Tags

, , , , , , , , , , , ,

“Don’t be a follower”

 

 

 

Sebelumnya sukses secara-halus mengadaptasi cerita Hereditary (2018) ke lingkungan panti asuhan anak-anak, penulis William Chandra – kini sekaligus mengambil alih kursi sutradara – kembali mencoba peruntungan breaking through horror dengan creatively memasukkan elemen tokoh amnesia ke dalam adaptasi-lembut dari 10 Cloverfield Lane (2016). Dan Don’t Breathe (2016).

Dan Suspiria (1977 atau 2018, your choice!)

 

Asmara Abigail (temanku mengganti ‘g’ dengan ‘f’ setelah melihat penampilan aktingnya sebagai Lia pada film ini) juga terbangun mendapati dirinya dalam situasi antara disekap atau diselamatkan. Bedanya adalah, orang yang mengaku menyelamatkan dirinya bukan seorang bapak-bapak. Melainkan sekelompok orang yang hidup bersama selayaknya keluarga. Kepala ‘keluarga’ ini seorang wanita yang tengah mengandung, yang menjamu Lia dengan penuh kehangatan. Menjamunya makan. Mengenalkan Lia kepada lima penghuni lain. Menjelaskan kepadanya bahwa mereka adalah orang-orang yang terbuang secara sosial. “Dunia di luar kejam” ujar si wanita, dengan pandangan yang meminta Lia untuk tetap tinggal bersama mereka. Karena sekarang Lia yang kehilangan ingatan tidak punya siapa-siapa. Atau paling tidak, itulah yang mereka mau. Lia yang terus disuapi kebohongan dan kenyamanan palsu di siang hari, mulai merasakan keanehan pada sikap keluarga barunya. Yang bisa saja berhubungan dengan teror tak terjelaskan yang datang kepadanya setiap malam hari yang berasal dari sebuah entitas supernatural bernama Bunda yang hidup di suatu tempat di lingkungan mereka.

saking gak tau apa-apanya, Lia malah dipergoki dan ditunjukin arah sama orang buta

 

Siapakah seseorang begitu kita menghilangkan masa lalunya? 

Pertanyaan tersebut adalah alasan kenapa amnesia menjadi salah satu elemen atau trope yang sering kita temui dalam cerita fiksi, entah itu film ataupun novel. Kita bisa menggali banyak tentang personalita seorang karakter saat sejarah dan hubungannya dengan orang lain dicabut dari karakter tersebut. Konflik memang inti dari sebuah drama, akan tetapi setiap interaksi selalu berakar kepada siapa tokoh tersebut pada intinya. Membuat si tokoh amnesia – membuatnya melupakan hal-hal traumatis, atau luka pada hidupnya, atau momen-momen yang mengubah dirinya – seperti mengelupasi lapisan-lapisan luar dari tokoh tersebut sehingga kita dapat melihat dirinya yang asli. Kemudian pada akhirnya membenturkan inti tersebut dengan seperti apa dia seharusnya sekarang, boom, kita dapat cerita-cerita pencarian diri yang begitu personal dan sangat menarik. Jason Bourne melakukannya seperti demikian. Alita juga begitu. Bumblebee. Dalam beberapa poin, Captain Marvel juga.

Elemen amnesia ini adalah faktor paling utama yang mestinya menjadi penentu apakah film Sekte berhasil menjadi dirinya sendiri atau cuma menjadi follower dari film-film lain yang jauh lebih sukses. Cerita Lia ini akan menjadi menarik jika diperlakukan dengan benar, paling tidak sesuai dengan formula menangani karakter amnesia. Resikonya tinggi, memang, dalam menggunakan tokoh utama yang melupakan siapa dirinya. Benturan inner dengan outer journey tokoh tersebut haruslah saling kohesif; saling padu, saling berketerkaitan.

Sayangnya, Sekte terlalu sibuk mengurusi kelokan dan kejutan cerita, membangun jumpscare-jumpscare, sehingga melupakan – atau malah tidak mengerti – bahwa kekuatan utama cerita misteri mereka. Lia tidak pernah digarap. Hush, bukan digarap yang seperti itu, maksudku adalah tokoh Lia tidak pernah benar-benar diperlakukan sebagai tokoh utama. Motivasi absen dari tokoh ini. Sebagai orang yang lupa siapa dirinya, Lia perlu untuk diberikan suatu tujuan sekaligus keinginan mencari tahu siapa dia yang sebenarnya. Sekte melakukan kerja yang sangat buruk perihal memberikan purpose tersebut kepada sang tokoh utama. Dia dibuat mulai beraksi setelah mendengar backstory dari tokoh lain, mendadak dia jadi begitu peduli. Dan Lia sama sekali tidak pernah diperlihatkan penasaran, ingin mencari tahu, siapa sesungguhnya dirinya. Lia sebelum kejadian dalam film ini benar-benar dinihilkan oleh film. Alih-alih menjadikannya sebagai pengembangan, step-step pembelajaran tokohnya, siapa-Lia itu hanya difungsikan sebagai twist. Makanya, kita tidak sekalipun merasa peduli sama perjalanan tokoh Lia. Itupun kalo beneran ada perjalanannya. Bahkan ketika momen terakhir yang menunjukkan transformasi besar-besaran itu, aku tidak merasakan apa-apa selain sedikit kagum melihat visualnya. Naik-turun tokoh Lia ini enggak ada! Karena kita gak punya pegangan seperti apa dia yang sebenarnya.

Itu bukan lantaran filmnya berhasil menjadi ambigu. Kita tidak pernah mempertanyakan apakah yang diberitahu anggota sekte kepada Lia bohong atau bukan. I mean, judulnya saja sudah semacam papan pengumuman yang membeberkan yang bakal terjadi. Sebab film ternyata disetir menjauh dari psikologis Lia. Kita tidak mengerti wound-nya apa. Jikapun ada lie, itupun tidak terasa mempengarui Lia, karena lie tersebut tidak diciptakan oleh dirinya. Tokoh ini tidak mencari. 10 Cloverfield Lane sesegera mungkin menghadapkan Michelle, tokoh utamanya, dalam debat sengit di dalam kepalanya; apa yang sesungguhnya terjadi di luar sana, kenapa dia mesti berada di dalam sini. Ada begitu banyak pengalihan yang jenius dalam film 10 Cloverfield Lane yang mengajak kita turut menerka-nerka. Tokoh yang terlihat jahat, ternyata tidak, eh kemudian tampak berbahaya lagi. Sebaliknya pada Sekte, pengalihan-pengalihan juga ada banyak, hanya saja begitu obvious. Karena pengalihan-pengalihan itu berwujud aspek-aspek bego yang bakal langsung terasa, atau kelihatan, begonya jika kita menonton dengan pake logika.

Kita bukan sekte. Ayo ulangi. Kita bukan sekte.

 

 

Contohnya nih, anggota sekte dalam film ini bahkan enggak mengunci pintu ke ruangan yang ada mayat-mayat didudukkan di kursi-kursi kayak di dalam gereja. Mereka enggak menyembunyikan mayat tersebut dari Lia. Ada satu ruangan di rumah tersebut yang tidak boleh dimasuki oleh Lia, dan itu bukan ruangan mayat-mayat tadi. Terus ada tokoh yang mergokin Lia mau kabur, namun kemudian justru si tokoh itu yang mencoba membantu Lia dan menentang anggota sekte. Adegan-adegan bego semacam itu akan banyak kita temukan sepanjang film, dan surely merupakan tanda-tanda twist yang jelas sekali, yang membuat film kehilangan kemampuan mengangkat pertanyaan. Salah satu dari tiga cast utama dibunuh dalam adegan flashback, enggak sampai lima menit dari kemunculan pertama tokoh yang ia perankan – sangat jelas tokohnya nanti bakal punya peran yang lebih besar, lantaran gak mungkin film bayar pemain dengan nama lumayan besar hanya untuk adegan sekilas. Bahkan akting, oh maan, semuanya seragam jelek sehingga aku jadi penasaran apakah memang disengaja oleh arahan atau para aktornya bermain sekena mereka fully-realized adegan-adegan yang mereka lakukan bego. Dan ternyata memang ada yang disengaja. Ada elemen sandiwara, ada semacam akting dalam akting, yang dilakukan oleh tokoh-tokoh film ini sehingga looking back, kekakuan pengucapan dialog dan penyampaian emosi mereka bisa termaafkan karena sesungguhnya tokoh-tokoh itu juga lagi bersandiwara.

Film ini tidak menyadari bahwa elemen sandiwara yang mereka lakukan justru menihilkan bobot yang berusaha mereka sisipkan ke dalam cerita. Ada tokoh yang curhat kepada Lia soal dirinya berada di sana karena dibuang oleh orangtua yang malu lantaran dia gak seperti cowok normal. Para anggota sekte disugestikan adalah orang-orang terbuang dari masyarakat yang tidak menerima mereka. Dan kemudian kita tahu ternyata tokoh-tokoh tersebut bersandiwara kepada Lia. Ada yang tadinya mati, ternyata tidak mati. Buatku ini membuat komentar dan kritik-kritik sosial tadi tidak punya power atau cengkeraman lagi.

Soal pengungkapan di akhir cerita, beberapa penonton mungkin akan menganggapnya mindblowing. Tapi aku sarankan untuk memikirkan sedikit lebih dalam lagi apa yang sebenarnya dilakukan oleh film ini. BECAUSE IT WAS SO STUPID! Serius deh, setelah nonton tadi aku gak tahan membayangkan pembuat filmnya tersenyum puas menonton orang menonton karya mereka dan berpikir, “keren banget kan twist kita”. It’s not. Kenapa butuh segitu banyak orang untuk menipu satu tokoh yang ga ingat apa-apa, basically adalah kertas kosong yang bisa ‘ditulis’ apa saja, yang bahkan tidak mempertanyakan hal yang kau ceritakan kepadanya. Kenapa jika orang yang tadinya punya kepala sehat saja bisa sukarela masuk ke dalam lingkaran sekte, para anggota tersebut masih merasa perlu untuk bikin sandiwara demi meyakinkan orang yang sama – minus ingatannya – untuk kembali masuk ke sekte mereka. Kenapa oh kenapa sandiwara yang mereka lakukan musti berdarah-darah dan sangat eksesif padahal mereka cukup bersandiwara minta tolong ke Lia bahwa mereka sebenarnya ditahan oleh Bunda, mereka tinggal pura-pura mohon ke Lia“tolong bunuh monster di ruangan itu”… beres kan, toh hasil yang diinginkan bisa tercapai, dan kita bisa lebih cepat keluar dari bioskop.

At its best, Sekte memberikan gambaran bahwa yang fanatik-fanatik itu memang gila. Mereka rela melakukan hal yang gak perlu, bisa dibilang bego, bahkan sampai mengorbankan bukan saja orang luar melainkan kelompok mereka sendiri. Makanya, janganlah bangga-bangga amat menjadi pengikut, apalagi pengikut yang buta.

 

 

 

Film dengan cermat menyusun rencana dan menanamkan detil-detil, film punya ambisi untuk membuat horor dengan twist yang cerdas. Hanya saja mereka melupakan logika. Pengungkapan dalam film ini justru semakin membuat cerita semakin bego. Permainan akting yang kaku sama sekali tidak menolong film yang sudah kehilangan bobot gagasan oleh turn yang mereka lakukan pada cerita. Ini adalah horor yang sangat lemah. Aku malah takjub sekali jika masih ada penggemar horor yang merasa takut saat menonton film ini. Kecuali mungkin penggemar horornya sudah lupa ingatan akan bagaimana horor yang bagus. Karena elemen-elemen kunci pada film ini sudah pernah kita temukan dalam wujud yang lebih baik. Ini gak bakal jadi horor pemimpin, dia hanya pengikut. Bahkan mencapai status cult-movie pun rasanya sulit.
The Palace of Wisdom gives 1 gold star out of 10 for SEKTE.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Bagaimana sih pendapat kalian tentang sekte? Apakah kubu-kubu politik yang kita jumpai sekarang ini bisa disebut sebagai sekte juga?

Tell us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.