PENGABDI SETAN 2: COMMUNION Review

 

“Poverty is the mother of crime”

 

 

Hidup bermasyarakat memang seharusnya memudahkan. Tinggal beramai-ramai, sehingga bisa saling bantu kalo ada kesusahan. Namun bagaimana kalo sekelompok orang yang tinggal berjejelan di satu tempat itu semuanya sama-sama susah?  Semuanya sama-sama gak punya duit, sama-sama berjuang demi masih bisa melihat mentari hari esok. Bagaimana jika – jika negara adalah ibu – mereka sama-sama orang yang motherless, dalam artian gak mendapat perhatian negara.  Potret rumah susun yang dihadirkan Joko Anwar dalam sekuel remake Pengabdi Setan buatannya membuat kita tersentak akan hal tersebut. Tampaknya itu juga sebabnya kenapa latar situasi politik Indonesia zaman petrus 80an dijadikan warna yang menghiasi latar cerita. Pengabdi Setan 2: Communion adalah cara Joko Anwar menggambarkan horornya kehidupan yang harus dijalani orang-orang yang terpinggirkan.

Rini beserta Bapak dan dua adiknya kini tinggal di rumah susun di Jakarta Utara. Bukan exactly tempat tinggal yang ideal. Rumah susun itu sangat sederhana, liftnya aja macet-macet (keseringan disesaki penghuni), pembuangan sampahnya sering mampet, banyak preman, plus terletak di lokasi rawan banjir. Tapi, seperti yang dibilang Bapak,  tempat itu rame. Jadi Rini berusaha untuk tenang. Empat tahun mereka tinggal di sana, dengan adik-adik, Toni dan Bondi, yang sudah gede, Rini bermaksud pergi mengejar pendidikan. Sayangnya, masih ada satu lagi ke’angker’an rusun yang ternyata dulunya pekuburan tersebut. Di hari yang harusnya jadi hari terakhir Rini di sana sebelum pergi kuliah, terjadi freak accident di lift yang menewaskan sejumlah penghuni. Malamnya, setelah yasinan untuk beberapa penghuni di hunian masing-masing, hujan deras dan banjir membuat rusun mati lampu. Mengisolasi Rini dan beberapa penghuni ke dalam gelap gulita dan hal-hal misterius. Rusun itu praktisnya berubah menjadi rumah hantu 14 lantai!

Let’s play a drinking game untuk setiap kali karakter film ini nyebut kata ‘rusun’

 

Well yea, kalo mau memandang film ini sebagai wahana rumah hantu, Pengabdi Setan Communion memang rumah hantu yang lebih seru dan lebih epic dibandingkan film pertamanya. Film kali ini lebih memantapkan diri sebagai pengalaman horor di tempat yang menyeramkan. Joko enggak tanggung-tanggung menargetkan untuk ini, karena film sekuel pertamanya ini ia hadirkan dalam teknologi IMAX. Sebuah terobosan dalam perfilman Indonesia, karena film ini actually adalah film lokal pertama, bahkan se-Asia Tenggara yang dibuat dengan teknologi audio visual super gelegar. Maka sebagian besar durasi akan diisi oleh adegan-adegan seram yang didesain untuk menunjang experience tersebut. Bagaimana pak sutradara melakukannya?

Joko bermain dengan ketakutan paling basic manusia; takut akan kegelapan. Ia dengan teganya membuat visual yang gelap. Pengcahayaan saat sudah di bagian cerita yang hantu-hantuan akan sangat minim. Entah itu hanya dari senter, api korek, ataupun kilatan sesaat dari petir yang menyambar dari luar gedung. Ini menghasilkan suasana horor yang begitu imersif. Aku bahkan gak berani noleh ke kiri-kanan; karena juga menonton di suasana gelap, kumerasa jadi ikut berada di bangunan itu bersama para karakter. Yang jelas, kegelapan itu membuat batas penglihatan yang natural untuk meletakkan penampakan-penampakan, nonton ini emosi kita diaduk antara takut, kesel karena gelap, sekaligus agak seneng juga karena at least hantu-hantu seram itu gak kelihatan semua (dasar penakut hihihi). Untuk soal membuat shot dan adegan menjadi superhoror, Joko Anwar memang jagonya. Dengan jam terbang dan referensi sebanyak yang ia miliki, adegan-adegan seram yang lebih grounded seperti orang masuk ke ruangan yang ada mayat berkafan di lantai, ataupun simply berjalan dalam gelap, jadi suguhan horor yang segar dan fun. Sedangkan untuk adegan-adegan seram yang lebih ‘fantasi’ dalam artian ketika menyelami ketakutan personal para karakter, film ini melakukan dengan agak sedikit in the face. Misalnya pada adegan karakter yang diganggu saat shalat. Like, Joko kayak ngambil referensi dari horor lain, dan membuat versinya sendiri, kayak mau bilang ‘beginilah horor itu seharusnya dilakukan!’ Explorasi ‘rumah hantu’ yang dilakukan film ini memang sangat luas.

Film ini butuh ritme yang lebih baik untuk mengakomodir itu semua. These scares were great, tapi jor-joran terus akan bikin penonton ‘capek’ dan tidak lagi melihat semuanya sebagai perjalanan horor. Melainkan ya, sebagai wahana yang sudah diantisipasi. Mana lagi nih hantunya? Problem seperti ini kayak yang sering terjadi pada show wrestling, yang setiap matchnya selalu diisi oleh spot-spot spektakuler. Seru, memang, tapi membebalkan rasa. Membuat spot, atau dalam kasus film ini, membuat adegan horor tersebut jadi less-special dari yang seharusnya. Ritme dalam film, salah satunya bisa dicapai melalui karakter. Dan memang Pengabdi Setan Communion berusaha melakukan itu. Kali ini dihadirkan beberapa karakter baru, beberapa orang penghuni rusun yang akhirnya menjadi teman dari ‘tim inti’ Rini, Toni, dan Bondi. Para karakter baru diberikan latar cerita, seperti anak kecil yang tinggal bareng ibunya di rusun karena kabur dari ayahnya, lalu ada teman geng si Bondi yang beserta adiknya kerap dipukuli oleh ayahnya sendiri, atau perempuan muda yang digosipin bukan cewek baek-baek lantaran kerjaannya pergi malam-pulang pagi, dan ada juga cowok preman yang suka godain si perempuan tersebut. Selain menambah rame (interaksi karakter-karakter muda ini bahkan ngingetin aku sama geng protagonis di serial Netflix Stranger Things – sama-sama anak 80an pula!) karakter-karakter baru dengan horor personal mereka jadi penambah lapisan dan membuat ritme jadi agak sedikit enak. Karena actually bahasan mereka lebih menarik daripada tim inti yang masih berkutat di misteri Ibu – dan ayah – yang hanya melanjutkan misteri yang sengaja gak dibahas di film pertama. Dengan kata lain, sudah telat untuk membuat kita peduli kepada mereka, apalagi karena sekarang ada karakter-karakter baru yang lebih menarik.

Most of them characters adalah orang-orang yang motherless. Lantas, menyamakan dengan mindset orang-orang di tahun 80an itu, bahwa negara adalah ibu bagi rakyatnya. Maka jika ibu harusnya merawat anak, berarti negara juga harusnya mengurus kepentingan rakyatnya. Kejadian di film ini memperlihatkan kerusuhan terjadi di tempat orang-orang miskin yang dibiarkan begitu saja. Udah tahu mau kena banjir pun, gak ada tindakan untuk menolong. Tempat tak terawat yang orang-orangnya rebutan naik lift, bahkan rebutan uang receh. Horor di situ lahir dari kemiskinan, dan ibu dari itu semua, sumber dari itu semua adalah negara yang tak peduli.

 

Karakter perempuan yang dianggap ga-bener yang diperankan meyakinkan oleh Ratu Felisha adalah yang paling menarik. Yang actually paling diflesh out dengan cara yang gak gamblang. Yang subtil, sehingga kita enak untuk ngikutinya. Info mengenai personal karakter ini dihadirkan lewat sebuah horor psikologis yang melibatkan perbincangan radio. Dan kita dibuat menyimpulkan sendiri apa yang terjadi di hidupnya sebenarnya. Ini adalah contoh karakter dalam cerita horor yang bagus, konfliknya personal, bahasannya closed dan gak melebar ke mana-mana, flaw dan sisi lemah karakternya pun kelihatan. Lebih mudah peduli sama karakter ini dibandingkan sama karakter Rini yang jadi tokoh utama. Memang, peran Tara Basro di sini diberikan lebih banyak daging. Kali ini dia punya motivasi personal pengen kuliah, dia bikin pilihan untuk ninggalin keluarganya, tapi saat hell broke loose nanti Rini hanya bereaksi yang intinya cuma survive. Malah bisa dibilang status tokoh utama si Rini, dibagi dua dengan karakter Budiman, wartawan yang tahu rahasia rusun tersebut, yang actually jadi kunci keselamatan Rini dan kawan-kawan. Naskah anehnya membagi porsi, Budiman beraksi dari luar, sementara Rini ditempatkan di TKP, dan hanya bereaksi dari semua kegilaan di tempat itu.

Kocak juga sih bandingin Endy Arfian dan M. Iqbal Sulaiman di film ini dengan mereka pas di Ghost Writer 2

 

Jadi ritme lewat karakter tidak benar-benar tercapai, karena hanya beberapa yang actually menarik, dan itupun gak benar-benar inline dengan journey utama. Sedangkan journey utamanya sendiri tidak benar-benar baru, bahkan film melakukannya lewat formula yang masih mirip dengan film pertama. Ada stake waktu, horor bakal memuncak di jam dua belas malam, ada misteri anak setan atau bukan, dan bahkan ada porsi yang membahas agama. Sama seperti pada film pertama, film kedua ini juga ingin menunjukkan bahwa agama tidak lantas dapat menolong orang. Sebenarnya ada teguran real yang ingin diucapkan oleh film. Bahwa agama bukan lantas menyerahkan diri kepada Tuhan, alias lantas pasrah enggak usah usaha. Hanya saja, film melakukan sindiran ini dengan tone yang berbeda dengan keseluruhan film. Jika yang lain disinggung sebagai horor, atau sebagai karakter yang flawnya personal sehingga terasa real dan relate, karakter ustadz di sini digambarkan nyaris seperti komikal. Sehingga apa yang mestinya adalah teguran, malah tampak kayak ejekan, atau at least kayak suatu masalah yang dibiarkan seolah tak ada solusi. Seolah malah jadi pengen bilang agama gak sanggup menolong, padahal yang disiratkan sebenarnya adalah agama tidak menolong karena manusianyalah yang salah dalam beragama.

Ketika bicara horor, sebenarnya kuncinya adalah build up. Inilah yang akhirnya jadi penentu ritme film ini jatohnya mulus dan enak atau tidak. Communion punya build up yang aneh. Dari adegan prolog awal saja, yang kita melihat pemandangan barisan pocong bersujud duluan ketimbang gambaran/deskripsi orang yang melihat itu konon rambutnya memutih, build up film ini terasa ganjil, kalo gak mau dibilang kurang proper. Mestinya kan, kita digambarin dulu efek bagi yang melihat, biar kita membangun antisipasi seseram apa sesuatu di dalam ruangan itu. Keseluruhan film memang nanti majunya dengan build up aneh kayak gini (kecuali momen horornya). Misalnya ada bagian Toni kayak mau ribut dengan preman, tapi lantas menguap gitu aja, kecancel karena kejadian kecelakaan lift. Lalu yang paling parah adalah bagian ending. Setelah semua intensitas dan revealing horor itu, film berakhir kayak “Eh, waktunya udah habis nih, yuk hero muncul, kita bereskan ceritanya” Penyelesaian puncaknya datang gitu aja. Tau-tau ada penyelamat yang menolong mereka semua (tanpa susah payah pula) karena durasi sudah hampir habis! Ini fatal sih sebenarnya. Kebetulan masih bisa dimaklumi kalo digunakan untuk menempatkan karakter ke dalam masalah, tapi untuk mengeluarkan mereka dari masalah diharamkan untuk melakukannya dengan solusi yang kayak kebetulan. Haram!!

 

 

 

Melihatnya sebagai wahana rumah hantu, memang film ini lebih seru daripada film pertamanya. Scarenya lebih beragam, lebih efektif, lebih imersif. Tujuannya untuk dijual dengan teknologi IMAX membuat film ini kuat dari segi wahana horor. Tapi sebagai keseluruhan penceritaan, film masing tersandung masalah-masalah yang sama dengan film pertama, dan aku bahkan gak yakin overall ini lebih baik dari film pertama yang benar-benar fokus di masalah keluarga. Film kedua ini bahasannya lebih gede. Latarnya juga berusaha dikuatkan. Lore misterinya juga. Tapi masalah yang timbul dari ‘lebih gede’ itu juga lebih banyak. Karakter utamanya kalah menarik. ada yang lebih beraksi, ritme juga kurang mulus karena build up yang aneh. Puncak dosanya ya di ending; kali ini Joko Anwar cukup membuat cerita yang menutup sih, hanya saja penyelesaian datang gitu aja. Basically protagonisnya saved by the bell, alias oleh durasi yang mau habis. Ending film oleh karena itu jadi sangat lemah.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for PENGABDI SETAN 2: COMMUNION

 

 



That’s all we have for now.

Joko Anwar menggunakan anagram ke dalam salah satu karyanya, yang juga direferensikan di film ini. Apakah menurut kalian nama ibu yang diungkap di Pengabdi Setan 2 juga anagram? Kira-kira apa maknanya?

Share  teori kalian tentang film ini di comments

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 


Comments

  1. Meriska says:

    Film ini lebih menjual scene hantu kecelakaan lift dari pada tokoh ibu sendiri. bahkan raminompun Masi misteri wujudny seperti apa apakah saat klimaks raminom menyamar menjadi ibu saat eksekusi para sekte ? entahlah, tapi memorial scene lift geprek dan ratu Felisha sangat apik pengemasanya bahkan aku sempet bergidik kok bisa ya joko kepikiran bikin scene itu . Lebih masuk akal film ini ketimbang film the doll 3 yg jatuh dari lift cuma lecet lecet biasa . Moga aja film ini laris manis biar ada triloginy bahkan spinoff atau apalah itu karena cukup horor dan lumayan menghibur. Btw judul yg tepat buat film ini Rusun angker ketimbang pengabdi setan 🙂

    • Arya says:

      Memang agak aneh sih, kenapa filmnya lebih dahsyat pas nakut-nakutin si wina kecil ketimbang rini, yang sekali lagi survive malam horor dengan minimal damage. Bakal jadi trilogi sih ini, belum tuntas kan ceritanya, masih banyak misteri dari cult raminom itu.

      Haha berarti tahun ini ada tiga film indonesia yang pake adegan jatuh di lift yaa, satu lagi Kamu Tidak Sendiri yang ntar tayang menjelang akhir bulan

      • Sarah says:

        Liat penampakan 3 bocil hancurnya jd inget film zombie wkwkkwk . Mas arya klo jd wina bakal gmn reaksiny liat temen mati didepan mata plus digentayangin juga sama temen ?

        • Arya says:

          Trauma aku pasti, apalagi usia sekecil itu. Di keluarga yang ibunya sakit, dan bapaknya ikut meninggal pula. Nangis semaleman aku pasti. Trus gak bakal mau deket-deket lift dulu. Dan pastinya, bakal ngeliat hantu-hantu mereka karena trauma dan rasa bersalah.

  2. Algips says:

    Pengemasan orang meninggal terus dipocongin di film ini lumayan serem sih . Kalo dimasyarakat umum minimal ditutup kek muka mayatny inimah dibuka lebar lebar malah darah semua lagi. logo dan sound Rafi film jadoelny jugak bagus bngt Dan intro awal pocong sujudny juga keren . Kelemahan film ini di klimaksny dan benang merah lobang lobang ceritany terlalu maksa buat trilogi pdhl Joko cukup bikin penyelesaian sampai tuntas aja ini malah bertele tele sepanjang film muter muter rusun gajelas. Btw aku kasian Ama korban lift yg kakek nenek knp harus ditaro dilantai paling atas knp semua mayatny gak disatuin di aula rusun aja coba kan kalo bangkit langsung barengan gak satu satu keluar unit gtu aku lebih respect sama tokoh orang tua tua yg jd korban ketimbang tokoh utamany yg tangany ditarik Ama sekte

    • Arya says:

      Iya juga ya, kenapa ya mayat-mayatnya gak disatuin di satu tempat, kenapa ngajiinnya juga di rumah masing-masing toh semua yang mati itu Islam, gak beda-beda penanganannya. Daripada ustadnya repot bolak balik juga kan.
      Kurang menjawabnya sekuelnya ini, kayak gak banyak progres dibanding film pertamanya. Kalo mau dibandingin nih, dengan trilogi Fear Street, masing-masing filmnya kan keliatan progres dan fungsinya ke lore/mitologi utama cerita. Yang pertama ngenalin, yang kedua ngasih tahu cara ngalahin, yang ketiga bahas origin hantunya. Kalo Pengabdi Setan, antara film satu ama film kedua gak banyak info baru, gitu

  3. rian gepe says:

    waduh, skornya lebih rendah dari prekuelnya.. tapi ada point 5 (.5) which is lbh lovable ya bang..

    btw setuju ga bang ama tagline “This year’s best Indonesia horror movie”? 😀

    • Arya says:

      Haha iya, aku lebih suka yang ini dibanding yang pertama, walau keseluruhan lebih ‘bener’ yang pertama. Seru gelap-gelapannya itu loh! XD

      Lebih setuju kalo disebut: The Best Indonesian Horror Experience!

      • Aaron says:

        Overall, yang pertama lebih berkesan. Yang kedua ini lebih eksploratif tapi tanggung. Film ini hanya sebagian besar modifikasi pola di film pertama dengan sisipan subplot dan karakter baru. Adegan kilat-kilat di akhir bukannya nyeremin malah sebaliknya, rusun apa iya segelap itu bahkan saat hari masih terang, banyak yang tak terjelaskan termasuk benang merah dengan lokasi adegan pembuka. Mas Joko semestinya tahu apa yang penonton inginkan, yaitu Ibu dan duo Barata Darminah dengan porsi lebih banyak

        • Arya says:

          Setelah jadi lebih gede dan heboh di film keduanya ini, aku pribadi ngarapin film ketiganya lebih contained, lebih kecil, kayak, total bahas origin cultnya aja. Kalo mau hingar bingar lagi, silakan bikinlah Pengabdi Setan 4, when all comes to end.

  4. Albert says:

    Belum nonton. Semua bilang bagus belum percaya kalau belum lihat review Mas Arya. Berarti mesti turunin ekspektasi di ending nih. Hahaha.

  5. Sarah says:

    Baru beres nonton wkwk , entah aku yang budek atau sound bioskopny kurang kenceng yah di bbrp dialog artikulasi suara pemainy kurng jelas . kykny kudu rewatch di bioskop murce aja buat mastiin mnurut mimin ketua perwira polisi itu kemungkinan dibunuh sama batara atau sekte ? Karena di foto hajatan negara itu mereka kan hadir . selebihnya pertanyaan pengabdi setan 1 banyak yg gak kejawab dengan jelas di film ini . sebetulnya mau dibawa kemana yah ceritanya bolong bolong smua atau karena durasi jd PH tidak bisa menjabarkan gamblang keseluruhan isi cerita ?. tokoh darminah juga cuma cameo nari nari gajelas . Om Joko belajar dari insidious harusnya atau the conjuring universe semua film itu ceritanya jelas dan dapat dipahami ☺️ Ini film 1 blom kejahit malah bikin lobang terus

    • WHYRED says:

      Hahaha jadi keinget dialog di film gundala pas ibunya sancaka bilang “Bapak sama temen-teman pabrik lagi pergi ke pabrik untuk demo sama pemilik pabrik..” pusing

      Emang jokan ini lemah di penulisan sih, terutama dialog, even kata ‘enggak’ dipakai di set tahun 80an aja agak sedikit miss menurutku. Jujur lebih seneng cara bertutur karakter-karakternya sutradara acho di debutnya kemarin daripada jokan yg seakan-akan ‘dewa’ di sinema tanah air wkwkw

      Btw, review film barunya kamila andini dong bang.

      • Arya says:

        Hahahaha, kalo aku ingatnya yang dialog Pengabdi Setan yang anaknya nyebut di samping kamarnya “areal pekuburan”. Mana ada anak-anak nyebut kuburan begitu, penulisan dialognya masih bentuk tekstual, belum masuk ruh karakternya

        Sipp, hari minggu aku diajakin nobar Nana ama temen, semoga jadi, biar bisa segera review

    • Arya says:

      Iya sih kurang jelas, aku basically lebih banyak baca subtitle jadinya hahaha.
      Sama sekte sih kayaknya, Batara ama Darminah kayaknya kan berlawanan sama sekte (meski belum tentu juga mereka baik). Kayaknya yang ngasih Budiman ‘senjata’ di akhir kan si Batara. Jadi manusia kayak Budiman, Rini, si perwira, jadi bidak mereka2 aja.

      Bener, harus stop mikirin “wah ini kerennya digimanain yaa?”, ngerem dikit lah, mikirinnya justru “ini gimana biar bener dan beres dulu”

  6. Abdi_Khaliq says:

    Sorry aku copas komen sendiri dari blog tetangga, malas ngetik! hahaha

    Baru selesai nonton!

    Jujur sebagai fans Joko, aku kecewa berat sih sama film ini,yang paling bikin kesal tuh gambarnya gelap banget ditambah banyaknya gambar shaky cam. Jujur banyak adegan yang tak bisa kutangkap dengan mata karena saking gelapnya.
    Nonton di bioskop apa Bang? IMAX?? Siapa tahu kualitas bioskop pengaruh sama kualitas gambar. BTW Aku nntn di cinepolis (cuman ini yang ada di kotaku), kalau adegan siang mah enak dipandang, tapi kalo udah malam… ya Allah gelapnya benar2 nyiksa mata.

    Semoga kalo memang ada PS3 gambarnya bisa lebih terang.

    SPOILER!!

    Masih banyak adegan teror konyol yang maksa sih :
    1. WINA sok berani masuk lift malam2 (padahal gak ada listrik).
    2. Alasan gak jelas BONDI dkk memeriksa kamar2 tetangga malam2.
    3. Toni lebih milih korek api ketimbang sentar, also apa susahnya sih si Toni menolak kalo memang takut disuruh ustadz memeriksa kamar2 jenazah… OH HELL NO!!
    4. Tari sembunyi di lobang pembuangan sampah, memangnya kamar2 pada penuh semua???
    5. Adegan terbodoh adalah melobangi dinding tetangga.

    Maaf ya semuanya… aku tuh kalo nntn film selalu memposisikan diri sebagai karakter, kalo karakter di film melakukan keputusan bodoh, aku yah… aneh aja mikirnya, gak logis.

    5/10 lah cukup.
    Paling the best justru adegan lift jatoh tanpa ada penampakan.

    • Rian says:

      Kalo komentar2 pada bilang film ini kayak lagi naik wahana, saya setuju. Karena emang bener, kita cuma duduk dan ditakut2in tanpa perlu ada cerita dan tujuan yg jelas. Banyak hal2 bodoh yg, ‘yaelah, lu ngapain sih ngelakuin itu?’ Salah satunya ngebolongin tembok. Apa yg diharapkan dari ngelakuin itu? Nyolong? Oke, kalo rumah sebelah ada orangnya, lu langsung ketawan. Kalo rumah sebelah ga ada orangnya, ya congkel aja pintu depannya. Kalo nantinya keliatan pintu bekas dicongkel kan pelakunya bisa siapa aja, ga kayak ngebolongin tembok yg pelakunya pasti cuma lu. Ya Tuhanku… Endingnya juga, ujuk2 ada yg dateng bawa pistol. Berasa superhero kali ahhh.. hahaha… Keliling2 unit rusun juga. Tapi ya itu, kan wahana, jadi kita emang harus keliling2 walaupun ga tau untuk apa…

      • Arya says:

        Maksa banget sih memang soal dinding bolong itu wkwkwk.. ada banyak cara sebenarnya buat bikin mereka masuk ke situ, tapi film milih yang paling gampang dengan bolongin dinding dan menimpakan kebegoan alasannya ke karakter cerita

    • Arya says:

      Di bioskop biasa juga sih haha, males kalo membludak banget kalo di IMAX kayaknya mah. Denger-denger sebagian orang terganggu sama flashnya ya, banyak yang protes gitu minta mestinya filmnya ngasih warning ada muatan visual yang kedap-kedip kayak gitu.

      Wahaha itu bener sih, mengutip Abed di serial Community, “ketika karakter dalam film melakukan hal yang jelas-jelas tidak akan diambil oleh penonton jika mereka di posisi itu, di situlah penonton akan ngerasa gak konek dan gak peduli lagi” Makanya film kita katain karakternya bego, gaklogis, dan segala macem. Communion ini punya banyak momen kayak gitu. Toni itu, misalnya. Gak bakal ada orang hidup yang bakal milih korek api, walau dituduh penakut ataupun dianggap gak baik sekalipun. Nah lucunya, bahkan sikap komikal si Toni yang milih korek ketimbang senter itu gak dikasih konsekuensi beneran oleh film, bahwa dia sok berani ampe mustahil kayak gitu masih hal yang benar. Balik lagi bandingannya ke si Pak Ustadz yang juga komikal, masih berserah diri mulu. Si ustadz dikasih konsekuensi mati, seolah kepercayaannya bikin dia mati.

      Soal Wina, juga aneh sih. Anak itu mestinya trauma berat, eh malah masih diposisikan sebagai korban terus. Dibikin masuk lift malam2 setelah ngalamin traumatis berkaitan dengan lift. Gak dieksplorasi karakter ini, cuma didesain sebagai korban aja – malah jadi eksploitatif anak dalam horor kalo kata aku mah

      Si Bondi dkk karena bagian investigasinya kurang kuat. Mereka diniatkannya kan jadi semacam pemecah misteri gitu, ngeliat-ngeliat clue, tapi ya kurang mateng. Jadi segampang cuma ngetuk2 pintu dan kebetulan ketemu tempat yang ada cluenya.
      Kalo Tari aku ngerasa masih make sense, at least ada build up dia memilih sembunyi sekarang. Ada kejar-kejaran dulu, ada bagian dia naik tangga taunya ada hantu, balik turun lagi ada hantu lagi. Jadi set up dia hopeless lari-lah, hingga kini mencoba strategi baru yaitu sembunyi.

      Aku ngakak juga sih yang lobangi dinding, filmnnya sendiri sebenarnya gak dapat alasan logis kenapa dinding itu harus berlubang. Makanya dijadiin komedi dari dialog2 karakter yang mempertanyakan. Jadi seolah menimpakan kebegoan itu ke karakter si sok preman.
      Karakter si sok preman itu aku matinya suka sih, dia berawal dari takut kehilangan garpu, eh malah mati kena garu (yang kayak garpu juga) hahaha

      • Abdi_Khaliq says:

        Tetap aneh sih bang menurutku, aku kalau berada di posisi tari, setidaknya coba buka/dobrak pintu kamar rusun dulu satu2, kalo misalnya semua terkunci, jalan satu2nya memang terpaksa sembunyi di lobang sampah, masalahnya di sini aku nggak lihat Tari mencoba masuk ke kamar2 rusun, tapi seujug2 langsung milih lobang sampah buat sembunyi, apaan coba. But hey… mungkin pemikiranku aja yang terlalu jauh, manusia normal mungkin memang memilih sembunyi ke lubang sampah sempit!! hahahaha

        Untuk adegan bocah Wina, kalo memang dipaksa karakternya harus mengikuti suara dan masuk ke lift, harusnya ada semacam build up masuk akal, misalnya pas di kamar dia ketiduran, pas bangun tiba2 ibunya gak ada, terus dia keluar nyari ibu, dan mengikuti suara panggilan ibu, dan saat pintu lift terbuka, ada ibu di dalamnya, jadi logis dong dia masuk lift, ini aneh banget, pintu lift kebuka sendiri, gak ada orang, dia malah masuk sendirian. WTF kayak gak ada takut2nya, padahal siangnya baru jadi saksi musibah tragis lift jatuh.

        BTW abang nonton di XXI ya? Bisa ada subtitelnya! Enak dong, aku padahal juga ngarepnya ada subtitle, terserah mau inggris atau Indonesia, karena sepengetahuanku dialog2 karakter di film2 jokan memang terkadang ada artikulasi yang gak jelas. Ada yang bilang PS2 memang harus nonton di XXI, soalnya kualitas gambarnya lebih jernih, malangnya nasibku karena cuman ada 1 bioskop cinepolis di kotaku, dan PS2 ampuuuuunnn gelap kali, bikin pusing di cinepolis.

        Oh… Ada satu hal penting juga yang kubaca dari blog review sebelah, dia bilang gini… “Kalo soal karakter yang bodoh nggak masalah sih. Di situ suspension of disbelief kudu dipake & itu kunci crowd-pleaser, bikin penonton gregetan sama kebodohan karakternya. Jelas di sini sengaja dibuat bodoh dengan tujuan itu” Jadi intinya kalo nonton PS2 otak logika kita musti di buang dulu ke lubang sampah biar bisa enjoy PS2.

        • Arya says:

          Oh beda-beda gitu penanyangannya? Iya sih, aku nontonnya di XXI. Kalo kualitas gambar atau suara, sih memang aku tau biasanya di tiap bioskop beda-beda. Tapi aku baru tau kalo soal yang bioskop satu ada subtitle, di yang lain gak ada. Kenapa gak disamain ya?

          Haha bener, adegan Wina itu agak dipaksakan, dia mau deket-deket lift aja udah aneh. Soal panggilan suaranya, aku setuju kurang build up. Tadinya kan dia teriak-teriak minta dibukain pintu karena ngeliat hantu temen2nya di lorong, eh tau-tau ada bayangan dan suara ibu. Dia ngikut gitu aja, seketika lupa hantu teman-temannya. Mestinya itu kan dua kejadian seram yang berbeda. Dihantui teman, sama dibisiki suara ibu. Film ini gabungin dua itu gitu aja, sehingga build upnya pun jadi kurang.

          Si Tari ini mikirnya semacam ngumpet di tempat yang sempit biar gak bisa ada yang masuk, kayak pemikiran orang kalo sembunyi di dalam lemari kan. Tempat tertutup yang dia bisa punya kendali akses masuk, mikirnya berarti threat2 itu gak masuk dari tempat lain selain tempat yang ia awasi. Wajar sembunyi kayak gitu. Cuma mungkin terasa janggal karena posisi lubang sampah itu, di gang sudut mati kan. Jadi pilihan Tari sembunyi ke arah gang yang mati itu agak aneh, karena alternatifnya adalah gang yang mengarah ke tempat yang lebih terbuka. Coba bayangkan kalo lubang sampah itu letaknya di arah tempat yang lebih terbuka, untuk mencapainya Tari harus lari ke arah kamar-kamar dulu, baru sembunyi. Pasti jadi gak janggal lagi.

          Hmm.. mungkin harus dibedain, bodohnya karakter itu yang gimana gitu. Like, kalo personality nya yang bego, memang bisa cute dan bikin geregetan, bisa nyenengin. Tapi kalo tindakan/pilihannya yang bego, ya penonton maleslah.

    • Novh says:

      Sama yang paling bikin kecewa kenapa keluarga atau tetangga2 meninggal kayak mereka biasa aja, ga ada emosional kehilangan yang mendalam atau trauma gitu loh, terutama si wisnu. Dia kan cm pny ibunya. Ibunya meninggal, tp dia ga ada nangis2nya, dan sempet bersih2 piring lalu di dialog sempet menguatkan Rini karna adiknya hilang ckckck wah gilaaa sih kalau gw jd wisnu gw nangis sejadi jadinya soalnya bingung sama siapa lg tinggal dan harus gimana. Dan di scene yang lain jg biasa aja gt mondar mandir didepan mayat yang mukanya ga ditutup itu ga ada takut2nya atau traumanya. Apakah ada yang bisa menjelaskan? Pliss saya masih penasaran.

      • Arya says:

        Aku juga antara ketawa campur haru sih pas adegan itu, kok malah Wisnu yang ngasih comfort ke Rini, padahal yang baru saja kemalangan justru si anak itu

  7. Andre Tampubolon says:

    Spoiler alert:
    Pas Budiman lagi cek2 isi paket di kantornya, dan nemu beberapa kertas, yg di salah satunya ada gambar Uroboros, yang sering ditafsirkan sebagai kebadian.
    Lalu adegan terakhir di kamar B & D, trus ada foto KAA di-zoom. Semacam ada vibe “The Shining”.

    Tebak2an super gampang:
    – The cult of Raminom sudah eksis ratusan tahun
    – B & D itu petinggi disitu
    – …. OK kudu nunggu Pengabdi Setan 3

    • Arya says:

      Haha iya, pas bagian akhir itu ngerasa kenapa jadi The Shining, tapi yang ini kurang enak photosopnya hahaha
      B&D kayaknya petinggi yang kemudian mau mengkhianati si Raminom.
      Pengabdi Setan 3 kudu bener-bener bahas ini sih. Settingnya dibikin sebagai origin cult itu juga gakpapa deh buatku. Udah terlalu lama soalnya gak dikembang-kembangin

  8. Raja Lubis says:

    Tapi bukan ‘kah yang seperti wahana ini yang disukai penonton masa kini? Asal bisa takut, jerit-jerit, sudah berhasil ‘kan? Emang ada yang peduli pada pembangunan cerita dan karakternya?

    • Abdi_Khaliq says:

      Nggak semua orang, bang! Saya salah satu orang yang peduli pada jalan cerita dan pembangunan karakter. Makannya aku pribadi gak nonton KKN soalnya pas liat review di tempat langganan pada bilang cuman ajang jumpscare.
      Sebab itu saya kecewa banget pas mendapati Pengabdi Setan 2 bisa kayak gini! Yang paling bikin kesal tuh gambarnya gelap banget, bikin sakit mata dan pusing kepala.

      • Meriska says:

        Contoh aja film yg jalan cerita serta karakter bagus kyk ghost writer 2 buktinya gak banyak disukai penonton.. mungkin pH yaa gamau ambil resiko lah pasti bikin tema wahana mau gamau .. pH gabakal peduli sama orang yg kritis sama jalan cerita dan tokoh yg penting gaet aja yg disukai penonton gmn ..

        • Arya says:

          Ghost Writer 2 ada saingan Ivanna. Kalo di waktu bersamaan ada horor cerita, ama horor seru-seruan (wahana), kalah pasti horor cerita. Mungkin kalo tayangnya di waktu yang berbeda, Ghost Writer 2 gak segitu banget penontonnya

      • Arya says:

        Bener, itulah ilusi angka penonton bioskop itu aku kurang suka. Pembuat film jadi kejebak sendiri, nyangkanya film-film kayak KKN gitu rame berarti penonton sukanya ya horor wahana. Penonton pun jadi kebawa, pengennya horor wahana. Tapi seperti pada film, karakter harus belajar menyadari apa yang ia butuhkan, bukan yang diinginkan; film dan penonton kita pun seperti itu. Kita harus sadar, kita butuh horor yang gak cuma wahana.

    • Aaron says:

      Saya peduli sama cerita film, gak perlu ribet amat tapi ada maksud dan tujuan dari plot ceritanya dan yang penting nutup di akhir. Jangan flashback tanpa dialog ala Danur atau ajang jumpscare horor teri

      • Sarah says:

        Harusny om jokan contoh cerita film luar yah minimal dri segi cerita bisa nyambung dan mudah dipahami . Klo mnurutku film ini ibarat lubang satu belum kejahit udh muncul lubang berikutny jd tambah boring liatny

          • Febrian says:

            Ah iya, yg adegan solat juga bolong tuh. Katanya ga tau sekarang agamanya Islam apa bukan, tapi punya mukena sama sajadah. Hahaha..

          • Arya says:

            Hahaha iya juga ya, tapi bisa juga kalimat dia gatau agamanya sekarang Islam apa bukan itu ungkapan bahwa dia masih Islam, punya atribut2 ibadahnya, tapi gak pernah dipakek

      • Arya says:

        Kenapa ya film jaman sekarang itu suka bikin kisah yang ribet-ribet, kangen nonton film yang simpel – yang pas tamat itu ya beneran tamat gak mikirin hal yang belum dibahas untuk sekuel

        • newadityaap says:

          Ya biar ada peluang buat bikin sekuel lah. Kalo kata Bunda Inul, biar “Cuan, cuan, cuaaann”. Keliatan bgt film yg mindsetnya “Kalau kurang peminat ga apa-apa, kalau banyak yg suka mari bikin jilid 2. Makanya endingnya ngasih peluang buat ngembangin sekuel.”

          Anyway ternyata filmnya ga jauh2 dari sequence of jumpscares, tapi nunjukin cara nakut2in yg inovatif. Kalau ceritanya sendiri hampir ga maju, sampai segala rahasia diungkap buru2 di third act. Aku heran sama orang2 di medsos yg bilang ceritanya bagus banget (apa karena sisipan dark komedi para bocil ya? – Bondi dkk). Kalau muji2 visual sama audionya sih wajar, ga heran.

          • Arya says:

            Haha iya wajarlah, susah memang melepaskan bias. Apalagi kalo nonton ramean, kita udah seru-seruan, pasti kesannya bagus dulu aja semua. Ditambah pula nontonnya bayar kan, istilahnya kalo psikologis itu gimana ya… seringkali ego kita membuat kita meyakinkan diri bahwa barang yang udah kita dapatkan dengan mengeluarkan sesuatu itu adalah barang yang worth it. Like, beli barang kemahalan dibandingkan orang lain aja kita merasa malu. Kalo film, ya berarti kita mau taunya film yang udah kita tonton dan nikmati itu ya bagus.

    • Arya says:

      Gak ada lah. Orang udah capek-capek biar bisa digimmickin sebagai teknologi IMAX. Kalo cerita dan karakternya diperdalam, IMAXnya mubazir doongg

      hihihi

      • Meriska says:

        Gapenting bngt teknologi IMAX , tetep aja bikin mata sakit pas adegan tv semut dan lampu kedip kedip scene klimaks untung lihatny di bioskop biasa jd gak buang buang duta . Heran yg muji film ini bagus dan mendewakan film ini, jd nnti bang sutradarany besar kepala dan berasa cukup bikin mirip gini lagi di triloginy .
        Kykny aku lebih tertarik ke Timo yg lanjtin triloginy biar ada varian dikit yaaa meskipun gak menjamin sukses sih karena jokan kan fansny bnyk

        • Arya says:

          Wah gak bakal sudi pasti Jokan ngasih ini ke sutradara lain. Dia udah gedein franchise ini sedemikian rupa loh. Semoga dia humble aja deh, jangan gede kepala ntar filmnya pasti makin ke mana-mana, bisa-bisa malah sibuk nyambung-nyambungin ama film dia yang lain hahaha

  9. Ilham says:

    Padahal aku udah nurunin ekspetasi serendah mungkin untuk film ini tpi knapa giu gaada sesuatu yang bilang gw bikin WAW!.

    Tapi untungnya ada beberapa adegan yang bikin gw suka bgt yaitu adegan di lift itu terus adegan kematian si preman juga gak expect bakalan gitu sih oh ya sama satu lagi pas si tari dengerin radio dan tiba2 radionya mutar seolah2 tari di masa depan bakal disiksa di akhirat itu juga cukup bikin bulu kuduk meremang selain itu film hanya jualan jumpscare dan keliling2 rusun gajelas

    • Arya says:

      Keren ya yang Tari sama radio itu, aku suka. Jadi teringat horor jepang suka bermain dengan trope ‘suara kematian dari masa depan’ kayak gini.

      Film ini mainin itu ke dalam karakter si Tari. Implikasinya si Tari mungkin dulunya memang pendosa, dan dari adegan matinya yang ada pocong muntahin bayi, kayaknya si Tari pernah semacam aborsi apa gimana gitu. Jadi horornya dia bersumber dari rasa bersalah, dia takut disiksa di akhirat. Makanya juga solusi dia minta perlindungan dengan shalat. Nah, buatku horor yang bagus itu yang kayak eksplorasi karakter si Tari ini. Hantu-hantuan di dia itu gak sekadar jumpscare aja, tapi ada konteks dan pembelajaran dan cerita dan sebagainya hahaha

      • Sarah says:

        tokoh di film ini yang epik cuma tari aja dan adegany juga bagus dia bisa liat masa depan dan jasad dia seperti apa . Jarang yah horor indonesia pakai adegan bgini

      • newadityaap says:

        Tadi baru nonton lagi dan randomly berteori kalau kisahnya Tari itu mirip kisahnya So-young di Broker. Kalau So-young ngebuang bayinya ke gereja, kalo Tari either aborsi atau ngebunuh bayinya sendiri. Kemiripan yg kedua yakni sama2 pernah ngebunuh laki2 (merhatiin suara radio Tari ttg laki2 yg mau nyari dia).

          • Iksan says:

            Kalo aq nebak alur cerita PS-3 nya nanti itu flashback nyeritakan origin story sekte termasuk B & D di masa revolusi. Nah nanti dg bantuan anak2 itu sekte ini bakalan diungkap di masa tahun 80 dan RAMINOM bakal dihabisi sama mereka. Ya mirip2 ceritanya IT lah

  10. Abdi_Khaliq says:

    Tapi jujuar aku cukup kaget lho sama review bang arya di PS2 ini, meski cuman dikasih 5.5/10, reviewnya lebih berasa soft dan banyak memuji. Berbanding terbalik dengan PS1, meski dikasih rating lebih tinggi, tapi kritikannya setajam silet! Hahahaha

    • Arya says:

      Karena aku lebih suka yang kedua ini dibanding yang pertama hahaha.. itulah, kadang yang kita suka itu gak mesti yang bagus, boleh kok suka ama yang kurang bagus

  11. Iteuk says:

    Bang, aku kepo banget wina endingnya meninggal ga sih waktu abis masuk lift?
    Aku takut banget pas mulai wina masuk lift jadi skip ga berani liat adegan wina

    • Arya says:

      Mati sih hahaha, kasian ya… kayaknya dia mati jatuh, karena liftnya kan rusak (jadi sebenarnya gak ada lift yang menopang dia pas masuk?) gak yakin aku matinya gimana karena layarnya gelap di situ

    • Sarah says:

      Mati kok si wina , di adegan klimaks kan ada hantu wina lagi mangap di lift begokny karakter si temen bondi yg pakai kacamata itu gak ngeh masa sama wina dan ibuny mati secuek itukah sama keluargany sampe akhir film gaada dia nyari nyari emak ama adeknya nyadar gak mas arya ?

      • Arya says:

        Hahaha iya juga ya, baru nyadar. Ini mah lebih parah daripada ketika Eddie Stranger Things matinya gak dinotice ama karakter lain. Durhaka berat tu temennya Bondi, lupa gitu aja sama keluarganya

        • Sarah says:

          Heran ma jokan detail kecil tokoh begini aja masa kelewat , apa bedanya ama rocky klo gtu . Yaaa memang spele sih gak mempengaruhi cerita tp jatuhny absurd . Btw klo adegan adegan bgitu ada tertulis di script kah mas ? Atau memang on the spot aja biar sutradara yg ngarahin di lokasi 🙂 . Agak syokk yg ngasi rating 9/10 bahkan 10/10 perasaan film ini sekelas SIM sama Ivanna bedanya di film ini jualan hantu sejuta umat aja pocica

          • Arya says:

            Adegan-adegan secara detil maksudnya? Kalo yang memang ada maksudnya, seperti detil untuk build up ke sesuatu di adegan-adegan berikutnya, mestinya ada di naskah sebagai panduan sutradara soal apa yang harus terekam kamera. Cuma tergantung sutradara nanti gimana memvisualkan. Makanya naskah itu disebut tulang punggung, karena yang penting-penting harus ada dimuat di dalamnya. Malah terkadang ada naskah yang sampai memuat gerak kamera secara detil, walaupun ini bisa bikin sutradara tersinggung karena urusan tampilan adalah hak kreatif mereka.

            Haha iya, berarti 9/10 nya dalam skala terhibur atau tidak, bukan exactly skala kualitas

  12. Algips says:

    Mas , mau nanya deh adegan intro itu apa lanjutan scene pintu Budiman yg digedor orang misterius itu ??? Tapi di setting 1955 dan kejadian PS 1 kan 1980an

    • Meriska says:

      Endy Arfian ma Iqbal main disini gaada yg beda yah sama ghost writer 2 penokohan’y . Apalagi si Iqbal Kadang scene serius aja malah pengen ketawa liatny karena dia gak cocok bngt di taro di horor serius bgini wkwkwk , lebih cocok di horor komedi komedian

      • Arya says:

        Wkwkwk di Ghost Writer yang namanya Darto si Endy, di Pengabdi ini si Iqbal yang mainin karakter bernama Darto. Di dua film itu sama-sama penakut pula ya

    • Arya says:

      Beda kayaknya, yang digedor di film pertama itu nyambungnya ke chaos di akhir filmnya kayaknya. Tapi gak tau juga sih, soalnya pas nonton yang kedua ini aku mikirnya juga gitu. Oh ini kelanjutan yang gedor waktu itu, tapi ternyata waktunya di masa lalu. Yaah, kita anggap saja si Budiman sering dikejar-kejar orang karena tahu rahasia sekte

  13. lanister teragian says:

    setuju banget, sebagai ‘wahana rumah hantu’ ini film sukses banget harusnya, hal-hal yang bikin kita takut, benar-benar di eksplorasi sama jokan, permainan kamera, suara, suasana, segalanya lengkap lah pokoknya. cuman ya gitu, beberapa hal dibuat bodoh seperti yang mas arya dan teman-teman bilang wkwkwkwk, adegan terakhir sangat-sangat membuat kita, hah, udah gini aja. yang bikin menyebalkan adalah, film ini membuat misteri misteri baru, soal penceritaan pun ga semuanya di jabarkan, sehingga harus dijelaskan oleh film-film selanjutnya, benar-benar nguras kantong penontonnya wkwkkw. bener yang mas arya bilang, jadi kangen rasanya nonton film yang langsung selesai, karena penulisannya yang detail.

    • Arya says:

      Strateginya bikin penonton addict/penasaran biar terus balik ke film berikutnya ya hahaha.. Tapi yah jadi agak capek rasanya nonton bioskop sekarang, karena selalu berasa dikasih PR. Ya multiverselah, cerita sebelumnyalah, cerita bersambunglah. Makanya paling enak tuh ngadem di rumah rewatch film-film lama hahaha.. Mungkin itu juga sebabnya pas Ngeri-Ngeri Sedap keluar, filmnya bisa meledak dan banyak yang nonton. Drama keluarganya kena banget, dan easy watch buat penonton. Relate dan gak ribet-ribet.

  14. Kneb says:

    yg saya tau, emg pengabdi 2 ini memang jembatan buat lanjut k pengabdi 3. seperti kebanyakan film2 jokan menurut gw emg banyak hidden tracknya (clue) & arti2 yg kadang klo kt gk nanya sm yg buat, bikin kt yg nonton bilang ah B aja. tp gk tau knp gw percaya klo bbrp film dia kudu d tonton 2-3 kli buat kt bs nangkep porsi yg lebih besar dr pesan d film2 dia atau ya just enjoy the ride with his roller coaster aja.

    • Meriska says:

      Gaush ada pengabdi setan 3 mending bikin cerita baru aja lah . masa iya film disambung sambung terus mirip paralon putus . Aku lebih suka film sekali selesai dan cerita simple , menonton film itu untuk hiburan bukan untuk mikir keras ceritany 🙂
      Tp pH skrng beda , film laris yaa dibikin sekuel sampe bosen dan gak laku baru bikin cerita baru .
      Tp gimana lagi yah 🙁 penonton kita kan suka sama horor horor model bgini

    • Arya says:

      Banyak memang film ampe trilogi segala macem, mindsetnya selalu yang kedua adalah jembatan, jadi ceritanya boleh aja paling lemah. Padahal kan gak gitu juga. Kalo istilahnya jembatan maka jembatan itu harusnya kuat dong. Tapi pada prakteknya memang sekuel yang lebih kuat dari film pertamanya masih suatu pencapaian yang langka. Film ini gak bisa mencapai itu. Lebih menghibur sebagai wahana sih iya, tapi tidak lebih baik dari segi kualitas film.

      Penonton kayak kita mah bebas mau nikmatin film kayak gimana, mau matiin otak buat seneng2 aja, mau mikirin lebih dalam, atau kedua-duanya, atau banyak lagi cara lain nikmati film. Mau nonton berapa kali pun bebas. Semua film apapun juga kalo ditonton dua-tiga berkali-kali, pasti bakal ada hal baru yang bisa ditangkap. Bahkan hal yang gak diniatkan pembuatpun bisa aja ketangkap.

  15. Jebe says:

    Baru mo keluarin uneg2 eh ternyata liat kolom komentar udah dibombardir warga 😉 .btw Bang arya nntn series the sandman ga ,soalx sy udah sampe epsd 5 tapi males lanjutin, entah kenapa tapi ceritanya kayak membosankan , dan ga ngerti kenapa hype bnget ni series.mungkin karna ga baca komiknya ya. Tapi kalo bang arya nntn kalo bisa buat mini riview ato balas si komen jg boleh lah

    • Arya says:

      Hahaha seru ya kalo banyak yang berpendapat.
      Oh itu series, kirain film panjang. Pernah denger waktu itu beritanya, udah tayang ya berarti? Berat gitu ceritanya memangnya?

      • Jebe says:

        Berharap ps3 ga ad keputusan2 bego lagi kan maksudx ke bioskop utk senang2 bukan buat tekanan darah naik 🙂 . Serial bang, visualnya dan scoring epik tapi kok ceritanya kayak ngalor ngidul 🙂 tapi sy mentok di eps 5 sih, mungkin 6 -10 udah bagus tapi udah keburu males hehehe

  16. Erri says:

    Saya kecewanya sama kakaknya Wina sih, kok cuek sama Wina sama Mamanya. Padahal di awal diceritain Kakaknya sayang sama adiknya. Kalau masalah ngumpet di tempat sampah masih bisa dimaklumi. Kalau panik, pikiran juga bs buntu, atau gak mau gedor2 pintu orang. Juga ngebolongin tembok. Ada film Lock Stock and Two Smoking Barell yang sama ngebolongin tembok. Terus ditutupi lukisan atau apa gitu deh dr sisi sebelah sananya. Yang Wina mati juga kurang pas yaa. Harusnya bisa dibuat lebih bagus.

    • Arya says:

      Putus karakterisasi kakaknya ya, jadi kayak gak ada keluarga, cuma lari-lari ketakutan aja. Sayang sih.
      Setelah dipikir-pikir, tembok bolong itu kayaknya salah satu bentuk ‘bantuan’ dari Barata dan Darminah juga, somehow mereka campur tangan mengarahkan anak-anak itu ke sana, karena ada clue penting yang harus anak-anak itu ketahui. Cuma misterinya ya kenapa dua makhluk itu ga muncul langsung di depan Rini atau yang lain padahal udah tinggal dalam bangunan yang sama. Kenapa mereka ‘bantuinnya’ jauh-jauh lewat Budiman

      • Sarah says:

        Noo .. adegan tembok bolong kan emang si jourdy iseng bolongin tembok pakai garpu karena tembokny udh gompal jd pas dia congkel tembokny jebol dan garpuny masuk ke kamar darminah. Itu jelas sih di dialog cuma memang maksudny gajelas aja dia nyongkel cuma alesan iseng wkwkwk

        Budiman tau tentang sekte itu juga waktu pertama kali ke bangunan pocong sujud kan dan saat dikirim paket tentang sekte sama jendral polisi itu . Apalagi budiman kan wartawan juga. Cuma jokan hayolah kenapa sih adegan budiman mau bercerita ke rini gak langsung dimasukin ke film aja lumayan ada waktu 10 menit kan biar genap 2 jam nih film :p

        • Arya says:

          Haha iya itu, gak ada alesan yang saklek. Jadi kayak cuma film butuh ada dinding bolong, tapi mereka juga gak ketemu alasan bagus bolongin tembok, maka dijatuhkan ke karakter yang memang pengen nyongkel tembok. Jadi si film negelempar ke karakter aja. Makanya banyak dialog yang karakter lain istilahnya ngetawain atau mempertanyakan kenapa temboknya dibolongin (misalnya si Wisnu pas masuk ke sana). Seolah sadar itu bego, tapi toh yang bego si karakter si jourdy itu. Bukan filmnya.

          Yup, setelah itu pas ujan-ujan di halte, si Barata muncul dan sepertinya ngasih ‘bantuan’ lain

  17. Frans says:

    Sama kyk bang Arya. Jujur pas mau nonton PS2 ini ekspektasinya selain dpt rasa takut, at least sbgn besar pertanyaan di PS1 bisa terjawab di PS2 ini. Tnyt sampe film selesai, dipending juga. Ketimbang menjawab pertanyaan2 itu, kita malah di-distract karakter2 baru yg berinteraksi dgn karakter di PS1 sblmnya. Scene akhir D & B berdansa lagi pake lagu retro, so over it. Tapi jujur, akting Ratu Felisha keren banget di PS2 ini bahkan lbh dominan drpd karakternya Rini, which is yg bikin sy ingin nonton lg.

      • Sarah says:

        Lagi ngebayangin pengabdi setan 2 di sutradarain sama timo pasti lebih gore lagi 🙂 tapi wajib cari penulis cerita yg bagus macem kafir dan suzzana .. karena timo klo menggambarkan sekte lebih baik dan jelas kyk di vhs versi pertama itu keren bngt . Tp blom tentu laris juga sih karena jokan kan udh punya nama juga

        • Frans says:

          Betul mb Sarah. Sy jg kepikiran mereka colab (asal Jokanny jg gak gengsi colab ama Timo hehehe) n bikin sequel selanjutnya klo liat dari pengalaman Sebelum Iblis Menjemput.

        • Arya says:

          Wah kalo sama Timo dijamin tuh karakter-karakter sentral gak ada yang keluar idup-idup relatively masih bersih kayak sekarang ini. Pasti dipush untuk lakonin aksi horor yang jor-joran, berdarah-darah, kalo perlu tangannya putus satu. Paling enggak, mereka keluar dari rusun gak bakal dibikin segampang tinggal numpang perahu. Aku gak tau kenapa, padahal ini tu udah kayak survival horor 101: protagonis harus dibikin berjuang mati-matian supaya bisa survive. Tapi aku belum lihat Jokan bikin yang begitu recently. Horor yang Tara Basro pasti melempem endingnya, karakter Tara gak pernah ‘diapa-apain’

          • Frans says:

            Betul bang. Plg gak klo jd colab ama Timo, sekuel berikutnya bisa melogiskan alur survival karakter utamanya tp porsinya agak di ‘tone down’ spy tokoh2 yg blm tau konspirasi sekte ini akhirnya mudeng dan kita penonton jg terpuaskan penasarannya.

          • Arya says:

            Kalo liat dari bentukannya sih, kan berarti ni tim inti protagonisnya udah kebentuk, berarti mestinya sekarang mereka dibekali ilmu sama Budiman, terus Budimannya mati, trus tinggal mereka sendirilah yang berjuang melawan sekte raminom dengan B dan D sebagai wild card

  18. Yusuf_Ichsan says:

    Lebih mencekam dari yang pertama iya, cuma alur ceritanya masih lebih mind blowing yang pertama. Setelah nonton PS 1, hingga beberapa setelah hari keluar dari bioskop aku masih termenung sama adegan-adegan yang disajikan. Yang kedua ini setelah aku nonton rasanya B aja, aku batin “oh gitu aja”. Apalagi, adegan klimaks yang kebanyakan efek jepretan kamera yang bikin pusing.

    Overall, menurutku film ini jauh lebih baik dibandingkan KKN…

    • Arya says:

      Oh jelas hahaha. KKN standarnya masih di bawah sebenarnya, keterlaluan kalo sutradara dengan jam terbang dan referensi seluas Joko Anwar bikin horor yang di bawah standar KKN itu.

    • rian gepe says:

      Bang tanya..

      Jd sosok hantu ibu itu sebetulnya raminom ya?
      Berarti arwah ibu udah tenang di alam sana?
      Padahal ibu itu kan anggota sekte ya tapi arwahnya bisa tenang..
      Sementara nenek yg bukan anggota sekte kok di PS1 arwahnya gentayangan?
      Kalau memang gentayangan karna matinya bunuh diri dan pengen ngelindungin keluarganya, kenapa di PS2 ini hantu nenek ga nongol lg buat bantuin Rini dkk.?

      • Arya says:

        Bener, si Raminom. Gak jelas juga sih posisi si ibunya berarti gimana, bisa jadi dia ‘diambil’ sebagai mediumnya si Raminom, jadi eksistensi semuanya dia jadi milik Raminom. Sampai yang di kedua ini, film masih gak ngenalin cara main si sekte ataupun cara main hantu di duniacerita, ya kita jadinya hanya bisa berteori-teori. Si nenek mungkin udah kalah ama Raminom pas akhir film pertama.

  19. Albert says:

    Aku ga gitu paham endingnya itu. Jadi maksudnya bapak akhirnya dibunuh ya mas? Lalu harusnya Bondi sama Tony mau dibunuh juga, Rini disuruh nonton? Kenapa Rini ga dibunuh sekalian ya? Lalu Ian maksudnya beneran anak setan ya mas? Padahal di film pertama gemesin. Karena udah tahu endingnya bakal ditolong si wartawan, udah ga kaget sih. Cuma sejak Rini dan keluarganya ditangkap itu aku ga begitu jelas maksud cerita berikutnya.

    • Arya says:

      Iya, cuma Rini yang kayaknya mau dimasukin ke sekte. Mungkin karena dia cewek, dan Raminom butuh tubuh baru? Di cerita ini kan banyak ibu yang hilang, bisa jadi mereka semua dikasih daun(atau obat?) yang bikin ngimpi dan tenang kayak yang dimuntahin si Rini. Makanya juga rusun itu jadi mendadak sepi. Keren sih kalo endingnya Rini lawan Ian hahaha. Maksud cerita berikutnya kita serahkan ajalah ama pak sutradara, belum ada yang jelas kayak gini tuh, dia bisa swerve cerita ke kanan kiri sesukanya aja sebenarnya hahaha

      • Albert says:

        Kalau liftnya itu jatuh kenapa mas? Apa kebanyakan beban ya? Lalu endingnya kenapa ya itu foto lama diliatin lama2? Hmm, kalau kuingat2 lagi, si wartawan ini yang jadi penyelamat juga ga sih pas PS 1? Si spesialis penyelamat di ending kayaknya nih 😀

        • Arya says:

          Udah direncanain sekte kayaknya. Soalnya jatuhnya pas di lantai 14. Tapi kalo logisnya sih memang kebanyakan beban haha. Itu kayak ending The Shining, di foto jadul itu ada orang-orang yang kita lihat di cerita, kayak duo Batara-Darminah.
          Haha iya, spesialis menutup film

          • Albert says:

            Btw Darto sama Billy yang di Ghost Writer main lagi di sini ya. Malah Iqbal Sulaiman yang jadi BIlly dibalik jadi Darto di sini hahaha. Tapi kok jadi temennya Bondi ya, harusnya temennya Tony dong. Wah ga naik kelas berarti Iqbal nih dari temen kakak jadi temen adik hahaha.

  20. eska says:

    Review ini yang paling mewakili penilaianku. Sementara situs-situs lain memuji setinggi langit (bahkan ada yang memberi skor 10), review ini memberikan ulasan bahwa PS2 sebenarnya nggak bagus-bagus amat….

    • Arya says:

      Sebagus-bagusnya film aku gak pernah berani sih ngasih nilai 10, karena itu udah sempurna, dan emangnya aku udah nonton semua film yang ada di dunia sehingga bisa mastiin ini yang paling sempurna. Lagian masa semua film baru yang bikin kita fun berarti layak dikasih 10, kan gak gitu juga mainnya ya haha

Leave a Reply