Tags

, , , , , , , , , , , , ,

“The more things change the more they stay the same”

 

 

Sinopsis resminya (bisa dilihat di IMDB) menyebutkan bahwa Antebellum ini adalah cerita tentang “Veronica Henley, seorang penulis ternama, mendapati dirinya terjebak dalam kenyataan mengerikan yang memaksanya untuk menghadapi masa lalu, sekarang, dan masa depan – sebelum semuanya terlambat.” Supaya makin seru, aku mau memperinci sedikit bahwa Veronica si penulis itu sepulang dari kumpul cantik bersama sahabat mendapati dirinya terbangun di sebuah perkebunan, berisi prajurit kulit putih yang membentak-bentak, memanggil dirinya dengan nama Edan dan memaksanya bersama sejumlah ras kulit hitam lain untuk memetik kapas di ladang. Mereka tak segan berbuat kasar dan tak berprikemanusiaan. Veronica ternyata menghidupi kembali hal yang ia pertentangkan di bukunya; yakni perbudakan jaman dahulu. Dan dia harus segera memikirkan cara keluar dari masa lalu mengerikan tersebut dan kembali ke masa modern.

Pertanyaan terbesar yang hadir berkenaan dengan menonton film ini adalah bukan apa yang sebenarnya terjadi kepada Veronica. Melainkan bagaimana bisa film ini segagal itu dalam menjelmakan sinopsis yang sederhana-tapi-menarik itu menjadi satu tubuh cerita yang enak untuk diikuti. Karena Antebellum jelas-jelas bukan cerita sederhana-tapi-menarik. Arahan sutradara Gerard Bush dan Christopher Renz mengincar kepada twist alias kecohan. Membuat cerita ini menjadi ribet dan alih-alih membuat kita terpesona pada kecerdasan pengungkapan, Antebellum ini malah membuat kita mencak-mencak sambil geleng-geleng kepala.

ente udah ngerti bellum?

 

Struktur narasinya diacak sedemikian rupa sehingga, saat menonton ini tuh kita rasanya gatel untuk mengembalikan keping-keping itu ke susunan yang sepatutnya. Antebellum tampak ingin meneladani karya-karya M. Night Shyamalan, atau setidaknya pengen jadi sepinter ‘kakak-kakak’ seprodusernya; Get Out dan Us. Yang memjadikan ‘kejutan besar’ sebagai senjata utama. Hanya saja, film ini lupa untuk dapat membuat kejutan tadi benar-benar berarti. Supaya twist dapat berefek dan membuat penonton terheran-heran kagum, kuncinya bukan pada twist itu sendiri. Melainkan pada cara menghantarkannya. Begini, bayangkan sebuah jalan aspal. Tikungan yang bikin kita surprise adalah tikungan yang muncul ‘tiba-tiba’. Dan ‘tiba-tiba’ itu bukan seberapa ngelingker atau seberapa tajam si tikungan. Melainkan bagaimana kondisi jalan itu sebelum sampai ke tikungan; misalnya jalanan yang panjang dan lurus lalu tiba-tiba ia berkelok. Jalanan yang lurus nan panjang itulah yang ‘menipu’ kita. ‘Jalanan lurus nan panjang’ itulah yang justru tidak dipunya oleh Antebellum.

Karena sedari awal, film ini sudah berkelok. Babak pertama cerita mengambil panggung saat Janelle Monae sudah sebagai Eden. Dalam artian, cerita bermula di perkebunan tempat para white supremacist mengazab manusia yang berkulit berbeda dari mereka. Dengan segala bukti visual yang diperlihatkan, kita yang nonton diarahkan untuk menyangka cerita ini berada di masa lalu. Kekerasan dan kerasisan parah itu membangun kita untuk mulai terinvest sama karakter-karakter seperti Eden, atau ke seorang pria yang pasangannya ditembak di sekuen pembuka, atau ke seorang wanita yang tengah mengandung. Tiga-puluh menit kemudian, ketika kita sudah siap untuk sekuen ‘first try’ alias ketika stake mulai meningkat, kita penasaran langkah apa yang dilakukan Eden untuk bertahan satu hari penyiksaan berikutnya, cerita melompat. Pindah periode ketika Janelle Monae kini dipanggil Veronica – sesuai dengan sinopsis. Kita lalu melihat set up lagi; kali ini set up di kehidupan modern dengan hotel dan handphone dan uber; jauh dari kereta kuda dan kebun terbuka di babak pertama. Jadi film membuat kita seperti merasakan babak pertama dua kali dengan set up seperti begini. Tensi cerita lepas dan tergantikan oleh kebingungan. Cerita seperti meniatkan untuk kita menerka teka-teki apakah Eden mimpi tentang masa depan, atau dia terbangun menjadi seorang yang lain, atau apakah sebaliknya Veronica mimpi mengenai leluhur. Masalahnya adalah tidak satupun dari pilihan jawaban yang terpikirkan pada titik kita menonton saat itu masuk di akal.

Di babak ketiga, cerita membawa kita kembali ke Eden dan baru semua misteri perlahan bisa kita jawab. Namun semua itu sudah terlambat. Setelah kita mengerti, cerita tak pernah terasa ‘wah’ karena kita sudah burned out oleh dua set up. Dan parahnya lagi, setelah mengerti ceritanya, si film ini sendiri terasa biasa aja karena dia memang tidak punya banyak selain kelokan dan misteri susunan cerita tersebut. Sebelum ngomongin soal isu atau gagasan yang diangkat – yang memang relevan, tapi gak terasa menohok karena diceritakan dengan begitu fantastis dan terlalu klise – aku mau nyumbang saran dulu soal struktur narasi Antebellum. Menurutku jika film ini mengabaikan kepentingan ngetwist penonton dan lebih memilih untuk menguatkan drama dan kebingungan karakter, maka memang seharusnya alurnya dibuat linear saja. Mulai dengan Veronica, lalu adegan yang menyebabkan dia black out, dan kemudian barulah dia terbangun seperti pada babak pertama film. Dengan begitu cerita bisa akan berlanjut dengan narasi si Veronica berusaha mencari tahu apa yang terjadi – pertanyaan apakah dia mundur ke masa lalu atau apakah dia mimpi seperti mimpi Alice ke dunia ajaib akan personally melekat ke dia. Menyaksikan Veronica menguak ini tentunya emotionally akan lebih dramatis dan mengundang, ketimbang membuat hanya penonton yang terbingung-bingung. Garis nyata dan fantasi itu bisa semakin blur. Lebih bagus lagi kalo semua teman-teman Veronica juga tampak ada di dunia Eden, sebagai orang lain.

Musiknya ngingetin sama musik kartun X-Men

 

Karena teman-teman Veronica itu adalah bagian dari isu yang digambarkan oleh film ini. Antebellum mengusung pertanyaan seputar perlakuan timpang yang dilakukan orang kepada orang lain yang berbeda dengannya. Perlakuan yang cenderung kasar atau merendahkan. Film ini tampak memparalelkan kejadian pada supposedly dua kurun waktu berbeda. Pada ‘dunia’ Eden, orang kulit putih semena-mena. Dan pada ‘dunia’ Veronica kita lihat orang kulit putih yang jadi kelas pekerja, bahkan dihardik-hardik oleh salah seorang teman Veronica. Film seperti ingin menunjukkan ketika orang sudah mulai banyak aware terhadap rasisme, misalnya, itu bukan berarti praktik-praktiknya hilang menyeluruh. Hal ironi yang dicontohkan oleh film ini adalah soal acara ‘reenactment’. Acara yang digelar untuk memperingati sejarah, dengan langsung bermain peran sesuai dengan zaman yang di-reenact. Dalam film ini, acara seperti itu ditambahkan volume horornya, dibuat sebagai ‘sarana’ bagi white supremacist untuk membunuhi orang-orang kulit hitam. Jadi sebenarnya sekarang pun orang masih mengakui pengotak-kotakan tersebut. Veronica saja menulis buku berjudul ‘Liberation over Assimilation’, seolah ia percaya asimilasi itu cuma kedok.

Meskipun waktu sudah membuat zaman berubah, banyak hal berubah, namun beberapa hal masih tetap sama. Perilaku manusia yang mementingkan kepentingan golongan, itu masih ada. Perilaku diskriminasi, juga masih ada. Hanya bentuk dan intensitasnya saja yang mungkin berbeda.

 

 

Gaya visual yang dipunya oleh film ini tenggelam di balik kekerasan maupun pemberdayaan yang keduanya sama-sama tampak superfisial tersebut. Tracking shot panjang yang dilakukan dengan precise di adegan pembuka itu adalah satu-satunya hal yang keren yang dilakukan oleh film ini buatku. Slow-motion yang dipake sebagai penutup adegan itu juga dilakukan dengan dramatis. Kupikir film ini bakal jadi seepik itu hingga akhir. Ternyata tidak. Dramanya terasa kosong, adegan-adegan berikutnya tampak biasa saja dan hanya fokus ke kekerasan demi kekerasan. Terlebih karena tiga puluh menit berikutnya semua itu seperti sirna. Narasinya yang tak beraturan benar-benar menjatuhkan film ini. Strukturnya hanya digunakan untuk membuat kita bengong, tanpa mampu melekatkan rasa apa-apa
The Palace of Wisdom gives 3 out of 10 gold stars for ANTEBELLUM

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Apakah kita benar-benar doomed to repeat history?

Share  with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA