BUDI PEKERTI Review

 

“Never explain yourself to anyone. Because the person who likes you doesn’t need it. And the person who dislikes you won’t believe it.”

 

 

Tujuh belas nominasi FFI dikantongi oleh film-panjang kedua Wregas Bhanuteja ini. Fakta prestasi tersebut kentara bisa mess with ekspektasi dan ‘tuntutan’ kita – terutama aku yang prefer nonton film tanpa tahu banyak tentangnya, Apa iya film ini sebagus itu. Yang jelas setelah ditonton, ternyata Budi Pekerti juga merupakan sebuah gambaran yang sangat relevan. Sama seperti Penyalin Cahaya tahun lalu. Wregas kembali menghadirkan potret, yang mungkin lebih lugas, karena cerita kali ini terasa lebih grounded tanpa elemen kasus ala thriller whodunit. Budi Pekerti berada di dalam kotak yang sama dengan film-film seperti Not Okay (2022) dan John Denver Trending (2019); film-film  yang khusus menelisik perilaku sosial di era internet sekarang ini. Budi Pekerti mengangkat persoalan dari gimana society modern kita yang katanya ‘melek sosmed’ bekerja dan dinamika positif-negatif yang menyertainya. Mungkin sosmed banyakan negatifnya, karena konflik di cerita ini justru mulai menggunung ketika protagonisnya mencoba melakukan the supposedly right thing to do, di internet.

Bayangkan seorang guru BK SMP yang begitu lovable sampai-sampai mantan murid dari angkatan 10 tahun yang lalu masih bisa mengenali beliau walau dari balik masker, harus terancam batal diangkat jadi wakasek, hanya karena videonya sedang ribut dengan seorang penyerobot antrean diambil ke luar konteks, disalahartikan, dan jadi viral. Dengan premis tersebut, Budi Pekerti literally mempertanyakan ‘apa perlu mata pelajaran budi pekerti diajarkan kembali?’ Di pasar itu, Ibu Prani tadinya hanya coba menegakkan hal yang benar, seperti yang biasa dilakukannya saat mendidik murid di sekolah. Dia akan menegur murid yang melakukan kesalahan, lalu memberikan hukuman – yang ia sebut refleksi – supaya murid bisa mengerti dan memahami perbuatan mereka salahnya di mana. Namun gak semua orang senang mendapat pelajaran berharga seperti itu. Video viralnya membuat Ibu Prani diserang netijen, beliau panik dan berusaha menjelaskan keadaan dengan membuat video klarifikasi. Video yang lantas jadi bumerang. Sehingga bukan hanya kerjaannya, kehidupan personal Bu Prani dengan keluarga, dengan dua anaknya yang influencer juga terkena imbas.

Ini juga kenapa anak-anak muda agak males kalo orangtua mereka main sosmed

 

Inilah bagian yang paling menarik dari Budi Pekerti. Perilaku sosial media masyarakat kita benar-benar ditelanjangi. Perilaku yang makin menjadi-jadi sejak kita semua terkurung oleh pandemi. Dan pada kurun itulah persisnya cerita ini menempatkan diri. Some say kini kita hidup di era post-truth. Jaman di mana kebenaran itu bukan lagi soal yang beneran benar. Film ini bulat-bulat menyebut bahwa salah dan benar sekarang ini adalah cuma perkara siapa yang paling banyak omong. Penghakiman netijen-lah yang memutuskan yang mana yang ‘benar’. Dan mereka menilai itu dari potongan-potongan video, cacah-cacahan narasi. Tindak apapun yang dilakukan Ibu Prani dalam upaya membersihkan namanya hanya akan jadi materi kulikan dan asumsi liar dari netijen.  Yang akan mengambil hanya yang sesuai dengan narasi masing-masing. Satu lagi yang berhasil tergambar oleh film ini tentang perilaku bersosmed masyarakat adalah, masyarakat hanya ikut-ikutan. Bahwa kita memposting sesuatu bukan lantas berarti kita peduli sama permasalahannya. Sebagian besar waktu, yang dipedulikan adalah citra masing-masing.

Inilah makanya sosmed jadi ‘berbahaya’.  Smartphone dibuatnya tak ubah seperti pistol. Kita bisa membidikkannya kepada orang lain, dan menjepret kelakuan-kelakuan buruk mereka. Atau kita bisa point that thing ke wajah sendiri. Dan dor! Hasilnya ya fifty-fifty. Antara orang jadi kasihan dan menempel ke narasi kita. Atau kita ‘mati’ ngebuka aib sendiri. Aku menebak pastilah proses riset dan nulis naskah film ini sangat mengasyikkan. Film ini benar-benar paham perilaku-perilaku tersebut, mereka menjadikannya ke dalam plot-plot poin, dan sukses memasukkannya ke dalam bangunan cerita yang terus ngebuild up ke drama. Yang terus jadi rintangan yang bikin susah hidup protagonis kita yang punya sense moral tersendiri. Ngeliat Bu Prani tetap membuat video klarifikasi meskipun sudah dilarang menghasilkan dramatic irony. Kita tahu dia benar, tapi kita juga tahu bahwa dia akan ditelan bulat-bulat di jagat sosmed. Anak-anak Bu Prani berusaha ‘menyelamatkan’ muka ibu mereka sambil juga mengamankan muka sendiri, ngeliat apapun counter video yang mereka lakukan selalu dicounter lagi, membuat keadaan justru semakin memburuk — cerita film ini berkembang ke hal-hal yang sebenarnya deep inside sudah kita antisipasi karena film ini begitu dekat dengan sosial kita sekarang, tapi sekaligus kita juga kasihan dan ikut benar-benar merasakan outcome yang tak terkontrol yang dialami oleh para karakter yang sedang berjuang tersebut.

Karena nature cerita yang seperti demikian, setiap karakter di sini ngalamin perjalanan personal masing-masing. Membuat film jadi punya banyak adegan yang unik. Para aktor dipersilakan oleh Wregas untuk menggali momen-momen ‘seru’ yang mungkin gak bisa mereka dapet pada film-film yang lebih mainstream. Angga Yunanda dan Prilly Latuconsina, misalnya. Mereka jadi anak-anak Bu Prani. Denger mereka ngomong jawa aja udah fresh. Sebagai influencer daerah, Angga di sini dilepaskan dari image karakter remaja yang cool, di sini rambutnya pirang jamet. Prilly, jadi kakak, karakter yang lebih jutek dan contained dibanding tipikal peran utama yang biasa diberikan kepadanya. Kekuatan akting mereka jadi keluar, untuk kita nikmati. Angga dikasih adegan nangis kecewa sama diri sendiri. Prilly dikasih ngomel sendiri, ada monolognya di kolam lele yang menurutku scene yang memorable. Dwi Sasono sebagai ayah yang depresi karena usahanya bangkrut efek pandemi ngasih tambahan elemen volatile bagi permasalahan keluarga mereka, Dwi Sasono perfect fit buat karakter tak-tertebak semacam ini. Tapi yang paling tak terduga adalah Omara Esteghlal. Karakternya, Gora, muncul di awal sebagai mantan murid yang dulu pernah kena ‘hukuman refleksi’ khas Bu Prani. Cerita nanti bakal circle back ke Gora, karena actually hubungan guru dan murid Prani dengan Gora jadi kunci bagi perkembangan Prani sebagai karakter utama.

Main-main di sosmed itu kadang kayak menggali kuburan sendiri

 

Satu lagi yang ditunjukkan oleh Wregas sebagai bentuk kepiawaiannya bercerita selain punya ritme membuild up rintangan dan gencetan untuk karakter utama, adalah dia paham untuk membuat ceritanya balance. Di Penyalin Cahaya, Suryani yang posisinya korban tidak serta merta selalu benar, bahwa ada momen ketika Suryani genuinely merasa dia telah melakukan pilihan yang salah. Budi Pekerti juga begitu. Ini bukanlah ujug-ujug kisah tentang guru baik yang terjebak dalam situasi sulit. Bu Prani memang disukai murid-murid dan kolega, tapi langkah yang diambilnya, aksi yang dia lakukan, adalah aksi yang genuine. Dia manusia yang bisa salah. Runyamnya masalah keluarga mungkin telah membuat aksinya sedikit keterlaluan. Metode ajarnya, mungkin, berdampak buruk ke murid. Momen-momen Bu Prani meragukan diri, bergulat dengan nurani, dengan apa hal yang benar dan apa hal yang harus ia lakukan ternyata boleh jadi tidak sejalan, terdeliver nyata lewat akting Sha Ine Febriyanti. Aku sendiri sebenarnya, dulu sebagai murid, gak suka dengan tipe ‘guru baik’ seperti Bu Prani. Aku lebih suka sama guru yang terang-terangan killer dan suka ngasih hukuman tegas ketimbang guru yang metodenya pasif agresif. Tapi Bu Prani berhasil bikin aku peduli, dan membuatku bisa melihat kenapa guru yang seperti dia dibutuhkan oleh murid-murid.

Orang yang mendukungmu tidak perlu penjelasanmu. Orang yang membencimu tidak akan mau mendengarkan penjelasanmu. Oleh karena itu, kita sebenarnya tidak perlu menjelaskan perbuatan kita. Apalagi di internet. Karena orang hanya akan mengambil apa yang mereka mau dengar. Apa yang masuk ke dalam narasi mereka masing-masing. Itulah sebabnya kenapa video klarifikasi sama sekali tidak membantu Bu Prani. Yang dia perlukan hanyalah menyelesaikan persoalannya dengan orang-orang terdekat. “Maaf”nya Bu Prani cukup dialamatkan kepada mereka-mereka saja.

 

Walau sudah berimbang sehingga drama kisah ini jalan dan kita duduk di sana mengikuti dengan gamang dan penuh harap sepanjang durasi, tapi masih terasa film ini kasihan terhadap Bu Prani. Dan ini buatku agak sedikit memflatkan journey Bu Prani. Pilihan yang dilakukan film sebagai ending, sudah cocok. Benar sebagai akhir journey Prani. Ibu itu sudah minta maaf kepada orang-orang yang tepat. Dia sudah mengenali ‘kesalahannya’ apa. Hanya saja film-lah yang seperti tidak benar-benar tega kepada Bu Prani. Padahal menurutku sebenarnya tidak masalah jikalau memang metode hukuman refleksi Bu Prani berdampak sedikit negatif kepada muridnya ketika mereka sudah dewasa. Namun cara film memperlakukan ‘dampak sedikit negatif’ tersebut, buatku seperti sedikit menyepelekan case yang mereka angkat sendiri. I would like to see Bu Prani maafnya itu benar-benar pure maaf ketimbang masih ada sedikit kesan “Ibu gak salah kok” dari muridnya. Apalagi setelah adegan dia menyelami kata hatinya sendiri. Supaya koneksi mereka bisa lebih ‘manusia’. Lebih daripada frame antara guru dan murid.

 




Seperti pesannya, film juga tak harus menjelaskan dirinya. Kenapa dia bisa dapat banyak nominasi. Pecinta film akan tetap menonton. Dan baru saat menonton itulah, kita bisa menilai sendiri. Film ini dibuat sebagai potret, sebagai komentar, tentang perilaku masyarakat kita dalam berjejaring sosial. Tempat di mana interaksi sosial tidak lagi genuine sebagaimana mestinya. Tempat di mana hal yang benar bisa jadi sebuah kesalahan, karena semua orang punya agenda personal, yang bikin kita hanya melihat sepotong-potong. Bahkan permintaan maaf saja bisa cuma dijadikan kedok citra semata. Bukan sebuah maaf yang tulus. Dengan penceritaan yang berimbang, film ini mengingatkan seperti apa interaksi sosial sesungguhnya. Identitas dan perspektifnya yang dekat, membuat kisah film ini mudah dicerna. Benar-benar terasa urgent untuk ditonton sekarang. Ada minor-minor nitpick tapi pesan dan kerelevanan ceritanya outweight that.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for BUDI PEKERTI

 




That’s all we have for now.

Apakah menurut kalian pelajaran budi pekerti khususnya di media sosial memang harus diadakan kembali?

Share pendapat kalian di comments yaa

Setelah nonton ini,  kalian yang masih pengen tontonan seru bisa coba serial Hijack, serial thriller seru tentang pembajakan di pesawat yang dibintangi oleh Idris Elba di Apple TV+ Yang pengen ngerasain ketegangannya bisa langsung subscribe dari link ini yaa https://apple.co/46yw8RX

Get it on Apple TV
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA and BEST BOOK REVIEW HORROR & THRILLER EDITION ON TWINKL



Comments

  1. estherselyn says:

    MAS ARYAAA!!! makasih banget reviewnya yang selalu aku tunggu-tunggu terutama kalau soal film Indonesia Rate 7,5 ini luar biasa banget sih! setuju banget sama reviewnyaa, scene menuju ending bersama Gora di toilet itu yang agak sedikit ‘flat’ tapi akhirnya cukup termaafkan dari detail kecil yang menarik saat Boni dkk datang mau mengucapkan salam perpisahan ke Bu Prani dan semua muridnya pakai masker, lalu Bu Prani nya nyadar dia lupa dan akhirnya dia pakai masker itu juga. Wregas hebat dan detail banget jujur, tapi di satu sisi dia memberikan ruang untuk pemainnya berkarya juga

    • Arya says:

      ESTHER!! terima kasih sudah mampir baca (hahaha kenapa jadi kayak teriak-teriak)
      Iyaa, hangat banget ya momennya pas Boni dan anak-anak lain datang ‘mengucapkan’ perpisahan kepada Bu Prani. Wah aku luput tuh momen Bu Prani nyadar dia lupa pakai masker. Keren sih, berarti memang pandemi dan atribut2nya itu bukan cuma tempelan penanda jaman ya, sama Wregas detil cerita itu benar-benar jadi momen yang membuat filmnya lebih hidup

  2. Kiminx says:

    Abis nonton, keluar bioskop hati terasa kosong. Sebegitu buruk dan kotor dunia maya membuat kebenaran dan kesalahan benar² abu² dikendalikan oleh opini yang dibangun.
    Bener banget bhw budi pekerti hari² ini sudah menjadi usang dan tdk relevan lagi. Semoga Kita tidak kehilangan suara hati nurani sebagai manusia yang berbudi pekerti.

    • Arya says:

      Yang ngerinya lagi itu adalah kenyataan bahwa hal-hal di dunia maya itu sudah dianggap lebih relevan dan benar dibandingkan dengan di dunia nyata. Kayak, orang-orang di sekitarnya itu tahu Bu Prani orang baik, tapi tetap saja mereka lebih ‘peduli’ sama citra yang tanpa kendali nempel pada Bu Prani oleh jagad dunia maya.
      Kenapa sih hal-hal di dunia maya itu gak kita cuekin aja, kenapa harus dijadikan ‘bahan pertimbangan’ untuk ngukur orang di dunia yang sebenarnya, toh semua orang udah sama-sama tahu di internet itu isinya editan dan narasi palsu semua.

  3. Farah says:

    Mas Arya, maaf banget oot, tapi udah nonton Gadis Kretek belum? Kalo udah, quick review + scorenya donggg hahahaha lagi lagi penasaran dari pov mas Arya gimana.

    Aku baru banget selesai nonton hari ini, jujur draining banget nontonnya, tapi satisfying. Scoringnya bagus, kualitas actingnya juga memuaskan. Personally 7.5/10 darikuuu, buat series indo tuh cukup jadi breakthrough sih.

    Terus, tadinya kan udah niat mau nonton Budi Pekerti hari ini, tapi jadi postpone dulu krn masih post-Gardis Kretek hahahaha, takut banget dejavu Barbenheimmer yg 22nya berat, trs otakku ngebul 😀

  4. Farrah says:

    Mas Arya, maaf banget oot, tapi udah nonton Gadis Kretek belum? Kalo udah, quick review + scorenya donggg hahahaha lagi lagi penasaran dari pov mas Arya gimana.

    Aku baru banget selesai nonton hari ini, jujur draining banget nontonnya, tapi satisfying. Scoringnya bagus, kualitas actingnya juga memuaskan. Personally 7.5/10 darikuuu, buat series indo tuh cukup jadi breakthrough sih.

    Terus, tadinya kan udah niat mau nonton Budi Pekerti hari ini, tapi jadi postpone dulu krn masih post-Gardis Kretek hahahaha, takut banget dejavu Barbenheimmer yg 22nya berat, trs otakku ngebul 😀

    • Arya says:

      Baru satu episodee hahaha.. aduh susah aku kalo review series. Aku nonton serial pasti lama, karena cuma nonton pas makan. Itupun seriesnya ganti-gantian tergantung lagi makan apa. Masih lama kayaknya aku namatin Gadis Kretek xD

  5. Albert says:

    Iya memang refleksi Bu Prani itu kayaknya agak serem2 juga ya. Gali kuburan, dengerin kata negatif gitu. Mungkin bisa ada satu yang beneran akibat negatif biar minta maafnya lebih tulus. Tapi di luar itu ini salah satu film indo terbaik sih. Sangat relate dan menggambarkan palsunya dan kejamnya penghakiman medsos.

    • Arya says:

      Iya, paling enggak ditekankan sedikit lagi kalo efek yang dialami Gora itu sebenarnya ngenes/bukan hal yang ‘netral’

      Haha ngeri banget medsos, kayaknya memang paling aman kalo kena ‘kasus’ di sono, diemin aja udah. Beresinnya langsung personal di dunia nyata sama yang bersangkutan aja mendingan.

  6. Arlene says:

    Ngomel – ngomel dan gali kubur..Keduanya sama-sama punya intuitive association yang gak favourable. Makanya pas dijadiin clickbait, sukses deh panen reaksi. Setiap respon Bu Prani pun gak lepas dari impact ini. Klarifikasi yang tadinya untuk selesaiin masalah sebelumnya malah membuka celah baru.

    Sempet ada dialog yang bilang apakah pelajaran Budi Pekerti harus diajarin lagi.. Jadi kepikiran bagaimana akan ngajarnya ketika yang benar salah ga selalu hitam putih, tapi bisa dibikin abu-abu

    • Arya says:

      Haha iya sih, tapi aku jadi kepikiran kata-kata Dumbledore: orang lebih mudah memaafkan yang salah, daripada yang benar. Jadi mungkin kalo ada pelajaran budi pekerti lagi, yang diajarinnya bukan siapa salah siapa benar, tapi lebih ke gimana tata krama menyingkapi sesama manusia regardless dia salah atau dia benar.

  7. Fufu says:

    Setelah film berakhir, aku tidak terasa nangis, lalu teringat sebuah spanduk di jalan tol menuju rumah Rafi Ahmad, ada gambar Yusuf Hamka dengan tulisan “Yang benar bisa saja kalah tapi tidak akan pernah salah.” Tulisan itu seperti ringkasan pendek film Budi Pekerti. Senang banget bisa melihat film Indonesia yang bukan hanya sekedar bagus, tapi debatable, sama seperti judulnya, film ini ibarat mata pelajaran yang bisa di petik hikmah nya, bahwa dunia yang kita huni sekarang ini tidak baik baik saja, pergeseran nilai kemanusian semakin jelas, yang benar kalah oleh suara terbanyak, gila memang tapi itu realita.

    Teringat lagi berita tentang suami Raisa di media massa, hanya gara-gara komen seseorang di medsos, komen tersebut dianggap benar dan jadi viral, lucu nian.

    Sayang film ini hanya menang di dua kategori dari 17 nominasi, aneh juga sih, tapi itulah pilihan juri, seperti pilihan Bu Prani mengakhiri kekisruhan yang terjadi dalam hidupnya.

    Ah, terima kasih Wregas dan tim sudah membuat film sebagus ini. Jadi semangat mengunggu film-film Wregas berikutnya setelah Budi Pekerti dan Penyalin Cahaya yang menimbulkan harapan bahwa film Indonesia akan baik-baik saja kedepannya.

    • Arya says:

      Wah great quote “Yang benar bisa saja kalah tapi tidak akan pernah salah” Miris memang, karena sekarang justru yang benar yang harus banyak bersabar dan mengalah.

Leave a Reply