PETUALANGAN ANAK PENANGKAP HANTU Review

 

“Greed makes a ghost story”

 

Sebagai anak yang tumbuh bersama generasi kartun Scooby-Doo dan buku-buku detektif misteri anak seperti Trio Detektif dan Lima Sekawan, tentu saja aku tertarik pengen nonton film Jose Poernomo yang satu ini. Genre yang terbilang langka buat anak-anak di masa sekarang. Serta merupakan langkah yang cukup beresiko di tengah gempuran horor ‘beneran’ di skena perfilman lokal. Terbukti saja, saat menonton memang cuma aku satu-satunya ‘anak’ di dalam studio. Anak-anak benerannya mungkin pada lebih tertarik sama horor yang lebih dewasa, atau sama film orang pacaran. Enggak sepenuhnya bisa disalahkan, tapi aku heran aja sih. Karena, di luar bagus atau tidaknya kualitas, konsep sekelompok anak kecil membantu orang dewasa memecahkan kasus misteri ini used to be staple dalam cerita untuk anak-anak. Cerita-cerita semacam inilah yang awalnya memperkenalkan anak-anak 90an ke genre horor atau misteri atau thriller whodunit. Apakah zaman memang sudah seberubah itu? Anyway, kembali ke filmnya. Petualangan Anak Penangkap Hantu mengikuti format cerita detektif misteri anak, enggak ada hantu beneran – cuma manusia yang tamak sebagai dalang kejahatan. Lucunya, yang perlu dijadikan catatan adalah, film ini, berakhir jadi beneran creepy. Tapi untuk alasan yang lain.

Anak Penangkap Hantu adalah nama grupnya. Anggota mereka adalah Rafi, Chacha, dan Zidan. Dari poster dan hiasan di kamar masing-masing, kita tahu Rafi anaknya suka petualangan, Zidan brain of the group, dan Chacha, well, kamarnya berhias poster Princess Disney, versi live action modern! Jadi kita tahu Chacha bukan anak cewek lemah yang harus diselamatkan. Malahan, Chacha dengan senang hati berperan sebagai umpan saat mereka mulai menangkap ‘hantu’. Ya, tiga anak ini pemberani, slogan mereka aja “Saatnya hantu takut sama anak-anak!” Geng APH percaya hantu itu gak ada, mereka menangani banyak kasus hantu yang ternyata adalah kasus orang mau maling, lalu nyamar jadi hantu. Kepercayaan mereka tersebut mendapat ujian, saat mereka dimintai tolong oleh Kak Gita untuk mengungkap kasus kutukan penunggu hutan di desa Segoro Muncar. Desa tersebut telah lama kekeringan dan banyak kasus orang hilang. Gak gampang bagi geng APH menguak kasus di sana, karena kepercayaan mereka berbenturan dengan adat istiadat warga desa yang percaya sama makhluk gaib. Makhluk yang, by the way, dalam beberapa kesempatan menampakkan wujudnya. Menakuti-nakuti Rafi, Chacha, dan Zidan.

You know Zidan is a ‘real deal’ begitu lihat di kamarnya ada poster Elon Musk sebelahan ama poster Einstein lol

 

Sebenarnya apa sih yang bikin cerita detektif misteri anak-anak seperti ini bisa menarik bagi audiens cilik? Ini pertanyaan yang bikin aku kepikiran, kenapa dulu waktu kecil aku rela telat ikut main di luar rumah, supaya gak ketinggalan episode Scooby-Doo? Sampai nekat nyelipin buku Trio Detektif di dalam Al-Quran untuk dibaca di sela-sela belajar ngaji? Yang bikin kecantol in the first place, rasanya adalah dunia dan karakter-karakter ceritanya. Entah itu Scooby-Doo (anjing yang bisa ngomong!) dan sobat manusianya Shaggy yang lucu dan paling penakut, Georgina di Lima Sekawan yang tomboi dan lebih suka dipanggil George, atau trio Jupe-Pete-Bob dengan dinamika mereka yang saling mengisi kelemahan masing-masing.  Lalu tentu saja misteri yang ditawarkan. Misteri siapa yang jadi hantu, siapa sebenarnya pelaku, gimana sesuatu yang mengerikan ternyata cuma trik. Bukan hanya soal jawaban, tapi ada sesuatu yang justru melegakan buatku saat masih kecil itu untuk mengonfirmasi bahwa hantu yang selama itu mengganggu Scooby-Doo ternyata cuma manusia. Bukan hantu beneran. Bahwa semua hal supranatural ada penjelasan masuk akalnya. Ngikutin cerita membuka tabir misteri, walaupun masih dalam tahap sederhana, selalu sukses jadi daya tarik.

Untuk urusan pembangunan misteri tersebut, film Petualangan Anak Penangkap Hantu ini pun melakukannya dengan cukup menarik. Setidaknya, berhasil menjaga di dalam garis yang bisa dinikmati oleh penonton cilik. Unsur horor sebagai red herringnya cukup tampak mengerikan dengan benda-benda bergerak sendiri dan sosok hantu yang seperti melayang dengan jubah menjuntai. Dari segi penulisan, film ini pun masih dalam taraf yang bisa dimengerti oleh anak. Tidak banyak memakai istilah yang membingungkan. Investigasinya ringan. Jawaban berbagai misteri soal kenapa desa kekeringan, kenapa banyak orang yang menghilang, kenapa hantunya bisa kayak gitu, bisa gerak-gerakin benda, perlahan diungkap dan dijawab di akhir dengan penjelasan yang bisa dimengerti oleh anak-anak. Penonton cilik akan bisa mengikuti misteri yang dihadirkan. Sembari melakukan itu, film ini juga bicara kepada penontonnya tersebut soal gimana generasi sekarang, generasi yang lebih muda, harusnya bisa lebih menghormati budaya sendiri. Aku suka alasan pertama Rafi ingin menolak rekues kasus dari Kak Gita, karena dia takut nanti mereka tak tahu adat di sana, takut mereka nanti salah bertindak dan dianggap tidak menghormati warga. Sudut pandang warga yang percaya hal gaib dalam cerita ini diwakili sebagian besar oleh Wak Bomoh yang diperankan oleh Sujiwo Tejo. Beliau adalah tetua yang mengurusi ritual-ritual kepercayaan sehubungan dengan penunggu hutan di desa, yang berperan sebagai rintangan terbesar geng APH dalam menyelidiki kasus. Wak galak ini yang ngasih larangan dan aturan-aturan yang tak boleh dilanggar, termasuk main ke hutan. Yang, ya bisa ditebak, setengah aturan tersebut langsung dilanggar oleh APH yang malah kemping di dalam hutan dekat tempat sesajen hahaha

Untuk penonton dewasa, film ini lewat kasus yang ditangani APH kayak ngasih gambaran lucu. Karena, ini adalah kasus di mana seseorang yang berkuasa memanfaatkan kepercayaan warga untuk keuntungannya pribadi. Ketamakannya membuat ia tega mengarang cerita palsu dari kepercayaan warga, ketamakannya membuat ia rela melakukan stage act, aksi-aksi panggung, gimmick hantu untuk memuluskan uang masuk ke koceknya. Di mana ya sepertinya kita melihat tindak-tanduk yang sama?

 

Walau konflik dan dinamika antarkarakternya juga bisa dimengerti dan dekat dengan anak-anak, karakter-karakter ceritanya itu sendiri masih belum luwes. Masih seperti hidup dalam pengertian orang dewasa yang berusaha menulis karakter anak. Urusan karakternyalah, menurutku, letak kelemahan film ini. Dinamika yang menarik sebenarnya ada, kayak, Rafi dalam usia beranjak remaja, mulai naksir-naksiran sama Chacha. Natural dan relate, hanya film ini seperti gelagapan menjadikan itu sebagai sandaran utama menghidupkan karakter. Selebihnya karakter film ini, at best, aneh. Di momen satu-satunya cerita ini ada stake – saat geng APH actually dalam bahaya – film meremehkan efek kejadian tersebut untuk momen flirt Rafi ke Chacha. Bayangkan anak sekecil itu jatuh dari tebing karena tali panjat tebingnya diputus, dan dia masih bisa bercanda untuk memancing simpati temannya.

Panjat tebing? film ini punya wild sense of adventure. Mungkin untuk menunjukkan anak-anak jaman sekarang sangat capable menggunakan gadget dan teknologi, maka film menggunakan banyak aksi yang way over the top sebagai sarana para detektif cilik menginvestigasi kasus. Jadi, mereka ingin menelurusi sungai untuk melihat kenapa air sungai itu kering dan alirannya gak sampai ke desa. Karena gak mungkin jalan kaki sejauh itu, maka kupikir mereka akan menggunakan drone. But oh boy, betapa kelancanganku sebuah dosa besar. Rafi, Chacha, Zidan yang pemberani itu pakai drone? Cuih lemah. Mereka langsung terbang ke lapangan, as in terbang melayang pakai parasut! In a way, kalolah film memang mengincar sesuatu yang over sebagai pengganti momen-momen komedi dari tingkah laku ajaib Scooby dan Shaggy, aku pikir film ini berhasil dengan segala gadget parasut, panjat tebing, dan hal-hal luar biasa untuk dilakukan sekelompok anak kecil di dalam hutan seperti itu. Tapi masalahnya, momen-momen aksi itu cuma momen. Vibe film, apakah seru over the top, apakah konyol seperti Scooby Doo, apakah spionase sersan (serius tapi santai) seperti Spy Kids, tidak diset oleh film. Yang diset baru soal misteri dari peristiwa supranatural.

Muzakki Ramdhan udah kayak McKenna Grace versi Indo, filmnya begitu banyak sehingga kayak muncul random, kadang dia masih kecil kadang dia udah dewasa

 

Pemerannya, Muzakki Ramdhan, Giselle Tambunan, M. Adhiyat, sih tampak fun-fun aja. Film yang justru seperti kesusahan membentuk karakter mereka. Tidak ada development. Yang ada justru karakter mereka seperti berubah-ubah. Kadang Zidan kayak serius pinter, kadang kayak anak kecil clueless ala film horor yang malah mendekat ke arah bayangan hantu. Film juga cuma bisa nunjukin Zidan ama Chacha kakak-adik dengan adegan pelukan setiap kali mereka selamat dari kejaran hantu. Selebihnya, mereka jarang sekali berinteraksi berdua. Si Rafi, kadang disebut pemberani, tapi di lain adegan justru dia yang paling teriak-teriak ribut saat sesuatu yang seperti hantu menampakkan diri. Kalo kita ambil perbandingan kartun Scooby-Doo sekali lagi, Rafi ini kayak Fred dan Shaggy disatukan. Scooby-nya siapa? Well, karakter di film ini memang seperti kekurangan sesuatu. Maskot. Kalo di cerita detektif cilik 90an, biasanya geng protagonis punya peliharaan. Ada Scooby, ada Timmy. Yang fungsinya perekat yang menyatukan para karakter. APH punya paman yang nyupirin mereka ke mana-mana. Namanya Bang Dul. Dia inilah yang perannya seperti Scooby-Doo, sebagai comedic relief, juga sebagai penolong anak-anak.

Dalam cerita yang ditulis dengan lebih matang (meski cerita untuk anak), karakter-karakter itu tidak akan melulu soal menyelediki hantu. Akan ada growth pada sifat mereka. Maybe, kelompok ini akan gagal, atau akan berselisih paham, atau berpisah, lalu dibantu damai kembali oleh Bang Dul yang membuat mereka melihat situasi dan kesalahan mereka. Karakter Kak Gita, juga tidak akan cuma jadi orang yang minta tolong, lalu jadi korban hilang. Kenapa orang dewasa sampai meminta tolong anak-anak, juga akan digali oleh naskah yang kuat penulisan karakternya. Tidak hanya sekadar menyederhanakan karena mereka sudah terkenal mampu. At least, saat nanti dalam bahaya, harusnya ada kekhawatiran dari orang dewasa seperti Gita. Film ini kelewat simpel, sampai-sampai hal menjadi unintentionally menjadi amat sangat creepy, dan di film ini justru jadi solusi, justru jadi waktu bagi karakter Bang Dul memenuhi fungsi perannya sebagai penolong. Bang Dul berhasil melacak Gita karena dia yang kesengsem sama gadis itu diam-diam telah menaruh tracker di dalam kalung yang ia berikan. Duh! Film ini mau bicara tentang tindak kriminal? That is the crime hahaha

 




Aku senang ada film ini. Genre detektif cilik selalu dapat tempat di hati. Menurutku anak-anak perlu lebih banyak tontonan horor atau misteri yang benar selevel dengan mereka. After all, bayi merangkak dulu baru bisa lari kan. Hanya saja, untuk standar cerita anak sekalipun, film ini aim terlalu rendah. Dari segi penulisan kasus dan arahan misteri supranaturalnya, film ini cukup mengerti bagaimana melakukan itu ke dalam level penonton anak-anak. Kadar ngerinya pas, kadar teka-teki atau investigasinya pas. Tidak sampai berat atau membingungkan. Tapi dari segi penulisan karakter, film ini masih meraba-raba. Akibatnya karakterisasi geng protagonis tidak konsisten, mereka beneran lebih kayak sekelompok anak di tempat yang tak seharusnya, dan tau-tau bisa banyak hal dan memecahkan kasus. Lewat bantuan tindakan seorang creep hahaha…. Menurutku, vibenya aja sih yang belum terset dengan kuat. Biarkan anak-anak bertingkah seperti anak-anak, dari situ cerita akan bisa lebih flexible. Mau konyol seperti Scooby Doo bisa, mau agak serius seperti serial detektif anak Home Before Dark (2020-2021)-nya si Brooklyn Prince juga bisa.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for PETUALANGAN ANAK PENANGKAP HANTU

 




 

That’s all we have for now.

Sedih juga film ini kemaren yang nonton di studioku cuma aku sendiri. Menurut kalian apakah memang anak-anak sekarang kurang tertarik sama genrenya? Kenapa, apakah karena mereka terlalu cepat dewasa?

Silakan share pendapatnya di komen yaa

Yang penasaran sama serial detektif cilik Home Before Dark yang kusebut di-review (2 season), bisa subscribe Apple TV untuk menontonnya yaa. Mumpung ada promo free seminggu nih. Tinggal klik di link ini https://apple.co/3SqRITp

Get it on Apple TV
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA and BEST BOOK REVIEW HORROR & THRILLER EDITION ON TWINKL



ANCIKA: DIA YANG BERSAMAKU 1995 Review

 

“Don’t ever go back to your old ways that do not work. That’s the reason you changed them in the first place.”

 

 

Oh Tuhan, there’s two of them!” Kemudian aku tergelak di bioskop. Dilan ada dua, dan maksudku bukan soal ini adalah film Dilan dengan pemeran yang berbeda. Melainkan, karena di cerita Pidi Baiq yang kali ini disutradarai oleh Benni Setiawan, Dilan finally found his match. Dan ‘match’ yang kumaksud bukan soal pasangan doang, melainkan lebih ke Dilan akhirnya ketemu ‘lawan’ yang sepadan. Dalam wujud perempuan berambut sebahu bernama Ancika. Like, Dilan mau ngegombal dikit, langsung kena selepet yang gak kalah ngocol dari Ancika. Belum pernah kan lihat Dilan nginyem karena dicounter? Haha ya, akhirnya film yang jadi penutup perjalanan cintanya ini memang menghadirkan sosok yang sedikit berbeda dari Dilan yang sudah familiar. Dilan kini agak lebih kalem. Dia sudah lebih dewasa dari terakhir kali kita menontonnya. Dilan sudah kuliah, dan itu adalah tahun 1995 yang mulai bergejolak dengan situasi politik. Karena itu, tentu saja kita jadi punya ekspektasi bahwa cerita yang dihadirkan juga jadi sedikit lebih dewasa dari sebelumnya Dan again, maksudku dewasa dalam artian lebih matang loh, bukan dewasa yang ngeres. Itu mah namanya bajingan, kalo kata Ancika.

Mungkin karena Ancika memang masih anak SMA. Film ini sukurnya tidak lagi mempertahankan konsep ‘lucu’ trilogi Dilan, yang perspektifnya gak klop ama judul; Dilan 1990Dilan1991 tapi ceritanya dari perspektif Milea, eh begitu judulnya Milea, ternyata ‘suara’ dari Dilan! Film Ancika ini memang mengambil perspektif utama dari Ancika, gadis remaja yang ngocol, pinter. berani, bahkan cenderung galak sama cowok-cowok yang nekat naksir dia. Zee JKT48 nails her character’s traits soundly. Secara karakterisasi, Ancika jauh lebih kaya ketimbang karakter Milea di film 1990. Ancika tidak pernah tampak seperti kertas kosong. Kehidupan sekolahnya terasa lebih kuat. Ancika ini kayak Dilan versi cewek, ketika dia berinteraksi kepada teman-temannya hahaha.. Kita juga gak perlu nunggu film berikutnya untuk mengenal lebih dekat Ancika dalam lingkungan keluarga dan pribadinya. Ancika juga sudah punya motivasi dan sikap yang tegas.. Dia pengen masuk Unpad. Dia gak mau pacaran. Inilah yang mendapat ‘tantangan’ nanti ketika dia bertemu dengan salah satu teman kuliah mamangnya, yaitu si Dilan.

Mengingat kondisinya, aku pikir film mengintroduce Dilan ke dalam cerita Ancika dengan well done. Humble, mungkin lebih tepatnya. Tidak demikian terasa seperti sosok yang dikultuskan. Meskipun memang di dalam cerita si Dilan ini dikenal oleh banyak orang. Aksi dan kisah cintanya udah kayak urban legend di Bandung 1995. Teman-teman sekolah Ancika, terutama anak-anak cowok yang hobi motoran, menganggap Dilan sebagai senior yang wajib dihormati. Tapi si Dilan itu sendiri tampak ‘kalem’ dan ya, lebih dewasa di balik keunikan yang menjadi pesonanya. Dilan versi film ini adalah mahasiswa seni rupa ITB, seorang aktivis. I give huge props buat Arbani Yasiz yang membuat kayak gampang meranin berbagai karakter yang punya identitas lokal yang kuat. Belum lama ini dia beliveable banget jadi pemuda Minang di Ranah 3 Warna (2021), dan kini dia pentolan pemuda Sunda, yang amazingnya lagi melanjutkan ke versi yang lebih dewasa dari karakter yang populer dimainkan oleh aktor yang lain sebelumnya, without missing any beats of that character. Dilan versi Arbani tampak lebih tenang, lebih bijak, tapi tetap dengan tingkah dan effort yang ajaib. Dibilang less gombal, enggak juga. Dilan versi Arbani tetap punya segudang kata-kata maut yang ampuh untuk membuat perempuan se’tangguh’ Ancika tersipu. Kayaknya, karena Dilan versi Arbani ini lebih believable sebagai aktivis yang turun ke jalan, yang berantem, maka kita lebih gampang ‘tolerir’ terhadap gombalnya. Membuat dia jadi enggak cringe. Karena dia kelihatan lebih dari sekadar tukang gombal sok jagoan

Tidak lagi pengen nimpalin dengan teriakin ‘Pret!!’ setiap kali Dilan selesai ngomong.

 

Hati dari cerita memang masih seputar romans. It feels genuinely sweet, dengan karakter yang juga genuine menarik. Ancika tumbuh ketertarikan sama Dilan. Pemuda yang mengucapkan terima kasih telah dibikinin minuman, lewat secarik surat. Mahasiswa yang membantunya bikin PR resensi novel, walaupun berakhir memalukan. Cowok yang bilang mereka banyak kesamaan, mungkin karena salah satu dari mereka ada yang nyontek – purposely bermain-main dengan ekspektasi dirinya. Film membuat Dilan mencuat di mata Ancika bukan karena pemuda itu ngotot mengejar si anak SMA. Tapi ada build up. Film ngasih ruang bagi Ancika untuk melihat dan membandingkan Dilan dengan cowok-cowok lain yang tertarik kepadanya. Aku suka gimana Ancika yang digambarkan cuek dengan penampilan, merasa perlu dandan padahal occasion-nya cuma belajar bareng Dilan di ruang tamu. Ketertarikan yang naturally bertumbuh itu jadi layer, di balik ‘konflik’ yang juga dibangun seputar Dilan yang punya masa lalu. Dan masa lalu Dilan bukan cuma tentang Milea, melainkan juga soal ‘hobby’-nya sebagai geng motor. Masa lalu – mantan-mantan – Dilan ini yang bikin Ancika ragu. Ancika bukannya mau ‘memperbaiki’ Dilan, seperti yang berusaha Milea lakukan di Dilan 1991. Ancika cuma khawatir Dilan akan kembali kepada masa lalunya tersebut, kepada either or both of those. Apalagi kemudian Ancika melihat Dilan ikutan demo mahasiswa, Berantem ama polisi? Bagi gadis itu cowok yang ia suka itu begitu volatile. Bisa sewaktu-waktu kembali ke masa lalu, dan itu berbahaya baginya.

Ke-insecure-an Ancika bersumber dari masa lalu Dilan. Sikap yang relate sih buat remaja-remaja generasi sekarang. Apalagi belakangan marak narasi seputar ‘mau gimanapun, kita akan kalah sama mantan’. Kisah Ancika dan Dilan mengajarkan kita bahwa masa lalu memang akan jadi bagian dari kita, enggak akan pernah lepas dari siapa diri kita sekarang. Tapi bukan berarti kita harus kembali kepada masa lalu. Kita kudu ingat bahwa ada alasannya masa lalu itu menjadi masa lalu. Karena ada sesuatu yang not working, dan kita mau memperbaikinya. Jadi, biarkanlah masa lalu untuk jadi pembelajaran saja.

 

Kita bisa lihat sebenarnya cerita Ancika ini memang punya modal untuk garapan yang lebih berbobot (kalo gak mau dibilang dewasa) walaupun perspektifnya datang dari anak SMA. Bahkan sebenarnya justru menarik ketika persoalan seperti penangkapan aktivis dipandang dari mata anak sekolah. Gimana orang-orang yang sedang fokus berjuang ke depan ‘terhalang’ oleh jebakan masa lalu. Aku suka saat Ancika marah kepada Dilan, karena marahnya bukan sekadar cemburu. Melainkan karena merasa dipermalukan. Aku sebenarnya pengen film ini mengeksplorasi lebih banyak pada sudut-sudut dan emosi yang unik seperti demikian. Toh Ancika memang dibentuk berbeda dari Milea. Ancika punya cerita dan masalahnya sendiri, mau itu personal maupun terkait Dilan. Sayangnya, film yang memuat karakter yang lebih dewasa dari sebelumnya ini, yang punya perspektif muda dalam lingkungan yang lebih berbobot ini, yang berpesan untuk tidak kembali kepada masa lalu ini, sendirinya masih terasa tidak mau berbeda dengan film-filmnya yang telah lalu.

Dalam artian, film ini sendirinya seperti menolak untuk jadi dewasa. Masih menolak untuk berpikir audiens mereka bisa menghandle cerita yang lebih berbobot. Sure, film ini dibuat untuk anak muda. Lebih untuk remaja usia Ancika ketimbang usia Dilan. Tapi lihatlah si Ancika. Perspektifnya yang lebih mature dari Milea, atau bahkan beberapa kali lebih mature daripada Dilan yang lebih sering kegep kembali menekuni perbuatan di masa lalu, terasa enggak mencapai full potensial ketika cerita masih meng-treat karakter mereka untuk pacar-pacaran ‘biasa’ saja. Film seperti melihat kesuksesan trilogi terdahulu – yang kurasa kita setujui bersama sebagai film kayak snack yang isinya angin doang – dan menganggap itu sebagai standar yang harus dikalahkan. Bahwa film ini harus ngimbangin itu, maka film ini juga harus sukses menarik perhatian anak muda/remaja dengan cara yang sama. Yang malah membuat film ini seperti meremehkan Ancika-Ancika lain di luar sana.

On second thought, penggemar JKT48 mungkin berpendapat berbeda soal film ini dibuat untuk remaja usia Ancika?

 

Bayangan keberhasilan film-film terdahulu, menurutku membuat film ini tak maksimal sebagai cerita barunya sendiri. Momen-momen seperti Dilan hilang, curiga tertangkap saat aksi demo, seharusnya bisa membuat babak ketiga cerita lebih intens bagi Ancika. Namun justru pada babak terakhir-lah film ini flat. Film seperti mengawang, bingung mendaratkan cerita. Bingung mencari daratan yang bikin lebih baper, ketimbang aksi atau konklusi yang lebih true ke development karakter. Akibatnya, sikap Ancika yang di awal tegas menolak label pacaran (also, momen seru lain sebenarnya melihat Dilan ‘struggle’ menyingkapi tolakan Ancika dengan respek) jadi gak terasa punya journey yang clear sampai bisa berubah menjadi mau pacaran. Penyelesaian manis tiga tahun kemudian pun lantas jadi seperti diburu-burukan. Apa yang seharusnya dapat menjadi sebuah konklusi suka ci(n)ta dari kehidupan segitu banyak karakter yang saling terhubung di setting dunia yang sudah kuat merekat, jadinya hanya terasa berfungsi seperti hiasan cute supaya penonton pulang dengan perasaan puas semata.

 

 




Fungsinya memang terlaksana. Film ini jadi penutup yang hangat. Tapi kupikir harusnya film ini bisa lebih. Satu film ini harusnya bisa lebih nendang ketimbang trilogi sebelumnya, karena memang ini much better secara materi dan eksekusi teknis. Dari trilogi Dilan, menurutku yang paling lumayan adalah Dilan 1991, dan film kali ini bahkan lebih kuat daripada film itu. Props juga buat akting dua karakter sentral. Dinamika dan chemistry mereka tampak fun. Tapi kemudian film ini melakukan hal yang sudah benar tidak dilakukan oleh karakternya. Kembali ke masa lalu. Keinginan untuk tetap ringan, menghambat film. Karena ceritanya sebenarnya sudah berkembang, sudah lebih dewasa. Karakter-karakternya juga. Walau masih muda, perspektif mereka lebih berbobot. Film tidak diarahkan mengikuti kedewasaan mereka. Sehingga belum terasa maksimal. Aku gak minta untuk jadi ribet dan njelimet, tone ringan dan uniknya sudah tepat, tapi at least development mereka tidak diloncat. Manis tidak diburukan. Situasi latar dunianya juga bisa paralel dan lebih nyantol dengan lebih enak.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for ANCIKA: DIA YANG BERSAMAKU 1995

 

 




That’s all we have for now.

Dari empat film universe Dilan, urutan favorit kalian seperti apa? Apakah menurut kalian, Dilan bakal jadi romans remaja klasik di masa depan?

Silakan share pendapatnya di komen yaa

Jangan lupa untuk subscribe Apple TV, ada banyak serial dan film-film original yang tayang di sana. Di antaranya adalah Killers of the Flower Moon yang masuk dalam Daftar Top-8 Film Favoritku tahun 2023. Tinggal klik di link ini yaa https://apple.co/3QWp4Yp

Get it on Apple TV
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA and BEST BOOK REVIEW HORROR & THRILLER EDITION ON TWINKL



SEHIDUP SEMATI Review

 

“Not even death can do us apart”

 

 

Kesakralan pernikahan  dibuktikan dengan ikrar untuk menjadi pasangan yang sehidup semati. Janji untuk senasib sepenanggungan. Susah senang selalu bersama-sama, hingga maut memisahkan. Janji suci dua insan Katolik tersebut dapat berubah menjadi beban toxic mengerikan, seperti yang terjadi dalam psychological thriller terbaru dari Upi ini, Ketika rumah tangga jadi tak lagi harmonis, pernikahan hanya jadi neraka personal bagi istri yang tidak diperkenankan melawan, melainkan bertambah fungsi jadi punching bag emosi dan frustasi suami. Afterall, istri harus senantiasa tunduk dan patuh terhadap suami. Perceraian merupakan aib keluarga, dan adalah tugas istri untuk menjaga martabat suami dan keluarganya. Dengan muatannya ini, Sehidup Semati dengan cepat menjadi sebuah gambaran naas yang bakal berkembang menjadi jauh lebih menyeramkan lagi. Karena Upi membenturkan penafsiran ekstrim dari dogma atau ajaran agama itu dengan pandangan yang sepertinya solutif, hanya datang dari tempat yang tidak benar-benar bisa dipercaya. Penceritaan film ini pun akhirnya baur, antara benar psychological atau sebuah supernatural.

Pasangan tak-bahagia dalam film ini adalah Renata dan Edwin. Laura Basuki jadi Renata yang tersiksa mental dan fisik. Bukti visual memperlihatkan perempuan berambut seleher itu jadi korban KDRT. Ario Bayu jadi Edwin, pria yang keras, dingin, distant, dan tersenyum hanya kepada layar hapenya. Karena cerita ini dari sudut pandang Renata, kita tidak benar-benar diperlihatkan sisi Edwin, kenapa dia bisa berubah begitu violent kepada perempuan yang tadinya ia cintai. Alasan ‘kecewa’nya sih kita diberitahu. Mereka pengen punya anak tapi Renata physically tidak bisa. Jadi, Renata harus mengalami ‘siksaan’ janji sucinya itu sendirian. Luka dan sakitnya ia pendam sendirian. Toh, agama dan keluarga besar mengajarkan sudah kodrat istri untuk patuh. Sampai, dia mendengar ada suara lenguhan perempuan dari ruang kerja Edwin. Ruang kerja yang sama sekali tidak boleh ia buka/datangi. Renata mulai curiga suaminya literally punya simpanan perempuan lain. Beruntung, Renata yang biasanya sehari-sehari cuma ‘berteman’ dengan televisi, kini punya tempat mengadu. Tetangga barunya, Asmara, perempuan yang completely bertolak belakang dengannya. Asmara liar dan berani, dia malah meledek Renata yang patuh sebagai ‘perempuan bego’. Meski begitu, Asmara tetap masih menyisakan aura misterius (Hmm, siapa lagi yang paling cocok meranin karakter ini kalo bukan Asmara Abigail) Dari perempuan yang sepertinya segala merah itulah, Renata belajar untuk menjadi sedikit lebih berani untuk stand up for herself. Tapi masalahnya, bayangan perempuan simpanan Edwin semakin kerap menghantui. Suara-suara dan kejadian aneh kian santer di sekitar Renata.

Di film ini ikrar suci dibalik menjadi ‘sampai maut menyatukan kita’

 

Sebagai thriller psikologis film ini memang benar menyejajarkan kita dengan psikis Renata. Kita merasakan sama kecil dan terisolasinya dengan Renata yang dititah suami untuk tetap tinggal di rumah. Kita dibuat ikut merasakan derita fisik dan mentalnya. Film ini mampu mencapai itu berkat penampilan akting getir serta treatment yang diberikan kepada karakter ini. Renata seperti titik kecil pucat yang dikontraskan pada setting latar yang pekat. Ya, putihnya Renata lebih terasa seperti pucat, ketimbang suci. Seantero apartemen yang dia huni pun dijelmakan menjadi tempat yang (nyaris) kosong. Hanya Asmara dan seorang ibu tua (dan satpam Muklis!) yang tampaknya kenal dan berinteraksi dengan Renata. Ketika Renata berjalan di lorong-lorong menuju unitnya, dia seperti berjalan di labirin yang persis suasana hatinya. Dingin dan banyak sudut gelap. Ketika kita masuk ke dalam unitnya, keadaan tidak menjadi lebih nyaman, karena bahkan ruang pribadi perempuan itu pun tampak muram dan terasa restricted baginya. Kamar yang tak boleh dibuka. Benda-benda yang either bertukar tempat ataupun bukan miliknya. Zona nyaman Renata hanya di depan televisi. Dan aku suka gimana film membuat Renata seperti sangat susceptible terhadap apa yang ia tonton dan dengar di televisi. Siaran ceramah yang bagi kita terdengar esktrim, seperti larangan tegas bagi Renata. Waktu Renata mulai curiga ada perempuan di rumahnya, siaran yang ditontonnya adalah sinetron tentang pelakor. Dan masuk babak akhir, sebelum ketegangan dan kecurigaan kepada suami memuncak, Renata kita dapati tengah menonton berita kriminal seputar ditemukan mayat istri korban kekerasan suami.

Seolah teror psikologis belum cukup seram dan ‘membingungkan’, film juga menyiapkan teror lain, Teror dari supernatural. Sosok perempuan yang kerap sekelebat hadir di ekor mata Renata ditreat oleh film lebih seperti penampakan arwah penasaran. Ditambah pula si ibu tua diperlihatkan pernah melakukan semacam ritual dengan dukun di unitnya sendiri. Unsur supernatural yang dibaurkan dengan psikologis tadi memang menambah layer kepada misteri. Aku sendiri memang sangat menikmati menebak-nebak apa yang sebenarnya sedang ‘dihadapi’ oleh Renata. Tapi pace film ternyata jadi agak goyah ketika sudah waktunya mereveal dan menyelesaikan cerita. Like, film ini jadi terasa terlalu lama bermain-main di misteri penampakan perempuan sehingga paruh akhirnya jadi kayak lebih buru-buru, padahal konfliknya lebih banyak di paruh akhir. Kecamuk psikologis juga lebih dahsyat di bagian paruh akhir, dengan segala ketakutan baru Renata soal orang-orang lain di sekitarnya selain suaminya.

Akibatnya, penjelasan yang diungkap film akan terasa ‘short’. Meskipun sebenarnya cukup gede, dan tragis, tapi penonton sebagian besar akan masih terlalu sibuk dengan berusaha mencerna kepingan puzzle tragedi yang telat dibagikan tersebut. Film ini akan dengan cepat menjadi supermembingungkan begitu baru di pertengahan kita dikasih penyadaran bahwa Renata, satu-satunya perspektif yang bisa kita pegang justru ternyata ‘agen’ dari kerancuan. Bahwa dia adalah perspektif yang unreliable. Kita sangka kita akan mengungkap misteri bersamanya, tapi ternyata dialah misterinya. Hal yang tidak real ternyata justru hal-hal yang berinteraksi dengannya. Dan ‘tidak real’ di film ini bukan saja hanya perihal suatu kejadian tidak benar-benar terjadi, melainkan juga kejadian yang beneran terjadi tapi bukan pada waktu yang seperti kita lihat di film. Alias, soal urutan juga teracak. Jadi berikut kotak spoiler soal bagaimana menurutku urutan kejadian kisah tragis Renata sebenarnya terjadi (serta siapa sebenarnya karakter-karakter seperti Asmara dan Ana). Kalian bisa skip kotak di bawah ini jika tidak ingin kena spoiler

Spoiler Urutan Kejadian:

Renata kecil liat Ayah pukulin Ibu – Renata kecil liat ayah muntah darah dan lumpuh – Keluarga mereka tetap utuh Ibu tetap merawat Ayah yang kini gak bisa ngapa-ngapain Ibu – Renata gede nikah sama Edwin – Renata gak bisa hamil – Edwin dicurigai selingkuh sama perempuan lain – Renata mulai kesepian, temannya cuma televisi – Renata ngadu ke keluarga tapi malah disalahin – Edwin mau minta cerai – Renata kalut, stress, terilham rumah tangga Ibu dan Ayahnya, membunuh Edwin – Ana nelfon dan Renata jadi terkonfirm siapa selingkuhan edwin – Renata bunuh Ana – Cerita film dimulai – Di dalam halu kepalanya, Renata nganggap Edwin masih hidup – Tapi hantu Ana mulai menghantui, tetap sebagai pelakor – Renata menciptakan teman/pelarian/alter ego dari karakter sinetron yang ia tonton, yaitu Asmara – Gangguan Ana semakin intens – Asmara ‘membunuh’ hantu Ana – Ibu Ana mulai mencari anaknya yang tidak pulang dan mencurigai Renata berkat petunjuk dukun – Renata membunuh Ibu Ana via Asmara – ‘Asmara’ yang ia ciptakan semakin kuat, sehingga Renata jadi berkonfrontasi dengan realita – Revealing kejadian sebenarnya – Renata membunuh ‘Asmara’ yang ia takutkan jadi pelakor berikutnya – Renata mereset halunya, hidup berdua dengan Edwin  masih sayang padanya – Cerita film selesai

 

Bukan sama-sama hidup/mati, melainkan satu hidup, yang satu mati

 

So yea, film ini pretty ribet. Karakter yang kita kira nyata, sebenarnya tidak ada di sana. Kejadian yang kita sangka baru, sebenarnya terjadi bahkan sebelum frame film ini dimulai. Masa lalu bercampur dengan present chaos Renata. There is a lot to unpack, baik bagi kita, maupun bagi filmnya sendiri. Aku melihat film ini sendirinya keteteran. Sehingga bahkan untuk membangun simbol aja tidak sempat. Seperti ruang kerja Edwin, film udah hampir habis ruangan tersebut tidak kita dan Renata ‘lihat’ sebagai apa sebenarnya.  Padahal ruangan tersebut adalah simbol dari ‘truth’. Selain mengintip dan melihat suaminya selingkuh dengan Ana, perempuan yang ada di poster orang hilang di sekitar apartemen, harusnya ada adegan yang memperlihatkan Renata konfrontasi dengan ‘truth’ yang sebenarnya di sana, entah itu mayat atau sesuatu yang membuat Renata kembali menapak ke realita.

Selain misterinya yang jadi bloated, pesan film ini juga tampak agak terlalu melebar. Meskipun memang sutradara sekuat tenaga berusaha mengembalikan ke ‘jalan yang benar’. Awalnya film ini tampak seperti kisah peringatan atau malah sindiran untuk tidak terlalu ekstrim dalam menerapkan ajaran agama. Tapi ternyata bukan ajaran agama saja yang berbahaya jika kita gak rasional dalam ‘mengonsumsinya’ Karena kita lihat Renata justru sebenarnya terpengaruh oleh apapun yang ia dengar di televisi. Pembahasan soal perempuan saling support juga berkembang jadi aneh, lantaran turns out cerita ini berakhir dengan pembunuhan antarkarakter perempuan. Bahasannya utama seperti malah jadi soal pelakor. Seolah ini jadi thriller atau horor pelakor, ‘genre’ yang memang sempat surprisingly laku di skena horor lokal tahun lalu.

 

Motivasi  Renata sebenarnya cukup clear. Dia pengen menuhin janji suci. Dia rela bertahan walau suaminya kasar. Tapi sang suami langsung mau pisah begitu dia gak bisa punya anak. Jadi Renata pengen take control back. Persoalan pelakor malah menginterfere. Karena ini harusnya adalah soal dia dengan suaminya. Apalagi film membuat seperti sebuah momen kemenangan ketika Renata membunuh Ana. Melebihi momen saat Renata akhirnya ‘berkonfrontasi’ dengan Edwin. Penonton di studioku pada bersorak. Padahal seharusnya ini adalah thriller psikologis seorang perempuan yang jadi ‘rusak’ mentalnya karena situasi yang menekan. Peristiwa pembunuhan itu harusnya dilihat sebagai proses downward spiral yang tragis, journeynya seharusnya yang ditekankan. Bukan ke soal ‘ternyata istrinya yang membunuh!’

 




Aku senang mulai banyak yang bikin, namun begitulah sayangnya, aku melihat tren genre psychological thriller di film kita. Seperti miss bahwa harusnya ya tentang psikis seseorang yang mengelam, bukan tentang orang psycho (alias ‘gila’)  Bukan soal kejutan di akhir bahwa karakter utamanya ternyata ‘gila’, melainkan lebih ke menggambarkan proses yang membuat si karakter terjun ke dalam kegilaan. Apakah dia memilih, atau didorong tanpa punya pilihan. Filmnya harusnya bukan cuma tentang ‘lihat dia jadi gila karena keadaan atau sistem masyarakat’ dan lalu ditutup dengan kegilaan yang dibaurkan dengan momen seolah kemenangan, seolah ‘rasain tuh sistem!’ Harusnya tidak ada kemenangan. Sehidup Semati mirip sama Sleep Call (2023). Pemeran utamanya sama, karakternya mirip. Direveal punya kondisi yang mirip. Sleep Call sebenarnya melakukan soal journeynya dengan lebih baik, tapi film itu messed it up dengan reveal bahwa karakternya sudah berbakat gila sedari awal. Masih tetap seputar revealing mengejutkan. Sehidup Semati memainkan atmosfer thriller dan misteri dengan lebih baik, karakter-karakternya lebih menantang, tapi seperti puas di revealing dan dengan awal journey yang tidak ditegaskan. 
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for SEHIDUP SEMATI

 

 




That’s all we have for now.

Menurut kalian di manakah batas seorang perempuan yang setia dan taat bisa disebut bego seperti kata Asmara? Pantaskah mereka kita sebut bego?

Silakan share pendapatnya di komen yaa

Jangan lupa untuk subscribe Apple TV, ada banyak serial dan film-film original yang tayang di sana. Di antaranya adalah Killers of the Flower Moon yang masuk dalam Daftar Top-8 Film Favoritku tahun 2023. Tinggal klik di link ini yaa https://apple.co/3QWp4Yp

Get it on Apple TV
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA and BEST BOOK REVIEW HORROR & THRILLER EDITION ON TWINKL



MONSTER Review

 

“You can call me a monster. That’s fine. It honestly doesn’t bother me. Because you see, that’s what society does, they put labels on things they don’t understand.”

 

 

Monster besutan Kore-eda Hirokazu seperti mengajak kita bermain-main dengan prasangka. Vibe yang dibuat misterius lewat konsep melihat kejadian dari berbagai sudut seolah menuntun kita kepada pertanyaan “siapa sebenarnya yang monster di sini?” Aku sendiri teringat sama kalimat promo dari salah satu superstar WWE jagoanku, Bray Wyatt (rest in peace). Kalimat yang aku kutip sebagai penggalan pengantar ulasan ini. Basically karakter/gimmick Bray Wyatt saat mengucapkan itu adalah seorang yang merasa dirinya berbeda, dan orang-orang yang tidak mengerti dirinya, takut kepadanya. Mencampakkan dirinya. Namun upon arriving to the squared-circle, Bray telah mengembrace perbedaan dirinya, dan menjadikan itu sebagai kekuatan. He now takes back control from them. Dia tidak lagi peduli sama yang orang-orang katakan terhadapnya. Kalimat itu mengantarkanku kepada pemahaman bahwa film Monster pada intinya adalah sebuah journey menuju self honesty seperti yang telah diembrace oleh Bray Wyatt (walau karakter film ini tidak mesti berakhir jadi sekelam Bray Wyatt). Dan dalam journey nya tersebut, setidaknya ada  empat jenis ‘monster’ yang dibicarakan oleh karya Kore-eda ini.

Jika kita sama judgmental-nya dengan society yang suka dengan cepat melabeli orang yang ‘berbeda’ sebagai monster, atau alien, atau whatever, maka kita juga akan cepat melepehkan film ini without giving it much thought. Naskahnya, dari luar, tampak berpindah ke mana-mana tanpa karakter utama yang jelas.  Konsep kembali kepada kejadian A tapi dari perspektif yang berbeda, bisa sekilas tampak seperti usaha manipulatif arahan yang menyandarkan diri kepada kejutan-kejutan dari pengungkapan kejadian. Monster dibuka dari seorang single mother yang merasa kelakukan anaknya yang baru kelas 5 SD jadi berubah, dan dia mencurigai itu semua karena ulah wali kelas anaknya di sekolah. Sehingga si ibu mulai mencecar sekolah yang juga tampak menutup-nutupi kejadian. Kemudian cerita memindahkan kita ke belakang si wali kelas, guru cowok yang ternyata tidak sejahat ataupun seaneh kelihatannya. Dan finally di pertengahan akhir, film akhirnya settled di bahasan dari perspektif Minato, si anak kelas 5, yang sikap dan tingkah lakunya bikin cemas ibunya tadi. Bukan hanya tiga perspektif, film ini actually juga bisa dibilang berpindah genre tiga kali. Di awal seperti thriller, lalu jadi studi karakter yang ironis, dan berakhir sebagai drama anak-anak. Perpindahan tersebut tidak dilakukan dengan se’sopan’ cara film menceritakan/mengeksplorasi tiap sudut pandang karakter (lewat sinematografi dan musik yang brilian), melainkan dengan deliberately rough. Kembali ke kejadian sebelumnya dengan memusingkan tanpa tedeng aling-aling. Inilah yang membuat kita urung menjudge terlalu cepat. Desain yang diniatkan seperti begini, justru semakin menarikku masuk dengan pertanyaan-pertanyaan seperti “Kenapa Kore-eda melakukannya seperti ini?”

Kenapa, jika cuma ingin memperlihatkan prasangka yang ternyata membuat semua orang adalah ‘monster’ bagi orang lain, film berkutat lama di perspektif Minota dan ‘teman rahasianya’ Yori Hoshikawa?

Kenapa pula, jika inti yang ingin diceritakan itu adalah drama anak yang merasakan sesuatu yang tak-biasa di dalam dirinya, film ini harus melewati perspektif karakter yang lain terlebih dahulu? 

Clearly, film ingin penonton merasakan. Bukan hanya merasakan dramatic irony, ataupun kejutan-kejutan ‘oh ternyata dia begini, dia tidak jahat, dan sebagainya’. Melainkan film ingin penonton merasakan atau mengalami sendiri keadaan yang menciptakan berbagai bentuk monster. Dan ultimately film ingin penonton merasakan journey yang dialami oleh seseorang ketika dia mulai merasa benar dirinya adalah monster.

Kalo ini film indonesia, pig-brain kayaknya bakal ditranslate jadi ‘otak-kebo’

 

Kita diperlihatkan gimana monster di film ini terbentuk lewat bagian awal yang membahas perspektif ibu Minato. Gimana bola liar desas desus membuat dia jadi mengantagoniskan pak guru. Lalu membesar mencurigai pihak sekolah, mencurigai kepsek. Bahkan si ibu jadi melihat Minato, anaknya sendiri sebagai ‘monster’. Bentuk monster pertama yang diperlihatkan oleh film adalah monster prasangka. Pak Guru yang malang; hanya karena pembawaan dan gesturnya, apapun yang ia lakukan (meskipun niatnya baik) mudah disalahartikan oleh orang lain sebagai tindakan yang creepy. The worst part about monster tipe ini adalah, dirinya sendiri tidak mengerti atau tidak bisa melihat kenapa orang lain bisa melihatnya dalam ‘cahaya’ yang menakutkan seperti itu. Ini mengakibatkan pembelaan yang dia lakukan akan semakin memperparah keadaan. Monster kedua juga datang dari orang luar, tapi dari pelabelan. Di film ini contohnya adalah sahabat Minato, si Yori Hoshikawa, yang dilabeli monster oleh ayahnya sendiri karena Yori ini anak cowok yang ‘kemayu’. Walau Yori tampak oke-oke saja dikatain monster dan dijauhi teman, the heartbreaking part darinya adalah anak sekecil dia bahkan belum paham yang ia rasakan itu enggak exactly hal yang salah, tapi dia hanya bisa nurut saja ketika dipahamkan oleh orang lain bahwa dia adalah kesalahan yang harus diperbaiki. Monster ketiga adalah kebalikan dari semuanya. Datang dari dalam diri sendiri, dan full aware yang ia lakukan pantas untuk membuat dirinya disebut monster, meski dia tahu dia tidak punya pilihan. Monster tipe berahasia ini adalah kepala sekolah Minota. Ibu guru yang melakukan hal buruk secara tak sengaja di masa lalu, tapi mau tak mau dia harus menutupi kejadian tersebut. Karena dia punya tanggungan dan hal lain yang dipertaruhkan. Nyesek, ketika kita lihat misalnya pada adegan niup terompet itu, bahwa dia aslinya adalah pribadi yang sangat lembut dan baik lagi bijaksana. Namun selain tiga tipe monster itu, yang paling malang sekaligus berbahaya adalah tipe monster yang hampir saja ‘jadi jelmaan’ oleh Minato, yang actually adalah gabungan terburuk dari yang dirasakan/dialami oleh Pak Guru, Yori, dan Bu Kepsek.

Yang paling berbahaya itu adalah monster yang disebut dengan self-loathing. Orang yang memonsterkan dirinya sendiri, dan berkubang dalam perasaan buruk dan prasangkanya sendiri. Orang yang self-loathing akan menghindar dari minta tolong, dan bahkan bisa sampai menyakiti diri sendiri.

 

Itulah kenapa cerita ini sebenarnya merupakan cerita Minato. Anak yang tahu persis dirinya ‘berbeda’ dari anak cowok lain, dia knows better about himself ketimbang Yori terhadap dirinya sendiri, tapi juga tidak seberani Yori. Sehingga Minato memendam semuanya di dalam diri. Minato punya rahasia seperti Bu Kepsek tapi tidak punya positif force behind it, selain takut malu dan tidak diterima oleh teman-temannya. Dia takut ketahuan kalo dia suka ama cowok. Minato bahkan tidak mau nunjukin dia bersahabat akrab dengan Yori di depan teman-teman sekelas yang lain. Kediam-diamannya ini membuat dia tampak aneh di mata ibunya. Yang gak beres pada Minato jadi terlihat lebih besar oleh sang ibu. Tindakan Minato seperti potong rambut diri sendiri bisa demikian red flag bagi ibu (padahal alasannya either karena sesimpel keinosenan anak kecil yang mau ngilangin ‘noda’ bekas disentuh oleh teman yang dianggap ‘berpenyakit’, atau hanya karena tidak mau rambut panjangnya dianggap kecewek-cewekan). Bayangkan gimana reaksi ibu begitu mendengar Minato bilang soal terlahir kembali saat ngobrolin ayah yang sudah meninggal. Kalo sudah menumpuk begitu, biasanya orang seperti Minato akan menarik diri dari lingkungan sosial. Dan itulah yang persisnya Minato lakukan di pertengahan akhir cerita.

Jadi film ini adalah journey Minato menemukan kedamaian atas dirinya yang sebenarnya. Stake cerita ini adalah salah pilih sedikit, Minato akan benar-benar jadi monster self loathing yang berbahaya terutama bagi dirinya sendiri. Beruntung dirinya punya sahabat dan tempat pelarian, yaitu Yori. Di pertengahan akhir itulah, film menjadi tontonan yang dramatis lagi beautiful dalam memperlihatkan struggle Minato – yang masih seorang anak kelas lima SD! Pencarian jati diri, menghadapi resiko bullying, ‘berguyon’ dengan ide telahir kembali, dilakukan oleh film dengan penuh respek terhadap perspektif, dengan desain detil, menutup kepada sebuah kejujuran dan penerimaan diri yang dengan metaforanya sendiri memperlihatkan ‘lesson learned, tapi hidup hanya akan lebih menantang dari sini’.

Yes, we are little dirty monsters from the forest. So what?

 

Konsep/struktur tiga perspektif, dan cerita yang seperti berevolusi antara tiga ‘genre’ berbeda, secara psikologis membawa kita ke dalam journey yang dialami karakter dan lingkungan mereka. Kita jadi melihat monster-monster itu bisa bertumbuh dari karakter yang begitu compelling dan terasa dekat karena mereka hidup dalam environment yang sederhana. Film ini tidak lagi terasa seperti kecohan dari kenyataan yang sengaja disembunyikan belaka. Everything we see is not what it seems, terutama jika kita terbuka melihat dari sudut pandang lain. Dan ini diwujudkan oleh film ke dalam visual-visual yang punya tone misterius yang kuat sehingga minat penonton juga semakin membendung menyaksikannya. Satu lagi adegan yang artinya bisa mendua, yang aku suka di film ini adalah adegan penghapus jatuh. Ibu Minato hendak pergi beli semangka, dan saat dia lewat Minato sedang menyondongkan badan ke bawah hendak mengambil penghapusnya yang jatuh ke lantai. Adegan itu langsung dicut memperlihatkan Ibu kembali dari belanja, dan saat masuk dia melihat Minato masih dalam posisi nyondongin badan ke bawah yang sama dengan saat dia pergi. Seolah Minato gerakannya berhenti saat dia pergi, dan baru bergerak lagi saat dia pulang. Ini kan misterius sekali. Kalo baru nonton otomatis kita akan menyangka hal yang serupa dengan Ibu “Ni anak kesurupan apa gimana sih!?”  Tapi tentu saja adegan tersebut bisa jadi hanya kebetulan penghapusnya jatuh lagi, dan kengerian itu hanya berasal dari prasangka ibu terhadap Minato berkelakuan aneh yang sudah terbangun sebelum kejadian tersebut terjadi.

 

 




Tahun 2024 kayaknya bakal jadi roller coaster yang hebat, sebab kemaren film pertama yang aku review ‘meh’ banget, dan film kedua di ulasan tahun ini. WOW. At first, aku memang honestly cukup judgmental terhadap penceritaannya yang seperti mengarah ke ‘ternyata begini, ternyata begitu’ doang. Tapi ternyata, aku menyadari film ini punya desain khusus dalam menyampaikan journey karakternya. Journey yang hanya bisa maksimal jika kita ikut secara menyeluruh merasakan gimana ‘monster’ itu bisa terbentuk. Yang lantas ditutup dengan pilihan karakter untuk mengembrace monster versi dirinya sendiri. Awalnya bermain dengan prasangka, tapi film justru menjadi begitu powerful dengan berkembang membuat kita berefleksi, berkontemplasi, bukan tidak mungkin di antara kita jadi ada yang menunjuk hidungnya sendiri demi mendapat jawaban masing-masing dari menonton film ini. Film Jepang ini ticked the box untuk ‘syarat’ skor tertinggiku. Cerita yang berevolusi, dengan konsep yang kuat dan karakter dan dunia yang luar biasa compelling.
The Palace of Wisdom gives 9 out of 10 gold stars for MONSTER

 




 

That’s all we have for now.

Tanyakan kepada diri sendiri, monster seperti apakah aku?

Dan jika tidak keberatan, silakan share di komen yaa

Jangan lupa untuk subscribe Apple TV, ada banyak serial dan film-film original yang tayang di sana. Di antaranya adalah Killers of the Flower Moon yang masuk dalam Daftar Top-8 Film Favoritku tahun 2023. Tinggal klik di link ini yaa https://apple.co/3QWp4Yp

Get it on Apple TV
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA and BEST BOOK REVIEW HORROR & THRILLER EDITION ON TWINKL



TRINIL: KEMBALIKAN TUBUHKU Review

 

“How do you sleep at night?”

 

 

Fenomena ketindihan jadi salah satu bahasan dalam comebacknya Hanung Bramantyo ke ‘ranah’ horor. Waktu kecil, aku cukup sering ngerasain ketindihan. Mungkin karena dulu itu aku suka minum softdrink dan minuman manis-manis lainnya, sehingga walau badan udah tidur, pikiranku masih aktif kemana-mana kebanyakan gula. Memang, secara medis, ketindihan yang disebut dengan sleep paralysis merupakan keadaan ketika seseorang tidur tapi dia merasa masih sadar, hanya tidak bisa bergerak ataupun berbicara, sampai mulai mengalami ilusi yang dianggap mengerikan. Aku masih ingat jelas betapa anehnya perasaan saat ketindihan. Yang kualami, udara atau ruang di kamar itu terasa membebani sementara mataku terpaku ke gorden di jendela, gak bisa pindah melihat ke titik lain. Lalu suara-suara. Aku mendengar suara orangtua lagi ngobrol di luar kamar, tapi suara mereka terdistorsi. Seperti ada yang memainkan setting audio sehingga kadang suara itu jadi melambat, atau juga jadi mencepat. Maka dari itu aku tertarik pengen nonton Trinil: Kembalikan Tubuhku ini. Aku ingin melihat gimana jadinya jika experience ketindihan tersebut ‘diadaptasi’ jadi full cerita horor. Bagaimana pengalaman seperti yang pernah kualami itu divisualkan. Terlebih, kalo di barat sono, ketindihan diasosiasikan dengan iblis wanita seperti Succubus atau Incubus yang duduk di dada orang yang berbaring hendak tidur. At least, kupikir Trinil bakal ngasih serangan horor psikologis. Tapi ternyata, Hanung membuat film ini dengan lebih straight forward. Ketindihan itu hanya bentuk lain dari kesurupan. Despite latar peristiwa politik 70an yang membayangi, Trinil yang diadaptasi dari drama radio 80an ini hanya horor kejadian-kejadian, yang berisi eksposisi dan pengungkapan, tanpa benar-benar menyelami karakternya.

Trinil adalah panggilan masa kecil untuk Rara, perempuan keturunan wanita pribumi dengan meneer Belanda juragan perkebunan teh di Jawa Tengah 1977an.  Meski panggilan kecilnya sama, tapi Rara enggak seperti Ibu kita Kartini. Rara orangnya cerdas, tapi cukup galak. Ketika dia dan suaminya kembali ke rumah besar mereka di tengah perkebunan dari bulan madu, Rara yang gak sadar dirinya mengalami ketindihan setiap malam, memarahi orang-orang yang berusaha menolong. Areal perkebunan mereka memang sedang dihantui oleh sosok hantu kepala perempuan, yang diduga menjadi penyebab banyak pekerja yang mati misterius. Either gantung diri, atau tercekik di tempat tidur masing-masing. Sutan suami Rara mengundang teman yang bisa mengusir hantu ke rumah mereka, tapi Rara pun sempat ribut dengan Yusof si dukun Melayu. Memprotes cara kerja Yusof yang ingin menyelidiki origin si pengganggu, Rara justru inginnya si hantu kepala terbang itu segera diusir sebelum kejadian mengerikan di perkebunan mereka diketahui publik secara luas.

Begitu lihat pemainnya, ku baru ngeh kenapa kepala hantu itu mirip Scarlet Witch

 

Dua film horor Hanung sebelumnya, Legenda Sundel Bolong (2007) dan Lentera Merah (2006), dibuat dengan landasan sejarah yang kuat. Sama-sama berhubungan dengan peristiwa politik di tahun 1965. Pada film horor terbarunya ini pun, Hanung mengisi latar itu dengan latar sejarah. Era 70an saat Indonesia memasuki fase Pemilu dengan tiga partai peserta untuk pertama kalinya. Soeharto akan menjabat kembali, situasi politik memanas, dan banyak pembunuhan terjadi terutama di kalangan ulama. Namun sebagaimana dengan ekspektasiku terhadap bahasan ketindihan, ekspektasiku terhadap landasan sejarah ini juga tidak mendapat balasan yang memuaskan. Selain set up informasi dari headline koran-koran sebagai kredit pembuka, latar tersebut tidak terasa betul dimainkan di dalam cerita. Mungkin karena aku juga gak begitu paham seperti apa kejadian politik tersebut, asumsi terbaik yang bisa kuberikan adalah kemelut rumah tangga atau keluarga yang dialami karakter, kejadian-kejadian mengerikan yang terjadi kepada mereka, tebas-tebas kepala, tidur di malam hari dalam ketakutan, merupakan penggambaran horor dari kejadian politik tersebut. I’m not sure, mungkin kalian yang lebih ngerti politik bisa berbagi di komen soal gimana latar politik itu actually dimainkan ke dalam penceritaan film ini.

Bagiku sebagai penggemar film khususnya horor, yang jelas cukup berhasil dilakukan oleh Hanung di sini terkait era jadul adalah menghantarkan vibe horor di era tersebut. Film ini dengan sosok kepala terbangnya, ketawa cekikikan khas hantu wanitanya, bahkan penyelesaian dengan ayat suci, terasa seperti horor era 80an. Hanya dengan kualitas desain yang lebih kinclong. Percakapan dari para karakter yang sangat diverse juga menambah pada kesan ini. Karakter ceritanya ada yang orang Jawa, Medan, Belanda, hingga Melayu. Cukup memberikan warna. Harapannya sih harusnya semua aspek di sini diperdalam lagi. Penceritaannya dilakukan dengan lebih matang lagi. Karena yang actually kita saksikan, bisa dibilang masih berantakan. I don’t even know where to start. Baiknya mungkin dari tampilan horornya. Film ini sebenarnya bermain dengan build up yang baik dan terencana. Kita dikasih tau dulu ‘suasana’ yang mencirikan si hantu bakal muncul. Ada lagu khususnya, juga. Film perlahan membendung sosok si hantu. Awalnya ditampilkan lewat bayangan kepala terbang. Ini buatku efektif sekali, karena somehow kayak lihat sebuah pertunjukan shadow puppet alias wayang yang sangat seram. Kemudian di tengah-tengah durasi barulah film beralih ke trik-trik jumpscare. Si hantu kepala terbang itu bisa muncul kapan saja, tau-tau ada di akhir panning kamera. Inilah bentuk film menaikkan intensitas horornya seiring meningkatnya tensi cerita. Arahan yang jempolan, hanya saja masalahnya adalah cerita yang dipunya. Seperti yang sudah kusebut, film ini tidak menyelami karakternya.

Ketindihan tidak dibuat sebagai teror psikologis seseorang yang restless atas hal buruk yang di masa lalu pernah mereka lakukan dan mereka masih dihantui perasaan tersebut meskipun berusaha bersikap keras untuk move on hidup seperti biasa. Ketindihan di sini hanya bentuk lain dari kesurupan, dan karakternya hanya bereaksi terhadap rasa takut. Siapa dan apa yang sebenarnya mereka rasakan di balik ketakutan itu ditutupi oleh film, yang memilih bercerita dengan formula pengungkapan-pengungkapan ‘ternyata begini, ternyata begitu’

 

Ini sangat mengecewakan karena karakter Rara dan Sutan suaminya sebenarnya kompleks. Mereka ini bentukan protagonis yang amat dark. Tapi alih-alih membahas psikologis mereka sebagai sudut pandang utama, film memilih untuk menyimpan sebagai ‘twist’ dan karakter mereka dari awal hingga ke pertengahan-akhir di-reduce sedemikian rupa, hingga penonton di studioku lebih banyak ketawa ngelihat mereka teriak-teriak ketakutan. Ngeliat Sutan yang kayak penakut kocak. Ngeliat Rara yang kayak sok galak tapi nyalinya ciut juga. Selain motivasi, dinamika dua karakter sentral ini sebagai pasangan juga jadi tidak jelas. Like, film bahkan tidak benar-benar berhasil melandaskan kenapa mereka bisa jadi suami-istri yang kompak dan saling cinta. Karena peristiwa mereka bisa ‘jadian’ itu saja melibatkan sengketa berdarah yang cukup pelik. Dengan ‘menyembunyikan’ kompleksnya karakter mereka, film malah jadi bergantung kepada karakter pendukung untuk menggerakkan cerita. Di sini bagiku konyolnya. Karakter dukun dari Malaysia itu, si Yusof, entah kenapa malah dibentuk seperti hero utama. Bentukan dan karismanya dibuat lebih gede daripada Sutan. Dia lebih rasional dan lebih beralasan daripada Rara. Plot jalan karena investigasi yang dia lakukan – bayangkan seorang detektif yang nyentrik, dan supernatural. Dia dibentuk seperti hero, tapi lantas dicut dari cerita sebagai just another surprise setelah fungsi utamanya dirinya sebenarnya terlaksana. Yaitu jadi alat buat mewakili kita mendengar flashback eksposisi.

Trinil: Kembalikan Waktuku

 

Ah, ya, flashback eksposisi. Plot device kegemaran horor-horor Indonesia yang terlalu napsu pengen tayang cepet sehingga malas merampungkan naskah dengan benar. Sebenarnya makek flashback itu gak dosa. Cuma yang sering gak bener adalah pemakaiannya, yang kebanyakan hanya jadi shortcut, hanya jadi ‘kemudahan’ untuk menyampaikan sesuatu. Gini, ketika seorang karakter menceritakan kejadian masalalu, maka flashback kejadian yang kita tonton harusnya ada menampilkan si karakter tersebut. Karena logikanya, dia tidak bisa bercerita tentang hal yang tidak ia ketahui. Kecuali yang ia ceritakan adalah sebuah legenda. Tapi meskipun begitu, film yang bagus akan menggunakan flashback legenda tersebut sebagai sesuatu untuk sang karakter. Entah itu legendanya ternyata salah karena ia adalah karakter yang tak-bisa-dipercaya, atau at some point diungkap peran dia terhadap legenda tersebut lebih besar daripada kelihatannya. Di Trinil, flashback eskposisinya adalah masa kecil Rara, dan kejadian sebenarnya di balik ibu Rara yang menghilang, yang menghubungkan misteri kematian dengan hantu kepala terbang. Flashback tersebut diceritakan kepada Yusof, oleh seorang karakter yang tidak pernah dibangun reliabilitasnya kenapa dia bisa sampai tau semua itu. Kenapa dia bisa sampai tahu posisi eksak orang-orang di dalam cerita, kenapa dia sampai tahu cerita dari berbagai sudut pandang tokoh. Inilah kenapa aku bilang penceritaan harusnya dilakukan dengan lebih matang. Karena semua informasi itu belum benar-benar diramu penyampaiannya. Naskahnya masih kayak basic draft, bahkan karakter-karakternya masih terasa lebih seperti device ketimbang manusia yang hidup di dunia cerita itu sendiri. Pembelajaran Rara, momen yang nunjukin dia berubah jadi pribadi yang lebih baik; dilakukan dengan tiba-tiba ada ‘hantu’ ayahnya datang memberikan nasehat.

Mantra yang berkali-kali terucap di kepalaku saat menonton adalah, masa iya Hanung bikin film kayak gini? Sebenarnya ini gak separah horor-horor ngasal, cuma yang kudapati di sini adalah ‘penyakit’ yang biasanya dilakukan oleh sineas baru yang cara berceritanya belum punya bentuk. Yang belum se-establish seorang Hanung Bramantyo. Apakah tuntutan industri sedemikian jadi momok? Dari segi akting aja, udah kerasa lepas dari standar Hanung yang biasa. Para pemain ekstra tampak lebih lumayan kebentuk dibanding karakter sentral.  Yang paling lumayan adalah Wulan Guritno, karena kebutuhannya di sini adalah jadi hantu yang over-the-top, easily tackled by her. Namun Rangga Nattra sebagai Sutan, jadi kayak lagi main komedi. Fattah Amin mungkin memang diniatkan sebagai stealer, tapi karakternya diintroduce dan diperlakukan dengan build up yang aneh. Carmela van der Kruk, mungkin aku salah satu dari sedikit orang yang sampai sekarang masih ngikutin perkembangan Gadis Sampul, dan aku selalu excited dan dukung dan selalu berusaha nonton kalo ada Gadsam main film. I’m happy Carmela dapat peran utama dan main horor pertama. Apalagi ini filmnya Hanung! Di sini talent fashionnya kepake banget pake dress-dress cute ala Eropa. Jadi kontras setting yang seru di lingkungan horor. Tapi pelafalan dialognya need more work. Apalagi untuk kalimat-kalimat panjang yang masih sering dilakukannya dalam satu tarikan napas. Again, ini seperti kurang tight pengarahan yang dilakukan oleh sutradara di bawah standar Hanung yang biasa.

 




Film pertama yang kutonton di tahun 2024, bukanlah sebuah tontonan yang memuaskan. Setidaknya ada dua ekspektasiku (dari yang seperti yang dijanjikan film) tidak terpenuhi. Pertama soal teror ketindihan, yang ternyata hanya kesurupan biasa, dan film lebih sebagai sebuah sajian teror kejadian-kejadian seram dan eksposisi alih-alih sebagai penyelaman karakter terhadap hal kelam nan kompleks yang mereka lakukan. Kedua soal era politik/sejarah yang dijadikan latar, yang ternyata tidak benar-benar jadi bahasan. Yang mungkin cuma jadi gambaran saja. Ultimately, film ini mengejutkanku karena tidak terasa seperti standar buatan Hanung yang biasa. Bahkan dramanya saja tidak terasa benar-benar kuat. Mungkin ada yang putus lagi selain kepala hantunya?
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for TRINIL: KEMBALIKAN TUBUHKU

 




 

That’s all we have for now.

Jangan lupa untuk subscribe Apple TV, ada banyak serial dan film-film original yang tayang di sana. Di antaranya adalah Killers of the Flower Moon yang masuk dalam Daftar Top-8 Film Favoritku tahun 2023. Tinggal klik di link ini yaa https://apple.co/3QWp4Yp

Get it on Apple TV
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA and BEST BOOK REVIEW HORROR & THRILLER EDITION ON TWINKL