Tags

, , , , , , , , , , , , ,

“The problem is to see the reality as it is.”

 

 

 

Kata orang, mimpi tanpa dibarengi usaha hanya akan jadi sekadar angan-angan kosong. Bahwasanya kita diharapakan untuk tidak terbuai oleh mimpi, melainkan kudu terjaga dan segera melanjutkan hidup demi mewujudkan impian tersebut. Namun bagaimana jika tindakan mewujudkan mimpi itu sendiri justru membuat kita abai terhadap realita? Bagaimana jika tanah impian – dreamland – itu sendiri ternyata lebih baik untuk dijadikan angan-angan saja? Seberapa jauh kita mesti bermimpi?

Eugene dalam film Dreamland clearly hidup dalam dunia mimpi. Anak muda ini melihat mimpinya lebih jelas ketimbang dia melihat kenyataan. Eugene hidup di tanah realita yang keras, di Texas tahun 1930-an. Ladang mereka senantiasa diterpa badai angin. Di rumah pun ia kurang bahagia seatap bersama ayah tirinya yang deputy sheriff. Eugene tidak melihat apa yang ia punya, melainkan apa yang ia rasa seharusnya ia dapat. Karena meskipun ayah tirinya yang tegas itu sebenarnya baik, Eugene merindukan ayah kandungnya yang pergi meninggalkan dirinya sejak lama. Ia punya sahabat dan adik yang menyayanginya, tapi Eugene lebih suka tenggelam ke dalam buku-buku cerita detektif. Sampai suatu ketika, hidup Eugene mendadak seseru buku cerita. Seorang buronan perampok bank – wanita cantik bernama Allison – numpang berlindung di gudang jerami keluarga mereka. Eugene tertarik akan cerita si Allison, yang ternyata berbeda dari rumor mengerikan yang ia dengar. Dan yang terpenting adalah Eugene merasa jatuh cinta terhadap wanita supermenarik ini. Jadi Eugene memutuskan untuk membantu Allison, mulai dari merawat luka tembak di kakinya, hingga jika perlu membawanya melarikan diri ke Mexico. Tempat di mana hidup yang lebih baik dipercaya Eugene menunggu dirinya.

Allison ‘membunuh’ ke-innocent-an Eugene di depan mata kita semua

 

 

Perang antara ekspektasi melawan realita memang ditembakkan lagi dalam drama thriller ini. Ceritanya boleh jadi tembak-langsung, dengan elemen-elemen crime yang mengambil referensi dari kisah drama kriminal yang sudah familiar, tapi Dreamland tetap mumpuni sebagai sebuah tontonan. Yang membuat film ini secara khusus lumayan menarik adalah cara sutradara Miles Joris-Peyrafitte membangun karakter utamanya untuk kemudian dikontraskan dengan karakter Allison – bayangkan seperti jelata bertemu makhluk legenda – dan kemudian diparalelkan dengan cara Joris-Peyrafitte mengontraskan antara peristiwa yang nyata dengan kejadian yang merupakan impian kedua karakter tersebut. Penggunaan kontras itu juga berperan; didesain untuk menimbulkan naiknya intensitas. Memberikan sesuatu gejolak emosi kepada kita, di mana kita diniatkan untuk merasa terpecah dua di antara ingin melihat Eugene menjadi dewasa dan sukses dalam pelarian dengan merasa menyayangkan keputusan yang ia buat karena kita tahu lebih baik dari dirinya. Kita diposisikan untuk melihat lebih jelas dari si tokoh utama ini; bahwa sesungguhnya Eugene hanya anak muda yang begitu termakan oleh fantasi hidup-lebih-baik yang tidak realistis baginya.

Gampang bagi kita untuk mengkategorikan mimpi sebagai bentuk harapan atau sebuah perwujudan dari sikap optimis bahwa hal dapat menjadi lebih baik. Namun berpikir dalam terms optimis atau pesimis itu sesungguhnya menyederhanakan realita. Karena masalah yang terpenting adalah bagaimana kita melihat kenyataan itu terlebih dahulu. Kita harus juga menyadari kenyataan apa saja yang kita butuhkan, yang mungkin akan kita korbankan, untuk mewujudkan mimpi tersebut. Akan ironis sekali ketika tindak mewujudkan impian justru membawa kita pada kehidupan yang tidak lebih baik daripada kenyataan sebelumnya.

 

Ketika memperlihatkan realita, film akan membingkai gambar dalam layar yang lebar, to fully immersed us ke dalam periode 30an yang panas dan berdebu. Menekankan kepada kita bahwa itulah present yang harus dihadapi oleh Eugene. Dengan mulus kemudian film memasukkan kilasan sekuen-sekuen di pantai yang diberikan resolusi layar yang lebih kecil, serupa rekaman video. Yang boleh jadi menyimbolkan sebuah masa depan yang tidak bakal kejadian. Atau setidaknya, akan mati sebelum benar-benar terjadi.

Dari segi karakter, yang paling menarik – menonjol di antara semua – jelas adalah Margot Robbie sebagai Allison. Secara fisik memang tidak sukar untuk membuat Margot masuk ke dalam deskripsi sosok yang sudah seperti makhluk mitologi bagi karakter yang terkurung secara mental seperti Eugene. Kita sudah melihat Margot memainkan aktris Sharon Tate, atau sebagai Harley Queen; ini tipe-tipe sosok fantasi banget. Margot Robbie memang pantas memainkan tipikal manic pixie, dan Allison dalam Dreamland nyatanya adalah manic pixie dream girl yang benar-benar dark bagi eksistensi Eugene. Karena bukan hanya menguatkan dan membawa Eugene kepada sisi baik, melainkan juga kepada sisi terburuknya. Sebelum bertemu Allison kita melihat Eugene mencuri bacaan, dan perbuatannya tersebut bukan apa-apa ketika dia telah kenal dan jatuh cinta kepada Allison. Margot excellent dalam perannya ini, dia berhasil membuat flirt tidak tampak seperti flirt. Melainkan sesuatu yang bisa kita ‘dengar’ lebih berbahaya. Pun begitu, film tidak perlu repot-repot untuk menggiring kita ke pertanyaan apakah Allison jujur terhadap ceritanya atau tidak. Semua itu diserahkan kepada perhatian kita kepada karakter utama, si Eugene. Dan di sini kepiawaian Finn Cole menerjemahkan keinginan sutradara mencuat ke permukaan. Ya, Eugene ini kaku. Dan boring, dibandingkan Allison. semua itu supaya kita dapat melihat jelas pengaruh Allison kepada dirinya, dan ultimately memancing dramatis ketika kita lihat Eugene percaya.

Hiruk Pikuk Al-lison

 

Memasuki midpoint, bukan masalah lagi apakah Allison bohong, apakah Allison juga beneran jatuh cinta kepada Eugene, atau kita harus tahu kejadian sebenarnya. Melainkan fokus adalah kepada sikap Eugene terhadap Allison. Makanya pada adegan shower di motel itu, kamera merekam komposisi gambar yang demikian aneh. Kita hanya melihat Eugene, sedangkan Allisonnya kepotong, hanya sebagian kecil tubuhnya yang masuk frame. Pengadegan tersebut menuntut kita untuk memusatkan perhatian kepada Eugene sebab peperangan antara impian dan realita sedang memuncak di dalam tubuh polosnya.

Jika cerita dalam film ini diberikan waktu lebih lama untuk matang, tentulah kisah Eugene sebagai seorang pribadi bisa lebih mencuat lagi. Karena sebenarnya ada banyak lapisan pada tokoh ini yang dihadirkan, yang penting untuk pengembangan karakternya, tapi sendirinya tidak dikembangkan dengan maksimal. Relasi antara Eugene dengan ayah tirinya, misalnya. Paralel si ayah yang diantagoniskan oleh Eugene dengan dunia berdebu yang ingin ia tinggalkan – Eugene memilih pantai sebagai hidup sempurna – mestinya bisa ditonjolkan lagi. Babak kedua film ini terasa berlalu begitu saja karena tidak dapat dihabiskan untuk merajut relasi dan konflik antarkarakter tersebut. Hanya menyoal tindak sembrono Eugene dalam providing security untuk Allison.

Yang mungkin paling minim dikembangkan, padahal penting karena pilihan bercerita yang dilakukan oleh film, tentu saja adalah hubungan antara Eugene dengan adik perempuannya. For some reason, film memilih untuk bercerita lewat narator; yang diungkap sebagai si adik perempuan yang telah dewasa. Akan tetapi, peran tokoh si adik ini dalam cerita aktualnya sama sekali tidak banyak. Dia bahkan tidak ada dalam beberapa adegan. Ini membuat si adik sebagai narator yang tidak bisa dipercaya. Dia bercerita kepada kita soal percakapan yang terjadi antara Eugene dengan Allison, padahal percakapan itu merupakan hal yang tidak mungkin dia ketahui. Mungkin saja keseluruhan cerita ini adalah impian – sebuah eskapis tak-realistis versi dirinya yang merindukan sang abang – tapi film juga tidak menutup cerita dengan mengarahkan ke sana. Tidak ada yang mengisyaratkan apakah keseluruhan film ini beneran terjadi seperti begitu di dalam dunianya, ataupun apa pengaruh jelas cerita tersebut ke si adik sehingga dia sekarang menceritakannya kepada kita. Padahal seharusnya narator pada cerita diungkapkan kepentingannya terhadap cerita itu, misalnya seperti yang kita lihat pada serial drama horor The Haunting of Bly Manor (2020); narator yang menceritakan kisah pada akhirnya diungkap kenapa dia bisa tahu dan apa kepentingan dan makna cerita tersebut terhadap dia sendiri sebagai seorang karakter. Dreamland tidak melakukan semua itu terhadap naratornya.

 

 

 

 

Yang paling kita nikmati dalam drama thriller ini adalah hubungan antarkarakternya yang benar-benar menghidupi perjuangan antara mimpi – harapan – dengan kenyataan. Dengan penampilan akting yang dipimpin oleh Margot Robbie sebagai sosok ‘mitos’, film ini seharusnya memberikan ruang dan waktu lebih banyak untuk karakter-karakter tersebut berkembang. Karena sebenarnya ini tak pernah soal mana yang benar, mana yang bohong. Posisi narator, terutama, harus diperkuat lagi. Karena menjadikannya kisah ini sebagai sebuah pertanyaan membuat film ini tidak dapat benar-benar terasa kuat.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for DREAMLAND.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Bagaimana kalian memposisikan harapan/impian terhadap kenyataan? Seberapa tinggi mimpi itu sebaiknya jika dibandingkan dengan kenyataan?

Share  with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA