Tags

, , , , , , , , , , , ,

“If you hate a person, you hate something in him that is part of yourself.”

 

 

Sungguh patut disukuri akhirnya sinema Indonesia punya figur superhero modern sendiri, dalam film yang dibuat dengan kompeten, yang stylenya kayak produk Jepang, tepatnya Tokusatsu -,-

All sarcasms aside, Satria Heroes yang beranjak dari serial televisi ini adalah film action superhero yang cocok banget buat ditonton anak-anak. Ceritanya ringan, actionnya super seru, dengan efek-efek yang imajinatif. Sehabis nonton ini, aku merasa kembali menjadi anak kecil, kayak kembali ke jaman aku menonton Kamen Rider RX untuk pertama kalinya. It was an OVER-THE-TOP EXPERIENCE, TAPI SANGAT MENYENANGKAN. Film ini adalah apa yang kuharapkan saat hendak menonton Power Rangers (2017) beberapa bulan yang lalu. Sebuah cerita superhero yang tahu persis dirinya dibuat untuk siapa, yang enggak malu untuk tampil norak dan cheesy, dan yang just take explosions dan adegan pertarungan melawan monster yang menyenangkan alih-alih terlalu menegangkan.

Adegan tarung di pembukanya saja sudah menyuguhkan action laga yang lebih baik dibandingkan dengan film-film action standar Indonesia. Koreografinya intens dan direkam dengan baik oleh kamera. Setiap gerakan tokohnya keciri. Pose-pose keren yang khas kita temukan dalam serial-serial superhero bertopeng berhasil ditangkap oleh kerja kamera, ngeblen cukup mulus dengan efek dan menterengnya kostum. Film ini punya production design yang benar-benar terlihat profesional dalam bidangnya. Aku yang enggak ngikutin serialnya di televisi, tentu saja terbengong-bengong takjub melihat adegan pembuka film ini; takjub demi ngeliat adegan pertarungan yang terasa megah, kayak lagi nonton Tokusatsu, dan bengong karena aku gak tahu Satria Bima dan Satria satunya yang kayak harimau itu siapa. Apa mereka musuhan atau temenan. Kenapa mereka berantem di depan Gunung Fuji. Kenapa aku nekat nonton film yang jelas-jelas dibuat untuk nyenengin fans setia serialnya?

Tapi tentu saja, sebuah film tidak akan menjalankan tugasnya dengan baik jika punya pemikiran “ya kalo mau ngerti, tonton aja serial/film pertama/baca saja bukunya”. Film yang baik mesti bisa berdiri sendiri; dalam artian paling enggak dia punya cara untuk menjelaskan sehingga penonton dapat mengerti tubuh dasar karakter dan narasinya. Film Satria Heroes memilih untuk menggunakan adegan seorang tokoh bercerita kepada anak-anak sebagai sarana eksposisi. Dari adegan yang udah kayak rangkuman serialnya tersebut aku jadi tahu kalo dua orang yang bertarung di awal tadi sebenarnya adalah temen. Satria Garuda Bima-X, yang nama manusianya adalah Ray, telah melewatkan banyak pertempuran menumpas kejahatan bersama Satria Harimau Torga, yang nama manusianya Dimas. Ada satu Satria lagi; adik Ray yang kinda menghilang entah ke mana. Dan film ini melanjutkan kisah mereka di mana Ray sekarang berada di dunia parallel, sementara Dimas lagi kunjungan bisnis ke Jepang. Bahaya muncul dari musuh yang punya dua hal; dendam kesumat dan semacam device yang bisa menghipnotis orang. Jadi, musuh ini menggunakan berbagai cara untuk mengalahkan Bima dan Torga – sukursukur bisa sekali lempar batu, dua burung kena – dan ultimately, dia membangkitkan seorang musuh lama dengan kekuatan yang baru. Musuh yang lantas go overboard dengan memporakporandakan seluruh dunia.

“Tidak mungkin!” (mengangguk sambil mengepalkan tinju) / “Kamu tidak apa-apa?!” (mengangguk dengan khawatir) / “Ya, aku mengerti sekarang!” (mengangguk dengan mantep)

 

 

Semua aspek yang bisa kita apresiasi dari genre tokusatsu Jepang bisa juga kita temukan di sini. Akting dan gestur yang over-the-top, gimana cara mereka mengambil gambar, gimana cara mereka bercerita lewat adegan pertempuran – jurus-jurusnya, animasi ledakan dan sebagainya, bahkan dialog dan leluconnya menjadikan film ini kayak buatan Jepang dengan budget yang sedikit lebih kecil. Memang seperti yang ditunjukkan oleh film inilah formula tokusatsu, dan Satria Heroes menanganinya dengan fantastis. Aku enggak ngikutin tokusatsu, jadi mungkin aku yang kuno, tapi aku sangat menggelinjang melihat film ini memainkan adegan berubah dalam cara yang baru aku lihat. Biasanya kan, tinggal bilang berubah dan wujud protagonis kita langsung dibungkus armor. Di film ini, Ray berubah secara parsial. Dia masih bertarung sebagai manusia, dan Bletak! Dia meninju musuh – here comes tinjunya berubah. Dia nendang – serta merta kakinya menjadi mengenakan metal. It was new and so refreshing.

Film ini juga lumayan memperhatikan detil. Ketika berantem, detil-detil seperti gravitasi, logika fisika, dan semacamnya mendapat perhatian. Batu-batu properti yang berjatuhan memang terlihat seolah punya bobot saat mendarat, misalnya. Ketika Dimas ketemu klien di Jepang, kita diperkenalkan sama translator yang secara instan ngeterjemahin bahasa yang diucapkan. Dan film ini play that technology nicely dengan membuat suara translatornya terdengar datar, tanpa emosi, kayak suara google translate. Beberapa adegan terkait alat tersebut jadi lumayan lucu, dan bahkan juga escalate menjadi creepy.

 

Narasi dalam Satria Heroes dibagi menjadi tiga bagian gede. Film literally memisahkan bagian-bagian tersebut dengan judul tersendiri, dan sebagai transisi di antaranya kita akan diperlihatkan animasi buku/komik yang terbuka sendiri di somekind of old library (?). Dan buatku, film ini barulah benar-benar terasa sebagai sebuah film ketika kita sampai di narasi bagian kedua. Sampai ke titik ini, jalannya alur film memang rada aneh, kayak ikutan melompat-lompat seiring aksi, ada flashback, cut, trus present, trus cut lagi ada eksposisi, ke masa kini lagi, trus ke flashback lagi.. Kita malah enggak tahu apa motivasi yang melapisi tindakan tokoh utama. Karakter Ray seperti apa, tidak pernah diperlihatkan. Dia baik, itu aja. Dia enggak melakukan pilihan; hanya sekedar ada yang butuh pertolongan, dan yeah heroes gotta save people just in time. Narasi kedua yang dikasih judul ‘Arsya’ membawa kita ke titik nol. Tonenya sama sekali berbeda dengan bagian pertama. Kita ngeliat tokoh yang berbeda, dan cerita di sini actually lebih dramatis dan lebih grounded. Cerita asal muasal gitu deh, ketika antagonis menceritakan kisahnya sewaktu kecil, dan ini bikin kita paham dan terinvest secara emosional kepada tokoh ini, lebih daripada kepada tokoh utama.

Kalian mungkin membenci diri sendiri karena ngerasa enggak pinter, atau enggak cakep, atau enggak cukup spesial. Alasan Wira adalah karena kesalahan yang ia buat. Ini adalah konflik yang berlangsung internal. Dan ketika ia melihat para Satria, dirinya melihat bagian dari dirinya yang ia benci, dan tentu saja lebih mudah menyalahkan orang lain ketimbang menghunus telunjuk kepada diri sendiri. Manusia memang munafik seperti demikian, liat saja ibu yang memukul anaknya sebagai ganjaran buat anaknya yang berantem. Tapi semestinya sifat benci tersebut dapat diarahkan sebagai cara untuk memahami diri sendiri. Wira tidak mesti memburu para Satria, kekuatannya bisa datang dari self-improvement.

 

Ini menciptakan benturan tone yang serius. Dan lebih jauh lagi, membuat kita mempertanyakan ini film sebenarnya mau nyeritain tentang apa sih. It worked best as an origin story dari tokoh jahat. Kualitas penampilan akting pun jauh lebih baik di narasi kedua ini. Pemeran Wira, aktor cilik Faris Fadjar Munggaran, berhasil menyampaikan emosi genuine yang sangat dibutuhkan oleh film ini. I mean, setelah satu jam kita melihat orang dewasa bertingkah terlalu baik, enggak ada cela, bahkan cenderung polos sehingga terasa kayak anak kecil dalam tubuh anak gede; maka di cerita kedua ini kita akan melihat percikan api dari karakter Wira. Kita bisa merasakan amarahnya, kita mengerti dari mana itu berasal. Motivasi itu adanya malah di sini. Dan buat film anak-anak, kejadian di sini tergolong tragis. But then again, clashing tone – di awal sangat cheesy dan cenderung kocak – hanya membuat bagian ini lebih menjemukan daripada seharusnya. To make thing worst, entah kenapa di bagian drama ini film memutuskan untuk lebih banyak memakai efek komputer. Hujan dan percikan air saja mesti pake komputer loh, bayangkan! Keliatan banget pula. Episode yang mestinya paling manusiawi dari film ini malah jadi downgrade dengan adegan yang ditangani dengan artifisial seperti itu.

susah buatku mempertahankan wajah datar nonton narasi kedua

 

Tiga puluh menit terakhir bertindak efektif sebagai persembahan buat fans. Cerita mendadak jadi punya stake yang berskala sangat besar. Semua jagoan kita mengerahkan segenap kemampuan untuk mengalahkan penjahat utama. Aksinya keren. Namun teknik eye tracingnya terlihat sedikit off, kamera kerap menyorot terlalu dekat, tapi kita masih bisa mengikuti apa yang terjadi, meskipun memang membutuhkan sedikit usaha ekstra. Efek saat berantemnya cukup mulus, membanting efek kehancuran kota habis-habisan. Baru di menjelang akhirlah film memasukkan motivasi yang diniatkan supaya kita bisa mendukung para protagonis. Mungkin formula tokusatsu memang seperti ini, you know, pahlawan yang nyaris kalah kudu berkontemplasi dulu mengingat kenapa dia melakukan ini sejak awal, dan kemudian dia barulah dia berhasil membangkitkan kekuatan baru yang lebih kuat. Namun begitu, aku percaya film ini bisa menjadi lebih baik lagi jika urutan ceritanya dibenahi. Jika rentetan narasinya dirapikan, dibuat plot yang lebih jelas, sehingga karakter-karakternya lebih mudah untuk didukung.

 

 

 

Bukan mau bilang dirinya berusaha nyaingin Pulp Fiction (1994) dengan segmen ceritanya yang sengaja ditabur acak, tapi toh kelihatan film ini mencoba untuk bersenang-senang. Ia tahu persis mau jadi seperti apa. Universe-dalam filmnya terbangun dengan baik. Mencoba memadukan tarung Indonesia ke dalam dunia ala tokusatsu Jepang. Over-the-top tapi itu sudah diharapkan. Sukses menggapai nilai hiburan yang niscaya membuat setiap anak kecil yang menontonnya jejingkrakan senang. Desain produksi yang keren, koreografi aksi yang intens, efek yang mendukung porsi laga tapi tentunya bisa lebih baik lagi digunakan sebagai latar. Jangan melulu bergantung kepada CGI, tho. Dengan semua aspek cerita yang sudah terestablish semenjak serial tvnya, film ini toh kurang berhasil untuk berdiri sendiri. Narasi mestinya bisa disusun lebih rapi dan efektif lagi sehingga yang nonton akan enak ngikutin jalan cerita, karakter pun jadi dapat terfleshout dengan compelling. Petarungan terbesar yang dimiliki film ini bukan Satria lawan monster, melainkan justru pertarungan antar tone cerita.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for SATRIA HEROES: REVENGE OF DARKNESS

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

Advertisements