AQUAMAN Review

“Don’t let a legacy become a burden”

 

 

 

Enggak segampang itu mengarungi kehidupan jika kita terombang-ambing di antara dua identitas keluarga yang berbeda, antara bangsawan dan jelata misalnya. Bahkan jika kita ternyata adalah bangsawan yang memiliki kekuatan super. Khususnya ketika kekuatan khusus yang kita punya ‘hanyalah’ bisa berbicara dengan ikan.

 

Aquaman, sebelum film ini muncul, memang tak lebih dari lelucon jika dibandingkan dengan superhero-superhero lain. Berenang dengan ngebut tentu saja kalah keren dibandingkan dengan berlari secepat kilat. Dapat bernapas di dalam air terlihat demikian kurang efisien ketimbang bisa terbang di angkasa. Di tangan James Wan sebagai nakhoda, ke-cheesy-an Aquaman tersebut toh terfasilitasi dengan amat baik. Mengembalikan sedikit respek kita kepada si superhero beserta mitologi di balik dunia bawah airnya. Tentu, ini memang bukan film superhero dengan naskah terbaik di dunia, namun tak pelak, Aquaman adalah salah satu yang teratas dalam urusan menghibur.

Yang dibawa oleh sutradara yang menggarap The Conjuring itu adalah gerak kamera yang begitu fluid merekam setiap aksi. Di menit-menit pertama kita akan dimanjakan oleh pertempuran di dalam rumah yang dilakukan dengan shot panjang kamera yang bergerak memutar. Teknik ini sukses membuatku menantikan adegan berantem berikutnya, karena aku pengen lihat cara hampir-kontinu seperti gimana lagi yang akan dilakukan oleh James Wan. Dan penantian itu terbayar lunas oleh sekuen berantem dan kejar-kejaran di atap rumah pada babak kedua. I looove it, semua dalam layar saat itu bergerak, di belakang, maupun di depan. Kameranya berkedalaman dan kontinu shotnya ditahan cukup panjang. Departemen aksi film ini jelas penuh dengan keseruan.

Sebelum pertempuran bawah laut yang begitu epik – kita bakal melihat pertemuan menarik antara hiu melawan mosasaurus, ataupun prajurit berkendaraan kuda laut raksasa mengeroyok kraken, yang tak kalah raksasa, berlumur oleh lava berpijar – film bakal banyak bermain-main dengan eksplorasi paparan mitologi cerita dan banyak hal yang mengingatkan kita pada cerita lain. Bagian Arthur kecil di akuarium dunia laut mengingatkan aku sama bagian Harry Potter bicara sama boa pembelit di kebun binatang. Juga ada bagian mobil diterjang ‘tsunami’ yang seperti versi dark dari kejadian dalam animasi Studio Ghibli, Ponyo. Ada petualangan di kuil ala Indiana Jones mencari harta karun (atau ala anak-anak kekinian main escape room). Ada juga bagian orang yang ditemukan masih hidup di dunia lain yang mengingatkan kepada Antman. Mereka mereferensikan Pinokio, sebagai cerita dan film. Bahkan literally ada boneka Annabelle di salah satu dasar lautnya. Durasi yang melebihi dua jam itu diisi dengan maksimal sehingga kita tetap terus terhibur.

mereka bisa saja masukin Raja Naga Laut Timur dari Kera Sakti dan kita masih tertawa karenanya

 

 

Secara kontekstual, cerita film ini memang tergolong tradisional. Kuno kalo boleh dibilang. Aquaman, terlahir sebagai Arthur Curry, adalah putra dari pasangan seorang manusia daratan penjaga mercusuar dengan Ratu Atlantis yang kabur karena menolak dikawinkan. Sedari bayi, Arthur sudah dipatri oleh ibunya untuk menjadi raja yang bakal menyatukan penduduk lautan dengan penduduk di darat. Mungkin di antara kalian, generasi millenial, ada yang sedari kecil sudah diarahkan jadi dokter sama seperti mama? jadi pegawai Chevron sama seperti papa? Atau jadi pegawai negeri, mungkin, biar hidupnya terjamin sampai tua? Ya, besar kemungkinan kita ada yang senasib seperti Arthur; yang enggak mendapat kehormatan langka untuk ditanya oleh orangtua sendiri “kamu mau jadi apa kelak? jadi youtuber aja? sana silahkan gausah sekolah”.

Tapi sebagai pembelaan, Arthur tidak sempat ditanya ibunya karena mereka keburu dipisah. Dunia tempat Arthur tinggal adalah dunia di mana sumbu peperangan sudah tersulut diam-diam. Tidak diketahui oleh manusia di daratan, kaum Atlantis yang sudah muak dengan perilaku manusia mencemari lautan, sudah siap tempur untuk mengadakan Perang Dunia Ketiga. Film Aquaman ternyata bukanlah origin story – paling tidak bukan origin story seperti yang kita bayangkan. Alih-alih melihat Arthur tumbuh gede dan mempelajari siapa dirinya sebenarnya, waktu akan membawa kita meloncat melewati timeline di Justice League (2017) saat Arthur sudah fully-developing persona Aquamannya. Kita akan melihat Arthur diminta untuk kembali ke Atlantis, untuk segera menjadi raja, lantaran pemimpin yang sekarang yakni adik tirinya sudah begitu bernapsu untuk menyatukan kekuatan militer tujuh samudra demi menghimpun kekuatan menyerbu daratan. Ceritanya memang seperti kebalikan dari cerita Black Panther (2018)kalian tahu, T’Challa kan raja; harus menghadapi seorang dari luar yang ingin memanfaatkan teknologi Wakanda untuk perang, sebaliknya Arthur adalah ‘orang luar’ yang disuruh menjadi raja supaya pemimpin yang sekarang gagal memanfaatkan teknologi Atlantis untuk perang.

Yang jeli membaca akan menyadari penggunaan kata ‘disuruh’ yang aku gunakan pada paragraf di atas. Karena buatku, ‘disuruh’ itu adalah faktor kunci yang menentukan seberapa menarik sih sebenarnya cerita Aquaman; di mana posisi film ini dalam kancah superhero-superhero yang lain. Ini kaitannya dengan penulisan naskahnya. Tokoh utama dalam cerita kudu diberikan motivasi. Dalam kisah superhero, jagoan kita selalu punya keinginan dramatis yang akan jadi akar dari perjuangannya. Diana Prince ingin menyetop peperangan karena dia dengan naifnya percaya setiap manusia berhati baik. Bruce Wayne ingin ‘balas dendam’ tanpa mengubahnya menjadi speerti penjahat, ia tidak mau ada lagi yang bernasib seperti dirinya yang dirampas dari orangtua. Arthur Curry dalam Aquaman, dia adalah pahlawan super yang ingin…. dia tidak ingin menjadi raja. Arthur adalah orang yang seumur hidupnya mencari tempat untuk dirinya, dan sekarang dia sudah menemukan yang ia cari – sekarang dia sudah diterima sebagai pahlawan di atas permukaan laut. Dia tidak butuh untuk membuktikan apapun, karena dirinya sendiri tidak ingin menjadi raja, karena dia tidak merasa kerajaan Atlantis sebagai tempatnya.

cerita fish-out-of-water di dalam air

 

 

Keseluruhan cerita tampak seperti pihak-pihak luar yang berusaha membujuk Arthur. Mereka yang berusaha membuktikan kepada Arthur bahwa ia pantas menjadi raja. Arthur’d be like, “Gue kayaknya gak pantes deh” dan mentor dan temannya kayak “Kamu bisa kok, cuma kamu yang bisa mendapatkan Trisula Atlantis Legendaris”. Saking kurang termotivasinya, Arthur sering menanyakan langkah kepada putri berambut merah. Bahkan yang semangat mencari senjata yang hilang itu si Mera, yang tanpa tedeng aling-aling langsung terjun dari pesawat. Arthur mengikuti cerita yang maju karena tindakan tokoh lain.

Aku menunggu momen ketika Arthur ‘kehilangan’ senjata terkuat yang sudah ia temukan, supaya dia bisa belajar bahwa dirinya benar adalah raja – terlebih dia tak perlu semua itu karena memang sudah takdirnya atau apa, kalian tahulah, sekuen kehilangan yang pasti ada dalam setiap cerita-cerita seperti ini; seperti ketika Spider-Man diambil kembali kostumnya oleh Iron-Man. Tapi momen seperti begini tidak pernah datang. Aquaman, jagoan kita, butuh bantuan trisula legendaris untuk percaya diri menjadi raja hingga akhir cerita.

Tema besar pada film ini adalah soal warisan, dan bagaimana pandangan kita jika ditinggali hal untuk dilakukan yang mungkin tidak ingin kita lakukan. Ada yang menganggap warisan sebagai anugerah, sebagai hadiah. Ada yang menganggapnya sebagai kewajiban, sebagai misi yang harus dituntaskan. Ada juga yang menganggapnya sebagai beban. Film memperlihatkan keparalelan antara Arthur dengan tokoh Black Manta di mana mereka sama-sama diwarisi senjata dari kedua orangtua, dan keduanya diperlihatkan melakukan hal yang berbeda terhadap benda warisan masing-masing. 

 

Lautan digambarkan sebagai tempat yang keras, penghuninya tidak mengenal belas kasih. Para penduduk Atlantis menghukum Ratu mereka dengan mengumpankannya kepada monster-monster. Penghuninya mungkin kejam begitu lantaran mereka tak bisa melihat airmata mereka sendiri. Film menggunakan ungkapan-ungkapan seperti “menerjang bersama kekuatan tujuh samudera” untuk menguarkan kekuatan yang lantas dikontraskan dengan Arthur, si surface dweller yang penuh dengan komentar kocak jika sedang tidak memberantas bajak laut. Jason Momoa benar-benar sosok yang keren sebagai tokoh ini. Dia punya kharisma yang kuat, dia juga mampu menyampaikan one-liner kocak. Plus tampilannya badass banget, penggemar gulat pasti akan menyebutnya antara mirip Roman Reigns ataupun mirip Tama Tonga. Hal menarik yang dilakukan oleh film ini adalah fakta bahwa Momoa sama sekali tidak terlihat seperti Aquaman di dalam komik. Secara tampang, malah Patrick Wilson (yang bermain jadi adik tirinya, Norm si Ocean Master) yang lebih mirip sama sosok Aquaman klasik. Sayangnya, seperti efek CGI dan visual yang kadang enggak benar-benar tampak menyatu, penulisan dialog ringan dan tone komedi itu tidak bercampur baik dengan bagian cerita yang lebih serius.

Seperti pada bagian ketika Arthur bertualang mencari Trisula hingga ke tempat paling kering sedunia. Untuk develop hubungan karakter antara Arthur dan Mera, film menggunakan komedi. Tapi gap antara tone cerita bagian ini dengan bagian sebelum dan sesudahnya begitu jauh sehingga menonton sekuen Arthur dan Mera bertingkah kekanakan di Gurun Sahara terasa seperti menyaksikan Sherina dan Sadam nyasar di kebun teh. Menjadi semakin receh juga beberapa adegan berkat alunan lagu latar yang antara terlalu ngepop dengan terlalu konyol (seperti gejrengan gitar di adegan introduksi awal Aquaman bersama para bajak laut).

Satu hal yang benar-benar mengangguku, yang kurasa film seharusnya mencari cara lain, satu hal yang terus mereka ulang-ulang adalah adegan ‘penyergapan’; akan sering sekali kita melihat adegan suasana lagi tenang – tokoh di layar lagi ngobrol, nyusun rencana atau apa, dan BLASSST! Pasukan musuh menembak sesuatu di sekitar mereka, menghancurkan objek di sana. Paling tidak ada tiga kali adegan pembuka sekuen aksi seperti demikian dilakukan oleh film. Dan ini konyol sekali kenapa musuhnya selalu meleset menembak target yang lagi lengah, apa mungkin musuh-musuh itu sengaja menembak dengan meleset – mungkin itu ekuivalen dari mengetuk pintu bagi mereka. Aku enggak tahu. Aku sudah mati tertawa setiap kali adegan ini dilakukan.

 

 

 

Untuk sebuah cerita yang secara konteks ketinggalan zaman, film ini berhasil menjelma menjadi hiburan kekinian yang menyegarkan. Film berjuang mencari poin seimbang. Sama seperti tokoh ceritanya, film mencari di mana ia menempatkan diri. Tone yang cheesy diseimbangkan dengan cerita yang diarahkan untuk tidak terlalu gelap. Nice aja rasanya melihat orang-orang mengelukan tokoh yang selama ini ditertawakan, dan mereka jadi tertawa bersamanya.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for AQUAMAN.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Film sempat bicara tentang memenuhi kewajiban terhadap keluarga dan bangsa meski hati kita bertentangan dengannya. Apakah kalian setuju dengan pernyataan tersebut? Menurut kalian apa sih kewajiban kita terhadap keluarga dan terhadap negara?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

 

 

 

 

TUSUK JELANGKUNG DI LUBANG BUAYA Review

“We always do things for a reason.”

 

 

Satu lagi cerita tentang insan manusia yang begitu ingin mengejar kontroversi; yang ingin dibicarakan lantaran sudah melakukan sesuatu yang tak berani dilakukan banyak orang. Adalah kebutuhan mendasar untuk merasakan adrenaline rush, euforia setelah melakukan hal berbahaya itu memang bikin nagih.

Makanya Sisi ingin mengunjungi tempat-tempat angker di seluruh penjuru, merekam vlog pengalamannya yang menyerempet dunia gaib demi dilihat dan disanjung oleh jutaan follower dunia maya. Ya, paling enggak skenario film horor terbaru dari Erwin Arnada ini berusaha untuk ‘bener’. Tokoh utama kita punya motivasi, ada stake dan rintangan waktu yang harus ia tempuh, ada langkah pertama yang gagal dan peningkatan usahanya untuk berhasil. Sisi nekat melakukan pemanggilan jelangkung tepat di tempat terangker di Desa Pucung, yang membawanya terseret masuk ke sisi lain (pemakaian nama yang cerdas, Sisi Lain adalah channel vlog Sisi). Tapi cerita tidak bisa menjadi lebih menarik lagi, karena tokoh utama kita eventually menjadi orang yang butuh untuk diselamatkan. Cerita nantinya akan berpindah-pindah antara adik Sisi di dunia nyata yang berusaha mencari komponen-komponen yang dibutuhkan untuk ritual masuk ke alam goib menyelamatkan kakaknya, dengan Sisi yang berusaha survive dengan muter-muter di ‘sarang hantu’. Perpindahan dua dunia ini semakin tak terkontraskan, tak nampak lagi perbedaannya. Karena di dunia nyata, selain harus berjuang menyisir air terjun yang berbahaya, juga ada hantunya. Malahan lebih banyak dari yang dihadapi Sisi. Film terus saja menguncup menjadi non-sense yang kacau dengan begitu banyak kekurangan.

film ini memberi kesimpulan wanita seperti Sisi mustinya main kadal aja di rumah

 

 

Tusuk Jelangkung di Lubang Buaya bisa saja menjadi alegori perilaku manusia terhadap dunia maya atau bahkan malah dunia showbiz yang punya relevansi kuat dengan keadaan sosial masa kini. Di mana orang lebih tertantang untuk berbuat sesuatu supaya terkenal di dunia palsu alih-alih melakukan hal yang benar di dunia nyata. Ada obsesi yang disebutkan bersarang pada penduduk desa yang terus memainkan boneka jelangkung meskipun setiap pemainnya berakhir dengan menghilang. Obsesi yang senada dirasakan oleh Sisi; bahwa dia, juga mereka, terdorong untuk melakukan sesuatu di luar ‘dunia’ masing-masing. Tapi film tidak pernah benar-benar mengeksplorasi ini.

Hal paling mengerikan ditunjukkan oleh pengalaman Sisi pada film ini adalah gimana masuk ke dunia gaib ternyata lebih gampang daripada masuk ke dunia entertainment.

 

Padahal mungkin sebenarnya film ini sadar ceritanya bisa mengarah menjadi lebih berisi dan berbobot lagi. Bahwa masuk ke dunia gaib itu kayak berusaha masuk ke dunia hiburan atau dunia maya. Mungkin itulah sebabnya kita melihat hantu-hantu di sini pada berpendar ala-ala Vanellope nge-glitch di film Ralph Breaks the Internet (2018) hihihi.. Serius deh, I love it. Aku suka desain hantu anak kecil yang pake topeng kayak terbuat dari tempurung kelapa itu. Aku suka gimana penampakan-penampakan hantu di sini dibuat seperti konsep penampakan di serial Netflix The Haunting of Hill House (2018); mereka dimunculkan di latar belakang, di sudut-sudut, di mana para tokoh enggak menyadari kehadiran mereka. Hanya saja, teknik subtil ini lantas dikacaukan oleh suara ketawa hantu-hantu yang volumenya begitu menggelegar. Maksudku, apa faedahnya suara-suara non-diegetik itu dipakai? Apakah film sebegitu tidak yakinnya penonton bakal melihat ada hantu di balik pepohonan? Aku gak tahu apa yang terjadi di balik dapur studio mereka, namun pilihan-pilihan editing kerap membuat hal menjadi tidak menguntungkan bagi kebagusan film.

Pada narasi, misalnya. Di awal-awal, film berhasil melangkahi jebakan flashback. Kita diperlihatkan cerita yang runut. Dari ‘tragedi’ desa, nasib boneka jelangkung, ke pengenalan tokoh utama. Adegan demi adegan bisa saja mulus melenggang dalam kurun waktu yang lurus. Tetapi, eits, jangan senang dulu, Ferguso! Pacing film diperlambat dengan sebuah adegan flashback yang cukup panjang mengenai backstory penemuan boneka yang sebenarnya sama sekali enggak perlu untuk dijadikan adegan flashback! Mereka bisa saja membuat waktunya real-time, maksudku, urutan adegan tidak perlu dibolak-balik, toh tidak akan mengubah banyak pada kejadian, dan tentu saja tidak akan menghambat pace cerita. Campur tangan editing film ini terasa begitu mengganggu. Seolah tidak kompak dengan narasi. Hampir seperti naskah dan editingnya tidak bekerja dengan otak yang sama; mereka jalan masing-masing.

Menyadari penuh pemain yang digunakan tergolong baru semua, tetapi tetap nekat mengandalkan teknik CGI; hal seperti begini yang membuatku bengong dan bertanya “Ada aaaa-pa ya sebenarnya?” Maksudku, benar-benar bukan sebuah pilihan yang bijak menyerahkan tugas seberat berakting ketakutan melihat sesuatu yang tidak ada kepada pemeran-pemeran seperti Anya Geraldine dan Rayn Wijaya yang menyambung in-character tokoh mereka saja masih terpatah-patah. Dan lagi, efek-efek tersebut tidak pernah tampak meyakinkan di mata kita. Visualisasi hantu kain itu terlihat sangat konyol. Padahal ketika diperlihatkan kostum-kostum hantunya, mereka tampak berbeda dan lumayan menyeramkan. Hantu ‘boss’ digambarkan bertanduk, kita hanya melihat tampang utuhnya sekilas, tapi dia cukup sopan dengan menarik Nina Kozok pada perutnya. Mengenai editing ini sebenarnya memang sudah ada pertanda; di adegan awal kita melihat pemanggilan Jelangkung yang menjadi petaka. Sekelompok orang melakukan ritual Jelangkung di pondok kecil, dan di ruang sempit itu semua beterbangan, tapi kita tidak bisa melihat jelas apa yang terjadi karena editingnya yang tidak beraturan bahkan di tempat yang sebenarnya tidak perlu dilakukan shot yang banyak editing.

 

Misi utama film ini adalah meremajakan cerita lama. Desa dengan kota. Anak-anak muda melek teknologi itu dihadapkan dengan ritual. Tetapi usaha terbesar film mewujudkan ini adalah dengan memakai bahasa yang keminggris; yang mana bagiku tidak masalah, jika dilakukan dengan benar. Masalahnya adalah para pemain ini masih saja terdengar kaku bahkan saat dialog mereka berbahasa Inggris, which is supposedly their (and also their characters’) comfort zone. Mantra pemanggilan Jelangkung di film ini juga kocak sekali. Jelangkungnya sudah bagaikan anak gaul Jak-Sel yang dipanggil dengan “Jelangkung, Jelangkung, datang untuk dimainkan, please help me find something”. Di satu sisi aku suka gimana setiap film bertema Jelangkung belakangan ini memikirkan cara baru untuk membuat ritual pemanggilan ini menjadi fresh, menggunakan mantra yang actually berpengaruh terhadap cerita. Namun di sisi lain toh aku heran juga, menggunakan mantra beda ini memang disengaja atas alasan kreativitas atau karena mereka simply enggak bisa menggunakan mantra yang ‘asli’ karena alasan copyright atau apa.

Meskipun kita tidak benar-benar melihat Buaya beserta Lubangnya, tapi kita tetap akan menemukan lubang di sana sini. Selain ‘lubang’ pada teknik editing dan kemampuan pemain, wajah film ini utamanya tercoreng oleh lubang-lubang pada logika. Orang bilang terkadang cacat itu adalah seni; film sepertinya setuju terhadap pernyataan tersebut. Atau mungkin film berusaha untuk menjadikan lubang-lubangnya sebagai kekuatan sebab tidak mungkin pembuatnya tidak melihat ini. Lubang-lubang logika itu mereka masukkan ke dalam pembangunan cerita; actually ada alasannya kenapa hal-hal konyol itu ada di dalam film. Seperti misalnya ritual orang desa untuk melenyapkan boneka. Mereka berkumpul di atas tebing air terjun, memasukkan boneka ke dalam kotak, kemudian melemparkan boneka tersebut ke bawah. Terlihat sangat berlebihan jika tujuan ritual tersebut adalah untuk menenggelamkan boneka itu, bukan? Toh kita diperlihatkan Sisi menemukan boneka itu di dasar air terjun, dan kemudian dia dipergoki oleh orang desa. Kenapa ritualnya tidak dilakukan di dasar air terjun saja? Enggak perlu dilempar segala. Kalo tujuannya untuk menghancurkan boneka, kenapa enggak sekalian dibanting ke batu atau malah langsung dibakar saja? Kenapa orang-orang desa itu ribet dan begitu dramatis?

Ada tokoh kakek yang cucunya hilang karena diajak main Jelangkung. Kakek ini sok dramatis banget, dia yang tahu cara ke alam gaib tapi gak mau jemput cucunya malah nyuruh orang lain, kemudian malah dia yang sok berkorban mengurung diri di alam sana sambil bilang “Ikhlaskan saya!” padahal kenal juga kagak sama Sisi dan teman-teman.  Dan keseluruhan konteks adegan itu malah lebih konyol lagi lantaran si Kakek Dramatis sebenarnya enggak perlu ngorbanin diri dengan menyeret masuk seorang tokoh jahat ke dunia gaib karena, guess what, si penjahat cuma sendirian sedangkan Kakek, Sisi, adik Sisi, pacar adik Sisi – mereka berempat! Mereka bisa ngetakedown si penjahat lemah yang baru saja tercebur sungai dengan mudah.

Dasar orang ndeso kampungan!

 

 

Kekurang logisan di sana-sini lah yang bakal menghibur kita habis-habisan. Membuat kita tertawa-tawa. Salah satu favoritku adalah adegan ketika Sisi ‘mengundi’ tempat angker yang pengen dia kunjungi. Sisi menggunakan bola-bola plastik yang dimasukkan ke dalam mesin mainan. Slot di mesinnya diputar, satu bola jatuh, dan Sisi membaca kertas berisi tempat angker di dalam bola. Bagian lucunya adalah; Sisi memasukkan lima bola, dan menggunakan mesin mainan itu sampai kelima-lima bolanya dibaca semua. Betapa sia-sianya tuh mainan. Kalo semua bola mau dibaca, Sisi enggak perlu pake mesin, toh dia bisa milih langsung secara acak bola-bola itu di lantai.

See, bahkan kadang orang kota, orang muda pun terjebak oleh ‘ritual’ yang eksesif, yang sebenarnya tidak perlu mereka lakukan. Namun tetap dikerjakan karena dinilai lebih mengundang perhatian. Sebab, seperti bola-bola yang ditarik Sisi, pada akhirnya semua itu tidak acak. Sisi melakukannya di depan viewer vlog. Si Kakek Dramatis melakukan ritual di depan penduduk desa. Sisi dan Kakek, meski beda usia dan lingkungan, adalah pribadi yang sama hihihi

 

 

 

For a good measure, film akan mengirim kita pulang dengan shot boneka Jelangkung yang diangkat ala Simba di Lion King. Gimana kita enggak cinta coba sama film ini? Menghasilkan banyak hal-hal yang lucu secara tidak sengaja, dan ini gak sehat untuk film yang merasa dirinya serius, seram, dan masuk akal.
The Palace of Wisdom gives 1 out of 10 gold stars for TUSUK JELANGKUNG DI LUBANG BUAYA.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Punya kah kalian ritual sendiri – sesuatu yang kalian lakukan sehari-hari meski sekarang udah gajelas lagi kenapa kalian melakukannya?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

ROBIN HOOD Review

Thievery is what unregulated capitalism is all about

 

 

 

“Salah sasaran!” Tadinya, aku ingin mengatakan hal tersebut kepada pasangan suami istri yang duduk menonton di barisan di depanku, dengan dua anak balita mereka. Maksudku, kenapa ada keluarga yang lebih memilih menonton film Robin Hood ini padahal ada Ralph Breaks the Internet di studio sebelah benar-benar di luar logika buatku. Namun kata-kata tadi aku tarik kembali sebelum melesat dari busur bibir, karena aku menemukan ‘sasaran’ yang lebih tepat.

Bayangkan merasa bosan karena sudah lama enggak ke bioskop, dan sekalinya datang yang kau tonton malah film Robin Hood. Itulah “Salah sarasan!” yang sebenarnya. Film ini tidak akan mengobati rasa jemu. Kalopun iya, itu karena kita akan menemukan banyak hal untuk ditertawakan sehubungan dengan pilihan-pilihan yang diambil dan bagaimana mereka tidak cukup kompeten untuk dapat mengeksekusinya dengan baik.

masih mendingan iklan obat; langsung ke pusat sakit kepala

 

Sudah berulang kali cerita pencuri yang menjadi pahlawan bagi rakyat jelata ini diceritakan di layar lebar. Menyadari penuh hal tersebut, Robin Hood versi 2018 sesegera narasi pembuka bergulir mengajak kita meruntuhkan apa yang telah kita ketahui tentang legenda Robin Hood, dan bersiap mengarungi kisah yang katanya tidak seperti kita kenal sebelumnya. Film ini tidak kusebut jelek karena memang menjadi sedikit berbeda dari yang sudah-sudah, malahan aku senang film punya keinginan bercerita dengan caranya sendiri. Heck, aku bakalan girang banget kalo mereka merombak totatl; katakanlah menjadikan Robin cewek atau suku minoritas. Walau enggak mengubah ampe segitunya, toh film ini berusaha menyesuaikan cerita dengan kejadian di masa sekarang – memberikannya relevansi. Orang kaya yang dirampok Robin pada film ini, adalah penguasa korup yang mencopet rakyat secara halus. Lewat slogan-slogan politik. Lewat ayat-ayat Kitab Suci. Perang Salib antara bangsa Eropa dengan bangsa Arab dijadikan latar film ini yang seharusnya berfungsi sebagai cerminan motivasi – berkaitan dengan panji pencitraan agama yang dikibarkan oleh cerita. Robin Hood tidak lagi sekedar anti-hero. Sutradara Otto Bathurst mengarahkan tokoh ini menjadi superhero bagi kaum papa. Sayangnya naskah sepertinya terlalu berat bagi pundak film ini. Segala aspek-aspek politik dan agama yang menarik tersebut hanya laksana tudung yang tak pernah benar-benar membungkus. Dan film ini pada akhirnya dikata-katai film superhero hanya karena usaha ngeset sekuel yang terang-terangan meniru Marvel atau DC.

Segala tetek bengek gimana orang menggunakan agama untuk menakuti, mengontrol massa – menguatkan posisi secara politik, dan pada akhirnya UUD (Ujung-ujungnya Duit) tidak pernah menunjukkan dampak secara emosional karena tokoh utama cerita tidak diperlihatkan benar-benar tertarik kepada itu semua. Robin si Bangsawan dari Loxley (Taron Egerton pembawaannya terlalu boyband untuk karakter sebroke-down ini) sedari sepuluh menit awal yang krusial dikukuhkan motivasinya adalah cinta kepada Marian (begitu juga Eve Hawson yang covergirl jelita banget untuk ukuran rakyat kelaparan jelata). Kebersamaan dua orang yang lebih cocok sebagai idola remaja tersebut dipersingkat oleh surat perintah wajib militer yang datang dari sheriff di kota. Robin kudu ikutan berperang di gurun pasir Arab. Sekembalinya dari medan perang – ia dikirim pulang lantaran gagal patuh terhadap perintah membunuhi orang tak berdosa – Robin mendapati rumah kastilnya disita oleh si sheriff. Eksistensinya juga direnggut lantaran sheriff memasukkan namanya dalam daftar korban perang. Dan paling parah baginya, ia juga mendapati sang istri sudah menjadi istri orang lain. Mendadak miskin, tanpa teman maupun pasangan, Robin sudah akan hancur jika bukan karena John, pejuang Arab yang mengikuti dirinya lantaran terkesan sama sikap Robin di peperangan. John-lah yang ‘membisiki’ Robin apa yang harus dia lakukan. John yang melatihnya melakukan hal-hal keren dengan busur dan anak panah. John yang memberikannya tudung trendi yang bakal jadi seragam ikoniknya. John yang diperankan oleh Jamie Foxx-lah yang sedikit menyelamatkan film ini.

Memparalelkan Robin Hood dengan penguasa lalim; korupsi personal dengan korupsi institusi, benar ini adalah cerita tentang para pencuri. Salah satu kerusakan itu akan memakan kerusakan yang satunya, dan memperbesar diri. Semuanya karena uang. Dalam film ini, uang adalah simbol kekuasaan. Ngerinya, sepertinya di dunia nyata juga begitu.

 

 

Enggak ada yang salah dengan aktor-aktor yang meramaikan film ini. Hanya saja, kita melihat mereka bermain lebih bagus di film lain, kalian tahu, sedangkan di Robin Hood ini mereka semua terlihat biasa-biasa saja. Malah cenderung annoying. Jamie Foxx kelewat over-the-top. Dia lucu saat tidak sedang melucu – seperti sewaktu dia berteriak-teriak sebelum menggantung orang. Sedangkan ada tokoh lain seperti si Friar Tuck yang memang ditampuk sebagai peran komedi malah jatohnya garing; tidak ada yang tertawa mendengar komentarnya yang seperti menyindir. Karakter-karakter yang ada, semuanya tumpul kayak anak panah yang belum diasah. Dan ini lucu mengingat anak panah dalam film ini digambarkan mempunyai kekuatan perusak seperti peluru senjata api. Motivasi tokoh utamanya, seperti yang sudah aku tulis, terasa sepele. Tokoh ceweknya butuh untuk diselamatkan, dan enggak benar-benar punya manfaat selain berdiri di sana, dengan pakaian nyaris tertutup, tersenyum dan terlihat flawless – seolah dia tidak berada di zaman dan kondisi yang sama dengan orang lain di sekitarnya. Gimana dengan tokoh antagonisnya, kalian tanya? Hahahaha mereka jahat, culas. Kalo ngomong selalu keras-keras. Benar-benar komikal dan satu dimensi. Ada satu adegan seorang tokoh petinggi gereja yang tertawa membahana, kemudian mendadak mengubah nada bicaranya dengan mengancam, dan musik juga dramatis banget, dan si tokoh itu enggak pernah dibangun dulu karakternya.

curi… curi-curi pandang

 

 

Kita enggak bakal mampu untuk peduli sama tokoh-tokohnya. Bahkan aspek cinta segitiga tidak mampu untuk membawa kehangatan ke dalam film yang berskala warna coklat dan biru keabuan ini. Aspek mata-mata turut mewarnai cerita; di saat enggak merampok kas pajak, Robin akan bertugas sebagai bangsawan dermawan yang senantiasa di sekitar sheriff dan penguasa. Cara film menggarap bagian ini persis berasa sinetron. Dengan close-up Robin yang senyam-senyum ke kamera ketika dia berhasil mengelabui penjahat, ataupun tampang cemasnya saat ada hal ‘gak enak’ yang harus dia lakukan. Intriknya tidak pernah benar-benar terasa.

Jika kalian merasa porsi aksi akan menjadi obat penawar, maka kalian juga sama salahnya seperti aku. Karena bagian aksi film ini malah lebih memalukan lagi. Di antara hujan anak panah dan derapan kuda-kuda CGI itu, kita akan menemukan orang-orang berlarian dalam gerakan lambat, kemudian melompat dan menjadi cepat, melepaskan anak panah, kembali dalam slow-motion, dan cepat lagi. Aku gak percaya masih ada film yang masih memakai teknik editing yang mengesalkan seperti begini. Cara yang sangat malas dalam upaya membuat adegannya tampak intens. Aku bahkan merasa bosan melihat adegan aksinya. Sama seperti para pemainnya, aku yakin orang-orang yang bekerja di spesial efek dan editing ini bukan orang sembarangan, mereka punya keahlian khusus. Hanya saja pilihan yang dilakukan film membuat semuanya tampak enggak kompeten.

 

 

 

 

Seharusnya bukan cuma aktor saja yang diajari cara memanah. Film harusnya juga belajar menentukan sasaran mereka, menembaknya dengan tepat. Segala unsur modernisasi dan kerelevanan yang ada pada cerita dimentahkan oleh penceritaan dan arahan yang begitu konservatif. Hampir seperti mereka tidak cukup mampu untuk menangani cerita yang bener. Semua penampilan di film ini jatohnya jadi memalukan. Setidak-tidaknya film yang udah kayak cerita superhero ini bisa menghadirkan bagian aksi yang exciting, namun mereka bahkan tidak sanggup untuk melakukannya.
The Palace of Wisdom gives 2 out of 10 gold stars for ROBIN HOOD.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Apakah mencuri demi orang lain membuatmu pahlawan?

Pernahkah kalian mencuri untuk kebaikan, share dong pengalamannya

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017