Tags

, , , , , , , , , , ,

“It’s hard to wake up from a nightmare if you are not even asleep”

 

 

Apa sih yang datang malem-malem? Dingin? Debt collector? Diare? Sundel bolong yang jajan sate terus minta nambah soto? Kuntilanak yang bernyanyi “malam-malam aku sendiri tanpa cintamu lagi”? Kenangan mantan? Apapun itu, semuanya adalah bahan buat mimpi buruk. Yang membuat kita mengunci pintu dan jendela, memastikan enggak ada sesuatu yang nongkrong di bawah tempat tidur. Itulah metafora yang direferensikan oleh judul dari film yang posternya keren banget ini.

Mimpi buruk datang di malam hari. Dan ketakutan, dan dalam beberapa tingkat ketegangan dan paranoia terhadapnya akan membuat kita terjaga.

 

Ketika malam tiba, anjing milik keluarga Paul (Joel Edgerton begitu real sehingga menonton performa emosional dirinya akan turut bikin kita sesak) akan menyalak, mereka pun enggak akan keluar rumah. Paling enggak, tanpa mengenakan topeng gas dan membawa senjata api. Semacam virus sudah menjangkiti penduduk kota, mengakibatkan Paul beserta istri dan putranya, Travis yang beranjak 17 tahun (Kelvin Harrison Jr memegang peran penting dalam cerita yang emotionally horror banget) kudu mengarantina diri mereka sendiri. Mengubah rumah mereka menjadi semacam shelter perlindungan. Mereka tidak bisa membiarkan satu makhlukpun masuk sebab mereka tak ingin lagi menghabisi anggota keluarga sendiri, seperti yang mereka lakukan terhadap Kakek di menit-menit awal cerita. Suatu malam, Will (satu lagi penampilan luar biasa dari Christopher Abbott) mencoba menyelinap masuk demi mencari makanan dan air untuk keluarganya sendiri. Dua keluarga ini come in terms untuk tinggal bareng, ada kesepakatan dan perjanjian segala macem, namun tentu saja, isolasi tersebut semakin terasa. Dan horor lantas melanda.

Semua hal tersebut kita ketahui bukan dari adegan-adegan eksposisi, melainkan dari shot-shot cantik-tapi menegangkan buah tangan Trey Edward Shults. Sutradara ini tidak pernah menjelaskan apapun kepada kita. Tidak ada jawaban, kita tidak akan diberi tahu apa yang membuat anjing mereka lari, apa yang melukainya, kenapa anak kecil itu tidur di lantai, apa yang sebenarnya terjadi. Tidak ada pendiktean. Cerita singkat yang aku tuliskan tadi adalah murni deduksi sendiri dari apa yang informasi yang diperlihatkan oleh film. Kita mungkin bisa akur pada beberapa poin cerita, akan tetapi untuk sebagian besar apa yang terjadi di dalam kepala karakternya totally dibiarkan ambigu. Kita enggak tahu siapa yang bisa dipercaya. KERAGUAN, KETAKUTAN, KEHILANGANPIKIRAN NEGATIF MANUSIALAH YANG MENJADI TOKOH ANTAGONIS dalam film ini. Makanya, film ini bisa misleading buat penonton yang mengharapkan bakal melihat setan.

“Mas, setannya ada?”

 

MIMPI BURUK ADALAH TEMA yang jadi elemen utama cerita. Kita tahu seseorang sangat passionate dengan projeknya jika mereka benar-benar memikirkan detil dan punya gaya sendiri. Itulah yang dilakukan oleh Edward Shults terhadap film ini. Untuk menyampaikan ketakutan dan paranoia para tokoh kepada kita, Shults tidak menyediakan jawaban pada narasi. Untuk menyampaikan tema mimpi buruk, Shults menggunakan banyak adegan mimpi serta treatment yang berbeda terhadap adegan-adegannya. Ia memanfaatkan long shot supaya kita penasaran dan bergidik ngeri ketika ada tokoh yang berjalan menyusuri rumah pada malam hari. Penerangan dibuat sangat minim, baik itu dari lampu semprong ataupun senter, sehingga meskipun tidak ada apa-apa di background, kita akan membayangkan yang bukan-bukan sedang berjongkok di salah satu sudut gelap itu. Namun, penggunaan banyak adegan mimpi, meskipun aku mengerti akan kebutuhan penceritaan, tetap saja membuatku sedikit dilema ketika disuruh menilai film ini.

Dalam film horor, langkah paling gampang adalah menyusupkan adegan mimpi untuk memancing adegan seram. It’s a cheap way, pengandaiannya sama dengan kalo ada penyanyi lagi manggung di suatu kota, tapi dia dicuekin, maka dia tinggal bilang “Selamat malam, Banduungg (atau nama kota tempat manggung)” dan penonton niscaya sorak sorai. Kalo kau ingin masukin adegan seram yang gak make sense ataupun gak nyambung, masukin aja sebagai adegan mimpi. Sebaliknyapun, saat kita menonton horor, sungguh sebuah hal yang annoying jika sudah terinvest sama satu adegan seram, eh tau-tau adegan selanjutnya adalah si tokoh terbangun dengan keringetan. Dalam It Comes at Night ada sekitar empat atau lima kali adegan mimpi. In fact, semua adegan mengerikan yang ‘mengecoh’ kita ada dalam konteks mimpinya si Travis. Untuk mencegah penonton ngamuk, dan supaya bikin filmnya gaya, Shults menggunakan treatment khusus. Setiap adegan mimpi diberikan ratio aspek gambar yang berbeda dengan adegan di dunia nyata. Bahasa gampangnya sih; pada adegan mimpi, layar tampak lebih sempit, perhatikan deh batas atas dan bawah layar. Nah itulah akibatnya, aku jadi sering terlepas dari cerita karena sibuk memperhatikan aspek ratio tersebut, mana yang mimpi mana yang bukan.

Pada babak ketiga, Shults memasukkan twist kepada treatment mimpi buruk ini. Ratio gambar dibuat sama dengan ketika adegan mimpi buruk sampai ke kredit penutu bergulir, namun baik Travis maupun yang lain tidak ada yang sedang tidur. Treatment ini menyampaikan pesan bahwa mimpi buruk Travis selama ini sudah menjadi kenyataan baginya. Pilihan mengerikan yang dibuat oleh ayahnya adalah pengingat yang nyelekit banget bahwa terkadang realita tidak kalah menyeramkan, malahan acapkali lebih disturbing, daripada mimpi buruk seribu bulan.

 

 

Pilihan-pilihan yang dilakukan oleh Shults untuk film ini semuanya dapat kita pahami kepentingannya. Bahkan di babak ketiga, kamera pun dipindah menjadi handheld, dan ini dilakukan supaya situasi horor yang terlepas dapat terhantarkan kepada penonton. Hanya saja teknik-teknik dan treatment ini keluar terlalu kuat, ia menutupi kebrilian penampilan akting. Dan tidak beanr-benar diimbangi dengan plot yang sama kuatnya. Padahal apa yang menimpa keluarga Paul, konflik emosi setiap karakternya sungguh nyata. Pertama kita paham betul ketakutan Paul – begitu juga dengan Will – jika  keluarganya sampai terancam bahaya. Paranoia tersebut mengubah manusia menjadi brutal. Membuat orang-orang saling menyerang, demi kepentingan keluarga mereka. Ya, seperti kata quote di tumblr soal gimana kalo lagi ngumpul dan tertawa bareng, kita akan otomatis melihat ke arah orang yang paling kita cintai di dalam kelompok tersebut; saat dalam keadaan takut dan chaos, kita akan menumpukan sandaran kepada keluarga. Hanya keluargalah yang paling dapat kita percaya.

Karena kata Max Black; keluarga hanya menginginkan duitmu, bukan darahmu.

 

Di tengah-tengah isolasi dan bimbang kepercayaan tersebut, ada Travis. Tentu bukan asal sebut saja ketika film memperkenalkan tokoh ini sebagai anak remaja. Travislah yang paling restless. Dia gak bisa tidur. Dia yang selalu galau di malam hari. Emosi yang ada di dalam tokoh ini begitu bentrok. Kalian paham dong pastinya, remaja umur segitu mulai meragukan orangtua – apakah ayahnya melakukan hal yang benar,  mulai takut kehilangan apa yang ia cintai, dan tentu saja mulai naksir cewek. Semua hal manusiawi tersebut menambah level keteganganm, diolah dengan begitu perhatian ke dalam narasi, sehingga kita dapat satu tokoh yang benar-benar kerasa konflik internalnya dan di luar semua itu, dia masih harus mengkhawatirkan virus yang bisa saja menularinya. Jadi kita mengerti dari mana mimpi-mimpi buruk terus menghantui dirinya.

 

 

 

Jika ada sesuatu di luar sana, maka kita tidak akan pernah mengetahuinya. Sebab, horor film ini justru bekerja berlawanan dari yang kita duga. Isolasi tersebut tidak banyak berpengaruh karena ketakutan datang dari dalam diri. Hidup kita rapuh, kita begitu gampang takut, dan ultimately paranoia akan menelan moral bulat-bulat. Ini adalah cerita yang sungguh devastating dan diolah dengan penuh kecakapan. Film ini menggunakan misteri sebagai sarana untuk menghormati kecerdasan penonton. Hanya saja aku bisa mengerti bahwa, sepertinya halnya The Babadook (2014) ataupun The Witch (2016), akan ada banyak orang yang kecele sama horor ini. Tidak ada sosok hantu, semua yang seram-seramnya hanya mimpi, tidak ada jawaban yang disediakan meski memang ceritanya emosional dan thought-provoking.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for IT COMES AT NIGHT.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

Advertisements