Tags

, , , , , , , , , , , ,

“Compartmentalization is the enemy of being human.”

 

 

Rumah dan Musim Hujan sebetulnya sudah lebih dulu tayang di festival-festival film pada tahun 2012. Ketika muncul beneran di bioskop tahun 2018 ini, ia berganti nama menjadi Hoax. Aku enggak tahu apa mereka melakukan reshoot atau diedit ulang atau semacamnya, ataukah film ini hanya berganti nama saja, namun buatku keputusan ini cukup aneh. Judul yang lama terdengar lebih misterius dibandingkan dengan Hoax yang terdengar begitu in-the-face, memaksa, sehingga appealingnya menjadi berkurang.

Naturally, kita biasanya akan menghindari berita-berita hoax. Semenarik apapun judulnya terbaca, berita tersebut tetaplah palsu. Akan tetapi, ketika aku bilang Hoax yang satu ini perlu dialami untuk penonton-penonton yang suka keanehan, maka kalian semua HARUS PERCAYA.

“Udah tau Hoax, kenapa masih ditonton?”

 

Adegan pembuka dengan efektif melandaskan mood cerita beserta hubungan antartokohnya. Di luar hujan deras. Kita melihat empat orang anak muda bernyanyi riang di meja makan, Bapak (Lando Simatupang jadi kepala keluarga yang entah sudah pelupa atau memang sengaja)lah yang memimpin permainan kecil-kecilan mereka. Jamuan buka puasa malam itu tampak spesial; karena si sulung Raga (kebagian jatah komedi, Tora Sudiro secara excellent menjadi enggak lucu) datang memperkenalkan pacar barunya. Semua tampak menyambut. Semua tampak ramah. Sedikit tensi yang kita lihat ada di antara Ragil (Vino G. Bastian tampak punya sesuatu yang dipendam) yang mencegah dengan pandangannya Ade (tampak paling insecure di sini adalah tokoh Tara Basro) yang pengen ngerokok di meja makan. Ini adalah pemandangan hangat yang diidamkan setiap keluarga. Sukma (tokoh Aulia Sarah memang diniatkan sedikit annoying) terang saja seketika merasa diterima, sampai-sampai dia enggak sadar nyanyian falesnya sudah membubarkan formasi mereka.

Kalian tahu, Ibuku paling males ngejadiin rumah sebagai tempat kumpul keluarga karena beliau enggak mau kami merasa kesepian saat tamu-tamu pada pulang nanti. Meskipun toh bakal ketemu lagi, tapi tetep aja perasaan ditinggalkan, actually merasakan dering keheningan setelah rumah yang lima menit lalu masih ramai, adalah sebuah perasaan yang bisa bikin depresi. Film Hoax tidak akan membiarkan kita ditinggalkan oleh para tokohnya. Kita tidak akan seperti meja makan dan furnitur sepi pada gambar-gambar diam itu.  Sutradara Ifa Isfansyah akan membawa kita mengikuti tiga bersaudara yang ‘berpencar’ setelah makan. Menguntiti mereka menerobos hujan menuju ke rumah masing-masing. Saat membeli tiket bioskop, kita berniat menonton satu film. Akan tetapi, dengan menonton Hoax, kita akan mendapatkan dua cerita ekstra, karena film ini juga BERLAGAK SEPERTI OMNIBUS; BERISI CERITA-CERITA DENGAN GENRE BERBEDA, yang disusun saling berseling membentuk gambar besar. Tentu saja, masih terikat dalam satu benang merah. Di mana editing film bekerja dengan sangat tepat membuat setiap cerita bergerak naik dengan paralel.

Yang dengan baik tergambarkan, terfasilitasi, oleh penceritaan dengan pengotakan tokoh seperti ini adalah bagaimana kita mengira keluarga yang mandiri terbentuk oleh terpisahnya setiap anggota secara emosional, tanpa perlu mencampuri urusan yang lainnya. Tiga tokoh sentral pada film ini, masing-masing mereka dihadapkan kepada konflik yang bervariasi – antara bahaya dan amat personal, tapi mereka tidak pernah meminta bantuan. Malahan ketika kita melihat mereka berkumpul kembali di meja makan itu, mereka berbohong, seolah tidak ada kejadian apa-apa. Jadi, untuk menjawab pertanyaan yang diajukan film di momen penutup itu; ya kita semua yang berbohong, karena kita ingin menunjukkan kekuatan. Namun sebenarnya itu justru tanda kelemahan sebagai manusia..

 

Setiap kali ada orang yang meminta kita untuk percaya kepadanya, maka orang tersebut patut kita curigai. Karena pemandangan demikianlah yang kita lihat terhampar pada film ini. Setelah menontonnya aku bisa memahami kenapa mereka kepikiran untuk memakai Hoax sebagai judul; karena cerita benar-benar menekankan kepada para tokoh yang ingin dipercaya oleh tokoh lain. Para tokoh film ini memohon untuk dipercaya. Elemen itu aja sudah cukup menarik bagiku, apalagi ditambah dengan kadang kita mendapat adegan yang aneh datang dari tokoh ingin dipercaya itu. Seperti misalnya ketika Raga menyuruh Sukma menyetir mobil dengan menutup mata, Sukma diminta menyetir dengan mendengarkan arahan sebagai bukti cewek itu percaya kepada Raga.

Eh pada belum ‘mandi’ kok udah sahur lagi aja?

 

Well, bukannya mau niruin MTV Rumah Gue, namun film memang akan membawa kita melihat rumah masing-masing tokoh berseling-selingan. Rumah yang pertama dan terutama sekali adalah rumah tempat adegan meja makan tadi; rumah masa kecil mereka bersama Bapak yang kini ditinggali bersama Ragil. Di dalam rumah ini kita akan melihat dua generasi yang berbeda, yang kontras. Ragil ngechat di komputer, sedangkan si Bapak nontonin kaset video lama. Ragil mengaji di ruang tamu, si Bapak main wayang di ruangan sebelahnya. Sekilas rumah ini tampak damai dengan satu-satunya masalah adalah genteng yang bocor. Namun actually, bobot drama datang paling kuat dari cerita ini. Interaksi realistis antara Bapak dengan Ragil, entah itu ketika Bapak meminta Ragil membuatkan catatan tentang bagaimana melakukan sesuatu seperti menyalakan komputer dan mematikan air atau ketika Bapak menunjukkan keberpihakannya kepada pacar lama Raga atau ketika Bapak menanyakan siapa pacar Ragil, menambah banyak kepada bobot cerita. Dan eventually akan berbuntut kepada kejutan yang menyibak ‘the true identity’ dari Ragil.

Bagian Ragil dengan Bapak ini tak pelak menjadi standar tone, karena it was done so well. Dan makanya, membuat dua rumah lain kadang tidak benar-benar tercampur sempurna dalam konteks tone. Rumah Raga berisikan komedi romansa antara Raga dan Sukma yang melibatkan hal yang tidak mereka inginkan. Raga menyuruh Sukma melakukan hal-hal konyol yang terlalu jauh untuk bisa dianggap serius. Aku suka beberapa aspek pada cerita bagian mereka, malah aku merasa terwakili oleh Raga yang suka baca majalah wanita – aku pembaca setia Gadis. Menurutku, bagian ini memang diniatkan sebagai aspek yang paling light-hearted karena bagian Raga ini juga adalah yang paling sering berfungsi sebagai pemberi eksposisi. Landasan universe cerita film ini terjelaskan lewat obrolan Raga dengan Sukma, jadi mereka memang perlu dibuat semenyenangkan mungkin biar gak bosen dan obvious banget ngasih petunjuk. Namun ketika muncul satu tokoh dari masalalu Raga, cerita  menjadi sedikit terlalu far-fetched.

Rumah yang menjadi favorit banyak orang pastilah rumahnya si Ade. Alih-alih rumah penuh kesederhanaan, ataupun rumah mentereng, kita dapat rumah yang gak jelas kecil atau gedenya karena lagi mati lampu. Ade tinggal dengan mama kandung mereka. Tone pada bagian ini, however, juga berentang terlalu luas, tapi aku yakin itu enggak menghentikan kita untuk merasuki setiap kengerian dan kepiluan yang dirasakan oleh Ade. Satu kejadian tragis dialami Ade dalam perjalanan pulang, dan ini seketika mengguncang psikologisnya. Minimnya cahaya dijadikan film sebagai penunjang untuk menceritakan psikologikal horor yang menjadi warna bagian ini. Aku gak mau bilang banyak, untuk bayangan saja, kejadian Ade bersama si mama mirip-mirip ama cerita horor di creepy pasta (Jajang C. Noer piawai juga mainkan peran yang mendua). Dengan bijak cerita mengaburkan apa yang sebenarnya terjadi, kita tidak pernah tahu pasti apakah yang dialami Ade di rumah itu benar-benar seperti kepercayaan si Bapak (film mengangkat mitos manusia punya saudara gaib dari kandungan sebagai lapisan horor), atau hanya karena kondisi jiwa Ade yang terganggu. Bahkan film enggak sepenuhnya terang mengenai apakah si Ibu benar-benar masih hidup sedari awal – bukan khayalan Ade. Satu lagi, mungkin aku salah, tapi ngeliat dari posisi kamar mandinya, rumah Raga dan rumah Ade kayaknya adalah satu rumah yang sama.

 

 

 

Adalah sebuah gaya bercerita yang unik yang dilakukan oleh Ifansyah untuk menyampaikan apapun pesan yang ingin ia sampaikan tentang keluarga dan kejujuran. Bagaimana setiap anggota punya pandangan dan tantangan berbeda. Film juga menggunakan agama sebagai lapisan untuk menambah bobot ke poin yang ingin disampaikan. Tapi kalo diibaratkan pendulum, film ini terlalu sering dan terlalu cepat berayun dari realita ke bagian surealis, membuat film tidak pernah bertahan terlalu lama di ranah terkuatnya. Kadang kita ingin cerita cepat berganti karena ada kelanjutan dari cerita rumah lain yang pengen kita lihat. Pengalaman aneh yang menyenangkan, actually, menonton ini. Jika ada satu hal yang kita percaya dari film ini, maka itu adalah kita harus membuktikan sendiri dahulu segala hal yang kita temui, karena everything seringkali tidak seperti kelihatannya.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for HOAX.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got the PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

Advertisements