Tags

, , , , , , , , , , , , ,

“The differences between friends cannot but reinforce their friendship”

 

 

“Hey sabar, jangan emosi!” bentak Putri kepada salah satu sohibnya – Imung – yang mulai merepet soal pelatih grup vokal mereka yang tak kunjung ditemukan. Waktu semakin mendesak, Putri dan Imung, beserta dua orang lagi – Anisa dan Markus – harus segera menemukan orang yang bisa melatih mereka supaya menang dalam kompetisi menyanyi Doremi & You. Mereka butuh duit hadiahnya untuk menggantikan uang kas kelas yang tak-sengaja hilang.

Persahabatan erat melekat di antara empat sahabat tersebut, surprisingly, tidak seceria adegan musikal yang menjadi pembuka film ini. They had a go at each other, rather easily. Mereka saling menyalahkan dengan sambil menyanyi. Akan ada banyak adegan perdebatan yang dilagukan. Aku sempat berpikir, anak-anak ini punya hubungan pertemanan yang sangat aneh. I mean, aku dan teman-teman dekatku juga kerap saling ‘serang’, tapi paling tidak, kami tidak melakukannya sambil bernyanyi dan menari haha. Putri, Imung, Markus, dan Anisa; Mereka juga tidak kelihatan terlalu kompak. Mereka tidak punya bahasa geng; mereka bicara dengan logat dan bahasa daerah masing-masing. Alih-alih bersepeda seragam, keempat pelajar SMP ini mengendarai sepeda yang bermacam-macam warnanya. Baju mereka pun begitu, bahkan seragam batik mereka aja warnanya beda-beda. Udah kayak Power Rangers deh. Masing-masing setia dengan warna mereka sendiri. Seperti atribut yang melekat dan tampak oleh kita, keempat tokoh ini dibuat colorful seperi demikian. Dan itulah yang pada akhirnya menjadi kekuatan mereka. Itulah, sodara-sodara sebangsa dan setanah air, statement yang sedang dibangun oleh film musikal ini.

Musik tersusun dari beragam jenis suara, sumber suara, irama, nada-nada baik yang tinggi maupun yang rendah, yang membentuk suatu kesatuan. Kita tidak bisa membuat musik hanya dari satu suara. Dibutuhkan perbedaan untuk membentuk suatu harmoni. Begitu pulalah hidup kita. Semua perbedaan yang ada, seharusnya diakui. Bukannya disembunyikan. Perbedaan mendorong kita untuk saling menngerti. Menggebah kita untuk saling berkompromi. Middle-groundnya lah yang disebut dengan persatuan.

bukan Laksamana Do Re Mi loh ya

 

Jadi, film ini mengandung gagasan yang sangat baik yang sangat relevan dengan statusnya sebagai film untuk keluarga. Anak-anak dan remaja yang menonton ini akan banyak mendapatkan pelajaran berharga seputar mengakui dan menghargai perbedaan. Karena mereka hidup dalam dunia yang semakin terbuka. Bahkan lebih beragam lagi dari dunia ketika zaman orangtua mereka. Tantangan untuk memelihara persatuan bakal semakin kuat, namun juga jika diusahakan maka hubungan persatuan yang terjalin bakal jadi lebih erat. Dalam keadaan paling kuatnya, sebutan ‘cina’ dan ‘arab’ bakal bukan lagi sebuah hinaan. Melainkan hanya nada berikutnya yang harus diharmonikan.

Doremi & You garapan B. W. Purba Negara mendorong kita untuk memandang perbedaan sebagai kekuatan, dari berbagai sudut. Untuk melakukan hal tersebut, naskah terus mengajukan pertanyaan seputar itu melalui masalah-masalah yang dijumpai oleh tokoh-tokohnya. Ketika satu pertanyaan terjawab, akan ada masalah baru yang membuat tokoh-tokoh film ini harus memikirkan dari sudut yang lain. Kenapa kita tidak mencoba merangkul yang beda itu? Bisakah kita bekerja sama? Bagaimana kita bisa menyatukan semua perbedaan menjadi suatu lagu yang enak didengar? Poin-poin itu yang menjadi penggerak narasi. Untuk menggambarkan hal tersebut, film akan bergantung kepada adegan nyanyi-nyanyi yang liriknya terdengar catchy, sekaligus sarat ama pesan dan ide yang ingin disampaikan. Perhatikan baik-baik setiap lirik pada bagian musikalnya, karena bagian itulah yang bakal bicara lebih efektif kepada kita.

Aku bilang begitu lantaran jika dilihat dari karakter-karakternya, maka film ini akan terasa sedikit aneh. Persoalannya bukan pada pemeranan, karena bintang-bintang film cilik ini menaklukan tantangan yang cukup berat. Mereka harus berakting, bernyanyi, sekaligus menari. Masing-masing diberikan porsi untuk unjuk sisi emosional, dan permainan akting para aktor di film ini seragam passable-nya. Fatih Unru yang paling menonjol dari segi drama, tapi tokohnya tidak diberikan banyak untuk dilakukan – kita tidak mendapat backstory tokoh Imung yang ia perankan. Dua teman Putri yang lain, diperankan oleh Toran Waibro dan Nashwa Zahira, diberikan masalah keluarga di rumah; yang satu punya paman yang tegas yang menentangnya berlatih musik di saat masa-masa menjelang ujian akhir – kegalakan tokoh ini seketika menjadi normal, yang satu lagi punya ayah yang bekerja sebagai badut sehingga dia tidak berani ketahuan ayahnya kalo ia sudah menghilangkan uang anak-anak di kelas. Dua tokoh ini yang menjadi penyuntik emosi. Masalah yang mereka hadapi ini yang kita pedulikan. Akan tetapi karena film butuh kita untuk lebih peduli kepada tokoh utama, maka masalah-masalah tersebut berakhir kempes gitu aja. Si Paman jadi ‘baik’ lagi saat udah beres ujian. Si ayah badut tak lagi dibahas. Padahal aku nyangkanya jalan keluar final cerita film ini adalah Putri dan kawan-kawan ngadain show bareng badut-badut untuk menggalang dana.

Anyway, tentu saja adalah hal yang benar untuk menjaga supaya tokoh utama kita tidak ter-outshine oleh tokoh lain. Adyla Rafa Naura Ayu (maaf kalo ada salah ketik, nama anak jaman sekarang susye-susye hehehe) punya kharisma yang cukup untuk membawa beban tokoh utama, dia tampak mudah terkonek dengan penonton-penonton seusianya. Hanya saja – yang aku tidak habis pikir adalah – tokoh Putri yang ia mainkan anaknya ngebos banget. Putri ini cerianya pas nyanyi doang. Di luar itu, sikapnya nyaris unbearable. Cara dan nada dia ngomong sama teman-temannya begitu menuntut. Nanya adeknya saja Putri harus sambil menggebrak meja. Susah untuk kita peduli kepada tokoh Putri, meskipun para penggemar Naura hanya akan melihat jauh ke balik tokoh ini – para penggemarnya bakal langsung melihat ke Naura jadi mereka gak bakal terganggu sama tokoh Putri. Tapi buatku, Putri seharusnya diberikan penokohan yang lebih baik lagi. Teman-temannya punya masalah di rumah, sedangkan Putri hanya berkutat dengan peraturan ‘enggak boleh main hp saat belajar’ dari ayahnya.

Ngomong-ngomong, aku gak ngerti maksud tebakan rubik dari si ayah

 

Putri gak peduli sama masalah teman-temannya. Ketika Anisa bilang udah dilarang ikutan sama paman, Putri masang wajah jutek tanpa empati. Dia bahkan enggak pernah diperlihatkan benar-benar peduli sama soal uang yang hilang. Journey tokoh ini memang semestinya berkembang dari dia yang cuek, yang menuntut untuk semuanya sesuai dengan yang ia mau menjadi dia lebih terbuka untuk merangkul, lebih berempati. Tapi tidak pernah ditampilkan seperti itu. Instead, Putri sampai akhir tetap orang yang hanya mau bertindak kalo sesuatu itu demi dirinya sendiri. Dan ketika dia menjadikan hal personal seperti demikian, maka hal tersebut akan menjadi terlalu personal.

Lapisan paling menarik dari tokoh Putri adalah tentang hubungan dia dengan Kak Reno yang diperankan oleh Devano Narendra. Kak Reno adalah murid SMA jutek yang Putri minta untuk melatih kelompoknya, meskipun sohib-sohib Putri menolak. Obviously, Putri has a crush on him. Seperti pada trope mentor senior-murid yang biasa kita lihat, lambat laun respek di antara mereka semakin gede, hubungan semakin akrab. Dan bahkan Reno pun diberikan motivasi dan backstory yang lebih daripada Putri; perbedaan selera musik Reno dengan ayahnya menjadi akar karakter ini. Reno actually menambah banyak kepada tema dan ide cerita, apa yang ia lakukan berperan gede untuk pertumbuhan tokoh Putri. Tapi Putri ini takes thing a little bit too personal sehingga somehow cerita di antara mereka berubah menjadi rivalry. Tapi tentu saja, kita harus ingat cerita ini dari sudut pandang Putri. Jadi persaingan yang diangkat bisa saja bukan persaingan sama sekali – bahwa kompetisi hanya ada pada Putri; teman-teman yang lain nyanyi di sana untuk tujuan yang berbeda. ‘Menariknya’ adalah kita tahu bahwa ketika mereka bersatu untuk menang, kita tahu antara Putri dan teman-temannya berjuang demi hal yang berbeda.

Film juga dengan bijaksana untuk membuatnya tampak seperti berada di antara Putri cemburu atau dia beneran marah karena merasa dibohongi secara profesional. Atau malah karena keduanya. Dan ini adalah interesting take yang diangkat pada sebuah cerita yang mainly ditujukan untuk penonton anak-anak dan remaja. Putri beneran fokus di sini, sampe-sampe dia seperti ‘memaksa’ teman-teman untuk tetap lanjut sehingga masalah uang yang hilang seperti nomor dua buatnya.

Jika kalian masih butuh bukti betapa egois dan ngebosnya Putri hingga akhir cerita, coba tebak apa nama grup vokal mereka? Yup, Putri and Friends.

 

 

 

Film ini mengajarkan soal menyingkapi perbedaan dengan cara yang unik. Seluruh warna-warni itu dijadikan kesempatan untuk arena bermain bagi departemen artistik. Lagipula, di mana lagi kita bisa mendapatkan analogi antara musik EDM dengan bubur ayam, kan. Genre musikal juga membuat ceritanya tidak gampang tampak membosankan. Menyenangkan melihat segitu banyak perbedaan dipersembahkan untuk mendukung satu gagasan. Meski begitu, toh, tokoh utamanya seharusnya bisa diperbaiki sedikit. Dia terlalu bossy dan personal di tempat yang salah. Cerita seharusnya bisa lebih diperketat lagi in favor of the characters, bukan hanya pada penyampaian pesan lewat nyanyi-nyanyian.
The Palace of Wisdom gives 6 gold stars out of 10 for DOREMI & YOU.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Kira-kira kalo kalian satu sekolah dengan Putri, kalian bakal mau gak jadi temennya dia?

Daan, pertanyaan paling penting yang pernah aku ajukan di sini:

Ada yang tau gak sih makna permainan rubik sang Ayah tadi? Gimana jawabannya bisa seperti yang ia sebut? Seems like random numbers to me. Serius, aku benar-benar gak ngerti.

Share with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.