“Religion without humanity is very poor human stuff”
Horor adalah soal kemanusiaan, di atas urusan spiritualisme. Pemahaman itulah yang tampaknya melekat pada horor-horor modern. Karena pada horor jaman dulu, simpel. Tapi efektif. Kebaikan lawan kejahatan. Setan, ya lawannya Tuhan. The Exorcist original tahun 1973 sudah lima-puluh tahun lamanya (and counting!) sukses jadi salah satu horor terseram berkat penggambarannya terhadap derita seorang anak yang kerasukan, dan bagaimana pihak gereja mati-matian berusaha menolong si anak sekeluarga . Pengaruh film tersebut terasa karena bahkan di skena horor jadul kita, bermunculan film-film horor dengan penyelesaian cerita ditolong oleh pemuka agama. Horor-horor jadul itu dibuat untuk mengembalikan keimanan ke dalam hati pemirsa. Supaya penonton jadi rajin sholat; ibadah. Horor-horor kontemporer, however, melihat dunia tidak hitam-putih. Melihat bahwa manusia itu kompleks; bahwa setan mungkin berasal dari perasaan negatif manusia itu sendiri. Dan bahwa orang-orang suci terutama dan utama sekali adalah manusia juga. Maka kita lihatlah di horor-horor kekinian, ustadz kalah telak lawan hantu. Bermunculan horor dengan plot twist karakter yang disangka baik, ternyata yang melakukan ritual dengan iblis. Di horor barat, ‘final girl’ sudah enggak mesti lagi perempuan yang perawan. Lawan setan, kini adalah kemanusiaan.
Aku paham apa yang berusaha diincar David Gordon Green pada sekuel The Exorcist ini. Rasa kemanusiaan. Green ingin cerita horor pengusiran-setan-dari-tubuh-manusia ini lebih berfokus kepada bagaimana manusia yang terlibat bangkit rasa kemanusiaannya, di atas kepercayaan agama/spiritual yang beragam, atau malah bahkan pada orang yang sudah tidak lagi punya iman kepada Tuhan. Konsep ini sudah kita lihat berhasil dilakukan oleh Qodrat (2022), yang memperlihatkan seorang ustadz yang terbangkit dahulu rasa kemanusiaannya, dan baru menggunakan pengetahuan exorcist dan keagamaannya untuk menolong warga desa. Film yang dibintangi Vino G. Bastian tersebut berhasil, bukan exactly sebagai horor religi seperti The Exorcist original, melainkan menciptakan bentuk baru, yakni horor superhero. Green berjalan di jalur yang sama. Dia bahkan sudah berusaha melakukan ini – melakukan horor dengan mengutamakan kepada eskplorasi rasa kemanusiaan – sejak sekuel reboot Halloween. Di Halloween Kills (2021), Green memfokuskan kepada warga kota yang bersatu bahu membahu memburu Michael Myers. Tapi sebagaimana karakter ceritanya gagal membunuh momok, Green juga gagal mengeksekusi cerita. Kegagalan yang sayangnya terulangi di The Exorcist: Believer ini. Maksud dan niatan baik Green, selalu amblas karena cerita dan perspektif yang ia angkat ujungnya tetap terlalu melebar.

Dua anak perempuan hilang di hutan. Satu putri dari keluarga pemeluk Katolik yang taat. Satunya lagi putri dari Victor, seorang single-father yang skeptical sama urusan keagamaan. Dan Victor jadi begitu untuk alasan yang bagus. Alasan yang sebenarnya sudah dibangun film sebagai pembuka, tapi baru belakangan diungkap sepenuhnya. Dari latar belakang yang berbeda tersebut, bisa dibayangkan apa yang terjadi kepada masing-masing keluarga ini saat dua anak perempuan yang sudah berhari-hari dicari tapi tanpa hasil tersebut, mendadak muncul. Primbon (2023) style! Alias, dua anak ini muncul begitu saja, tanpa ingatan apapun tentang mereka hilang, dan dengan ‘oleh-oleh’ berupa sikap dan temper yang sangat aneh. Mereka suka ngeblank, tiba-tiba teriak, bicara kasar, menyakiti diri sendiri. Ketika sudah jelas mereka ‘didiagnosa’ kesurupan setan, dua keluarga dengan latar berbeda tadi harus berembuk, sudi gak sudi, percaya gak percaya, demi kesembuhan dan keselamatan anak mereka.
Ternyata sutradara Green bukan hanya ingin mengelevasi cerita kesurupan dengan tema kemanusiaan, dia juga ingin menaikkan level horor cerita ini dua kali lipat. Dua anak, dua kasus kesurupan, dua keluarga dengan latar berbeda. Secara cerita dan tema, menurutku ini masih bisa untuk worked out. Karena memang temanya itu ngasih bobot yang bikin film ini bukan sekadar remake cash grab (walau mungkin memang dibuat untuk itu), melainkan memang punya suatu pandangan baru yang ingin dibahas. Film ini toh memang jadi punya delevopment dari dua sudut pandang tadi, mereka berusaha memahami masalah, dan akhirnya menemukan cara untuk membuat mereka jadi paling enggak jadi percaya satu sama lain. Adegan ‘rukiyah’ bareng-bareng antarsesama warga biasa – ‘berdoa’ dengan keyakinan masing-masing – menurutku juga sebenarnya bukan ide atau konsep yang ngawang-ngawang. Karena memang, society modern kita yang either terlalu fanatik sama kepercayaan sendiri atau terlalu cuek sama keadaan orang lain sekali-kali perlu dikasih gambaran bisa gini loh kalo kita saling menghormati. Tidak harus soal kepercayaan siapa yang paling benar. Tidak melulu tentang kepentingan siapa yang harus didahulukan. Meski memang film ini masih terjebak perangkap modern untuk bikin pemuka agama (dalam film ini adalah pastor) kalah telak, tapi momen-momen orang biasa berusaha saling kompromi dalam bentuk bergantian berusaha exorcist dengan cara masing-masing, buatku jadi momen kemanusiaan yang baik, sesuai dengan kacamata horor film ini.
Taat agama tanpa nilai-nilai kemanusiaan hanya akan membuat kita jadi fanatik berlebihan. Karena kehidupan beragama tidak sebatas kepada soal kepercayaan kepada Tuhan. Hubungan dengan sesama manusia juga harus dipupuk. Bahkan seharusnya manusia tidak perlu rajin ibadah dulu baru bisa berbuat baik. Kita gak harus hafal ayat suci untuk mengulurkan tangan kepada tetangga yang kesusahan. Kemanusiaan harusnya adalah insting utama manusia, regardless kepercayaan mereka apa.
Secara penceritaan horor, film ini keteteran. Dua perspektif keluarga yang diniatkan untuk perbandingan, nyatanya malah membuat kita terlepas setiap kali perpindahan. Dua kasus kesurupan yang dibentuk untuk ngasih variasi horor kesurupan, nyatanya malah terasa melama-lamain masalah. Film ini sendiri, kita bisa lihat, enggak begitu pede dengan keputusan horor mereka tersebut. Yang satu horor di lingkungan gereja. Yang satu horor di lingkungan rumah sakit yang pendekataannya scientific. Tidak satupun dari penggalian itu yang dijadikan andalan oleh film ini. Yang bikin film originalnya begitu horrifying adalah momen ketika anak perempuan yang normalnya masih polos itu melakukan hal-hal ‘iblis’. Ketika sosok kecil itu dikuasai sepenuhnya oleh setan yang membuat dia melakukan bukan saja hal-hal di luar kemampuan manusia, tapi juga dalam sense yang lebih mendasar yaitu ketika si kecil itu menjadi seperti orang dewasa yang amat sangat berdosa. Di film itu kita menyaksikan anak kecil rusak fisik dan mentalnya, oleh setan. Sekuel ini, agak lebih condong ke sakit fisik. Horor yang ditampilkan masih lebih bersandar kepada pemandangan yang naas. Adegan-adegan kesurupannya tidak memorable. Film lebih banyak bermain horor dari luar, I mean, dari editing dan suara-suara keras dan sebagainya. Banyak sekali adegan yang dimulai dengan sesuatu yang mengeluarkan suara keras. Suara laci dibuka, bunyi lonceng gereja, orang teriak. Ketakutan yang dipancing terasa artifisial.
Sense takut dari hal yang tidak kita mengerti harusnya jadi pancingan utama. Karena ini kan urusannya gaib. Sebagai horor yang berurusan dengan setan, film ini kesannya terlalu berusaha rasional. Walau film menggunakan editing untuk membuat peristiwa itu benar sebagai misteri, tapi alasan kenapa si anak kesurupan akan dibeberkan dengan jelas. Ini membuat cerita jadi kurang terasa spesial, agak mematikan perbincangan yang bisa timbul dari kita menonton ini. Aku lebih suka jika film horor masih menyisakan suatu misteri untuk kita bicarakan, betapapun gak masuk akal atau malah bego sekalian.

Yang bikin film ini semakin terasa ‘steril’; dalam artian terasa sama kayak remake-remake reboot yang tampil try too hard beda dari originalnya, alih-alih tampil berbeda dan groundbreaking untuk genrenya (seperti yang dilakukan oleh film original) adalah pilihan untuk memunculkan legacy character. Karakter dari film original. Dan film ini masang karakter tersebut dengan main aman, dan parahnya membuat kacau cerita. Karena gak nyambung. Like, karakter ibu si anak kesurupan di film original dimunculkan dengan development karakter yang gak make sense dengan yang telah ia lalui. Basically karakternya diubah. Seorang ibu yang tersiksa jiwa raga melihat anaknya itu kini menjadi semacam paranormal ahli exorcist yang serba tahu. Hampir kayak film ini pengen Exorcist reboot-an mereka punya sosok seperti Laurie, Elise, atau Lorraine sehingga mereka mengubah si Ibu menjadi seperti demikian. Seketika film ini pun jadi berubah annoying bagiku, ceritanya jadi kemana-mana. Terlalu melebar karena berisi bukan hanya tentang Victor yang berusaha menyelamatkan anaknya tapi juga soal mengaitkan itu kepada apa yang kira-kira terjadi pada karakter di film pertamanya. Dan persoalan mereka ini cuma muncul di tengah, dan sebagai penutup (maybe sebagai teaser sekuel berikutnya). Mereka gak benar-benar esensial pada babak akhir, pada babak para karakter baru berusaha mengusir setan. Jadi ya kayak momen detour yang sebenarnya gak perlu.
Dengan bahasan kemanusiaan di dalam bangunan cerita horor spiritual (kalo gak mau dibilang religi), tadinya pas nonton aku udah mau ngasih skor empat untuk film ini. Toh memang bahasannya penting. Tapi eksekusinya yang juga ingin mengelevasi horor itu dua kali lipat sebenarnya justru jadi boomerang. Perspektif jadi sering berpindah, aspek horor jadi terasa berulang, semuanya terasa bloated. Dan begitu mereka munculin karakter legacy, film ini terasa semakin melebar dan semakin gak-unik lagi. Melainkan hanya jadi kayak produk dari mesin reboot yang steril dan main aman sesuai dengan standar horor modern. Skornya pun jadi semakin turun buatku. I’m not its believer anymore.
The Palace of Wisdom gives 3 out of 10 gold stars for THE EXORCIST: BELIEVER
That’s all we have for now.
Berarti sebenarnya horor ada dua tipe. Tipe yang tentang kebaikan lawan kejahatan. Dan tipe horor yang menggali perasaan terdalam dan terkelam manusia. Dari pengelompokan itu, horor tipe mana yang lebih kalian suka? kenapa?
Share pendapat kalian di comments yaa
Setelah nonton ini, mungkin kalian masih pengen yang menegangkan? Well, ada nih serial Hijack, serial thriller seru tentang pembajakan di pesawat yang dibintangi oleh Idris Elba di Apple TV+ Yang pengen ngerasain ketegangannya bisa langsung subscribe dari link ini yaa https://apple.co/46yw8RX
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA and BEST BOOK REVIEW HORROR & THRILLER EDITION ON TWINKL
Sebetulnya aku ga masalah ya kalau pastur dikalahkan setan. Di Exorcist 73 juga pasturnya kalah lalu bunuh diri. Cuma pastur film ini kan udah dilarang sama atasannya tapi demi kemanusiaan dia akhirnya bantu juga. Lalu baru sebentar udah dibunuh. Jadi kesannya kan kita bantu orang malah mati gitu, tau gitu ya bener atasannya ga usah dibantu aja. Hehehe.
Nah iya, maksudnya ‘kalah’ itu pemuka agama sudah bukan opsi utama. Lain cerita kalo dibuild up sebagai penyelamat, tapi gagal. Tapi ini kan sedari awal, gerejanya udah angkat tangan gak membantu. Yang ditonjolkan jadinya kemanusiaan si pastor yang akhirnya membuat dia membantu tapi ya, atasannya bener, kesannya kan matinya gak heroik haha
Di Exorcist gini anaknya diikat ya anteng ya. Coba kalau film Indo, pasti lepas itu ikatannya terus ambil pisau bunuh sana sini hehehe.
Hahaha iya tuuhh, kok gampang banget mereka ngiket dua orang kesurupan. Gak ada perlawanan xD
Dari poster dan trailernya aku punya ekspektasi lumayan tinggi. Di trailer ada adegan yang nunjukkin detak jantung yang sinkron antara si dua anak kesurupan, uda ngebayangin gimana sinkronisasi itu bakal bawa teror ke para keluarga. Setuju ceritanya malah jadi kemana-mana. Adegan nyari anak ilang agak kelamaan, terus pas exorcismnya juga biasa aja. + udah keburu ngantuk gara-gara belum ada seram-seramnya di awal-awal.
Btw Penasaran sama Pamali 2. Ada review mas Arya yang Pamali sebelumnya juga.
Sama lagi nungguin Sijjin yang katanya remake horor Turki itu.
Oh ya, jawab pertanyaan di atas: aku lebih suka horror yang kedua, digali juga perasan terdalam & terkelamnya, Itu akan nambah horor psikologis tersendiri, dan bisa juga akan ngeblur-in kebaikan vs kejahatan.
Hahaha exorcism sama pas mereka kesurupannya sih yang biasa aja, makanya jatohnya belakang itu jadi boring dan cerewet
Pamali 2 reviewnya malam ini yaa, tapi untuk review film yang satu ini tolong jangan lihat angka/skornya, karena aku nulisnya sambil mencari sesuap nasi hahaha.. Dibaca saja, ulasannya tetap pendapat aku kok, secara hiburan mmg lebih baik dari Pamali 1, tapi overall, film ini bukan tipe horor kedua (enggak menggali perasaan terdalam)