TEKA-TEKI TIKA Review

“You are a piece of the puzzle of someone else’s life”

 

Tidak mudah keluar dari zona nyaman. Butuh kemauan dan keberanian yang sama besarnya. Inilah yang dilakukan Ernest Prakasa. Sudah mendapat tempat yang kerasan di blantika film komedi, tapi Ernest malah menantang dirinya sendiri dengan membuat thriller Teka-Teki Tika. Cobaan pertama langsung menerpa. Film ini sempat dirujak netizen, dikatain nyontek Knives Out (2019). Nah, itulah kenapa kita tidak boleh main hakim hanya dari melihat trailer saja. Teka-Teki Tika sama sekali tidak mirip film whodunit tersebut. Melainkan, lebih sebagai thriller dalam lingkup keluarga, tentang apa yang telah dilakukan oleh karakter sehingga kini ia takut rahasianya itu dibongkar oleh orang. Revealing yang mencengangkan, yang jawabannya kita tunggu-tunggu, memang tetap ada. Dan boleh jadi lebih surprise daripada yang kita harapkan sebelumnya. Karena ternyata film ini adalah thriller bergaya ujar jenaka khas Ernest, dengan tambahan twist ala Shyamalan!

teka202112040754-main
Padahal bahkan si Shyamalan sendiri enggak selalu bisa bikin ‘twist ala Shyamalan’ yang berhasil

 

Sebagian besar durasi, cerita akan bertempat di sebuah rumah mewah. Milik Budiman, seorang konglomerat yang akan segera mendapat proyek besar dari pemerintah. Maka Budiman dan istrinya, mengundang dua anak mereka untuk menghabiskan akhir pekan di rumah. Arnold dan Andre, dua ‘putra mahkota’ yang siap mewarisi segala milik ayah mereka. Tapi keduanya kurang akur, punya gaya hidup berbeda, dan pandangan yang juga tak sama mengenai ‘how to do business‘. Si sulung Arnold yang datang bersama istri yang tengah hamil tua, katakanlah lebih bertanggungjawab. Namun juga lebih boring ketimbang adiknya, Andre, yang suka gonta-ganti pacar (kali ini dia membawa pacar baru yang jauh lebih muda) dan lebih mementingkan nge-club dengan alasan networking. Ada konflik yang berusaha ditarik cerita di antara mereka, sekaligus juga mengeluarkan celetukan-celetukan komedi dari enam karakter keluarga ini.

Menarik? Kurang? Well, karena itulah dihadirkan Tika. To stir things up. Malam itu Tika muncul di pintu depan rumah Budiman. Dengan gaya slengekan – yang begitu kontras dengan lingkungannya, bahkan dengan Andre sekalipun – cewek berambut seleher itu memperkenalkan diri sebagai anak kandung Budiman yang ditelantarkan. Tika gak bakal pergi sebelum mendapat yang ia mau. Dan tak segampang itu bagi Budiman dan keluarga mengusirnya, sebab Tika ternyata tahu banyak tentang rahasia semua orang di sana. 

Bukan hanya bagi Budiman, bagi kita pertanyaan-pertanyaan yang sama pun seketika bermunculan. Siapa Tika? Kenapa dia tahu begitu banyak tentang keluarga Budiman? Apakah dia berkata jujur? Apa yang sebenarnya dia mau? Misteri inilah yang jadi pondasi naskah Teka-Teki Tika. Untuk itu, kita harus peduli dulu sama para karakter lain. Karena hidup mereka seolah jadi bergantung sama Tika yang bisa saja membocorkan rahasia dan bikin keluarga kaya itu hancur berantakan. Bagaimana membuat penonton peduli sama karakter-karakternya itulah yang jadi teka-teki yang harus dipecahkan oleh Ernest selaku pembuat film. Jika ini adalah komedi, Ernest would’ve cracked the code easily. Karakter akan dibuat seunik mungkin, dengan dialog lucu dan motivasi yang mungkin kontras sedih supaya memantik drama. Tapi kali ini ranah yang dijamahnya adalah thriller. Dengan desain berupa motivasi karakter yang disembunyikan. Rahasia mereka itulah yang jadi drama. Dengan begitu, sutradara berpaling kepada hal yang ia tahu. Dialog lucu. Inilah awal kenapa tone film ini membuat cerita yang kita saksikan kurang terasa intensitasnya. Film ini masih terasa bersandar kepada komedi, padahal mestinya ia adalah cerita thriller yang membuat kita mengkhawatirkan para karakter. Sehingga membuat kita justru susah bersimpati kepada stake yang merundung karakternya.

Porsi komedi di sini memang jauh lebih sedikit dibandingkan film-film Ernest sebelumnya. Tapi, komedi itulah yang satu-satunya dipunya karakter-karakter film ini sebagai usaha untuk membuat mereka terlihat menarik. Ketika para karakter berdebat di meja makan soal mengurus bisnis, kita gak masuk ke dalam mereka. Ketika Tika ngancem mau buka rahasia pun, kita tidak merasakan apa-apa. Barulah ketika karakter pacar si Andre yang ‘lugu’ nyeletukin hal yang gak nyambung, kita tertawa. Masalahnya, celetukan dan komedi-komedi itu gak ada sangkut pautnya sama konflik atau misteri pada cerita. Obrolan intens jadi runtuh begitu saja ketika lelucon disuntikkan di sela-sela obrolan. Sindiran soal penguasa yang relevan dengan keadaan sekarang kita pun jadi sepintas lalu saja, tidak benar-benar punya weight padahal bisa dibilang merupaka tema yang konsisten dibahas dalam narasi. Para pemain pun tampak lebih rileks memainkan komedi daripada bermain serius. There’s a reason kenapa Morgan Oey, Tansri Kemala, dan Sheila Dara tampak menonjol dibandingkan yang lain. Tidak banyak yang bisa digali oleh para aktor ketika mereka disuruh untuk serius dan bermisterius.

Ungkapan kita adalah kepingan puzzle dalam hidup orang lain, biasanya bernada romantis. Film ini seperti sisi gelap dari ungkapan tersebut. Karena ceritanya menunjukkan ketidakhadiran kita dapat membuat hidup orang lain menjadi tak-lengkap dalam artian susah. Sometime, kita perlu jujur dan mengakui perbuatan supaya tidak menjadi lubang menganga dalam hidup orang di sekitar kita.

 

Sebenarnya nuansa thriller itu masih bisa digapai lewat teknis. Cut, zoom in, panning perlahan, biasanya hal-hal semacam itu dilakukan oleh kamera dalam film-film thriller untuk memperkuat intensitas suatu adegan. Namun sebagaimana thriller adalah hal baru baginya, cerita dengan ensemble karakter sebagai pusat juga merupakan hal baru bagi Ernest. Jadi concern-nya terbagi. Kita bisa melihat film ini berusaha keras untuk menampilkan variasi dari bagaimana kesemua karakter tampil dalam satu frame. Bagaimana menampilkan gambar yang memaksimalkan lokasi dan visual yang menarik (salah satunya adalah shot yang salah dinilai banyak orang sebagai niru Knives Out). Sehingga menampilkan intensitas thrillernya, terlupakan. Kamera Teka-Teki Tika paling hanya muterin ruangan, dan selebihnya kebanyakan hanya menyorot dari depan dalam diam. Beberapa ada yang dilakukan dengan sudah tepat, seperti keputusan untuk benar-benar fokus ke wajah Tika hanya datang setelah dia memberi tahu siapa dirinya. Yang berarti kita sudah ‘diijinkan’ untuk masuk mengenal karakter ini lebih dalam.

Namun ketika karakter ngobrol dengan mengancam, tidak ada gerakan yang memperkuat intensitas atau semacamnya. Pada adegan Tika digiring keluar rumah, kemudian di tengah jalan dia mengancam membuka satu rahasia, sehingga pengusirannya distop oleh Budiman, misalnya. Ada banyak yang mestinya bisa dilakukan oleh kamera dan editing dalam menampilkan ini, mestinya bisa dipecah jadi beberapa shot biar efeknya nyampe. Namun film hanya melakukannya dengan merekam dari depan, dan kamera mundur seiring semua karakter berjalan ke depan. Semua orang ada di dalam frame, tapi kita tidak merasakan emosinya ketika ada yang bicara, mengancam, atau sebagainya. Alur emosi yang ada pada adegan itu jadi datar karena direkam dengan datar.

Also, maaan, film modern memanglah aneh. ‘Film modern’ yang kumaksud adalah film yang memuat elemen gadget dan teknologi kita seperti smartphone dan sebagainya. Karena biasanya kan yang kita tahu kamera yang ngesyut orang dengan sudut rendah sehingga orang itu tampak menjulang biasanya digunakan untuk menguatkan karakter si orang itu sebagai penguasa atau yang dominan. Film ini openingnya adegan Budiman video call dengan ‘atasan’, ada bagian ketika kamera mengambil perspektif si lawan bicara, yang membuat Budiman dan istrinya tampak menjulang, memandang kita ke bawah, karena gadget mereka ditaruh di atas meja. Ini menghasilkan kesan yang aneh kayak kebalik. Kenapa malah si ‘bos’ yang kecil. Atau mungkin memang adegan itu untuk melandaskan Budiman adalah orang gede, tapi dia juga punya atasan. Dan kayaknya inilah yang membuat kita susah konek dengan dia sebagai karakter utama. Konglomerat biasanya memang sudah sus sedari awal, dan film gak pernah benar-benar membuat karakter ini simpatik hingga akhir nanti.

tekateka-teki-tika_54df5178-1b29-4a59-962b-fcd3809fb8bc
Treatment kamera juga membuat revealing siapa Tika dan rahasia-rahasia lainnya tak pernah terasa ‘wah’

 

Adegan-adegan dari kedatangan Tika sepertinya dirasa memang kurang menarik, sehingga film membuat si Tika ini jadi serbabisa. Dia dibuat tahu medis. Dia malah dibuat bisa berantem ternyata. Jagoan. Tapi malangnya, kepandaian Tika berantem ini juga mengharuskan film untuk memuat adegan aksi. Sesuatu yang berada di garis spektrum lain dari thriller rahasia, drama keluarga, dan bahkan komedi karakter. Nah bayangkan ketika urusan thriller dan drama dan elemen rahasia saja masih keteteran, lalu malah ditambah harus ngurusin orang berantem. It’s too much. Ernest menantang dirinya terlampau banyak. Seperti kata Arnold kepada Andre “Semua jadi tidak terkontrol”. Plus, ini membuat Tika yang tetap dipertahankan misterius menjadi ‘mary sue’; istilah untuk karakter serbabisa. Yang justru membuat kita menarik diri darinya. Seketika Tika menjadi membosankan. Kayak, bener-bener fixed gak perlu lagi kita mempedulikan dirinya karena toh naskah akan membuat dia bisa melakukan apapun begitu saja.

Sehingga, begitu cerita abis dan semua rahasia terungkap, dan semua masalah sirna (kecuali soal rumah mereka yang dengan entengnya dianggap Ibu sebagai “Udah, gak usah dipikirkan”) film masih belum terasa istimewa dan menarik.

Lalu datanglah twist itu. Ending film ternyata baru di ‘false resolution’. Ada misteri yang sebenarnya belum usai. Kupikir ini disengaja untuk hook kalo-kalo mau ada sekuel. Tapi enggak. Kocaknya, justru langsung dibahas lewat cerita ekstra yang muncul begitu kredit bergulir. Cerita yang membuat genre Teka-Teki Tika ini berubah total. Persis kayak twist M. Night Shyamalan yang mengubah genre (dari thriller ke superhero pada Unbreakable, atau dari horor ke sci-fi pada Old). Thriller komedi drama keluarga Teka-Teki Tika berubah menjadi sebuah action-spy! Bahkan setelah itu, visual di kredit title pun berubah jadi menunjukkan Tika sama sekali berbeda dengan yang kita lihat di sepanjang film tadi. Kurang menarik apa lagi coba!!

 

 

 

Kadang kita menyuap terlalu banyak dari yang mampu kita kunyah. I’m afraid inilah yang terjadi di film ini. Nyebrang dari komedi ke thriller sebenarnya sudah tantangan yang cukup tanpa harus ditambah sehingga membuat film jadi terbang ke mana-mana. Padahal belum ada dari tantangan itu yang bisa dijawab dengan memuaskan. Ibarat ngerjain puzzle, tapi belum beres malah mau nambah kepingan lagi. Film ini tampak jadi sebuah karya ambisius, meski banyak yang perlu dibenahi lagi. Terutama soal karakternya yang bisa digali dan diberikan development, ketimbang revealing demi revealing saja. Lalu soal intensitas dan bobot misteri yang belum terasa.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for TEKA-TEKI TIKA.

 

 

That’s all we have for now

Apakah kalian tertarik jika Tika diberikan universe sendiri – katakanlah, jika dibikin jadi ‘saingan’ Arini di Love for Sale, hanya saja si Tika ini khusus di action?

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

 

 

Comments

  1. Albert says:

    Belum ada yang bilang bagus review film teka teki tika. Kayaknya film terjelek Ernest. Awal2 sih rasanya masih mending ini daripada Susah Sinyal.Tapi makin ke belakang makin jelek. Revealingnya yang harusnya klimaks malah paling parah. Lalu epilognya kayak nonton beda film. Cuma 80 menit malah jadi keuntungan ga kelamaan di dalam.
    Btw yang Yo Wis Ben finale isinya cuma konklusi2 doang dari film ketiganya. 75% drama, komedinya dikit. Sebetulnya sih konklusinya bagus dan hangat, tapi ya gitu kebanyakan dan berturut2. Kalau aja dijadiin 1 film aja rasanya bakal bagus.

    • arya says:

      Haha iya, ibaratnya kalo di game tuh pindah kelas dari Knight ke Wizard, level pasti reset ke nol lagi. Ernest udah master di komedi, pindah ke drama thriller, harus menempuh dari awal lagi. Bagus sih, itu artinya memang membuka diri untuk ruang baru, dan bener-bener mau keluar dari zona nyaman. Di luar itu, ya memang kayaknya naskahnya belum tergodok matang ya. Lucunya malah kayak jadi kebalikan dari Yowis Ben: yang dibagi dua padahal mestinya cukup di satu filmkan saja. Tika ini kan kayak dua cerita yang udah berbeda, tapi dipadatkan jadi satu film yang durasinya pendek banget.
      Nungguin tayang di platform ajalah aku, biar bisa ngejar film ketiganya yang ketinggalan haha

    • Albert says:

      Ya dibuat sekalian komedi aja misterinya ya ga usah serius2 hehehe. Tikanya juga ga usah direveal siapa biar tetap misterius harusnya. Iya Yo Wis Ben enaknya ya nonton 2 langsung baru direview biar utuh. Sebetulnya bagus juga sih film bahasa Jawa bisa bertahan 3 tahun. Lumayan juga ceritanya.

      • arya says:

        Atau kenapa gak langsung film tentang petualangan Tika agen intel yang membantu panti asuhan aja langsung hahaha lebih mudah relate kan, kenapa harus lewat drama keluarga konglomerat itu dulu

      • Albert says:

        Itu tidak seru Mas. Menurutku lebih baik Tika itu tetap ngaku anak, Sebagai “anak” dia acak2 dulu keluarga konglomeratnya dengan rahasia mereka. Blackmail sana sini gitu. Setelah hancur baru ketahuan kalau bukan anak terus Tikanya hilang tanpa kita tahu siapa dia. Hahaha.

      • Albert says:

        Aku jadi ngikutin komennya Cinta 123, Jadi harusnya fokus ke mana ceritanya Mas? Karakter mana itu yang harusnya deep negative feeling mas? Bagusan ini atau Backstage sih? Aku sih lebih relate CInta 123 hehehe.

        • arya says:

          Misalnya yang kayak ketipu 25 juta itu. Masih dari luar, maka dampak/konflik mereka semakin tersulut. Angganya kan cuma stres, tidur di mobil. Kalo ceritanya memang perlu nampilin perbuatan Angga membuat ayahnya mesti membayar, ya mestinya gali benar-benar dari perbuatan Angganya aja. Wujud kecamuknya Angga, dari dalam.
          Sama sih aku ngasih nilainya 6, cuma Backstage ada bias ke lagu-lagu dan penampilan Sissy jadi ada poin 0.5nya haha

      • Albert says:

        Kalau konflik terakhirnya yang Angga mau kerja kontrak 3 tahun gimana mas? Yang paling aku heran itu kenapa Raja ini masih harus mengurus bapaknya setelah menikah? Di satu sisi tanggungan kan nambah, Bu Linda jelas harus dinafkahi. Asia walaupun ada pekerjaan, kelihatannya untuk dia sendiri aja belum cukup, Di sisi lain Bu Linda terutama dan Asia bisa menggantikan Raja ngurus bapaknya sementara Raja kerja. Mungkin ya ga harus pisah 3 tahun gitu, Di konflik terakhirnya jadi Raja yang seolah antagonisnya karena konklusinya kan bapaknya balik tanpa dijelaskan deh Rajanya kerja apa enggak. Kalau logikaku ya lebih bener Raja yang pengen kerja. Ya bapaknya bisa dibawa pulanglah, hemat biaya dan terutama ya kembali ke poin di atas masih bisa dirawat Linda sama Asia.
        Btw, aku rada tertipu juga sama sinopsis dan trailernya, kirain fokus utamanya akan ke cinta dua saudara tiri ini. Hehehe.

        • arya says:

          Haha iya rumit memang, bikin sinopsisnya pasti ribet ini cerita sekompleks ini. Aku nonton tiga kali, tapi pas kali terakhir aku malah melihat bagian akhir film ini dengan completely different dari nonton sebelumnya. Aku jadi heran sendiri. Aku malah ngeliat sekuen montase itu kayak semacam memori aja. Raja pergi bekerja, dan itulah memori dia yang kita lihat. I dunno, aku gakyakin mana yang benar. Too much emotions for me. Just too much.

      • Albert says:

        Ya ending terbaik kalau dianggap aja Raja kerja cari nafkah sambil tetap bahagia sama keluarganya ya. Bapaknya ditarik dari panti, Rajanya kerja, tetap bisa menikmati waktu sama keluarganya.

        • arya says:

          Bener, tapi bagaimana pun juga si bapak akan jadi seperti si nenek. Kenangan manis itulah yang cuma mereka punya, jadi nikmatilah momen-momen selagi bisa

  2. Irfan says:

    Apresisasi buat Ernest mau keluar dr zona nyaman, tp setuju kl ini mungkin terlalu banyak buat dikunyah. Banyak percakapan yg kaku dan cringe gitu sih menurutku, kita tidak terasa attached dg Tika, keluarga Budiman, atau siapa pun.
    Aku merasa Tika kayanya ga punya entrance scene atau any scene yg menunjukan dia punya sesuatu yang terlalu misterius. Abis baca review ini aku jadi sadar kl teknik kamera punya peran besar untuk ini.
    Anyway sbg seorang yg suka nonton film di bioskop, sangat senang bs liat lagi jadwal film terus update dan update hehe cuma agak kecewa ga sempet nonton House of Gucci krn cuma dapet jadwal secuil efek Spiderman wkwk
    Hope for a better 2022 😀

    • arya says:

      Nah iya tuh, entrance scene, cara dia diintroduce ke dalam cerita, itu penting sih. Harus dibangun juga kan mood dan tone segala macamnya. Bayangkan kalo Doc. Ock di No Way Home munculnya cuma jalan doang dari ujung jalan, kan gak seru. Atau Green Goblin muncul di atas langit gitu aja gak pake ketawa, atau ada asap2 segala macam. Aku ngeliat No Way Home gak ke pan/zoom wajah Willem Dafoe pas adegan pertama dia buka topeng aja agak kesel, kurang berasa gegapnya soalnya. Apalagi di Tika, munculnya ke kita juga sebatas dia ngebel dan ada di depan. Muncul ke depan karakter lainpun cuma direkam wide, kita gak difokusin efek bingung karakter lain melihat dia. Dian Sastro di extra scene aja cuma sebatas balik badan aja kan, build up nongolnya. Kurang gerrr.
      Aku juga belum nonton House of Gucci huwaa, jadwalnya gak enak banget kemaren pas tayang itu. Semoga cepat ada di platform.

      • Irfan says:

        Yes mas, setuju bgt. Kurang greget gitu entrance scene nya Tika.
        Btw kemarin aku abis nonton Cinta Pertama, Kedua, Ketiga nya Gina S. Noer. Ga perfect tp aku merasa cukup emosional nonton film itu. Kl bener ini br film kedua beliau setelah Dua Garis Biru, aku rasa film2 Gina S. Noer selalu bisa kasih kesan. Semoga bisa direview Mas Arya ya hehe

        • arya says:

          Hari ini mau ketiga kalinya aku nonton Cinta123. Udah dua kali aku ‘gagal’ menyimak sampai habis. Bukan karena jelek, tapi karena film ini begitu melimpah ruah emosi — and I’m not very good at handling so many feelings and emotions sekaligus. I just shut down, aku jadi selalu melepaskan diriku dari filmnya di tengah-tengah nonton. Semoga kali ketiga nonton ntar ini aku bisa lebih siap, dan bisa ngereviewnya

      • Irfan says:

        Beberapa detil di film mungkin bikin aku bertanya-tanya, either soal dana malaikat atau kemampuan supranatural Bu Linda atau kenapa penipuan 25 juta bisa terjadi in the first place. Mungkin ini yg bikin aku menunggu review Mas Arya.
        But I just love the ending dancing scene. Dan aku suka di adegan itu kakak2 Raja ikutan dansa. And the happy face of Slamet Raharjo bikin keinget almarhum eyang hehe.
        Btw, aku nonton Cinta123 bareng bapak, mama, dan istri kemarin itu. The film did hit us hard. Jarang2 berempat duduk sebelahan dan nangis sesenggukan dengan kompak :’) hehe.

        • arya says:

          Wahaha kalo menurut aku malah hal-hal itu yang untangled mess, konflik-konflik ‘random’ yang gak perlu, yang malah bikin dramanya kebanyakan dan gakfokus. Pengurang nilai-lah, istilahnya hahaha.. Dan lagi-lagi, kayak pas Backstage, aku ngerasa gak mau liatin deep-negative feelings yang mestinya dirasain karakter. Kayak, misalnya ketipu 25 juta itu. Dibanding ditipu orang (outside force), aku rasa bakal lebih mengena kalo depresi/stresnya si Angga yang dieksplorasi, sehingga memang dia sendirilah yang membuat keluarganya membayar.
          Filmnya memang seemosional itu sih, di Jaff aja mbak Gina sampe nangis kok nyeritain experience bikin ini.
          Cinta123 kayaknya jadi aku review di mini-review edisi akhir Januari aja haha, minggu ini udah banyak banget film keluar

Leave a Reply