Tags

, , , , , , , , , , , ,

“Recalling the past can awaken an emotional response”

 

 

 

Setelah film kedua Transformers, 2009 itu, aku meyakinkan diri bahwa hanya gaya sebesar gravitasilah yang mampu membuatku datang menyaksikan franchise ini lagi ke bioskop. Dan aku bertahan – tepatnya, kapok dan begitu merasa terendahkan sehingga aku bertahan. Ditraktir nonton pun, aku ogah. Hingga sekarang, 2018 ini, aku toh akhirnya terseret juga demi melihat nama Travis Knight yang nongkrong di kursi sutradara alih-alih Michael Bay. Aku mengenali nama Knight karena sebelum ini ia menggarap Kubo and the Two Strings; salah satu animasi stopmotion favoritku – di mana dia dengan sukses menangkap perasaan seorang anak yang berusaha mandiri sepeninggal figur ayah dalam sebuah dongeng berlapis. Jadi aku tahu bisa mengharapkan ‘manusia kaleng’ Transformer kali ini bakal punya hati.

Film-film Transformers versi Michael Bay akan diingat sebagai paling parah terutama oleh para penggemar yang tumbuh menonton serial kartun Transformers. Yang mungkin saja sebenarnya mengenang kenangan menonton serial tersebut lebih banyak ketimbang serialnya itu sendiri. Karena Transformers memang sebenarnya sangat cheesy. Bay hanya menambah level kebegoannya. Sejalan dengan itu, mungkin saja bagi yang belum pernah nonton serialnya, robot-robot versi Bay enggak sejelek ‘itu’. Semua itu sebenarnya berhubungan dengan kenangan emosional yang terasa oleh masing-masing individu. Kenangan emosional inilah, yang dijadikan tema besar oleh film Bumblebee.

 

Oleh Knight, memang Bumblebee menjadi film aksi robot yang enggak sekadar mengandalkan CGI mentereng. Tokoh paling populer dalam geng Transformer ini diberikannya cerita solo yang hangat dan menghibur buat semua keluarga. Mengambil posisi sebagai prekuel, cerita Bumblebee adalah tentang bagaimana si robot kuning dikirim ke Bumi selagi para Autobot mengambil napas dari serangan Decepticon. Sendirian, kehilangan suara, dan mengalami gangguan memori, Bumblebee hanya bisa menyamar menjadi mobil kodok sampai seorang gadis delapan-belas tahun menemukannya. Bagi Charlie, Bumblebee adalah hadiah ulangtahun paling berharga yang pernah ia berikan kepada dirinya sendiri. Karena cewek penggemar mobil ini berubah hidupnya setelah membawa Bumblebee pulang. Ia yang merindukan sang ayah menjadi lebih mudah tersenyum karena ia menemukan teman baik dalam diri Bumblebee. Petualangan dua tokoh ini pun dimulai, Charlie belajar banyak hal tentang sikapnya selama ini dan mencoba untuk membuka diri terhadap orang lain sejak kepergian ayahnya, sementara Bumblebee pun harus belajar mengingat siapa dan kenapa dia di Bumi. Terlebih untuk menjawab kenapa pihak militer dan dua robot asing datang mengejar-ngejar, untuk membunuh, dirinya.

Tak pelak, ada banyak keuntungan ketika cerita kita digarap oleh seorang yang sama sekali baru. Tidak pernah ada salahnya menambahkan visi baru ke dalam barisan kita. Mungkin memang bukan prestasi gede sih, mengingat gimana film-film Transformers yang lain. Namun Travis Knight sudah melakukan sesuatu yang gagal dilakukan oleh sutradara sebelumnya dalam film-film tersebut; dia benar-benar tahu apa yang membuat kita jatuh cinta sama robot-robot tersebut. Travis memperlambat segala aspek, mulai dari pace cerita yang kini memasukkan banyak bangunan-bangunan emosi ketimbang eksploitasi wanita dan orangtua ngeganja dan anjing bersenggama. Porsi aksi yang melibatkan robot-robot keren itu kini dibuat lebih mudah untuk diikuti, kita sekarang tahu apa yang terjadi – mana yang diserang, mana yang menyerang. Hilanglah sudah teknik editing slow motion, trus “Buuummmmm” dan ledakan dahsyat dengan gerakan dipercepat kembali. Bahkan ketika para robot mengalami transformasi, film kali ini memberikan kita kesempatan untuk mengagumi perubahan wujud tersebut. Film ingin membawa kita bersama imajinasinya, bagaimana sebuah mobil bisa berubah menjadi robot terus lanjut menjadi pesawat.

aku sih lihat kuningnya Bumblebee jadi emosional teringat saus keju ayam geprek

 

 

Tidak hanya mengerti medan barunya, sang sutradara juga paham untuk membawa ‘permainan’ ke zona yang sudah ia kuasai, membuat film menjadi semakin asik untuk diikuti. Charlie yang diperankan dengan gemilang oleh Hailee Steinfeld (cewek ini berhasil melampaui apa yang sudah ia capai dalam permainan perannya di The Edge of Seventeendiberikan lapisan yang semakin mendaratkan karakternya ke lembah relasi dan kepedulian kita terhadapnya. Babak pertama film ini benar-benar gampang untuk kita cintai. Dinamika keluarga Charlie, hubungan dirinya terhadap ibu, adik, ayah tiri, ‘permasalahan’ yang ada di sini dibangun dengan begitu loveable. Film memperkenalkan Charlie sebagai cewek yang sedikit menyedihkan, dia suka dengerin The Smiths, dia cuek ama penampilannya, dia lebih suka main ke bengkel karena di sana kerjaan yang gagal ia lakukan enggak bakal diledek sama temen-temen, Charlie benar-benar terpuruk setelah ditinggal ayahnya. Charlie bukannya awkward dan enggak kompeten. Dia hanya merasa tidak nyaman lagi melakukan apa yang ia bisa karena semua hal tersebut mengingatkannya kepada ayahnya – sosok yang selama ini menyemangati dan mendukung hobinya, yang percaya padanya. Dan ini berbalik membuatnya tertekan. Karakter Charlie dibuat berlawanan namun paralel dengan Bumblebee yang juga kehilangan semua kemampuan, namun hanya karena tidak ingat dirinya siapa. Persahabatan Charlie dan Bumblebee yang saling mengisi menjadi hati utama cerita, meski kadang hubungan mereka terasa terlalu familiar.

Setiap kali gagal, Charlie akan merasakan luapan emosi yang membuatnya teringat kepada sang ayah. Ada adegan di awal cerita ketika Charlie ingin membuang piala-pialanya; yang jika bisa dikaitkan dengan ia ingin melupakan ayahnya karena mengenangnya membuat Charlie merasa depresi. Yang pada akhirnya harus dipelajari oleh Charlie adalah bagaimana memilah antara kenangan emosional dengan kenangan sebenarnya yang murni kepada sang ayah. Karena bukan ayahnya yang ingin ia buang, dia hanya perlu emosi yang bisa menggantikan emosi yang ia rasakan ketika ayahnya masih ada untuknya.

 

 

Film mengambil tahun 1987 sebagai latar cerita. Ini bertujuan lebih dari sekadar untuk menyamakan dengan tahun kemunculan serial kartun Transformers. Bukan pula hanya supaya film jadi bisa punya banyak referensi nostalgia. Tentu, melihat Bumblebee nonton The Breakfast Club (1985) kemudian niruin gaya si Bender sambil muterin lagu soundtrack film tersebut akan selalu mengundang tawa dan rasa menyenangkan. Film ingin membangkitkan kenangan emosional kita lebih jauh sehingga kita juga merasakan hal yang menyenangkan saat menonton film ini. Buatku, ini adalah langkah yang sedikit berlebihan, karena Bumblebee punya cerita dan karakter-karakter yang sebenarnya bisa berdiri sendiri. Tetapi film berusaha menyusupkan sesuatu desain supaya kita merasakan kenangan emosional tersebut. Apakah ‘sesuatu’ itu? Well, ini petunjuknya:

Pertama; Sadar gak sih dari segitu banyak referensi budaya pop 80an yang dimunculkan, hanya ada satu yang begitu ikonik tapi sama sekali tidak disinggung oleh film Bumblebee.

Kedua; Steven Spielberg, yang dikredit sebagai eksekutif-produser.

Aku akan menabrak garis spoiler untuk paragraf-paragraf berikut, jadi silahkan tebak maksud dua clue di atas dan stop membaca jika enggak sudi mengetahui lebih banyak sebelum menonton filmnya.


 

 

Yang kumaksudkan adalah film E.T. The Extra-Terrestrial (1982). Cerita Bumblebee praktisnya adalah cerita E.T. yang sudah bertransformasi. Secara subtil, nyaris denyut per denyut kejadian-kejadiannya mirip sekali. Anak yang ditinggal ayahnya ketemu ama Alien ‘jinak’. Si Alien dirahasiakan karena diincar oleh militer yang menganggapnya sebagai makhluk jahat nan berbahaya. Si Alien yang ditinggal di rumah, malah keluar dan merusak rumah tersebut. Hampir seperti menggunakan naskah yang sama. Film seperti membuat alam sadar kita berpikir mengenai E.T. sehingga kenangan emosional saat menonton film manis itu terbangkitkan dan kita jadi semakin menikmati film ini. Menurutku ini malah jadi masalah, jadinya malah tampak film ini sedikit males. Maksudku, kenapa mesti sama banget. Kenapa urutannya enggak ditukar dikit, apa gimana.

Kemiripannya ini malah tampak lebih fatal dibandingkan pilihan film untuk memasukkan adegan-adegan yang hanya untuk tawa. Which is jadinya dimaafkan mengingat ya memang Transformers dari serial kartunnya agak-agak lebay sih. Aku sendiri lebih menikmati komedi yang dihadirkan, terutama yang melibatkan John Cena yang kebagian peran sebagai komandan militer, pemimpin pihak manusia dalam pencarian Bumblebee. Progres karakternya juga enak untuk diikuti, Cena adalah manusia pertama yang melihat bangsa robot mendarat di Bumi, dan sebagai bagian dari pelindung negara (masukin lelucon Amerika praktisnya adalah seluruh dunia) tentu saja dirinya punya prioritas yang mempengaruhi cara ia memandang si robot. Sepertinya Cena akan dapat banyak benefit dari penampilannya dalam film untuk keluarga ini. Let’s just say, para penggemarnya akan baik-baik saja jika dia tidak muncul lagi ke dalam ring WWE.

Ini adalah John Cena paling heel yang bisa kita dapatkan seantero galaksi

 

 

 

 

 

Selain masalah kesengajaan dibuat mirip sama satu film klasik, film ini adalah lompatan yang luar biasa dari film-film pendahulunya dalam franchise Transformers. Akhirnya kita dapat cerita perang robot yang enggak sekadar kling-klang-kling-Boom! Akan banyak penggemar yang terpuaskan bahwa akhirnya ada film Transformers yang benar-benar paham hati dan apa yang sebenarnya ingin dilihat oleh mereka. Aku pribadi senang sekali berkat film ini setiap kali mendengar kata Transformers aku tidak akan lagi berteriak marah penuh emosi.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for BUMBLEBEE.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Pernahkah kalian merasa tertekan oleh kenangan terhadap seseorang atau sesuatu? Apakah kalian memilih untuk terus mengingat atau malah mencoba melupakan mereka?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017