Tags

, , , , , , , , , , , ,

“Revenge is the single most satisfying feeling in the world”

 

 

Apa yang rasanya manis dan berwarna merah, tapi bukan apel? Balas dendam jawabannya.

Sebagian besar dari kita pasti pernah memikirkan skenario membalas budi jahat yang seseorang lakukan kepada kita – setidaknya untuk beberapa menit. Kita berfantasi gedein otot untuk memukul rata hidung mancung yang telah merebut cewek demenan. Kita membayangkan hidup sukses, kemudian membeli perusahaan dan memecat si bos sok galak, di depan seluruh karyawan. Kita mengarang cerita-cerita dahsyat seputar keinginan untuk menggetok orang-orang yang sudah memperlakukan kita salah. Dan kita puas karenanya. Balas dendam, bagi sebagian besar orang, dilampiaskan dalam bentuk cerita, karena kita lebih memilih untuk move on dengan kehidupan kita. Makanya, cerita-cerita tentang balas dendam selalu adalah cerita yang digemari, dari Hamlet ke Carrie, ke Gone Girl. Dan sekarang estafetnya berlanjut ke Revenge; thriller sadis buatan sutradara baru asal Perancis, Coralie Fargeat.

Revenge ini bagaikan hidangan dingin yang disajikan Fargeat demi menjawab isu kesetaraan wanita berkaitan dengan pelecehan dan berbagai tindak injustice terhadap cewek. Ceritanya tentang Jen (salut buat Matilda Lutz yang memainkan adegan-adegan intens nan fisikal) yang lagi menghabiskan waktu romantis bersama pacarnya yang kaya di rumah gede di tengah-tengah entah di mana. Kalian ingat kampanye baru-baru ini soal pemerkosaan bukan semata disebabkan oleh baju yang dipake oleh korban? Well, yea, yang jelas, baju adalah salah satu roda gigi dalam perkara yang terjadi pada Jen. Tidak mengharapkan bakal ada orang lain di sana, Jen tampaknya hanya ngepack baju-baju minim. Membuat dua orang teman cowoknya yang kebetulan berkunjung menelan ludah berkali-kali. Keramahan dan sikap playfulnya tentu saja ditangkap dengan makna berbeda lantaran Jen melakukannya dengan pakaian yang lebih banyak kebuka ketimbang tertutup. Tak ayal, Jen diperkosa. Pacarnya pun ternyata bukan pangeran berkuda putih. Khawatir akan ancaman Jen mengadu kepada sang istri, cowok Jen yang sudah berkeluarga ini malah berusaha mengenyahkan Jen selamanya. Usaha mereka gagal. Malang bagi mereka sih, karena Jen bukan termasuk dari sebagian orang yang suka berfantasi soal balas dendam. Jen adalah sebagian lagi yang tidak puas sebelum darah dibayar dengan darah.

gambaran telak bagaimana cewek masih dianggap disposable oleh cowok

 

 

Pertanyaan berikutnya:

Tau gak, perbedaan antara hukuman ama balas dendam alias main hakim sendiri?

 

Hukuman pada dasarnya diberikan sebagai ganjaran agar pelaku jera, supaya mereka bisa mengambil pelajaran dari apa yang sudah mereka lakukan. Pekerjaan menghukum ini adalah pekerjaan terhormat, diberikan kepada yang berwenang. Sedangkan, main hakim sendiri dalam rangka balas dendam enggak punya tujuan semulia itu. Balas dendam adalah supaya pelaku menderita sebesar-besarnya. Supaya mereka merasakan sakit dan perih dan terhina yang kita rasakan, bahkan lebih besar lagi. Inilah yang dicari oleh Jen. Ini jualah yang ingin direkam oleh kamera Fargeat. Menghasilkan sebuah film yang demikian sadis aku berulang kali menyipitkan mata tatkala menonton film ini. Enggak ada yang ditahan-tahan, semua kekerasan dan luka-luka yang terpikirkan oleh pembuat film diwujudkan ke ujung hidung kita. Layar yang seketika penuh warna warni, dengan setting rumah yang mulus bersih seketika menjadi padang tandus berbatu, bersimbah merah.

Transformasi Jen digambarkan dengan begitu drastis. Pada menit-menit awal cerita, film memperkenalkan kita kepada tokoh yang  holywood banget. Helikopter yang tadinya berupa titik, kemudian mendekat. Kemudian turunlah penumpangnya; pria macho kaya dan cewek pirang berkacamata hitam, sambil ngemut lollipop. Di titik ini, kita melihat Jen benar-benar sebagai cewek muda yang kerjaannya godain laki-laki. Biar kekinian, kita boleh menyebutnya pelakor. Kamera dengan lincahnya memposisikan mata kita pada pinggang Jen yang mengenakan rok pendek yang kian melambai seolah mengundang pria-pria asing yang tak dikenalnya mendekat. Tapi tak pernah diperlihatkan lebih daripada itu, kamera dan sudut pengambilannya dibuat seolah menantang kita untuk berpikir macem-macem padahal kita mengerti Jen tidak benar-benar berniat melakukan lebih jauh dari sekadar flirt canda-candaan.

Setelah mid-point, Jen benar-benar berubah. Bahkan warna rambutnya menjadi berbeda setelah semua debu, tanah, dan darah itu menempel. Film berusaha melambangkan perubahan Jen sebagaimana burung phoenix; lahir dari abu. Ada sekuen Jen di dalam gua, dengan penerangan api unggun, berusaha menyembuhkan diri sendiri. Literally ada gambar burung di kaleng yang ia gunakan untuk membakar luka parahnya; gambar yang kemudian menjadi tato sebagai semacam simbol mockingbird yang beneran terbuat dari darah dan daging. Kemampuan memancing perhatian cowok yang dimiliki Jen beralih fungsi menjadi kemampuan mereka keluar ke jangkauan bidikan senjata api rampasannya. Jen masih vulnerable di dalam dan luar, namun dia sudah mengerti apa yang harus ia lakukan. Dirinya tak lagi memandang diri sebagai pemuas, dia ingin memuaskan diri sendiri akan dahaga pembalasan.

predator yang diburu

 

Perspektiflah yang membuat ‘cerita lama’ ini tampil begitu fresh. Baik itu sudut pandang tokoh utamanya, maupun sudut pandang sang sutradara. Kamera akan seringkali mematri mata kita ke gambar-gambar yang bikin gak nyaman. Kita akan ‘dipaksa’ melihat mulut pria berdecap-decap mengunyah coklat bar, bagian putihnya yang lengket sengaja dijadikan fokus, supaya kita merasakan ke-uneasy-an, ketidaknyamanan yang dirasakan oleh Jen. Shot-shot dekat semacam ini membuat film pantas untuk dipelototin. Favoritku adalah ketika mereka ngeclose up semut, kemudian tiba-tiba tetesan darah jatuh mengenainya, diiringi dengan suara yang bikin makin gak enak pula. Banyak imagery unsettling seperti demikian ditampilkan oleh film, yang membuatku penasaran sama karya-karya lain yang ditelorkan oleh Fargeat. Maksudku, jika fantasi rape-revenge yang brutal aja bisa dibuat olehnya sedemikian menarik dan menghibur, gimana hasilnya kalo dia garap film yang lebih serius, kan.

Meskipun survival kucing-kucingan ini diceritakan dengan sangat menghibur, toh seperti halnya balas dendam itu sendiri, akan ada sebagian orang yang gak bakal terpuaskan sama film ini. Bahkan mungkin sebagian orang gak bakal mau bertahan nonton ini sampai habis. Revenge, sesungguhnya, adalah sajian yang enak dinikmati jika kita mau ngesuspend our disbelief. Karena banyak adegan-adegan sadis di film ini yang amat sangat tak masuk di akal. Ada satu adegan di mana Jen seharusnya sudah mati, tapi film ini dia dibuat masih bisa hidup lagi. Masih kuat melaksanakan aksi dendamnya, pula. Cerita menggunakan drug sebagai jalan keluar, yang sebenarnya hanya tempelan, sehingga membuat kejadian di film ini sebenarnya dipermudah.  Tapi sejujurnya, film juga tidak pernah meminta kita untuk menganggap dirinya sebagai sesuatu yang masuk akal. Shot-shot di awal yang seolah perlambangan, kayak apel yang dibiarkan membusuk, sebenarnya turut berfungsi untuk melandaskan tone cerita di mana semuanya akan menjadi ‘membusuk’ as in kita bakal melihat orang yang isi perutnya nyaris tumpah tapi masih sanggup lari-larian.

 

Jadi, pertanyaan terakhirnya adalah:

Kenapa balas dendam itu begitu memuaskan?

Jawabannya adalah karena dengan berhasil balas dendam, kita merasa yang salah sudah dibenarkan. Kita melakukan sesuatu yang jelek, memang benar, tapi itu semua demi tujuan yang kita anggap mulia.

 

 

 

Dan pada gilirannya, kenapa nonton film yang begini tak masuk akal dan merendahkan moral bisa begitu memuaskan? Kupikir jawaban untuk yang satu ini akan lebih kompleks lagi. Sebab, film ini berhasil diceritakan dengan sudut pandang yang segar. Karakter-karakter dalam film ini dengan cepat bertukar peran, dan sama seperti kita, masuk akal atau tidak, kebetulan atau bukan, kita akan puas melihat perjuangan mengembalikan keadilan, tidak peduli seberapa brutalnya.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for REVENGE.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

Advertisements