TENET Review

“The conundrum of free will and destiny has always kept me dangling”
 

 
 
Bayangkan jika Seo-yeon dalam thriller The Call (2020) dapetin cara untuk pergi ke masa lalu, dan berangkat ke sana untuk berantem dengan Young-sook yang udah bikin kacau hidupnya di masa kini. Bayangkan, jika masa depan punya kemampuan untuk menjangkau masa lalu. Karena seperti begitulah konflik dalam action terbaru dari Christopher Nolan ini. Dalam Tenet, pihak dari masa depan berhasil menemukan teknologi inversi waktu sehingga mereka bisa melakukan perjalanan ke masa lalu. Untuk nge-wipe out humanity yang udah bikin masa depan porak poranda. Let that sink in for a lil bit – supaya kita bisa berefleksi. Bakal jadi segitu parahnya kah masa depan karena ulah kita, sampai-sampai mereka dari masa depan segitu marahnya sehingga tak pedulikan resiko paradoks; hancurnya masa lalu berarti masa depan tak pernah ada?
Karena begitu kompleksnya, berusaha merangkum alur cerita dalam film ini akan berarti sama dengan berusaha menulis sebuah cerita pendek. Alur Tenet ini ribet banget, dan tidak bisa disederhanakan dengan rumus ‘karakter + yang ingin sesuatu + tetapi’ karena tokoh utamanya sendiri enggak benar-benar punya keinginan, at least hingga sekitar pertengahan cerita (maafkan kalo di ulasan ini sense timing/waktuku agak ngaco karena efek habis nonton film yang membenturkan timeline ini masih terasa hihihi). Garis besar yang perlu diketahui sebagai bangunan cerita film ini adalah bahwa protagonis kita, John David Washington – kita panggil pake nama aktornya aja karena tokoh ini gak diberikan nama – adalah seorang agent/mata-mata yang handal. Karena aksi dan sikapnya yang selfless, dia terpilih untuk program Tenet. Misi utamanya adalah menghentikan pihak yang disebut akan memulai Perang Dunia Ketiga. Betapa terkejutnya John saat kemudian mengetahui ‘Perang Dunia Ketiga’ itu ternyata berhubungan dengan perang lintas-waktu yang melibatkan peluru-peluru dan mobil yang berjalan terbalik. John melewati misi demi misi, yang membawanya ke sosok yang bakal jadi pemicu kiamatnya dunia.

And while at it, tentu saja seorang tokoh laga juga harus menyelamatkan seorang wanita cantik.

 

Narasi Tenet membenturkan antara kalimat “What’s happened, happened” dengan konsep ‘free will’ yang dimiliki oleh kita, manusia. Namun hanya karena apa yang telah terjadi, terjadi; bukan berarti kita tidak bisa berharap atau mengusahakan menjadi lebih baik. Karena dari masa lalu lah kita belajar. Nolan menantang kita dengan pertanyaan apakah free will itu eksis di dunia yang basically adalah aksi dan reaksi, atau bahkan sesuatu yang sudah didesain alias ditakdirkan. Masa lalu akan selalu jadi pembentuk seperti apa ke depannya. Dan kita harus melakukan sesuatu tersebut sekarang, di masa kita sendiri.

 
Konsep yang filosofis demikian menggugah pikiran, kemudian dibalut oleh aksi laga dengan suntikan elemen yang sudah menjadi ciri khas Nolan; elemen time-bending. Resultnya adalah sebuah spectacle yang seru, lagi membingungkan. Memandangnya seperti itu, maka Tenet memang tampak seperti mahakarya yang menakjubkan. Aspek teknik – didukung budget yang hanya bisa dipercayakan kepada Nolan – film ini luar biasa terdesain dan terencanakan dengan baik mengantarkan kepada capaian luar biasa yang berhasil diraih film ini. Film Tenet, seperti kata ‘Tenet’ itu sendiri benar-benar dirancang sebagai palindrom. Kejadian-kejadian yang dilalui oleh John akan circle-back to him di akhir. Menunjukkan kehidupannya berjalan ‘mundur’ seperti petualangannya, dia gak bisa lepas dari rentetan palindrom tersebut – film dimulai dari misi di Gedung Opera di mana ia diselamatkan oleh seseorang misterius, lalu ke misi di bandara, lalu di jalanan dan kembali lagi begitu dengan urutan yang terbalik – walaupun dia sebenarnya bisa memilih untuk keluar dari sana. Dalam pembalikan waktu yang sepertinya menetapkan jalan kita, ultimately tetap pilihan kitalah yang jadi penentu utama. But again, pilihan kita bukanlah pasti tidak bergantung dari result yang sudah dideterminasikan.
Sama seperti pada sinopsis di atas tadi; tidak ada cara dalam semesta-waktu kita yang bisa menyederhanakan aksi-aksi dan teori inverted time yang menjejali dua-jam lebih durasi film ini. Saking kompleksnya. Yang terbaik yang bisa kita lakukan untuk mengerti yang kita lihat adalah dengan memahami dulu prinsip dasar konsep time-travel dalam film ini. Konsep yang dipakai sungguh berbeda dengan cara kerja perjalanan waktu yang biasa kita lihat dalam cerita-cerita time-travel. Dalam Tenet ini, seseorang yang mundur ke masa lalu tidak muncul secara instant begitu saja ke waktu yang ia tuju. Melainkan harus benar-benar ‘berjalan’ ke waktu tersebut. Jika John ingin kembali ke hari kemaren, ia harus mundur dulu dari titik-waktu ia sekarang ke titik waktu hari kemaren yang ia tuju. Proses ‘mundur’ itu diwujudkan secara visual, menjadi adegan-adegan unik. Nolan membangun aksi-aksi gede dari adegan-adegan unik alias terbalik tersebut. Dia punya tempo dan irama sendiri dalam memperlihatkannya. Dimulai dari adegan ‘ringan’ berupa peluru yang terbang masuk ke dalam pistol alih-alih terbang termuntahkan oleh pistol, ke adegan John yang bergerak normal berantem dengan seseorang yang bergerak mundur, hingga epik action scene seperti car chase dan perang militer yang melibatkan banyak pihak yang maju dan pihak yang mundur secara bersamaan. Sekilas memang tampak rada goofy juga, tapi adegan-adegan tersebut dilakukan tanpa CGI, murni koreografi dan praktikal efek, sehingga sungguh layak untuk diapresiasi.

Tenet bikin tenot tenot, kemudian teeeeeeetttt :flatline:

 
Sebaliknya, jika kita memandangnya sebagai perjalanan karakter, maka karya Nolan yang satu ini jelas akan bikin kita frustasi. Karena sama sekali tidak ada pengkarakteran yang bisa kita pegang secara emosional di sini. Paling tidak, untuk waktu yang lama. Seiring berjalannya cerita, kita akan menumbuhkan sedikit simpati kepada tokoh Kat (istri dari Sator, si penjahat utama, yang mempertaruhkan keberadaannya buat sang anak) dan tokoh Neil (partner John yang misterius tapi kharismatik, dia seperti tahu lebih banyak dari yang diperlihatkannya). Namun tidak ada emotional attachment yang bisa kita rasakan terhadap tokoh John, Sang Protagonis, itu sendiri. Motivasi karakternya ngawang-ngawang, karakterisasinya pun generik sekali, meskipun Nolan disebut sudah meng-cast tokoh ini dengan mengsubvert standar karakter utama mata-mata yang biasa. Padahal karakter inilah yang kita tonton; aku ngasih The Call tinggi karena fokus ke pengembangan karakter dan tidak beribet-ribet ria dalam aturan-dunianya.
Teorinya adalah Tenet berjalan dengan pace-nya sendiri. Bergerak maju tanpa basa-basi, memperlihatkan karakter si protagonis lewat aksi dan pilihannya ketimbang lewat dialog ataupun adegan yang langsung menyuapi backstory ataupun karakterisasi tokoh ini. Hal ini bisa saja benar, karena memang backstory tidak harus ada ditampilkan – bisa secara subtil – dan film pun tidak mesti bolak-balik ngerem demi menghantarkan dialog ‘basa-basi’ untuk development karakter. Semuanya memang bisa dikerahkan lewat aksi-aksi yang terpapar lewat visual. Akan tetapi, kedekatan emosional itu harus ada, supaya kita bisa lebih peduli secara personal kepada karakter. Sehingga apapun yang ia lalui dapat kita empatikan – kita benar-benar ingin dia sukses. Tak sekalipun aku merasa berada di belakang John dalam Tenet, ingin melihat dia berhasil ataupun merasa ikut ‘sakit’ ketika dia gagal atau salah perhitungan. Dan itu karena film memang sama sekali nihil dalam soal mengembangkan tokoh ini. Dialog-dialog yang ia tampilkan akan sebagian besar berupa eksposisi. John, posisinya sama dengan kita, bingung atas apa yang terjadi – apa yang harus ia lakukan. Maka sebagian besar percakapan akan berisi informasi-informasi mengenai Tenet, Temporal Pincer Movement, Algorithm, dan segala macam istilah sains-film ini. Yang hanya terdengar seperti omongkosong buat kita karena kita tidak diberikan kesempatan untuk melihat apa artinya itu semua bagi pribadi si John. Heck, tokoh ini bahkan tidak punya nama. Dia hanya disebut Protagonist, as to remind us bahwa segala kejadian ada sangkut pautnya dan berada di bawah aksi dan pilihan si tokoh. Persahabatannya dengan Neil juga tidak benar-benar menyentuh – walau sudah diperkuat dengan musik-musik volume maksimal – karena kita melihatnya dari sudut pandang si Protagonis yang datar.
Sekali lagi, Nolan menitikberatkan kepada pengalaman-menonton yang kita rasakan. Epic action scenes! Kita bandingkan saja dengan Dunkirk (2017) , dalam film itu Nolan juga melakukan hal yang sama. Meletakkan kita begitu saja mengikuti karakter yang tidak punya motivasi personal selain mereka gak gugur dalam perang. Dalam Dunkirk, konteks ini berjalan dengan efektif. Karena kita sudah paham bahwa ini cerita di medan perang. Kita tidak perlu tahu siapa musuhnya, siapa patriot-patriot itu, kita bisa bersimpati karena mereka sedang berperang. Mempertaruhkan nyawa. Belum lagi, secara konstan mereka dibom, diberondong peluru. Kita otomatis akan mendukung protagonisnya. Konteks yang serupa diterapkan kembali di Tenet, dan jelas tidak bisa efektif karena film ini punya kebutuhan untuk menjelaskan aturan-dunia. Aturan yang sangat ribet, sehingga kita tersedot ke sana. Saat menonton kita hanya ingin mengerti, tapi Nolan seperti bicara sendiri di sini – sibuk menjelaskan. Kita bosan dan berpaling ke karakter, dan guess what, karakternya tidak terbentuk. We don’t know him. Dan jadilah kita tidak punya pegangan apa-apa saat menonton film ini. Sekalipun kita bertahan, maka itu either karena kita fansnya Nolan, atau memang terpesona sama gimmick time inverted action-nya saja.
 
 
Orang-orang mengamini Nolan sebagai pembuat film bermutu yang setiap filmnya akan membuat kita merasa pintar, karena selalu sukses mengajak kita berpikir. Tapi kali ini, yang terasa adalah kita berusaha keras berpikir di depan seseorang yang begitu ambisius. Ini seperti mendengar racauan teori seseorang yang ingin nunjukin dia pintar, tapi lupa untuk memberikan alasan yang bisa bikin kita peduli sama teorinya. Jika kalian suka lihat spectacle unik, film ini jelas akan wah, pencapaian teknisnya toh tidak bisa dipandang sebelah mata (meski aksi dan ngomong terbalik buatku sudah tidak lagi seunik sewaktu aku melihat adegan Twin Peaksnya David Lynch). Jika kalian lebih menghargai film dari karakter, maka kalian akan menemukan film ini sebagai karya Nolan yang paling hampa. Bingung dan seru, tapi hambar. Tentu, film ini akan jadi lebih mudah dimengerti dan diikuti setelah menonton ulang. Lagi dan lagi. Namun toh, semua film memang begitu. Dalam second viewing, pasti akan ada hal yang lebih kita pahami. Gak harus sengaja beribet-ribet buat ditonton ulang. 12 Angry Men yang isinya orang debat aja ditonton lagi dan lagi akan tetap memberikan pengalaman serupa kita nonton film baru. So yea, buatku film ini tidak sespesial itu. Karakternya generik laga. Hanya gimmicknya saja yang lumayan unik dan ambisius.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for TENET.

 

 
 

 

That’s all we have for now.
Bahas teori dan kejadian sebenarnya niscaya akan panjang, gak cukup seribuan kata. Jadi, lebih baik kita diskusi di komen saja. Bagaimana menurut kalian, apakah kalian punya teori sendiri tentang Tenet? Apa pendapat kalian tentang teori yang menyatakan Neil secretly adalah anak Kat versi sudah dewasa dan inverted back thru time?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

Comments

  1. Kebu says:

    Wah setuju banget nonton ulang 12 angry men kok masih seru ya, padahal filmnya simpel banget tapi debatnya itu loh bikin kita yang nonton jadi ikut keringetan wkwkwk. Btw soal Tenet kayaknya berdasarkan skor itu mending untuk skrg aku skip aja deh, soale kasian otakku lagi banyak pikiran mau nonton yang santai santai aja hehe

    • arya says:

      Haha iya kan, film simpel juga bakal makin seru kalo ditonton berkali-kali. Film ribet yang harus ditonton berulang-ulang biar kerasa bagus ya gak spesial kan kalo gitu.
      Nontonnya memang harus di bioskop kayaknya biar makin seru. Tapi kayaknya kalo aku nonton ini di bioskop, bakal muntah deh, karena bikin bingung dan aksi2 cepat.. too much tapi karakternya boring haha

  2. Firdaus says:

    Seriusan Udah nunggu liat film ini semenjak lama dan jujur liat opening bagus banget dan sepertinya Christopher Nolan kehilangan Ciri khasnya yaitu development karakter nya seperti di Interstellar,Inception atau Trilogy Dark Knight poin hampa beneran dah kerasa banget menuju pertengahan cerita ngehhh banget buat cerna isi cerita mungkin ini adalah salah satu karyanya yang tidak bikin aku terkesan

    • arya says:

      Capek ngunyahnya jadi ceritanya malah tak tecerna sama sekali ya. Iya tuh, padahal dia mampu kok ngasi karakter dan emosi kayak di film-film itu. Entah kenapa sejak Dunkirk, dia jadi lebih fokus ke teknikal dan kayak sengaja nyari konsep yang bisa ngasih alasan untuk gak banyak main-main di karakter.
      Aku nontonnya dua kali tapi malah makin sebal sama si protagonisnya wkwkwk

  3. arya says:

    Hahaha kocak, tepat banget tuh resep ’emotional depth’nya film ini
    Kalo passionnya sih memang kerasa sekali ya, Tenet ni kayak gabungan elemen-elemen film dia terdahulu. Penasaran dia dapat inspirasinya dari mana

  4. Shofyan Adib says:

    “Sekalipun kita bertahan, maka itu either karena kita fansnya Nolan, atau memang terpesona sama gimmick time inverted action-nya saja.”
    Aku menangis membaca ini, hiks… Kaya ga terima gitu. Tapi bener juga sih, wk

    • arya says:

      Hahaha aku aja nontonnya pengen udahan tapi membatin “ayo dong Nolan.. ayo dong Nolan” kayak dukung acara olahraga aja
      tapi ampe ke ujung tetep bener-bener gak dapet jolt film ini

  5. Anton Suryadi (@OhhGetoo) says:

    Udah 3 kali nonton, rencana mau ngertiin alur ceritanya, tapi emang bener, malah jadi berasa klo karakternya ga hidup semua. Si protagonis ga cocok banget kalau lagi bahas filosofi, emang cocoknya ngelawak kayak di film dia sebelumnya. Kalau soal teori waktu terbaru dari Nolan jelas suka banget. Masih banyak yang buat bingung, kayak:
    – Di adegan terakhir dalam pesiar, itu Sator yang dari masa depan kah yang meninggal?
    – Protagonis yang ngebunuh Priya itu apakah orang yang sudah berteman sm neil lama? Jadi orang yang benar-benar sudah ngalamin semuanya gitu loh.
    – Adegan perang sih yang paling buat bingung. Kenapa harus ada tim biru (inversion), apakah untuk buat bingung musuh? Adegan ledakin gedung dari sisi waktu normal dan inversion itu buat apa di menit ke-5?
    – Dan karena adegan perang terjadi di masa sebelumnya berarti Sator di masa itu sudah tahu donk kalau ia sudah kalah.
    Saking banyaknya pertanyaan ampe banyak juga yang lupa apa yang mau ditanya. Harus ditonton lagi kayaknya hahaha…

    • arya says:

      Mau ngejawabnya juga harus nonton lagi nih kayaknya ahahaha.. hebat sih sanggup nonton lebih dari dua kali xD
      Mestinya si Sator itu ya versi masa kini (bukan versi inverted) karena dia justru di kapal itu nunggu versi inverted dirinya sebagai sinyal bahwa rencananya sukses, kalo gak datang berarti rencananya gagal dan dia lanjut bunuh diri sambil bawa dunia bersamanya.
      Banyak yang bingungin sih memang.. soalnya katanya kan inverted people harus pakai oksigen khusus, mestinya itu bisa jadi penciri. Tapi kemudian tokoh-tokoh dalam film ini tuh kayak kejebak dalam loop semua, gak keciri lagi dengan oksigen itu.. jadi bisa jadi memang yang bunuh Priya itu protagonist yang aware ama semuanya, bukan protagonist ‘kita’
      Konsep perang dua tim itu sih biar saling mengantisipasi gerakan gitu loh, jadi tim inverted bisa ngasih tahu arah bahaya atau apapun yang meleset dari tim normal.. eh, atau kebalik ya? Aduh bingung juga gimana.. pokoknya intinya gitu deh haha.. Di menit 5 atau di menit 10?
      Nah ini mungkin itu inti gagasan cerita nolan ini; walau udah tau bakal kalah, tapi orang-orang kayak Sator, atau pihak masa depan yang udah tau ngancurin masa lalu bakal ngancurin dunia mereka juga, tetep mau melakukan aksi. Karena mereka percaya waktu tidaklah mengikat, karena semua manusia punya free will kan.. Jadi setiap kita kan punya masa depan tuh yang bergantung dari keputusan/aksi kita di masa sekarang, namun bagaimana kalo di masa sekarang itu kita balik mundur ke masa lalu, gitu deh kira-kira filosofisnya wkwkwk

    • Radar Neptunus says:

      protagonist yang bunuh priya itu kayanya yang dari masa depandeh. karena yang bisa nerima informasi dari telfon yang dikasih sama john itu kan bakal diterima sama “the future” kaya yang pernah di bilang di filmnya. terus mungkin somehow entah bagaimana caranya si the future ini ngirim neil atau siapapun itu ngasih petunjuk ke protagonist yang ada inverted time untuk bunuh priya. Yang mana menunjukan kalo si protagonist ini bener bener bos nya di tenet gitu.
      Terus inget gasih puing puing yang diteliti di awal film, kayanya itu puing bangunan yang jatuh dari gedung pada masa perang di menit ke 5, (anyway kenapa dimenit kelima itu bangunanya kebangun terus diledakan lagi itu karena menit ke 5 dari 10 menit itu persinggungan waktu tim merah sama tim biru) bentuk potongannya sama persis. Jadi saat itu, mungkin setelah mereka berpisah, ada yang ngasih clue puing bangunan itu ke masa lalu. jadi sebeneernya semua bener bener looping, dan bener tadi itu sih teorinya free will yang bisa buat kehidupan semakin better di tiap loop waktunya, dan udah gaakan ada kiamat lagi karena rantai nya sebenernya udah terputus saat si sator mati di kapal hari itu. But the loop is still going dengan arahan nya si protagonist di masa depan (as the boss).
      aku mengamini kalo emang ya develompment caracter nya hampa sih. jujur aku pas pertama liat ga tahu klo ini filmnya c. nolan. jadi sepertinya bukan karena bertahan sama idelasme kalo ini filmnya nolan siii. cuma emang filmnya challenging untuk di tonton.
      menurut aku malah, ini sangat rekomendasi untuk ditonton buat org org yg suka film yang menarik. bukan karena plot twist nya, tapi gimana nebak gap of time yg terjadi dibelakang layar dari fakta fakta yang udah disediain di film itu sendiri. (baik yang akan, sedang, dan belum terjadi) karena ya film ini emang bener bener gabisa dilihat pake kacamata biasa kita liat film film lain.
      buat yg neil anak nya kat wakt udah besar, hmmm kok kayanya engga ya, karena ini time inversion bukan time travel. kalo itu orang yang sama, maka salah satu dari mereka di jangka waktu yang sama ( eitehr neil aau anaknya kath) harus pake masker dan jalan mundur. cuma ya sebeenernya ini ga bisa jadi patokan juga sih, karena ga jelas kadang yang atau di inversion time ga pake masker juga.
      overall, gitu sih, bagus kok buat di tonton. nikmatin aja, jangan berpegang sama idealisme apapun,.

      • arya says:

        Betul sekali, kalo misalnya kita punya budget cuma cukup untuk beli satu bluray doang, pakelah duit itu untuk beli film ini. karena apa yang ada di Tenet ini semuanya pasti bisa dipelajari dan dimengerti. Butuh waktu aja.

  6. Dersik says:

    Aku sih bisa bilang Seorang Jenius pun bisa melakukan kesalahan.
    Tapi kesalahan yg dibuat di proyeknya yg paling ambisius? Mungkin baru kali ini aku lihat.
    I’m sorry Mr.Nolan. I’m your biggest fan, but this time you have dissapointed me.

    • arya says:

      Hanya jenius paling snob mungkin yang melakukan kesalahan seperti itu hahaha..
      Semoga Mr. Nolan bisa sedikit lebih humble setelah film ini, dan kembali bikin film-film yang bukan hanya cerdas tapi juga punya hati.

  7. Dersik says:

    Hahaha Iya sih mas, dia agak angkuh di proyek ini.
    Sempet baca kabar jg klo dia sok idealis gak mau filmnya ditanyangin di streamin berbayar. Dan akhirnya di situasi pandemi gini, Tenet hanya tayang di bioskop.
    Rasanya hampir sama kyk punya temen sekelas yg pinter tapi pelit ilmu, gak mau bantu temen yg lainnya utk belajar. Wkwkwk

    • arya says:

      Hahaha iya bener, kayak orang pinter yang gak aware sama sekitar ya jatohnya. Kayak, pas bikin cerita ini tuh dia udah lebih dahulu posisikan diri sebagai di atas yang lain. Padahal kan mestinya saat kita menuangkan visi dan argumen, saat kita buka obrolan untuk ngajak diskusi, kita harusnya memposisikan diri sebagai sejajar – perkara nanti orang tetep gak ngerti itu urusan lain

  8. Krizpy says:

    Ogud nonton nih film tanpa tahu bahea ini filmnya om Nolan.
    Kirain sutradaranya baru pertama kali bikin film, padahal storynya bagus.
    Pas lihat credit nya ternyata nama Nolan muncul. Ogud melongo lah…
    Editingnya benar-benar bikin pusing (secara harafiah) kepala.

  9. Pwetrik says:

    Masss, kasih tau film yang pengembangan karakternya bagus wkkw, asli masih belum bisa ngerasain pengembangan karakter di film wkkw

    • arya says:

      Pengembangan karakter itu secara sederhana bisa dilihat di awal sama akhir cerita aja. Apa perbedaan sikap, atau cara berpikir, atau aksi, si karakter itu saat di awal sama di akhir. Apakah dia jadi orang yang lebih baik, atau jadi lebih buruk. Sebesar apa dia ‘berubah’. Semakin signifikan perubahan itu, itulah yang nandain karakterisasinya punya pengembangan yang bagus.
      Misalnya, Jojo di Jojo Rabbit. Awalnya kan dia itu pro-nazi. Percaya Jew itu semacam monster yang harus dibasmi. Mengidolakan Hitler banget. Namun di akhir cerita, pandangan terhadap tiga hal itu kan udah berbalik 180 derajat bagi dirinya. Jadi ada yang ia pelajari selama film berlangsung.
      Kalo di film action, memang karakternya enggak banyak perkembangan. Biasanya ya soal membasmi kejahatan aja kan, yang dipelajari paling siapa musuh sebenarnya, atau belajar untuk berani berkorban. Di Tenet ini sedari awal protagonisnya udah sempurna sih, dia gak egois, mentingin tim.. di akhir dia kan masih begitu juga, cuma bertambah pengetahuannya tentang tenet dan inverted time aja.

  10. Febrian says:

    Kalo diibaratkan bola, ini tuh kayak Ronaldo jugling2 bola di tengah lapangan, lompat2, lari2 cepet, meliuk2, tapi ga ngegolin, bahkan ke gawang lawan pun gak. Jadi kayak, “iyak, lu jago, lu hebat, fans lu banyak, tapi apa? Tapi ngapain?” Capek banget nontonnya. Indah, tapi ya gitu. Ngapain?

    • arya says:

      Hahahaha bener nih analoginya, kayak ngeliat sesuatu yang hebat tapi untuk apaan ya haha.. percuma Ronaldo akrobat segala macam tapi enggak digol-golin, penonton ya tetep kecewa juga

  11. Capruk says:

    Yang jadi pertanyaan besar saya itu sebenernya siapa bosnya si Sator, karena pas si protagonist ketemu Priya di OSLO (di akhir2 scene setelah Kat sembuh) kalau saya denger sih si Priya bilang “She” yg berarti harusnya bosnya si Sator ini perempuan. Nah sampe akhir film ga ngerti siapa big bossnya dari si Sator yg membiayai si Sator pake emas batangan buat mencari algoritma. Dan algoritma itu tuh algoritma untuk buat mesin inverted nya atau algoritma plutonium nya yah? Asli, ada setumpuk pertanyaan buat film ini. Atau mungkin ini film ada sekuelnya kali yah.

  12. Miaw says:

    Aku baru nonton Tenet td malam dan aku ngerti kenapa Nolan ngotot untuk tayang di bioskop, ga di tv streaming. Supaya yang nonton bisa lebih konsen dan ga terlalu boring, mgkn dia ya menyadari ada’ kekurangan’ yg akan bikin penontonnya mumet klo cm sekedar nonton di layar HP/TV.
    Aku pribadi sih ngerti-ngerti aja dengan cerita/konsepnya Nolan di Tenet ini, mungkin karena ya sudah sedikit paham film Nolan akan seperti apa (dan dengan tidak terlalu dipikir secara serius cara kerja ilmu fisikanya gmn krn ini yg akan bikin otakku ngebul). Orang yang duduk disebelahku jg nggerutu “Ngebosenin”, bahkan dia sampe keluar bioskop dan ga balik lagi sekitar 3o menit sebelum film selesai. Otakku masih lebih ngebul nonton INterstellar sih dibanding ini, inget banget dlu aku sampe tidur di bioskop haha!
    Mengenai karakternya memang aku mengakui ga sehidup di film-film sebelumnya. Sempet mikir “Kenapa harus John Washington yang meranin prontagonis”, masih ada opsi aktor lain yang bisa bikin film ini lebih hidup.
    Paling yg masih bikin aku bertanya : Itu Priya dibunuh kenapa ya? Lupa. Bisa jadi yg kalian maksud SHE bossnya Sator ya si Priya ini.

    • arya says:

      Ya, kalo nonton di bioskop pasti spectaclenya lebih kerasa, dan ini yang jadi power utama Tenet kan. Gak akan jadi masalah kalo Tenet ini memang menonjolkan aksi-aksinya. Tapi desain film Tenet ini sendiri kayak ‘salah pilih’. Nolan memilih kurang di porsi karakter, supaya kita fokus ke aksi dan konsep itu sendiri. Menurutku, daripada memperkecil porsi karakter, sebaiknya porsi penjelasan konsep sci-finya aja yang dikecilin. Jadi kita bisa menikmati aksi dan cerita itu, toh kita gak perlu-perlu amat berusaha memahami konsep luarbiasa di sini, bisa ngebul otak haha. Gak ngerti sama konsep itu pun, kita masih akan bisa menikmati film hanya dengan melihat aksi dan stunt-stunt keren dan ceritanya relatable kan.
      Haha iya sih, panjang bahasannya kayaknya kalo Priya itu kita jabarin. Film aja cuma nyebut dia itu jadi loose end kan buat rencana Protagonis masa depan. Jadi jawaban singkatnya, karena dia loose end haha

Leave a Reply