Tags

, , , , , , , , , , ,

“True happiness can be realized when we harmonize the needs of our body and mind with our true self; the soul”

 

 

Ada rasa ngeri yang terasa ketika aku menyaksikan film terbaru garapan Garin Nugroho yang jadi Film Pilihan Tempo tahun 2018 yang lalu. Padahal Kucumbu Tubuh Indahku ini terhitung lebih ‘pro-selera rakyat’ dibanding film-film terakhir dari Garin. Dua filmnya yang kutonton baru-baru ini – Setan Jawa (2017) dan Nyai (2016) – terasa lebih berat dan lebih ‘semau Garin’. Toh, dengan tone yang tidak dibuat berat, Kucumbu Tubuh Indahku masih berhasil untuk menjadi meresahkan (in a good way) lantaran menguarkan elemen-elemen yang membuatnya masih satu garis yang sama dengan saudara-saudaranya tersebut. Persoalan manusia, budaya (dalam hal ini; Jawa), dan materi. Dan dalam film yang oleh khalayak internasional dikenal dengan nama Memories of My Body ini, tiga ‘Garin Trinity’ terwujud dalam sesuatu yang lebih dekat, yang lebih tidak-abstrak, yang – dalam bahasa film ini – lebih tegas garis jejaknya; Tubuh manusia, serta jiwa yang mengisinya.

Siapa sangka benda yang diciptakan dari tanah liat ini bisa begitu bikin rumit, ya? Padahal jenisnya cuma dua. Yang ada batangnya. Dan yang ada gunungnya. Tapi si empunya badan akan diharapkan untuk melakukan atau tidak-melakukan sesuatu berdasarkan dari onderdil tubuhnya. Segala sesuatu juga harus mengikuti aturan tubuh ini. Pakaian, misalnya. Bahkan nama.

Tapi apakah memang tubuh yang sebenarnya membuat pria itu pria, wanita itu wanita? Apakah yang bertinju itu jantan. Yang lembut itu bukan. Apakah ketika seseorang berkepala gundul lantas ia tidak diperbolehkan menari. Dan bagaimana sebenarnya ketika seseorang jatuh cinta – apa yang ia cintai. Tubuhkah?

 

Pertanyaan-pertanyaan seperti demikian yang bakal muncul ketika kita menonton Kucumbu Tubuh Indahku. Kita mengikuti perjalanan seorang Juno, as in Arjuna, yang sedari kecil mulai menunjukkan ketertarikan sama hal-hal kecewekan. Juno kecil suka mengintip rombongan penari lengger (tarian di mana penari laki-laki akan mengenakan riasan dan melenggok bak perempuan). Semakin beranjak dewasa, dorongan tersebut semakin kuat. Masalahnya adalah setiap kali Juno berusaha mengekspresikan diri kepada dunia luar yang serta merta meng-judge dirinya, kemalangan terjadi, yang membuat dirinya terlunta-lunta dari satu tempat ke tempat lain. Cerita film ini akan melingkupi dari fase Juno kecil, hingga dewasa. Pembagian fase tokoh cerita begini sedikit mengingatkanku kepada film Moonlight (2016) di mana kita juga melihat perjalanan tiga-fase tokoh dari anak-anak hingga dewasa yang berkaitan dengan eksplorasi seksual yang membuat ia dikecam oleh lingkungan sosialnya. Moonlight yang menang Oscar sangat kuat di kerja kamera yang benar-benar menempatkan kita dalam perspektif si tokoh. Sebaliknya, Garin, sutradara ini tidak pernah benar-benar unggul dalam permainan kamera, melainkan ia bekerja hebat dengan komposisi. Sebagai seorang yang berlatar dari teater, Garin mengimplementasikan sentuhan khas seni panggung tersebut ke dalam visual sinematis sehingga penceritaan film ini berhasil juga menjadi unik.

Ada poster David Bowie, ada poster Freddie Mercury, tapi uneasiness yang hadir dari dunia filmnya sendiri membuatku merasa lebih cocok kalo ada poster Goldust di sana

 

 

Perjalanan hidup Juno akan diceritakan ke dalam empat ‘episode’, di mana setiap episode tersebut diawali dengan Juno Dewasa yang bicara langsung kepada kita. Menghantarkan kita kepada konteks masalah dengan cara yang amat poetic dan dramatis. Kata-kata kiasan yang ia ucapkan akan menjadi pegangan untuk kita, sehingga kita bisa membedakan tiap-tiap episode yang bertindak sebagai kenangan dari Juno sendiri. Satu episode bisa saja lebih panjang dari yang lain. Ada yang lengkap dari awal, tengah, hingga akhir. Namun ada juga yang langsung berpindah ketika konfliknya lagi naik. Aku sendiri agak mixed soal itu. Garin menawarkan bukan jawaban, melainkan gambaran untuk kita perbincangkan. Aku suka dua episode pertama, tapi setelahnya cerita seperti mengulang permasalahan, hanya saja kali ini dengan intensitas yang dinaikkan. Baik itu intensitas kekerasan ataupun seting yang dibuat semakin edgy dan relevan dengan keadaan sekarang.

Kita tentu sadar, Juno dapat saja tumbuh menjadi the next Buffalo Bill seperti dalam film The Silence of the Lambs (1991), film Kucumbu ini bisa saja dengan gampang berubah menjadi thriller psikologikal atau malah slasher yang digemari lebih banyak penonton. Film ini lumayan berdarah kok. Tapi Garin – kendati terasa berusaha lebih pop dari biasanya – tetap dengan bijaksana menyetir cerita kembali ke arah yang lebih beresonansi terhadap manusia dan budaya. Makanya jadi lebih mengerikan. Setiap episode tadi itu bertindak sebagai lapisan. Ada lapisan romansa. Ada yang berbau politik, sebagai sentilan terhadap dunia kita. Gambaran besarnya terkait dengan gagasan film ini adalah soal keadaan sosial yang katanya berdemokrasi tapi tidak pernah benar-benar demokratis terhadap warganya. Namun journey pada narasinya sendiri tidak terasa baru karena apa yang dihadapi Juno sebenarnya itu-itu juga.

Empat episode tersebut adalah gambaran tentang empat makna tubuh yang digagas oleh cerita. Yang diselaraskan dengan pergerakan arc si Juno sendiri. Kita akan diberitahu bahwa “tubuh adalah rumah”, dan kita akan diperlihatkan ‘rumah’ tempat Juno dibesarkan. Right off the bat kita bisa melihat ada ketidakcocokan antara jiwa Juno dengan ‘rumah’ – dengan tubuhnya. Ini juga seketika melandaskan keinginan Juno untuk menjadi jantan, karena ia pikir jiwa feminisnya akan berubah maskulin jika ia terlihat jantan. Episode kedua cerita ini mengatakan bahwa “tubuh adalah hasrat.” Maka kita melihat Juno kecil pertama kali terbangkitkan hasrat lelakinya. Hanya saja ia belajar semua itu dengan konsekuensi yang keras. Jari-jarinya yang bisa merasakan kesuburan ayam harus dihukum. Sehingga cerita bergulir ke “tubuh adalah pengalaman.” Ini berkaitan dengan ‘muscle-memory’ yang pernah aku bahas pada review Alita: Battle Angel (2019) ; Hal-hal yang terjadi padanya semasa kecil, trauma-trauma baik di jiwa maupun literal membekas di badannya, hal itulah yang membentuk seperti apa Juno sekarang yang beranjak dewasa. Seorang asisten tukang jahit yang membuang hasrat maskulin dan sudah sepenuhnya berjiwa feminin. Hanya saja ia masih menahannya. Ini adalah point of no-return buat Juno sebagai tokoh cerita. Di sini kita dapat kontras adegan yang menyentuh sekali antara pemuda bertinju dengan Juno yang menghindar dengan tarian; yang perlu diperhatikan adalah Juno hanya mulai menari saat si pemuda sudah tertutup matanya oleh kain. Film Garin biasanya selalu soal gerakan, dan hal tersebut tercermin di sini. Actually, selain ini, ada banyak adegan yang ngelingker dari apa yang pernah dilakukan Juno kecil. Pengalamanlah yang mengendalikan tubuh Juno mengendalikan jiwanya. Tapi Juno belum bebas. Jiwanya masih berperang di dalam. Pergolakan tersebut tercermin pada tubuhnya, sebagaimana episode ke empat menyebut bahwa “tubuh adalah alam medan perang”. Aku gak akan menyebut seperti apa akhir film ini, tapi inner-journey Juno tertutup dengan baik dan ngelingker. Meskipun seperti yang sudah kutulis di atas, menuju akhir cerita akan bisa terasa ngedrag karena tidak muncul sesuatu yang baru melainkan hanya intensitas yang ditambah.

Bahkan Garin me-recycle elemen ‘ingin dipeluk’ yang pernah ia ceritakan di Cinta dalam Sepotong Roti (1991)

 

 

I’ve also mentioned Garin tidak selalu juara di kamera. Aku bicara begitu karena dari yang kuamati pada Setan Jawa dan Nyai, Garin seperti hanya melempar pemandangan ke kamera, dan perhatian kita tidak benar-benar ia arahkan, sehingga film-film Garin kebanyakan membingungkan. Namun sebenarnya di Kucumbu Tubuh Indahku, terutama di paruh awal kita melihat cukup banyak perlakuan pada kamera yang membuat film ini tidak membingungkan untuk ditonton. Ada editing yang precise, dan menimbulkan kelucuan yang lumayan satir seperti ketika Juno yang habis colok-colok pantat ayam kemudian berpindah ke dia lagi makan dengan jari yang sama. Kamera juga akan sering membawa kita seolah-olah mengintip, atau melihat dengan framing benda-benda. Ini sesungguhnya berkaitan dengan tema ‘mengintip’ yang jadi juga vocal-point cerita. Juno diajarkan bahwa manusia di dunia hanya numpang ngintip. Ada banyak lubang yang disebut oleh film ini, untuk mengingatkan kita dan juga Juno bahwa kita sebenarnya tak lebih dari tukang intip. Soal intip-intip dan lubang ini juga eventually pun bergaung lagi di makna adegan terakhir, karena kita tahu bahwa hal tersebut menyimbolkan keadaan Juno sebagai seorang closeted-person. Dan di titik terakhir itu, dia tak lagi mengintip.

 

 

 

 

Bertolak dari penari yang kudu bisa bergerak maskulin dan feminin, Garin Nugroho berhasil menyajikan sebuah tontonan berbudaya yang memancing pemikiran kita. Terselip komentar sosial dan politik. Sekaligus sebuah seni yang memanjakan indera. Semua aktornya bermain dahsyat. Namun begitu, ini adalah jenis film yang harus banget ditonton berkali-kali, sebab cuma seginilah yang pretty much bisa dijabarkan jika nontonnya baru satu kali. Bahkan menurutku film ini juga sebenarnya mau bilang bahwa tubuh indah yang penuh oleh borok-borok kehidupan itu adalah negara kita, sebuah rumah dengan hasrat, pengalaman, dan sebuah ‘medan perang’ hingga kini. Dan sudah begitu lama sepertinya tubuh dan jiwa itu tidak bergerak bersama. Film ini hadir sebagai celah supaya kita bisa mengintip hal tersebut, supaya kembali menyelaraskan gerakan.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for KUCUMBU TUBUH INDAHKU.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Apakah kalian pernah merasa terbatasi oleh gender kalian? Jika kalian diperbolehkan melakukan sesuatu yang dilakukan oleh lawan-jenis kalian, hal apa itu yang kalian lakukan?

Tell us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.