Tags

, , , , , , , , , , ,

“You don’t learn those things in school.”

 

 

Malam menjelang acara kelulusan, dua siswi langganan nilai A merasa diri mereka paling bego sedunia akhirat. Bertahun-tahun Molly dan Amy belajar keras, gak pacaran, gak main-main, rela disebut ansos demi mempersiapkan diri di dunia perkuliahan, biar bisa masuk sekolah yang lebih baik. Well, coba tebak. Kerja keras dan ‘pengorbanan’ mereka seketika tampak sia-sia karena teman-teman sekelas mereka; yang pemalas, yang berandalan, yang selalu ngeles dari rapat OSIS, yang jarang bikin PR, ternyata juga diterima di kampus terbaik. Ada yang bakal langsung kerja di Google pula. Molly bagai mendengar petir di siang bolong! Ini seperti kau beribadah sepanjang waktu – sebisa mungkin menghindari maksiat, dan di akhirat nanti mendapati tetanggamu yang kriminal kelas kakap masuk surga juga lantaran sebelum mati dia menjadi orang gila. Perasaan missing out mendera Molly, yang lantas mengajak Amy untuk pergi berpesta gila-gilaan malam itu. Malam terakhir mereka menikmati masa-masa SMA yang indah.

Booksmart adalah PR paling berat yang harus kuselesaikan sejauh 2019 ini. Karena aku merasa kesulitan untuk menontonnya. Mungkin aku memang sudah kelewat ‘tua’, aku benci penggambaran anak remaja dalam film ini, sementara aku tahu film ini dipuji berkat gambaran remaja yang benar-benar kekinian. Aku gak suka penampilan mereka. Aku gak suka bahasa percakapan mereka. Aku gak suka musik EDM yang film ini gunakan. Buatku menonton film ini seperti menonton video dari youtuber kekinian – yang mana aku biasanya hanya menonton video mereka sampai mereka pertama kali membuka suara. Then I close it. Begitulah saat pertama kali aku berusaha nonton Booksmart. Gak sampai 20 detik, lalu kumatikan. Tapi aku pengen mereviewnya. Ini adalah bagian dari kerjaan sebagai reviewer; kau harus menonton film apapun suka atau tidak. Kita harus bisa memberikan penilaian yang objektif terhadap suatu film, terlepas dari bias selera. Jadi, besoknya aku setel lagi. I got past the crucial first-ten-minutes. I still hate it. Kumatikan. Besoknya nonton lagi dari awal. Begitu terus. Aku beneran butuh satu minggu untuk berhasil menonton film ini dari awal hingga akhir.

Dan aku bersyukur karena Booksmart adalah salah satu yang paling fresh tahun ini, serta salah satu yang paling impactful. Aku tahu Booksmart gak bakal dapet nilai subjektif .5 di belakang skor finalku nanti, tetapi secara objektif film ini memang enggak jelek. Aku bisa melihat kenapa film ini banyak disukai orang. Hubungan antartokoh-tokohnya memang gak terasa dibuat-buat, meskipun kadang lebay. Film ini punya arahan yang unik nan kuat, yang tahu betul bagaimana mengeksplorasi keliaran tanpa mengurangi hati. Booksmart benar-benar dibuat dengan sangat kompeten. Komedinya bekerja dengan cerdas. Banyak yang bilang film ini kayak versi cewek dari tokoh-tokoh film Superbad (2007). Dan ya, clearly Booksmart mendapat banyak pengaruh dari film tersebut, juga film-film remaja klasik lainnya. Olivia Wilde enggak main-main ngerjain ‘PR’nya. Aktor yang sekarang jadi sutradara ini benar-benar paham genre yang ia garap, mengerti dunia yang ia bangun, sehingga menghasilkan film yang menorehkan jejak dengan kuat pada generasi sekarang.

The power of ngerjain PR

 

Wilde memberikan cerita batasan waktu sehingga kita merasakan urgensi. Molly dan Amy hanya punya satu malam, dan kita seolah berada di sana bersama mereka berdua. Kemudian kejadian demi kejadian kocak terangkai, menjadi petualangan yang tidak pernah hadir membosankan. Entah itu berkat permainan kamera yang variatif, ataupun gaya adegan yang nekat. Pada satu titik film ini akan berubah menjadi animasi 3D dengan tokoh-tokoh kita ‘berubah’ menjadi barbie. Kejadian itu punya kepentingan dan benar-benar punya bobot ke dalam cerita. Semua yang dialami Molly dan Amy menambahkan banyak bobot ke cerita. Nilai hiburan pun terbendung dari sana. Selain hura-hura, Wilde juga bercerita dengan cukup subtil. Adegan nyebur ke air yang biasanya digunakan untuk momen kontemplasi, digebrak olehnya. Nyebur ke kolam saat pesta dalam film ini adalah perlambangan membebaskan diri dengan nyemplung ke dalam dunia sosial, dengan relevasi siapa kita dan siapa orang lain – untuk saling mengenal – dijadikan tujuan utama.

Yang diperlukan oleh Molly sebenarnya bukan kesempatan untuk gila-gilaan di pesta, merasakan gaya hidup anak SMA yang penuh hura-hura. Melainkan kesempatan untuk bersosialisasi dengan tulus, untuk menjadi teman yang sebenar-benarnya teman terhadap seluruh teman sekelasnya. Film ini punya suara  soal label sosial yang kita ciptakan sebagai pertahanan. Molly juga memandang teman-teman sekolahnya dengan dangkal, sebagaimana teman-teman Molly juga melihat dia dari persona yang ia ciptakan. Padahal mereka semua sebenarnya punya tujuan yang sama; mencoba survive dari kehidupan SMA yang menuntut. Hanya, strategi survival mereka berbeda. Harus kuakui, masalah tersebut sebenarnya sungguh relevan untuk lapisan generasi yang pernah merasakan kehidupan di lingkungan sekolah. Padahal sekolah bukan hutan. Untuk bisa survive, kita tidak musti menganggap yang lain sebagai saingan.

Sekolah bukan semata tempat untuk belajar ilmu pengetahuan dari buku. Melainkan juga untuk belajar kehidupan dari orang-orang di sekitar. Sekolah tidak akan mengajarkan cara mencintai seseorang, cara menghormati orang lain, cara jadi kaya, cara supaya enggak gagal, cara supaya bisa menghadapi kegagalan. Tetapi, sekolah memberikan kesempatan kita untuk belajar semua itu, di luar ruang kelasnya. Kita hanya perlu untuk peduli lebih banyak di luar nilai-nilai mata pelajaran.

 

Aku pun terkejut ketika mendapati aku peduli juga sama Molly dan Amy. Padahal tadinya kupikir mereka berdua ini annoying. Aku ingin mereka sukses dalam hidupnya, aku ingin mereka bahagia. Film menampilkan hubungan persahabatan kedua tokoh ini dengan sangat otentik sehingga kita merasa mereka memang sudah ada sebelum film ini dimulai, dan kehidupan mereka akan terus berlanjut di luar sana saat kredit penutp mulai bergulir. Beanie Feldstein dan Kaitlyn Dever (respectfully, memerankan Molly dan Amy) punya chemistry yang sangat natural. Dua aktor muda ini sudah cukup malang melintang di komedi – Feldstein actually adalah adik dari Jonah Hill yang main di Superbad – jadi mereka gak canggung untuk memainkan tek-tok dialog cukup panjang, dan pada sebagian besar percakapan kita bisa melihat mereka berdua melakukan improvisasi.

Penampilan mereka memberikan energi yang menghidupkan film ini. Dan Wilde cukup bijak untuk mengetahui hal tersebut dan memanfaatkan kecakapan talentnya ke dalam treatment adegan yang powerful. Adegan Molly dan Amy berantem sampe teriak-teriak itu adalah salah satu adegan terbaik dalam film ini. Wilde tahu kapan harus mematikan suara dan membiarkan ekspresi kedua pemainnya yang berteriak. Kembali kepada kesubtilan adegan yang tadi kutulis, dengan membuatnya seperti begini, Wilde berhasil mencapai adegan pertengkaran yang dramatis – yang kena ke urat emosional kita – karena kita pun mengerti di titik itu dua tokoh ini cuma meneriakkan sesuatu untuk menutupi kenyataan. Kita pun kalo udah berantem gede-gedean suara, hanya pengen teriak doang dan tak lagi (mau) peduli apa yang diucapkan oleh teman-berantem.

Hidup adalah kebalikan dari sekolah; kita di tes dulu baru kemudian dapat pelajaran yang berharga

 

Menurutku adegan berantem tersebut seharusnya dapat lebih kuat lagi jika musiknya dimatikan. Di atas, aku sudah bilang aku gak suka musik EDM dan musik kekinian lain yang dipake oleh film ini, tapi tentu aku gak bisa bilang Booksmart jelek karena aku gak suka ama genre musiknya. Itu subjektif namanya. However, penilaian objektifku soal musik Booksmart adalah film ini terlalu bergantung kepada musik. Hampir semua adegan harus ada musik latarnya. Dari penceritaan yang mereka tampilkan, sebenarnya tidak perlu lagi ada manipulasi emosi dari musik atau lagu latar. Di awal-awal, musik film ini mencapai level intrusif sebagai masuk ke editing adegan – ada adegan yang seperti diedit sedemikian rupa supaya mengikuti irama musiknya, bukan lagi musik yang mengiringi adegan.

Makanya, film ini terasa berada di tengah-tengah. Dengan pemakaian musik dan tokoh-tokoh beragam yang melakukan sesuatu yang ajaib (aku suka ‘kegilaan’ Billie Lourd, tapi karakter yang ia perankan terlalu fantastis), Booksmart tampak seperti komedi konyol yang sarat makna. Namun juga, dengan pesan yang relevan dan relatable dengan masa sekarang, kekonyolan yang ada membuat film seperti sebuah komedi keseharian yang terlalu konyol untuk jadi nyata. Status film ini seharusnya bisa diperjelas lagi. Seperti anak muda, film kayak agak kebingungan menampilkan dirinya yang sebenarnya.

 

 

 

Mulai dari sutradara hingga pemain, ada banyak bakat yang hadir di film remaja yang menyenangkan dan berpengaruh buat generasi pasanya ini. Mereka melakukan hal yang benar, menarik remaja dengan benar-benar menjadi seperti remaja. Bahkan untuk genre komedi tentang anak sekolah yang berusaha melakukan sesuatu yang tidak pernah ia lakukan, film ini pun tampak unik. But as far as the storytelling goes, film ini terlalu bergantung kepada musik – sedikit terlalu berfokus kepada tampilan luar. Yang mana membuatnya tampak sedikit mengkhianati bakat-bakat yang ia punya. Tidak ada bully, penuh diversity, pemalas pun bisa dapat sekolah bagus, film ini kadang tampak bagai dongeng konyol sehingga dapat mengurangi kepentingan gagasannya.
The Palace of Wisdom gives 6 gold stars out of 10 for BOOKSMART.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Di kelas kalian termasuk geng anak belajar atau geng anak bandel yang suka main-main? Bagaimana kalian memandang ‘geng’ yang berbeda dengan kalian? Pernahkah kalian merasa marah ketika ada yang menurut kalian lebih bego ternyata lebih sukses?

Share with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.