is someone who puts their kids above their own selfish wants and needs.”
 

 
 
Cerita Asih 2 menyorot keluarga pasangan dokter Sylvia dan suaminya yang pembuat komik/cerita bergambar. Sylvia yang kehilangan putri cilik mereka yang meninggal dunia empat tahun yang lalu, merasakan emotional attachment kepada seorang gadis kecil misterius yang jadi pasiennya di rumah sakit. Anak itu tertabrak mobil di tengah hutan. Tak ada keluarga yang menjemput. Tak ada siapapun yang tahu siapa orangtua ataupun dari mana asal si anak ini. Maka Sylvia pun membawanya pulang, mengadopsi anak itu. Memberinya nama Ana. Such a close call, sebab Ana ternyata adalah anak pasangan pada film Asih pertama (2018). Tujuh tahun ini, Ana hidup dibesarkan oleh hantu mirip kuntil-ana-k bernama Asih. Tindakan Sylvia mengambil Ana dari dekapan Asih, jelas tindakan yang mengundang malapetaka bagi dirinya dan keluarga.
Jadi, ini adalah konflik antara dua orang perempuan, dua orang ibu yang ingin melindungi anaknya. Sylvia yang bertanggungjawab menyembuhkan Ana, dan Asih yang actually benar-benar merawat Ana sedari bayi. Menariknya adalah bahwa tidak satupun dari mereka berdua yang ibu kandung dari Ana. Bahwa mereka berdua justru adalah ibu yang melihat Ana sebagai kesempatan kedua; kesempatan untuk menebus kesalahannya pada anak kandungnya. Bedanya cuma Sylvia manusia, dan Asih hantu. Tindakan Asih akan naturally lebih mengerikan daripada perbuatan Sylvia. Padahal inilah sebenarnya kontras yang menarik yang ada pada film. Seperti ada komentar mengenai makna sebenarnya dari menjadi orangtua bagi seseorang. Apa yang membuat kita pantas dipanggil ‘ibu’. Penggalian gagasan tersebut bisa membawa film ke level dramatis, ke cerita yang manusiawi sekaligus menginspirasi dan empowering – khususnya karena film ini tayang berdekatan dengan Hari Ibu.

Seorang Ibu tak pelak memang adalah orang yang telah melahirkan anak. Namun melahirkan, atau simply mengadopsi anak tidak serta merta membuat kita pantas disebut sebagai orangtua yang baik. Karena orangtua berarti adalah harus mampu mementingkan anak di atas kepentingan sendiri. Bukan saja harus mampu mengasuh dengan penuh kasih, tapi juga mampu bertindak yang terbaik bagi anak, walaupun itu berarti harus mengikhlaskan mereka.

 
Namun, sutradara Rizal Mantovani tidak melihat ceritanya seperti itu. Film tidak difokuskannya ke sana. Atau tepatnya, film diarahkannya berjalan lewat aspek yang paling konyol dan paling dangkal, untuk kemudian menjadikan bahasan soal ibu tadi hanya sebagai konklusi yang ditampilkan ujug-ujug di akhir.

Siapa sih yang gak mau jadi anak dokter?

 
Jika Christopher Landon punya konsep membangun narasi horor dari komedi jadul, maka para filmmaker horor di Indonesia gak mau kalah. Mereka bikin horor dari lagu anak-anak jaman dulu! Mulai dari lagu Boneka Abdi, hingga lagu sepolos ngajak orang naik Kereta Api pun sudah ada film horornya. Tren yang menarik, tapi kasihan juga sih anak-anak Indonesia. Lagu untuk mereka udah punah, udah gak ada yang bikin lagi, eh lagu jadulnya pun diubah jadi materi horor kacangan. Tapinya lagi, memang beberapa lagu anak itu serem kok. Contohnya ya Indung-Indung yang jadi (un)official soundtrack sekaligus plot device dalam Asih 2 ini.
Well, at least, seram buatku waktu kecil.
Waktu kecil, sekitaran umur 6-7 tahun, aku takut banget sama lagu ini. Kalian pasti tau dong lirik lagu Indung-Indung itu ada kelanjutannya (gak kayak karakter-karakter dalam film ini yang nyanyiinnya muter-muter di situ melulu). Soal perempuan bernama Siti Aisyah yang mandi di kali rambutnya basah. Nah, dulu waktu kecil kalo di rumah nenek, aku selalu ditidursiangkan ortu di kamar Om. Seluruh tembok kamar itu dicat oleh beliau sendiri, digambarin aneka rupa. Mulai dari tokoh kartun Donal Bebek hingga tokoh zodiak. Salah satu gambarnya itu berupa perempuan yang mengenakan handuk merah, dengan rambut yang seperti…basah!! Satu kali, pas lagi dininaboboin pake lagu Indung-Indung, mataku natap si gambar cewek itu. Dan aku mimpi buruk si cewek itu hidup, dia lah Siti Aisyah dalam lagu, dan rambutnya basah ternyata oleh darah sampe ke anduk!!! Sejak saat itu aku trauma sama lagu Indung-Indung.
Sehingga nonton Asih 2 di kala bioskop sepi masih pandemi benar-benar pengalaman menantang buatku. Aku bisa ngerasain keseraman masa kecil itu menguar setiap kali lagu tersebut muncul di film. Dan buatku yang punya kisah personal, hanya lagu itu sajalah yang jadi titik kedekatan dalam film ini. Selebihnya film ini sama sekali enggak menakutkan. Tokoh hantunya, si Asih; aku malah berempati dan kasihan padanya. Aku justru rooting for her. Itu karena memang Cerita Asih 2 punya potensi drama horor untuk digali. Film ini bisa jauh lebih bagus daripada sodara-sodaranya di Danur Universe JIKASAJA pembuatnya enggak obses ke lagu yang cuma serem untuk dipake nakutin anak kecil.
Alih-alih fokus kepada penggalian drama dan trauma orangtua yang bergulat dengan kematian anak mereka – lewat sudut pandang perempuan yang mengadopsi, film malah menitikberatkan kepada misteri asal muasal dan lirik lagu. Adegan seram di Asih 2 sebagian besar berupa seseorang mendengar lantunan lirih “Indung indung kepala lindung” dan kemudian mereka melihat sosok mengerikan somewhere di latar belakang. Pernah gak ngalamin kejadian mendengar satu lagu, lalu kemudian lagu tersebut mendadak muncul di mana-mana; ke mana pergi, ada lagunya. Kurang lebih kayak gitulah film ini; mendadak semua tokoh dalam cerita nyanyiin dan ketemu sama lagu ini. Film kemudian lanjut mempersoalkan itu lagu apa. Ada misteri yang kuncinya ada pada lagu tersebut. Film mengerahkan semua kepada lagu ini. Bahkan bonding ibu dan anak dilakukan dengan memperlihatkan Sylvia belajar nyanyiin lagu tersebut karena lagu itu merupakan lagu favorit Ana. Yang paling konyol adalah adegan ‘fight’ Sylvia dengan Asih. Mereka rebutan Ana “Ini anakku!” pake tarik-tarikan, daaann mereka lantas ‘lomba nyanyi’. Gantian nyanyiin Indung Indung demi menarik perhatian dan kasih sayang Ana.
Kasihan sekali melihat Marsha Timothy dan Ario Bayu yang jadi pasangan suami istri di film ini. Mereka adalah aktor yang pernah mengantongi piala penghargaan. Aktor yang mumpuni, dengan range drama yang luas. Dan cerita film ini actually terbuka untuk ruang drama tersebut. Sebagai suami istri yang pengen punya anak lagi, move on dari trauma-lah yang harusnya digali dalam film ini. Bikin mereka benar-benar butuh Ana. Buat kita yakin mereka beneran peduli sama anak sebagai person, bukan sebagai penebus dosa. Hanya ada satu adegan yang mengarah ke pembahasan ini, padahal narasi harusnya dibangun di sekitar persoalan ini. Bukannya malah memfokuskan kepada ‘lagu seram’. Akibatnya drama dan karakter itu gak kena. Kita gak ngerasa apa-apa, kita gak ngerasain urgensi Sylvia harus dapatin Ana. Atau bahkan kita gak sedih ketika Ana hilang dari Sylvia. Karena film gagal melandaskan kepentingan Ana secara nyata dan emosional buat Sylvia dan suaminya. Kita gak melihat mereka ‘rugi’ apapun jika Asih mengambil Ana. Karena memang si Asih toh did a pretty great job gedein Ana. Anak itu sehat, dia celaka karena ditabrak mobil di hutan. Mobil. Di hutan. Come on! itu odd-nya kecil banget hahaha… Dan di luar kebiasannya saat makan yang aneh, anak itu toh gak tumbuh jadi psikopat. Dalam pandangan kita, film malah seperti memperlihatkan Sylvia-lah yang menculik Ana dari Asih.
“Lu ambil anak gue! Lu ambil lagu gue!!”

 
Shareefa Daanish sekali lagi hanya dipakai untuk jadi hantu yang teriak-teriak ngejumpscare orang. Padahal potensi drama dan permainan karakter bisa ia lakukan di sini. Too bad pembuat film cuek dengan ini. Justru Asih-lah di sini yang cocok sebagai protagonis. Dialah yang kehilangan sesuatu – meskipun awalnya juga curian. Dialah yang pada akhirnya berbesar hati. Yang menunjukkan bahwa Asih-lah yang mengalami perkembangan karakter – yang actually punya plot dalam cerita ini. Cerita bahkan menyimpan satu kejutan menarik lagi berupa kehadiran seseorang dari masa lalu Asih; orang yang mengenal Asih saat masih seorang manusia. Jika memang begitu, toh kerja film sangat buruk dalam memperlihatkan Asih sebagai tokoh utama. Karena porsi paling gede ya ada pada Sylvia dan keluarga. Sylvia, yang tak ngalamin perkembangan apa-apa. Yang gak ada stake. Yang bahkan tidak membuktikan kepada kita dia bisa jadi orangtua yang baik; karena yang film perlihatkan hanyalah dia yang selalu pulang malam hanya dekat dengan Ana saat mandi dan saat belajar lagu.
Dan si Ana itu sendiri… Memanglah, film horor Indonesia hanya melihat anak kecil sebagai objek. Setelah lagu mereka diambil jadi materi horor, tokoh yang mewakili mereka pun di sini hanya jadi objek rebutan. Ana dihidupkan sebagai trope ‘anak setan’, alias anak berkelakuan aneh yang suka ngobrol sama sesuatu yang tak terlihat. Film ini tak memberikan Ana kesempatan untuk bersuara, untuk punya pendapat dan pandangan sendiri. Literally, Ana ditulis sebagai karakter yang gak bisa bicara. For no reasons at all, kecuali ya dengan alasan untuk memudahkan penulis naskah bermalas-malasan. Ana yang tak bisa bicara berarti tidak perlu digali sudut pandang dan sisi dramatisnya. Ana hanya dijadikan jalan keluar ala deus ex machina saja. Di akhir tiba-tiba dia sadar dan ngasih pandangan ke ibunya. Karakter Ana yang dibikin seperti inilah yang menjadi penanda keras betapa film ini males dan memang menghindari penggalian karakter. Arahannya dibuat khusus untuk memfasilitasi jumpscare-jumpscarean saja. Menyia-nyiakan potensi karakter yang ada.
 
 
 
 
Kalo ada yang nanya film apa yang bisa narik penonton ke bioskop, dalam situasi pandemi kayak sekarang ini, maka aku percaya jawabannya adalah film horor. Dan film ini, aku juga sama yakinnya, mampu untuk melakukan hal tersebut. Karena memang didesain untuk memfasilitasi ‘hiburan’ netijen. Penuh jumpscare, ada yang kesurupan, dan flashback backstory. Peningkatannya sedikit di visual kemunculan penampakan, seru juga melihat hantu yang perlahan nampak dari transparan ke memadat. Dengan durasi yang lebih panjang tiga-puluh menit dari film pertamanya, kupikir film ini bakal lebih berisi. Cerita dan karakter penyusunnya akan benar-benar memiliki sesuatu. Tidak dangkal seperti film pertama. Tapi ternyata film ini tidak tertarik menggarap semua itu. Melainkan hanya berkutat pada menghantu-hantukan lagu. Sehingga akhirnya ya jadi sama saja dangkalnya. Such a waste potential.
The Palace of Wisdom gives 3 out of 10 gold stars for ASIH 2.
 
 

 

That’s all we have for now.
Apakah kalian juga punya pengalaman seram dengan lagu anak-anak?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

THE CRAFT: LEGACY Review

“They (women) want power over themselves”
 

 
 
Berhubung masih dalam suasana dongkol abis ngereview Rebecca (2020) ngobrolin seputar remake yang justru jadi lebih jelek dari versi aslinya, ini ada film yang bilangnya merupakan sekuel dari film yang keluar tahun 1996, tapi yang actually mereka bikin ternyata adalah semacam soft remake atau soft reboot menilik arahan film ini yang seperti mengincar ke sekuel berikutnya. The Craft: Legacy karya sutradara – yang sendirinya juga seorang aktor – Zoe Lister-Jones basically menceritakan ulang kisah pada film The Craft (1996), dengan tokoh-tokoh baru, dan tentu saja agenda woke kekinian yang dijejelin begitu saja ke dalam cerita tersebut.
Ada anak baru di kota. Lily namanya. Dia dan ibunya pindah ke sana, untuk tinggal bersama keluarga baru; ayah tiri dan tiga orang saudara laki-laki. Di sekolah, Lily mendapat teman baru berupa tiga orang cewek yang punya kekuatan sihir. Lily diajak gabung karena melengkapi formasi sihir (utara, timur, selatan, barat) sehingga kekuatan mereka semua kini sempurna. Mereka kini bisa banyak hal, termasuk menyihir seorang cowok bully di sekolah. Lily menjadikan si bully itu seorang yang lebih ramah dan gak kasar ke semua orang, terutama kepada dirinya. Di bawah pengaruh si cowok jadi berani untuk jujur kepada mereka berempat, perasaannya ditumpahkan. Rahasia dibeberkan. Namun kemudian si cowok ditemukan tidak bernyawa. Ada seseorang di kota yang gak suka saat cowok menjadi ‘lemah’. Ada seseorang yang memaksakan maskulinitas sebagai sebuah kekuatan untuk memerintah. Lily dan teman-teman superhero, eh maksudnya, teman-teman penyihir dengan kekuatan elemen harus menghentikan orang ini dengan segera.
 

Mereka avatar deng. Avatar pengendali CGI burik

 
Permasalahan tentang toxic masculinity itu sebenarnya enggak jadi masalah. Justru bagus, film ini punya ide tersendiri yang coba disampaikan lewat lingkungan sihir-sihiran yang selama ini dianggap sebagai dunia eskapis bagi wanita. Konon sejak dulu kala, penyihir wanita ditakuti di negara sana. Mereka diasingkan, dipenjara. Dibakar. Cerita penyihir wanita itu sebenarnya adalah simbolik bagi diskriminasinya sikap pria. Wanita gak boleh pinter-pinter, harus nurut, untuk voting aja mereka harus diperjuangkan. Nah, ketika film ini mengusung bentrokan antara dua kubu tersebut – cewek yang beneran penyihir dengan pria yang percaya kekuatan adalah milik mereka, dengan si cowok bully itu jadi berada di tengah-tengah mereka; sebenarnya film ini punya hal menarik untuk dibahas. Namun entah bagaimana – aku merasa jahat kalo menyebut pembuatnya gak capable – film ini menceritakan hal tersebut dengan seadanya. Film memasukkan konflik sekenanya. Sesimpel kayak mereka tinggal nambahin bagian-bagian itu ke dalam cerita film yang lama.
Film ini enggak peduli sama karakter-karakter. Oh, Lily punya tiga saudara tiri yang dibesarkan di lingkungan maskulin? Nope, film tidak pernah membahas mereka sebagai suatu karakter khusus. They are just there. Salah satu aspek yang membuat The Craft original begitu populer sehingga menyandang status cult 90an adalah karena film tersebut menggelora oleh personalitas. Setting dan karakter dan stylenya begitu membekas. Keempat penyihir di film itu semuanya diberikan backstory dan karakter. Ada yang tinggal di rumah yang abusive, ada yang dibully oleh teman yang rasis, ada yang sekujur tubuhnya luka bakar sehingga ia menderita setiap kali pengobatan, tokoh utama cerita itu sendiri harus berjuang mengarungi hidup di tempat baru, dengan dealing with kehilangan ibu dan segala macam. Maka mereka berempat punya alasan untuk beralih atau percaya kepada sihir. Mereka bonding over this, mereka belajar menggunakan kekuatan sihir, ada semacam mentor dan tokoh sihir yang mereka kunjungi, dan nantinya sihir itu akan mempengaruhi pribadi mereka dengan cara yang berbeda-beda. Tidak ada hal tersebut dalam film The Craft: Legacy. Tokoh-tokohnya tidak diberikan cerita latar ataupun kehidupan. Sihir di film ini tidak memiliki bobot apa-apa kepada para karakter. Hanya suatu hal spesial yang mampu mereka lakukan. Dan mereka seketika jago gitu aja, hanya lewat sekali montase. Kita tidak tahu siapa teman-teman baru Lily. Hanya Lily (yang diperankan dengan natural oleh Cailee Spaeny) seorang yang diberikan cukup banyak hal untuk kita pegang. Namun bahkan Lily itu tidak punya sesuatu yang paling penting yang harus dimiliki oleh tokoh utama.
Motivasi.
Untuk dua babak penuh, kita tidak tahu Lily ini maunya apa. Dia hanya bersekolah, unjuk kekuatan sihir dengan teman-teman, dan malam hari di rumah mendengar/mengalami hal-hal ganjil. Film ini sendiri tidak berniat untuk menggagas apa-apa selain pertarungan cewek melawan cowok (karena yang jahat harus cowok) yang ditambahkan begitu saja di babak akhir. Ya, kalo empat sentral aja gak ada development dan karakter, gimana tokoh jahatnya bisa dapat kesempatan untuk ditulis lebih baik. Satu-satunya pertanyaan yang disematkan oleh film – dan tampaknya jadi penggerak cerita karena cuma ini yang jadi bahasan di akhir – adalah soal hubungan Lily dengan tokoh-tokoh di film yang pertama. Keseluruhan film seperti bergerak dengan motivasi untuk memberikan kita jawaban terhadap hal tersebut. Dan meskipun mungkin memang itulah hal yang paling penting dari eksistensi film ini; jawaban yang mereka sediakan juga tidak memuaskan. Tokoh lama yang muncul sebagai koneksi terhadap Lily hanya diperlihatkan beberapa detik, dengan hanya sepenggal dialog. Seakan ingin ngehook kita supaya meminta sekuel. Pede sekali, memang.

Kebanyakan pria menginginkan kekuatan supaya bisa memegang kendali atas hal lain. Power for order, kata tokoh jahat di film ini. Namun wanita-wanita seperti Lily, ingin untuk jadi kuat tapi tidak pernah menginginkan kekuatan tersebut demi berkuasa atas orang lain. Mereka justru ingin kuat supaya bisa memegang kendali atas diri mereka sendiri. Power yang seperti inilah yang memang harus diperjuangkan.

 

CGI di momen revealing begitu jelek, bagusan CGI di film lamanya malah

 
Dengan karakter dull, ditambah efek-efek yang sekelas efek film televisi, film ini jadinya memang boring sekali. Sekali lagi coba kita bandingkan dengan The Craft yang lama. Dunia cerita tersebut menarik dan hidup. Bukan sekolah biasa yang jadi panggung cerita, melainkan sekolah katolik. Ini menciptakan kontras luar biasa menarik untuk digali; karena tokoh utama kita berpraktek sihir di lingkungan keagamaan tersebut. Film pertama kuat oleh penanda zaman, setting katolik dan tema penyihir itu dimanfaatkan untuk menampilkan aksesoris dan fashion-fashion gothic yang membuat gaya film ini 90an banget. Referensi ke tahun itu enggak dijejelin masuk, melainkan natural mendarah daging di cerita. Pada The Craft: Legacy, bahkan visual dan tempatnya juga hampa. Bincang-bincang soal sihir terasa datar karena lingkungannya tak beridentitas. Fashion dan penanda tahun generasi Z mereka tak tampak unik, malah cenderung maksa. Empat penyihir ini udah kayak power rangers, pake pakaian dengan corak warna yang sesuai dengan warna aura mereka. Tidak menarik, warna-warni itu justru hampa dan gak vibrant jika dibandingkan dengan hitam-putih yang dikenakan The Craft yang lama.
The Craft yang pertama juga jatoh saat babak ketiga yang konfliknya seperti hadir terlalu mendadak. Seolah film itu butuh durasi lebih banyak supaya development bisa lebih enak. Namun jatohnya film itu bukan apa-apa dibanding begonya film The Craft: Legacy yang datar ini pada babak ketiga. Terutama menjelang ending; itu penulisannya bukan cuma kurang cakap, tapi juga luar biasa males. Setelah konfrontasi yang melibatkan tokoh dengan peran gede meninggal, adegan berikutnya dibuat begitu normal – dengan para karakter lain ngebecandain keadaan tersebut. Seolah kejadian yang mereka alami sebelumnya bukan apa-apa. Gak ada efek terhadap mereka semua. Tidak ada aftermath, tidak ada apapun, karena film ingin buru-buru menjawab pertanyaan penting mereka; Lily anak siapa??
 
 
 
 
Film ini sukses, dalam membuat sihir menjadi seboring ini. Mereka punya agenda sebagai bumbu untuk cerita lama yang mereka perbarui, tapi tidak punya keahlian dalam crafting agenda tersebut ke dalam cerita yang benar-benar utuh, dan enak untuk diikuti. Kekuatan sihir bagi film ini sama aja kayak kekuatan superhero; orang yang jarinya bisa berapi, orang yang bisa mengendalikan elemen. Horor bagi film ini cuma adegan-adegan mimpi di malam hari, adegan misterius bagi film ini adalah momen-momen yang kelupaan dibahas seperti ketika saudara tiri Lily diceritakan hobi jalan dalam tidur, tanpa dijelaskan kenapa maupun pengaruhnya ke cerita. Karakter bagi film ini, ya, sekadar tokoh-tokoh pengisi dialog aja tanpa ada pengembangan atau penokohan yang membuat mereka manusiawi. Mereka pikir bisa menarik sekuel dari cerita lama seperti menarik kelinci dari topi, but really they should have about how to craft first.
The Palace of Wisdom gives 1 out of 10 gold stars for THE CRAFT: LEGACY

 

 
 

 

That’s all we have for now.
Berhubung masih suasana Halloween, apa film tentang penyihir yang paling berkesan bagi kalian – selain Harry Potter loh ya hihi.. Kenapa menurut kalian kita begitu fascinated terhadap sihir?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA