Tags

, , , , , , , , , , , ,

“Do I not destroy my enemies when I make them my friends?”

 

 

Hidup Rafa tampaknya sudah hendak berbuah manis. Perusahaannya menang tender. Istrinya, Farah, yang cantik parah, akhirnya hamil. Saking girangnya, pasangan suami istri ini memutuskan untuk pindah rumah. Di rumah baru nan gede itulah, keluarga Rafa mendapat gangguan. Didatengi mimpi-mimpi buruk. Disatroni nenek-nenek serem. Bayi mereka pun akhirnya lahir di bawah kondisi semencekam itu. Namun Rafa dan Farah sepertinya tidak akan pernah mengetahui apakah Rangga kecil mereka akan tumbuh gede dan bertemu dengan Cinta. Lantaran bayi imut tersebut kadang justru tampak amit-amit. Rafa bingung, kejadian-kejadian aneh itu entah bersumber dari bayinya yang bayi setankah, atau rumahnya yang angkerkah, atau malah berasal dari masa lalu dirinya sendiri.

Tadinya, aku takut film ini akan menyontek Rosemary’s Baby (1968). I mean, lihat aja poster filmnya. Mirip. Tapi tentu saja kita tidak bisa menilai kualitas film dari posternya. Ataupun dari judulnya yang sempet gonta ganti, dan akhirnya ditumplek semua menjadi satu kalimat yang panjang. Jadi, aku lantas menonton. Dan di tengah-tengah film, aku justru berharap film ini mirip sama horor klasik karya Roman Polanski tersebut. Karena aku yakin film yang total rip-offan niscaya bakal lebih menarik dari apa yang actually kita saksikan selama 90 menitan.

Kita dilempar-lempar dari Ashraf Sinclair yang pengen hidup move on dari masa lalu namun gak percaya santet lantaran orang jaman dulu enggak melawan penjajah pake ilmu hitam ke Rianti Cartwright yang insecure dengan keselamatan bayinya. Dan kemudian mereka bertengkar, sebab di tahun 2018 ini penulis naskah masih nekat memakai trope horor “Si A ngelihat hantu namun orang terdekat tempat ia mengadu, tidak percaya”. Lalu Rianti bertingkah kayak orang kesurupan. Susah sekali untuk kita berpegang kepada cerita yang enggak punya sudut pandang yang terarah seperti begini. Menonton ini terasa seperti kita adalah sebuah batu yang dilempar meloncat-loncat di permukaan air. Kita hanya menyentuh permukaan setiap plot poin. Film ini tidak punya kedalaman pada ceritanya. Setiap kali kita beranjak dari plot poin satu ke plot poin berikutnya, kita tidak merasakan flow yang natural terhadap perkembangan para karakter. Membuat kita susah untuk peduli kepada yang mana, apalagi buat kepada mereka berdua.

peduli sama duit di dompet mestinya adalah pilihan yang bijak

 

Bukannya film ini tidak mampu memberikan karakter kepada tokoh-tokohnya. Hanya saja, penulisan itu dengan segera terlupakan begitu film memutuskan untuk mengganti sudut pandang dengan sering.  Di awal-awal cerita kita melihat Rafa ketakutan melihat kebiasaan Farah yang lagi ngidam. Aspek ini menurutku cukup menarik, aku pikir film akan mengambil sudut cerita tentang seorang calon ayah yang menghadapi ketakutannya terhadap proses kehamilan, yang seketika membuatku teringat sama satu-satunya film yang enggak berani aku tonton ulang; Eraserhead (1977) buatan Dayid Lynch. Sekali lagi, aku merasa aku akan berujung enggak keberatan kalolah Bayi Gaib meniru film itu lantaran akan menarik sekali melihat ketakutan psikologis itu ditranslasikan ke dalam budaya lokal. Namun kemudian film menggugurkan sudut pandang Rafa itu. Kita pindah ke Farah yang diganggu oleh penampakan dan janin yang bertingkah aneh-aneh menyeramkan. Pertanyaan mengenai apakah itu semua ada dalam kepala Farah atau enggak kembali diangkat, untuk kemudian dinegasi lagi oleh rentetan jumpscare dan musik ngagetin. Nyaris semua tokoh minor dalam cerita ini pun ikut-ikutan melihat setan. Bahkan sedari sepuluh menit pertama saja sebenarnya film sudah melandaskan dengan kuat bahwasanya kejadian miring pada film ini memang bekerja dalam kotak hal-hal mistis. Jadi, wajar jika kita enggak konek dan sulit peduli terhadap  konflik yang berusaha dipancing – dan ditinggalkan begitu saja – oleh film terhadap dua tokoh pusatnya.

Berdamai selalu lebih baik daripada bermusuhan. Namun, berdamai dengan musuh bisa diputar balik sebagai cara untuk menjatuhkan musuh dalam cara yang tak ia duga. Kita dapat menghancurkan musuh dengan menjadikannya sebagai teman. But ultimately, pilihan terbesar kita adalah memaafkan atau tidak. Sebab bagaimana mungkin kita masih menganggap seseorang sebagai musuh jika dia sudah berubah menjadi begitu perhatian kepada kita.

 

Apa yang digugurkan oleh film ini sebenarnya adalah aspek psikologis. Padahal justru aspek inilah yang membuat film horor bisa mencapai puncak kengerian maksimal. Kita perlu untuk merasakan ketakutan, lebih daripada untuk melihat penampakan buruk rupa. Film tidak memberi kita kesempatan untuk merasakan takut yang dialami oleh para tokoh. Ketika Farah ingin menusuk bayi seram di dalam kereta dorong itu dengan pisau, padahal itu adalah bayinya sendiri – perfectly human, kita tidak merasakan tegang. Film gagal membuat kita berteriak “jangan itu anakmu!!!”, malahan film gagal untuk memancing reaksi apapun karena efek psikologis itu tidak dibangun, dan itu disebabkan oleh film tidak pernah merasa benar-benar perlu untuk membangun psikologis.

Yang bisa saja berarti film ini tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan

 

Film horor tidak bisa bekerja dengan baik jika hanya mengandalkan kepada hantu seram dan twist saja. Bayi Gaib adalah satu lagi film horor yang gagal karena hanya mementingkan twist. Film ini tidak membangun apapun, melainkan hanya membendung ‘kejutan’ untuk twist di babak akhir cerita. Mereka cermat sekali di aspek ini. Memang sih, buat penonton yang jam terbang nontonnya udah gede, twist film ini dapat dengan gampang tertebak, but at least, Bayi Gaib benar-benar mematangkan kejutan yang ia punya sebagai satu-satunya resolusi yang mungkin dari cerita. The problem is, twist itu membuat motivasi salah satu tokoh, membuat semua effort yang ia lakukan menjadi percuma. Dalam sekuen pengungkapan, ‘dalang’ di balik semua keganjilan pada keluarga Rafa menampakkan diri, practically mengakui semua perbuatannya. Sebuah tindakan yang tentu saja mendapat sambutan berupa lemparan popcorn dan pertanyaan kenapa. Maksudku, kalo memang end goalnya adalah membunuh seluruh keluarga Rafa dengan santet, kenapa saat hampir berhasil dia malah buka rahasia? Kenapa malah nyamperin Farah, bukannya Rafa?

Timeline waktu nyantet dan perihal bayinya juga seketika menjadi gak make sense. Jika santet itu butuh ari-ari bayi, kenapa Farah  sudah diganggu hantu sejak si bayi masih di kandungan? Menjelang akhir babak pertama ada adegan Rafa mimpi, yang ditanggepi oleh Farah yang kesurupan sebagai pertanda ada orang terdekat Rafa yang meninggal. Film tidak pernah memperjelas puncak dan tujuan adegan ini, kita hanya bisa menebak apakah yang mati adalah si bayi, dan yang lahir memang bayi setan. Kalo benar begitu, berarti masalah Rafa dan Farah belum selesai sebab mereka tidak mengetahui bayi yang mereka lindungi sudah bukan manusia.

 

 

 

To sum it up, we could say that this movie is a total waste of time. Hantunya enggak seram karena film tidak pernah membuild up keseraman. Dia hanya memperlihatkan rangkaian adegan-adegan berbalut trope horor dengan harapan kita-kita menikmati dikagetin sebagai pengalaman menonton. Bikin film itu sepertinya sama dengan bikin anak; prosesnya menyenangkan, namun juga harus bertanggungjawab. Produk yang dihasilkan haruslah dinurture dengan cermat. Karenanya, orang-orang di belakang film ini adalah ‘orangtua’ yang buruk; anak mereka – film ini – tidak mereka besarkan dengan benar.
The Palace of Wisdom gives 1 out of 10 gold stars for BAY GAIB: BAYI TUMBAL BAYI MATI

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

 

We?
We got the PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

Advertisements