Tags

, , , , , , , , , , ,

“Imagine all the people sharing all the world”

 

 

Sebelum John Lennon membayangkan gimana indahnya dunia tanpa possessions, ayah dari Onggy Hianata sudah menjalani hidup tanpa ada batasan di Tarakan; Beliau adalah keturunan Tionghoa yang begitu peduli kepada tanah tempat ia berpijak, Indonesia. Dia bahkan mengerti bahasa-bahasa daerah lebih daripada penghuni lokal sendiri. Bayangkan seorang Cina yang rela menutup toko demi mendamaikan pertikaian dua orang pribumi. Bukannya mau stereotipe, namun itu big deal banget loh. Betapa menunjukkan prioritas seseorang sebagai warga negara.  Karena begitulah ayah Onggy melihat dunia. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Sementara di sekitarnya berita pembatasan hak warga asing, khususnya Cina, terdengar semakin marak. Ayah Onggy terbang bebas tanpa batasan negara

Selain hidup tanpa ada yang punya, ayah Onggy basically gak punya apa-apa dalam hidup. Keluarga Onggy miskin. Keluarga besar mereka, they only have each other. Mereka tinggal di negara yang bukan negara keturunan mereka. Mereka bahkan orang Cina yang enggak punya toko sendiri. Dan ini adalah bentuk kebebasan yang berbeda yang ingin dicari oleh Onggy sendiri. Sepeninggal ayahnya, Onggy yang waktu mau masuk SD aja susah kehalang biaya, memutuskan untuk pergi merantau. Terbang ke Surabaya demi hidup yang lebih baik. Untuknya, dan untuk seluruh anggota keluarga. Tapi sekali lagi, di atas usaha yang benar-benar ia mulai dari nol, sangkar yang mengungkung Onggy bukanlah sangkar yang kecil. Masa Orde Baru yang menjadi panggung perjalanan kehidupannya menawarkan banyak halangan buat warga keturunan seperti Onggy dan saudara-saudaranya.

Saat itu, Onggy memang masih satu orang pemimpi. Namun, film menunjukkan masih banyak bantuan yang datang kepada Onggy dari orang-orang tak terduga. Karena sesungguhnya bukan dia seorang diri saja yang menginginkan hidup yang damai, yang tidak melihat pada batas-batasan sesepele asal muasal, darah, golongan. Kita berada di bawah langit yang sama, dan atas sanalah yang seharusnya kita lihat. Seperti Onggy. Dan kini, dia adalah salah satu dari sedikit orang yang berhasil mewujudkan mimpinya.

 

penceritaannya mengingatkanku pada film-film Studio Ghibli; berhasil mencampur rasa

 

 

Penceritaan film ini membagi drama kehidupan Onggy ke dalam tiga episode. Saat dia masih remaja di Tarakan, saat dia mulai berusaha membangun usaha dan hidup mandiri di Surabaya, dan ketika dia mengarungi kehidupan rumah tangga beserta sang istri di Jakarta. Setiap babak tersebut adalah perjuangan, kita akan lihat hidup enggak gampang bagi Onggy. Kakaknya sendiri malah terang-terangan bilang “kamu gak capek gagal terus?”. Tapi ini bukan cerita motivasi jika enggak menampilkan karakter yang jatuh berulang kali, dan setiap jatuh tersebut dia bangkit terus menerus. Arahan dari Fajar Nugros membuat setiap kegagalan menguar oleh, bukan semata drama yang bikin kita kasihan terhadap tokohnya, melainkan juga oleh api semangat yang terus berkobar. Melihat adegan-adegan sedih di film ini literally seperti melihat api yang semakin mengecil dan kita berdoa di dalam hati supaya apinya kembali menyala. Kita tidak ingin menangis karena air mata akan membuat api tersebut padam.

Lihat saja, degan ketika Onggy rugi besar setelah jualan kerupuknya, yang ia modali dengan seluruh tabungannya, kandas karena toko yang menjual kerupuk itu bangkrut dan membawa pergi jatah keringat Onggy. Tentu, kita melihat Onggy nangis sambil makanin kerupuk-kerupuk yang tersisa, tapi ada perasaan lain yang aku rasakan ketika melihat adegan ini, yang lebih powerful dari sekedar tangisan drama. It was a realization bahwa perjuangan tidak akan berakhir dengan segampang yang kita mau. Kerugian hanyalah tahapan yang harus dilalui sebelum kita mengenal bahagianya keberhasilan. Nugros berhasil menangkap ini, membawa kita naik turun dalam perjalanan karir bisnis Onggy.

enggak kurang nasionalis kan ya, aku mengerti bahasa daerah di film ini hanya karena ada subtitle bahasa inggrisnya?

 

 

Tapi film Terbang bukan lantas adalah sebuah film yang berat. Selain pelajaran ber-Bhinneka Tunggal Ika yang bisa kita petik, film juga bermuatan komedi. Film ini punya banyak karakter pendukung yang menarik. Dayu Wijanto yang mendapat peran sebagai ibu kost saat Onggy muda merantau ke Surabaya menyebutkan hampir semua adegan lucu film ini tidak tercantum di dalam naskah, alias improvisasi dari Sutradara. “Adegan favorit saya adalah adegan ‘pintu’”, kenang Bu Dayu yang penampilan kecilnya di film-film selalu memberikan kesan yang besar. Warna cerita yang hangat dan menyerempet lucu ini datang lewat interaksi Onggy dengan tokoh-tokoh yang lain. Penampilan akting mereka pun seragam bagusnya sehingga setiap dari mereka meninggalkan impresi yang berarti. Yang membuat kita sadar akan ketidakmunculan mereka. Dion Wiyoko menunjukkan dia mampu memainkan tokoh dengan rentang emosi yang jauh lewat peran Onggy. Menurut Dion sendiri, kerja yang ia lakukan haruslah maksimal, karena di film ini dia berperan menjadi banyak – jadi anak, jadi anak kost, jadi suami, jadi pria “chemistry-nya harus klik”, pungkasnya.

Namun terkadang, perkembangan tokoh Onggy memang terasa sedikit mengawang. Misalnya ketika ‘pemulihan’ Onggy dari usaha kerupuk yang bangkrut ke bekerja di perusahaan yang tidak diperlihatkan. Sehingga kita merasa tertinggal, ada bagian dari karakter Onggy yang kita lompati. Dan kemudian dia menikah, hubungan asmara yang ditampilkan singkat itu sukurnya masih mampu terasa manis dan kocak. Wiyoko dan Laura Basuki punya chemistry yang meyakinkan. Laura menyampaikan setiap dialognya dengan emosi yang pas, tidak berlebihan, tapi sangat mengena. Namun sekali lagi, lompat-lompat adegan membuat aliran cerita terputus-putus. Istri Onggy bisa tampak tiba-tiba marah, dan di adegan berikutnya mereka tampak biasa saja, seolah masalah yang dibahas tadi sudah dipecahkan dan kita tidak tahu bagaimana mereka memecahkannya.

Menyapa Bandung di acara Car Free Day, Minggu pagi 22 April, tampak Sutradara Fajar Nugros bersama Dion Wiyoko dan Dayu Wijanto tak kalah semangat juang.

 

Fajar Nugros menyebutkan salah satu kesulitan dalam menggarap period piece seperti film ini adalah mencari lokasi dan bangunan-bangunan bersejarah yang masih ‘asli’. Karena kebanyakan tempat-tempat semacam itu kini sudah ‘beralih fungsi’. Jadi mereka kebanyakan mesti membuat set sendiri, mereka-reka suasana tahun yang diinginkan, dan memastikan semua objek berada pada ‘waktu’ mereka seharusnya berada. On screen, Terbang layak mendapat panggilan film yang berani karena walaupun film ini membentang dari periode tahun, juga tempat, yang berbeda, kita tidak akan melihat tulisan yang menunjukkan tahun ataupun lokasi. Film mempercayai pemahaman penonton, lantaran mereka tahu persis mereka sudah menyiptakan ‘panggung’ yang benar.

Sutradara, para pemeran, dan cerita-cerita seru mereka

 

 

Dari sekian banyak jatuh bangun yang dialami Onggy yang diceritakan dengan lengkap, film malah meninggalkan bagian terpenting yang terjadi di dalam hidup Onggy. Ketika dia kepikiran untuk jadi distributor apel buat bayar uang kos dan biaya kuliah, kita diperlihatkan dari mana ide tersebut  berasal. Pun ketika dia mencoba jualan jagung bakar, kita melihat awal dan akhir dari usahanya tersebut. Kita juga akan sering dibawa mundur ke ingatan Onggy terhadap ayahnya, karena dari ‘kesalahan’ dan nasihat Beliaulah terutama Onggy melandaskan perjuangan hidupnya. Kita paham tantangan dan apa yang ia pelajari dari sana. Namun, ketika membahas bagaimana Onggy bisa menjadi motivator, well, film tidak benar-benar membahas bagian ini. Aneh memang, terutama jika ada yang orang tahu dari Onggy Hianata, maka itu adalah bahwa dia adalah seorang motivator sukses kelas internasional.

Jika ada film yang menjadikan Onggy Hianata sebagai tokoh utama, maka kita akan berpikir film tersebut pastilah membahas kenapa dia bisa menjadi motivator yang begitu sukses. Tapi film ini melewatkan bagian itu. Kita tidak pernah melihat Onggy sebagai seorang yang ‘pintar bicara’ sedari kecil. Tidak ada build up ke bagian ini. Satu-satunya pengalaman Onggy mengenai bicara di depan orang banyak adalah ketika dia melihat orang gila yang suka pidato di sekitar kampusnya. Mestinya cerita bisa dikaitkan dari sini, tapi enggak, dan tahu-tahu Onggy sudah bekerja sebagai motivator setelah mencoba MLM. Memang, kita diperlihatkan pada mulanya tidak banyak yang datang ke kelas Onggy, dan secara perlahan jumlah pesertanya meningkat dari setiap kelas ke kelas lain untuk memperlihatkan Onggy benar-benar jago di bidang kerjaannya ini. Tetapi kita hanya tahu sedikit sekali dari kerjaannya yang membuatnya ternama tersebut. Kita bahkan tidak tahu siapa yang mengontraknya, siapa yang memberinya gaji, atau malah berapa gajinya.

Sepertinya memang hal tersebut adalah efek samping yang timbul jika kita menghadirkan kisah dengan rentang waktu yang sangat panjang. Cerita Terbang: Menembus Langit melayang saja dari titik satu ke titik lain. Tokoh utamanya bertemu banyak orang, untuk kemudian ditinggalkan, dan move on ke episode perjuangan berikutnya. Tapi, begitulah hidup, bukan. Kita kenalan sama orang, beberapa dari mereka tinggal, beberapa lagi mungkin tidak kita dengar kabarnya lagi.

 

 

Film ini diniatkan sebagai kisah perjuangan dan kerja keras hidup yang bisa menginspirasi banyak orang, bahwa kegagalan dan rintangan itu bukan untuk menahan kita tetap di bawah, melainkan sebagai pegas yang kita gunakan untuk terbang. Makanya, film menekankan kepada begitu banyak kegagalan dan kebangkitan kembali tokohnya. Melalui penulisan dialog dan tokoh-tokoh yang mudah direlasikan dan akrab, film juga ingin memasukkan elemen persatuan dalam keseragaman, sayangnya tidak begitu berhasil tersampaikan dengan mulus sehingga kadang pesan-pesan Bhinneka Tunggal Ika tersebut terasa dijejelin ke tenggorokan kita. Blatant and very obvious. Desain produksinya meyakinkan banget sih, salah satu period piece yang well-realized. Film ini semestinya berupa kisah sehari-hari Onggy dalam mengarungi hidup sebagai minoritas saat Orde Baru, kita seharusnya terhanyut begitu saja di dalam cerita, tapi cukup sering rasa episodik itu hadir, dan membuat kita terloncat-loncat dalam mengikuti perjalanannya.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for TERBANG: MENEMBUS BATAS.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

Advertisements