Tags

, , , , , , , , , , , , ,

“Masculinity is not something given to you, something you’re born with, but something you gain”

 

 

 

Cabut dari WWE lantaran ego dan kreativitasnya dihajar sampai tumpul oleh perusahaan, Phil Brooks alias CM Punk beralih ke UFC. Di sana, meskipun digadang bakal jadi jagoan, Punk literally babak belur pada pertandingannya yang pertama. Sekarang – mengejutkan semua fans gulat, termasuk aku – Punk mengekor karir dua superstar yang ia sebut lebih dianakemaskan WWE ketimbang dirinya. Punk, seperti The Rock dan John Cena, kini bermain di film layar lebar. And guess what, di horor pertamanya ini CM Punk ‘diperkosa’ – diassault habis-habisan, oleh sebuah rumah.

Dan jokes sebaiknya dihentikan sekarang, karena film Girl on the Third Floor ini boleh jadi adalah the best thing yang bisa terjadi bagi karir keaktoran pria yang di dalam ring dijuluki The Best in the World tersebut.

Kerja direktorial film-panjang pertama Travis Stevens ini memang masih tampak sedikit canggung, namun mengandung gagasan dan keberanian eksplorasi yang layak untuk diapresiasi. CM Punk berperan sebagai Don Koch, seorang pria yang berniat merenovasi sendiri rumah yang baru saja ia beli. Istri Don tengah mengandung, dan ia berusaha berbuat yang terbaik demi jabang bayi dan wanita yang ia cintai. Masalahnya adalah rumah tiga lantai yang dibeli Don adalah bekas rumah bordil. Jadi kerjaan Don bakal banyak banget. Awalnya hanya noda-noda jijik, pipa-pipa mampet, namun kelamaan rumah itu terbukti aneh. Dari colokan-colokan listriknya mengalir likuid putih, dari lubang-lubang di temboknya mengalir cairan kayak darah. Beruntung, ada cewek cakep bernama Sarah yang menjadi pelepas lelah bagi Don. Tapi kejadian aneh di rumah itu tidak berhenti. Terlebih, Sarah yang misterius kini ikut-ikutan meneror Don yang enggak mau affair mereka diketahui oleh sang istri. Don semakin kehilangan akal, sampai suatu ketika ia melihat wanita tak berwajah – at least tak-bermata melainkan hanya torehan luka panjang yang bersatu dengan mulutnya – muncul dari balik tembok rumah.

dalam film ini banyak yang seperti Big Show; berpindah dari babyface ke heel atau sebaliknya, dalam sekejap

 

Rumah yang dibeli Don seolah hidup dan mengincar nyawanya. Apa yang tampak seperti premis dasar dalam sebuah horor standar tentang rumah berhantu tersebut, diberikan makna yang lebih mendalam oleh film ini. Sebab cerita hantu pada dasarnya tidak pernah semata tentang cerita yang ada hantunya. Melainkan lebih kepada kenapa seseorang dihantui. Cerita yang baik akan membahas personal si tokoh utama – kesalahan dan perjuangannya untuk menggapai hidup yang lebih. Dan itulah yang kita dapatkan pada Girl on the Third Floor. Film akan mengeksplorasi seperti apa sebenarnya pria yang jadi protagonis cerita. Perlahan film juga akan mengungkap makna rumah tersebut – rumah dan segala hantu yang menghuninya akan setelah pengungkapan mungkin bukanlah antagonis seperti yang kita kira – dan apa yang sesungguhnya mendasari konflik antara si rumah dengan Don.

Kekuatan film ini terletak pada ceritanya yang sesungguhnya adalah alegori dari sebuah maskulinitas. Yang toxic, jika ingin ditambahkan. Don, sepanjang film, akan memperlihatkan tabiat yang gak sehat; ia cenderung memaksa dirinya supaya terlihat jantan. Dia menolak meminta bantuan kepada ahli renovasi rumah, dia ngotot ingin melakukan semuanya sendiri. “Pria macam apa aku jika tidak bisa membangun atap untuk istriku,” begitulah pertanyaan retorika yang ia ucapkan – sebagai sebuah tantangan bagi dirinya sendiri. Tentu, cowok memang harus bertanggung jawab seperti demikian. Namun Don juga memperlihatkan banyak ‘gejala’ yang menunjukkan kengototannya tampil jantan sebagai sesuatu yang enggak sehat. Dia mencibir warna pink tembok rumah serta lekas mengira ibu-ibu tetangga yang bekerja di gereja sebagai biarawati tanpa banyak pertimbangan – mengindikasikan objektifitas dan pola pikir judgmental, dan di waktu privatnya Don nonton bokep kategori “I’am a good girl, daddy”. Ini adalah bukti bahwa karakter kita ini merupakan pria yang mendambakan selalu memegang kontrol, yang menganggap maskulin sebagai kunci kendali; wanita adalah objek yang ia punya kuasa. Kencannya dengan Sarah ia anggap sebagai hadiah  – or worse, hiburan – atas kerja kerasnya merenovasi rumah.

Malang bagi Don bukanlah karena ia membeli rumah bordil berhantu. Melainkan karena ia gagal melewati tes yang diberikan oleh rumah tersebut. Seorang tokoh utama yang menarik memang haruslah bukan tokoh tak-bercacat, karena yang kita nikmati adalah perjuangannya menjadi lebih baik. Don, however, ingin berubah dari ia yang sebenarnya, tapi ia tidak tampak benar-benar ingin berubah. Imannya begitu lemah, jika boleh dibilang. Rumah yang ia beli adalah tempat wanita-wanita ditekan oleh pria-pria yang datang melampiaskan nafsu mereka untuk memegang kendali. Semua trauma ngumpul di sana, itulah ‘wujud’ sebenarnya hantu-hant di sana. Don gagal, dan segimana pun kita mungkin sudah bersimpati pada karakter ini, pada akhirnya kita menyadari ketoxic-annyalah yang menghalangi ia dari keinginan dan niat baiknya.

Anggap film ini sebagai peringatan bagi cowok-cowok (terutama fukboi) yang menganggap mereka pria hanya karena punya alat kelamin jantan, yang menganggap kejantanan mereka dibuktikan dengan mengobjektifikasi atau juga memaksakan kendali/power atas wanita. 

 

Sensasi nonton film ini mirip kayak nonton horor-horor 80an. Film ini punya adegan gore berupa kekerasan dengan graphic darah yang jelas. Penggemar anjing bisa jadi sedikit terdisturb karena Don di rumah itu gak sendirian, dia bersama anjing peliharaannya, dan film cukup nekat memaksimalkan peran karakter-karakter yang dipunya. Film ini juga punya elemen body-horor, akan ada adegan saat seorang tokoh mendapati sesuatu menjalar di balik kulitnya, dan ia akan menggunakan pisau cutter untuk berusaha mengeluarkan benda tersebut – you know, good stuff. Aku sudha menyebut rumah dalam film ini udah kayak hidup, jadi kita bisa menganggapnya sebagai tubuh lain untuk alat horor. Ya, segala macam cairan kental – coklat, merah, putih akan nongol di mana-mana. Penggemar horor tradisional akan suka sama film ini, karena memang mengingatkan kita pada masa 80an. Masa di mana keberadaan CGI dan efek komputer begitu minimal, dan merupakan sebuah berkah bagi kita penggemar horor. Karena semuanya jadi terasa otentik. Efek praktikal menghasilkan sensasi yang lebih kuat, kita hampir bisa merasakan cairan itu nempel di tangan sendiri. Mengenai aspek horornya, film ini dideskripsikan dalam satu kata; Jijik.

Tapi jijik yang menakjubkan.

 

Girl on the Third Floor jelas terlihat enggak punya budget gede, ini lebih seperti film kelas B, tapi di sini kita akan melihat budget minimalis menjadikan pembuat lebih kreatif. Adegan penampakan hantu enggak bersandar pada jumpscare melulu, film ini enggak menggunakan kamera panning kanan kiri, ampe muter-muter segala untuk menghasilkan efek seram. Melainkan, film ini menggunakan cermin. Lingkungan rumah yang sedang proses renovasi; barang-barang masih terletak tidak pada tempatnya, cermin-cermin bersandar serabutan di dinding atau di lantai setiap ruangan. Ini dijadikan film sebagai alat ampuh untuk menampilkan hantu. Background menampilkan cermin dan pada pantulannya kita akan melihat hal-hal ganjil. Ini menghasilkan sensasi menyeramkan yang menyenangkan. Kita jadi berusaha melek dan aware. Kayak main Where’s Waldo hanya saja waldonya menyeramkan.

Ngomong-ngomong soal 80an; clearly film ini berkaca, banyak mendapat pengaruh, dari salah satu body-horror paling legendaris; Hellraiser (1987). Cerita dua film ini memang jauh berbeda, tapi ada elemen dasar Hellraiser yang bisa kita jumpai pada Girl on the Third Floor. Rumah yang juga tiga lantai (termasuk loteng rahasia tempat setan). Dan cerita yang punya pergantian sudut pandang. Aku suka Hellraiser, namun memberinya pengurangan nilai karena struktur bercerita yang seolah membagi dua narasi, dan itu jugalah penilaian yang kuberikan pada film Girl on the Third Floor ini. Perspektif terakhir yang menggantikan Don berfungsi lebih seperti penjelas, atau bisa juga penyeimbang karena sejauh itu film dari sudut pandang laki-laki, untuk mengikat cerita rumah tersebut. Dengan kata lain, make sense untuk dilakukan. Tapi juga gak urgen-urgen amat, karena cerita aslinya sudah berakhir – dan ini kurang lebih seperti epilog dalam buku.

 

 

 

Menurutku cukup ‘lucu’ CM Punk yang gak betah di WWE karena disuruh bacain naskah dari storywriter dan lebih memilih melakukan promo sendiri, malah bermain peran menghidupi naskah yang ditulis scripwriter. Tapi Punk cocok meranin Don karena sikap Don sesuai dengan persona dirinya; sedikit angkuh, berlaga macho, suka mengayunkan tinju alias fisikal, makanya buatku akting Punk di sini belum bisa sepenuhnya dinilai karena ini adalah karakter yang biasa ia lakukan. Horor film ini klasik, ceritanya mengandung gagasan menarik bahkan dengan struktur naskah yang gakbener. Bagian awal film meski gak bosan sampai membuat kita pengen ‘go-to-sleep’, tapi memang terasa lebih lambat daripada yang lain, dan itu sebagian besar karena Punk masih canggung memikul seantero naskah dan akting vulnerable. Namun aku tetap positif dan mengatakan, ini awal yang menarik – baik bagi Punk maupun bagi Travis Stevens.
The Palace of Wisdom gives 5.5 gold stars out of 10 for GIRL ON THE THIRD FLOOR.

 

 

 

That’s all we have for now.

Menurut kalian kenapa hantu rumah memperlihatkan masa lalu rumah itu kepada istri Don, tapi tidak kepadanya? Bagaimana cara melawan toxic masculinity?

 

Share  with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.