GLASS ONION: A KNIVES OUT MYSTERY Review

 

“Rippling water shows lack of depth”

 

 

Orang kaya kalo gak jahat, ya pembual. Banyak film telah mengestablish soal karakter tersebut, tapi Rian Johnson dalam Glass Onion membawa soal tersebut lebih tegas lagi. Bertindak sebagai kasus berikutnya dalam petualangan detektif Benoit Blanc, Glass Onion didesain oleh Johnson sebagai sindiran untuk milyuner-milyuner banci-tampil yang kita kenal di era teknologi canggih sekarang ini. Gimana kalo mereka sebenarnya gak sepintar image yang mereka tampilin? Gimana kalo sebenarnya mereka cuma bayar ide milik orang lain? Gimana kalo sebenarnya, mereka gak punya bakat apa-apa selain ya, bakat ‘jual-obat’; omong gede dan tampilan meyakinkan? Makanya film ini juga serta merta lucu ketika membahas karakter tersebut dan orang-orang yang nempel kepadanya. Yang enjoyable pada sekuel Knives Out (2019) ini bukan lagi misteri pembunuhannya. Honestly, buatku kasus dan si detektif itu sendiri adalah titik lemah dalam penulisan film kali ini. Melainkan, yang menyenangkan dari film ini adalah saat melihat jaring-jaring pertemanan mereka yang tampak erat itu mengelupas sendiri dan menampilkan sesuatu yang ternyata begitu rapuh. Persis seperti glass onion itu sendiri.

Set up-nya sih memang murder mystery banget. Sekelompok orang diundang oleh milyuner ke villa keren di sebuah pulau. Surat Undangannya gak tanggung-tanggung; kotak gede berisi rangkaian puzzle. Yang kalo berhasil dipecahin, maka di dalamnya ada undangan personal. Keren banget kan. Makin kagumlah orang-orang ini dengan si milyuner (eventho emak-emak saja bisa mecahin puzzle-puzzle tersebut) Tapi yah, karena actually mereka semua adalah teman segeng, teman lama yang sama-sama bikin bar sebelum masing-masing berhasil jadi orang gede, mereka tetap datang. Termasuk Andi, yang sudah keluar dari grup lantaran ada cekcok di masa lalu. Yang jelas. pusat kelompok mereka memang adalah si milyuner tech tersebut. Miles, yang sukses berat dengan perusahaan Alpha hingga sekarang dia ‘membantu’ teman-temannya dalam berbagai rupa. Miles telah merancang game misteri-pembunuhan sebagai hiburan di pulau. Tapi ternyata, terjadi pembunuhan-beneran. Salah seorang terbunuh, diduga keracunan. Untungnya bersama mereka hadir detektif Benoit Blanc – meskipun Miles sendiri mengaku tidak mengundang. Blanc harus menguak hubungan antara masing-masing mereka untuk mengetahui bukan hanya siapa pelaku, tapi juga apa sebenarnya kasus ini.

Puzzle-puzzle itu bikin aku teringat belum purchase game Mystery Case Files edisi tahun ini

 

Tapi Rian Johnson seperti tidak mau terjebak di penggarapan murder mystery yang itu-itu melulu. Whodunit yang sekadar mengungkap siapa pelakunya. Terutama, dia tidak mau film kali ini terasa seperti replika dari film yang pertama. Sure, ada beberapa ‘resep’ yang dipakai kembali. Kayak, jejeran cast yang ‘rame’. Selain Daniel Craig yang kembali untuk memerankan detektif yang dandy dan punya aksen tersendiri, Glass Onion punya segudang aktor lagi yang total meranin karakter dengan tipe dan kekhasan masing-masing. Batista di sini jadi tipe nerd unik yang got big, dia kayak golongan yang gak percaya covid dan percayanya pada hak megang pistol. You know, karena film ini nyindir orang kaya, maka otomatis juga berarti film ini membidik kelas sosial atas lainnya, seperti politisi. Karakter Kathryn Hahn literally senator cewek yang tampaknya cuma punya kepedulian terhadap citra dan elektabilitasnya untuk pemilu. Selain mereka juga ada scientist yang diperankan Leslie Odom Jr., dia ini kayak manut aja sama Miles. Kate Hudson malah meranin model, yang pikirannya zonk banget ampe bisa-bisanya ngira sweatshop itu pabrik tempat bikin sweat pants. Ada banyak lagi karakter yang tak kalah unik dan cameo yang tak kalah bikin kita excited. Malah ada juga satu karakter yang cuma numpang tinggal di tempat itu dan sesekali muncul di background untuk komedi singkat. Sampai sekarang aku masih bingung kenapa ada karakter itu, kepentingannya apa. Cuma, ya, maklum sih untuk bikin lucu aja haha..

Vibe dan tone pun masih basically mirip film pertama. Hanya tentu saja, yang namanya sekuel tentu pengen tampil lebih besar daripada film pertama. Apalagi cerita kali ini konteksnya tentang orang yang beriak tapi tak dalam. Maka panggung cerita dibikin lebih mentereng. Bangunan tempat mereka tinggal sangat mewah. Mulai dari mobil kinclong, glass onion raksasa, sampai lukisan Mona Lisa asli, dipajang oleh Miles. Kesan dilebih-lebihkan ini membuat film terasa semakin kocak. Dan menonton semua itu sambil menunggu kasus apa yang bakal terjadi, rasanya cukup fresh. Film ini masih belum bikin kita bosan meskipun tahun ini ada Bodies Bodies Bodies  (2022) yang juga cerita misteri pembunuhan dengan sindiran kelas sosial yang actually lebih solid dalam bercerita. Film Glass Onion begitu khawatir mengulangi rutintas cerita yang sama. Hal tersebut seems like a big no buat Johnson, sehingga dia mati-matian berusaha mencari cara yang unik untuk menampung misteri pembunuhan dan terutama sindiran kelas sosial. Johnson enggak sadar, dengan begitu dia justru terjebak dan sendirinya membuat sesuatu yang juga seperti glass onion yang ia simbolkan.

Indonesia mengenal pepatah air beriak tanda tak dalam untuk mengumpamakan orang yang gede omong doang tapi isi otaknya kosong. Orang barat gak kenal pepatah tersebut. Makanya film ini menggunakan simbol glass onion, ornamen mentereng dari kaca yang tampak begitu kompleks, namun semua orang yang melihat sebenarnya tahu benda itu kosong. Begitulah film ini mendeskripsikan milyuner teknologi seperti Miles. Bahwa semua kemewahan dan kecanggihan itu hanya ilusi, dan itu tidak terbatas kepada barang-barang. Karena film juga memperdengarkan itu lewat dialog. Miles menggunakan istilah-istilah ‘keren’ dalam speech-nya, padahal penggunaannya tidak tepat. Ironi lantas didatangkan dari dia yang merasa hebat sebagai disruptor, ternyata sendirinya segampang itu dihancurkan karena deep inside, dia gak punya pondasi apa-apa.

 

Glass Onion tidak bercerita dengan struktur tiga-babak tradisional. Pembunuhannya baru terjadi di mid-point cerita – seperti Death on the Nile (2022) – tapi Johnson tidak lantas melanjutkan ke sekuen tiga-babak berikutnya. Karena di ceritanya ini mid-point bukanlah point-of-no-return seperti pada struktur biasa. Melainkan, justru dijadikan point saat cerita mulai bergerak return ke awal. Sekuen ‘taktik baru’ film ini literally perspektif baru yang kita lihat pada Detektif Blanc, sebab di titik itu kita dibawa kembali saat dia masih di rumah, menerima undangan, dan ternyata dia sudah punya rencana tersendiri. Ternyata dia datang ke pulau itu tidak se-‘orang baru’ yang kita dan karakter lain sangka. Glass Onion seperti terbagi atas dua bagian. Sejam pertama kita masuk ke circle Miles bareng-bareng Blanc, kita sama-sama dengannya berusaha menyimak siapa orang-orang di sana. Lalu sejam kedua, kita hanya menonton Blanc, kita terlepas karena ternyata dia juga punya rahasia. Cerita Blanc kali ini bahkan bukan tentang dia mecahin kasus pembunuhan. Aku malah mendapat kesan Blanc ada di sana hanya untuk mencari bukti bahwa Miles memang salah dan dia memang pelaku pada malam itu. No aku salah. bahkan bukan Blanc yang menemukan buktinya. Dia cuma di sana untuk mengulur waktu dan karena dia dituliskan cerdas, saat mengulur waktu tersebut dia menemukan jawaban atas misteri pembunuhan.

Blanc doing nothing kayak impostor di game Among Us yang ia mainkan di awal

 

Aku mulai merasa aneh saat Blanc mengenyahkan gitu saja pertanyaan soal kenapa karakter korban itu mati, dengan jawaban untuk tahu itu harus diotopsi dulu. Like, maan, aneh banget seorang detektif tapi kayak gak mikirin lebih lanjut ketika ada orang yang mati kayak kecekek setelah minum, di antara kelompok orang yang ia tahu punya motif untuk saling menyakiti. Ini kalo cerita Detektif Conan, si Conan pasti langsung ngendus-ngendus korban, gelas; meriksa apapun yang bisa jadi identifikasi untuk racun. Nyelediki di mana, dari mana, dan kapan naro racunnya. Soalnya kan bahaya kalo itu memang racun dan korbannya salah-incar. Apalagi kalo ternyata itu racun yang belum ia tahu. Fokusnya pasti mencari tahu senjata pembunuhannya apa, Tapi Benoit Blanc gak peduli semua itu. Naskah memang punya alasan untuk membuat Blanc tidak ‘tertarik’ soal tersebut, namun itu juga lantas membuat Blanc terlihat seperti detektif yang kurang cakap. Kalo dia langsung nyeledikin, pastilah senjata pembunuh yang ternyata sepele itu langsung ketahuan dan pembunuhan lain dan kejadian-kejadian berikutnya tidak perlu terjadi. Film bisa langsung masuk ke babak tiga, dan tamat. Maka dari itulah, aku nyadar; bukan Blanc-nya yang gak cakap. Blanc jadi tampil sembrono kayak gitu karena naskahnya lah yang masih anak bawang dalam menggarap misteri sekaligus sindiran. Naskah yang tidak lagi benar-benar peduli sama misteri, melainkan cuma pengen masukin sindiran ke milyuner saja.

Struktur berlapis kayak bawang yang dilakukan Johnson tadi sebenarnya dilakukan untuk menutupi kelemahan cerita pembunuhan. Like I said, kalo dalam situasi normal, detektif seperti Blanc akan bisa menebak apa yang terjadi di ruang TKP itu. Cerita ini tidak punya puncak dalam misteri pembunuhannya. Konflik dan misterinya justru pada siapa sebenarnya si Andi. Itulah yang diusahakan untuk terceritakan secara dramatis oleh struktur cerita film ini. Apakah dia berhasil untuk itu? Aku bilang, untuk ngasih kejutan-kejutan dan bikin kita tetap melek; ya berhasil. Tapi struktur begini tidak ngasih apa-apa untuk development karakter. Blanc tidak mengalami pembelajaran apa-apa (bandingkan dengan Poirot di Death on the Nile yang sambil mecahin kasus, dia juga makin mengerti bahwa cinta membuat orang rela melakukan apa saja). Blanc mengaku dia payah dalam ‘dumb game’, dan sampai akhir dia tetap payah, karena tidak memecahkan kasus sedari pertama. Yang dilakukan Blanc di sini seperti kebalikan dari detektif lain. Blanc menebak cara membunuhnya, dari pelaku yang sudah ia curigai sebelumnya. Bukan dari menyelidiki kasus lalu menyimpulkan pelaku.  Miles juga tidak kelihatan sadar kesalahan. Karakter lain tetap seperti mereka di awal, begitu tidak bisa berlindung di balik orang, mereka ninggalin orang itu. Dan Andi, well, she’s got her revenge. That’s all. Jadi ya, setelah layer-layer dan gaya bercerita wah-wah dan sindiran untuk milyuner tersebut, film ini benar-benar kosong juga ternyata di tengahnya bagi para karakter.

 

 




Bukti satu lagi film ini tidak care sama misterinya adalah kita juga dibuat bisa langsung tahu kalo pelakunya adalah Miles. Film dengan berani memperlihatkan momen-momen penting pembunuhan. Penonton yang terbiasa menatap layar dengan total, gak perlu jeli-jeli amat, akan langsung bisa melihat keterangan Miles itu gak sesuai kenyataan. Terlebih film ini tayangnya bukan di bioskop, jadi adegan-adegan tersebut langsung bisa dikonfirmasi ulang. So in the end, jika misteri tersebut sedari awal tidak pernah diniatkan sebagai misteri, yang ditonton pada film ini sebenarnya cuma sindiran buat orang-orang kayak Miles saja. Sindiran yang dilakukan cuma dengan gaya. Tanpa development karakter manapun – sebanyak itu karakternya padahal. Detektifnya aja tak lagi tampak demikian hebat selesai film ini. Tampaknya film ini melakukan itu awalnya karena tidak mau misteri pembunuhan yang itu-itu melulu. Tapi mereka tidak memperhitungkan, bahwa film tentang sindiran kelas sosial pun sudah banyak yang melakukan. Like, Triangle of Sadness (2022) melakukan sindiran kepada orang kaya lebih baik dan kocak karena ada development dan meskipun tajam tapi gak lupa untuk diseimbangkan. Bodies Bodies Bodies melakukan gubahan misteri dengan lebih solid, juga dengan pesan sosial yang tak kalah kocaknya. So yea, film ini meluangkan banyak untuk gaya, mengorbankan karakter dan bahkan genre awalnya sendiri. tapi gak benar-benar mencapai hal baru. Just another smart-entertainment selama dua jam saja.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for GLASS ONION: A KNIVES OUT MYSTERY

 

 




That’s all we have for now.

Kenapa sih orang kayak Miles terbukti bisa lebih sukses daripada yang beneran punya keahlian? Apakah dunia memang lebih menghargai penampil daripada pemikir?

Share pendapat kalian di comments yaa

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 



BODIES BODIES BODIES Review

 

“Sometimes your dearest friend whom you reveal most of your secrets to becomes so deadly and unfriendly…”

 

 

Bersahabat berarti kita tahu baik-dan-boroknya perangai sobat-sobat sekalian. Tolerate them, just like they tolerate us – at some degree. Nah, batasan degree inilah yang menarik. Berbagai cerita telah mengeksplor apa yang terjadi kepada satu grup pertemanan saat dark secret masing-masing dibongkar, dihamparkan keluar. Udah jadi kayak trope tersendiri. The ‘revealed secrets’ trope. Serial sitcom Community, misalnya, punya tiga episode dengan trope ini. Karena memang menarik mengulik karakter melalui rahasia terdalam mereka, dan tentunya juga membuat relationship mereka jadi semakin berwarna. Namun, belum banyak yang menggali trope ini lewat lensa horor atau thriller. Itulah hal fresh yang dibawa oleh Bodies Bodies Bodies garapan Halina Raijn. Yang dalam prosesnya, juga balik menyajikan sesuatu yang baru terhadap perspektif dan juga trope lain, yakni, whodunit itu sendiri.

Kata Bodies Bodies Bodies merujuk kepada permainan yang dilakukan oleh geng karakter di film ini. Mereka berkumpul di rumah gede, merayakan kembalinya Sophie dari rehab. Di luar lagi badai, jadi mereka mengisi waktu dengan permainan yang mirip kayak Werewolf atau Among Us. Mereka akan berusaha menebak satu ‘killer’. Dan saat itulah tuduh-tuduhan itu semakin menjadi. Dari dialog-dialog kita bisa mendengar bahwa ada rekah-rekah kecil – tapi serius – di balik keakraban mereka. Kehadiran orang baru seperti Bee, pacar baru Sophie, juga tidak banyak membantu. Ketegangan menjadi benar-benar memuncak menjadi horor saat salah satu dari mereka ditemukan tewas dengan luka sabetan pada leher. Ada ‘killer beneran’ yang menginginkan mereka semua mati satu persatu. Kita lantas melihat geng ini semakin hancur as semua mulai saling serang dengan fakta-fakta kelam demi mencari siapa pembunuh di antara mereka.

Anak Borat main film thriller!!

 

Yang nonton film ini mengharapkan whodunit standar, bakal either surprise berat atau malah kecewa parah. Dan itu bukan salah penonton, melainkan karena memang itulah resiko yang diambil oleh film ini. Misteri siapa pelakunya, apakah pelakunya ada di antara mereka atau ada orang lain (ada satu anggota geng yang menghilang sedari awal cerita dimulai) memang dibangun penuh tensi dan misteri. Namun di balik tensi dan mayat-mayat bersimbah darahnya, Bodies Bodies Bodies sebenarnya terutama diniatkan sebagai satir. Sindiran buat perilaku komunikasi sosial seperti yang diperlihatkan oleh karakter-karakternya. Sophie dan gengnya adalah anak-anak orang kaya, trendi, mereka ini istilahnya anak gaul banget. Bahkan karakter utama kita, Bee, walaupun berasal dari luar circle, dia foreigner di antara yang lain, gak share lifestyle yang sama, tapi tetap punya ‘gaya’ sosial yang serupa. Salah satu dialog yang jadi diulang saat Sophie muncul bersama Bee di rumah itu adalah persoalan anak-anak yang lain surprise melihat Sophie beneran dateng karena selama rehab Sophie tidak pernah membalas grup chat di Whatsapp. Ya, karakter-karakter di cerita ini merepresentasikan Generasi Z. Anak-anak muda yang secara konstan bergaul di internet, sosial media. Karakter-karakter di sini punya podcast, bicara dengan kamus ala anak-anak woke di Twitter, dan cari pacar di dating app. Furthermore, film ngasih lihat sedikit perbandingan antara generasi mereka dengan generasi yang sedikit lebih tua lewat karakter Greg. Outsider seperti Bee, karena adalah pacar tinder si Alice, salah satu teman geng Sophie.

Rahasia buruk mereka semua berkenaan dengan betapa fake-nya mereka terhadap masing-masing. Satu adegan menunjukkan mereka nari TikTok bareng, lalu ada juga adegan lain yang nunjukin mereka berargumen soal apakah satu orang karakter beneran suka sama podcast karakter yang satunya. See, dari karakter-karakternya saja film ini sudah divisive. Sebagian penonton akan merasa relate sama permasalahan sosial ‘kekinian’, sebagian penonton lagi akan jengkel. Aku termasuk yang sebagian kedua. Buatku mereka semua annoying,  candaan mereka gak masuk ke aku, aku tahu kalo aku seatap dengan circle seperti mereka itu aku pasti sudah cabut daritadi. Aku hanya bisa relate sama game bodies bodies bodies mereka karena.. well, karena game. Selebihnya aku hanya seperti benar-benar menonton saja. Nah, ketika seorang yang gak care dan gak relate bisa betah menonton, itu sebenarnya sudah ‘prestasi’. Bahwa di balik itu, film ini punya ‘sesuatu’. Dan ‘sesuatu’ itu bukan hanya soal misteri whodunit atau misteri bunuh-bunuhannya saja, melainkan juga pesan di dalamnya. Relate atau tidak, suka atau tidak dengan revealing di endingnya (mungkin lebih tepatnya, merasa ‘tertipu’ atau tidak) gagasan film ini adalah sesuatu yang beresonansi dengan kita yang hidup di masa sekarang. Film hanya membungkusnya dengan rapi ke dalam misteri whodunit dan karakter-karakter annoying.

Memikirkan tujuannya sebagai satir untuk pergaulan Gen Z, film ini sebenarnya cukup ‘keras’. Banyak dialog yang benar-benar menyindir tajam betapa insignifikan hal yang merasa jadi masalah buat mereka. Gen Z yang nonton kayaknya bakal tersentil. Like, sebegitu pentingnyakah orang harus balas chat Whatsapp sehingga dia datang saja dianggap ‘tiba-tiba’ dan dianggap sombong sama teman satu geng. Atau soal podcast, segitu pentingnyakah kita harus suka sama konten yang dibuat teman kita untuk populer di sosmed. Ini kayak gue like punya lu, lu like punya gue, karena harus saling menghargai usaha bikin konten. Atau juga soal bahasan toxic, dan istilah-istilah itu. Film dengan blatant menyebut anak jaman sekarang menggunakan istilah-istilah trending just because it is trend, dan padahal sebenarnya mereka tidak punya pendapat personal soal permasalahan yang bersangkutan. Bagian-bagian mencekam ketika lampu mati dan mereka harus berjalan dalam gelap hanya dengan bantuan cahaya dari layar hp seperti menguatkan gagasan film soal betapa anak muda sudah merasa gede dan ‘aman’ hanya dengan melihat lewat gadget. Ultimately, ending filmlah yang ngasih toyoran paling kuat. Film rela whodunitnya jadi ‘agak laen’ supaya gagasan dan sindiran tersebut benar-benar nonjok.

Yang film ini ingin tunjukkan adalah betapa lemahnya pertemanan dan bahkan relationship yang didasari oleh bagaimana orang bertindak di internet. Yea, sesama teman mungkin bisa khilaf dan keeping secret lalu membocorkan rahasia, tapi dengan perilaku bersosial media sekarang, semua itu terasa lebih rapuh. People will have no idea how to act genuinely ketika berhadapan langsung, dan bakal ended up hurting each other more. Yang baru saja kita lihat adalah kisah bagaimana sekelompok Gen Z menghancurkan koneksi, menghancurkan diri mereka sendiri karena ketika bertemu, mereka tidak bisa bonding secara natural melainkan jadi merasa saling ekspos satu sama lain

Mungkin karena settingnya seringkali gelap, tapi si Emma ini sekilas-kilas tampak mirip Mawar de Jongh

 

Horor atau thriller biasanya suka membunuh karakter yang paling likeable atau simpatik, you know, untuk menaikkan tensi dramatis. Untuk karakter utama, kematian karakter likeable ini biasanya diset sebagai pukulan berat. Malangnya bagiku, karakterBodies, Bodies, Bodies yang likeable – yang mikir pakai logika dan gak berdialog pake istilah-istilah kekinian –  juga dibuat mati, yang berarti aku ditinggal bersama karakter-karakter annoying, dengan situasi kematiannya yang juga sama-sama annoying. Karena dari adegan kematiannya itulah aku sadar bahwa karakter utama film ini juga tidak akan diniatkan untuk belajar inline dengan penonton. Bahwa karakter utamanya juga bergerak dalam design tipikal karakter Gen Z. Itulah yang jadi bahan koreksi untukku pada film horor keluaran A24 ini. Karakter utamanya, si Bee, tidak benar-benar punya pembelajaran yang kuat, melainkan hanya dijadikan sadar, dan dia itu tetap adalah bagian dari kerapuhan relasi.

Maria Bakalova sebenarnya memerankan Bee dengan sesuai. Dia mengerti kebutuhan naskah, paham kapan harus mengundang simpati, kapan harus bertingkah sus, kapan harus cerdik, dan mainly itu dilakukannya dengan ekspresi. Sama seperti si Amanda Stenberg yang jadi Sophie, jago dan ngertinya juga dalam memainkan ekspresi. Design karakter mereka saja yang ngambil resiko. Kayak si Bee,  momen dia membunuh karakter likeable satu-satunya, adalah momen kita meragukan dirinya sebagai tokoh utama. Momen ketika tokoh utama tidak bertindak seperti penonton jika mereka ada di posisi yang sama. Karena kita tidak bisa melihat alasan dia harus membunuh. Bee hanya berubah dari yang tadinya cinta, overly kalo boleh disimpulkan sesuai aksinya, ke jadi takut sama pacarnya. Ini bukan plot yang kuat untuk karakter utama. Sehingga karakternya malah jadi kurang kuat punya alasan untuk ada di sana, melainkan hanya sebagai pasangan dari karakter lain. Film tidak mengeksplorasi banyak siapa dirinya. Aku malah mikir, kalo karakter Bee gak ada, ceritanya jadi hanya tentang Sophie yang balik dari rehab untuk menjalin pertemanan lagi dengan teman-teman gengnya – film ini masih bisa jalan. Gagasan dan sindiriannya masih bisa juga tersampaikan tanpa harus lewat sudut pandang Bee. So yea, Maria Bakalova memainkan Bee dengan hebat, hanya saja Bee ini kurang kuat sebagai karakter. Hampir seperti dia ada karena film butuh romance, dan butuh dua orang untuk moment final.

 

 




Aku gak nyangka bisa betah juga nonton film yang karakternya benar-benar annoying semua dan gak relate. Mungkin itulah kekuatan dari cerita. Kekuatan dari naskah. Film ini benar-benar punya sesuatu untuk dikatakan, dan mendesign ceritanya untuk memenuhi itu. Menempuh banyak resiko, di antaranya membuat bangunan misteri whodunit jadi punya ‘surprise’ yang might not working well buat penonton. Untukku, endingnya worked great, design atau konsepnya bisa dimaklumi karena film ini mengincar ini sebagai satir. Yang kurang hanya pembangunan karakter utamanya, yang gak benar-benar dieksplor. Cerita dan fungsi film menurutku masih bisa jalan tanpa dia
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for BODIES BODIES BODIES

 




That’s all we have for now.

Apakah menurut kalian society generasi kekinian memang akan menghancurkan dirinya sendiri?

Share pendapat kalian  di comments yaa

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 



NOT OKAY Review

 

“The sorry is not the solution for every problem”

 

 

“We all live in public now, we’re all on the Internet. How do you think people become famous any more? You don’t have to achieve anything. You just gotta have fucked up shit happen to you.” Tahun 2011, Jill dalam film Scream 4 meneriakkan kata-kata yang jadi motif kejahatannya kepada Sidney. Bahwa orang gak lagi harus punya prestasi untuk bisa terkenal, cukup jadi korban sesuatu aja. Fast forward ke tahun 2022 sekarang, ternyata keadaannya tidak semakin bertambah baik. Malah semakin menjadi-jadi. Mau itu disengaja atau tidak, semua orang kini berusaha ngegedein brand atau presence social media dengan menjual hal-hal negatif yang katanya terjadi pada diri mereka. Not Okay garapan sutradara Quinn Shephard sekilas seperti tontonan ringan, tapi sebenarnya hadir sebagai komedi yang khusus menyindir tentang hal tersebut. Menyoroti perbuatan influencer-influencer yang saling berlomba untuk eksis di dunia maya dengan menjadikan tragedi sebagai batu pijakan.

Baru mulai saja, film ini sudah langsung ngasih kita wanti-wanti. Bahwa protagonis cerita bukanlah orang yang likeable. Danni (walau cakep dimainkan oleh Zoey Deutch) adalah tipikal cewek yang tone-deaf dan sangat dangkal. Dia tidak benar-benar peduli soal tragedi atau kemanusiaan yang ia jadikan bahan tulisan. Danni kerja jadi content creator di media edgy, tapi hanya supaya bisa jadi influencer tenar. Supaya bisa deket ama influencer idolanya di kantor, Colin (karakter Dylan O’Bryen ini adalah gabungan dari hal-hal terburuk yang dimiliki Youtuber/Influencer di real world) Tadinya memang Danni cuma pengen terlihat asik di mata Colin. Cewek itu berbohong ikut tur penulis di Perancis. Danni menggunakan skill photoshopnya untuk bikin foto seolah dia beneran liburan ke sana. Kebetulan yang lucu (bagi kita!) pun lantas terjadi. Beberapa menit setelah Danni mengupload foto di depan Arc Perancis yang ikonik itu dari dalam kamarnya, tempat tersebut – di Perancis sono – diserang aksi teroris. Pengeboman dan segala macem.  Jadi berita internasional. Maka postingan Danni lantas mendapat begitu banyak perhatian; it’s a perfect victim narrative buat media. Dan Danni bak mendapat durian runtuh, tentu saja memilih untuk menggunakan kesempatan itu sebaik-baiknya. Dia memparadekan kejadian tersebut seolah benar-benar terjadi kepadanya, kepada semua orang yang either beneran peduli, atau ada juga yang memanfaatkan tragedi yang menimpa Danni untuk entah itu konten yang happening, atau juga tempat beramal. Yang penting bagi Danni adalah dia sekarang jadi seleb dadakan dan mendapat semua yang ia inginkan!

Gak nyangka ternyata ada karakter yang lebih parah daripada Britta di Community

 

Benar-benar sebuah resiko gede mempersembahkan protagonis utama ceritamu sebagai seseorang yang gak-disukai. Yang bisa dibilang enggak punya kualitas yang bikin simpati. Kemungkinan terburuknya ya, si karakter jadi gak konek ama penonton, cerita dan segala permasalahannya juga jadi gak nyampe. Penonton hanya akan kesal, kalo di film horor, penonton justru mendambakan sang karakter cepet mati (dengan superduper mengenaskan). Film Not Okay paham bahwa itu kondisi yang not okay untuk sebuah tontonan dramatis. Film mendesain Danni seperti itu bukan tanpa sebab. Karakter utama diperkenalkan sepayah itu karena di sini si Danni diposisikan sebagai subjek satir.  Kita diberi tahu bahwa she’s not a decent human being justru karena yang Danni lakukan bisa jadi tampak normal di jaman sekarang, mengingat influencer-influencer di real life memang banyak dan mereka populer. Film ini mengenali bahwa bisa jadi society adalah bagian dari problem, maka mereka membuat – dan menyatakan dengan gamblang – bahwa karakter protagonisnya bukan orang yang baik untuk membuka mata penonton sekaligus menimbulkan dramatic irony. Karena sekarang, seiring melihat keputusan Danni, penonton tahu bahwa seseorang rela menggali lubang dan menjerat diri dalam jejaring kebohongan yang terus membesar hanya demi ketenaran. Bahwa isu-isu sosial mereka gunakan semata untuk keuntungan personal.

Jadi secara materi, memang Not Okay adalah komedi satir yang harus dikembangkan dengan hati-hati. Film ini akan jadi problematik kalo protagonisnya itu nanti dapat redemption. Ini akan jadi problematik hanya dengan menjadikan karakter seperti Danni sebagai tokoh utama, sedangkan isu-isu sosial yang lebih penting dan urgen untuk dibahas hanya dijadikan latar. Quinn Shephard memang mengetahui cerita ini luar-dalam. Sutradara kita paham karakter cewek kulit putih, kaya, cakep, penuh privilege, yang bahkan gak bersentuhan langsung dengan problem-problem seperti serangan teroris dan serangan humanity lainnya, melainkan hanya peduli sama like dan view di Instagram, tidak punya kepentingan yang mendesak. Ada beberapa kali film ini menjadi meta dengan menyebut lewat dialog bahwa ini bukanlah cerita redemption untuk Danni. Namun juga sebaliknya, Shephard paham untuk tidak lantas ngejudge dan hanya menjadikan Danni sebagai teladan yang buruk. Redemption karakter ini ia lakukan dengan cara yang lain. Pembelajaran ia berikan dalam bentuk yang secara bangunan naskah tidak mengurangi kepentingan karakter utama, dan juga secara pesan tidak mengurangi sense of reality dan hati di dalam cerita komedi ini.

Danni masih diberikan kesempatan untuk mengenali apa yang sebenarnya dia lakukan. Karakter Colin dihadirkan sebagai pembanding bagi Danni, Colin adalah contoh influencer yang gak benar-benar ngasih influence yang baik. Karena Colin hanya peduli sama isu dan tragedi sebagai jualan untuk brand sosmed. Hati cerita sebenarnya datang dari relasi Danni dengan satu karakter lagi, yaitu Rowan (Mia Isaac mencuri perhatian di sini), gadis remaja kulit-hitam penyintas penembakan di sekolah. Jadi supaya tulisan dia sebagai korban teroris believable, Danni menyusup ke grup konseling para penyintas tragedi. Danni pengen nyuri-nyuri perspektif-lah istilahnya. Di kelas konseling itulah dia bertemu Rowan, yang memanfaatkan tragedi yang ia alami untuk aktivitas sosial yang beneran raise awareness. Dengan kata lain, Rowan adalah influencer ‘beneran’ yang menggunakan posisinya untuk usaha mengubah dunia menjadi tempat yang lebih baik. Rowan ini membuka banyak sudut pandang baru bagi Danni, terutama soal berbuat baik. Danni akhirnya memang jadi sahabatan ama Rowan. Dan dengan dramatic irony yang telah dibangun baik sedari awal, kita tahu akhir persahabatan mereka akan pedih dan emosional saat kebohongan Danni terbongkar nantinya.

But before that, a wild Avril Lavigne’s song appear! Love this scene lol

 

Inilah yang kumaksud ketika tadi menyebut film bakal problematik kalo malah terus menjadikan Danni – outsider dari real problem – sebagai orang yang lebih baik ketika ada karakter yang lebih mewakili isu yang lebih aktual dan urgen untuk dibahas, yaitu Rowan. Not Okay menemukan jalan tengah, yang pada akhirnya membuat keseluruhan kisah ini jadi lebih dari sekadar oke. Karakter utama tidak dipinggirkan dan tetap diberikan kesempatan menjadi manusia (dengan pembelajaran) dan Rowan beserta isu yang lebih urgen tetap mencuat sebagai hal yang lebih urgen. Ending yang dilakukan film, menurutku adalah yang terbaik. Juga sangat relevan dengan yang kita lihat sehari-hari di sosial media. Nah, berhubung ini bahasannya adalah ending, maka paragraf yang menyusul di bawah ini akan SANGAT SPOILER. Bagi yang belum nonton, beware….

Ending film memperlihatkan Danni yang kini sudah jadi orang paling dicancel sedunia maya berusaha memperbaiki kesalahannya. Dia berhenti nulis. Dia berhenti main sosmed, menghapus semua akunnya. Dia tidak meminta simpati karena dikucilin, melainkan berusaha kuat dan ikut kelas untuk orang-orang yang kena shaming dalam upaya jadi pribadi yang baru. Salah satu solusi yang kepikiran oleh Danni adalah memberanikan diri untuk minta maaf kepada Rowan. Maka datanglah dia ke teater tempat Rowan perform bermaksud minta maaf. Ini yang aku suka, tindakan Danni relevan banget. Lihat saja betapa banyaknya fenomena public figur ataupun influencer yang bikin konten minta maaf begitu bikin salah, seolah dengan maaf semua beres. Saking banyaknya, netijen sudah apal dan menyindir. Tinggal minta maaf. Tinggal keluarin materai. Malah sekarang dicurigai orang-orang sengaja bikin salah dulu, sengaja shitposting dulu, biar viral lalu minta maaf dan tinggal menikmati efek keviralan. Ada juga yang lantas diangkat jadi duta setelah ngelakuin salah dan openly minta maaf. Danni dalam Not Okay benar-benar memperlihatkan itu adalah hal yang buruk, karena film ini menjadikan itu sebagai false resolution untuk Danni. The real resolution yang diperlihatkan film adalah Danni, setelah mendengar puisi yang begitu menohok dan natural dari Rowan tentang yang telah Danni lakukan selama ini, memilih untuk pergi tanpa meminta maaf. Apa sebenarnya makna dari itu semua?

Bahwa maaf bukanlah solusi. Maaf tidak akan bikin segalanya lebih baik. Karena dalam konteks ini, meminta maaf itu hanyalah tindakan dari pelaku seperti Danni untuk merasa lebih baik. Minta maaf itu untuk diri sendiri, yang berarti Danni masih mikirin dirinya sendiri. Yang harusnya dilakukan adalah memahami kenapa yang ia lakukan itu salah, memahami apa yang dirasakan oleh orang yang sudah dibohongi, dikhianati, dijahati. Meminta maaf seharusnya adalah untuk ketentraman pihak yang satunya.

Journey Danni komplit dengan meninggalkan teater karena dia telah memahami apa yang telah ia lakukan kepada Rowan. Dia menumbuhkan respek yang baru terhadap Rowan. Dia sadar bahwa ini adalah ‘cerita’ Rowan. Dan dengan melakukan itu, Danni telah menjadi orang fiktif terbuang yang jadi lebih baik daripada influencer-influencer palsu di dunia asli kita.

 

 

 

 

Tadinya kupikir ini cuma film receh tentang perempuan yang berbohong supaya dirinya populer dan dapat sahabat dan cowok idaman. Ternyata, film ini memang adalah itu, dan lebih lagi. Lebih dalam, lebih real. Lebih bergizi. Dan juga lebih menyenangkan berkat penampilan akting yang meskipun karakternya didesain untuk gak simpatik tapi tetap dibawakan natural. Karakter-karakter mereka terasa real dan urgen, di balik fungsi sebagai parodi ataupun sindiran. Ada beberapa kali aku merasa gak sanggup untuk melanjutkan nonton. Bukan karena khawatir kebohongan karakter utamanya ketahuan, tapi karena menyangka si karakter itu akan mendapat redemption yang menganulir segala hal penting lain yang diangkat film. Tapi ternyata akhir film ini diikat dengan respek terhadap hal-hal tersebut, karakternya dapat konsekuensi, dan benar-benar menohok– I think ini salah satu ending terkuat tahun ini. Filmnya definitely masuk list favoritku tahun ini.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for NOT OKAY

 

 



That’s all we have for now.

Kenapa orang gemar sekali menjual tragedi? Apakah menurut kalian secara moral itu benar? Bagaimana pikirmu para influencer palsu seperti Danni tidur di malam hari?

Share  with us in the comments

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

 


THE SCIENCE OF FICTIONS (HIRUK-PIKUK SI AL-KISAH) Review

“The historical truth is composed of dead silence”
 

 
 
Diam terkadang bukan pertanda kuat, atau tegar. Melainkan, diam sederhananya bisa jadi adalah saat kita sedang ditekan. Dibungkam. Pemuda desa bernama Siman (Gunawan Maryanto totally deserved this year’s Citra) terpaksa harus mengistirahatkan kata-kata untuk selamanya ketika lidahnya dipotong. Siman yang penari itu telah melihat sesuatu yang tak mestinya ia ketahui. Ia menyaksikan kebohongan paling mutakhir dalam sejarah umat manusia. Yang Siman tak-sengaja lihat saat itu adalah syuting pendaratan ke bulan yang dilakukan oleh kru Amerika, di tanah Bantul Yogyakarta. Peristiwa itu mengubah hidup Siman selamanya. Lebih dari trauma, Siman justru tampak seperti bersikeras untuk tetap mengomunikasikan apa yang ia lihat. Sampai bertahun-tahun setelahnya, Siman bergerak lambat seperti astronot berjalan di luar angkasa. Ia juga membangun rumah dan kostum astronot, untuk ditunjukkan kepada orang-orang di sekitarnya. Yang sayangnya, malah membuat Siman dicap sebagai ‘orang gila’.
Luar biasa memang imajinasi – dan celetukan kreatif – sutradara Yosep Anggi Noen ini. Dia membawa teori konspirasi yang paling santer hiruk-pikuknya di dunia itu ke Indonesia. Tentu saja karena Yosep Anggi Noen sendiri punya sesuatu yang ingin dia bicarakan terkait Indonesia. Tebak apa yang terjadi di negara kita sekitaran tahun pendaratan manusia di bulan? Ya, peristiwa pemberontakan PKI. Yang berekor pembantaian di tahun 1966. Di tahun itulah Siman dalam cerita ini hidup. Dua ‘fictions’ itulah yang diparalelkan oleh Anggi Noen dalam film panjang ketiganya ini. Dua peristiwa sejarah yang masih terus diperbedatkan benar-atau-tidak, nyata-atau-rekayasa. Selain menyaksikan hoax pendaratan bulan, Siman juga berada di tengah-tengah peristiwa penculikan dan pembantaian kerabatnya yang dicurigai simpatisan PKI. Siman dalam kejadian yang merenggut lidahnya itu adalah saksi, juga sekalian sebagai korban. Nah, sekarang coba, siapa pihak yang jadi saksi – sekaligus korban – dalam peristiwa pembantaian tahun 1966 itu?

Kalo Siman bisa ngomong (oh yeah) Sayang mereka tak bisa ngomong

 
 
Begitulah kira-kira Yosep Anggi Noen memposisikan cerita ini. Memahami posisi tersebut penting bagi kita. Supaya kita dapat, setidaknya, mengenali konteks atau gambar besar film. Karena, olala, The Science of Fictions (judul bahasa ibunya adalah Hiruk-Pikuk Si Al-Kisah) adalah tontonan yang dapat membuat kita bingung, dan susah untuk dicerna. Film-film seperti ini sebenarnya jangan keburu dianggap ‘angker’. Karena seringkali daripada tidak, film-film ini kuat di gagasan. Mereka boleh saja terdengar sunyi dan tak banyak aksi atau kejadian yang ditampilkan. Tapi bukan berarti tak banyak yang sedang berusaha untuk disampaikan. Persis seperti si Siman itu sendiri. Meski tak bersuara, karakter ini sesungguhnya bicara banyak soal gagasan yang dilontarkan oleh pembuatnya kepada kita.
The Science of Fictions sendiri hadir seperti dalam dua bagian. Bagian pertama sekitar tiga puluh menitan cerita, dibingkai dalam rasio sempit dan visual hitam putih. Memperlihatkan sekuen adegan di tahun 1966. Bukan hanya untuk memberikan kesan ‘ini cerita periode lampau’, tapi juga untuk memberikan kesan opresi dan tekanan yang menguar kuat sekali dalam setiap shot. Bagian kedua mengambil waktu di masa sekarang. Siman hidup di dunia yang berwarna, yang memberikannya kesempatan untuk berinteraksi lebih banyak di luar alih-alih ngumpet stres di dalam kamar. Siman juga banyak berinteraksi dengan orang-orang baru, yang not exactly baru karena sebagian besar mereka diperankan oleh aktor-aktor yang sama dengan pemeran tokoh-tokoh yang ada pada cerita bagian pertama. Apakah mereka sebenarnya adalah karakter di cerita pertama yang ternyata masih hidup setelah diculik? Ini menarik karena mereka mainin karakter yang berbeda, Siman tidak mengenali mereka. Penculikan dan pembantaian itu – as far as this movie views – benar terjadi. Alasan menggunakan pemeran yang sama untuk beberapa karakter sepertinya adalah untuk menunjukkan kesalingberhubungan.
Siman yang lidahnya dipotong karena peristiwa pendaratan bulan diparalelkan dengan keturunan atau keluarga terduga-PKI, karena berada di posisi yang sama. Sebagai saksi sekaligus sebagai korban. Sebagai pihak yang gak bisa membicarakan masalah yang mereka lihat atau alami. Pihak-pihak yang terbungkam. Film sepertinya ingin menyimbolkan para keturunan ini lewat karakter-karakter di masa kini yang diperankan dengan oleh aktor yang sudah memerankan karakter lain di masa lalu. Film juga menggunakan lalat untuk memperkuat ini. Menjelang akhir film kita melihat beberapa tokoh di-close up, dengan lalat di sekitar mereka. Termasuk juga Siman yang duduk dengan beberapa lalat berputar-putar di atas kepalanya. Lalat itu sepertinya adalah koneksi di antara mereka. Sebuah kesamaan. Yang menegaskan keparalelan yang ditarik oleh film tadi. Lalat itu juga berfungsi sebagai penanda sesuatu yang sudah lama tersimpan, sehingga busuk dan berbau. Dan kita tahu Siman sudah selama itu menyimpan kebenaran, hanya karena dia sudah dalam keadaan gak bisa untuk membeberkannya.
Membuat kita melihat dari sudut pandang Siman, menjadikan ini lebih emosional. Lebih dramatis, karena peristiwa yang menimpa Siman dapat kita tahu dengan pasti kebenarannya. Sehingga ketika kita melihat Siman yang bergerak pelan, mau itu sambil mengangkut barang atau berjalan mengantar map surat, diolok-olok oleh orang-orang di sekitarnya, kita menangkap itu sebagai sebuah komedi yang pahit. Kita bisa merasakan determinasinya. Untuk itu, aku semakin salut dengan Gunawan Maryanto yang memerankan, karena Siman ini sesungguhnya punya tuntutan fisik yang luar biasa. Dia melakukan semua hal; dia akan mengangkat asesoris besi, ataupun memanjat bak mobil, dengan superpelan. Ini nyatanya berat sekali untuk dilakukan. Tapi akting Gunawan tetap konsisten. Sesekali, pada beberapa adegan, kita mungkin akan terkikik juga melihat Siman, tapi tak sekalipun kita terlepas dari karakternya. Kita dengan efektif dibuat sudah terlanjur peduli dengan karakter ini. Ketika dia minum dengan gerakan superlambat saja, kita akan menatapnya. Menunggunya. Karena kita ingin menyelami apa yang ia rasakan.

Sutradara seperti ingin mengajak orang-orang untuk seperti Siman. Untuk bersikap: jika tahu pasti akan suatu kebenaran, you might as well say it. Ya, memang tidak mudah, apalagi jika kita adalah orang kecil. Akan selalu ada pembungkaman. Akan selalu ada fabrikasi cerita oleh orang yang lebih berkuasa. Siman, tanpa lidah, punya cara sendiri untuk bicara. Kita seharusnya juga bisa; lebih baik daripada Siman.

 
 
Tindakan Siman membangun rumah seperti roket dari perkakas mikrowave dan rangka mesin cuci, aksi Siman memesan baju astronot ala kadar, adalah penguat terhadap komunikasi yang berusaha ia lakukan. Aksi-aksi tersebut boleh jadi adalah teriakannya untuk menyadarkan orang-orang bahwa orang semiskin atau ‘sesederhana’ dirinya saja bisa kok untuk bikin sesuatu yang mirip roket. Siman sesekali nunjukin dia sebenarnya bisa bergerak normal, terutama dalam keadaan emosi yang sedang tinggi, entah itu saat marah atau lagi birahi. Yang lebih lanjut menyampaikan kepada kita bahwa sesungguhnya meskipun mulut dibungkam, sebenarnya kita masih bisa bertindak. Masalahnya adalah bagaimana orang-orang akan menangkapnya. Value Siman di mata orang-orang tetaplah hanya sebagai badut penghibur, and it his worst dia adalah seorang maniak. Lewat ini film dengan tepat menggambarkan kondisi bahwa memang tidak semudah itu untuk berkata.

It’s his/their words againts, who?

 
 
Tidak selamanya film ini sepi dialog. Karakter-karakter sekitar Siman akan sering bicara, kadang untuk penyambung lidah sang protagonis, namun sering juga sebagai eksposisi. Untungnya, kata-kata di film ini sama engaging-nya dengan visual yang ditampilkan. Film ini menyusun pengadeganan dengan banyak lapisan kedalaman gambar dalam setiap shot. Bayang-bayang digunakan untuk menciptakan lebih banyak lagi depth pada layar. Sehingga masing-masing frame film ini seperti sebuah jendela yang membingkai begitu dalam. Bahkan ketika film sudah ‘berwarna’ bayang-bayang terus difungsikan untuk menghasilkan depth yang membuat gambar-gambar menjadi semakin hidup, terus aktif. Sementara di background, telingaku yang biasanya gak merhatikan musik, tercuri juga perhatiannya. Oleh penggunaan musik yang kayak campuran musik film-film luar angkasa dengan musik film PKI. Turut membangun nuansa eerie yang spesifik sebagai identitas film yang bermain di realita dan fantasi seperti ini.
Dengan visi yang kuat, film ini sendirinya jadi berada dalam posisi yang cukup lucu. Cerita film ini bekerja dengan landasan berani mengungkap kebenaran, tapi memparalelkan suatu fiksi yang bisa dipastikan sendiri kebenarannya dengan fakta yang masih kabur terlihat agak seperti memaksakan argumen. Alur film ini butuh untuk kita percaya akan kebenaran atas palsunya pendaratan di bulan (ini fakta yang direka oleh cerita). Di lain pihak, untuk topik yang paralel dengan cerita itu, jadinya seperti memaksa untuk setiap penonton percaya pada kebenaran sesuai gagasannya. Film harusnya bisa membuka lebih banyak ruang untuk ini. Bagian tengah menjelang akhir yang agak nge-drag – karena kita mulai kehilangan arah mau dibawa ke mana cerita – mestinya bisa difungsikan untuk sebagai ruang-ruang tersebut. Menjadikan film jadi bahan obrolan yang lebih padet.

Seorang wanita dalam film ini menuduh Siman berpura-pura bisu karena Siman mampu mendengar. Sementara kita tahu Siman memang tidak bisa bicara karena lidahnya dipotong. Tapi bagaimana dengan kita? Kita toh bisa bicara. Kita juga tidak tuli. Kita mendengar hiruk pikuk kisah-kisah itu. Teknologi komunikasi pun sudah semakin maju. Apakah kita akan tetap bungkam terhadapnya?

 
 
 
Hiruk pikuk kebohongan yang tersaji dalam film ini bakal membuat kita berefleksi juga dengan keadaan sekarang. ‘Skenario’ di mana-mana. Lewat visual tight dan pengadeganan yang aneh, film menawarkan gagasan dengan cara yang menarik. Obrolan yang boleh jadi bakal berat, jadi seperti sedikit ringan – tanpa mengurangi intensitasnya – oleh film ini. Jika film Pemberontakan G30S/PKI dulu dikecam sebagai propaganda kebencian/pengantagonisan, maka film ini difungsikan sebagai propaganda untuk mengambil langkah yang heroik, sekuat tenaga, demi kebenaran.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for THE SCIENCE OF FICTIONS (HIRUK-PIKUK SI AL-KISAH)

 

 
 

 

That’s all we have for now.
Apakah kalian punya interpretasi berbeda terhadap film ini?
Sebagai kontras dari karakter Siman, film ini menyiapkan karakter yang sungguh sureal. Yang seperti berjalan dalam dimensinya sendiri. Karakter seorang jenderal, atau seorang pemimpin, yang sudah ada (dan terus nongol sesekali) sejak syuting pendaratan bulan di awal. Memegang kamera. Seolah seorang sutradara yang menciptakan suatu kenyataan. Ada konflik pada karakter ini, ketika dia menyebut lantang untuk tidak mau berpartisipasi dalam kebohogan besar. Namun setelah-setelahnya, kita kerap melihat dia dengan kamera. Merekam dirinya mengendarai mobil. Merekam dirinya merokok. Tapi tidak ada kamera di mana-mana saat dia menyimpan reel video hasil syuting pendaratan bulan. Tindakan merekam diri itu juga sepertinya dikontraskan lebih lanjut dengan kehadiran karakternya Lukman Sardi (eks-TKI di Jepang) yang ‘kedapatan’ sering merekam sesuatu lewat kamera hapenya. Sampai titik ulasan ini ditulis, aku belum yakin tokoh jenderal/pemimpin besar ini merepresentasikan apa, apakah komentar sutradara terhadap presiden saat itukah?
Apakah menurut kalian film ini lebih pantas untuk menjadi wakil Indonesia ke Oscar tahun depan?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

BORAT SUBSEQUENT MOVIEFILM Review

“The truly intelligent person is one who can pretend to be a fool in front of a fool who pretends to be intelligent.”
 

 
 
Luar biasa memang usaha Sacha Baron Cohen dalam mengkritik negaranya!
Empat belas tahun lalu aktor ini nongol sebagai Borat, jurnalis fiktif dari Kazakhstan. Dia ke Amerika untuk studi budaya. Yang pada kenyataannya adalah Sacha sedang memperlihatkan betapa konyolnya ke’open-minded’an ketika diterapkan oleh orang-orang di sana. Sebagai pendatang dari negara yang jauh lebih inferior, Borat ditampilkannya jujur dan polos, namun juga begitu terbelakang. Borat bukan saja memperlihatkan bagaimana sebenarnya orang Amerika ketika dihadapkan kepada sesuatu yang berbeda dengan mereka,  tapi juga bagaimana mereka menyingkapi ‘budaya’ mereka sendiri jika budaya tersebut diterapkan dengan cara berbeda. Dua tahun lalu, Sacha mengambil gaya mockumentary yang lebih berani lagi pada serial Who is America. ‘Prank’ yang ia lakukan langsung menyasar ke orang-orang penting. Dia menyamar sebagai sesosok pro- (politik, kepemilikan senjata api, dll), berdialog dengan tokoh-tokoh politik, dan dengan kocak mengekspos kedogolan mereka. Dan sekarang, tepat di bawah hidung kita semua, Sacha Baron Cohen telah sekali lagi mengenakan ‘topeng’ Borat. Kembali ke U.S.and A. Meletakkan cermin itu ke tengah-tengah warga Amerika yang kini berada di bawah kepemimpinan Donald Trump. Gerakan feminis. Dan Covid-19.
Kalo kita mau ikutan berkaca di cermin yang sama, tentulah kita juga akan menemukan sindiran-sindiran yang dilontarkan oleh film ini ikut mengena ke negara kita. Represi, sexism, apapun dijadikan adu kubu politik, sudah jadi masalah sehari-hari. Di negara kita pun bukannya tidak ada gerakan protes ataupun kritik cerdas seperti yang dilakukan oleh Sacha Baron Cohen. Baru-baru ini, Najwa Shihab udah bikin kita berdecak kagum lewat aksinya mewawancarai kursi kosong sebagai ganti Pak Menteri Kesehatan yang menolak hadir saat diundang ngobrol. Kita butuh lebih banyak kritikan-kritikan cerdas seperti yang dilakukan oleh Najwa atau Borat ini. Kritikan yang sayangnya juga harus disematkan kata nekat setelah predikat cerdas tadi. Nekat karena memang ada ‘bahaya’ yang membayangi. Kita lantas mencemaskan Najwa kalo-kalo nanti ditelikung pemerintah. Borat sendiri harus mengenakan rompi antipeluru di balik kostum penyamarannya saat merekam film ini. Dan itu memperlihatkan betapa powerfulnya film yang ingin ia sampaikan ini.
 
 

Dengan berpura-pura bego duluan, Sacha mengekspos kebegoan yang lebih paripurna

 
 
Ada lebih banyak layer pada film Borat kedua ini jika dibandingkan dengan Borat yang pertama. Tajuk originalnya cukup panjang, berbunyi “Delivery of Prodigious Bribe to American Regime for Make Benefit Once Glorious Nation of Kazakhstan”. Dari judul tersebut kelihatan bahwa cerita ini punya target yang lebih spesifik dibandingkan film pendahulunya yang abstrak ke sosial Amerika. Kali ini yang diincar adalah ‘American Regime’. Film kali ini seperti memadukan gaya film pertama dengan serial Who is America. Borat dan, kali ini partner in crimenya adalah putrinya; Tutar, yang berusia 15 tahun, akan semacam menginterview beberapa tokoh (ranging from aktivis feminis, ke  pendukung Trump hingga ke major politican) dengan konteks narasi yang lebih ditonjolkan. Narasi yang berakar pada relasi ajaib antara Borat dengan Putrinya itu menjadikan film ini tontonan yang lebih berarah, dan suprisingly lebih emosional, karena jadi bermuatan drama.
Drama ayah-anak ini dijadikan oleh sutradara Jason Woliner sebagai pengikat sketsa-sketsa ‘prank’ di dunia nyata yang dilakukan oleh Borat dan Tutar dari waktu ke waktu. Beberapa hal yang dikritik (dan dibuktikan) oleh film Borat 2 ini antara lain adalah soal salah kaprahnya gerakan feminis, soal negara yang seperti melanggenggkan perdagangan perempuan, soal sikap negara terhadap perempuan itu sendiri – dan juga terhadap minoritas, soal sikap terhadap jurnalistik, dan tentu saja soal penanganan dan propaganda terhadap pandemi virus Corona. Drama ayah-anak yang jadi tulang punggung narasi akan memberikan setiap sketsa bermuatan kritik-kritikan tadi konteks yang mengikat yang menjadikannya punya bobot lebih sebagai tontonan. Meskipun memang drama ayah-anaknya itu sendiri konyol alias absurd. Resolusinya menghangatkan dan membawa banyak harapan untuk dunia yang lebih baik, tapi juga tidak sepenuhnya terasa baru. Borat ingin memberikan putrinya tersebut sebagai hadiah untuk Vice President. Ini adalah misi yang diberikan negara baginya, karena Kazakhstan ingin mengapresiasi Amerika yang sudah kembali menjadi negara kuat yang bisa dijadikan panutan. Journey putrinya Borat (dimainkan dengan berdedikasi dan luar biasa oleh Maria Bakalova) sangat dramatis meskipun di awal karakternya ditulis sangat komikal demi satire yang diincar oleh film.

Semua kekonyolan karakter pada film ini fits perfectly ke dalam konteks satir yang diincar. Penekanannya sekali lagi adalah pada cara bercerita sambil menyindir itu sendiri. Film Borat percaya untuk melakukannya dengan mengolok diri sendiri terlebih dahulu. Untuk mengekspos seseorang yang pura-pura pintar, kita harus berpura-pura bloon di hadapannya terlebih dahulu. Untuk membuat mereka merasa makin superior, dan ketika kepala itu sudah demikian gede, maka jatuhnya akan semakin keras.

 
Maka film melandaskan betapa terbelakangnya Borat dan Tutar dan negara Kazakhstan itu sendiri dibandingkan dengan Jerry, atau Jim, atau Karen; dengan Amerika yang superior. Jika kalian enggak suka dengan humor vulgar yang dilakukan tanpa ditahan-tahan dari karakterisasi Borat dan Tutar, maka kalian akan susah untuk menyukai film ini walaupun mungkin kalian sepaham dengan gagasannya. Karena kelucuan cerita film ini memang bertumpu pada pengkarakteran ‘polos tapi barbar’ tersebut. Film harus membuild up gap antara Borat dengan Amerika supaya komedinya dapat berjalan. Dan ketika sudah berjalan, memang film ini jadinya lucu sekali. Misalnya adegan ketika Borat membeli kandang untuk putrinya, si penjual bingung atas permintaan si pembeli tapi kelihatan dia berusaha untuk open minded dan gak ikut campur. Sementara itu si Borat terus memancing reaksi. Sampai di satu titik akhirnya Borat berkata soal bukankah normal membeli kandang untuk tempat tinggal anak perempuan karena presiden “McDonald Trump” toh mengandangi anak-anak Mexico. Ataupun ketika Tutar gak sengaja menelan hiasan bayi pada kue yang disuapi oleh Borat, lalu mereka pergi ke dokter untuk mengeluarkan bayi yang tertelan tersebut. Sampai di sini aku yakin kalian bisa membayangkan bagaimana kocaknya Borat dan Tutar memainkan keadaan yang mengetes keopen-mindedan dokter yang menangani mereka.

Borat 2 juga bercanda dengan twist yang mereveal penyebab sesungguhnya pandemi Corona

 
 
Kehadiran Tutar sebagai pemain kunci cerita bukan saja menghantarkan kritik terpenting yang disampaikan oleh film, melainkan juga berfungsi sebagai penanda eksplorasi lebih jauh yang dilakukan oleh film ini sehubungan dengan statusnya sebagai sekuel dari tontonan yang begitu berpengaruh terhadap rakyat Amerika itu sendiri. Mau tidak mau memang yang paling duluan kita ingat dari Borat adalah tingkah antiknya. Ucapan-ucapannya yang katro sekaligus porno. Sosok Borat udah jadi salah satu ikon pop-culture yang tidak mungkin tidak dikenali. Sekuel ini juga bermain-main dulu dengan hal tersebut. Ia menunjukkan kepada kita bahwa Borat udah jadi ‘selebriti’ di Amerika. Orang-orang di jalan pada berebut memanggilnya. Bahkan sudah dijual kostum untuk orang yang mau cosplay jadi Borat di malam halloween nanti. Hal ini hanya mendorong film Borat untuk merancang cerita yang lebih beda lagi, dan tokoh Tutar adalah jawabannya.
Resep keberhasilan sekuel Borat ini adalah tempat dan waktu. Tempat; Amerika sebagai negara yang supposedly berpikiran terbuka, memungkinkan cerita seperti Borat ini dilakukan. Membuat kelucuan yang datang dari kontrabalans antara aksi dan reaksi yang timbul dari mindset dan pola pandang yang mereka anut sendiri. Waktu; karena film ini begitu relevan. Ia mempermasalahkan hal-hal yang memang sedang kita hadapi sekarang. Menargetkan keadaan politik Amerika, dan tayang hanya sebulan sebelum election berikutnya di negara itu. Perihal covid, film juga berhasil memasukkannya ke dalam konteks cerita. However, jika kita melihatnya dari sudut lain, kita juga bisa bilang film ini berkat ke-happening-nya, bakal dengan cepat terasa out-of-date. Memang, hanya waktu yang akan menentukan. Namun kita bisa membayangkan bagaimana jika kita menonton film ini untuk pertama kali di tahun 2025, katakanlah saat pandemi sudah berakhir. Joke/pranknya mungkin tidak lagi semuanya mengena. Untuk perbandingan, film Borat yang pertama; meskipun tidak menonjol di tubuh narasi, ia diingat melalui prank2 sindiran Borat leading up ke dia nyulik Pamela Anderosn. Dan itu karena yang disindir Borat adalah kebudayaan Amerika di masa modern secara keseluruhan. Yang secara waktu, jangkauannya lebih luas. Kita masih mengingatnya. Aku pikir ketimeless-an tersebut lebih susah dicapai oleh film yang kedua ini. Also, film ini juga sedikit terlalu mengandalkan popularitas Borat itu sendiri, mengandalkan ke semua penonton sudah tahu siapa Borat itu sebelumnya.
 
 
 
Komedi satir dengan konsep yang menakjubkan. Luar biasa tajam, dan nekat. Film ini enggak ragu untuk ‘menipu’ narsumnya demi memberikan mereka pandangan yang lebih terbuka, penyadaran, dan merefleksikan kepada kita keadaan yang sebenarnya. Di balik itu semua, film ini masih mampu untuk menghadirkan drama ayah anak yang cukup dramatis dan mencuri emosi kita. Hanya komedinya yang mungkin gak untuk semua orang. Kasar, vulgar. Terutama untuk orang-orang yang kesindir langsung oleh gagasan film ini.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for BORAT SUBSEQUENT MOVIEFILM

 

 
 

 

That’s all we have for now.
Menurut kalian bisakah film seperti ini tercipta di Indonesia, mengingat iklim politik dan pola pikir orang indonesia itu sendiri? Apakah menurut kalian jurnalis seperti Najwa Shihab atau seniman seperti Sacha Borat Cohen ini melanggar etika ketika mengekspos ‘bintang tamunya’ sehingga jadi bahan olokan?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

THE HUNT Review

“Assume’ makes an ‘ass’ out of ‘u’ and ‘me’.”

Satir adalah penyampaian bahasa yang ditujukan sebagai sindiran terhadap suatu keadaan atau bahkan seseorang. Satir dikemas sebagai humor (bisa parodi ataupun ironi atau sarkasme) sehingga mampu menarik perhatian masyarakat kepada isu-isu yang terkandung dalam gagasannya. Sebab fungsi utama satir memang adalah sebagai sebuah kritik. Masalahnya; sekarang orang menganggap satir dengan terlalu serius. Di jaman informasi ini kita sudah terbiasa meneropong sesuatu dan memilah mana yang sesuai dengan kita, dan membuang jauh yang tidak. Menjatuhkannya malah. Sedangkan satir, mengundang kita untuk becandain hal yang mungkin justru adalah hal yang kita percaya. Kita menjadi sudah asing dengan melihat ke-dalam dan bersenang-senang dengan sesuatu yang kita percaya. Kita malah melihat satir sebagai serangan. Makanya sekarang candaan di channel youtube aja bisa dianggap seolah statement penting di tv nasional oleh orang.
The Hunt pun begitu. Komedi action-thriller ini langsung dianggap ofensif oleh penonton – bahkan presiden – di negara asalnya, lantaran memuat singgungan terhadap perbedaan ideologi politik. The Hunt sempat ditunda penayangannya, film ini mestinya bisa kita saksikan di bioskop tahun lalu. Namun semua itu nyatanya tidak menyurutkan kekuatan suara film ini. Karena The Hunt ini justru unik. Dia adalah film yang semakin banyak orang yang tersinggung, maka semakin baguslah dia. Karena itu berarti satir dalam film ini benar-benar menjalankan tugasnya dengan baik pada iklim modern sekarang ini.
Yang bikin film ini kontroversial adalah ceritanya yang seperti mengadu masyarakat liberal yang elit dan konservatif jelata Amerika. Membuat mereka dalam situasi berjuang hidup-mati. Crystal terbangun di sebuah padang rumput, bersama beberapa orang lain, dalam keadaan mulut terbekap alat. Mereka semua tidak saling mengenal, satu-satunya kesamaan adalah mereka ini semuanya ‘sayap-kiri’. Ketika mereka menemukan kotak besar berisi senjata api, tembak-tembakan itu terjadi. Film ini comedically brutal dalam memperlihatkan adegan bunuh-bunuhan. Crystal musti menyelematkan diri, sesekali bekerja sama dengan rekan sesama target buruan, sembari berjuang hingga ke kesimpulan bahwa yang memburu mereka adalah borjuis liberal yang dipercaya suka berburu manusia sebagai rekreasi. Crystal balik memburu mereka hingga ke Manor, tempat sang pemimpin – Athena – menunggu dirinya.

semua kegilaan ini bermula dari chat di grup WA!

Padahal kalo kita tonton dengan seksama, tidak ada tokoh baik-tokoh jahat di sini. Hanya pemburu dan yang diburu. Walaupun pemburu digambarkan sebagai kumpulan orang konglomerat, tapi film ini tidak pernah sesimpel si kaya dan si miskin. Kita tidak lantas mendukung si miskin, alias kelompok yang diburu. Karena film memperlihatkan begitu banyak spektrum. Bakal ada penonton yang enggak kasian sama yang diburu karena berbagai hal. Misalnya mereka punya pandangan politik berbeda. Atau karena persoalan pandangan tentang kepemilikan senjata. Kedua pihak diperlihatkan sama-sama brengsek, sama-sama ignorant. Ketika ada satu yang mati (anunya digranat ataupun terjatuh ke jurang berduri kayak di video game), kita akan miris sesaat kemudian tergelak karena memang digambarkan dengan over. Target yang enggak sebenar clear inilah yang bikin penonton ‘bingung’ – beberapa bakal melihat pahlawan mereka sebagai penjahat, beberapa akan merasa dipaksa mendukung yang gak sepaham – sehingga film ini jadi menimbulkan reaksi beragam.
Untuk dapat mengerti kenapa sutradara Craig Zobel sengaja mengarahkan filmnya menjadi seperti demikian, maka kita perlu memahami referensi yang ia munculkan di dalam cerita. The Hunt berulang kali menyebut soal Animal Farm, novel satir politik yang ditulis oleh George Orwell. Ada banyak penamaan dan istilah yang disebutkan oleh tokoh The Hunt yang mengacu kepada novel ini, misalnya menyebut rumah sebagai Manor seperti nama peternakan dalam Animal Farm. Crystal disebut sebagai Snowball oleh Athena; kedua tokoh ini sama-sama membaca Animal Farm. Bahkan ada babi yang diberi nama Orwell. Novel Animal Farm bercerita tentang binatang ternak yang mau menggulingkan manusia, karena manusia adalah makhluk paling perusak di muka bumi. Binatang-binatang ini dipimpin oleh babi yang menyusun sistem pemerintahan sendiri. Namun, si pemimpin babi ini menjadi takubahnya sebobrok manusia yang mereka lawan sehingga muncul lagi perlawanan untuk menjatuhkannya. “Manusia ke babi, babi ke manusia, benar-benar sukar membedakan yang mana” begitu kira-kira penggalan dialog yang mengandung gagasan utama novelnya. The Hunt juga berangkat dari gagasan yang sama. Bahwa semua manusia, baik Trump voter atau bukan, sesungguhnya sama. Sama dalam hal apa?
Kedua kubu dalam The Hunt punya penyakit sembrono yang sama di hati mereka. Dan mungkin kita semua juga. Kita gampang percaya pada informasi apapun yang mendukung kebutuhan kita sendiri. Di akhir film ini diungkap bahwa para pemburu sesungguhnya adalah orang-orang yang dirugikan oleh teori-teori pihak oposisi. Rumor mereka menghibur diri dengan membunuhi orang-orang layaknya hewan buruan itu tadinya hanya hoax, yang dibesar-besarkan oleh media . Mereka dipecat dari kerjaan, sehingga dendam dan beneran memburu netijen yang mereka percaya ambil bagian dalam penyebaran hoax tersebut. The Hunt, lewat orang-orang ini, memperlihatkan kepada kita bahayanya mempercayai sesuatu, sekadar berasumsi, tanpa membuktikan terlebih dahulu kebenarannya. Twist kecil pada dialog antara Crystal dan Athena di akhir film menguatkan ini; bahwa sekalipun kita merasa benar, kita haruslah tetap melihat dari sudut lain. Because we still could easily been wrong.

Situasi ekstrim yang tergambar pada The Hunt adalah sindiran terhadap percekcokan antardua kubu politik yang terjadi. Yang masing-masing merasa benar, seringkali bukan karena mereka benar, melainkan karena pihak yang satunya dianggap mutlak salah. Kita berasumsi yang tidak-tidak, dan berkat sosial media, segala teori dan perkataan-tak-berdasar bisa menyebar di kelompok masing-masing seolah itulah kebenaran.

Salah satu dialog kunci dalam film ini adalah anekdot ‘kelinci dan kura-kura’ yang diceritakan dengan begitu twisted oleh Crystal. Karena cerita kemenangan kura-kura karena si kelinci sombong kebablasan tidur saat lomba lari itu ada kelanjutannya. Dengan ending yang cukup sadis. Ketika pertama kali dia menceritakannya, kita menangkap secara tersirat Crystal menganggap dirinya kura-kura dalam cerita tersebut. Namun di bagian akhir film, setelah dia (dan kita) belajar bahwa kedua kubu sebenarnya sama, kita dengan jelas diperlihatkan bahwa dia menyadari dirinyalah yang kelinci. Betty Gilpin mendongengkan, dan kemudian menghidupi ending kisah yang tokohnya ceritakan, itu adalah hal terbaik yang aku dengar sepanjang hari aku menonton film ini. Penampilan aktingnya benar-benar mencuatkan tone film secara keseluruhan. Crystal ini kalo gila bisa kayak Harley Quinn di Birds of Prey (2020), dan saat intens, dia bisa kayak Grace di Ready or Not (2019) . Aksi-aksinya semua kocak sekaligus menegangkan, sekuen berantem di akhir melawan Athena itulah puncak terbaiknya. Film dengan bijak membuat pandangan politik tokoh ini ambigu dengan membuat identitasnya – dari sudut pandang Athena – ambigu. Mungkin beberapa orang akan lebih senang menganggap Crystal si penyintas badass ini sebagai apolitical.

in first 20 minutes,  I was in denial ” aku gak mau nonton film yang Emma Roberts-nya mati duluan”

But it takes a while for us to meet and know her. Film ini memilih cara yang unik untuk memulai cerita. Unik, meski bukan pilihan yang ‘benar’. Karena babak pertama film ini sengaja didesain supaya kita bingung siapa yang harus diikuti. Dari orang kaya snob ke bego ke gadis vulnerable yang bikin jatuh hati, cerita berpindah melewati tokoh-tokoh yang tidak ada yang bikin kita simpati. Dan kemudian mereka mulai berjatuhan mati. The Hunt bersenang-senang ngecoh kita, membuat kita berpikir “wah ini nih jagoannya”, eh ternyata mereka tewas. Kamera berpindah membawa kita mengikuti yang lain. Kita baru benar-benar mengikuti Crystal di akhir babak pertama.
Bahkan si Athena bisa saja jadi tokoh utama. Karena dialah yang kita lihat muncul dan dibangun sedari awal. Meski tidak hingga babak akhir kita baru melihat wajahnya (yang ternyata diperankan oleh Hillary Swank). Akan tetapi masuk akal jika film ingin ‘mengacaukan’ kita seperti itu, karena toh aksi Athena yang ‘membalas dendam’lah yang menyeret Crystal pada cerita – terlebih jika memang Athena salah orang seperti yang diungkap oleh Crystal. However, efek cerita dari sudut pandang Athena akan lebih besar dan konsisten jika adegan flashback di awal babak ketiga dimajukan sebagai set up.




Film ini dengan sukses membagi penonton karena ceritanya yang mengadu pandangan politik, namun pada akhirnya memperlihatkan keduanya sama saja. Certainly bukan sesuatu yang ingin didengar oleh kebanyakan orang. Namun sesungguhnya ini adalah tayangan yang luar biasa menghibur. Dialog dan kejadiannya mengundang tawa – jika kita mau melihat ke dalam dan bermain-main dengan situasi. Aksinya sadis dan melibatkan satu pertarungan cewek yang keren. Yang kedua tokohnya tampak dimainkan dengan riang gembira, sekalipun begitu badass. Babak set upnya unik, tetapi bukan pilihan yang baik ataupun pilihan yang harus diambil oleh film ini. Di samping itu semua, ya aku sarankan supaya kita jangan jadi orang yang baper-baper amat supaya bisa menikmati satir-satir membangun seperti film ini.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for THE HUNT.




That’s all we have for now.
Menurut kalian kenapa sekarang orang gampang baper? Apakah satir sudah benar-benar kehilangan tempat di era ‘political correctness’ sekarang ini?

Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.



READY OR NOT Review

“Don’t change to fit the fashion, change the fashion to fit you”

 

 

Biar aku beri clue seperti apa film Ready or Not supaya kalian bersiap-siap menghadapi keseruan yang bakal datang: Ceritanya bermula seperti Crazy Rich Asians (2018), namun akan berakhir gila mendekati Get Out (2017)

Orang kaya perangainya suka aneh-aneh. Itu yang dipelajari oleh Grace (Samara Weaving tampak sangat badass dalam balutan gaun pengantin berbalut selempang amunisi) ketika ia menikahi Alex. Putra dari keluarga yang kaya raya di bisnis boardgame dan kartu. Setelah upacara pernikahan di mansion keluarga Alex yang udah nyaingin kastil Hogwarts, lengkap dengan pintu dan lorong-lorong rahasia, Grace dibawa untuk bertemu dengan seluruh keluarga Alex. Grace harus diospek dulu sebelum resmi menjadi bagian dari mereka. Di malam pertamanya, Grace harus mematuhi tradisi keluarga sang suami. Bermain kartu yang kemudian berkembang menjadi permainan petak umpet mematikan. Semalaman itu Grace harus bersembunyi dari penghuni rumah yang ingin membunuhnya.

Malam pertama berdarah, tapi bukan seperti yang kalian pikirkan

 

Perburuan manusia di dalam rumah orang kaya sungguh merupakan konsep yang fun. Film yang digarap Matt Bettinelli-Olpin barengan Tyler Gillett ini jelas pengen menjadi cerita yang satir. Pada latar belakang, film memasang soal orang kaya yang begitu timpang dengan rakyat jelata. Mereka punya kebiasaan dan tradisi yang berbeda. Mereka memandang sesuatu dengan cara yang berbeda. Film menggunakan komedi untuk menyampaikan gagasannya. Bahkan adegan-adegan kekerasan yang sadis itu diberikan nada lucu sehingga memancing kita untuk menertawakan sekelompok orang kaya yang berusaha mempertahankan tradisi dan hidup mereka dengan membunuh orang luar. Anggota keluarga Alex dijadikan seperti over-the-top. Ada yang enggak tahu nama keponakannya sendiri. Ada yang kerjanya mabuk-mabukkan. Alex diceritakan punya masalah dengan tradisi dan kebiasaan keluarganya, dia sudah mulai jauh dari orangtuanya. Bicara soal orangtua, malahan ada bibi Alex yang digambarkan memandang Grace dengan tampang seolah ada kaos kaki basah di hidungnya. Ya, masukkan Grace dan film jadi punya satu layer lagi sebagai subteks dari cerita. Perihal wanita yang masuk ke sistem yang bukan miliknya.

Grace bukan hanya melawan orang-orang yang memburunya. Grace melawan tradisi. Berusaha survive dari gagasan dirinya harus sesuai – memenuhi syarat – masuk ke satu ‘keluarga’. Di balik aksi-aksi violent yang seringkali membuat kita meringis dan tertawa bersamaan, film berusaha memusatkan perhatian kita kepada latar belakang, baik itu literally maupun figuratively. Desain produksi film ini begitu menonjol untuk menunjukkan perbedaan mencolok antara orang kaya dengan Grace yang dibesarkan di rumah asuh. Denah rumahnya dibuat besar, kelam, dengan banyak lorong kosong dan ruangan penuh hiasan yang membuat Grace berseru “oh shit”. Sesungguhnya ini adalah cara subtil film menyampaikan kepada kita bahwa Grace sedang berada di dalam sesuatu yang bukan untuk dia. Dia menginginkan keluarga. Tapi dia terkejut oleh semua tradisi yang harus dia jadikan bagian darinya. Keseluruhan film melingkupi Grace yang mencoba melakukan sesuatu terhadap tradisi tersebut. Dia tidak mau menjadi korban, namun dia juga sudah jadi bagian darinya. Maka Grace mengoyak tradisi itu dari dalam, sebagaimana dia merobek gaun pengantinnya.

Actually, gaun pengantin yang dikenakan Grace sudah seperti karakter tersendiri. I’m not joking. Gaun itu adalah karakter favoritku di film ini, setelah Grace. Gaun itu punya arc tersendiri, bukan sekedar pakaian. Dia melambangkan sesuatu yang harus Grace kenakan. Sebagai bukti dari masuknya Grace ke keluarga Alex, ke sistem dan tradisi mereka. Gaun itu sempat menjadi hambatan bagi langkah Grace. Tapi lihat apa yang dilakukan Grace terhadap gaun tersebut kemudian. Gaun dirobek supaya bisa lari lebih cepat. Dijadikan perban untuk membalut luka. Dijadikan bantalan ketika terjun dari lantai atas. Bahkan jadi senjata untuk membunuh salah satu pengejarnya.

Marylin Monroe pernah bilang “Berikan sepatu yang tepat kepada wanita, niscaya dia akan menguasai dunia.” Dalam film ini kita literally melihat Grace mengganti sepatu hak-tingginya dengan kets. Dia juga merobek gaun indah sesuai dengan kebutuhannya. Pakaian dan tradisi itu tak cocok untuknya. Grace harus mengoyak sistem yang memaksa dia berada dalam satu posisi. Karena film ini bicara tentang kebutuhan wanita untuk tidak mengubah diri mengikuti sistem. Melainkan mengubah sistem tersebut. Dan jika tidak bisa, menggeliatlah keluar dari sistemnya, meskipun luka seperti Grace yang mengoyak punggungnya untuk keluar dari jeruji pagar yang teralinya ia patahkan.

 

Tradisi yang digambarkan oleh film ini bukan sebatas pada peraturan fiksi cerita saja. Kita bisa membandingkannya dengan banyak hal. Dengan aturan rumah tangga, misalnya. Istri harus ikut suami. Film juga memberi gagasan bahwa ‘tradisi’ seperti itu juga tidak mesti diikuti. Di satu titik, Grace dihadapkan pada pilihan antara kabur atau balik masuk ke rumah dan menolong suaminya. Grace memilih loncat dan lari ke hutan. Bijaknya, film tidak membuat tradisi sebagai antagonis. Kita tidak bisa mengubah tradisi, karena bisa jadi tradisi itu benar. Arc Alex dan saudaranya, Daniel, membahas seputar bagaimana jika sebuah tradisi yang seperti tidak masuk akal, justru adalah hal yang benar. Bahwa peraturan-peraturan konyol itu bukan omong kosong. Untuk kita yang percaya kepada tradisi atau aturan, atau malah agama, mungkin hanya kematian yang bisa memisahkan kita darinya. Tapi bukan berarti kita bisa mengekang orang lain dengan tradisi kita. Dengan kepercayaan kita.

I draw a trap ca… Wait. This whole marriage is a trap!

 

Sudut pandang film bisa agak membingungkan karena film ingin menunjukkan pandangan terhadap tradisi itu dari berbagai sisi. Babak ketiga film ini buatku sangat lucu. Film menolak untuk berakhir aman. Tidak seperti The Purge yang begitu matahari terbit, semuanya usai dan termaafkan. Film ini menunjukkan kita konsekuensi yang tak-biasa. Cara mereka memperlihatkan kebenaran dari tradisi sungguh unik, dan membuat plot cerita menjadi sedikit aneh. Dan ini bisa menjadi nilai plus, sekaligus menjadi penanda ada kekurangan dalam naskah film ini.

Nilai plusnya tentu saja babak ketiga dan sekuen penutup tersebut benar-benar mengukuhkan film sebagai horor yang menarik. Dia bisa menjadi cult-classic karenanya. But also, kekurangannya adalah tokoh-tokohnya terlihat tidak konsisten. Film ini kebablasan mengembangkan komedi dan aksi berdarah sehingga lupa memberikan perhatian lebih kepada pengembangan karakter. Usaha untuk menunjukkan pertumbuhan yang natural sangat minim karena film memilih untuk terus bergerak. Jadi, evolusi tokoh hanya diperlihatkan lewat satu adegan, atau dibuat sebagai hal misterius yang bakal dijelaskan lewat adegan berikutnya. Susah untuk membuat cerita di ruang tertutup, dengan banyak karakter tanpa menjadikan karakter-karakter tersebut hanya di sana sebagai korban pembunuhan yang berdarah-darah. Film memberikan mereka sudut pandang dan karakterisasi yang cukup untuk membuat masing-masing punya dimensi. Akan tetapi pengembangannya minim dan dijadikan sekilas, biasanya sebagai komedi.

 

 

 

Sebagai horor film ini bekerja dengan baik karena punya aksi-aksi berdarah sebagai wujud dari simbol betapa mengerikannya pengaruh sebuah tradisi atau kepercayaan. Ia juga penting karena menyangkut persoalan posisi wanita dalam aturan dan dunia yang dipimpin oleh pria. Sebagai komedi, film ini bekerja terbaik, karena sajiannya yang menghibur penuh oleh kelucuan. Bahkan adegan orang terbunuh saja dibuat lucu. Penampilan akting Samara Weaving benar-benar jempolan, dia kuat dalam kevulnerableannya, dan dia juga kocak. Tapi sebagai film yang harusnya punya pengembangan karakter, film ini tergesa-gesa. Ruang dan tempo untuk pengembangan mestinya bisa lebih lega lagi. Karena dengan kecepatan dan konstan komedi dan aksi seperti yang kita saksikan, latar belakang yang diniatkan untuk mencuat tadi tetap tidak benar-benar standout. Film ini bisa-bisa hanya akan dikenang dan dinikmati sebagai sajian horor sadis yang kocak, dengan gagasan penting dan satirnya teroverlook.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for READY OR NOT

 

PARASITE Review

“… one must climb the ladder from the first step.”

 

 

Kecerdasaan tidak ada hubungannya dengan kekayaan. Jenius matematika enggak lantas membuat kita kaya. Pun, punya duit banyak bukan berarti jaminan seseorang berarti cerdas luar biasa. Engkau bisa saja punya duit bermilyar-milyar namun tetap tertipu oleh seseorang licik yang bahkan tidak punya buku tabungan. Thriller drama keluarga terbaru dari Joon-ho Bong membahas anekdot tersebut, tentu saja dengan nada komedi yang membuat kita tertawa, hingga kita menyadari ini sesungguhnya adalah gambaran menyedihkan yang begitu dekat dan relevan tentang betapa bodohnya kita dalam memandang perbedaan kelas sosial.

Parasit itu adalah keluarga miskin seperti keluarga Ki-taek; empat orang usia-kerja namun tak berpekerjaan selain melipat kotak-kotak pizza saat wi-fi gratis yang mereka tebengi dikunci oleh password. Mereka tinggal di rumah berserangga bau yang letaknya nyaris di bawah tanah. Pemandangan dari jendela mereka adalah kerikil di jalanan, yang akan segera dikencingi oleh seorang pemabuk. Jika mereka bilang mereka berjuang, kita certainly tidak melihatnya. Paling tidak, bukan berjuang dengan cara yang benar. Padahal mereka bukan orang tak ber-skill. Nyonya Ki-taek adalah mantan atlet lempar peluru. Putri bungsu Ki-Taek berbakat di bidang seni. Dan putra sulungnya, meskipun tidak bisa lanjut kuliah, punya kemampuan bahasa Inggris yang sejajar dengan tingkat universitas. Kemampuan bahasa inggris itulah yang kemudian menjadi pintu kesempatan. Putra Ki-taek ditunjuk untuk menggantikan temannya sebagai guru privat di rumah keluarga kaya. Rumah yang tamannya ada di atas. Bagai gula dirubung semut, keluarga kaya itu lantas jadi inceran keluarga Ki-taek; yang menggunakan segala daya upaya (alias tipu muslihat) supaya seluruh anggota keluarga bisa bekerja di sana.

cerita home invasions dan squatters mengerikan karena, siapa sih yang mau diserang di tempat kita buang air paling nyaman?

 

Celetukan sosial bukan ranah asing buat sutradara Bong. Dia sudah pernah menempatkan kita di sudut pandang orang kecil yang berjuang melawan penguasa demi kesejahteraan lewat Snowpiercer (2013) yang punya dunia unik; ‘negara’ dalam cerita itu adalah literally kereta api yang berjalan tanpa henti. However, dalam Parasite, kita ditempatkan dalam posisi yang tak-biasa. Di film ini kita diminta untuk bergerak bersama ‘orang kecil’ yang berjuang supaya hidup enak dengan mengambil cara kriminal. Ada sekuen rinci yang memperlihatkan rencana penipuan yang dilakukan oleh protagonis kita. Yang kita lihat jelas-jelas salah, tapi kita tetap peduli dan mengkhawatirkan rencana tersebut – kita tetap ingin para tokoh miskin itu berhasil. Malahan kita akan bareng-bareng menertawakan kebegoan orang kaya yang dengan gampang tertipu oleh embel-embel “dari Amerika.” Ketika cerita berubah menjadi violent, emosi yang kita rasakan kepada tokohnya pun tidak berubah. Malah berlipat lebih kuat. Film mencoba membuat kejadian berdarah itu masih punya hati. Sehingga kita menyayangkan peristiwa yang terjadi.

Semua itu bisa saja bentuk sindiran Bong kepada negara. Pemilik rumah gedong yang ‘disatroni’ oleh keluarga Ki-taek bisa jadi adalah perlambangan dari pemerintah yang lebih memperhatikan dunia internasional dibandingkan rakyat jelatanya. Standar yang begitu tinggi ditetapkan sehingga untuk membantu orang pun, si petinggi itu milih-milih. Tapi ini semuapun sejatinya sudah pernah dibahas oleh Bong dalam The Host (2006), dengan lebih blak-blakan pula dalam upaya mengingatkan induk semang alias negara yang semestinya melindungi warganya tanpa pandang bulu. Parasite, bagaimanapun juga, adalah lebih tentang para rakyat itu. Membalut ceritanya dalam subgenre horor ‘home invasions’ yang ditubrukkan dengan satu lagi subgenre horor yakni ‘squatters’ (semacam home invasions tapi ancaman datang dari dalam rumah) tidak lain tidak bukan adalah cara film untuk menyuarakan kengerian ketika rakyat menyerang rumahnya sendiri. Yang ditekankan oleh cerita kali ini adalah bagaimana penduduk miskin rela bunuh-bunuhan demi memperebutkan remah-remah kekayaan. Makanya menonton ini terasa miris. Melihat keluarga Ki-taek dan satu keluarga lagi yang jadi kejutan di pertengahan cerita, membuat kita sadar bahwa mereka semestinya tidak melakukan itu, tapi mereka pikir harus begitu.

Dunia mungkin tampak terbalik. Bagaimana mungkin orang yang sukses ternyata tidak lebih pintar daripada kita? Sebagian orang mungkin akan menuding privilege. Atau mungkin nyalahin presiden. Jika rumah adalah negara, maka kita harusnya turut menjaga dan memeliharanya. Daripada memutar otak untuk terus dijamu dan jadi freeloader, sebaiknya kita mulai berpikir apa yang bisa kita lakukan untuk membuat rumah semakin nyaman ditinggali.

 

 

Rumah di bawah tanah dan hunian di lantai atas, orang kaya yang bego dan orang miskin yang cerdik, semua itu tentu saja ada maknanya. Bong ingin menunjukkan kepada kita bahwa satu-satunya pembeda antara si kaya dan si miskin – antara konglomerat dan melarat – bukan pada kecerdasan, bukan pada kesempatan, melainkan pada letaknya. Atas dan bawah yang sebenarnya terhubung oleh tangga. Tinggal menaiki tangga itulah yang menjadi soal. Tapi terkadang, orang untuk naik tangga aja males. Dan orang males ‘keunggulannya’ adalah pikirannya bisa lebih ‘cerdas’, kayak keluarga Ki-taek di film ini. Mereka mau bekerja, tapi hanya jika mereka bisa menyedot keuntungan darinya, dengan cara yang cepat. Ada yang lompat-lompat dari satu anak tangga ke dua anak tangga di atasnya. Ada yang berusaha mencari jalan naik yang lebih gampang. Tapi tentu saja resikonya besar. Bahkan yang hati-hati naik tangga saja bisa terpeleset dan jatuh.

Hanya ada satu cara untuk ke atas. Hanya ada satu cara untuk jadi sukses, kaya, atau makmur. Berusaha dengan giat. Bekerja dengan benar. Jangan ambil jalan pintas. Jangan anggap kesuksesan sebagai sesuatu yang harus dicurangi. Jika mengkehendaki sesuatu, kita harus mengusahakannya. 

 

Terpeleset di tangga actually dijadikan poin penggerak di dalam cerita. Kita melihat beberapa kali para tokoh ‘gagal’ mempertahankan posisi mereka di tangga, karena mereka tidak mengambil langkah yang benar. Di ending film, menaiki tangga  ditekankan kembali sebagai jalan keluar yang disadari oleh tokoh utama cerita. Yang lantas membuat kita ikut menghela napas, ah seandainya dari awal mereka begitu. Di sisi lain, gerak-maju narasi dalam film ini tampak terlalu penting untuk dimulai oleh adegan terjatuh di tangga yang membuatnya tampak sebagai kebetulan. Filosofi tangga dan pentingnya adegan tersebut kita bisa paham. Namun, membuat film ini sendiri menjadi terlalu fantastical. Membuatnya tampak konyol, malah. Dan ketika satu tokoh mengulangi kesalahan yang sama, jadinya annoying. Kita punya bangunan cerita yang kuat, dengan tokoh-tokoh unik yang membuat kita peduli, tapi cerita butuh untuk orang berdiri menguping di atas tangga dan kemudian terjatuh begitu saja; agak kurang memuaskan, dan ya, memaksa.

sudah jatuh, ditimpuk batu pajangan pula!

 

Tubuh besar cerita film ini memang tampak seperti terdiri dari dua bagian. Paruh pertama yang menitikberatkan kepada drama. Dan paruh kedua yang berupa sajian mendebarkan. Sekilas memang seperti kelokan yang cukup tajam, tetapi sebenarnya transformasi cerita ini sudah di-foreshadow di awal oleh kemunculan serangga-bau alias stinkbugs. Hewan ini memegang peranan cukup penting karena dia berfungsi sebagai perlambangan dan akar dari motivasi salah satu tokoh. Serangga-bau actually will come full-circle sebagai relik pada arc salah satu tokoh. Dan merupakan salah satu dari banyak elemen pada film ini yang bekerja efektif dan bertanggungjawab membuat cerita semakin menarik untuk diikuti.

 

 

 

Bermain dengan banyak tone cerita, film-film biasa akan tersandung, terjatuh bergulung-gulung menjadi satu gumpalan yang kacau. That’s not the case for this film. Dari awal hingga akhir, mata kita akan terpaut kepada adegan demi adegan. Memanfaatkan materi cerdas, permainan akting yang meyakinkan, dan kerja kamera yang membuat kita menyaksikan langsung seperti lalat yang hinggap di rumah film itu, penceritaan drama thriller ini bekerja dengan luar biasa efektif. Dia mengambil waktu, dan tidak terburu-buru mengembangkan semuanya. Demi menyampaikan gagasannya, film yang tadinya tampak manusiawi mau tak mau harus berkembang ke arah yang lebih fantastical – dalam sense edan dan di luar nalar – dengan beberapa plot poin memiliki unsur kebetulan. Bagi sebagian penonton hal tersebut dapat mengurangi kepentingan film ini, but still, film korea yang judul aslinya Gisaengchung ini adalah tontonan yang seru dari awal hingga akhir.
The Palace of Wisdom gives 7.5 gold stars out of 10 for PARASITE.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Menurut kalian, kenapa pinter tidak lantas membuat kita kaya? Apa sih yang sebenarnya membuat orang-orang miskin? Apakah karena beneran bodoh atau dibodoh-bodohi?

Share with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

GILA LU NDRO! Review

“The absurd is the essential concept and the first truth.”

 

 

 

 

Seorang alien bernama Alien datang jauh-jauh dari planetnya yang berbulu ke Jakarta demi mencari sumber damai. Sudah pada lihat belum, lucunya premis ini di mana?

Ke Jakarta.

Mencari damai.

Lelucon yang lucu!!

 

 

Konsep dari sebuah komedi yang hebat selalu berupa penabrakkan hal-hal yang berlawanan.  Gila Lo Ndro! punya akar komedi yang kuat, yang berfungsi dua arah; sebagai sentilan, maupun sebagai gambaran. Seperti Aamir Khan yang berkeliling mencari Tuhan pada PK (2014), Alien di Gila Lo Ndro! sesungguhnya membawa kita berkeliling Jakarta untuk melihat fenomena-fenomena absurd. Seorang makhluk planet berwarna orange dengan kepala kayak ditempelin helm (aku gak pernah nyangka Indro Warkop bisa tampil lebih aneh lagi) bukan lagi hal yang paling langka. Kedamaianlah yang lebih langka di sana, di dunia kita yang sebenarnya.

Film ini sebenarnya punya tujuan yang mulia. Lebih mulia daripada batu mulia yang dijual Pak Slamet. Kebiasaan-kebiasaan orang jaman sekarang yang diperlihatkan oleh film benar-benar relevan. Gimana orang sukarela tersulut dan gemar ribut. Gimana media sosial adalah jalan pintas untuk menjadi terkenal buat orang-orang yang satu-satunya bakat yang mereka punya adalah mencari masalah dan kontroversi. Dan pada sisi lain uang logam tersebut terdapat khalayak masa kini begitu gampang disetir oleh hoax. Dalam sebuah sekuen yang kocak kita akan melihat gimana berita tentang marmut berwarna pelangi berubah menjadi marmut yang bisa menembak. Aku pikir film ini menjadi gede, sejujurnya aku berharap demikian.

Wagelasih lo Ndro!

 

 

Baru-baru ini Sacha Baron Cohen (alias si Borat) ngeluarin serial TV bergaya dokumenter yang sangat berani. Dalam serial bertajuk Who is America? tersebut Sacha menyamar menjadi beberapa orang – mulai dari aktivis, pasukan anti teroris, hingga vlogger mainan, dan dia mengadakan sesi interview dengan politisi, seniman, artis, serta orang-orang ‘biasa’ di Amerika. Sacha mengekspos pola pikir dan sudut pandang orang-orang Amerika tersebut. Lewat komedi satir yang bahkan lawan bicaranya enggak sadar sedang diolok-olok, Sacha memperlihatkan kepada kita kondisi sebenarnya di sana.

Gila Lo Ndro? punya potensi untuk menjadi kritik sekuat serial tersebut, karena tentu saja negara kita tak luput dari masalah – kita punya masalah politis dan kemanusiaan sendiri di sini. Jakarta bisa dibilang kota terpanas di Indonesia sekarang ini, ketika kita mendengar tentang Jakarta biasanya berupa tentang keributan, ketidak adilan, moralitas yang semakin bobrok pada setiap lapisan masyarakatnya. Apalagi menjelang masa pemilihan presiden, semua saling menjatuhkan. Keadaan planet asal Alien dalam film ini sebenarnya adalah cerminan langsung dari keadaan Jakarta, dan mungkin seluruh Indonesia. Tapi ada sesuatu dari Gila Lu Ndro? yang seperti terasa hilang, yang membuatnya malah menjadi seperti upaya tak-sampai. Film ini lebih terasa pretentious ketimbang punya suara yang valid. Komedinya bagus, tapi tidak pernah terasa otentik. Sepertinya bisa lebih kuat jika yang mereka perlihatkan pada film ini adalah kejadian asli (ayolah, hare gene tidak susah mencari orang ribut karena hal sepele di Jakarta atau bahkan di mana saja), membuatnya seperti Sacha yang berinteraksi dengan orang-orang asli yang tak tahu mereka sedang bermain film. Dan menyerahkan komedi itu sepenuhnya kepada dua pemain utama. Si Alien dan Indro.

Cara bercerita film inilah yang terasa sangat lemah. Actually ada satu lapisan lagi pada narasi. dari nama pemainnya, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa sebenarnya ini adalah kisah antara Indro Warkop dengan Nita, istrinya. Indro yang dimainkan Tora Sudiro pada cerita ini adalah beneran Indro Warkop yang punya teman nongkrong bernama Dono dan Kasino (as in our very own legendary comedic trio). Situasinya adalah Indro yang pulang telat, diinterogasi oleh istrinya. Kenapa, darimana, abis ngapain. You know, tipe pertanyaan yang diajuin oleh cewek seolah berharap menangkap bahas cowok mereka berbuat salah. Karena, seperti yang dengan gamblang diperlihatkan oleh film ini lewat tulisan di cangkir; cewek selalu benar. Jadi, Indro lantas bercerita tentang pertemuannya dengan makhluk planet asing dan gimana mereka berdua bertualang keliling kota mencari sumber damai. Dari konteksnya, ada aspek kejujuran yang ingin ditonjolkan. Ada hook ‘apakah sebenarnya Indro bohong atau tidak’ yang digunakan untuk menarik penonton. Seperti pada Big Fish (2003) ataupun pada Life of Pi (2012). Tapi storytelling film ini tidak membuat pertanyaan tersebut menjadi penting. Film seperti sengaja untuk menghilangkan hooknya sebab dari adegan awal kita sudah dibuat yakin bahwa si Alien memang ada. Yang sebenarnya tidak masalah jika selanjutnya diolah dengan bener. Sayangnya, narasi yang berupa lapisan Indro dengan istrinya, lapisan Indro dengan Alien dan orang-orang yang mereka temui, tidak pernah terceritakan dengan kohesif.

 

Memang kadang tampak aneh. Mungkin malah ganjil. Sukar dipercaya. Namun bisa saja hal yang tampak asik untuk kita tertawakan itu justru adalah kebenaran yang sesungguhnya. Tidak ada cara untuk kita mengetahui hal tersebut. Yang kita bisa adalah untuk tetap membuka pikiran. Untuk tetap menjaga kepala tidak panas. Karena, meskipun kita masih ragu, paling tidak kita bisa untuk tetap saling damai.

 

Penyuntingan adegan ketika cerita berpindah dari petualangan Indro ke cerita di rumah lumayan kreatif, mulus pula. Tapi keseringan. Jadinya sedikit menyebalkan, lantaran kita yang sedang melihat kejadian yang lucu, ataupun ironis, seringkali seperti ditarik begitu saja ke dalam percakapan yang gak maju-maju antara Indro dengan istrinya. Ah kamu bohong. Beneran. Terus lanjutannya gimana. Repetitif dan memperlambat cerita, membuat kita terlepas dari ceritanya. Juga seolah menciptakan dinding pemisah antara satu kejadian dengan kejadian lain, sehingga film terasa seperti potongan episode atau sketsa. Indro dan Alien tidak kelihatan karakternya. Kita sepanjang film melihat mereka berdua, tapi mereka jarang melakukan hal yang menarik. Mereka hanya ada di sana untuk menjelaskan konteks adegan yang sedang berlangsung. Atau dalam kalimat lain; mereka di sana untuk memaparkan pesan-masyarakat tentang kedamaian, dengan sedikit sekali usaha untuk membuatnya subtil.

kedamaian hakiki hanya milik orang yang sudah meninggal, sepakat?

 

 

Seharusnya film bisa ditulis dengan lebih baik lagi. Hubungan antara Indro dengan Alien semestinya bisa digali lebih, terutama dengan  menajamkan karakter mereka. Lucu sekali bahwa Alien yang datang ke Bumi lantaran ingin belajar damai malah jadi seperti juru damai bagi penghuni lokal. Kalo dia memang bisa, kenapa masih pergi mencari? Mereka bisa saja membuat Alien itu orang yang suka kekerasan, untuk menunjukkan dia benar-benar tidak tahu mengenai konsep damai, tapi film memilih penulisan yang lebih datar. Indro bahkan tampak seperti kumpulan dari pesan-pesan mengenai perdamaian daripada seorang karakter. Kata-kata yang terucap dari mulut berkumisnya kadang jadi terasa dipaksakan, dan enggak nyambung, dan eventually jadi tidak lucu. Seperti ketika anaknya bertanya kenapa Alien naik bemo, Indro menjawab dengan “Karena semua sama di mata hukum.” Di mana nyambungnya? Dua tokoh tersebut membuat aspek filosofis yang dipunya oleh cerita menjadi tumpul sebab mereka sendiri tidak punya kedalaman.

 

 

 

Kita tidak bisa tahu pasti mana yang paling benar, kita hanya bisa percaya. Dan open-minded terhadap sudut pandang orang lain. Begitu pun dengan film; sebuah cerita bukan masalah apakah idenya seusai dengan pikiran/moral kita atau tidak, karena siapa tahu justru keyakinan kita yang salah. Pada sebuah film yang terpenting adalah bagaimana cara mereka menyampaikan ide mereka. Menakjubkan gimana mereka kepikiran cerita begini sarat hanya dari jargon sepele, sayangnya film garapan sutradara Herwin Novianto ini seringkali gagap dalam bercerita. Pesan-pesannya begitu in-the-face, tokohnya tidak punya inner journey. Seharusnya cerita bernapas satir seperti ini diceritakan se-real mungkin, dengan tetap difasilitasi oleh konsep dan humornya. Tapi film ini jatohnya terlihat dibuat-buat. Humornya bahkan tidak tersampaikan menjadi lucu – penonton di studio aku nonton tadi tak ada yang tertawa karena semuanya tampak pretentious.
The Palace of Wisdom gives 2 out of 10 gold stars for GILA LU NDRO!

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Apakah hobi kita menawar di pasar atau kaki lima tapi tidak di kafe atau mall ada hubungannya dengan kita suka memandang orang lebih rendah supaya kita terus terlihat tinggi dan benar? Kenapa kita mencela ide orang lain yang tidak kita setujui? Bagaimana sikap kalian jika kebenaran yang kalian selama ini percayai ternyata terbukti salah?

Apakah kalian percaya ada alien? Dalam film ini, Alien punya bahasa sendiri, kita akan melihat dia dan istrinya berbincang di akhir; jika Ka-ga-lo-go yang mereka ucapin itu artinya ‘kalo’, kira-kira arti gagay yang selalu diucapkan si Alien ini apa ya?
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

DOWNSIZING Review

“The real meaning of greedy is taking more than you give.”

 

 

Ketika para ilmuwan dalam drama komedi satir Downsizing berpikir mereka sudah mengatasi masalah lingkungan dan populasi di seluruh dunia dengan menyusutkan umat manusia, mereka tetap tidak bisa mengerdilkan pertanyaan besar yang digantungkan Tuhan di atas kita semua; kapan kiamat itu akan tiba. Dan dapatkah kita lari darinya.

 

Downsizing memulai ceritanya dengan sangat luas. Film ini menawarkan premis yang menarik saat kita melihat orang-orang berjas putih itu berhasil menemukan cara untuk memperkecil ukuran tubuh manusia. Sungguh sebuah prospek hidup yang sangat cerah. Karena dengan menjadi kecil, orang-orang akan butuh lebih sedikit makanan, minuman, dan bahkan perhiasan. Space tempat tinggal pun tentunya dapat ‘dihemat’. Lingkungan dapat lebih mudah dilestarikan. Paul Safranek melihatnya dari sisi ekonomi; dengan mengecil dia dan istrinya dapat tinggal di rumah mewah yang secara normal tidak bisa mereka beli. Cerita Downsizing pun menyusut saat kita mengikuti Paul yang akhirnya memutuskan untuk ikutan program LeisureLand; bersama sang istri dia akan pindah ke dunia Kecil. Dari masalah environment menjadi pandangan personal mengenai apa yang bisa kita lakukan untuk membantu sebagai makhluk yang berkomunitas, Downsizing mencoba untuk menantang pikiran dan imajinasi kita semua, hanya untuk mengerdilkan sendiri ceritanya.

apapun yang besar tentunya akan semakin besar kalo kita mengecil, apalagi masalah

 

Aku bisa terus menggunakan istilah mengecil, mengerucut, dan semacamnya untuk mendeskripsikan bagaimana perasaanku ketika menonton film ini. Maksudku, aku benar-benar kecewa lantaran film ini sebenarnya punya begitu banyak potensi. This movie could be much BIGGER than this. Babak pertama film sungguh menggugah minat dan imajinasi. Film bahkan dengan seksama menuntut kita melihat proses penyusutan manusia itu berlangsung. Begitu detilnya sehingga semua langkah sci-fi itu terlihat realistis, even plausible buat penonton yang kurang suka ngayal. Menurutku, film bisa aja dimulai dengan adegan di rumah sakit itu, kita melihat orang-orang dicukur, gigi mereka diperiksa, kemudian dibius sebelum dimasukkan ke dalam kamar khusus, semuanya teratur dan sangat metodikal. Dengan begini fokus kita akan langsung ke tokoh Paul, di mana kita melihatnya tersadar dan mendapati menunggu kedatangan istrinya.

Seperti film-film sci fi yang bagus, Downsizing awalnya membahas banyak untuk kita pikirkan mengenai sistem dunia yang sudah diubah oleh narasinya. Kita mengerti bahwa ‘orang-orang kecil’ itu enggak bisa berfungsi tanpa orang-orang normal, thus membagi dua kelompok orang ini pun tentunya punya pertimbangan sendiri. Film membuat proses downsizing tersebut punya ‘kekurangan’; beresiko kematian, punya syarat khusus, serta digambarkan ada golongan yang enggak setuju sama penciptaan teknologi ini. Kita lihat ada seorang pria di bar yang mengonfrontasi Paul dan istrinya soal keputusan pindah hidup sebagai manusia kecil. Paul sendiri bahkan mengalami suatu hal sehubungan dengan pandangan mengenai downsizing, aku gak akan bocorin kejadian lengkapnya, yang jelas adegan tersebut memisahkan Paul dengan istrinya selamanya,  karena menurutku adegan yang jadi plot poin pertama tersebut benar-benar kejutan yang menambah banyak bobot drama.

Paul menyangka dengan menjadi kecil, dia bisa hidup senang, sekaligus menjadi pahlawan. Begitu jugalah film ini berpikir. Dengan menjadikan tokoh utamanya kecil, film menyangka mereka punya alasan untuk melupakan pertanyaan-pertanyaan yang sempat mereka bahas di babak awal. Nyatanya, kita tidak pernah menoleh ke sana lagi lantaran cerita sudah berubah mengenai kehidupan Paul di kehidupan barunya. Jika bukan karena prop dan desain produksi yang unik, seperti mahkota bunga ukuran asli yang jadi hiasan jambangan ataupun duit dolar ukuran normal yang dipajang di dinding sebagai hiasan, kita bisa saja sekalian melupakan Paul sudah menjadi makhluk liliput yang enggak imut. Di sinilah Downsizing menyeberang menjadi film sci-fi yang enggak bagus; kita kembali ke masalah basic dengan melupakan perubahan gede yang dilakukan oleh universe ceritanya.

from hero to zero cm

 

Film terlihat bersusah payah mengakomodasi cerita dan pesan sosial yang berusaha ia sampaikan. Kalolah boleh menunjuk, sekiranya kelemahan itu ada pada tokoh utamanya. Aku belum pernah melihat Matt Damon sedatar dan seboring ini dalam film komedi. Dia benar-benar menghidupkan tokohnya – dia melakukan apa yang disuruh oleh narasi. Dia mematuhi saja, sama seperti yang dilakukan oleh Paul. Tokoh Paul memang diniatkan terdiskonek dari kehidupan sekitarnya, karena dia begitu terpukul secara mental, namun cerita menuliskan seolah pilihan orang ini adalah siapa yang paling baik untuk dia ikuti.

Tokoh-tokoh di sekitar Paul tak pelak punya karakter yang lebih menarik. Tetangga Paul, seorang yang kebanyakan berpesta tapi bukan orang yang brengsek, misalnya. Dia mengajak Paul menikmati hidup, dialah yang pertama kali diikuti oleh Paul. Kemudian ada wanita dari Vietnam yang beberapa tahun lalu ngetop karena kabur dari penjara dengan bersembunyi dalam kotak TV. Paul bertemu dengan tokoh yang instantly mencuri perhatian ini, dan kita lihat gimana ‘kelemahan’ Paul – dia kinda stuck dengan si wanita. Kemudian Paul diberikan pilihan untuk mengikuti penemu teknologi mengecil itu sendiri ke dunia utopia. Mau tahu bagaimana cerita membuat Paul memutuskan pilihan final ini? Dengan seolah Paul malas berjalan kaki sebelas jam ke Utopia. Jadi, dia balik dan membuat keputusan yang benar. Film ini mengontraskan Paul yang ingin hidup nyaman dengan orang-orang yang actually berjuang untuk hidup, akan tetapi ada begitu banyak hal menarik lain sehingga membuat kita enggak pernah benar-benar peduli sama Paul. Bahkan aku lebih peduli sama istrinya; aku berharap bakal melihat Kristen Wiig lagi, tapi tokoh ini dimunculin lagi hingga akhir hayat film.

Metafora lingkungan pada film ini menyampaikan dengan subtil satu pandangan yang teruji; bahwa manusia adalah makhluk yang boros dan rakus. Ketika sumber daya menipis, solusi yang tampak lebih menarik buat kita adalah dengan menjadi mengecil yang berarti kebutuhan kita ikut mengerucut sehingga kita bisa menikmati sumber daya lebih lama. Ini bukanlah soal penghematan, melainkan hanya sebuah langkah untuk terus memperpanjang kesempatan. Rakus sebenarnya rakus adalah ketika kita mengambil lebih banyak dari yang kita beri.

 

 

 

Ada banyak alasan untuk menyukai film ini. Actually aku berusaha banget untuk suka. Dialog yang diucapkan tokohnya penuh oleh kesadaran. Humornya cerdas, satirnya bikin kita miris. Dunia film ini dibangun dengan kreatif, sense bertualang ke tempat yang baru juga turut hadir. Namun film ini menjauhi apa yang membuatnya begitu unik dan cerdas. Dari apa yang tadinya adalah mengubah dunia, berubah menjadi transformasi hidup seorang manusia yang tidak benar-benar menarik. Ini seperti kita melihat pusaran yang dinamik, kemudian dipaksa untuk melihat sesuatu yang berdiri diam di antara dinamika tersebut. Film ini salah memilih fokus. Dari sekian banyak hal menarik di sana, dunia yang penuh dengan tokoh-tokoh yang intriguing – dengan penampilan singkat dari banyak aktor pendukung yang juga lebih menarik – film ini malah menjadi cerita tentang reaksi manusia mencari apa yang terpenting dalam hidupnya yang hampa.
The Palace of Wisdom gives 4 gold stars out of 10 for DOWNSIZING.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got the PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017