Tags

, , , , , , , , , , ,

“Actions are the seed of fate deeds grow into destiny.”

 

 

Adalah prestasi yang membanggakan jika sebuah film dinanti-nanti sekuelnya lantaran para penonton sangat jatuh hati kepada karakter yang ditampilkan.  Penonton ingin melihat lebih banyak dari karakter-karakter tersebut. Seperti yang terjadi pada Filosofi Kopi (2015), perjalanan persahabatan Ben dan Jody begitu hangat dan kental sehingga dibikinlah cangkir kedua, eh maksudnya film kedua ini. And keep in mind, bahwa tadinya Filosofi Kopi berangkat dari cerita pendek. Sekarang, berkembang menjadi kedai kopi beneran, brand bisnis beneran, tak pelak – ini sudah menginspirasi banyak orang, khususnya anak-anak muda, bahwa berbisnis itu keren. Bahkan aku juga sekarang udah membuka kafe eskrim di Bandung, di mana aku nyiapin dan served people myself. Meski memang backstory buka usahaku lebih mirip seperti Max Black’s ketimbang Ben dan Jody yang kekinian.

Bisnis ada seninya. It’s not just about math ataupun sekedar statistik keuntungan-kerugian. Bisnis juga adalah soal cinta. Kita bisa belajar begitu banyak, sehingga pengembangan bisnis sejatinya adalah pengembangan diri sendiri.

 

 

Dalam sekuel inipun diceritakan kesuksesan Filosofi Kopi milik Ben dan Jody membuat menjamurnya anak muda yang bikin kedai kopi serupa. Filosofi Kopi sudah menjadi semacam legenda, “Mitos,” kata Luna Maya. Jadi bahan obrolan di antara barista-barista yang terinspirasi, kopinya jadi tolak ukur standar tinggi. The Legend now wants to return home. Bisnis roadtrip mereka enggak jalan ke mana-mana, meski memang mereka udah keliling Indonesia memasyarakatkan kopi selama dua tahun belakangan. Jadi, Ben dan Jody kembali ke kedai di Melawai. Mereka harus kembali struggle nyari investor sebab beli properti enggak murah. Dan oleh karena ini adalah film sekuel, maka harus ada ide baru dan stake harus dipergede. Sehingga Filosofi Kopi, ultimately, mengekspansi gerai kedai mereka ke kota Jogja, mereka harus ngehire orang-orang baru, dan persahabatan Ben dan Jody teraduk-aduk karenanya.

dan Luna Maya datengnya telat melulu

 

Ada dua tokoh baru yang menambah cita rasa cerita Filosofi Kopi 2. To be honest tho, aku enggak begitu mengerti dinamika cinta segi kotak di antara Ben-Tarra-Jody-Brie-Ben sebab meski memang keempat ini punya karakter, relationship mereka tidak benar-benar terflesh out dengan baik. Ben dan Jody, they are funny, kita percaya persahabatan udah mengakar kuat pada mereka. Namun saat-saat mereka berantem, mereka berpisah, mereka reunite, terasa lebih seperti tuntunan sekuens naskah ketimbang terdevelop secara natural, you know, terbentuk dari interaksi actual dan genuine di antara mereka. Padahal elemen inilah yang penting lantaran film kali ini is LESS ABOUT RUNNING A PLACE AND MORE OF A STORY ABOUT CHARACTERS.

Karakter Tarra yang diperankan oleh Luna Maya adalah investor yang aim big but really strict untuk urusan bisnis, dia gakenal orangtua dan teman kalo udah nyangkut bisnis, keopimisannya membuat Tarra cukup menarik. Tarra merupakan padanan yang pas buat Paman Gober, alias Jody. Karakter tokoh pendiem-nan-calming milik Rio Dewanto ini lebih mudah kita relasikan, as opposed to Ben. Dalam film ini tergambar jelas bahwa jika Ben adalah sosok yang kita inginkan untuk menjadi, maka Jody adalah sosok yang mewakili realita; dia adalah siapa kita turn out to be. Dan aku senang di film ini Jody dapat jatah unjuk kebolehan ‘ngegombal’ di depan cewek dalam sebuah adegan simbolik yang dihandle dengan baik.

Brie si barista baru, however, kita baru mengerti dia siapa di paruh akhir. Karakternya menarik; she was a fan, tapi dia ngabisin sebagian besar shift kerjanya dibentak-bentak oleh Ben. Namun dia punya cara tersendiri yang ia yakini dalam bikin kopi. Aku sendiri enggak pernah ngefan sama teknik cerita yang sengaja nyimpen satu karakter untuk ‘revealing’ tanpa pernah ngebuild revealing tersebut. So yea, personally, aku pikir Brie bisa menjadi sudut pandang yang (lebih) menarik sebagai tokoh utama cerita, Nadine Alexandra pun pastinya capable diberikan role ini, jika kita lihat gimana usahanya menghidupkan Brie.

Now let’s talk about Ben. Chicco Jerikho breaths in this character, udah senyawa bangetlah pokoknya. Ben adalah orang yang sangat ahli, sekaligus amat menyintai apa yang ia kerjakan. Kita sering mendapati Ben mengelus-elus alat pembuat kopi, dia memegang biji kopi dengan penuh hormat, dia memperlakukan kedai dan segala atributnya seperti anak menghartakarunkan mainan kesayangan. Maka kita paham darimana ‘trust issues’nya datang, Ben enggak segampang Jody dalam mempekerjakan barista-barista baru. Ia enggak sembarangan menerima orang. Namun kadang, sifat Ben membuat kita enggak mengerti apa motivasi dirinya, like, filosofi-filosofi yang ia berikan kepada cewek-cewek yang beli – apakah murni dari hati ataukah semacam gombalan itelijen? Di sinilah letak menariknya karakter Ben; kita enggak pasti sehingga kita selalu ingin tahu dia lebih dalam. When he’s being a jerk, kita kesel beneran. Dan ketika ia jatoh, kita bersimpati.

 

Anak kecil, katanya, tidak berdosa as dosa-dosa mereka ditanggung oleh orangtua. Ajaran agama bilang begitu. Tapi di sini, di dunia fana penuh judgment, yang terjadi adalah kebalikannya. Dosa orangtua biasanya diterus-terusin ke anaknya. Bapaknya maling, anaknya yang menanggung malu. Bapaknya jahat, anaknya yang bertanggungjawab. Dan berapa banyak dari kita yang nyalahin orangtua yang menuntut banyak, atas ketidakberanian kita mengejar mimpi sendiri? Padahal kita  bakal tumbuh menjadi apa ditentukan oleh aksi kita sendiri. Benihnya mungkin ditanam dalam pengaruh orangtua, namun tindakan kita yang menentukan bakal tumbuh menjadi apa.

 

 

Sebagai sebuah film, Filosofi Kopi 2 mampu untuk berdiri sendiri.  Semua elemen ceritanya terconclude dengan baik. Kamera sukses berat jalan-jalan menghasilkan gambar-gambar yang terlihat festive sekaligus elegan. Aku notice musiknya, padahal biasanya musik adalah aspek yang paling sering kulewatin – ketika Ben nerima telepon di sekitar tengah cerita, musik kerennya ngingetinku sama musik di A Clockwork Orange nya Stanley Kubrick. Konten budaya turut diracik larut ke dalam penceritaan. Dibandingkan film yang pertama, wilayah cerita kali ini terasa lebih luas. Bukan saja karena mereka memang ceritanya lagi ekspansi, namun juga terasa lebih gede dari segi karakter. Akan tetapi, sebagai sekuel, as in kita melihat kedua film ini dalam gambar yang lebih gede yang bersambung, pertumbuhan atau perkembangan karakternya terasa muter di situ-situ aja. Apa yang dialami oleh Ben dan Jody di film yang kedua ini, pernah mereka alami sebelumnya. Ben dan Jody berantem lagi. Ben dan orangtuanya lagi. They just reharsh the plot. Mereka bahkan memasukkan penggalan film pertama saat adegan di kebun kopi, karena film ini benar-benar mengeksplor kembali hal yang sama. They might as well masukin flashback Ben kecil dari film pertama karena dapat membuat cerita film ini bekerja lebih baik.

Tidak ada sense of discovery, Ben dan Jody tidak terasa belajar hal yang baru di sini. Tidak ada momen seperti mereka terperangah nemuin resep kopi yang enak dari seseorang yang enggak mereka expect sebelumnya kayak di film pertama. Well, di film ini ada momen ketika Ben akhirnya ngakuin kopi buatan Brie enak, hanya saja enggak cukup believable karena di poin itu cerita ngebuild up Ben yang kehilangan Jody yang udah bareng Tarra, jadi segala Ben’s accepting towards Brie itu malah jadi kayak supaya Ben punya ‘cewek’. Menjadikan film ini semacam menegasi yang pertama, iya sih di sini mereka menyebut-nyebut aspek (dan tokoh) dari film pertama, namun Filosofi Kopi 2 –menilik dari plotnya- bisa saja bekerja sebagai origin atau malah remake dari yang pertama.

Plotnya enggak efektif. Mereka sudah sangat menarik berubah menjadi kedai kombi yang jualan berkeliling Indonesia, untuk kemudian malah kembali ke Jakarta. Setelah di sana pun terusan ceritanya adalah mereka kembali ‘jalan-jalan’ ke Jogja hingga ke Toraja. Kenapa gak sekalian cerita roadtrip aja? Motivasi yang membuat Ben dan Jody pengen balik ke Jakarta juga enggak kuat, datangnya dari anak buah yang mengundurkan diri. And speaking about that, ketika mereka balik buka filkop di Jakarta, anak buah yang tadinya berhenti malah kerja lagi bareng mereka, tanpa banyak pendekatan ataupun reasoning yang berbobot emosi – I mean, what about your dreams, Aldi? (or Didi? Amdi? Sorry didn’t really catch the name).

Pace film juga sedikit bermasalah, filmnya terasa panjang. Ada banyak adegan yang melambatkan film, dan seolah-olah rela dimasukin demi kepentingan iklan produk saja. Adegan kayak Jody masukin sabun cuci muka ke dalam tas sebelum nyusul ke Jogja sebenarnya enggak berarti apa-apa. And while we at it, kakaknya Jody juga enggak ada ngaruhnya selain mercikin sedikit komedi yang nyaris cultural. Iklan orang alias cameo juga ada, dan digunakan sebagai device yang memudahkan karakter. Kayaknya setiap persahabatan bisa langsung baikan deh kalo yang nasihatinnya adalah Joko Anwar.

Here’s for the next pitch: Filosofi Kopi v.s. Starbucks !!

 

Sempat ada sayembara menulis sekuel Filosofi Kopi, dan dua cerita pemenang kompetisi itulah yang dijadikan ide buat difilmkan. Nyatanya, Filosofi Kopi 2 terlihat seperti those good ideas, the whole of them, digabungin bersama. Emosinya gak benar-benar tersampaikan lantaran film melanglang membahas banyak. Aku bukannya mau nuduh ideku ada di sana, ataupun ideku lebih bagus, karena it was absolutey ridiculus. Ceritaku involving Ben pergi ke kontes barista sedunia jadi mereka butuh nyari barista baru, hanya saja Ben enggak sembarangan nerima orang, dia gak percaya ama kopi orang, dan cerita akhirnya resolve dengan Filosofi Kopi baik-baik saja tanpa dirinya – Jody akhirnya bisa bikin kopi juga. Resolusi cerita dalam film ini, aku gak mau spoiler banyak, mirip-mirip seperti itu, hanya saja ketika Jody melakukan sesuatu, dampaknya tidak begitu wah. Dari sisi Ben, arc nya tertahan untuk bergulir lantaran Ben dan Jody not really together di akhir cerita. It does giving something new buat karakter Ben. Film akan menjadi lebih menarik jika bagian ini datang lebih cepat, dibuild up dengan lebih matang, alih-alih menghabiskan paruh awal dengan mondar-mandir berusaha mengestablish set up yang sebenarnya toh sudah ada sejak film pertama.

 

 

 

Jika dulu masalahnya ada di rasa – penggarapan cerita Filosofi Kopi pertama enggak terasa begitu berbeda di luar tema dan premisnya, maka kali ini masalah terletak pada bahan kopi. Tapi jangan salahkan film originalnya jika sekuel enggak bisa untuk tampil lebih baik. Still, ‘kopi’ ini kemasannya mewah. Trendi. Membuatnya gampang untuk disukai. Dan orang-orang akan banyak suka ama film ini, terutama karena karakter-karakternya yang asik banget dijadiin role model. Regarding film ini, aku punya filosofi sendiri. Filosofi Piring Kopi; Dulu waktu kecil, aku selalu disaranin minum kopi di piring datar kecil yang jadi tatakan karena aku selalu membakar lidahku sendiri minum kopi yang panas. Film ini adalah piring itu, kopi atau cerita yang dituang di atasnya dengan cepat menjadi dingin, dan berkuranglah kenikmatannya.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 for FILOSOFI KOPI 2: BEN & JODY.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

Advertisements