Tags

, , , , , , , , , , , ,

“The conundrum of free will and destiny has always kept me dangling”

 

 

 

Bayangkan jika Seo-yeon dalam thriller The Call (2020) dapetin cara untuk pergi ke masa lalu, dan berangkat ke sana untuk berantem dengan Young-sook yang udah bikin kacau hidupnya di masa kini. Bayangkan, jika masa depan punya kemampuan untuk menjangkau masa lalu. Karena seperti begitulah konflik dalam action terbaru dari Christopher Nolan ini. Dalam Tenet, pihak dari masa depan berhasil menemukan teknologi inversi waktu sehingga mereka bisa melakukan perjalanan ke masa lalu. Untuk nge-wipe out humanity yang udah bikin masa depan porak poranda. Let that sink in for a lil bit – supaya kita bisa berefleksi. Bakal jadi segitu parahnya kah masa depan karena ulah kita, sampai-sampai mereka dari masa depan segitu marahnya sehingga tak pedulikan resiko paradoks; hancurnya masa lalu berarti masa depan tak pernah ada?

Karena begitu kompleksnya, berusaha merangkum alur cerita dalam film ini akan berarti sama dengan berusaha menulis sebuah cerita pendek. Alur Tenet ini ribet banget, dan tidak bisa disederhanakan dengan rumus ‘karakter + yang ingin sesuatu + tetapi’ karena tokoh utamanya sendiri enggak benar-benar punya keinginan, at least hingga sekitar pertengahan cerita (maafkan kalo di ulasan ini sense timing/waktuku agak ngaco karena efek habis nonton film yang membenturkan timeline ini masih terasa hihihi). Garis besar yang perlu diketahui sebagai bangunan cerita film ini adalah bahwa protagonis kita, John David Washington – kita panggil pake nama aktornya aja karena tokoh ini gak diberikan nama – adalah seorang agent/mata-mata yang handal. Karena aksi dan sikapnya yang selfless, dia terpilih untuk program Tenet. Misi utamanya adalah menghentikan pihak yang disebut akan memulai Perang Dunia Ketiga. Betapa terkejutnya John saat kemudian mengetahui ‘Perang Dunia Ketiga’ itu ternyata berhubungan dengan perang lintas-waktu yang melibatkan peluru-peluru dan mobil yang berjalan terbalik. John melewati misi demi misi, yang membawanya ke sosok yang bakal jadi pemicu kiamatnya dunia.

And while at it, tentu saja seorang tokoh laga juga harus menyelamatkan seorang wanita cantik.

 

Narasi Tenet membenturkan antara kalimat “What’s happened, happened” dengan konsep ‘free will’ yang dimiliki oleh kita, manusia. Namun hanya karena apa yang telah terjadi, terjadi; bukan berarti kita tidak bisa berharap atau mengusahakan menjadi lebih baik. Karena dari masa lalu lah kita belajar. Nolan menantang kita dengan pertanyaan apakah free will itu eksis di dunia yang basically adalah aksi dan reaksi, atau bahkan sesuatu yang sudah didesain alias ditakdirkan. Masa lalu akan selalu jadi pembentuk seperti apa ke depannya. Dan kita harus melakukan sesuatu tersebut sekarang, di masa kita sendiri.

 

Konsep yang filosofis demikian menggugah pikiran, kemudian dibalut oleh aksi laga dengan suntikan elemen yang sudah menjadi ciri khas Nolan; elemen time-bending. Resultnya adalah sebuah spectacle yang seru, lagi membingungkan. Memandangnya seperti itu, maka Tenet memang tampak seperti mahakarya yang menakjubkan. Aspek teknik – didukung budget yang hanya bisa dipercayakan kepada Nolan – film ini luar biasa terdesain dan terencanakan dengan baik mengantarkan kepada capaian luar biasa yang berhasil diraih film ini. Film Tenet, seperti kata ‘Tenet’ itu sendiri benar-benar dirancang sebagai palindrom. Kejadian-kejadian yang dilalui oleh John akan circle-back to him di akhir. Menunjukkan kehidupannya berjalan ‘mundur’ seperti petualangannya, dia gak bisa lepas dari rentetan palindrom tersebut – film dimulai dari misi di Gedung Opera di mana ia diselamatkan oleh seseorang misterius, lalu ke misi di bandara, lalu di jalanan dan kembali lagi begitu dengan urutan yang terbalik – walaupun dia sebenarnya bisa memilih untuk keluar dari sana. Dalam pembalikan waktu yang sepertinya menetapkan jalan kita, ultimately tetap pilihan kitalah yang jadi penentu utama. But again, pilihan kita bukanlah pasti tidak bergantung dari result yang sudah dideterminasikan.

Sama seperti pada sinopsis di atas tadi; tidak ada cara dalam semesta-waktu kita yang bisa menyederhanakan aksi-aksi dan teori inverted time yang menjejali dua-jam lebih durasi film ini. Saking kompleksnya. Yang terbaik yang bisa kita lakukan untuk mengerti yang kita lihat adalah dengan memahami dulu prinsip dasar konsep time-travel dalam film ini. Konsep yang dipakai sungguh berbeda dengan cara kerja perjalanan waktu yang biasa kita lihat dalam cerita-cerita time-travel. Dalam Tenet ini, seseorang yang mundur ke masa lalu tidak muncul secara instant begitu saja ke waktu yang ia tuju. Melainkan harus benar-benar ‘berjalan’ ke waktu tersebut. Jika John ingin kembali ke hari kemaren, ia harus mundur dulu dari titik-waktu ia sekarang ke titik waktu hari kemaren yang ia tuju. Proses ‘mundur’ itu diwujudkan secara visual, menjadi adegan-adegan unik. Nolan membangun aksi-aksi gede dari adegan-adegan unik alias terbalik tersebut. Dia punya tempo dan irama sendiri dalam memperlihatkannya. Dimulai dari adegan ‘ringan’ berupa peluru yang terbang masuk ke dalam pistol alih-alih terbang termuntahkan oleh pistol, ke adegan John yang bergerak normal berantem dengan seseorang yang bergerak mundur, hingga epik action scene seperti car chase dan perang militer yang melibatkan banyak pihak yang maju dan pihak yang mundur secara bersamaan. Sekilas memang tampak rada goofy juga, tapi adegan-adegan tersebut dilakukan tanpa CGI, murni koreografi dan praktikal efek, sehingga sungguh layak untuk diapresiasi.

Tenet bikin tenot tenot, kemudian teeeeeeetttt :flatline:

 

Sebaliknya, jika kita memandangnya sebagai perjalanan karakter, maka karya Nolan yang satu ini jelas akan bikin kita frustasi. Karena sama sekali tidak ada pengkarakteran yang bisa kita pegang secara emosional di sini. Paling tidak, untuk waktu yang lama. Seiring berjalannya cerita, kita akan menumbuhkan sedikit simpati kepada tokoh Kat (istri dari Sator, si penjahat utama, yang mempertaruhkan keberadaannya buat sang anak) dan tokoh Neil (partner John yang misterius tapi kharismatik, dia seperti tahu lebih banyak dari yang diperlihatkannya). Namun tidak ada emotional attachment yang bisa kita rasakan terhadap tokoh John, Sang Protagonis, itu sendiri. Motivasi karakternya ngawang-ngawang, karakterisasinya pun generik sekali, meskipun Nolan disebut sudah meng-cast tokoh ini dengan mengsubvert standar karakter utama mata-mata yang biasa. Padahal karakter inilah yang kita tonton; aku ngasih The Call tinggi karena fokus ke pengembangan karakter dan tidak beribet-ribet ria dalam aturan-dunianya.

Teorinya adalah Tenet berjalan dengan pace-nya sendiri. Bergerak maju tanpa basa-basi, memperlihatkan karakter si protagonis lewat aksi dan pilihannya ketimbang lewat dialog ataupun adegan yang langsung menyuapi backstory ataupun karakterisasi tokoh ini. Hal ini bisa saja benar, karena memang backstory tidak harus ada ditampilkan – bisa secara subtil – dan film pun tidak mesti bolak-balik ngerem demi menghantarkan dialog ‘basa-basi’ untuk development karakter. Semuanya memang bisa dikerahkan lewat aksi-aksi yang terpapar lewat visual. Akan tetapi, kedekatan emosional itu harus ada, supaya kita bisa lebih peduli secara personal kepada karakter. Sehingga apapun yang ia lalui dapat kita empatikan – kita benar-benar ingin dia sukses. Tak sekalipun aku merasa berada di belakang John dalam Tenet, ingin melihat dia berhasil ataupun merasa ikut ‘sakit’ ketika dia gagal atau salah perhitungan. Dan itu karena film memang sama sekali nihil dalam soal mengembangkan tokoh ini. Dialog-dialog yang ia tampilkan akan sebagian besar berupa eksposisi. John, posisinya sama dengan kita, bingung atas apa yang terjadi – apa yang harus ia lakukan. Maka sebagian besar percakapan akan berisi informasi-informasi mengenai Tenet, Temporal Pincer Movement, Algorithm, dan segala macam istilah sains-film ini. Yang hanya terdengar seperti omongkosong buat kita karena kita tidak diberikan kesempatan untuk melihat apa artinya itu semua bagi pribadi si John. Heck, tokoh ini bahkan tidak punya nama. Dia hanya disebut Protagonist, as to remind us bahwa segala kejadian ada sangkut pautnya dan berada di bawah aksi dan pilihan si tokoh. Persahabatannya dengan Neil juga tidak benar-benar menyentuh – walau sudah diperkuat dengan musik-musik volume maksimal – karena kita melihatnya dari sudut pandang si Protagonis yang datar.

Sekali lagi, Nolan menitikberatkan kepada pengalaman-menonton yang kita rasakan. Epic action scenes! Kita bandingkan saja dengan Dunkirk (2017) , dalam film itu Nolan juga melakukan hal yang sama. Meletakkan kita begitu saja mengikuti karakter yang tidak punya motivasi personal selain mereka gak gugur dalam perang. Dalam Dunkirk, konteks ini berjalan dengan efektif. Karena kita sudah paham bahwa ini cerita di medan perang. Kita tidak perlu tahu siapa musuhnya, siapa patriot-patriot itu, kita bisa bersimpati karena mereka sedang berperang. Mempertaruhkan nyawa. Belum lagi, secara konstan mereka dibom, diberondong peluru. Kita otomatis akan mendukung protagonisnya. Konteks yang serupa diterapkan kembali di Tenet, dan jelas tidak bisa efektif karena film ini punya kebutuhan untuk menjelaskan aturan-dunia. Aturan yang sangat ribet, sehingga kita tersedot ke sana. Saat menonton kita hanya ingin mengerti, tapi Nolan seperti bicara sendiri di sini – sibuk menjelaskan. Kita bosan dan berpaling ke karakter, dan guess what, karakternya tidak terbentuk. We don’t know him. Dan jadilah kita tidak punya pegangan apa-apa saat menonton film ini. Sekalipun kita bertahan, maka itu either karena kita fansnya Nolan, atau memang terpesona sama gimmick time inverted action-nya saja.

 

 

Orang-orang mengamini Nolan sebagai pembuat film bermutu yang setiap filmnya akan membuat kita merasa pintar, karena selalu sukses mengajak kita berpikir. Tapi kali ini, yang terasa adalah kita berusaha keras berpikir di depan seseorang yang begitu ambisius. Ini seperti mendengar racauan teori seseorang yang ingin nunjukin dia pintar, tapi lupa untuk memberikan alasan yang bisa bikin kita peduli sama teorinya. Jika kalian suka lihat spectacle unik, film ini jelas akan wah, pencapaian teknisnya toh tidak bisa dipandang sebelah mata (meski aksi dan ngomong terbalik buatku sudah tidak lagi seunik sewaktu aku melihat adegan Twin Peaksnya David Lynch). Jika kalian lebih menghargai film dari karakter, maka kalian akan menemukan film ini sebagai karya Nolan yang paling hampa. Bingung dan seru, tapi hambar. Tentu, film ini akan jadi lebih mudah dimengerti dan diikuti setelah menonton ulang. Lagi dan lagi. Namun toh, semua film memang begitu. Dalam second viewing, pasti akan ada hal yang lebih kita pahami. Gak harus sengaja beribet-ribet buat ditonton ulang. 12 Angry Men yang isinya orang debat aja ditonton lagi dan lagi akan tetap memberikan pengalaman serupa kita nonton film baru. So yea, buatku film ini tidak sespesial itu. Karakternya generik laga. Hanya gimmicknya saja yang lumayan unik dan ambisius.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for TENET.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Bahas teori dan kejadian sebenarnya niscaya akan panjang, gak cukup seribuan kata. Jadi, lebih baik kita diskusi di komen saja. Bagaimana menurut kalian, apakah kalian punya teori sendiri tentang Tenet? Apa pendapat kalian tentang teori yang menyatakan Neil secretly adalah anak Kat versi sudah dewasa dan inverted back thru time?

Share  with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA