MA Review

“You don’t need everyone to love you, just a few good people”

 

 

Semua akan main film horor pada waktunya. Dan kalo ada aktor yang paling pengen aku lihat bermain segila-gilanya di genre berdarah-darah, maka Octavia Spencer adalah salah satunya. Dan memang di film Ma ini Spencer tampak benar-benar menikmati kesempatan yang ia dapatkan. Bahkan yang bukan penggemar horor, boleh jadi tergoda untuk menyaksikan film yang actually juga proyek horor pertama dari sutradaranya; Tate Taylor. Spencer dan Taylor sebelumnya pernah bekerja bareng dalam The Help (2011), yang aku suka banget, dan sekarang mereka kolab lagi dalam film yang genrenya lebih membebaskan. Sekali-kali bermain dalam horor sepertinya therapeutic buat aktor seperti Spencer yang mulai mendapat peran yang begitu-begitu saja di genre yang lebih serius. Dan horor pun butuh pemain-pemain yang enggak asal-asalan, yang sungguh mengerti mengeksplorasi psikologi sehingga tidak keluar sebagai peran yang over-the-top yang tidak bisa dianggap serius. Spencer dan peran psikopat-horor ngeklik, menjadikan wanita ini bagian terbaik dalam film Ma.

Baru-baru ini kita menyaksikan Widyawati bersahabat dengan anak-anak muda dalam Mahasiswi Baru (2019), peran Spencer dalam Ma juga mengharuskan dia bergaul dengan orang yang berumur jauh berbeda darinya, namun dengan tone cerita yang jauh lebih kelam. Peran Spencer adalah sebagai Sue Ann, wanita kesepian yang tau-tau dimintai tolong oleh sekelompok anak remaja untuk membelikan mereka bir. Sue Ann butuh untuk membantu remaja tersebut seperti Spencer butuh untuk bermain horor; untuk menjadi lebih populer. Kepopuleran dan status dijadikan oleh film sebagai tema berulang yang dieksplorasi lewat cara yang tak biasa. Lama kelamaan Sue Ann yang tampak menikmati statusnya sebagai ‘ibu-ibu keren’ di antara para remaja, mulai mengundang mereka semua untuk berpesta di ruang bawah tanah rumahnya. Minum-minum. Hura-hura. Mabok. Jika kalian sudah merasa cukup risih melihat wanita dewasa menyediakan tempat untuk remaja berugal-ugalan, siap-siap saja untuk menjadi merasa ngeri ketika kilasan masa lalu Sue Ann muncul sebagai peringatan akan hal menakutkan yang bakal menimpa para remaja tersebut.

sejak 2011, kalo dia ngasih pie coklat, tolong jangan dimakan.

 

Filmnya cuma sembilan-puluh menit, tapi coba hitung ada berapa kali Octavia Spencer melakukan perubahan emosi dalam usahanya membuat karakter ini menyenangkan untuk ditonton. Menyenangkan dalam konteks horor loh. Pertama kita dibuat kasihan melihatnya yang seperti desperate banget untuk punya teman. Dia tampak cukup perhatian dan baik hati. Lalu dia berubah jadi tampak seperti orangtua norak yang jika bercanda pasti lawakannya enggak lucu oleh anak-anak muda, malah menyinggung. Lalu kita dibuat merasa kasihan lagi kepadanya, ketika Sue Ann yang kini dipanggil Ma malah seperti dimanfaatkan oleh anak-anak berandal. Lalu dia muncul seperti pacar yang cemburuan saat meneror remaja dengan puluhan pesan. Lalu dia seperti ibu yang overprotektif. Lalu dia jadi penipu yang punya agenda mengerikan, sebelum akhirnya menjadi ‘orang gila’ di babak akhir. Dan seperti layaknya film horor, Spencer juga memberikan one-last-scare kepada psikologi kita , entah harus kasihan atau mensyukuri keputusan terakhirnya. Film bisa menggapai begitu banyak level kengerian dengan permainan akting karakter yang berubah-ubah secara creepy seperti ini. Range-nya luas dan Spencer berhasil mengenai semuanya dengan menakjubkan.

Yang diperlukan oleh film adalah menjaga fokus dan mengeksplorasi Sue Ann lewat satu sudut pandang  sehingga horor dari runtuhnya kemanusiaan itu dapat tersampaikan dengan baik. Hanya saja, film malah membahas dari banyak sudut pandang sehingga narasinya tak pernah fokus sejak awal. Naskah ingin memparalelkan tokoh remaja dengan tokoh Sue Ann, mereka diikat oleh satu benang merah; keinginan untuk disukai dan menjadi bagian dari orang-orang populer. Tokoh utama film ini justru adalah salah satu anak remaja, Maggie (diperankan oleh Diana Silvers atau yang kita kenal sebagai kembaran Raihaanun dalam film Booksmart), yang baru pindah ke kota tempat cerita berlangsung. Maggie adalah anak baek-baek yang memilih bergaul dengan geng hura-hura karena seharian ditinggal kerja oleh ibunya. Film ingin memunculkan dramatic irony dengan menyilang-nyeling sudut pandang antara Maggie yang hubungannya semakin tak baik dengan sang ibu, yang malah semakin akrab dengan Sue Ann, dengan sudut pandang Sue Ann sendiri yang semakin kita lihat kegelapan dan kegilaan motifnya. Tetapi sisi dramatisnya itu justru menjadi kehilangan gigitan karena narasinya kehilangan fokus.

Pesan yang ingin disampaikan menjadi mendua; apakah kita harus mendukung Sue Ann membalaskan dendamnya kepada anak-anak populer yang ngesok – apakah tindakan kriminal yang ia lakukan bisa dijustifikasi. Atau haruskah kita mengkhawatirkan Maggie yang perlahan seperti berubah menjadi anak populer yang ngesok tersebut. Dan bukan hanya mendua, malahan mentiga lantaran actually film juga melihat dari sudut pandang ibu Maggie yang merasa dirinya hina; gagal di perantauan sehingga terpaksa kembali ke kota masa kecilnya.

Orang dewasa pasti pernah terkenang akan kehidupan di masa sekolah mereka. Masa-masa yang kebanyakan orang berharap mereka lebih disukai di antara teman-teman sekolah. Wajar saja berpikir seperti demikian, karena itu akan mendorong seseorang untuk menjadi lebih baik. Tapi disukai tidak sama dengan menjadi populer. Karena orang menginginkan hanya untuk menjadi populer, mereka bisa menjadi manipulatif ketika hanya mementingkan jumlah dan status. Jadilah populer, sembari tidak melupakan diri menjadi baik.

 

Secara garis besar, kita bisa mengerti keparalelan gagasan yang berusaha ditampilkan. Sayangnya pilihan untuk menjuggling sudut pandang ke sana kemari membuat cerita tidak menjadi sekuat yang semestinya bisa dicapai. Film juga punya undertone soal rasis yang dihubungkan ke dalam gagasan. Kita melihat Sue Ann mengecat putih kulit seorang remaja kulit hitam, karena menurutnya cuma boleh satu alpha di dalam grup. Tapi hanya sampai di sana. Film harusnya membahas lebih dalam, menjadi total gila, namun tetap bermain aman. Tingkat kekerasan dalam film ini tidak benar-benar mengerikan, karena sesungguhnya horor terletak di kejiwaan Sue Ann. Yang dikaburkan oleh seringnya cerita berpindah sudut pandang. Akibat paling jeleknya adalah tokoh-tokoh film ini jadi tidak pernah kelihatan seperti karakter. Mereka hanya seperti pion dalam permainan catur yang sudah diatur siapa yang kalah dan siapa yang menang. Mereka tidak hidup di dunia, mereka hanya hidup di naskah.

Sue’ banget emang si Sue Ann

 

Bahkan naskahnya sendiri tidak cukup konsisten untuk memerintah para tokoh. Narasi yang dihadirkan tampak dihadirkan dengan reasoning seadanya. Film membuat remaja-remaja itu suka sama Sue Ann, kemudian takut padanya, kemudian suka lagi, dengan sekenanya. Tidak pernah ada penjabaran yang kuat dan masuk akal. Cerita film ini bisa tuntas dengan lebih cepat jika remaja-remaja tersebut enggak balik-balik lagi ke rumah Sue Ann. Ada banyak momen yang menghadapkan tokoh remaja pada pilihan atau kesempatan untuk melakukan sesuatu yang wajar, you know, meninggalkan Sue Ann. Si Maggie sudah curiga sedari pertengahan. Tapi mereka tetap saja kembali kepadanya. Maggie tetap saja masuk ke ruang bawah tanah  itu. Tanpa ada tekanan dari teman-teman gengnya; di sini cerita mengkhianati gagasannya. Atau malah memparodikan? You be the judge. Apakah para remaja memang sebego itu untuk mau kembali deket-deket sama orang yang jelas-jelas mencurigakan cuma supaya bisa hura-hura.

 

 

 

Fakta bahwa film horor yang dibintangi oleh Octavia Spencer sebagai pembunuh psikopat beneran eksis di dunia sebenarnya sudah cukup menggembirakan. Terlebih karena memang dibeking oleh penampilan akting yang menghibur. Tapi tetap saja jatohnya mengecewakan karena film ini tidak sekalian dibarengi oleh naskah yang kuat. Karena yang kita saksikan lebih seperti usaha untuk menjadi tontonan yang populer ketimbang film yang ingin menceritakan gagasan. Narasinya terlalu sibuk untuk terlihat pintar, asik sendiri menggabung-gabungkan sudut pandang, dan kepingan misteri. Sehingga lupa untuk menjadikan karakter-karakter ini ‘hidup’. Kita hanya melihat mereka berpindah dari berpesta, ke ketakuan, ke curiga seperti diperintah. Tidak mengalir dengan natural.
The Palace of Wisdom gives 5 gold stars out of 10 for MA

 

 

 

 

Growing Pains by Alessia Cara – [Lyric Breakdown]

 

Semua orang maunya terkenal. Setiap orang pengen diakui. Jadi, kita getol untuk berkarya. Kita bekerja dengan giat. Ada ungkapan yang bilang “Bekerjalah sampai kau tidak perlu lagi untuk memperkenalkan diri.”

Buat remaja kayak Alessia Cara enam-tujuh tahun yang lalu, muncul di televisi tak pelak adalah ultimate recognition. Sekarang, Alessia sudah ngantongin Grammy. Lagunya langganan nongkrong di Top 10. Apakah pemilik suara raspy yang enak banget didenger ini bahagia? Tentu saja! Siapa sih yang enggak. Tapi bukan berarti semuanya lantas terasa baik-baik saja baginya.

Hit single Growing Pains dari album terbaru penyanyi asal Italia ini dapat kita artikan sebagai curhatan Alessia mengenai kondisi mentalnya sekarang. Jika kesuksesan adalah kemeja, bagi Alessia – kita bisa lihat dari sampul albumnya – yang ia kenakan adalah kemeja yang kedodoran. Dirinya terbungkus di dalam sana. Berusaha menge-pas-kan diri. Kecil. Mungkin tak nyaman.

Aku gak tahu, aku merasa belum cukup sukses untuk bisa beneran masuk ke dalam sepatu Alessia. Namun begitu, aku pikir lagu ini relatable, mencapai, banyak orang. Karena kita semua mengalami perjalanan dari kanak-kanak hingga menjadi orang sukses. Hanya, percepatan perjalanannya saja yang berbeda.

 

 

[Intro]
You’re on your own, kid
You are 

Exactly.

 

 

[Verse 1]
Make my way through the motions, I try to ignore it
But home’s looking farther the closer I get
Don’t know why I can’t see the end
Is it over yet? Hmm 

Kita menempuh banyak hal dalam perjalanan kita meraih mimpi. Di mana terkadang kita merasa ada yang kurang; kita merasa kehilangan sesuatu. Namun semua itu kita acuhkan, karena fokusnya kita ke tujuan yang ingin dicapai. Tapinya lagi, semakin dekat kita dengan yang dituju, kita semakin merasa jauh dari hal-hal yang akrab dan nyaman bagi kita.

Alessia mengibaratkannya dengan sebuah rumah – di mana saat kita pergi kerja, kita akan meninggalkan rumah. Dalam sudut pandang Alessia, antara padatnya jadwal manggung dengan produktivitasnya menulis lagu, bahkan rumah sudah menjadi asing baginya. Orang yang bekerja juga sering merasa begini; saking sibuk di kantor jadi kurang akrab dengan anak-anak sendiri. Ada yang harus ditinggalkan demi mencapai tujuan. Hal inilah yang membuat rindu. Dan capek. Sehingga Alessia bertanya ‘kapan sampainya?’

A short leash and a short fuse don’t match
They tell me it ain’t that bad, now don’t you overreact
So I just hold my breath, don’t know why
I can’t see the sun when young should be fun 

Menurutku ini adalah bagian lagu yang sangat personal bagi Alessia Cara; Alasan dia menulis lagu ini. Alessia merasa dia tidak bisa benar-benar menikmati masa mudanya. Dia harus membagi antara pekerjaan dengan pribadinya. Yang tadinya ia menulis lagu untuk bersenang-senang, ia nyanyi dan ngerekam di youtube supaya dikenal orang, dan sekarang semua itu berubah menjadi tanggung jawab.

Ketika kita sudah berhasil mencapai apa yang kita impikan, saat orang-orang sudah melihat kita sebagai ‘sesuatu’, akan semakin sulit untuk mengekspresikan sesuatu yang kita rasakan hilang dari dalam diri, katakanlah mungkin kejenuhan atau apa, karena kita tidak ingin dicap sebagai orang yang tak tahu cara bersyukur. Aneh rasanya merasa hampa setelah meraih kesuksesan yang diimpikan, maka semua itu pada akhirnya hanya ditahan. Atau dalam kasus Alessia Cara; dijadikan sebuah lagu.

 

 

[Pre-Chorus]
And I guess the bad can get better
Gotta be wrong before it’s right
Every happy phrase engraved in my mind
And I’ve always been a go-getter
There’s truth in every word I write
But still, the growing pains, growing pains
They’re keeping me up at night

Apa yang membuat kita terus bertahan adalah keyakinan sesimpel semua akan indah pada waktuya. Kita tahu kita tidak bisa berhenti gitu aja, terutama jika kita memang suka dengan apa yang kita kerjakan. Kita mencoba meyakinkan diri bahwa perasaan sedih itu ya cuma ‘perasaan’. Meski rasa hampa itu terus membesar. Semakin menjadi-jadi saat malam tiba, ketika semua kesibukan berakhir dan kita terbaring di tempat tidur. Inilah yang dimaksud Alessia dengan liriknya yang tadi soal gimana rumah menjadi terasa jauh baginya – kenyamanan itu ketutup oleh perasaan sedih nan hampa yang semakin membesar.

 

 

[Chorus]
Hey, hey, hey, yeah, hey, yeah
Hey, hey, hey, yeah, hey, yeah
Hey, hey, hey, yeah, hey, yeah
Hey, hey, hey, yeah, hey, yeah
And I can’t hide ’cause growing pains are keeping me up at night

Di sini aku membayangkan betapa susahnya bagi seseorang yang merasakan semua itu dalam mencari tempat berlindung. Berusaha senang dengan “hey hey yeah”. Aku kebayang Alessia yang tak menemukan teman curhat yang bisa mengerti apa yang ia rasakan. Sekali lagi, hal kayak gini gak bisa diumbar begitu saja karena kita enggak mau terlihat sebagai tukang ngeluh – karir bagus kok malah sedih?

 

 

[Verse 2]
Try to mend what’s left of my content incomprehension
As I take on the stress of the mess that I’ve made
Don’t know if I even care for “grown” if it’s just alone, yeah

Dengan semua stress itu, menjadi anak-anak akan tampak sangat menyenangkan. Gimana saat masih kecil kita tak banyak tahu, dan ini yang paling penting; orang-orang lain banyak yang mengerti kita. Karena hidup saat bocah itu simpel. Kita ingin kembali melihat – dan dilihat – dunia seperti demikian. Karena, bertumbuh dewasa berarti kita semakin sendirian. Tak banyak mengerti kita. Mungkin kalian juga merasakan, lingkaran pertemanan itu semakin menyempit seiring bertambah usia, seiring bertambahnya pemahaman kita terhadap dunia. Kita mulai sibuk sendiri-sendiri. Alessia dalam lagunya ini mengatakan kalo tahu dewasa berarti sendirian seperti begini, kayaknya ia gak mau deh cepat-cepat tumbuh. 

 

 

[Bridge]
Starting to look like Ms. Know-it-all
Can’t take her own advice
Can’t find pieces of my peace of mind
I cry more than I want to admit
But I can’t lie to myself, to anyone
‘Cause phoning it in isn’t any fun

Aku suka gimana di bagian ini Alessia semacam bikin koneksi ke albumnya yang pertama, Know-it-All. Istilah yang literally cocok digunakan untuk orang dewasa, karena orang gede suka ‘sok tau’ dengan segala pengetahuan yang mereka punya. Ketika kita sukses,  kita akan senang membagi ‘rahasia kesuksesan’. I mean, bahkan belum sukses apa-apapun kita suka bikin kultwit, kita senang berbagi ide dan saran. Padahal yang sebenarnya tak jarang orang yang paling membutuhkan saran dan ide tersebut adalah diri kita sendiri di malam hari, di saat kita merasakan hampa dan sepi. Tapi Alessia bahkan tidak bisa mempercayai sarannya sendiri, sekali lagi, karena dia, sebenarnya ingin kembali ke dirinya yang dulu. Tapi toh, Alessia, juga kita pribadi, tidak bisa membohongi diri sendiri.

Can’t run back to my youth the way I want to
The days my brother was quicker to fool
AM radio, not much to do
Used monsters as an excuse to lie awake
Now the monsters are the ones that I have to face

Bahwa sekali maju, kita tidak bisa mundur. Alessia tidak bisa balik lagi menjadi dirinya saat masih mendengarkan radio bersama adiknya. Ke saat di mana kita mengarang cerita tentang monster biar enggak disuruh tidur. Sekarang, monster selalu hadir saat kita mau tidur. Monster bernama kesadaran dan pemahaman diri. Monster itu adalah diri kita sendiri yang kini sudah dewasa dan sedih menyadari apa yang sudah kita lewatkan – yang tidak bisa kita ambil kembali – dalam mencapai titik kehidupan kita yang sekarang.

 

 

[Outro]
No band-aids for the growing pains

Ini adalah realisasi bahwa perasaan hampa yang kita rasakan saat sudah dewasa, saat sudah jadi orang sukses; perasaan tersebut tak ada obatnya. 

 

 

 

Jika dilihat dari judulnya saja, Growing Pains sudah memiliki dua makna; Pains yang senantiasa terus membesar, atau betapa tumbuh besar itu menyakitkan. Setiap hari kita berjuang mendapatkan apa yang kita impikan. Setiap orang memilih karir yang disenangi oleh hati. Lagu ini membahas tentang rasa rindu terhadap hal-hal yang kita lewatkan dalam rangka mengejar cita-cita, perasaan yang menjelma menjadi suatu kehampaan yang menerjang di kala kita sendirian. Bukan berarti kita tidak bersyukur. Bukan berarti kita tidak bahagia. Adalah hal natural merasakan itu semua, terlebih jika seperti Alessia; kita sudah bekerja sejak remaja.

 

 

That’s all we have for now.
Pernahkah kalian merasa tidak tahu dan tidak suka ama siapa diri kalian saat sedang menatap langit-langit kamar sebelum tidur? Menurut kalian apa sih yang sebenarnya dirasakan oleh Alessia Cara? Bagaimana pendapat kalian tentang lagu ini?

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

SAJEN Review

“Suicide is a permanent solution to a temporary problem.”

 

 

Sekalinya nekad nitip absen satu mata kuliah, pasti deh, yang dibolosin itu ngadain kuis mendadak. Atau enggak, kuliahnya mendadak asik kata teman-teman yang masuk. Dan besoknya, dibelain-belain masuk, mata kuliah tersebut kembali sukses bikin kita ketiduran di tempat duduk. Film horor Indonesia keadaannya persis begini. Begitu aku sengaja ngelewatin satu film, santer terdengar bahwa ternyata film itu bagus, menarik, dan sebagainya lah yang bikin aku nyesel gak nonton. Kemudian aku coba nonton horor Indonesia berikutnya; kembali aku mengutuk-ngutuk setengah mati.  Nonton film horor Indonesia di bioskop belakangan ini pretty much seperti kita penasaran takut ketinggalan sesuatu yang penting, sedangkan di saat bersamaan kita males menontonnya karena kita sudah tahu harus mengharapkan apa.

Singkatnya, kita butuh ‘sesajen’ supaya kita sudi untuk nonton film horor Indonesia.

 

Sejujurnya, satu-satunya alasan aku nonton ini adalah karena diajak oleh Forum Film Bandung. I have no interests whatsoever, aku gak tahu pemain-pemainnya yang berfollower banyak, buatku Sajen adalah ‘kelas’ yang dengan senang hati aku bolosin. Tapi ternyata, film ini memang beda. Film ini unik banget…….buat penonton yang belum pernah menyaksikan film Thailand Bad Genius (2017), yang belum pernah dengar serial di Netflix 13 Reasons Why (2017), yang gak tau siapa Sadako, yang belum pernah baca dan nonton Carrie nya Stephen King. Dengan kata lain, penonton yang selama ini tinggal di dalam goa – come on, semua itu adalah pop-culture populer! Kalolah ini kelas, aku bilang, aku gak akan tertidur, aku malah sangat terhibur karena yang aku saksikan di depan kelas itu adalah badut dengan lelucon plesetan yang amat teramat sangat konyol.

Sajen punya lingkungan cerita yang menarik. Sebuah sekolah menengah atas swasta yang mentereng, muridnya kece-kece, tajir pula, seisi sekolahan ini mengkilap, ruang komputernya lengkap, ada perpustakaan, wc nya kayak wc di bioskop, bangku siswanya kursi empuk di kantoran – bisa muter, menyediakan sudut pandang 360 derajat yang sempurna untuk nyontek. Namun di tengah-tengah itu semua, ditemukan sesajen-sesajen tradisional di beberapa tempat. Tidak ada yang boleh bertanya tentang sesajen tersebut, apalagi memindahkan. Karena ternyata sekolah ini punya rahasia. Banyak murid yang meninggal bunuh diri sehingga arwah mereka tidak tenang.  Demi menjaga nama baik sekolah, pihak guru dan authorities sekolah enggan menyelidiki bunuh diri tersebut. Sampai akhirnya ada satu siswi bernama Alanda yang merekam apa yang dilihatnya di sekolah, video yang berisi aktivitas murid-murid di sekolah ini yang sudah lama membuatnya geram. Jadi, beda dong, Alanda Baker menggunakan rekaman video, sementara Hannah Manopo pake kaset tape. Perundungan merajalela. Anak-anak populer ngegencet anak-anak lain. Bahkan Alanda sendiri menjadi korban. Dia dikasari, dia dicekoki minuman keras, direkam saat mabok dan videonya disebarin. Alanda juga diperkosa. Namun setelah semua tragedi itu, malah ia yang dipersalahkan. Alanda dituduh mencemarkan nama baik sekolah. Karena tidak tahan menghadapi semua rundungan tersebut, Alanda bunuh diri. Kemudian barulah dia kembali sebagai hantu, ia membully balik orang-orang tersebut, dan mencoba membuat sekolah mereka tempat yang lebih baik dari alam sana. And I’m not even kidding.

Aku gak tahu gimana kalian bisa membaca sinopsis tersebut tanpa tertawa, karena aku sendiri saat mengetiknya sempat berhenti tiga kali lantaran jari-jariku terlalu gak stabil saat aku mulai ngakak berat mengenang apa yang baru saja aku tonton.

satu hal yang bisa kusukuri dari film ini adalah Grace Salsabila yang mirip banget ama Britt Robertson

 

Film ini parah, tapi bukan berarti aku tak terhibur – kita bisa sangat terhibur dengan menonton ini. Dan lagi film ini parah bukan karena aku sedari awal sudah tak tertarik nonton, ataupun bukan karena aku kebanyakan referensi. I mean, jikapun kalian belum pernah nonton Thirteen Reasons Why dan segala yang kutulis di atas, film ini tetap gagal karena penggodokan elemen-elemen cerita yang begitu ngasal dan tidak memperhatikan kaidah-kaidah penceritaan film yang baik dan benar. Oleh karena film ini begitu nafsu untuk ngikutin materi-materi lain; serius deh, film ini akan bekerja baik jika kita melihatnya sebagai parodi konyol dari film yang lebih sukses, maka aku pun akan nulis ulasannya dengan plesetan. Jadi, inilah, TIGA-BELAS ALASAN KENAPA SAJEN MEMBUNUH DIRINYA SENDIRI SEBAGAI SEBUAH FILM:

  1. Babak pengenalan yang tidak jelas. Karena niruin banyak, film ini punya banyak perspektif untuk digali. Namun malah bingung sendiri mengambil fokus yang mana. Maksudku, jika ternyata sebagian besar cerita nantinya akan mengisahkan dampak bunuh diri cewek yang dirundung terhadap orang-orang sekitarnya, maka kenapa cerita malah memulai dengan memperlihatkan si tukang bully yang bahkan gak sempat punya arc di penghujung hidupnya.

 

  1. Film ini memasukkan elemen persaingan dua murid paling pinter di angkatan seperti film Bad Genius, hanya saja Sajen gak punya follow up yang menarik yang datang dari persaingan ini, selain menambah deretan orang yang menyakiti hati Alanda. Juga, Sajen gak bisa punya fenomena paling menarik yang diangkat Bad Genius; bahwa orang pintar itu yang ngebully. Sedangkan Sajen terasa sangat tradisional dengan anak pintar dirundung oleh anak yang populer

 

  1. Elemen 13 Reasons Why nya juga begitu, film ini melewatkan bagian terpenting kenapa serial tersebut begitu menyentuh. Basically, Sajen merangkum tiga belas episode menjadi empat-puluh-lima menit kurang, sehingga tokoh-tokoh di sini tidak berhasil hadir dalam lapisan, mereka semuanya masih satu-dimensi. Ada twist di akhir yang totally membelokkan satu tokoh, tapi itupun build upnya nyaris gak ada dan hanya bertumpu pada elemen kejutan. Sajen juga berani menampilkan adegan bunuh diri dengan gamblang di layar, masalahnya adalah justru adegan bunuh dirilah yang membuat 13 Reasons Why kontroversial. Maka bayangkan, jika serial yang sudah mengupas begitu seksama soal kejiwaan dan sisi emosi aktual dari sisi pelaku rundung, orangtua korban, dan si korban itu sendiri masih dinilai terlalu mengglorify bunuh diri dan mengajak remaja target penontonnya ke tindakan yang salah; gimana jadinya cerita tiruan yang merupakan rangkuman dari cerita kompleks tadi dalam menampilkan adegan bunuh diri – tak lain tak bukan hanya untuk sedih-sedihan dengan makna sesungguhnya sama sekali tak tercapai. Berubah menjadi hal yang menggelikan, malah

 

  1. Serius deh, cita rasa lokal yang ditambahkan membuat semuanya menjadi dangkal. Elemen hantu selain bikin cerita jadi konyol, juga bikin penyelesaian jadi ngambang. It really takes us away dari problematika yang sebenarnya. Pelaku perundungan jadi gak belajar banyak, fokusnya menjadi mereka takut sama hantu alih-alih menyesali dan reflecting ke diri sendiri, menyadari apa yang mereka perbuat itu salah. Mereka tidak peduli sama Alanda ataupun mikirin supaya jangan terjadi korban lain, mereka hanya khawatir soal hantu. Di satu poin, ada tokoh yang mengusulkan jalan keluar dengan membangun musholla di sekolah, tapi itu bukan demi kebaikan para murid – biar mereka sadar dan sering ibadah – melainkan lebih ke biar para hantu takut untuk datang mengganggu

 

  1. Hantu yang tampil di sini pun sama sekali tidak seram. Film tidak mampu mengarahkan ke sebenarnya horor karena terlalu sibuk nyontek film lain. Akibatnya untuk nampilin horor, mereka pakai banyak sekali jumpscare, baik yang palsu (tepukan orang dari belakang punggung) hingga ke kemunculan hantu yang entah kenapa di sini hantunya seperti harimau ataupun T-Rex yang selalu mengaum sebelum beraksi

 

  1. Sepertinya fokus ngeriset nontonin film lain, Sajen lupa melakukan riset bahwa bully sudah ada padanan kata dalam bahasa Indonesia.

 

Kita tidak bisa dan tidak seharusnya membuat bunuh diri sebagai tindakan mencegah perundungan. Seharusnya yang diajarin adalah bagaimana supaya membuat orang-orang menjadi less-violent terhadap sesama. Dengan teman sekolah, kita dirundung. Sekolah juga kerap ngebully kita dengan tuntunan nilai. Dunia kerja juga ntar begitu. Malah ada juga orangtua yang merundung anaknya dengan segala kewajiban membuat mereka bahagia. Film ini juga menggambarkan hantu aja kena dibully sama bacaan doa. Seluruh dunia adalah tukang bully. Kita ini bagai pendulum yang berayun dari posisi pelaku ke korban dengan begitu gampang. Mestinya menyingkapi inilah yang dijadikan fokus. Adalah perbuatan yang salah melakukan perundungan dalam bentuk apapun. Namun juga bukanlah hal yang benar untuk bunuh diri dengan harapan orang-orang akan menyesal atas perbuatan mereka ke kita. Apalagi kalo niat bunuh dirinya biar bisa jadi hantu dan balas dendam. Yang perlu diingat adalah; berkebalikan dengan yang ditunjukan oleh film Sajen, bunuh diri bukanlah bentuk pengorbanan, bunuh diri bukanlah tindakan noble ataupun kesatria. Jangan gebah orang untuk melakukan hal itu. Encourage people to speak up.

dan film ini pun membully penontonnya dengan jumpscare-jumpscare bego.

 

  1. Tokoh Rachel Amanda yang mestinya bisa berperan banyak, bahkan bisa dijadiin tokoh utama, malah dibuat tidak melakukan apa-apa. Perannya adalah librarian yang diam-diam bikin artikel tentang perundungan yang terjadi di sekolah. Tapi actually waktu tampilnya sangat sedikit, artikelnya enggak berujung ke mana-mana. Dan satu-satunya hal yang ia lakukan malah bagi-bagi tisu ke tokoh yang nangis. Bahkan filmnya sendiri beneran menyebutkan hal ini, seolah mereka sadar mereka sudah membuat tokoh ini tampak begitu gak ada gunanya.

 

  1. Tokoh ibu si Alanda yang setengah gila juga dibuat bego banget. Dia memegang bukti kuat perihal perundungan dan kejadian yang menimpa putrinya. Tapi gak dikasih-kasih ke yang berwajib. Padahal enggak ada yang menghalangi dia untuk menggunakan bukti tersebut. Plus dari segi wajah dia lebih cocok sebagai ibu si cewek tukang bully. Plus keluarga si cewek tukang bully tidak pernah dibahas karena siapa yang peduli soal karakter antagonis, kan, film horor Indonesia?

 

  1. Lagu tradisional Sunda “Cing Ciripit” yang diputer berkali-kali, padahal selain adegan pertama kemunculannya, momen lagu ini tidak pernah terasa emosional

 

  1. Satu lagi karakter yang enggak jelas, dan sok dibikin misterius, adalah si janitor yang dandanannya lebih mirip dukun. Aku ngerti dia di sana dipekerjakan karena sepertinya cuma dia yang tahu cara bikin sesajen. Namun, alasan dirinya di menjelang akhir membuang sajen-sajen itu pada malam prom sungguh tidak terpikir buatku

 

  1. Adegan prom itu salah satu yang bikin aku ngakak sejadi-jadinya. Hantu Alanda mengurungkan niatnya memporakporandakan seisi aula lantaran dia melihat video kejadian sebenarnya yang diputar impromptu oleh seorang pelaku rundungnya yang mendadak bulat tekat untuk insaf, dan Alanda jadinya hanya mengejar satu orang. Dan yang lain hanya nonton manis ngelihat Alanda nyekek tuh pelaku utama

 

  1. Alanda tampak seperti anak baik dengan tujuan yang lurus. Dia ingin menyetop perundungan yang terjadi di sekolahnya, dengan merekam tindakan itu sebagai bukti. Untuk apa? untuk disebarkan? Tapi tidakkah itu membuatnya jadi bully juga? Ini sama heroiknya dengan kejadian orang-orang yang memvideokan penyimpangan padahal mereka ada di sana dan bisa menghentikan secara langsung. Namun, generasi sekarang lebih suka mempostingnya dan menghujat perbuatan itu ramai-ramai di social media. Alanda juga berkata kita harus bisa memanfaatkan kesempatan, yea, dia membuktikan kata-katanya dengan lebih memilih bunuh diri supaya bisa dapat kesempatan jadi hantu.

 

  1. Karena ini cerita hantu, jadi tidak ada konsekuensi nyata yang tersampaikan kepada kita buat pelaku perundungan itu sendiri. Dalam film ini mereka antara mati dibunuh hantu, ataupun menjadi gila. Bagaimana film ini bisa menyampaikan pesan biar orang berhenti ngebully di dunia nyata? Toh tidak ada hantu di dunia nyata yang bisa menghukum? …eh, atau ada?? Jengjeng!!

 

 

 

 

Film ini adalah film yang berani……mengadopsi serial dan film populer secara tak resmi dan menyesuaikannya dengan keadaan yang relevan dengan cita rasa lokal namun totally missing the point dari pesan yang mau disampaikan. Membahas perundungan, pencitraan, mental ngejudge, serta popularitas dan kompetisi, yang merupakan perjuangan yang harus dihadapi oleh remaja-remaja SMA di dunia di mana hantu bisa menegakkan kebenaran.
The Palace of Wisdom gives 1 gold star out of 10 for SAJEN.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

MANCHESTER BY THE SEA Review

“Sometimes grief is all we have.”

 

manchester-by-the-sea-poster

 

Kenangan itu kayak lautan, kita berlayar di atasnya. Terombang-ambing. Kadang membawa perahu pikiran kita maju, kadang kita harus berenang dan menjadi tangguh. Kadang kita tenggelam di dalamnya. Or worse, kita membiarkan diri tenggelam di dalam pusaran kenangan sedih menuju lubang penyesalan tanpa dasar.

 

Itulah yang dibicarakan oleh Manchester by the Sea. Kita bisa mengartikan adegan pertamanya – perahu berlayar penuh canda mengenai sebuah pilihan – sebagai simbol yang dengan efektif ngeset mood (atau kecurigaan) bahwa film ini tidak bisa dipastikan akan berakhir bahagia, sebagaimana air tidak akan selalu setenang itu.

Benar saja, dengan segera pemandangan kita dikontraskan oleh kehidupan Lee Chandler. Seorang tukang reparasi merangkap janitor apartemen yang kurang begitu ramah. Dia kelihatan sama tidak sukanya diajak ngobrol oleh orang lain saat bekerja ataupun saat dia minum di bar. Lirikan kecil mengundang tinju Lee mendarat di hidung orang asing. Kenapa Lee begitu antisosial, dia lebih suka dibiarkan sendiri, terus disembunyikan oleh film. Sampai ketika Lee mendapat kabar bahwa kakak laki-lakinya meninggal dunia akibat penyakit jantung. Mendadak saja, Lee harus balik ke Manchester dan menangani segala tetek bengek ‘peninggalan’ sang abang. Termasuk ditunjuk menjadi wali yang sah atas keponakannya. Tentu saja ini adalah skenario yang buruk bagi kehidupan-tertutup Lee. Dan as Lee berusaha menyabotase dirinya keluar dari arrangement yang digariskan oleh abangnya, kita akan mulai discover masa-lalu yang sangat heartwrenching tentang Lee. Gimana ternyata perilaku-perilaku buruk tersebut bukanlah bawaan dia sedari lahir.

Film ini did a very good job mencamkan image pria penyendiri yang kasar kepada sosok Lee Chandler. At first, he’s just so impossible untuk disukai. Juga misterius. Joe, almarhum abangnya, tidak pernah menjelaskan kenapa dia mempercayakan Lee sebagai wali anaknya, Patrick, meskipun memang Lee dan Patrick akrab sedari Patrick kecil. But this is clearly a very broken Lee now. Kita tahu Lee punya ‘reputasi’; orang-orang di hometownnya tersebut saling berbisik dan mendelik setiap kali melihat Lee lewat atau mampir nyari kerjaan di kantor mereka. Film ini sungguh berani mempercayakan kepada kita para penonton untuk terus ngikutin Lee, karena untuk waktu yang panjang kita akan bertanya-tanya sendiri kenapa kita harus peduli kepada karakter ini. Tiga-puluh-menit pertama aku bahkan tidak yakin arah film ini ke mana. Akan tetapi, begitu kita sudah belajar alasan kenapa Lee sungguh membenci hidupnya, keseluruhan film akan membuka sebagai suatu tontonan DRAMA YANG KUAT LAGI MANUSIAWI. Film ini menyapu emosiku, I was blown away oleh karakter-karakternya yang terasa nyata. Konflik mereka, apa yang mereka hadapi, terus saja terbangun dan akhirnya menumpuk, memberikan bobot pada hati. Dan tidak sekalipun drama dan tensi tersebut terasa dibuat-buat demi memancing rasa sedih dari kita.

Manchester tepi laut, siapa suka boleh ikut
Manchester tepi laut, siapa suka boleh ikut

 

Kehadiran formula karakter pada Lee dan Patrick bakal membuat kebanyakan film Hollywood bernafsu untuk membahas hubungan yang terjalin antara broken man dengan remaja-penuh-kehidupan, di mana mereka akan saling mengubah sikap satu sama lain. Namun dalam Manchester by Sea, sutradara sekaligus penulis skrip Kenneth Lonergan lebih tertarik mendalami pergulatan emosi dan derita yang dialami oleh seseorang seperti Lee. It doesn’t necessarily has a plot, even. Paman dan ponakan ini sama-sama berduka, mereka sebenarnya mengerti problematika masing-masing, dan itu tergambar jelas dari bagaimana mereka berinteraksi satu sama lain. Dengan fokus demikian, film ini berhasil menghidupkan karakter-karakter sehidup-hidupnya. Seoverconfidentnya Patrick, Lucas Hedges tidak pernah menjelmakan perannya tersebut sebagai remaja yang annoying. Filmnya  TOUGHT TO WATCH, tetapi karakter-karakter yang terus memberikan kita tumpangan emosi yang powerful membuat kita tidak pernah merasa cukup. Biasanya kita sudah bosan duluan melihat atau menyadari durasi film yang sampe dua jam. Buatku honestly, aku bisa menonton enam jam film dengan karakter so well-realized seperti ini.

Penampilan para aktor juga teramat heartwrenching. Bantering mereka, momen-momen emosional mereka, dan sometimes momen yang membuat kita tertawa kering, terdeliver dengan mulus dan very believable. Peran sebagai Lee Chandler definitely adalah kerja terbaik dari Casey Affleck. Tidak salah kenapa ia bisa masuk nominasi Aktor Terbaik, malah aku bisa lihat dia memenangkan penghargaan itu, berkat penampilannya yang begitu subdued. Emosinya tersirat dalam-dalam. Kata-katanya tidak mengatakan apapun soal apa yang ia rasakan, apalagi menyuruh kita untuk merasakan apa yang seharusnya disampaikan. Penampilannya lebih menekankan kepada apa yang tidak ia katakan. Kita justru membaca emosi dalam diamnya. Pergerakan kecil gestur, perubahan ekspresi wajah, hal tersebutlah yang justru meledak-ledak dari penampilan Affleck memainkan tokoh Lee.

Kesedihan yang amat mendalam membuat Lee menutup diri. Dia merasa bersalah atas apa yang terjadi. Adegan mimpinya di babak ketiga menunjukkan bahwa Lee doesn’t trust himself berada di sekitar orang lain. Bahwa dia adalah manusia yang lemah, he can’t beat it. Ada banyak scene yang mengindikasikan Lee seorang peminum berat, and he hated himself for being weak dan selalu resort ke kebiasaannya itu eventhough itulah penyebab utama tragedi masa lalunya. Itu juga sebabnya kenapa Lee despises ibu Patrick so much. Ini adalah cerita tentang seseorang yang memilih berkubang dalam kesedihan, karena terkadang selain our personal demon, hanya kesedihanlah yang kita punya.

 

Percakapan-percakapan dalam film ini ditulis dan dimainkan sedemikian rupa sehingga kita seolah sedang nguping pembicaraan orang yang sangat intens alih-alih melihat sebuah tontonan drama. Adegan menjelang akhir film di mana Lee tidak sengaja ‘reunian’ dengan Randi, mantan istrinya (Michelle Williams enggak muncul banyak, tapi she’s managed setiap penampakannya begitu berarti). Percakapan mereka perfectly menggambarkan gimana kedua orang yang berusaha move on dari hidup yang penuh luka, but deep inside they just can’t. Membuatnya semakin heartbreaking adalah tidak satupun dari mereka berdua mampu mengutarakan sesak di dada, Randi bursts apart penuh sesal sementara Lee menolak to connect with all emotions dengan nyaris berkata-kata. Ini adalah momen paling bikin terenyuh as kedua aktor bener-bener touched us lewat penyampaian mereka yang masterful.

“Kok tangannya diperban?” / “Luka.” / “Oh.”
“Kok tangannya diperban?” / “Luka.” / “Oh.”

 

Film adalah tentang kehidupan, namun tidak semua bagian kehidupan layak untuk difilmkan. You know, films tend to skip over the boring parts of the day di mana kita ngobrol basa-basi atau nanganin hal-hal biasa yang enggak signifikan. Manchester by the Sea, dalam rangka menyuguhkan drama bersubstansi semanusiawi dan senyata yang ia bisa, nekat menerobos garis pembeda antara film dengan kehidupan tersebut. Dan film ini adalah kasus langka di mana hal-hal basic itu worked dengan sangat hebat. Situasi drama dalam film ini dipancing oleh masalah sehari-hari; Lee lupa parkir mobil di mana, Lee ngurusin paperwork pemakaman, berdebat dengan Patrick yang enggak mau jasad ayahnya dimasukin ke freezer sementara menunggu salju mencair, nanganin masalah biaya kapal. Kita akan ‘dihibur’ oleh dialog-dialog sepele tapi jadi important berkat karakter dan timing mereka. Kita pun tidak lagi mempermasalahkannya karena kita begitu hooked untuk melihat apa yang terjadi kepada mereka berikutnya. Kamera menangkap remeh temeh semacam pintu mobil yang kelupaan dibuka kuncinya atau pemain yang kesusahan mengangkat roda stretcher, dan Kenneth Lonergan membiarkan hal tersebut included, menjadikan film ini lebih grounded evenmore. Semua elemen menyatu mulus, film ini bahkan tidak terasa seperti film dengan babak satu-dua-tiga yang biasa, semuanya ngalir kayak kejadian beneran gitu aja.

Yang juga menarik adalah gimana film ini menangani penceritaan backstorynya dengan cara yang tidak biasa. Kita tidak diberikan batasan jelas mana yang flashback mana yang present. Film ini tersusun atas adegan-adegan pendek dan panjnag dengan TIME SEPERTI MOSAIK RANDOM. Kadang setelah beberapa adegan, baru aku sadar sedang nonton potongan adegan yang cukup panjang dari kenangan Lee. Pembedanya cuma antara sifat Lee yang ceria dan rambut Lee yang lebih berantakan. In that way, film ini sekali lagi percaya bahwa penonton mampu memilah adegan tanpa harus dikasih tahu dengan gamblang. Penonton tidak diremehkan, kita dipercaya bisa menangkap petunjuk-petunjuk dan menyatukan elemen-elemen cerita yang terjadi. Kita dipercaya bisa memahami apa yang terjadi meskipun tidak bisa mendengar percakapan di ujung lapangan hoki, misalnya. Sehingga pada akhirnya efek emosi yang kita rasakan akan berlipat ganda.

 

 

 

Jika kalian tertarik dengan dunia akting, penampilan Casey Affleck, Michelle Williams, atau Lucas Hedges saja akan ngajarin banyak tentang performance yang sangat subdued lagi emosional. Walaupun pacingnya lumayan lambat dan tiga-puluh-menit pertama membuat kita cukup terombang-ambing, tapi ini sesungguhnya adalah film dengan penceritaan yang berani. Mempercayai kita untuk menyelam sendiri ke dalam ceritanya. Untuk kemudian dibenturkan gently oleh konflik-konflik yang timbul secara manusiawi soal grief dan vulnerablenya interaksi sosial dunia-nyata. Well directed, well-written, tragedi dan komedi adalah apa yang ditekankan oleh drama realita film ini.
The Palace of Wisdom gives 8 gold stars out of 10 for MANCHESTER BY THE SEA.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
And there are losers.

 

 

 

 

 

 

 
We? We be the judge.