Tags

, , , , , , , , , , , ,

“The way to love someone is to lightly run your finger over that person’s soul…”

 

 

 

Bagi remaja yang pendiem seperti Senja, curhat yang nyaman itu kalo enggak sama sepupunya, Anya, yang super rame ya sama buku jurnal. Dia bisa memuaskan uneg-uneg dengan kreatif dan tanpa perlu malu karena buku adalah pendengar yang baik. Dan remaja seperti Senja ini, yang orangtuanya sudah tidak ada, yang mulai bisa naksir ama cowok, memang butuh teman curhat yang aman. Makanya dia sempat sedih ketika buku jurnalnya hilang di bawah pengawasan Anya yang lagi pedekate sama cowok baru keren bernama Bara di sekolah mereka. Gimana Senja bisa marah sebab dia kepalang sayang ama si sepupunya tersebut, apalagi kemudian Anya membelikan Senja laptop. Kini curhatan Senja terasa mendapat respon langsung karena lewat blog dia bisa membagikan apa yang ia rasa. Senja menemukan teman bicara itu pada user-name Badboy yang setia mendengar keluh kesahnya, berbagi hati dengannya.

kurang lebih seperti Ginny Weasley membuka hati pada buku Tom Riddle

 

Secara keseluruhan memang film ini enggak melenceng jauh dari yang dijabarkan tiga pemainnya Syifa Hadju, Rizky Nazar, dan Baskara Mahendra presscon di Bandung pada saat beberapa hari yang lalu. Film ini memang benar mengajarkan kepada remaja-remaja penontonnya ada lebih dari sekedar hubungan cowok dan cewek yang dibahas ketika kita membicarakan cinta. Bahwa ada banyak bentuk cinta yang seharusnya lebih kita perhatikan di sekeliling kita.

Dalam wujud teruniknya, film ini menunjukkan, cinta itu bisa juga datang ketika kita bahkan tidak mengenal siapa yang kita rasa cintai tersebut. Cinta bisa tumbuh cukup dengan kedekatan emosi yang kita rasakan bersama. Seperti yang berbunga di hati Senja begitu ia berkomunikasi dengan Badboy yang tak ia ketahui siapa. Atau sebaliknya, cinta tak cukup hanya dengan ketemu, melihat wujud fisiknya sepanjang waktu. Seperti yang kita simak pada Bara dengan ayahnya. Bahkan saat kita bertengkar dengan seseorang, bukan berarti kita tidak mencintai mereka.

 

 

Film garapan Rudy Aryanto ini menilik cinta bukan dari segi fisik. Melainkan bentuk cinta yang biasa dikenal dengan emotional intimacy – kedekatan emosional. Kedekatan ini terbentuk ketika dua orang menjadi begitu dekat karena mereka merasakan hal yang sama, mereka jadi merasa saling mengerti, saling dukung, dan tak ragu untuk membeberkan hal-hal personal yang bahkan mungkin mereka rahasiakan terhadap diri sendiri. The Way I Love You benar-benar tepat menggambarkan gelora yang dirasakan oleh Senja ketika dia merasakan kedekatan semacam ini kepada Badboy. Film membungkus soal kedekatan emosional ini ke dalam elemen ‘dunia maya vs dunia nyata’ ketika Senja akhirnya bertemu dengan cowok yang mengaku di balik username Badboy tersebut, menjadikannya konflik ketika Senja merasa ada yang tak cocok dengan Rasya. Tapi kukira siapapun bakal langsung melihat ada yang tak beres ketika Rasya tiba-tiba nari Pulp Fiction di acara Valentine padahal musik dan dandanannya enggak merujuk ke sana hihi..

Enggak hanya seru-seruan, film juga menilik sisi yang lebih dramatis dalam lingkup keluarga. Satu yang menarik perhatianku adalah film sempat nunjukin adegan Bara dengan ayahnya bermain basket. Ini adalah kedua kalinya dalam waktu dekat aku melihat adegan ayah-anak bonding dengan bermain basket ini dalam film Indonesia – satunya lagi di Terlalu Tampan (2019). Adegan main basket ayah anak ini digunakan untuk membangun kedekatan emosional pada kedua tokoh; yang membuat aku penasaran adalah kenapa basket? Aku gak sadar apa memang basket sudah menjadi sepopuler itu di Indoneisa. Atau apakah ada filosofi di baliknya? Kalo di film luar, yang kita sering lihat adalah ayah dan putranya bonding lewat permainan lempar tangkap di mana mereka bisa punya waktu untuk mengobrol, ada koneksi yang tersimbolkan ketika bola itu berpindah tangan; emosi ayah ditangkap oleh anaknya. Atau pergi mancing seperti Bart dengan Homer. Atau ngajarin naik sepeda kalo anaknya masih kecil banget kayak Kun di Mirai (2018). Sekali, seingatku, di Barbershop: The Next Cut (2016) aku melihat Ice Cube main basket sambil nasehatin anaknya, dengan konteks anaknya mengalahkan si bapak, menunjukkan ketidaksetujuan terhadap idealismenya. Anyway, percakapan antara Bara dengan ayahnya truly menunjukkan jalinan hubungan emosional yang kuat, dan meski aku gagal melihat pentingnya harus-basket, setidaknya film membuat basket tetap ada hingga akhir cerita.

Mungkin kalian bingung kenapa aku malah begitu mempermasalahkan basket, well, itu karena saat menonton ini aku seperti melihat seorang pebasket yang udah lumayan meyakinkan namun meleset saat berusaha menembak tiga-angka. The Way I Love You punya amunisi yang cukup sebagai cerita remaja yang beneran hangat dan istimewa. Dia juga berani karena bukan adaptasi dari apa-apa. Film ini punya sesuatu untuk diceritakan, penampilannya pun udah remaja banget. Aku suka sekali gimana film menggunakan blog di era facetime-an untuk menguatkan karakter Senja dan si Badboy. Aku suka gimana film ini menangkap ‘gembira’nya punya chatting sama orang yang mengerti kita, membuat kita merasa mengenal dirinya. Aku juga suka humor ringan yang enggak kelihatan untuk melucu yang hadir sebagian besar lewat penampilan natural dari Tissa Biani yang memerankan Anya. Hanya saja bangunan ceritanya rusak karena pilihannya untuk menjadi punya twist. ‘Penyakit’ klasik film-film Indonesia yang berusaha mencari jumlah penonton.

Maaf aku enggak menyesal akan membeberkan banyak poin-poin yang dijadikan twist pada film ini karena menurutku film ini enggak perlu untuk punya twist. Maksudku, lihat saja posternya, Senja dan Bara mejeng berdua, mereka sudah terang-terangan dipajang begitu sehingga kenapa ceritanya musti nitip-nutupin kedua tokoh ini pada akhirnya akan bersama. Film ini begitu twist-minded, merasa perlu untuk menyembunyikan sesuatu, sehingga seperti sendirinya lupa ingin menceritakan apa. Sepuluh menit pertama, diperlihatkan Senja yang enggak mau pisah ama Anya, dia gak marah saat buku jurnal/diarinya dihilangkan Anya. Elemen dua tokoh ini punya pasangan itu adalah konflik untuk menguji apakah si Cewek-yang-Telah-Kehilangan-Segalanya tega mengambil kepunyaan orang yang ia sayang. Siapa sebenarnya Badboy tidak pernah menjadi persoalan utama, semestinya. Namun the way this film goes seolah Badboy itu adalah twist, padahal bagi kita yang mengerti twist yang berhasil mereka buat adalah bahwa ini adalah cerita tentang cinta antara dua sepupu yang udah kayak kakak-adik; Senja dan Anya.

gimana Rasya bisa tahu percakapan Senja dengan Badboy adalah antara dia begitu pintar menerka atau naskah yang memang lemah

 

 

Skrip film ini jadi terasa begitu-belum sempurna. Ada banyak poin-poin yang hilang tak terjelaskan. Seperti si Rasya yang enggak nongol lagi, kita tidak tahu siapa dia sebenarnya, kenapa dia suka ama Senja, atau bahkan dari mana ia datang. Dengan tujuan untuk ngasih kejutan, tentu kita mengira film ini matang memikirkan urutan kejadian yang ditampilkan, dari A ke B harus ada penggerak, setidaknya kita bisa mengandalkan film memperhitungkan hal tersebut kan? Tidak, sayangnya. Tiga-puluh menit pertama, kita mendapatkan dua adegan tabrakan, tiga adegan ‘enggak sengaja’, film ini berjalan dengan banyak kebetulan. Menakjubkan, untuk sebuah cerita tentang cinta yang menemukan jalan, apakah film tidak bisa memikirkan jalan lain untuk menyampaikan cerita dengan lebih matang dan masuk akal? Lucunya, bahkan film ini menjadi semakin meta dengan ada tokoh yang sengaja menciptakan adegan tabrakan.

Ada satu aspek yang buatku meruntuhkan bangunan cerita film ini. Katakanlah semacam plot-hole. Karena cerita film ini bakal beda jika si satu tokoh ini enggak berbuat demikian bego. Ceritanya diserahkan kepada kerelaan kita untuk menganggap tokohnya enggak bisa berpikir. Yang mana plot film ini jadi terlihat maksa karena si tokoh sama sekali enggak bego. Kalian tahu, manis banget memang melihat Bara mencoba mencari pemilik tulisan buku yang ia pungut, ia diam-diam membandingkan tulisan itu dengan tulisan cewek-cewek lain kayak Pangeran nyari pemilik sepatu kaca. Tapi toh semua usaha Bara itu tak perlu, karena di buku itu tertulis nama Senja. Dia tinggal mencari anak di sekolah mereka yang bernama Senja. Dan masa iya dia hingga babak ketiga tidak tahu tokoh si Syifa Hadju ini bernama Senja? Padahal seharinya Bara bersama-sama Anya yang ceplas-ceplos. Dia bahkan melihat buku yang ia pungut itu sebelumnya dipegang oleh Anya. Tinggal tanya Anya!! Bara juga sempat membaca tulisan Senja di majalah ketika dia berkonfrontasi dengan Senja, ia tahu cewek itu yang nulis – tidak terterakah nama penulis di majalah tersebut. Aku sempat ‘ngalah’ dengan berpikir mungkin Bara memang ditulis bego, pasif, dan begitu pemalu jadi mungkin dia sudah tahu Senja adalah yang punya buku tapi tidak mau come up, lagipula dia punya hubungan dengan cewek di blog. Namun datanglah adegan ketika Bara melihat buku catatan Senja dan langsung bisa menyimpulkan pemilik buku dan cewek di blog adalah orang yang sama. Mungkin juga, melalui tokoh Bara ini film ingin menunjukkan contoh creepy dari emotional intimacy.

 

 

 

Buatku elemen buku jurnal itu sama sekali tidak perlu karena membingungkan logika. Pencarian tulisan tangan itu maksa make sense-nya. Cukup dengan blog. Karena lebih masuk akal dan efeknya lebih kuat, lihat saja di Love, Simon (2018).  Juga gak perlu di-twist siapa Badboy, karena tanpa itu kita bisa lebih terarah dibangun ke pertengkaran atau konflik antara Senja dan Anya karena merekalah fokus utama yang sebenarnya. Film ini sebenarnya punya pesona tersendiri, lucu, hangat, bukanlah tontonan yang dibuat dengan ngasal. Kalian tahu betapa aku sangat menghargai cerita orisinil. Tapi cerita film ini terasa masih seperti draft yang butuh beberapa kali penyesuaian lagi supaya menjadi maksimal.
The Palace of Wisdom gives 2.5 out of 10 gold stars for THE WAY I LOVE YOU.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Nyamankah kalian curhat di blog atau sosial media? Ataukah kalian lebih suka curhat di jurnal atau diari? kenapa?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.