Tags

, , , , , , , , , , ,

“Trauma creates change you don’t choose.”

 

 

Tau gak kenapa acara Oprah itu terkenal banget, banyak orang-orang yang nonton padahal cerita yang dihadirkan oleh para narasumber di acara tersebut bukan cerita komedi, justru kisah yang menguras air mata? Karena sebagai manusia, kita suka mendengar cerita sedih nan pilu. Acara talkshow di tv lokal pun banyak yang kayak gitu, kita menonton orang menceritakan kembali trauma hidupnya, kita mendengar musik lembut di background, dan seketika kita menjadi terinspirasi. Menjadi semangat menjalani hidup dan segala ujiannya. Tapi pernahkah terpikir bahwa, untuk bisa duduk di sana, para narasumber sudah melewati suatu kerja keras yang sama sekali enggak inspiratif buat mereka sendiri. Narasumber itu adalah jiwa-jiwa yang berjuang dan menang mengalahkan trauma. Pelajarannya bukan terletak di trauma apa, kejadian besar apa yang berhasil mereka survive darinya. Kita harusnya melihat lebih jauh dari “Tuh, orang cacat aja giat bekerja”. Melainkan adalah bagaimana mereka berjuang untuk menjalin hubungan dengan orang-orang terdekat yang turut terguncang oleh peristiwa yang menimpa; bagaimana mereka berjuang untuk dapat hidup normal.

Jeff Bauman tidak mengerti di mana letak keren yang disebut oleh ibunya ketika dia mencoba berdiri dengan bantuan dua kaki mekanik. Lantaran dia sama sekali tidak merasa keren. Yang ada, dia malah kesakitan dan kelelahan. Jeff adalah korban peristiwa pengeboman acara marathon di Boston tahun 2013 lalu. Cowok dua-puluh-delapan tahun itu selamat, meski kedua kakinya harus diamputasi. Film ini memang diangkat dari kisah nyata Jeff yang hidupnya berubah setelah peristiwa tragis tersebut. Dia harus belajar menyesuaikan diri, begitu juga dengan manusia di sekitarnya; keluarga, teman, pacar, karena sekarang public menganggap Jeff sebagai pahlawan. Orang-orang akan datang sekadar berjabat tangan, atau meminta foto bareng, bahkan ada polisi yang urung menilang dirinya karena “hey, kau si Jeff Bauman yang itu rupanya!”. Dan perlakuan ini membuat Jeff gak nyaman. Yang dia lakukan hanya berdiri di sana, di tempat dan waktu yang salah sehingga kakinya buntung, dan mendadak orang-orang jadi mengelu-elukan dirinya. Jeff bingung, kenapa semua orang ‘mengasihani’ dirinya seperti begini? Apa sih makna “Boston Strong” yang dicamkan orang kepada dirinya?

cue lagu You Raise Me Up

 

Trauma enggak inspirational buat mereka yang mengalaminya. Malah lebih sebagai kerja keras yang memakan harapan sedikit demi sedikit, jika dihadapi sendiri. Perjuangan pasca trauma sangat bergantung kepada hubungan dengan kerabat dan orang tercinta di sekitar. Oleh karena itu, maka sesungguhnya ini adalah proses yang relasional. Kita harus belajar untuk saling berbagi. Dengar cerita inspirasional kehidupan orang lain, thank them as they say thanks to you. Jeff menemukan dirinya menjadi lebih kuat dari saling sharing. Kita tidak bisa berdiri dengan hanya satu atau tanpa kaki, toh.

 

Aku benar-benar gak nyangka aku tersentuh juga oleh aspek emosional film ini. Ceritanya sangat gut-wrenching. Sutradara David Gordon Green paham bahwa drama inspirasional bukan semata soal rintangan’luar’ yang harus dihadapi oleh tokohnya. Film ini juga membahas perjuangan internal yang membuat karakternya benar-benar bersinar. Oleh Green, bagaimana pun juga, kedua aspek ini berusaha ditangani dengan seimbang. Kekuatan arahannya terletak pada perspektif. Film ini membuat semua emosi sungguh-sungguh on point.

Ada banyak shot dan adegan yang membuat hatiku berasa ditarik-tarik. Kala pertama kali perban di kaki Jeff diganti oleh dokter misalnya, kita melihat gambar blur kedua paha Jeff di tengah layar, dibingkai oleh wajah Jeff dan wajah pacarnya – kita melihat seperti itu karena Jeff tidak berani melihat kakinya, dia lebih memilih untuk menatap mata si pacar. Atau juga pergerakan kamera yang berputar-putar mewakili perasaan Jeff di lokasi pengeboman beberapa menit setelah ledakan. Ekspresi para pemain tentu saja juga berperan besar. Di adegan Jeff disuruh jadi pembawa bendera di pertandingan football, kita bisa merasakan langsung kebingungan dan juga kemarahan perlahan merayap di wajah Jeff, buatku, ini adalah salah satu adegan yang paling gak-nyaman untuk dilihat sepanjang durasi. Dia gak tahan melihat orang-orang menatapnya seperti itu.

Saking mulusnya arahan, beberapa adegan film ini tampak kayak disyut secara spontan. Bergulir terjadi begitu saja. Bahkan para pemain ekstra pun, orang-orang yang minta foto sama Jeff, dokter dan para perawat rumah sakit, gak kelihatan kayak aktor yang dibayar. Reaksi mereka totally kayak regular people. Keluarga Jeff udah kayak interaksi sekumpulan orang-orang yang gede bareng, yang udah paham baik-buruk masing-masing. Alhasil, kita mantenginnya udah kayak  nontonin momen emosional beneran. Namun tentu saja, ujung tombak keberhasilan film ini adalah Jake Gyllenhaal yang bermain sebagai Jeff dan pacarnya, Erin, yang dimainkan dengan sama fantastisnya oleh Tatiana Maslany. Penampilan Jake di sini begitu luar biasa, dia terasa sangat nyata, orang ini enggak terasa kayak lagi berakting sebagai orang lain. Sosok Jeff benar-benar udah kayak mendarah daging pada dirinya. Setiap emosi yang dicurahkan, meski memang didesain untuk bikin sedih, tapi enggak lantas tampil over oleh Gyllenhaal.

Hubungan Jeff dengan Erin actually adalah salah satu aspek yang paling menyentuh yag dieksplorasi oleh cerita. Aku suka gimana kita bisa melihat dari dua sudut pandang sehingga bisa betul-betul paham internal drama mereka berdua. Sebelum tragedi bom tersebut, Jeff dan Erin sudah lama putus-nyambung. Jeff tidak pernah ada di sana setiap Erin butuhkan. Erin kesel ama sikap Jeff yang kayak anak-anak, dia curhat ke temennya bahwa mereka pacaran di rumah Jeff melulu. Ledakan bom sekalinya Jeff menepati omongannya untuk menunggu di garis finish, tak pelak menyatukan kedua manusia ini kembali. Bayangkan ada seseorang yang terluka hingga nyaris meninggal dalam usahanya membuktikan cinta kepadamu. Itulah yang dirasakan oleh Erin. Dia begitu concern sama Jeff, sehingga dia tidak lagi mempedulikan kans mereka pacaran di luar semakin kecil dengan kondisi Jeff yang sekarang. Hidup menjadi susah bagi Jeff, dia butuh banyak bantuan, dan setelah ‘asap bom’ tragedi itu menipis, mereka berdua kembali ribut. It’s just so powerful melihat kedua orang ini berusaha rekonek di tengah-tengah tragedi yang mengerikan.

kata orang sih, pertengkaran itu bumbu-bumbu cinta

 

Trauma membuat perubahan di dalam hidup yang tidak bisa kita pilih. Tetapi kita bisa memilih perubahan apa yang bakal kita lakukan sehubungan dengan langkah yang diambil untuk menyembuhkan trauma tersebut.

 

Selalu rada susah untuk mengulas film yang berdasarkan kepada kejadian dunia nyata, karena film-film seperti ini biasanya tidak completely ngikutin struktur naratif film sebagaimana mestinya. Mereka ingin menunjukkan peristiwa, dari awal hingga aftermathnya, dan cerita akan mengalir di luar aturan sekuens-sekuens film. Susah untuk enggak kedengaran terlalu kritikal soal ini, namun penuturan Stronger memang bisa terlihat sedikit berantakan. Kita sekonyong-konyong dapat adegan dia berenang, montage dia latihan menguatkan paha, dan sebagainya, yang gak really bermain dengan baik dengan format narasi tradisional.

 

 

Mengambil sudut pandang yang serius tentang trauma yang dialami seseorang dapat bertindak sebagai simbol harapan bagi orang lain. Ini adalah film inspirasional hebat yang menguar oleh emosi. Dan memang ada beberapa klise drama yang tak dihindari, penceritaan yang sedikit berantakan, namun penampilan akting yang fantastis dan arahan yang luar biasa membuat film ini benar-benar seperti kita melihat sekuens kehidupan nyata.
The Palace of Wisdom gives 7.5 gold stars out of 10 for STRONGER.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

Advertisements