Tags

, , , , , , , , , , , , , ,

“Beautiful people experience life differently.”

 

 

Pernah gak sih penasaran pengen tau gimana tampang nenek atau orangtuamu kala mereka masih muda dulu? Apa mereka bandel-bandel juga kayak kita? Seperti apa mimpi-mimpi mereka, apa mereka berhasil mencapainya? Wah, kalo belum, coba tanyain segera deh. Kali aja nenek kamu dulunya mantan gadis sampul majalah. Buka lemari kayu reot itu, ambil album-album foto yang tersimpan di dalam laci. Tiup debu di sampulnya, buka, dan apalin satu persatu wajah nyengir yang nampang di sana. You might be surprised. Segera. Sebelum nenek-nenek kita pada berbondong-bondong ke studio foto Forever Young. Dan tanpa sepengetahuan kita, the next cewek kece yang kita taksirin ternyata adalah nenek kita sendiri. Bisa gawat!

Seperti yang dialami oleh Nenek Fatmawati (Niniek L. Karim tampak totally have fun mainin tokoh ini). Begitu beliau mencuri dengar keluarga putranya sedang berembuk soal memasukkan dirinya ke panti jompo, Nek Fatma jadi sedih. Dia enggak pernah pengen direpotin. Dia jadi merindukan masa mudanya yang mandiri. Dengan galau, dia masuk ke studio foto di pinggir jalan yang terlihat oldies banget. Setelah difoto, Nek Fatma menjadi lebih muda tiga-puluh tahun, ajaib! Dengan girang Nek Fatma menjalani identitas barunya, nyamar menjadi cewek muda bernama Mieke (busana-busana classy itu sukses bikin Tatjana Saphira terlihat supercute!) Mieke ingin melakukan hal-hal yang dulu tidak bisa ia lakukan di masa mudanya yang asli – lantaran Fatma was a single mother. Tentu saja segudang masalah datang bersama perubahannya ini, yang dibahas oleh film dalam sinaran yang kocak. Mieke kudu berkutat dengan masalah duit, juga soal keluarga yang mencari dirinya. Mieke harus berpura-pura berjiwa muda, meski dia masih cerewet ngomelin ini itu khas nenek-nenek. Mieke harus ‘menghindar’ sekuat tenaga dari panah cinta cowok-cowok muda di sekitarnya, while berusaha mengejar cinta lamanya.  Apalagi dari cucunya, yang by the way, ngajak Mieke ikutan bergabung sebagai vokalis band.

ternyata enggak segampang itu jadi orang cantik di jaman sekarang.

 

Hidup menjadi lebih mudah jika engkau muda dan berpenampilan menarik. Especially if you are a girl. Ya, pernyataan yang jelek. Tapi itulah kenyataan. Dengan menjadi muda kembali, Fatma mudah untuk diterima oleh orang, termasuk oleh keluarganya sendiri. Menantunya menerima kritik masakan dengan lebih lapang dada ketika kritik tersebut datang dari mulut merah merekah wanita yang lebih muda. Penjual sepatu juga lebih ramah kepadanya dibanding saat dia menawar ketika dalam wujud aslinya yang keriput. Memang, kadang ‘cantik itu luka’ dan kecantikan bukanlah segalanya, tapi kita enggak bisa mungkir bahwa kita hidup di dunia yang sedikit lebih sopan dan lebih berhadap terhadap orang-orang yang atraktif.

 

Meskipun ini adalah ADAPTASI RESMI DARI FILM KOREA, aku tidak merasa asing saat menontonnya. Sutradara Ody C. Harahap menempeli naskah dengan warna-warna khas Indonesia. Kita melihat para tokoh berlebaran, nonton sinetron, dan mendengar mereka menyanyikan lagu-lagu klasik Indonesia. I have soft spot di film-film yang masukin elemen lagu, dan film ini berhasil membuat, bukan hanya aku, tapi nyaris seisi studio ikutan menyanyikan lagu yang dinyanyikan oleh Tatjana. Aransemennya asik punya. Film ini cerah banget, production designnya top, enak enak sekali untuk dipandang. Bahkan ketika tone cerita mulai serius, ada saja yang bikin penonton tertawa. Tatjana really nailed it sebagai jiwa tua yang bersemayam di raga yang muda. Dia terlihat girang, while also nunjukin concern dan ‘cerewet’nya nenek-nenek. Para pemain lain juga menghandle tokoh mereka dengan sama enggak jaimnya, namun beberapa terasa tertahan oleh kurungan naskah yang membuat tokoh mereka satu dimensi; hanya ditujukan untuk bagian tertentu. Sepertinya Lukman Sardi yang hanya di sana untuk bagian dramatis dari narasi.

Sebenarnya enggak heran juga kenapa adegan sisipan yang poke fun soal sinetron Indonesia mengundang tawa lebih heboh dan lebih membekas dari keseluruhan film. Karena dengan banyak elemen yang berusaha ditackle oleh narasi, not to mention gabungan cerita asli dengan bagian-bagian lokal, memang Sweet 20 terasa seperti gabungan momen-momen lucu yang tidak pernah benar-benar terflesh out. Misalnya, ketika Mieke latihan band pertama kali dan dia gak setuju ama lagu rock, ngusulin pake lagu “Hey Hey Siapa Dia”, kita tidak diperlihatkan gimana lagu ini bisa diapprove oleh anggota band – ultimately changing the genre of the band. Atau ketika tiba-tiba saja Mieke dan cucunya sudah duduk makan di café, padahal akan lucu kalo diliatin gimana caranya mereka bisa jalan berdua. Film ini juga memutuskan untuk menggeber kelucuan dari dua nenek yang sirik-sirikan ketimbang mengeksplorasi momen-momen kecil seperti adegan di pasar soal komentar tentang bayi dan ibu modern; menjadikan film ini terlalu ringan. Dan to be honest, aku enggak bisa peduli betul sama tokohnya. Aku gak mengerti keinginan dan kebutuhan Fatma sebagai tokoh utama. Karena film tidak menceritakannya dengan clear, due to banyaknya kejadian. At one point Fatma mengejar cinta, point berikutnya dia ingin memenangkan kontes band.

Nona Nyonya

 

Film tidak pernah fokus untuk membahas relationship antara Fatma Muda dengan keluarga dan orang terdekatnya, meski mereka terus bertemu. Ini bukan cerita Fatma yang berusaha untuk diterima oleh keluarganya, ini juga bukan cerita tentang Fatma yang ingin mandiri – sebab dia enggak pergi jauh, di sekitar keluarganya doang. Aku enggak yakin ini cerita apa. Di akhir cerita, karakter Fatma tidak berubah; dia tetap nenek yang ngurusin orang lain, hanya saja kini keluarga lebih apresiatif kepadanya. Lucunya, malah cucu-cucunya yang menjadi pribadi yang berbeda di penghabisan film, padahal mereka tidak benar-benar punya arc, terutama cucu yang cewek.

Fatmawati sebagai tokoh utama terasa pasif karena justru keluarganya lah yang belajar untuk menerima dia. Itupun dipicu oleh peristiwa yang bisa digolongkan ‘kebetulan’, karena datang tanpa penjelasan. Aku gak mau spoiler terlalu terang, tapi menjelang akhir itu, ada tokoh yang terlambat entah karena apa, dia lantas kecelakaan dan butuh transfusi darah yang hanya dipunya oleh Fatma. Redemption Fatma datang dari konfliknya di mana dia sekali lagi harus memilih untuk ngorbanin masa mudanya demi orang lain, I get that, tapi semua itu terasa effortless. Coba deh, bandingkan dengan perjalanan tokoh Peter Parker di Spiderman: Homecoming (2017) yang kerasa banget up-downnya.

Setiap film, mau action, komedi, romance, punya naskah yang tersusun atas babak-babak cerita. Setiap babak ada sekuens yang merupakan naik-turunnya perjalanan karakter utama, dan menjelang akhir babak kedua seharusnya adalah sekuens down di mana tokoh utama kehilangan semua dan harus berjuang sebagai diri sendiri. Dalam film romantis, biasanya ini adalah ketika tokoh utama berantem trus putus dengan pacarnya. Dalam cerita undercover, biasanya ini ketika penyamaran tokoh utama terbongkar dan dia dianggap pembohong oleh semua orang. Dalam Homecoming, kita lihat Peter dirampas dari kostumnya, dia belajar menjadi pahlawan sebagai dirinya sendiri. Tidak ada sekuens ini di dalam narasi Sweet 20. Kita tidak melihat Fatma ‘berjuang’ sebagai nenek, makanya tadi aku bilang effortless. Dia diterima begitu saja, bahkan orang-orang enggak ada yang mempermasalahkan kenapa dia yang tua bisa jadi dua-puluh tahun lagi.

 

 

Punya bumbu komedi yang semakin cerah oleh warna-warna lokal, membuat film ini enak dan relatable untuk ditonton. Musiknya oke, pemainnya pun kece. Premis ceritanya yang unik diturunkan kepentingannya oleh fakta bahwa ini adalah cerita adaptasi dari film lain. Dan semakin terbebani lagi oleh elemen-elemen cerita yang masuknya dijejelin, tanpa pernah terflesh out dengan baik. Indeed, film ini terasa kayak ringkasan dari film yang lebih panjang. Alih-alih fokus ke pengembangan relationship ke tokoh-tokoh, film ini hanya menunjukkan momen-momen di mana candaan bisa ditampilkan tanpa ada pijakan yang kuat. Tapi walaupun ini kayak kita nulis resume, tetap aja film terasa going on forever. How’s that possible, you asked? Coba tanyak sendiri ke Nenek Fatmawati kalo berani.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for SWEET 20.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

Advertisements