Tags

, , , , , , , , , , , , ,

“Words have no power to impress the mind without the exquisite horror of their reality”

 

 

Diadaptasi dari thread karangan user meta.morfosis di Kaskus, cerita Jeritan Malam yang digarap oleh Rocky Soraya dapat terasa ‘berlebihan’ dan tidak masuk akal karena berurusan dengan usaha membuat kita percaya bahwa dunia gaib itu ada. Namun begitu, melihat tokohnya yang keras kepala ditarik – bahkan dijebak – ke dunia tersebut cukup untuk membuat horor ini terasa menyenangkan dan jadi ‘sesajen’ menghibur yang menyebabkan kita betah menyaksikannya.

Herjunot Ali dalam cerita ini adalah Reza. Sarjana S1 yang percaya sama ilmu pengetahuan dan logika. Segala tahayul, jimat-jimat, kekuatan gaib, perdukunan adalah omong kosong baginya. Reza bahkan enggan mempelajari budaya klenik yang ditawarkan oleh ayahnya. Setengah hati Reza mengiyakan tatkala disuruh membawa pusaka kecil dari sang ayah sebagai perlindungan di tempatnya bekerja. Reza dikirim ke daerah Jawa Timur, kantor menyediakan mess sebagai tempat tinggal Reza di sana. Ketidakpercayaan Reza terhadap supranatural tertantang di tempat tersebut. Mess/rumah yang ia tinggali bersama dua karyawan lain ternyata juga dihuni oleh makhluk halus yang suka menampakkan diri dengan menyamar menjadi penghuni rumah. Malam di sana semakin mengerikan oleh jeritan wanita yang seringkali terdengar. Gangguan di sana memang semakin meningkat intensitasnya semenjak Reza datang. Rekan-rekannya percaya pusaka yang dibawa Reza adalah penyebabnya. Namun Reza tetap bergeming, ia mengacuhkan semua. Reza bersikeras menyangkal dan masih berusaha merasionalisasi keadaan. Demi bertahan pada pekerjaannya sebab ia butuh untuk mengumpulkan biaya pernikahan.

“suara burung”? Am I a joke to you!

 

Film bercerita dengan narasi voice-over dari Reza. Sehingga kita bisa mengetahui langsung apa yang dipikirkan oleh tokoh utama ini. Yang seperti menceritakan kepada kita kisah masa lalu yang begitu ia sesali – hampir seperti suara renungan yang kemudian menjadi peringatan kepada kita. Ada nuansa misteri yang berusaha dibangkitkan. Ada hook yang berusaha dibangun dari narasi Reza – tokoh ini kerap menyuruh kita untuk tidak melakukan kesalahan yang sama dengannya. Namun apa tepatnya kesalahan itu – apakah karena dia tidak percaya, apakah karena dia membawa pusaka, apakah karena dia terlalu sompral, atau apakah karena dia membawa kekasihnya jajan bakso ceker – inilah misteri yang perlahan-lahan dibuka oleh cerita.

Bahasa Indonesia baku yang dibawakan oleh Herjunot dengan nada puitis (mengingatkan kita kembali pada perannya sebagai Zainuddin di Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck) terasa sebagai perubahan yang cukup signifikan dari bahasa Kaskus (yang menggunakan slang ane-agan) yang dipakai pada cerita aslinya. Pada beberapa kesempatan, memang terdengar awkward, seperti cerita terasa lebih tua daripada periode waktu kejadian yang sebenarnya. Juga ada dialog dengan tokoh Wulan, kekasihnya yang diperankan Cinta Laura, yang tampak lumayan kaku oleh bahasa. Namun untuk sebagian besar porsi, penggunaan bahasa ini memenuhi suatu fungsi. Penggunaan bahasa puitis memperkuat tone misteri sekaligus tone psikologis dari tokoh Reza. Ia bukan sekadar menceritakan pengalaman mengerikan untuk menakuti kita. Menyaksikan cerita dengan narasi spesifik dari Reza lebih kepada seperti mendengarkan seseorang yang penuh penyesalan, tetapi tidak berkubang di dalam penyesalan tersebut. Penggunaan narasi ini memperkuat keseluruhan arc Reza.

Satu yang paling aku suka dari Jeritan Malam ini adalah masih dibukanya pintu ambiguitas lewat penggunaan narasi. Reza menyerahkan sepenuhnya kepada kita untuk mempercayai atau tidak. Melihat ke belakang kepada konteks dan gagasan cerita, pernyataan Reza tersebut bukan lagi sebatas tentang hantu yang ia alami, melainkan juga tentang ceritanya itu sendiri. Keseluruhan kejadian kita saksikan lewat sudut pandang Reza; kita mendengarkan yang ia kisahkan, kita melihat apa yang ia tuturkan. Namun di akhir kita mengerti bahwa Reza adalah orang yang mendapat banyak, sekaligus kehilangan banyak. Cerita yang kita saksikan bisa jadi adalah proses rasionalisasi – proses yang selalu ia lakukan sepanjang kisah setiap kali dia bertemu dengan hal yang tak ia mengerti – terhadap kehilangan yang ia rasakan.

Bukan hanya hantu wanita itu yang menjerit penuh rasa takut, sedih, putus asa. Jeritan Malam actually adalah jeritan hati seorang Reza. Jeritan yang kita semua teriakkan ketika menerima sesuatu sebagai kenyataan. Meneriakkan suatu hal secara langsung tidak berarti membuat hal tersebut menjadi benar, tapi meneriakkan di dalam hati dapat membawa ketentraman. Seperti afirmasi atau menguatkan diri. Perhatikan tidak ada lagi dialog langsung Reza di akhir; film hanya menggunakan narasi. Reza bukan hanya bercerita kepada kita, ia bisa jadi juga bercerita kepada dirinya sendiri. Yang membuat dia bisa meneruskan hidup dengan jawaban atas kehilangan yang ia terima sebagai akibat dari kesalahan yang dilakukan. Tapi seperti kata Edgar Allan Poe; Reza harus percaya dulu bahwa dunia adalah tempat yang mengerikan – penuh setan di mana-mana 

 

Meskipun punya kedalaman dalam elemen narasinya, lapisan terluar juga sama pentingnya, karena hal itulah yang pertama kali kita lihat dan rasakan. Paruh pertama film mungkin bisa jatoh menjengkelkan. Terutama karena durasi film yang nyaris mencapai dua jam. Lantaran Reza begitu bebal sehingga beberapa peristiwa menjadi repetitif. Reza melihat hantu atau hal mustahil, dan reaksinya selalu sama; Ketakutan dan kemudian tidak percaya. Ini sebenarnya adalah poin penting pada arc Reza, yang menunjukkan karakternya di awal-awal. Reza merupakan seorang skeptis yang defense-mechanism dirinya saat melihat hal-hal aneh adalah mencari jawaban logis – dan jika tidak bisa, maka ia akan mengecilkan peristiwa tersebut; menganggapnya tidak penting. Ini adalah reaksi normal seseorang yang mengenyam pendidikan dan tinggal di kota besar. Kebanyakan orang akan merasa takut pada hal yang tak mampu ia mengerti, dan pada saat ketakutan orang akan kehilangan kendali. Untuk mengembalikan perasaan memegang kendali inilah, orang-orang punya tindakan yang berbeda. Bagi Reza, tindakan itu adalah merendahkan yang tidak ia mengerti. Ia menganggap ‘orang pinter’ yang dipanggil mengusir hantu ke rumah sebagai tukang tipu yang mencoba menipu mereka dengan ilmu hipnotis. Ia mencela teman-temannya yang pecaya kepada si ‘orang pinter’.

Penonton seolah didorong supaya lebih condong ke arah teman-teman Reza, seolah merekalah voice of reasons – merekalah yang benar. Inilah poin ganjil yang digali oleh film. Cerita benar-benar menganggap hal supranatural itu adalah hal serius. Malah hampir seperti peringatan kepada kita semua bahwa hantu itu ada, setan-setan akan terus mengelabuimu. Film seperti berusaha keras untuk membuat kita juga melihat dunia gaib sebagai kebenaran. Ini gak exactly kayak cerita Mary Poppins, atau cerita Harry Potter, atau cerita fantasi yang menyuruh tokohnya – dan penonton – untuk belajar percaya pada keajaiban. Lebih mudah bagi Doctor Strange untuk percaya ilmu kedokterannya tidak mampu berbuat banyak mengobati dunia superhero. Ada ‘kekonyolan’ tersendiri yang membedakan percaya sama hantu dengan percaya sama ada Narnia di dalam lemarimu. Makanya, film Jeritan Malam ini terasa tidak begitu merangkul dengan logika bagi sebagian orang, terutama yang memang skeptis juga seperti Reza. Karena kita semacam menunggu ada penjelasan lain, tapi tidak ada.

film yang diadaptasi dari cerita populer bakal laku – siapa yang percaya sama tahayul ini?

 

Petualangan Reza mencari kebenaran yang bisa diterima akal sehatnya membawa cerita ke paruh kedua, yang terasa lebih menyenangkan. Reza terjerat dalam semacam perjanjian tanpa ia sadari. Yang menyebabkan dia dapat melihat semua yang tadinya ia ragukan dan ia hina. Konsekuensi yang timbul dari perubahan Reza ini punya nada subtil yang mengerikan. Dia hidup dengan menyadari semua berkah yang ia rasakan sebenarnya adalah kutukan; ada harga tinggi yang mau-tak-mau harus ia bayar. Bayangkan kamu hidup bahagia tapi mengetahui ada orang yang menderita demi kebahagiaan kamu. Akhir yang mengerikan, karena di titik itu kita juga sudah bisa melihat bahwa sekonyol-konyolnya tahayul dan hantu, toh memang ada harga yang harus dibayar dalam setiap pencapaian – dan kadang harga itu begitu besar sehingga seolah kau bersalaman dengan setan.

Untuk sampai ke sana, film benar-benar bersuka ria dalam menampilkan horornya. Jika sebelumnya film ini mengandalkan permainan suara; musik yang menghilang dari adegan saat melihat keluar jendela ke pepohonan, dan kemudian cukup menggelegar mengungkap apa yang berada di balik pohon-pohon itu, maka di paruh kedua film bermain-main dengan kemunculan dan wujud hantunya. Film ini menggunakan kombinasi efek make up dan efek komputer. Untuk soal efek, film ini masih baru setengah maksimal; beberapa penampakan terlihat jelas ‘palsunya’, penggunaan darah yang mestinya bisa menggunakan darah asli, namun ada juga beberapa yang terlihat keren seperti hantu muncul dari sumur dan hantu boneka pajangan Jawa. Tidak ada hantu ‘boss’ yang jadi musuh utama yang harus dikalahkan, tapi setiap hantu yang muncul punya cerita khusus tersendiri. Interaksi Reza dengan para hantu – sebagian besar dari mereka ia kenal – jadinya menarik dan cukup memancing emosi.

 

Dengan set klaustofobik yang bervariasi – mulai dari rumah hingga hutan menyesatkan – film ini punya bangunan misteri yang kuat. Sedikit romansa juga ditambahkan sebagai pemerkuat taruhan bagi Reza. Walaupun ceritanya agak aneh karena berusaha membuat kita percaya sama dunia gaib, horor yang disajikan berhasil tampil menghibur. Ada kejutan yang cukup emosional di akhir. Punya nada seram di balik gagasannya. Tak ketinggalan, komedi yang dicampur secukupnya. Persis seperti judulnya, penceritaan film ini benar-benar mencapai rentang tone yang luas. Kita mungkin akan mengerang ketika terus disodori hal-hal tak-masuk akal sebagai kebenaran – film seharusnya bisa dipangkas saat certain point sudah ter-establish sehingga tak terasa terlalu repetitif, tetapi sesungguhnya ini adalah cerita yang sangat personal. Keseluruhan film adalah kata-kata dari seorang yang perlahan mengalami perubahan cara memandang dunia karena ia telah melakukan sesuatu yang tak bisa ia pahami apakah merupakan sebuah kesalahan atau memang harga yang harus dibayar untuk sebuah kesuksesan.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for JERITAN MALAM.