Tags

, , , , , , , , , , ,

“Blaming others is nothing more than excusing yourself.”

 

 

Samuel L. Jackson adalah pembunuh bayaran ternama yang kemampuan dan kelihaiannya membunuh orang-orang dunia hitam tidak perlu diragukan lagi. Ryan Reynolds adalah bodyguard kelas kakap (Level Top-A, seperti yang biasa ia ingatkan kepada dirinya sendiri) yang selalu sukses mengawal bos-bos berkantong tebel. Dan The Hitman’s Bodyguard adalah komedi aksi dengan gimmick klasik yang berhasil dieksekusi dengan baik; Alih-alih diadu, Jackson’s Kincaid malah dipasangkan dengan Reynolds’ Bryce dalam sebuah misi escort di mana si bodyguard harus mengawal si hitman – sepanjang jalan mereka diberondong peluru – memastikan Kincaid sampe dengan selamat di pengadilan sehingga dia bisa memberikan kesaksian untuk memenjarakan seorang diktator kejam yang dimainkan oleh Gary Oldman.

Mana pekerjaan yang lebih mulia; membunuhi orang-orang jahat atau malah melindungi mereka. In a way, konsep film ini mirip dengan Death Note (2017). Apakah kita punya kuasa untuk menegakkan hukum sendiri, atau memang lebih baik membiarkan hukum dan segala prosedurnya mendirikan kebenaran.

 

Practically, The Hitman’s Bodyguard adalah REYNOLDS DAN JACKSON SHOW. Chemistry komedi kedua aktor kawakan ini luar biasa natural. Menghibur sekali melihat Bryce dan Kincaid saling ‘menghina’. Ryan Reynolds tampil prima, perannya di sini lebih sebagai reactor dari tek-tok komedi mereka. Samuel L. Jackson, however, seperti all-around player dan jika Goku di Dragon Ball punya wujud Super Saiya, maka Jackson dalam film sudah total dalam wujud ‘motherf*cker’ yang benar-benar entertaining dan tak-terkalahkan. Aku paling ngakak di adegan Kincaid bernyanyi di dalam mobil, and it’s pissing Bryce off, sehingga Bryce juga tau-tau nyanyiin lagu I Saw the Signnya Ace of Base. Momen yang sangat kocak. Tipisnya penokohan masing-masing terbukti bukan alasan buat mereka untuk gak tampil maksimal. Terutama bagi Ryan Reynolds, yang tampaknya either masih belum cukup dengan Deadpool atau gak mau kalah sama Ryan satu lagi yang sukses dengan komedi aksi The Nice Guys (2016), dan ingin ngepush komedik deliverynya lebih jauh lagi. Jackson dan Reynolds terlihat seperti memainkan diri mereka sendiri dalam tone yang komikal, dan inilah yang membuat cerita lawan-jadi-teman mereka begitu menarik perhatian.

you give motherf*cker a bad name

 

 

Akan ada banyak adegan kejar-kejaran. Kincaid dan Bryce entah berapa kali diudak-udak sambil terus ditembaki. Banyak dari adegan tersebut akan membuat kita melupakan sejenak bahwa ini adalah cerita yang nyaris dua jam. Dan sebagian besar sebabnya adalah arahan yang diberikan oleh Patrick Hughes. Dibandingkan dengan saat menangani aksi dalam The Expendables 3 (2014), sekuens aksi Hughes mengalami banyak peningkatan. Ketergantungan terhadap CGI ia kurangi sedikit, sehingga membuat kejadian-kejadian dalam film ini lebih mudah dipercaya. Walau tetap saja fairly ridiculous dengan jumlah ledakan. Tapi paling enggak, kali ini setiap bagian aksi diedit dengan leboh baik. Menjelang babak ketiga, ada sekuen aksi yang hebat ketika Bryce harus berhadapan satu lawan satu dengan salah satu orang suruhan Gary Oldman. Bryce harus menggunakan berbagai macam benda yang bisa ia temukan dalam toko peralatan bangunan tersebut, seperti aksi-aksi pada film Jacky Chan. It was a lot of fun, sama seperti kata yang kita gunakan untuk menggambarkan film ini secara keseluruhan.

Ketika kita berpikir kita sudah mengusahakan sebaik mungkin apa yang bisa kita upayakan, kita sudah memperhitungkan segala kemungkinan gagal dan sebagainya, kita sudah mempersiapk diri. Kita kira kita sudah memikirkan semua, dan sesuatu yang kita usahakan tersebut turns out gagal karena ada satu hal di luar perkiraan, maka kita akan kecewa bukan kepalang. Ngamuk, bahkan lebih parah, kita bisa depresi. Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang insecure, jadi kita ingin meyakinkan diri bahwa kita sudah memegang kendali. Makanya, sesuatu kegagalan yang di luar perkiraan, akan membuat kita ingin ada yang dipersalahkan. Tapi kita tidak akan menyalahkan diri sendiri, kita terlalu bangga atas diri. Kita berbalik menyalahkan orang lain.

 

Nyaris di setiap kesempatan, film ini akan berbelok ke arah kekonyolan. Hal terbaik yang datang dari sana adalah Salma Hayek yang berperan singkat sebagai istri Kincaid. Tokoh ini dipenjara terpisah, dan ia jadi motivasi dari tindakan ‘baik’ yang dilakukan oleh Kincaid. Sendirinya, tokoh Salma Hayek ini bersikeras enggak bersalah, namun jika kita lihat sikapnya yang ngebos, terlebih di adegan flashback ketika Kincaid bercerita tentang bagaimana dia pertama kali bertemu dengan sang Istri, kita tahu lebih baik bahwa mestinya cewek ini memang dipenjara. Naskah selalu menemukan cara untuk ngebanyol dengan apa yang dilakukan oeh tokoh ini. I mean, the stuff they do with her character, maannn.. sehingga meskipun screentimenya memang gak banyak, Salma Hayek sukses berat mencuri perhatian. Dan menurutku, adalah keputusan yang baik untuk enggak sering-sering amat resorting ke tokoh ini, lantaran she’s actually sangat kocak tapi bakal jadi annoying jika kebanyakan.

relationship Kincaid dan istrinya membuktikan bahwa benar, love hurts. Menyakiti orang lain, tepatnya

 

Terutama jika kita melihat gambar besar keseluruhan cerita. The Hitman’s Bodyguard pada lapisan terluarnya bicara tentang kasus otoritas penguasa, di mana tokoh yang diperankan oleh Gary Oldman didakwa sudah membunuh warga negaranya sendiri. Seharusnya ini adalah tema yang sangat kelam. Namun narasinya berkembang dalam arahan yang hilarious. Ini membuat film terasa enggak imbang. Kit akan terombang ambing antara komedi absurd ke action yang enggak kalah absurdnya, terus ke elemen yang lebih kelam ketika film membahas topik penjahat utama. Rasanya enggak klop aja. Kasus yang mereka tangani itu terlihat berada di ranah yang berbeda dengan aspek-aspek film yang lain. Gary Oldman memainkan penjahat klasik yang kayak ditarik dari film action yang lain. Beneran deh, lima-belas menit terakhir film, yang bagian courtroom itu, lebih terasa kayak extended ending dibandingkan konklusi beneran. Seolah ada dua penyelesaian; aksi dan komedi yang ringan dan plot tragis soal racial dan politik. Dan penulisan antara kedua aspek itu enggak pernah benar-benar seimbang.

 

 

 

Perfectly enjoyable action comedy. Kali ini kerja sutradara bagus banget mengarahkan bagian aksi sehingga kita enjoy menonton ini. Komedinya yang konyol namun kocak juga bekerja dengan baik, para aktor ngedeliver line dan timing mereka tanpa cela. Fokusnya ada di hubungan yang terjalin antara dua karakter yamg berlawanan dan aksi kejar-kejar yang dibikin sebelievable mungkin. Penulisan ceritanyalah yang sedikit tidak berimbang. Tapi sepertinya, hal tersebut tidak akan menjadi masalah buat sebagian besar penonton.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for THE HITMAN’S BODYGUARD.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

Advertisements