Tags

, , , , , , , , , , ,

“Without continuity, men would become like flies in summer”

 

 

FILM INI ENGGAK LURUS. Kalian tahu, sebuah film ditulis dengan mengacu kepada struktur penceritaan. Ada kaidah-kaidah dalam merangkai poin cerita. Ketika seseorang menulis naskah, maka traditionally, dia kudu ngikutin peraturan. Sepuluh menit pertama film harus bisa melandaskan apa motivasi tokoh utamanya, harus ada pengenalan antagonis, kemudian meit-menit berikutnya disambung dengan kejadian yang harus diatasi oleh tokoh utama – ada ‘inciting incident’ yang menjadi awal rintangan yang dialami oleh perjalanan tokoh utama. Call Me by Your Name tidak pernah straight ngikut aturan nulis screenplay itu. Ceritanya dengan sengaja ngelantur ke mana-mana. Terkadang terasa film ini bercerita dengan sangat malas. Tokoh-tokohnya berkeliaran gitu aja di sepanjang musim panas itu. Aku adalah orang yang bisa dibilang konservatif, aku suka jika semua runut sesuai format karena mengapa mengubah sesuatu yang tak rusak. Meskipun begitu, aku enggak necessarily menentang pembaharuan. Terutama jika hal-hal baru tersebut beralasan.

Pada film ini, semua pilihan menyimpang yang diambil – yang dilakukan – regarding to the storytelling, mereka tahu persis apa yang mereka lakukan. Film ini bahkan bukan sebuah perjalanan, ini adalah sebuah discovery. Dan film ini sangat romantis dalam melakukannya.

 

Elio disuruh mengantar Oliver ke kamar tamu yang bersebelahan dengan kamar tidurnya. Itu artinya Elio harus berbagi kamar mandi dengan pria Amerika asing tersebut. Oliver datang ke Itali sebagai asisten penelitian, dia bekerja di bawah ayah Elio, musim panas itu dia ditugasin buat bantu-bantu. Elio yang mendadak jadi kebagian tugas ‘memandu tamu’ menjadi dekat dengan Oliver. Mereka naik sepeda mengunjungi berbagai tempat. Oliver ketemu banyak orang. Elio pun mengamati, semua orang – kerabat, keluarga, sahabat – suka dengan pribadi Oliver. Semakin dekat dan akrabnya hubungan mereka, Elio merasakan sesuatu pada dirinya yang tak pernah ia tahu.

kemudian dia juga sadar, di rumahnya banyak lalat

 

 

Selagi kita melihat tokoh-tokoh itu mengeksplorasi banyak hal tentang hubungan mereka, film ini menjelma menjadi sesuatu yang terasa amat nyata. Timothee Chalamet dan Armie Hammer punya chemistry yang menggelora sebagai Elio dan Oliver. Arahan sutradara Luca Guadagnino membawa yang terbaik dari penampilan mereka. Adegan terakhir – tujuh menit shot kamera ke wajah Elio – benar-benar bercerita banyak, sebuah adegan yang tak bisa tercapai jika ditangani dan dimainkan dengan ngasal.

Menelaah kembali film ini, setiap momen random, Eliot hanya duduk di pinggir kolam menulis musik, mereka bercengkerama di pesta, mereka ngobrol di meja makan sarapan telur, perasaan lingkungan sekitar film ini kerasa seolah kita berada di sana. Menonton mereka enggak kayak menonton film, tokoh-tokoh ini begitu bebas – mereka tidak bergerak sesuai struktur – lokasinya gerah, dan semua itu tertangkap dengan sangat baik. Saat mereka duduk di kafe pinggir jalan, misalnya. sense of realism menguar kuat sebab film menggunakan desain suara yang apa adanya, Ellio harus membesarkan suaranya karena ada mobil yang lewat, dan suara mobil itu pun enggak dihilangkan, penonton dibiarkan mendengar seolah kita ikut duduk di dekat Ellio dan Oliver.

Cerita film ini tidak membuka seperti pada film kebanyakan. Malahan, film ini bisa menjadi membosankan oleh sebab pace cerita yang sengaja banget dilambat-lambatin. Kita melihat aktivitas mereka setiap hari, kadang mereka Cuma duduk saja melihat pemandangan, kemudian mereka berenang tanpa alasan, adegan-adegan itu tampak hadir begitu saja. Beberapa dari adegan tersebut tampak memiliki makna dan ada juga beberapa yang tampak pretentious, yang kita sama sekali gak bisa menebak ni sutradara ngeliatin visual doang apa gimana. Call Me by Your Name banyak memperlihatkan adegan yang gak perlu kita lihat, akan tetapi dalam konteks film ini tidak ada satu adegan yang less important dibanding adegan yang lain. Film ini ingin memperlihatkan apa yang para tokoh lakukan di jendela timeline cerita, dan memang itulah yang kita lihat. Para karakter tidak diberikan arc yang jelas, malahan kita tidak pernah benar-benar diberitahu siapa mereka pada awalnya. Khususnya si Oliver, film hanya memberikan informasi sebatas yang kita perlu tahu, dan betapa menurutku akan lebih baik jika kita diberikan sedikit lebih banyak backstory sehingga kita bisa lebih terattach kepada mereka, film tetap membuat mereka berjarak. Emosi itu sedikit demi sedikit terbangun, dan di babak ketiga, dampak kejadian-kejadian tersebut akan menyergap kita. Karena sesungguhnya ini adalah cerita yang kompleks, terutama karena film juga tidak memberikan jawaban yang mudah kepada karakter-karakternya taas situasi yang mereka rasakan.

Jadi pada akhirnya apa yang tadinya jauh dan terlihat menyebalkan, dengan pacing lambat, karakter yang asing, lokasi yang indah tapi panas, film ini berubah menjadi sesuatu yang susah untuk kita abaikan. Seperti lalat yang berdengung di telinga. Film ini akan berseliweran di kepala kita.

serius deh, “banyak lalat di kotamuuhuu, gara-gara ka-mu~”

 

Dengan arahan yang sangat detil, dengan dialog-dialog yang dirangkai precise sehingga membuat kita tertarik untuk terus mengikuti, sungguh aneh kenapa kita melihat banyak lalat di dalam nyaris setiap frame. Ada lalat di mana-mana. Di buku catatan Elio. Di pinggir kolam. Di piano.  Mungkin lokasi syuting mereka benar-benar tempat yang penuh lalat, dan mereka gak mau jatoh konyol dengan menghapusnya dengan CGI. Tadinya aku berpikir begitu. Bahwa lalat itu cuma kebetulan, atau malah hanya hiasan untuk menambah kesan nyata; film ini begitu nyatanya sehingga para penonton seolah seperti lalat yang ada di sana menyaksikan langsung segala peristiwa. Namun kemudian di adegan ending yang tujuh menit close up wajah Elio itu, kehadiran lalat di sini sangat on-point. Jadi, aku berpikir, pastilah ini si sutradara sengaja! Agak bego sih ngomongin lalat, tapi sepertinya film ini menggunakan METAFORA LALAT dalam membungkus ceritanya. Bahwa lalat datang dan pergi, seperti musim panas buat Elio dan Oliver. Kurun kecil namun berarti besar bagi mereka, di mana mereka menemukan sesuatu di dalam diri mereka. Waktu tersebut, apa yang mereka punya di momen itu, berakhir just like that.

Pemenang Best Picture Oscar tahun 2017, Moonlight, punya tema yang sama dengan Call Me by Your Name. Tentang anak muda yang ga yakin sama hal yang ia temukan ada pada dirinya, tentang lifestyle yang berkonflik dengan keadaan sekitarnya. Elio diceritakan punya pacar, seorang gadis yang sudah jadi teman baiknya sejak kecil, dan kita lihat bagaimana Elio actually ‘membandingkan’ antara cewek ini dengan Oliver. Ada konflik di sini atas apa yang ia rasakan dengan sekitarnya, namun tidak seperti pada Moonlight, tokoh-tokoh Call Me by Your Name tidak mendapat konfrontasi. Mereka tidak punya banyak hal untuk dkhawatirkan. Kesulitan yang sekiranya timbul dari pilihan hidup mereka tidak terasa kuat. Menurutku, film ini perlu suntikan drama sedikit lagi. Mestinya ada lebih banyak rintangan di luar kurun waktu kejadian dan situasi yang memisahkan mereka.

 

 

 

Jika cukup open-minded, kita akan bisa menghargai pilihan yang diambil oleh penceritaan sebagai sebuah film. Karena ia memang sengaja dibuat enggak lurus. Dan aku bahkan belum ngomongin orientasi tokohnya. Namun yang pelru diingat adalah lewat pengarahan dan penampilan akting yang benar-benar baik, film ini tidak meminta respek tersebut. Real, dikonstruksi dengan indah, film ini hanya memperlihatkan sesuatu aspek yang tidak lagi bisa kita abaikan.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for CALL ME BY YOUR NAME.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

Advertisements