Tags

, , , , , , , , , , ,

“You can’t hide the stench forever”

 

 

Kemampuan melihat makhluk halus mulai mendatangkan dampak buruk bagi kehidupan sosial Risa Saraswati (reprising her role, Prilly Latuconsina siap melakukan tantangan yang diberikan kepada perannya). Kebiasaannya ngobrol, hingga tak jarang histeris ketakutan sendiri di tempat umum, membuat adik kecilnya malu. Inilah yang membuat karakter Risa menarik. Di luar penglihatannya yang tak biasa, terutama sekali Risa adalah seorang kakak. Bagi adiknya, Riri. Bagi hantu anak-anak kecil yang jadi temannya. Risa harus figure out bagaimana menjadi sosok kakak sekaligus teman yang baik terhadap mereka, di saat yang bersamaan. Masalah Risa ditambah pelik oleh panggilan minta tolong dari keluarga tantenya yang baru pindah ke Bandung. Semenjak tinggal di sana, Paman Risa jadi bersikap aneh. Suka mengurung diri di pavilion. Suka nanemin kembang di depan pintu. Dugaannya tentu saja; Paman sedang selingkuh. Pertanyaan yang bikin merinding adalah; Sama makhluk mana? Sebab, di rumah mereka Risa menyium bau yang sudah familiar buatnya. Bau Danur.

Setan pelakor gak usah diajak main yeee~

 

Seharusnya seperti demikianlah cerita film sekuel Danur: I can See Ghosts (2017) ini. Narasi diniatkan untuk membahas tentang bagaimana kehidupan Risa setelah di film yang pertama dia menerima persahabatan dari hantu cilik. Gimana dampak kemampuan Risa terhadap orang di sekitarnya, Risa sekarang punya dua kehidupan sosial yang berbeda pada dua dunia, dan tentu saja soal ketakutan yang masih merayapinya.  Aku bisa melihat secercah dari plot yang mengeksplorasi Risa yang ingin  hidup normal, dia berusaha untuk mengabaikan kemampuannya, dia tidak ingin membuat malu sang adik, dan bagaimana film ingin memparalelkan sikap Risa terhadap kekuatannya kepada sikap Pamannya yang merahasiakan sesuatu. Sayangnya, elemen-elemen cerita ini tidak pernah terwujud dalam cara yang semestinya. Film malah berkembang menjadi horor generik, yang hanya berupa wahana jumpscare, dengan mengabaikan plot tersebut nyaris secara keseluruhan. Motivasi Risa hanya disebut dalam satu adegan, perkembangan karakter Risa juga hanya diperlihatkan dalam satu adegan, relationshipnya dengan Riri ataupun dengan Peter dan kawan-kawan tidak pernah diangkat dengan dalem. Danur 2: Maddah begitu ingin memperlihatkan hantu kepada kita, sehingga mereka membuat tokoh-tokoh manusianya tersuruk jauh di belakang. Kalo ada yang gaib dan tak-kelihatan dalam film ini, maka itu adalah karakterisasi tokoh-tokohnya.

Salah satu yang menjadi tantangan buat pembuat film ini, yang sudah ada sedari film pertama, adalah bagaimana mendeskripsikan danur (bau mayat) dalam bahasa sinematik. Dan sekali lagi, film ini juga gagal. Kesan apa itu Maddah, apa itu Danur, tidak pernah terasa kuat, selain hanya dialog eksposisi yang tak benar-benar meninggalkan kesan. Padahal film harusnya berpusat di sekitar sini. Bau sejatinya adalah aspek yang menjadi fokus pada cerita. Bukan hanya Risa harus mengenali bau ‘musuh baru’. Tapi ini juga tentang metafora dari sebuah hal yang disimpan lama-lama tetap akan tercium baunya.

 

Adegan pembuka yang adik Risa terbangun di pohon gede dari film pertama itu sebenarnya cukup serem. Actually ini adalah salah satu dari sedikit adegan menakutkan di film ini yang punya build up sebelum setannya muncul. Tapi ternyata adegan tersebut hanyalah adegan mimpi. Inilah kenapa kita tidak bisa punya film horor lokal yang bener-bener bagus. Mereka terbebani oleh arahan-arahan dan keputusan cerita yang bego seperti begini. Contohnya lagi, sekuen keluarga tante Risa menempati rumah baru mereka. Bagian ini sebenarnya ditangani dengan menarik, pakai long shot sehingga kesannya aktivitas yang sedang kita saksikan begitu hidup. Untuk berakhir mendadak dengan adegan standar film Indonesia; ngobrol di meja makan. Yang diobrolin pun enggak jelas faedahnya ke mana, disebut karakter development juga susah karena gak benar-benar memperlihatkan karakter.  Mau tahu kualitas penulisan dialog film ini seperti gimana?  Ada satu adegan Riri dan Tante yang dimainkan oleh Sophia Latjuba (praktisnya, mbak Sophia gak ngapa-ngapain di sini) lagi ngobrol berdua. Dalam penulisan film, inilah waktu yang tepat untuk mengembangkan karakter; dengan memberikan mereka dialog yang merepresentasikan karakter mereka, yang membahas hubungan mereka. Hanya saja, Riri dan Tante malah ngobrolin adegan yang persis sebelum ini kita saksikan, mereka hanya menceritakannya kembali – versi audio dari yang sudah kita saksikan. Dialog macam apa kayak gitu! Enggak menambah apa-apa buat karakter. Enggak menambah apa-apa buat majunya cerita.

Awi Suryadi adalah sutradara yang punya keistimewaan pada kerja kamera. Beberapa shot pada film ini diambil dengan sudut yang intriguing. Dia akan memiringkan kamera ketika tokoh beranjak mengecek bunyi-bunyian misterius yang efektif menambah kesan bingung dan mengerikan. Dia punya trik untuk menampilkan hantu di layar dengan sangat mengerikan, yang aku yakin bahwa film ini sebenarnya enggak butuh musik yang keras. Sayangnya banyak dari arahan Awi yang membuat kita mempertanyakan kepentingannya. Dalam bercerita, Awi masih setia menggunakan formula yang sudah diulang-ulangnya sejak Badoet (2015). Kita masih mendapati tokoh yang ‘kesurupan’, Paman Risa sedari awal sudah ‘dikendalikan’. Hantunya masih pakai musik khas. Terus ada pengungkapan jati diri hantu, yang sebelumnya tidak pernah ada build-upnya. Untuk kemudian penyelesaian datang dengan cara menghancurkan satu objek, tanpa benar-benar ada rintangan. Susunan formula tersebut dalam film ini boleh saja diganti, namun tetap saja aspek-aspek ini masih sama persis dengan Badoet dan film Danur yang pertama. Formula ini dikembangkan dengan begitu basic, stake dan rintangan tidak pernah terasa ada di sana

hantunya suka nyanyian dan musik, alam kubur tampaknya ceria juga deh..

 

Mereka menampilkan hantu di mana saja mereka bisa, menemani hantu itu dengan musik yang keras, dan berharap penonton ketakutan. Atau mungkin sekalian mereka berharap penonton jantungan sehingga mati di tempat dan gak bisa minta refund atas film yang dikerjakan dengan seadanya. Dan kalo hantunya belum selesai dimake-up, tokoh-tokoh film akan senang hati mengambil alih tugas mengagetkan penonton.  Fake jumpscare dan jumpscare dijadikan andalan oleh film ini. Di tengah-tengah kita malah akan disuguhi dua adegan ngagetin, yang sekali lagi, ternyata cuma mimpi. Kesel gak sih, kaget kita rasanya sia-sia gitu loh, jika yang ngagetin itu ternyata mimpi alias adegan yang tidak benar-benar terjadi. Tentu, mereka punya sosok hantu yang sangat seram. Ada dua hantu, actually. Yang satu namanya Ivanna – ini nih yang serem! Tinggi-tinggi gimana gitu, lehernya kayak panjang banget. Sedangkan yang satu lagi, si Elizabeth, mmm.. to bo honest, aku bisa lihat kenapa Paman Risa naksir sama hantu Belanda ini. Aneh gak sih, aku juga nganggap Elizabeth hantu yang cantik, meskipun di saat itu aku belum lihat seperti apa rupanya sewaktu masih hidup hhihi. Yaa, waktu pertama kali nongol gelayutan, Elizabeth gak sampai bikin aku melotot kayak di film kartun sih, tampilannya tetap seram, tapi untuk ukuran hantu, parasnya enggak jelek.

Anyway, film ini punya cara yang aneh dalam memperkenalkan hantunya. Saat pertama kali kita melihat Ivanna secara jelas, dia lagi gangguin Tante yang sedang dzikir abis sholat. Ini adalah adegan terseram yang dipunya film, karena beberapa detik kemudian Ivanna akan ngejumpscare kita – para penonton – secara langsung. Seram, tapi aneh, karena mestinya kan yang ditakuti adalah tokoh cerita. Kayak Valak yang diperkenalkan dengan menakuti Lorraine di ruang baca. Tapi pada film ini, hantunya semacam langsung berkenalan dengan kita. Such a strange way to introduce a ghost character. Adegan ini lebih cocok berfungsi sebagai trailer saja ketimbang dimasukkan sebagai bagian yang actual dari film.

 

 

 

Seharusnya ini membahas tentang gimana seorang yang berteman dengan hantu, bisa menjalin kehidupan sosial normal dengan kerabatnya. Seharusnya kita diperlihatkan lebih banyak dari Risa dan adiknya, dan teman-temannya. Tapi fokus film ini ada pada hantu dan keluarga baru, yang tidak diparalelkan dengan mulus kepada kebutuhan tokoh utama. Akibatnya, kita dapat film dengan motivasi dan plot yang perlu terawangan untuk bisa dilihat. Sebuah wahana jumpscare dengan sedikit hati pada cerita. Kosong sekali, penulisan film ini. Arahan yang tidak membawa apa-apa bagi penampilan tokoh, penceritaan, selain beberapa shot menarik dan aspek seram yang digali dengan terlalu standar. Film ini enggak berbeda banyak dengan film pertamanya, dan mengingat film pertamanya mengeset penilaian yang begitu rendah, kentara sekali film horor Indonesia akan jalan di tempat. Film ini adalah contoh nyatanya.
The Palace of Wisdom gives 2 gold stars out of 10 for DANUR 2: MADDAH.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

Advertisements