Tags

, , , , , , , , , , , ,

“Being unwanted, unloved, uncared for, forgotten by everybody, I think that is a much greater hunger”

 

 

Bagaimana membuat kentang tampak menakutkan?

Tantangan film ini luar biasa sulit, dan ia berhasuk membuat horor dari benda seumum kentang. Membuat kita percaya bahwa benda yang bisa dimakan, bisa ‘memakan’ balik. Dikaitkan juga dengan penggalian mitos hantu anak kecil yang meneror rumah dengan penampakan sejumlah kentang-kentang gaib, yang membuat semua orang penasaran….. NOT!!! I’m kidding.

Tidak ada urgensi dari mitos kenapa rumah kentang bisa jadi misteri. Dan tentunya tidak ada seorang pun yang menganggap kentang adalah hal yang menakutkan. Perkara mustahil membuat kentang menjadi horor. Kita punya peluang berhasil yang lebih besar membangun candi dalam waktu satu malam ketimbang menakuti-nakuti seisi bioskop dengan kentang. Para aktor pun terlihat jelas kesusahan untuk terlihat ketakutan tatkala ada kentang menggelinding, atau pun menimpuk mereka. Semua yang dilakukan film ini untuk ‘menjual’ kentang sebagai hal yang menyeramkan; gagal total. Malah jatoh menggelikan. Bayangkan ini: kentang-kentang itu menggelinding di lantai, saling tumpuk, bersatu, kemudian berubah membentuk sesosok hantu. Atau ada juga kebalikannya. Hantu berubah menjadi tumpukan kentang yang lantas berjatuhan menimpuk orang. Seram gak menurut kalian? Bahkan sambil ngetik ini aja bahuku goyang-goyang menahan kikik.

Rasanya pengen nyanyiin lagu Papoy “Bananaaaa.. potatonaaaa”

 

 

Karya teranyar Rizal Mantovani ini membawa kita mundur ke era 80an saat Luna Maya dan Christian Sugiono membawa tiga anak mereka – dan uwak Jajang C. Noer – mengunjungi rumah masa kecil Luna di sebuah perkebunan kentang. Rumah tersebut merupakan tempat kedua orangtua Luna menghilang sewaktu ia kecil. Alasan mereka semua sepakat berkunjung ke tempat horor itu sudah cukup menggelikan. Luna dan Sugiono adalah pasangan pembuat novel misteri. Sugiono penulis cerita dan Luna ilustratornya. Karena penjualan buku yang menurun, penerbit meminta Sugiono dan Luna untuk menulis horor dari pengalaman mereka sendiri. Nah lo, gimana coba – mereka disuruh nyari hantu beneran untuk menjual cerita. Hilarious!  Jadi mereka kembali ke rumah Luna, dan tentu saja di sana kejadian horor dimulai. Kentang bermunculan secara miserius. Satu persatu anak Luna dibawa ke dalam wadah sup besar oleh hantu cilik yang bisa berubah wujud. Luna pun mulai menggambar yang aneh-aneh, yang ia sendiri tak ingat kapan menggambarnya. Yang Luna ‘gambar’ itu adalah semacam premonisi mengerikan mengenai apa yang sebenarnya terjadi kepada anaknya. Luna pun harus berusaha menguak misteri hantu yang berkaitan langsung dengan tragedi yang menimpa ibu bapaknya.

Cerita semacam ini sesungguhnya punya elemen-elemen yang ada pada horor yang berhasil. Keluarga. Tragedi. Ketakutan seorang ibu akan nasib anaknya. Sungguh banyak horor sukses yang berangkat dari elemen tersebut. Aku sudah pernah bahas ini juga di review Lorong (2019) bahwa maternity adalah sumber hebat horor yang manusiawi yang paling banyak digali pada horor modern. Set film juga cukup menggugah selera. Perkebunan itu tampak seram. Rumahnya sendiri punya banyak ruang rahasia yang dimainkan maksimal sebagai panggung kejadian. Film juga berani untuk membawa tokohnya beredar hingga ke perkampungan, sehingga menimbulkan kesan kejadian pada cerita memiliki skala yang besar.

Namun jelas sekali, film ini sama sekali tidak memahami apa yang mereka kerjakan. Mereka hanya berfokus kepada kentang, alih-alih keseraman yang timbul dari perasaan terdalam manusia. Bukti kuat film ini has no idea adalah pada saat menjelang ending, tokoh Christian Sugiono diwawancarai oleh penmbaca yang menanyakan pelajaran apa yang ia dapatkan dari kejadian menyeramkan yang menimpa ia sekeluarga. Ini seharusnya bisa menjadi wadah bagi pembuat film untuk menyuarakan gagasan. Kita sendiri yang nonton bisa melihat ada horor soal orangtua yang menjual anaknya karena ia merasa sang anak tak berguna. Ini seharusnya bisa menjadi pelajaran penting, dan meskipun sebenarnya tidak bijak dengan gamblang menyebut gagasan yang kamu masukkan ke dalam film, namun ketika ‘terpaksa’ ada dialog yang mengungkap itu, ya pilihan terbaiknya ya gagasannya sebaiknya dikatakan saja. Akan tetapi jawaban Sugiono – yang tentu saja mewakili jawaban film – terhadap pertanyaan tadi adalah “saya belajar bahwa dunia gaib itu ada… uang bukan segalanya blablabla… jangan berjanji sama setan blablabla”

Benar-benar menunjukkan kedangkalan eksplorasi cerita. Karakter-karakter Rumah Kentang: The Beginning benar-benar persis kentang. Punya kulit yang tipis. Kulit dalam artian lapisan cerita. Tokoh-tokoh film ini bland, dan enggak punya plot alias journey. Penulis benar-benar gak peduli untuk memberikan mereka kedalaman padahal banyak yang bisa digali dari horor keluarga semacam ini. Hubungan Luna Maya dengan tiga anaknya tidak digali dengan baik. Hanya standar seorang ibu. Jadi ketika anaknya menghilang, kita sebatas “oh kasian hilang” tanpa ada kepedulian lebih lanjut. Tentu saja kasihan melihat keluarga terpisahkan, ibu kehilangan anaknya, namun cerita film butuh motivasi dan penggalian yang lebih supaya tokoh-tokohnya tidak seperti template. Perubahan tokoh Luna sekadar dari wanita yang tak percaya jimat menjadi wanita yang percaya sama jimat. Film seharusnya menggali kontras perlakuan Luna kepada anaknya dengan ‘antagonis’ terhadap anaknya. Karakter Sugiono lebih parah lagi. Tapi paling tidak ada satu koneksi antara dia dan anak tertua. Selebihnya, dia hanya dituntut untuk tampil clueless. Dan tiga anak tak lebih sebagai mangsa. Tapi aku suka anak yang kedua, karena gadis cilik ini pinter, dan gak bego dan sok creepy kayak adeknya.

hantu kentang yang pandai menggambar

 

Ironi terbesar yang hadir dalam cerita film ini adalah bahwa hantu kentang yang muncul karena praktek penumbalan untuk memakmurkan satu keluarga justru adalah makhluk paling lapar di seluruh dunia. Karena dia merupakan anak yang tidak diinginkan oleh ibunya. Seperti kata Bunda Teresa; menjadi orang yang tidak diinginkan, tidak dicintai, tidak diperhatikan, dilupakan oleh semua orang, adalah kelaparan – kemiskinan – yang jauh lebih besar daripada orang yang tidak punya apa-apa untuk dimakan.

 

Arahan sutradara juga tidak banyak menambah bobot untuk film. Mitos ‘Rumah Kentang’ yang dikenal luas sebenarnya menyangkut penampakan hantu anak kecil yang disertai bau kentang rebus. Tidak sekalipun film ini menunjukkan bau tersebut. Ia seperti tidak mampu menuangkan deskripsi indera itu ke dalam penceritaan. Padahal justru inilah tantangan sebenarnya yang harus ia taklukkan. Bagaimana membuat penonton merasakan – bukan hanya melihat penampakan atau mendengar jumpscare. Film terasa tumpul karena tidak mampu menghadirkan sensasi kemunculan hantu yang sudah punya mitos tersebut.

Maka film banyak mengandalkan visual. Kentang-kentang konyol tadi. Hantu yang bisa berubah bentuk menjadi siapa saja. Horor yang generiklah yang mampu dihasilkan. Satu hal menyenangkan yang datang dari sini adalah Luna Maya yang jadi harus memainkan dua versi tokoh. Pertama dia memainkan tokohnya yang normal (dan dangkal tanpa pengembangan. Dan yang kedua, dia memainkan hantu anak kecil yang menyamar menjadi dirinya kepada keluarga. Kedua versi ini sangat jelas perbedaannya, dan itulah yang membuatnya menarik untuk dilihat. It’s just fun melihat tokoh-tokoh yang dengan gampangnya tertipu. Yang meskipun mereka sudah curiga, tapi tetep mengikuti. Dan film cukup kreatif untuk memvariasikan adegan mereka semua sadar namun sudah terlalu terlambat.

 

 

 

Jika kalian tidak keberatan menyaksikan mindless horror, film ini bakal cukup menghibur. Tapi jika kalian pengen ada daging, atau gizi lebih, sebagai pelengkap di antara kentang-kentang itu; kalian akan mengecap rasa hambar saat nonton film ini. Selain sajian yang cukup berdarah, dan lingkungan yang cukup luas, tidak banyak yang menggugah selera kita.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for RUMAH KENTANG: THE BEGINNING