Tags

, , , , , , , , , , , , ,

“… you fall in love with love itself because it touches places that nothing else has before.”

 

 

Bayangkan ada dua buah kereta api yang berjalan barengan dari stasiun. Mereka melaju dengan rel yang saling paralel, saling sejajar. Ketika yang satu berbelok, maka yang lain juga ikut berbelok. Kau adalah penumpang yang pernah naik di salah satunya, dan sekarang kau memilih naik kereta yang lainnya. Tentu saja, apa yang kau alami di kereta yang sekarang akan mengingatkanmu ketika pertama kali naik kereta yang lain. Begitulah penceritaan film Arini. Editingnya yang precise membuat kita berpindah-pindah di antara dua kereta, tanpa sekalipun kita terlepas ketinggalan emosi. Dua kereta itu bernama Kereta Masa Lalu dan Kereta Masa Kini. Dan kau yang duduk tadi, kau adalah Arini. Cewek tiga-puluh-delapan tahun yang tak bisa menghindari masa lalunya ketika ia duduk menumpang kereta api yang jaraknya beribu kilo dari kereta api yang telah menghantarkannya dalam sebuah perjalanan traumatis dalam hidup.

Cerita terus terbangun, apa yang ditemui Arini dalam keretanya yang sekarang, membuatnya teringat akan masa lalu, dan semua itu diceritakan dengan paralel. Ketika Arini diajak kenalan sama berondong, dia membawa kita melihat masa ketika ia dijodohin sama mantan suaminya. Ketika si Berondong Nekat ngajak Arini jalan, Arini mengenang saat-saat dia berbulan madu. Dan editing seperti ini membuat sebuah pengalaman menonton yang mengcengkeram erat Kita tahu ada yang gak beres dengan masa lalu Arini, kita penasaran ingin tahu kenapa Arini yang kini bersikap begitu jutek. Film berhasil membenturkan dua versi Arini lewat bahasa visual yang bahkan tidak perlu menjelaskan mana yang terjadi di waktu sekarang, mana yang kejadian di ingatan.  Dari rambut Arini saja, aku suka treatment khusus yang dilakukan oleh film ini. Rambut diikat, sebagai kontras dari rambut yang tergerai itu saja sudah menambah kedalaman lapisan buat tokoh Arini. Gimana dia yang dulu mau membantu mengangkat koper orang, sedangkan Arini yang sekarang diminta bantuan ngetuk kaca jendela saja ogah luar biasa.

film ini akan ngasih tahu sebab kenapa kita seharusnya tidak sekalipun mengaktifkan speaker saat menelfon.

 

Perspektif Arini adalah poin menarik yang jadi fokus pada film ini. Konteksnya adalah Arini enggak siap ditabrak oleh kereta cinta yang baru. Oleh cerita, Arini dipertemukan dengan Nick, mahasiswa berusia dua-puluh-tiga tahun yang seketika jatuh cinta dan terus menempel Arini. Gol utama cerita adalah menjawab pertanyaan akankah Arini dapat mengenali atau menerima cinta lagi setelah kejadian horrible yang ia lalui di masa lalu. Masalah Arini ini berakar kepada kepercayaan; orang yang ia kenal dibentrokkan dengan orang yang sama sekali asing baginya. Arini tidak tahu siapa Nick. Dia anak mana, hidupnya bagaimana, seujug-ujug mereka kenalan (itu juga Nicknya maksa), dan sejak saat itu Nick selalu hadir di kehidupan Arini – diminta atau tidak. Dan karena cerita ini mengambil sudut pandang Arini, kita juga hanya tahu apa yang Arini tahu – kita tidak diberikan back story siapa Nick. Keasingan tokoh Nick adalah elemen penting buat cerita. Menyebabkan film ini sedari menit awal sudah terjun mengambil resiko. Karena, ya, kekurangan cerita latar – terlebih untuk kisah romansa dua insan manusia – itu bukan resep membuat film yang bagus.

Cinta adalah belajar mengenal orang asing dengan lebih dalam. Semua orang adalah asing bagi kita, sampai kita membuka diri untuk mengenal mereka. Buat sebagian orang, hal tersebut bisa menjadi pengalaman yang menakutkan. Makanya hal itu juga berlaku sebaliknya. Orang yang kita cintai dapat dengan cepat kembali menjadi orang asing jika kita sudah terluka dan menutup diri kepadanya.

 

 

Tentu saja, Nick adalah tokoh yang sangat gampang untuk disukai. Dia ceria, jenaka, penuh semangat hidup. Muda pula. Terlebih jika tokoh utama yang kita punya adalah cewek dewasa yang cembetut melulu, dia begitu pesimis dia menyebut dirinya nenek-nenek. Bentrokan antara sifat dan karakter mereka pun tak pelak menghasilkan tukar-menukar kata yang menarik, yang manis. Tengok saja usaha Nick untuk membuat Arini tersenyum. Penonton cewek pasti meleleh ke lantai dibuatnya. Mungkin juga ada yang geregetan. ‘Dinding’ yang dibuat oleh Arini memang kerasa, beberapa bisa saja menafsirkan ini sebagai kekurangan chemistry antara Aura Kasih dengan Morgan Oey, tapi buatku ini adalah hasil dari permainan emosi yang genuine dari dua pemeran. Aura Kasih di sini bermain meyakinkan sebagai orang yang sangat tertekan, dia juga begitu tertutup, kelihatan jelas dia rapuh tapi berusaha untuk kuat. Bukan hanya itu, actually Aura Kasih dituntut untuk menampilkan emosi yang berentang jauh – Arini yang ia perankan udah kayak dua orang yang berbeda sifat, dan bukan hanya tepat di dua-dua tone emosinya, Kasih juga sukses ngedeliver di momen-momen transisi karakter Arini. Nick, sebaliknya, keseluruhan film ini bisa berganti menjadi menyeramkan jika tuas karakter Nick salah senggol sedikit aja. Dan untuk itu, aku kagum juga banyak yang mengoverlook Nick sebagai karakter yang creepy, aku pikir kharisma Morgan Oey cukup berpengaruh di sini.

Ketika Dilan tahu nomor telepon dan alamat rumah Milea, kita dengan enggak banyak pikir, bisa langsung mengasumsikan dia mungkin bertanya kepada teman-teman sekelas yang lain. Dalam film Arini, walaupun Nick sudah mengakui dan menjelaskan darimana dia tahu tempat tinggal Arini, meskipun kita sudah tahu kepentingan Nick dibuat sebagai orang yang begitu asing, tetap saja terasa ada sesuatu yang off. Maksudku, gimana bisa kita mempercayai Nick? Darimana kita tahu kalo kejadian di pembuka film – yang dia minta tolong Arini kabur dari kondektur kereta – bukan bagian dari modusnya untuk kenalan sama Arini? Gimana kalo ternyata dia udah nguntit dan ngincer Arini dari sebelum film dimulai, coba? Sinopsis resmi film ini menyebutkan Nick jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Arini, namun cerita actual film tidak membuatnya tampak demikian. Melihat Arini yang begitu dingin terhadapnya, dugaan bahwa jangan-jangan Nick jadi jatuh cinta karena penasaran terus dicuekin  itu masih sering bersarang di kepala kita. I think, backstory bisa saja sengaja enggak dibeberkan, akan tetapi alasan kenapa Nick ngebet sama Arini tetap harus dijelaskan. Makanya, adegan Arini menampar Nick itu harusnya masih bisa terasa lebih kuat lagi; kita mengerti Arini, tapi kita enggak ngerti Nick.

“stop being so mean to me, or I swear to God I’m gonna fall in love with you”

 

Film sepertinya memang tidak malu-malu menunjukkan bahwa mungkin saja mereka hanya tergerak oleh nafsu. Bahkan ada indikasi tokoh film ini enggak benar-benar belajar; eventually, aku akan bahas ini di bawah. Right now, aku mau menyinggung salah satu elemen yang hilang sehubungan dengan tokoh Nick. Yakni tidak adanya konsekuensi. Inilah yang menyebabkan film ini terasa ‘salah’. Ada banyak tindakan Nick yang termaafkan begitu saja, yang lagi-lagi merugikan buat Nick. Alih-alih tokoh pasangan, Nick seperti lebih kepada sebuah tokoh yang jadi alat semata bagi perkembangan Arini. Arini butuh Nick untuk belajar bagaimana kembali membuka hati dan membiarkan cinta masuk ke dalam hidupnya. Arini butuh Nick untuk berani mengonfrontasi masa lalu. Kita dapat melihat gimana Arini ada rasa sama Nick. Believe me, I know. Nick basically ngancem nunggu di depan pintu apartemen dan gak kena ganjaran apa-apa. Aku pernah nekat juga nungguin di pintu depan apartemen orang, dan belum genap dua jam aku udah dipanggilin satpam.

Maka dari itu, sejatinya Arini bukanlah film romansa, setidaknya bukan antara cowok dan cewek. Melainkan adalah tentang cinta antara seorang wanita dengan cinta itu sendiri

 

 

Nick sempet kesel Arini selalu mengungkit masalah jarak umur mereka. Umur mereka terpaut literally satu orang Dilan. Dan untuk urusan umur ini, aku setuju sama Nick. Kenapa sih film membuat mereka berbeda umur begitu jauh? Tidak seperti keasingan Nick yang kita paham signifikannya terhadap cerita, perbedaan umur Arini dan Nick tidak tampak menambah banyak bagi perkembangan karakter Arini. Pun tidak terasa paralel dengan elemen Arini yang takut untuk jatuh cinta kembali. Selain digunakan untuk lucu-lucuan ‘tante dengan keponakan’, hanya ada satu adegan yang mengangkat masalah ini ke permukaan, yaitu saat adegan makan malam dengan keluarga Nick. Actually aku berpikir cukup keras perihal umur ini, masa iya sih umur mereka dibuat jauh cuma supaya Arini ada alasan nolak Nick. Apa sih yang ingin dicapai cerita dengan membuat mereka berbeda usia dengan jauh, meski 23 dengan 38 itu juga enggak ekstrim-ekstrim amat. The best that I can come up with adalah mungkin film ingin menegaskan bahwa Arini kehilangan cinta dan dirinya saat ia kehilangan anaknya. Maka ia menemukan kembali apa yang hilang dari dirinya saat ada anak yang menemukannya…? Emm… yah anggap saja begitu dah.

 

 

 

Cerita berjalan mantap sesuai pada rel konteksnya. Ada eksposisi di akhir yang menerangkan jawaban-jawaban pada plot seolah kita tidak bisa menyimpulkan sendiri, toh film ini akan tetap terasa menyenangkan karena formula tokoh dan hubungan mereka yang benar-benar likeable. Tapinya lagi, at the end of the track, tokoh utama film ini tidak belajar dari masa lalu. Dia tetap jatuh ke orang yang tak ia kenal sama sekali sebelumnya, tanpa ada usaha untuk mengenal orang tersebut. Di masa lalu, ia menikah dengan orang yang dijodohkan oleh sahabatnya. Di masa kini, ia jatuh cinta dengan stranger di kereta, malahan ada satu adegan ia pengen mangkir dari pertemuan dengan keluarga pacarnya. Film ini menyatukan masa lalu dan masa kini dengan mulus, hanya saja tidak berhasil melakukan hal yang serupa terhadap dua gerbong aspek ceritanya. Karena memang tricky untuk disatukan; di satu sisi ada romansa, satunya lagi ada kepentingan untuk membuat pasangannya dibiarkan tak banyak dibahas. Aku jadi penasaran sama materi asli cerita ini (novel dan film jadulnya), jangan-jangan di cerita aslinya Nick dan beda umur itu memang cuma device saja namun film adaptasi ini memutuskan unuk menjadikannya sebagai vocal point.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for ARINI.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

Advertisements