Tags

, , , , , , , , , , ,

Stepparents can be awesome because their love is a choice.

 

 

Bersetting di rumah asuhan yang interiornya dihiasi pajangan-pajangan antik, Kuntilanak berhasil mengejutkanku  – atau kita semua yang belum pernah menyaksikan trailernya – lewat tokoh utama ceritanya yang tak disangka-sangka. Anak kecil loh, dalam film horor. Manalagi film Indonesia yang berani melakukan itu, coba.

Dinda (Sandrinna Michelle diberikan kesempatan untuk membuktikan aktor cilik mampu bermain lebih dari sekedar korban yang perlu diselamatkan), tertua dari lima bocah yang diangkat anak oleh Mama Donna sejak setahun yang lalu, masih mengalami kesulitan untuk mengamini mereka semua sebagai sebuah keluarga. Padahal dia pengen banget, dia pengen punya keluarga, dia ingin berterimakasih kepada Donna. Dalam isaknya Dinda meminta maaf karena ia tidak tahu kenapa ia tidak bisa memanggil “Mama” kepada wanita tersebut. Gadis cilik ini pun berjanji bakal menganggap yang lain sebagai saudara. Pembuktian janjinya lantas tertantang saat sebuah cermin kuno dipasang di dalam rumah sebagai kejutan untuk Donna yang harus pergi ke Amerika. Suara aneh terdengar memanggil Dinda dan anak-anak yatim piatu tersebut tatkala malam. Nyanyian Lengsir Wengi berkumandang mengisi kediaman mereka. Yah, tahulah hal-hal serem yang dating sebagai penghantar penampakan kuntilanak mengerikan yang bermaksud untuk membawa mereka semua satu per satu ke dalam cermin.

kuntilanak sikap wewe gombel

 

Kuntilanak bermain dengan jejeran tokoh anak kecil yang asik. Film ini memberi kesempatan kepada tokoh anak-anak tersebut untuk mengambil keputusan sendiri. Ada yang hobi banget baca buku klenik, sehingga sedikit banyak ia mengerti tentang ‘musuh’ yang bakal mereka hadapi. Tingkah polah mereka semua dibuat sangat menggemaskan. Tentu saja, anak yang paling kecil, dapat dengan mudah memancing gelak tawa penonton, lewat kata-katanya yang kelewat dewasa maupun reaksinya yang polos. Film  berusaha mengeksplorasi hantu dari sudut pandang anak-anak. Mereka, layaknya anak kecil biasa, pengen beli mainan tapi gak punya uang. Jadi, mereka ikut sayembara yang diselenggarakan oleh acara horror di tv; motoin penampakan kuntilanak! Mereka berlima beneran pergi menyusur hutan, menuju rumah angker tempat asal cermin jahat yang dipajang di rumah mereka, dalam misi mulia mengambil potret kuntilanak. Mereka melakukan investigasi sendiri, mereka berusaha memanggil si hantu, tingkah mereka yang begitu innocent tak pelak terasa menyegarkan sekaligus juga menimbulkan rasa peduli kita kepada mereka. Kita tidak ingin mereka bernasib naas. We fear for them. Namun seringnya, kekhawatiran dan kecemasan itu berubah menjadi gelak tawa karena mereka begitu polos. “Kalau ketemu Kuntilanak, langsung difoto ya!” Begitu ringannya perintah salah satu anak saat Dinda berpencar, seolah melihat Kuntilanak itu segampang melihat kancil di hutan saja.

Tapinya lagi, segala kepolosan yang jadi lucu jika kita melihatnya dalam sudut pandang anak-anak benar-benar berjalan dalam garis tipis batas kebegoan. Ada satu adegan ketika Ambar, anak yang paling kecil diculik, dan Dinda melawan sang hantu dengan basically bilang, kami keluarga, culik satu culik semua. Ketika tiba saatnya memperlihatkan tokoh dewasa, barulah segala unsur lucu itu hilang dan film berubah menjadi total bego. Cerita memperkenalkan kita pada dua tokoh dewasa selain Donna.

Yang pertama ada Aurelie Moeremans yang berperan sebagai Lydia, yang dimintai tolong oleh Donna untuk menjaga anak-anak selama ia pergi.  Dan Lydia ini adalah baby sitter paling tak kompeten, paling parah dalam perkerjaannya, di seluruh dunia. Sedari awal saja sudah diungkap dia pernah kepergok pacaran oleh anak-anak. Percakapan mereka membuat kita berasumsi Lydia sedang kedapatan berciuman atau sesuatu yang lebih parah. Kebiasaan dia berpacaran ini lantas berlanjut dengan kita melihat adegan Dinda dan anak-anak asuhan literally bikin rencana untuk menggagalkan Lydia pacaran ketika menjaga mereka. Dan ngomong-ngomong soal menjaga, tidak sekalipun kita melihat Lydia melaksanakan tugasnya itu. Dia selalu absen di adegan-adegan untuk pengembangan karakter. Kita hanya melihat anak-anak. Di momen penting, Lydia malah pamit untuk kuliah sampe sore, meninggalkan Dinda cs di rumah sendirian. Membuat semakin parah adalah Lydia tidak pernah tampak peduli sama anak-anak ini. Dia tidak percaya sama cerita mereka tentang penampakan kuntilanak. Suatu plot poin yang sudah usang di dalam genre horror; orang dewasa yang tidak percaya kepada anak-anak. Dan ini membuat tokoh Lydia menjadi salah satu tokoh paling tak berguna yang pernah kutonton.

Tokoh pacar Lydia juga tak kalah tiada bergunanya. Cowok ini bekerja sebagai host acara televisi yang menyelidiki tempat-tempat angker. Dalam suatu episode acaranya lah, dia melihat cermin kuno dan  ia mengetahui tempat itu santer sebagai sarang kuntilanak, namun dengan sengaja membawa benda tersebut ke rumah Donna. Melihat tindakannya itu, aku bahkan tidak yakin tokoh ini tahu satu ditambah satu jawabannya sama dengan dua.

cermin tarsah versi horror

 

Aku mencoba untuk melihat film ini dalam tingkatan yang lebih dalam. Clearly, film ini bicara tentang keluarga, khususnya orangtua. Meskipun mungkin bagi sebagian besar kita keberadaan ibu dan ayah tampak sepele, namun tidak semua orang punya ibu dan ayah. Tokoh-tokoh dalam film ini either yatim, atau piatu, atau bahkan keduanya. Kuntilanak menggambarkan dengan caranya sendiri bagaimana ketiadaan sosok ibu bisa begitu mengguncang keluarga. It’s hard, bagi sang ayah, apalagi buat sang anak.

Bocah-bocah malang korban kuntilanak itu, mereka cuma ingin bersama dengan ibu. Satu hal yang perlu diingat adalah ketika kita mencari pengganti ibu atau orangtua, bukan berarti kita benar-benar menukar posisi mereka. Tak perlu khawatir kita tidak bisa menumbuhkan cinta, karena if anything, cinta yang ada bisa saja tumbuh lebih besar, karena ini adalah cinta yang kita pilih.

 

Aku bukan ahli dunia perhantuan atau apa, aku tidak dalam kapasitas bisa mengatakan film ini kurang riset atau gimana, namun aku merasa sedikit ganjil terhadap mitos kuntilanak yang diceritakan. Kuntilanak adalah jenis hantu yang paling aku takuti, like, kalo lagi mimpi buruk pasti tak jauh dari aku diuber-uber sama kuntilanak yang ketawa ngikik bilang bacaan ayat-ayat kursiku enggak mempan. Serius deh, bahkan mengetik namanya saat nulis ulasan ini aja aku merinding disko sendiri. Jadi, mendengar nama si kunti disebut dengan bebas, berkali-kali oleh anak kecil di film rasanya sedikit lucu, membuatku berjengit sambil geli-geli sendiri. Dan aku tidak pernah tahu, kuntilanak suka menculik anak-anak, film ini pun tidak menjelaskan motivasi di balik si hantu. Kita tidak mendapat gambaran dari cerita latar atau asal-usul cermin dan penghuninya itu. Film tampak mengangkat mitos kuntilanak dari tanah Jawa, lengkap dengan pakaian adat dan lagu Lengisr Wengi, juga ada paku di puncak kepala. Tapi aku tidak merasa penggalian mitos dan motivasi karakter utama benar-benar menyatu dengan klop dan berjalan paralel.

Film tampak seperti membuat aturan main sendiri. Misalnya pada adegan ending, berkaitan dengan hal yang dilakukan oleh Dinda untuk mengalahkan kuntilanak. I was led to believe, tokoh Dinda akan berkembang menjadi anak yang kesulitan mengakui pengganti ibunya ke semacam membuat sosok ibu bagi dirinya sendiri. Yang jika dikaitkan dengan mitos kuntilanak dan pakunya, aku mengira Dinda akan mendapat ibu baru berupa kuntilanak yang sudah ia ‘jinakkan’. Film sayangnya tidak jelas dalam membahas hal ini. Kita melihat cerita ditutup dengan foto keluarga yang di-close up, tapi aku tidak menemukan keanehan pada mama yang ada pada foto tersebut. Pertanyaannya adalah apakah mama di situ adalah mama kuntilanak, atau mama Donna yang sudah kembali dari Amerika. Menurutku film butuh paling enggak satu adegan yang menunjukkan bagaimana nasib mama Donna, sebab setelah kepergiannya, tokoh ini tidak ada pembahasan lagi.

 

 

Ini adalah salah satu dari film horror Indonesia belakangan ini yang tampil lebih baik (walaupun itu bukan exactly sebuah prestasi), dia mengolah tokoh dan elemen dengan cukup detil dan menutup. Selera humor pembuatnya jelas tinggi, juga keberaniannya mengangkat tokoh utama anak kecil dalam sajian horor. I think kekurangan film ini mainly datang dari penceritaan yang sedikit terlalu melebar. Ada banyak bagian yang mestinya dihilangkan saja; seperti bagian mimpi dua kali, ataupun jumpscare yang melibatkan kucing hitam yang sama dua kali. Menurutku cerita ini bisa dibuat lebih ketat dan terarah, misalnya dengan memulainya dari perburuan foto kuntilanak oleh para anak kecil, terus kemudian berkembang menjadi kita mengenal siapa mereka, dan apa yang harus mereka lakukan. Tone ceritanya agak sedikit kurang bercampur, setelah kita melihat adegan berdarah di awal, cerita menjadi penuh efek suara-suara lucu untuk mengangkat nuansa kocak dan kekanakan. Desain hantunya pun tampak terlalu generik, padahal film ini tampak lumayan dari segi artistik. Mestinya mereka bisa menguarkan gaya sendiri, enggak harus bercermin – apalagi di cermin setan – dari gaya film yang sudah-sudah.
The Palace of Wisdom gives 3 out of 10 gold stars for KUNTILANAK.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

Advertisements