Tags

, , , , , , , , , ,

“..the decision to be patient and willing to wait is an act of courage and perseverance.”

 

 

Cobaan paling berat di dunia itu salah satunya adalah menunggu. Beberapa orang menjadi tidak sabaran lantaran menunggu itu berarti kita menunda melakukan sesuatu, menahan diri dari mendapatkan sesuatu. Makanya, menunggu itu bisa kita jadikan sebagai kadar kedewasaan seseorang. Semakin dewasa orang, maka semakin sabarlah dia. Buktinya lihat aja pas bulan puasa, yang batal duluan biasanya pasti anak-anak kecil, yang sanggup menahan diri biasanya punya nalar dan mental yang matang. Namun meskipun begitu, enggak selamanya anak kecil kalah ‘sabar’ sama orang dewasa. Kadang ada juga orang dewasa yang bertingkah seperti anak kecil.

Menunggu itu adalah aksi yang paling membosankan, sebab menunggu adalah aksi yang tertunda.  Maka dari itu, orang yang mengambil keputusan untuk menunggu adalah bukan saja orang yang amat tekun, namun juga salah satu orang yang paling berani di dunia.

 

Kayak si Tita. Di ulangtahun kedua tujuhnya, dia masih belum boleh megang hape sendiri, masih dilarang keluar malem sendirian oleh ibunya. Lantaran Tita ini masih kolokan, manja banget. Sebenarnya ini kayak kasus ayam atau telur sih, gak jelas juga apakah karena selalu diprotek berlebihan maka mental Tita masih kayak remaja bau kencur, atau apakah sudah dari sononya ia begitu sehingga perlu pengawasan ekstra. Yang jelas, di usia segitu Tita masih belum menikah. Dia masih betah LDRan sama Adit, cowoknya yang tinggal di Paris. Padahal menurut Tita, menikah bisa menjadi solusi dari semua masalah hidupnya – dia bisa bebas dari aturan ibu, dia bisa merdeka dari pertanyaan ‘kapan nikah?’ dari temen-temennya. Maka, Tita pun bersabar menunggu lamaran Adit. Di sinilah kedewasaan, bukan hanya Tita melainkan juga kedewasaan relationship mereka ditempa, karena Tita dan Adit yang sudah bersifat berlawanan dari film pertama, menjadi semakin sering bertengkar hingga ke titik Tita mulai kehilangan kepercayaan terhadap Adit.

Lama tinggal di Paris, tapi Adit masih canggung nyetir di kiri

 

Aku hampir yakin kalo aku masuk golongan minoritas di sini, karena aku sama sekali enggak tahu sama Eiffel, I’m in Love. Aku gak baca bukunya, aku gak nonton film pertamanya, aku sempet bingung karena yang aku pernah nonton cuma Lost in Love (2008) yang ternyata enggak dianggep sebagai universe franchise film ini. Jadi aku enggak tahu Eiffel, I’m in Love 2 ini mengincar apa.  Film ini akan terpuruk sangat jika kita melihatnya sebagai drama romansa. Akan tetapi, BERTINDAK SEBAGAI KOMEDI ROMANTIS, film ini menunaikan tugasnya dengan efektif. Aku sendiri juga kaget, aku menikmati hubungan para tokoh film ini.

Bantering antara Tita dan Adit dijadikan senjata utama yang bakal bikin kita tertarik untuk menonton. Kedua tokoh sentral dibangun dengan formula komedi, di mana yang satu adalah total opposite dari yang lain. Dan mereka terflesh out dengan efektif. Ada begitu banyak momen-momen lucu yang hadir dari interaksi Tita dan Adit. Shandy Aulia dan Samuel Rizal sudah punya chemistry yang menawan dan mereka tampak begitu effortless menghidupkan tokoh-tokoh. Effortless dalam artian yang positif karena keduanya tampak berinteraksi dengan natural. Berantem mereka, delivery dialog ngotot-ngototannya, terasa pas dan sungguh-sungguh relatable. Film ini berangkat dari sudut pandang seorang wanita yang berada dalam situasi berpacaran terlalu lama, dengan potensi menikah yang tak kunjung cerah. Ditambah lagi dengan masalah-masalah yang tentunya hadir jika seseorang terlibat dalam hubungan asmara jarak jauh. Film memfokuskan kepada hal tersebut, berkelit dari kait-kait drama, dan mengeksplorasi ‘berantem itu kekanakan atau romantis’ menjadi sebuah cermin yang menyegarkan bagi penonton. Seperti pada adegan ketika Adit mengajang Tita pulang naik mobil, tapi Tita ‘sok’ ngambek, dia enggak mau naik. “Tinggal nih!?” ketus Adit. Yang dijawab tak kalah ketusnya “Tinggal aja!” oleh Tita. Adit pun pergi. Dan kita lihat Tita ngomel-ngomel manja “Adit jahat, ninggalin Tita sendiriiii”

Tapi memang, film ini punya set up tokoh yang aneh, and not necessarily in a good way. Tita yang udah nyaris berkepala tiga, namun seringkali bersikap lebih manja dari remaja tentu bisa jadi turn off buat banyak penonton. Aku sendiri tadinya juga udah pasang kuda-kuda, karena tokoh kayak gini biasanya bakal annoying banget. Awkward pasti demi ngelihat orang bertingkah di bawah umurnya. Motivasi Tita adalah dia ingin dilamar supaya bisa bebas, hanya itu. Film tidak berusaha menjadi lebih besar dari ini. Tidak berniat untuk menyampaikan cerita yang lebih dalem. Namun paling enggak, film ini konsisten dalam membangun penceritaan dengan perspektif tokoh utamanya. Paris adalah kota yang romantis, mungkin paradigm itu tergolong kuno di jaman now, namun dalam kacamata Tita, langit malam Paris, di atas sungai Seine, berhias gemerlap kembang api, tetaplah skenario percintaan yang paling maksimal. Film negbuild up momen-momen keinginan Tita terwujud dalam cara yang menarik karena nun jauh di dalam hati, kita pengen lihat benturan apa lagi yang dihasilkan dari perbedaan mindset antara Tita dan Adit.

Jika ini adalah film drama, maka tentu dalam perkembangannya kita akan melihat Tita akan belajar untuk melawan aturan ibunya, dia akan mencoba untuk menjadi mandiri. Dan nampaknya memang akan bisa menjadi produk cerita yang lebih baik dari ini. Tetapi dari penulisan plot yang mereka pilih, film ini punya vibe komedi yang gede, jadi alih-alih itu, Tita akan belajar untuk mulai meragukan Adit. Oleh naskah, Tita tetap menjalankan fungsinya sebagai tokoh utama, dia melakukan pilihan-pilihan. Hanya saja memang pilihan-pilihan tersebut tidak benar-benar berbobot. Untuk menemukan jawaban atas apa yang sebenarnya ia butuhkan, naskah memperlakukan Tita seperti ikan di luar air; Tita mencoba melakukannya dengan benar-benar gak tau apa yang terjadi di sekitar, sementara dirinya sendiri struggle untuk memegang teguh apa yang ia percaya. Pandangan anak manja dan romantisme tetap dipegang dengan konsisten, sementara pemahaman Tita menjadi ‘dewasa’ mengunderlying komedi dan berjalan seiring sebagai lapisan kedua cerita.

“Kalo tut, berarti gue kentut dong!”

 

Tapinya lagi, tentu saja film ini juga tidak luput dari kesalahan. Tetap banyak trope dan pilihan-pilihan gampang demi merebut hati target pasar. Yang ultimately menjadikan film ini enggak berhasil menjadi lebih baik dari yang semestinya bisa ia capai. Lagu soundtracknya yang kerap diulang membuatku terlepas dari emosi yang tak lagi terasa genuine. Banyak juga aspek cerita yang tak bangun-bangun, eh tuhkan jadi kebawa lagunya, maksudku banyak aspek cerita yang tak terbangun dengan baik. Hanya sekedar menjadi device saja. Seperti tokoh sahabat cowok Tita; Adam literally a tool dalam cerita. Maksudnya, dia hanya ada di sana untuk memudahkan jalan cerita maju, tanpa benar-benar punya kepentingan dari segi karakter dan bobot emosi cerita. Adam, dan juga tokoh-tokoh sampingan lain, tidak terflesh out dengan baik sebab film tidak peduli menceritakan mereka. Mereka hanya ada di sana saat cerita membutuhkan. Contohnya di awal-awal saat adegan drive-through McDonald. Adam tiba-tiba ada di sana, dengan pesenan yang sama dengan Tita, dan itu adalah salah satu adegan pengenalan tokoh paling males yang pernah dilakukan dalam film, bahkan dalam film cinta-cintaan Indonesia.

Alasan mereka sekeluarga pindah ke Paris juga tidak dimekarkan menjadi apa-apa. Keluarga Tita seharusnya membuka rumah makan, tapi kita hanya mendapat satu adegan mereka berbenah di rumah makan tersebut. Film melewatkan kesempatan mengeksplorasi banyak karakter  dari sini, sehingga aku paham mengapa banyak orang yang mempertanyakan kenapa satu keluarga mesti pindah. Karena nyata-nyatanya kehadiran mereka juga tidak benar-benar berbuah dalam membangun cerita yang lebih baik. Ketika Tita dan Adit tampak begitu mengalir bersahut-sahutan, Tita dengan anggota keluarga yang lain, bahkan dengan Uni, tidak terasa sama naturalnya. Dialog-dialog tidak terasa mengalir dengan mulus, karena kita masih bertanya kenapa ada orangtua yang memperlakukan anaknya seperti anak kecil. Menurutku, cerita butuh memperlihatkan sudut pandang dari orangtua atau keluarga Tita sehingga masalah manja dan perlakukan sedikit mengekang itu bisa terbahas.

 

 

Udah ngarep, apalagi pake nunggu lama banget, tapi yang ditunggu enggak kejadian, memang sebuah hal yang berat. Untungnya, bagi para fans film yang pertama, film ini adalah sesuatu yang sudah ditunggu selama lima belas tahun, dan berbuah kejadian-kejadian yang menyenangkan untuk ditonton. Film menggali komedi dari bentrokan keinginan dua karakter sentral yang mengekspresikannya dengan cara yang kekanakan. Tapi dewasa itu adalah penantian. Film menyediakan cukup komedi sehingga menjadi menarik, namun dia tidak menyediakan gizi lebih banyak dari itu.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for EIFFEL I’M IN LOVE 2

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got the PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

   

Advertisements