GUARDIANS OF THE GALAXY VOL. 2 Review

“Sometimes the family we make for ourselves is more important than the family we are given through blood.”

 

 

“Hey Marvel, mari kita bersenang-senang. Berikan kepadaku karakter-karakter bercela yang kalian punya, kuterbangkan mereka seantero jagat raya, kupasangkan walkman, kuputarkan hits dari tahun delapan puluhan, dan kubiarkan mereka menari sambil beraksi seasik-asiknya!” Begitu kiranya yang dicetuskan sutradara James Gunn ketika dia menangani film Guardians of the Galaxy (2014). Jadilah kita dapet superhero unik yang menggabungkan aksi amat seru, musik supernendang, dengan hubungan antarkarakter yang kocak abis. Dan di film yang kedua ini, right at the start, kita langsung diterjunkan ke dalam sekuen aksi yang cantik dan luar biasa, yang juga memberikan kita gambaran akan seperti apa tone film ini.

Kita bisa lihat lelucon dan gaya dari film yang pertama tetap dibawa ke film terbaru ini. Star-Lord, Rocket, Drax, Gamora, dan Baby Groot (gemessshh!!) sekarang sudah berteman makin erat. Kita turut ngerasa kian akrab sama mereka. Mengemban nama Penjaga Galaksi, kumpulan orang keren ini menerima pesenan ngelakukan tugas di ruang angkasa. As of right now, mereka sedang dalam misi mengalahkan sesosok monster besar. Dan alih-alih nyorot aksi pertempuran tersebut secara langsung, kita dikasih fokus ke kegiatan Baby Groot yang mencoba dengerin musik di antara desingan peluru cahaya dan tentakel si monster. Pertempuran seru berlangsung di latar, dan terkadang Gamora ataupun tokoh lain terlempar ke arah Groot, dan mereka nyempetin diri untuk menyapa. Lucu, manis, dan tetap menegangkan. Sebenarnya apa sih yang bisa kita pelajari dari adegan tersebut? Apa yang ingin dibicarakan oleh film ini?

Sekali lagi, kevulnerablean muncul ke permukaan. Para tokoh menurunkan sedikit ‘pertahanan’ mereka untuk berinteraksi dengan Groot, dan aka nada banyak momen lagi di sepanjang film saat seorang karakter menunjukkan kualitas terburuk mereka. Berbahaya, memang. Tapi not so much, jika kita menunjukkannya kepada keluarga. Film ini ingin memperlihatkan bahwa keluarga adalah tempat kita bisa mengeluarkan sisi terjelek sama amannya dengan kita mengeluarkan sisi terbaik. We can show both of sides of ourselves kepada keluarga karena keluarga akan memaafkan dan kita pun siap untuk memaafkan anggota yang lain. Bahwa cinta keluarga adalah tak-bersyarat.

 

Ada peraturan tak-tertulis yang dipatuhi oleh beberapa film dalam menggarap sekuel. Film kedua kebanyakan akan berpusat di masa lalu yang balik menghantui tokoh utama. Di balik semua lelucon, Guardians of the Galaxy Vol.2 adalah TENTANG KELUARGA. Star Lord akan dihadapkan kepada garis keluarganya. Dia akan bertemu dengan ayahnya yang sudah lama menghilang. Bersamanya, kita akan belajar tentang siapa sih ayah si Peter Quill, apa yang membuat orang ini menjadi begitu spesial dan berbeda. Bukan hanya Star Lord, film ini pun mengeksplorasi sisi keluarga dari tokoh-tokoh lain. Both heroes and some of the villain characters. Yang kemudian akan menghantarkan kita untuk belajar mengenai asal muasal mereka, membuat kita bersimpati atas trauma masa lalu yang menimpa, dan ultimately membuat setiap karakter dalam film ini memiliki bobot yang sangat kuat.

Mari berharap di misi selanjutnya Star Lord cs ketemu ama geng Cowboy Bebop

 

Ketika mendengar sebuah film akan dibuat sekuelnya, biasanya kita langsung mengharapkan yang tinggi-tinggi. Kita pengen film baru itu akan dua kali lebih seru, aksinya dua kali lipat lebih menegangkan, emosinya dua kali lipat bikin baper, dan hey, ledakan yang du…em, lima kali lebih banyak! The thing is; sekuel enggak selalu harus lebih besar. Karena yang lebih besar belum tentu lebih baik. Beberapa film hebat menggarap sekuel dengan jalur yang berbeda dari film originalnya. Ambil contoh franchise Alien (1979); film pertamanya lebih kepada thriller sci-fi yang sangat efektif. Ketika membuat sekuelnya, James Cameron enggak mau menapaki langkah yang persis sama dengan Ridley Scott, maka ia mengarahkan Aliens (1986) menjadi lebih ke elemen action. Dalam kasus Guardians Vol 2, jelas James Gunn paham akan hal ini. Dia bisa saja membuat film ini punya ground yang sama dengan yang pertama, dengan mengedepankan banyak aksi exciting dan tokoh-tokohnya berkelakar setiap saat. Tapi enggak. James Gunn membuat Volume 2 sebagai less of a bigger action film, dia membuatnya GEDE DI BAGIAN KARAKTERISASI.

Kekuatan dan daya tarik film ini tidak lagi ada pada sekuen aksi. Meskipun tentu saja film ini punya banget beberapa aksi yang bakal bikin kita bersorak. Apa yang dilalui oleh tokoh-tokoh dalam film ini akan membuat mereka sedikit kurang cool, dibandingkan pada film yang pertama, namun hal-hal yang mereka lalui akan menjelaskan banyak karakter yang mereka punya. Kenapa Rocket merasa perlu untuk mencuri, apa yang sebenarnya ia berusaha untuk buktikan, misalnya. Kita akan belajar lebih banyak tentang masing-masing tokoh, sehingga membuat mereka jadi punya bobot – jadi punya alasan untuk kita cheer dan punya alasan untuk berada di dalam cerita, lebih dari sekedar orang kocak, ataupun rakun imut yang sangat badass. James Gunn menekankan kepada detil traumatis masa lalu yang mereka hadapi yang membuat mereka pribadi yang kita kenal sekarang. Setiap tokoh terflesh out dengan sangat emosional. Terutama Nebula dan Yondu.

Dibesarkan oleh Thanos pasti bukanlah pengalaman masa kecil yang menyenangkan. Dalam film pertama kita belum benar-benar tahu alasannya kenapa. Kita belum mengerti apa yang membuat Nebula sangat jahat, tidak seperti kakaknya yang lebih bisa diajak kompromi. Dalam Volume 2 ini, kita akan mengetahui alasannya, dan ternyata alasan tersebut sangat heartbreaking dan luarbiasa tragis, khususnya untuk Nebula. Saat kit mikirin tentang masalalunya ini, kita jadi merasa terattach kepadanya. Penampilan Karen Gillan mungkin agak sedikit over, namun kita jadi melihat Nebula sebagai makhluk yang sangat manusiawi – walaupun dia bukan manusia. Michael Rooker sebagai Yondu juga sukses mencuri setiap adegan yang ia mainkan. Tokohnya di sini lebih baik dibanding film pertama, dan bahkan aku sudah suka sejak film originalnya itu. Senjatanya keren banget, kayak Shinso di anime Bleach. Dalam film kedua ini, berkat penulisan yang hebat, kita belajar banyak sehingga membuat kita sangat peduli padanya. Yondu punya penokohan yang paralel dengan Rocket, dan the later character benar-benar diuntungkan dari Groot yang sekarang menjadi bayi. While Groot bener-bener kayak bayi, dia tak pelak bikin kita bilang “aaaaaawwwhh” setiap kali muncul di layar, di sini dia kinda dumb. Jadi persahabatannya dengan Rocket enggak dieksplor banyak, instead kita dapat eksplorasi tokoh Rocket yang membuat dia juga terasa lebih manusiawi.

Semua aktor bermain dengan fantastis. Di antara para tokoh yang paling sedikit kebagian dieksplor adalah Drax. But oh boy, James Gunn menulis tokoh ini dengan meniatkannya menjadi tokoh humor. Drax adalah yang paling kocak dan Batista bener-bener deliver komedi dengan baik. Celetukan dan lelucon terbaik datang dari tokoh ini, dari cara pandangnya terhadap sesuatu yang amat sangat tak-biasa.

Aku ngakak berat di bagian Mary Poppins xD

 

Satu jam pertama film memang terasa riweuh. Ada banyak pergantian kejadian yang membuat emosi kita kayak diombang-ambing ombak, flownya sedikit kurang mulus. Aku pikir ini banyak sangkut pautnya dengan salah satu pihak antagonis; itu loh, orang-orang emas yang mengejar Guardians pake pesawat dengan teknologi kayak game arcade. Mereka muncul sewaktu-waktu dan memberikan tantangan kecil-kecilan untuk tokoh pahlawan kita. Buatku, Ratu Ayesha dan pengikutnya ini lumayan useless, kita enggak benar-benar butuh mereka. Tapi aku paham film butuh tipe penjahat ‘bego’ kayak gini sebagai distraction sebelum pertempuran yang sebenarnya dimulai.

Kadang kita bertengkar dengan mereka. Kadang kita saling enggak tahan kepada masing-masing, tapi pada akhirnya kita tetap berdiri bersama. Itulah keluarga. Tidak selalu harus ada hubungan darah. Keluarga adalah orang-orang yang saling berbagi dengan kita, yang kita saling menumbuhkan kekuatan, yang kita nyaman menjadi diri sendiri saat bersama mereka. Bahkan Dewa, menurut film ini, berusaha untuk menemukan tujuan hidup dan menanggulangi rasa kesepian – berusaha untuk konek dengan seseorang, mencari seseorang untuk berbagi.

 

Karena karakter-karakternya telah disetup dengan teramat baik, menjelang menit-menit akhir, film ini sukses membungkusku dengan emotional weight. Momen indah hadir susul menyusul. Tapi aku harus bilang, visual film juga memegang peranan penting. Sebab untuk beberapa bagian, film ini terdengar agak cerewet. Maksudku, momen-momen emosional itu, kita sudah benar-benar ngerasain apa yang diniatkan – emosinya sudah terdeliver. Hanya saja, momen tersebut kinda lecet karena dialog dari tokoh yang overstating apa yang kita rasakan. Mestinya enggak semuanya perlu diucapkan. Efek yang lebih kuat bisa dirasakan jika tidak dikatakan. Masalah yang mirip juga aku temukan pada tokoh Ego yang diperankan oleh Kurt Russel. Ayah Quill ini charming banget, sayang perannya kerap berkurang menjadi sebatas penyampai eksposisi. Karakter ini mestinya bisa ditulis lebih baik lagi.

 

 

 

 

Tidak lantas menjadi lebih bagus, lebih exciting, lebih gede dari film pertamanya, petualangan para superhero luar angkasa kali ini memang difokuskan kepada karakterisasi. Porsi aksi keren dengan visual stunningnya mesti ngalah buat pengembangan relationship antarkarakter; yang diolah dengan fantastis dan benar-benar efektif sehingga kita merasa lebih peduli kepada mereka. Setiap tokoh yang punya bobot lebih banyak. Dan ini membuat kita menantikan petualangan-petualangan mereka selanjutnya.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for GUARDIANS OF THE GALAXY VOL. 2

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 
We? I am Groot. Eh sori, maksudnya… We be the judge.

MEMBABI-BUTA Review

“Curiosity killed the cat.”

 

 

You can tell dari posternya yang lumayan keren, film ini bakal berdarah-darah. Prisia Nasution kelihatan sangat mengancam mejeng bareng kapak gede dari abad pertengahan tersebut. Genre Thriller apalagi yang berturunan slasher akan selalu dapat sambutan yang hangat, akan sangat menarik untuk melihat apa yang bisa dilakukan oleh sutradara Joel Fadly dalam film debutannya ini sehubungan dengan efek-efek praktikal anggota tubuh yang tercincang-cincang. Kita bisa mengharapkan film ini bakal goes medieval on us.

Membabi-Buta adalah cerita tentang wanita bernama Mariatin yang baru saja mulai bekerja sebagai asisten rumah tangga di kediaman Sundari dan Sulasmi, kakak-beradik yang masih memegang teguh budaya Jawa. Kedua wanita paruhbaya tersebut sayangnya bukan tipe nenek-nenek yang suka masakin kue. Mereka galak. Sulasmi suka ngebentak. Sundari dingin banget, meski dia masih nunjukin kepedulian sama anak kecil yang menggigil kedinginan. Namun kepada Mariatin, mereka berdua ini udah kayak ibu tiri. Mariatin diberikan peringatan dan aturan-aturan yang cukup aneh begitu dia masuk ke dalam rumah tersebut. Pintu dan jendela yang senantiasa tertutup rapat, kamar yang hanya bisa dimasuki dengan ijin terlebih dahulu, telepon yang tak boleh ia pakai, dan peraturan utama rumah tersebut adalah jangan banyak tanya. Untuk memperaneh suasana lagi, Mariatin kerap mendengar suara wanita di tengah malam; jeritan yang seolah sedang disiksa. Mariatin berusaha untuk enggak mikirin semua ini, dia tetap bekerja meski rasa ingin tahunya semakin gede. Garis batas bagi Mariatin adalah ketika putri kecilnya, Asti, makin hari makin menunjukkan gelagat aneh dan kemudian jatuh sakit. “Mungkin kebanyakan main”, kata Ndoro Sundari ketika ditanyai. Eventually, misteri yang terjadi di rumah tersebut terkuak dan Mariatin bertindak membabi buta demi keselamatan putrinya dan kita mendapatkan sebuah film slasher.

A very bad one.

Film ini MEMBOSANKAN. Oke, aku sendiri enggak percaya seumur-umur aku bakal ketemu slasher yang bikin mataku berair karena kebanyaka menguap. I mean, hakikatnya genre ini pastilah brutal dan menegangkan, dan jika kau berhasil membuat hal-hal brutal tersebut menjadi boring, maka kupikir, itu bisa menjadi prestasi tersendiri. Jadi, selamat deh buat film Membabi-Buta, you are breaking a new ground!

Hingga babak ketiga, film ini akan datar-datar aja. Tak sekalipun elemen lokasi tertutup dimanfaatkan dengan benar-benar maksimal. Kita hanya melihat Mariatin yang disuruh-suruh. Thriller haruslah punya set up, segala ketegangan mestinya dibendung dari awal untuk kemudian dilepaskan di akhir. Menciptakan sensasi seram tanpa membuat penonton merasa lega. Film ini tidak mampu menguarkan ketegangan. Untuk bikin takut, film ini hanya mengandalkan kepada trope-trope horor. Banyak adegan berupa; seseorang mengintip, lalu yang diintip menoleh mendadak, dan BLAAARR suara keras di layar saat yang ngintip tersentak kaget. Dan memang kelihatannya film ini berusaha terlalu keras untuk menjadi seram dan menegangkan. Sundari dan Sulasmi bersikap misterius dan kejam sepanjang waktu sampai ke titik aku bingung sendiri; ini film pembantu yang teraniaya atau film tentang majikanku misterius kayak hantu, sih? Di akhir-akhir, film bahkan mencoba memancing sisi dramatis, yang nyatanya juga berdampak datar karena enggak disetup dengan baik.

“Sifat sok-seram kamu yang berlebihan akan menyusahkan kamu sendiri!”

 
Tokoh utama kita sebenarnya punya karakter yang cukup ‘berdaging’. Mariatin dituliskan punya sifat ingin tahu yang besar, dia cenderung nekat. Sebagian besar bentakan majikannya datang dari Mariatin yang dinilai bersikap kurang sopan, main masuk kamar seenaknya. Ada satu adegan yang bikin aku ngakak, yaitu ketika mereka makan malam. Sundari dan Sulasmi mempersilakan Mar dan anaknya makan bareng di meja makan, tapi Mar pada awalnya menolak. Selain takut gasopan, aku mikirnya mungkin Mar sedikit jijik ngeliat mata cacat Sulasmi, atau mungkin dia masih kebayang kuku kaki Sulasmi yang panjang-panjang yang baru saja ia cuci (ewwww!), jadi dia enggan makan bareng mereka. Namun ternyata, setelah mereka makan, justru ternyata Sulasmi yang ilang selera demi mendengar Mar yang makannya ngecap alias ngunyah dengan mulut terbuka sehingga bunyi decapannya konser ke mana-mana ahahhaha. Mariatin ternyata makannya lahap loh, sebodo amat kalo tempat ama majikannya nyeremin gilak!

Hal menarik dalam film ini adalah gimana Sundari dan Sulasmi bersikap lebih ramah kepada Asti dibandingkan kepada Marianti.Yea, mungkin karena dia anak kecil dan dua saudari ini punya latar belakang sehingga numbuhin soft spot kepada anak kecil. Tapi kupikir ini juga ada kaitannya dengan Asti yang patuh dan Mar yang bertindak atas rasa ingin tahunya. Asti dianggap baik, tapi is it truly what makes a “good girl”? Apakah memang kemampuan untuk mengikuti perintah atau intruksi tolak ukur seseorang bisa dikatakan anak baik?

 

Masalahnya adalah, dengan sifat yang penuh ingin tahu sehingga bikin kesel majikannya itu, narasi tidak memberikan banyak ruang bertindak kepada Mariatin. She’s rarely making any choices. Dan di waktu-waktu langka tokoh yang mestinya relate buat kita ini memilih suatu keputusan, yang dia ambil adalah keputusan yang bego. Gini contohnya, Mariatin baru saja melihat sesuatu yang menyeramkan di bawah sana, ada cewek yang dirantai dan disiksa, in fact, dirinya sendiri practically baru saja lolos dari maut, dan bukannya langsung kabur bawa anaknya, dia malah naik ke atas minta tolong ke kamar salah satu majikan yang gak bisa dibilang ramah kepadanya. Konteks film ini adalah Mariatin menahan diri untuk kemudian, akibat tekanan yang terus menempa, dia akan membabi buta melepaskan semuanya. Tapi konteks ini tidak diisi dengan konten-konten yang meyakinkan. Alih-alih bermain di ranah pengembangan karakter Mariatin, film ini fokus ke mengorkestrain serem dan drama. Yang dibutuhkan film ini adalah layer untuk mmeperkuat perspektif tokohnya. Tapi film tidak pernah mempedulikan hal tersebut, film ingin terus menakuti-nakuti penonton. Makanya kita dapat adegan mimpi yang entah dari mana dan gak make sense dan gak klop dengan tema cerita, like, kenapa Mariatin ngalamin mimpi tersebut? Emangnya ada hantu yang minta tolong or something?

Ada banyak pertanyaan yang ditimbulkan oleh film ini lantaran memang plot-plot thread tersebut tidak dibungkus dengan baik. Atau malah lantaran kelupaan dibahas. Kita dianggap nerimo begitu saja ‘jawaban’ yang diberikan, tanpa cerita benar-benar menjelaskan kenapa dan bagaimananya. Aku gak mau ngespoiler terlalu banyak, tapi motivasi dua saudari ini rada gak jelas dan enggak benar-benar klop dengan jawaban sebab musabab yang diberikan.

nah ini, baru seram!

 

Bahkan adegan yang paling kita tunggu-tunggu, adegan ketika semuanya menjadi hantam-hantaman, tubuh terpotong-potong, enggak dihandle dengan cakap. Kamera seringkali ngecut di setiap momen-momen penting. Koreografi kelahinya juga terlihat gemulai, enggak intens. Mungkin karena keterbatasan fisik para pemain, tapi masa sih enggak pake pemeran pengganti? Inti problemnya memang di pengarahan. Penampilan akting di sini terletak di antara over-the-top dengan enggak meyakinkan. Bahkan Prisia Nasution yang biasanya bermain bagus, dalam film ini enggak convincing enough. Karakter Mariatin seharusnya babak belur secara fisik dan emosi, tapi sama sekali tidak tergambar ke layar. Tidak ada bobot emosi yang terdeliver kepada kita para penonton. Dan tokoh anak kecilnya, ya sesuai standar film Indonesia lah; anak-anak hanya sebagai device yang tokohnya enggak berjiwa, enggak berattitude. Film ini ditutup dengan ending yang sebenarnya bisa bekerja baik jika didevelop telaten sedari awal. Dari plot standpoint sendiri, memang endingnya harus begitu karena membuat tokohnya mengalami perubahan. Sayangnya, karena narasi yang amburadul dan tidak dieksplor dengan genuine, jadinya terasa maksa dan out-of-nowhere.

 

 

 
Bertemakan tentang tindakan nekat, tapi filmnya sendiri malah bermain aman. Tidak ada resiko kreatif yang diambil. Sebelum sampai di bagian slashernya, kita akan dininabobokkan oleh cerita yang tidak dimasak, satu-satunya yang bikin kita tetap terjaga adalah suara musik yang keras dan suara bentakan Sulasmi. Dan ketika sampai di bagian slasher di akhir pun, rasanya penantian tidak terbayar tuntas. Adegan-adegannya tidak maksimal, aku mengharapkan praktikal efek yang bener-bener seger dan unik. Namun sama seperti bagian lain film ini, bagian akhir juga tidak menampilkan sesuatu yang baru. Jadi jangan dulu bilang sebagai karakter studi atau apa, sebagai media hiburan semata saja, film ini gagal menjalankan tugasnya.
The Palace of Wisdom gives 2 gold stars out of 10 for MEMBABI-BUTA.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 
We? We be the judge.

THE CIRCLE Review

“The price for safety is the loss of privacy.”

 

 

Teknologi berfungsi untuk mendekatkan yang jauh. Dan sebagai timbal baliknya, teknologi juga dapat menjauhkan yang dekat. Mae Holland merasakan langsung kebenaran pepatah masakini tersebut. Cewek muda yang diperankan oleh Emma Watson itu keterima kerja di sebuah perusahaan supergede yang bernama The Circle. Sebagai seorang cutomer service di company tak-ternama, Mae tentu saja girang ketika dia berhasil dapet posisi serupa di The Circle. Gini, bayangkan kantor Google, kemudian campurkan dengan social media, dan letakkan di lingkungan kerja yang sangat modern di mana semua ide akan dihormati dan pencetusnya akan dielukan seolah mereka adalah keturunan Albert Einstein. Begitulah lingkungan perusahaan The Circle; tempat yang sangat kekinian dan menyenangkan.

Dan semua pekerja di sana saling terhubung satu sama lain. Mae dan para karyawan yang dipanggil Circler digebah untuk selalu aktif di akun media sosial dan memberitahukan semua yang mereka lakukan ke semua pengguna. Dan eventually, Mae yang dengan cepat naik pangkat, setuju untuk menjadi seratus persen transparan. Dalam artian, dia secara sukarela memasang kamera canggih segede bola mata di badannya supaya orang-orang bisa ngikutin semua kegiatannya setiap detik dua-puluh-empat-jam sehari.

kecuali saat dia ke toilet, you pervert!

 

Elemen thriller coba dibangkitkan oleh film ketika Mae mulai bekerja di The Circle. Aku enggak mau repot-repot nonton trailer, jadi sebelumnya aku enggak tau ini film tentang apaan. Kesan yang datang saat melihat gestur dan aktivitas para eksekutif membuatku berpikir bahwa kantor Mae ini adalah semacam cult terselubung. Semua orang terlihat gembira ‘menjual’ kehidupan pribadi dan privasi mereka. Pemimpin dari organisasi ini; Eamonn Bailey, adalah pembicara yang begitu karismatis, membuat kita terbayang sosok Steve Jobs, hanya dengan sedikit nuansa jahat. Sepanjang film berlangsung kita akan melihat gimana mereka sama sekali tidak peduli dengan privasi, malahan mereka tampak ingin membuat ketiadaan privasi sebagai hal yang lumrah karena kita akan diperlihatkan sisi positif dari memasang kamera kecil di setiap sudut di berbagai tempat. Mae dapat banyak followers baru, posisinya kian naik, dan dia benar-benar suka dengan gagasan criminal bisa tertangkap hanya dalam beberapa menit saja. Tapi kita juga bisa melihat apa yang tidak terlihat oleh Mae, apa yang membuat keluarga dan sahabat Mae menolak online berlama-lama; semua ini mengarah kepada invasi privasi dan banyak lagi komplikasi hak-hak asasi.

Perkembangan teknologi sudah demikian pesatnya, sampai-sampai film yang didaptasi dari novel terbitan 2013 ini terasa agak ketinggalan jaman. Kita sudah tahu dan aware akan apa yang ingin disampaikan oleh film. Kata-kata “teknologi mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat” sudah kita dengar sejak beberapa tahun yang lalu. Tapi tetap saja, setiap hari perkembangan tersebut semakin gencar. Sekarang kita punya banyak aplikasi seperti Facebook Live, Insta-Story, atau malah Bigo live, yang pada beberapa kesempatan bikin kita geleng-geleng “wah, lagi liburan privasi juga liburan.”

Konsep sharing is caring adalah hal yang lumrah buat generasi milenial, namun sejatinya kita kudu berhenti sejenak dan berpikir; Apakah kita perlu ngeshare segalanya? Apakah semua pantas untuk dibagikan?

 

Ketakutan yang dirasakan oleh orang-orang sehubungan dengan teknologi digunakan oleh film sebagai pemancing drama. Ada ELEMEN SATIR yang lumayan kuat yang mampu mengundang sejumlah tawa. Ada elemen politik juga, di mana The Circle, demi hajat hidup orang banyak, ingin mengawasi kerja pemerintah secara langsung sehingga tidak ada penyelewengan. Namun, cara film ini mengeksplorasi elemen thriller dan dramanya sangat kacau sehingga ceritanya nyangkut di level aneh, alih-alih menarik, let alone thought-provoking. Susah aja bagi kita nerima kenyataan film bahwa ratusan orang – atau malah milyaran, seperti yang disebutkan film – mendukung ide soal kamera yang benar-benar meniadakan privasi. Iya, kita melihat beberapa komen yang enggak setuju, orang-orang terkasih dari Mae juga enggan untuk terlibat, namun film ini tidak pernah dengan mulus membahas konflik yang mestinya muncul dari potensi invasi privasi gede-gedean ini.

Instead, dari awal sampai akhir kita hanya mendapat satu insiden. Satu momen konflik. Sebagian besar film ini adalah tentang Mae ataupun pemimpin organisasi yang berbicara mempersembahkan ide mereka di depan karyawan dan eksekutif. Kita bisa melihat beberapa gagasan mereka ada yang benar, ada yang salah. Hanya saja tidak pernah berkembang menjadi konflik. Semuanya mengempis begitu saja; terlupakan, karena di adegan berikutnya semua tampak menjadi normal dan termaafkan. Di tengah-tengah film aku ngarep ada kejadian apa kek, paling enggak Mae sama sahabatnya berantem jambak-jambakan. Aku ingin lihat orang-orang itu mendapat pelajaran dan berubah. Tapi enggak ada kejadian apapun di film ini. Tidak ada resolusi yang menohok, tidak ada jawaban. Pada beberapa adegan terakhir, film mencoba untuk menjadi dramatis, hanya saja dengan absennya set up, satu konflik tersebut malah jadi abrupt dan tetep saja membuat film ini sebagai tontonan yang gampang untuk kita lupakan.

MINIMNYA KONFLIK tentu selaras dengan MINIMNYA KEPUTUSAN YANG DIBUAT OLEH KARAKTER. Inilah masalah terbesarku terhadap film The Circle. Tokoh utama kita, ‘pahlawan’ yang mestinya kita relasikan dengan diri sendiri, enggak banyak ngapa-ngapain. Mae ditulis dengan datar dan enggak menarik. Emma Watson adalah aktris yang cakap dan believable jika diberikan peran yang sesuai. Tetapi sebagai Mae, dia terdengar monoton, dengan banyak ekspresi bingung menatap layar. Interaksinya dengan karakter lain tidak lebih hanya sebagai sebagai device.

Film ini punya kebiasaan untuk memperkenalkan karakter tanpa memberinya plot ataupun hook buat kita pegang. Tom Hanks is barely in this film padahal perannya cukup penting; Bailey adalah yang terdekat yang kita punya dari seorang antagonis. Tapi meski demikian, bahkan karisma Tom Hanks enggak membantu banyak. John Boyega malah tampil lebih sedikit lagi, dengan peran yang selalu tenggelam ke background. Perannya di sini adalah sebagai Circler misterius yang mulai ‘curiga’ dan berontak terhadap organisasi. However, film menerjemahkan tokohnya ini hanya sebagai orang yang sesekali muncul untuk memperingatkan Mae. Tokoh favoritku di film ini justru adalah kedua orangtua Mae; Ayahnya (rest in peace Bill Paxton) yang mengidap MS dan Ibu yang setia mendampingi. Mereka berdua sangat penasaran sama kerjaan Mae, dan mereka adalah the voice of reason yang actually lebih mudah untuk kita dukung, dan punya relationship yang lebih menarik untuk diikuti.

ngestalk siapa lagi yaa kali ini?

 

Secara visual, ini adalah film yang mentereng. Namun secara teknis, film ini terasa kurang professional. Kita bisa melihat film ini dibuat dengan cakap, akan tetapi hasilnya secara keseluruhan tidak tampak seperti demikian. Yang paling kentara tentu saja adalah arahannya; sama sekali enggak spesial. Talenta para aktor disiasiakan, enggak satu pun dari mereka menyuguhkan penampilan yang memuaskan. Bahkan Tom Hanks terdengar lumayan monoton di sini. Aku baru saja pulang dari ngintip proses syuting film, maka mau tak mau aku memperhatikan gimana struktur pengambilan gambar; buat yang suka memperhatikan editing ataupun teknik ngesyut, maka pastilah bisa mengerti bahwa film ini menggunakan teknik yang enggak baik. Particularly, the way mereka menyambung adegan terasa kasar. Contohnya di adegan ketika Mae dan sahabatnya ngobrol di dalam bilik toilet terpisah. Film ini menggunakan sudut pengambilan standar untuk kedua tokoh, di mana Mae dan sahabatnya sama-sama diposisikan di tengah shot. Dan kemudian mereka ditampilkan bergantian, dengan sudut yang sama. Hasilnya cukup menggelikan, seolah Mae dan temannya itu muncul bergantian di bilik yang sama, padahal itu adalah bilik yang berbeda.

Mengetahui semua tidak pernah adalah hal yang baik. Karena itu berarti tidak ada ruang bagi kita untuk mempertanyakan sesuatu. Yang ultimately berarti tidak ada kesempatan untuk berkembang menjadi lebh baik lagi. Dan tentu saja mengetahui semua berarti tidak ada rahasia, sedangkan manusia perlu untuk menyimpan rahasia. Karena setiap kita sejatinya punya dua kehidupan, personal dan sosial. Dan di dunia di mana semuanya sudah overexposed,hal paling keren yang bisa kita lakukan adalah menjaga kemisteriusan diri.

 

 

 

Jika ini adalah cerita satir tentang society yang memutuskan untuk menjadi transparan sehingga tidak ada yang ditutupi, maka aku akan blak-blakan bilang ini adalah film yang membosankan. Penampilan datar dari barisan aktor yang sangat cakap. Arahan yang biasa aja dari sutradara yang mumpuni. Editing yang awful. Penulisan yang poor. Film ini is a complete mess, ia terlihat amatir padahal digarap oleh orang-orang yang bisa kita katakan sudah professional di bidangnya. Pesannya pun tidak seprovokatif yang diniatkan, lantaran we already know that.
The Palace of Wisdom gives 3 out of 10 gold stars for THE CIRCLE.

 

 
That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 
We? We be the judge.

Payback 2017 Review

 

Ketika dalam satu malam kita mendapat pertunjukan yang di dalamnya termasuk perpindahan sabuk juara, perubahan karakter dari baik menjadi jahat, main event brutal, dan pengalaman sinematik yang membuat kita seolah sedang menonton film horor dan lupa sejenak sedang menyaksikan gulat, semestinya kita akan merasa puas, dan hey, itulah yang kita inginkan. Perubahan, keseruan. Sesuatu yang tidak bisa diprediksi.

Namun, Payback bukanlah Wrestlemania. Payback adalah acara yang statusnya cukup complicated kayak mie goreng yang abis dikritingin; ia adalah katalis antara babak baru setelah Wrestlemania dengan alur saling silang akibat Superstar Shake Up dua brand acara. Dan karenanya, Payback tampil dengan terlalu ingin berbeda. Eksekusinya tidak pernah tampil seprima yang ingin dicapai. Dengan kata lain, Payback adalah ACARA YANG SOLID, JIKA KITA RELA MENURUNKAN EKSPEKTASI KITA SEDIKIT.

semoga gak ada ambulans yang terbalik setelah nyaksiin match House of Horrors

 

Hasil-hasil pertandingan acara ini sesungguhnya sangat memuaskan. Aku enggak akan bohong, aku senang sekali Cantikku yang malam itu pake attire bertema Ironman menangin sabuk dan jadi superstar cewek pertama yang pernah menyandang gelar juara wanita Smackdown dan Raw. Mudah memang mengoverlook Alexa Bliss yang literally lebih kecil dibandingkan Charlotte yang diasosiasikan dengan sosok Ratu yang agung sekaligus anggun. Banyak yang komplen soal gimana Alexa (atau sebagaimana aku suka memanggilnya Aleksya karena kedengerannya lebih imut) sudah tiga kali juara dalam jangka waktu empat bulanan, membuatnya selalu menang nyaris setiap kali dia menantang juara bertahan. But in no way Aleksya dijejelin gitu aja kayak Roman Reigns atau John Cena. Kali kedua Alexa jadi juara Smackdown hanyalah transisi yang disebabkan oleh juara benerannya cedera out of kemediokeran. Little Miss Bliss sudah mengalamin perkembangan karakter yang signifikan sejak bertutu biru di NXT, and she’s so over right now dengan karakter heelnya. Dalam match melawan Bayley, kita bisa melihat personality dan character work Alexa kian meningkat, sehingga Bayley terlihat begitu bland bersanding dengannya. Dari segi skill di dalam ring, baik Alexa dan Bayley sama-sama konsisten – meski masingmasing perlu memperhatikan timing sedikit – dan deliver. Adegan terakhir dari match mereka terlihat meyakinkan (baca: bikin aku ngelus-ngelus kepala sendiri). Walau memang mereka berdua sudah pernah nunjukin kemampuan dan gerakan yang lebih seru, namun dalam kapasitas bercerita, dalam pertandingan ini mereka sukses berat nunjukin laga antagonis dan protagonis dengan efektif.

Sukar dipercaya, di tahun 2017 nama seperti Chris Jericho dan Hardy Boyz mencuat sebagai pemenang kejuaraan. Terlebih saat salah satu dari dua pihak tersebut dirumorkan bakal cabut sebentar dari ring. Ini adalah semacam cara WWE ngetroll kita dalam menjadi unpredictable. Stipulasinya membuat kita menyangka Owens akan memenangkan pertandingan. There’s no way gimmick The Face of America yang dibawakannya berakhir dengan prematur. Dan lagi, siapa yang bakal menebak Walls of Jericho ternyata masih ampuh buat bikin lawan tap out, maksudku, selama ini Jericho selalu memenangkan pertandingan dengan Codebreaker. Jika ada apa-apa, maka bisa jadi kejadian ini adalah tanda bahwa keseluruhan acara bakal diselimuti oleh aura tak-terduga. Yang bikin pertandingan mereka makin seru adalah kepiawaian kedua superstar memanfaatkan angle ‘bertahan dengan satu jari’, konklusi pertandingan ini berpusat kepada angle ini, yang memang worked out dengan sangat baik.

Aleksya jangan mau dipeluk ama Bayley, dipeluk aku aja nyaaawww

 

Mungkin yang paling ngerasa surprise malam itu adalah Jeff Hardy. Tentu saja enggak ada yang memperingatkannya soal giginya bakal ditendang terbang oleh Sheamus. Ini menunjukkan betapa brutal semangat acara malam itu. Tim Penulis did such a great job ngebook gimana sebuah pertandingan keras berlangsung dengan tidak membeberkan terlalu banyak apa yang sudah mereka persiapkan sebagai surprise. Aku benar-benar enggak nyangka Sheamus dan Cesaro turn heel, dengan Cesaro jadi orang yang pertama melayangkan cheap shot kepada Hardy Boyz yang tengah merayakan kemenangan. Dan ini membuat kita semakin penasaran bagaimana cerita ini akan bergulir dan terutama dengan gimana mereka bakal mengaitkan semuanya dengan gimmick Broken dari Hardy Boyz, yang sudah jadi rahasia umum, bakal kejadian cepat atau lambat. Tapi untuk sementara ini, mengubah peran Cesaro dan Sheamus menjadi antagonis adalah keputusan yang tepat dan tak pelak bakal menambah rame scene tag team di brand merah.

Payback 2017 adalah pertunjukan yang membuat kita jadi enggak enak sendiri. Kita semua mengharapkan ada perubahan, baik secara aksi maupun presentasi storyline. Namun ketika kita sudah mendapatkan itu semua, masih saja kita mencela dan berharap mereka enggak perlu membuatnya menjadi senorak dan sepointless apa yang kita dapat dari acara ini.

 

 

Menampilkan dua pertandingan antarbrand, Payback 2017 sayangnya tidak berhasil membuat semuanya menjadi sama penting. House of Horrors menderita dari statusnya yang turun derajat dari rematch Wrestlemania (yang mestinya pertandingan kejuaraan) menjadi device untuk ‘promoin’ show bulan depan. Kemenangan Bray Wyatt tidak membuatnya terlihat kuat di sini. Dan matchnya sendiri, well yea, it’s bad. HOUSE OF HORRORS TERLIHAT SEPERTI FILM HOROR BUDGET RENDAH YANG SANGAT CHEESY. Oh ya, aku bisa bicara banyak kalo nyangkut kritik film. Beberapa set rumah ‘hantu’nya memang lumayan seram, namun tone yang dibangun tidak pernah selaras. Alih-alih seram, kejadian di pertandingan ini malah bikin ngakak. Dan ketika kita menyangka ini lucu, WWE ngingetin kita bahwa ini adalah match yang serius. Itulah kenapa pertandingan yang konsepnya seger dan menarik ini enggak bekerja dengan baik. Kontennya menganggap diri terlalu serius. Kita ingin melihat properti menyeramkan digunakan untuk saling melukai, akan tetapi yang kita dapet adalah sebuah kulkas dengan editing adegan yang sangat kasar dan amatir. Susah sekali menggabungkan konsep ‘gak make sense’ dengan konten yang real; pertandingan ini membuktikan hal tersebut.

“MTV, rumah gue!!”

 

Aku enggak tahu apa ini memang disengaja oleh WWE dalam rangka mau menjadi tak tertebak, banyak match dalam acara ini yang diakhiri dengan jurus yang bukan finisher. Alexa menang dengan DDT. Neville menang dengan wasit ngomel-ngomel. Rollins menang dengan roll up. Bisa dimaklumi juga sih sebenarnya, mereka harus ngelindungi Samoa Joe dan Austin Aries dari kekalahan telak, namun semestinya mereka bisa mikirin cara lain untuk melakukan hal tersebut dengan membuat ending yang lebih compelling. Untuk pertandingan Samoa Joe melawan Seth Rollins, ini adalah pertandingan paling bosenin. Filler dengan profile paling gede. Respek buat kedua superstar, hanya saja memang pertandingan tersebut sudah kehilangan kepentingan karena Rollins sudah membereskan urusan dengan Triple H. Yes, Joe adalah orang yang bikin Rollins cedera, namun toh cedera tersebut tidak menyetop Rollins dari kemenangan di Wrestlemania. Feud dengan Samoa Joe ini akan berfungsi dengan lebih baik jika Rollins kalah melawan Triple H, dan kita semua tahu itu adalah outcome yang nowhere near satisfying. Rolins menghajar Triple H, dan kita enggak perlu lagi balik mundur dalam narasi melihat dia menyelesaikan urusan dengan Samoa Joe.
Setelah House of Horrors dan Samoa Joe lawan Seth Rollins, main event yang menampilkan Braun Strowman menghajar Roman Reigns habis-habisan adalah pemandangan yang sangat menyegarkan. Bekerja dengan proper sebagai penutup acara. Sebagai karakter device, however, pertandingan ini terasa enggak benar-benar menyampaikan apa yang diniatkan. Penonton tetap tidak bersimpati kepada Reigns, malahan teriakan “Thank you, Strowman!” semakin lantang membahana di arena. Pertandingan main event ini selayaknya kesimpulan dari Payback ini; acara yang digarap sedikit berbeda dari yang biasa, dengan hasil yang memuaskan, meski eksekusinya aneh dan bisa banget lebih bagus lagi jika mereka mengubah beberapa hal.

Kejuaraan Amerika, Kejuaraan Tag Team, dan Kejuaraan Cewek sama-sama menyuguhkan pertandingan dan penceritaan yang di atas rata-rata. But aku bener-bener demen saat Jericho mulai ngamuk sama jari Owens. Pertarungan keras mereka terasa genuine, The Palace of Wisdom menobatkan Chris Jericho melawan Kevin Owens sebagai MATCH OF THE NIGHT.

 

 

 

Full Results:
1. WWE UNITED STATES CHAMPIONSHIP Chris Jericho merebut sabuk Kevin Owens
2. WWE CRUISERWEIGHT CHAMPIONSHIP Austin Aries menang DQ atas juara bertahan Neville
3. WWE RAW TAG TEAM CHAMPIONSHIP Hardy Boyz mempertahankan gelar atas Sheamus dan Cesaro
4. WWE RAW WOMEN’S CHAMPIONSHIP Alexa Bliss jadi juara baru ngalahin Bayley 5. HOUSE OF HORRORS Randy Orton ditiban pake kulkas oleh Bray Wyatt (bersambung)
6. SINGLE MATCH Seth Rollins mengalahkan Samoa Joe
7. HOUSE OF HORRORS (lanjutan) Bray Wyatt ngalahin Randy Orton
8. SINGLE MATCH “Braaauuuunnn!!!” destroys “UuuuuuuuAAAAAA!”

 

 
That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.

besokbesok pasti banyak yang dateng bawa List of Jericho hhihi

And there are losers.

 

 

 

 
We? We be the judge.