Tags

, , , , , , , , , , , ,

“You can’t prove God exists and you can’t prove God doesn’t exist.”

 

 

Kita hidup di era informasi di mana sumber berita yang paling tak-terpercaya di dunia adalah media. It’s pretty ironic sebab media gemar ngomporin hoax dan tahayul-tahayul justru karena kita sendiri selalu napsu sama yang namanya misteri yang belum-terselesaikan. Dan dalam pertumbuhan mengecam banyak misteri-misteri tersebut, tak sedikit yang berubah menjadi skeptis. Karena memang lebih mudah tidak mempercayai apapun ketimbang mempercayai hal yang tidak bisa dibuktikan langsung. Manusia adalah makhluk visual, kita percaya dengan melihat. Namun ketika dihadapkan dengan agama, di sinilah permasalahan tersebut menjadi menarik. Keberadaan Tuhan sama tidak bisa dibuktikannya dengan Ketidakberadaan Tuhan. Dan memperdebatkan itu hanya membuktikan keterbatasan indera dan persepsi kita.

Pesan terpenting yang bisa kita petik dari film Gerbang Neraka adalah bahwa kepercayaan, entah mau skeptis ataupun klenik, sesungguhnya adalah pilihan kita dalam menyingkapi pertanyaan-pertanyaan atas misteri yang tak-bisa kita selesaikan, atau dalam kata lain; atas misteri kehidupan.  

 

The important thing is that Badurah believes in himself and so can you.

 

Dibintangi oleh Reza Rahadian, Julie Estelle, dan Dwi Sasono di antara pemain-pemain lain, Gerbang Neraka mencoba untuk berkembang menjadi lebih dari sekedar misteri petualangan horor yang melibatkan setan kuno pencabut nyawa manusia. Ada lapisan dalam cerita. Ada perbincangan soal SKEPTIK MELAWAN KLENIK, juga soal idealisme melawan rasionalisme yang menambah bobot keseluruhan film. Mitologi fiksi terbangun steady di balik kejadian seputar penemuan situs Gunung Padang yang sempat menggoncang scene geologi dan arkeologi dunia beberapa tahun yang lalu. Gerbang Neraka cukup banyak mengeksploitasi fakta terkait Gunung Padang, memberikan penonton pandangan tentang how big of a deal situs tersebut.

Build up dan set up adalah fondasi yang membuat film ini kokoh. Sehingga terbukti ketika semakin mendekati akhir, film semakin tidak meyakinkan, kita masih tetap duduk di sana. Kita berhasil dibuat penasaran pada apa yang ada di dalam piramida terbesar itu. Kita berhasil dibuat peduli pada nasib tokoh-tokoh, atau paling enggak kita ingin melihat mereka isdet dengan cara yang bagaimana. Personally, menjelang ending adalah bagian yang paling malesin buatku, it’s kinda bogged down, tapi aku suka ngeliat adegan Reza Rahadian dan Lukman Sardi ngobrol tentang Tuhan dan setan. Mereka-mereka ini adalah salah dua dari storyteller terbaik yang dimiliki oleh sinema Indonesia hari ini. Sehingga meskipun di paruh kedua film ini agak seret, adegan Reza dan Lukman bisa menjadi pelipur lara yang worthy banget untuk disaksikan.

Penemuan Piramid yang selama ini disangka gunung biasa oleh orang-orang sontak bikin heboh, bukan hanya Indonesia, melainkan juga seluruh dunia. Apa yang ada di dalam sana, siapa yang membuatnya, mengapa dia didirikan di antara lima gunung beneran. Arni Kumalasari (Julie Estelle adalah arkeolog paling bening sedunia) terang saja bangga menjadi bagian dari tim ekskavasi bersama profesor sekampusnya. Melihat potensi berita perpaduan mistis dan sains yang bisa ngasilin duit banyak, wartawan majalah Ghoib Tomo Gunadi (kadang Reza Rahadian akting skeptisnya terlalu kuat sehingga dia malah tampak unmotivated) berangkat ke site untuk ngeliput langsung. Di TKP dia bertemu dengan seorang dukun bintang televisi bernama Guntur Samudra (oke tidak lagi langsung  “Mas Adi!”, buatku Dwi Sasono di sini mirip superstar NXT Andrade Cien Almas). Tadinya, Tomo dan Guntur ditolak lantaran ‘yang gak ilmiah gak boleh masuk’. Tapi kemudian semakin banyak arkeolog yang ditemukan meninggal secara misterius, dengan kondisi yang mengenaskan. Arni, Tomo, dan Guntur akhirnya bergabung, menyatukan kepandaian masing-masing untuk membuka pintu masuk ke dalam piramid, sekaligus mengunci gerbang yang udah melepaskan Badurah dan petaka-petaka mengerikan lainnya ke dunia.

Nama arkeologku di lapangan serem kayak gitu pastilah Ari Kumalalari

 

Semua orang butuh untuk cari makan. Tapi kalo cari makan, ya cari makan, jangan berdalih dan mengatakan terpaksa. Kita tidak punya hak untuk berpura sebagai korban ketika kita sudah melakukan sesuatu, memilih sendiri untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan  idealisme sendiri. We can’t have both and be a hero, sebab hidup adalah pilihan.

 

Tomo mengerti akan hal tersebut. Dan itulah yang menyebabkan karakter ini menarik. Tomo adalah wartawan yang sudah membuang idealismenya keluar jendela, demi menyediakan nasi untuk keluarganya. Untuk anaknya. Dia enggak punya masalah untuk nulis tentang hal-hal ganjil yang belum terbukti keabsahannya. Namun kita bisa melihat Tomo masih malu untuk mengakui dia kerja di majalah seperti itu. Masalah idealisme ini masih keliatan bentrok dan menjadi running konflik yang terus dibahas oleh cerita. In a way, Tomo adalah katalis dari Arni yang ‘orang sains’ dengan Guntur yang ambasador dari hal-hal gaib. Hubungan antara Tomo dan Guntur mestinya bisa dibuat lebih baik lagi karena sangat menarik melihat dua pola pikir dan kepercayaan itu dibenturkan.

Film punya rancangan yang kompleks, tapi penulisan mulai menunjukkan titik lemah. Naskah tidak mampu mengconvey semua dengan baik dan rapi. Ada banyak hal yang mestinya bisa diatur dan dibangun dengan lebih baik lagi. Misalnya, Arni yang diceritakan merasa vulnerable menggantikan profesor sebagai pemimpin ekskavasi. Kita tidak melihat rintangan yang ia alami, apa yang membuat dia merasa kurang dari apa yang dikerjakan oleh profesor. Motivasi makhluk jahatnya juga enggak benar-benar terang, memang sih ada kait personalnya dengan tokoh utama kita, si Tomo. Akan tetapi pertanyaan ‘kenapa’ tidak pernah dimunculkan ke permukaan. Kenapa mesti Tomo? Apakah karena dia dipandang lebih lemah lantaran ‘iman’nya somewhere di antara level skeptis Arni dengan level klenik Guntur? Aku juga enggak begitu bisa melihat kenapa Tomo bisa ada di sana, selain karena tuntutan naskah bahwa Tomo adalah salah satu dari ‘triforce’ mitologi Gerbang Neraka.

Maksudku; mereka bertiga bekerja sama. Arni dengan penggalian arkeolognya. Guntur dengan pengetahuan ilmu gaibnya. Tomo dengan….. moto-motoin sekitarnya? Paling enggak mestinya Tomo ikutan ngitemin kuku dengan ngegali atau apa kek. Aku bisa mengerti kenapa Guntur terlibat; karena Arni butuh penjelasan atas misteri kematian teman-temannya, dia butuh seorang yang beneran mengerti kekuatan mistis. Aku enggak melihat alasan kenapa Tomo dilibatkan oleh Arni. Kalo alasannya biar ada liputan, kenapa arkeolog mau liputan ekskavasi mereka ditulis oleh wartawan majalah hoax yang udah ngaku mau duit aja, padahal ada banyak wartawan lain di sana. Penjelasan paling logis yang terpikirkan olehku adalah di samping butuh penjelasan misteri kematian, Arni juga butuh dukungan moral. She wants to still be able to feel better about herself, makanya dia ngajak Tomo yang basically sama-sama skeptis seperti dirinya, namun Tomo sudah membuang idealismenya demi perut. Dengan kehadiran Tomo, Arni bisa merasa dirinya masih lebih baik, walaupun dia pada akhirnya juga minta tolong kepada Guntur yang percaya kepada mistis.

 

Untuk komentar soal efek yang digunakan dalam film; well, dana terbatas, teknologi juga terbatas. Kita paham itu. Akan tetapi, jika kita hanya punya sepuluh menit untuk membuat penonton tertarik, hal logis yang kita lakukan jelas adalah dengan tidak memamerkan keterbatasan yang kita punya.

 

 

Babak set upnya adalah bagian yang terbaik, dan still it could have been better. Aku menemukan keseluruhan film ini tidak konsisten. Penulisan tokoh yang tidak dibarengi oleh keputusan yang masuk akal. Tomo adalah karakter utama yang hebat tapi dia tidak diberikan banyak hal untuk dilakukan, dia tidak benar-benar berguna dalam tim mereka. Build up yang tidak semuanya punya pay off yang memuaskan. Contohnya menit-menit menjelang penampakan Badurah yang dibuat sangat subtil – mereka menggunakan lalat sebagai penanda – hanya untuk dimurahkan dengan jumpscare yang membuat kita terlepas dari intensitas cerita. Eksposisi yang enggak mash up dengan baik sehingga beberapa tone film menjadi awkward, seperti ketika dialog tentang kujang (alat ritual) yang langsung dipotong dengan seseorang yang minta diri pulang. Efek-efek yang enggak semuanya meyakinkan; ketika ada yang mati keren banget, namun porsi aksi terlihat konyol oleh efek yang gak mulus. Ini adalah horor, action, mystery, adventure, yang enggak pernah benar-benar memenuhi tuntunan genrenya; semuanya terasa setengah-setengah. Film ini mengeksploitasi banyak sebagai landasan, akan tetapi proses eksplorasi yang mereka lakukan tidak pernah berbuah menjadi tontonan yang truly menyenangkan.
The Palace of Wisdom gives 6 gold stars out of 10 for GERBANG NERAKA.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

 

Advertisements