Tags

, , , , , , , , , , , ,

“The question isn’t whether the world is perfect. The real question is: If it were, would you still be in it?”

 

 

 

 

Kejahatan yang dilakukan oleh Grindelwald bersumber dari keinginannya untuk membuat dunia penyihir hebat kembali.

 

Terdengar familiar? J.K. Rowling tampaknya memang punya visi yang lebih besar ketika diminta untuk melayarlebarkan buku saku kecilnya tentang binatang-binatang dunia sihir. Lanjutan dari petualangan seorang magizoologis, Newt Scamander, ini terhadir lebih sedikit tentang menangkap makhluk legendaris (bayangkan pokemon, hanya yang ini pake tongkat sihir alih-alih pokeball), dan lebih banyak tentang eksplorasi keadaan politik ala jaman Nazi – yang terkadang secara eksplisit diparalelkan dengan kehidupan modern kita yang sekarang.

Tidak butuh waktu lama buat penyihir sebrilian Grindelwald – yang ditahan di kementrian sihir Amerika di film pertama – untuk berhasil melarikan diri. Bermaksud mengumpulkan faksi, Grindelwald mengejar si cowok dengan kekuatan Obscural, si Credence, sampai ke negeri Perancis. Untuk alasan yang diungkap di momen terakhir film, Grindelwald percaya Credence adalah satu-satunya penyihir yang bisa mengalahkan Dumbledore, dan itu berarti mengenyahkan satu-satunya penyihir yang ia tahu mampu menghalangi niat mulia dirinya. Sementara itu, jagoan kita Newt Scamander sedang berjuang supaya larangan bepergiannya dicabut. Newt masih ingin mengoleksi hewan-hewan sihir. Saat itulah Dumbledore datang kepadanya; meminta Newt untuk mencari Credence ke Paris, sebelum Grindelwald berhasil merekrut sang pemuda malang yang sedang kebingungan dengan identitasnya. Cerita film ini sudah cukup njelimet sejak dari bagian awal. Perjuangan di film ini lebih kepada bagaimana mereka menempatkan Newt Scamander di tengah-tengah pusaran konflik dan pencarian identitas tersebut dan drama tokoh-tokoh yang datang silih berganti.

adegan paling lucu buatku adalah melihat bentuk boggart yang menampilkan ketakutan terbesar Newt Scamander

 

 

Sesekali film akan mencuri kesempatan membawa kita masuk ke dalam koper ajaib Newt, just to live it up to its title. kita akan melihat Newt berinteraksi dengan hewan dunia sihir. Ada satu adegan dengan CGI menakjubkan ketika Newt berenang menenangkan Kelpie – si kuda air peliharaannya. Film dengan susah payah berhasil menemukan cara untuk membuat makhluk-makhluk kesayangan Newt tampak berperan di dalam cerita yang punya undertone lebih kelam daripada film yang pertama. Namun, jika ingin menarik benang merah antara Newt sebagai tokoh utama dengan keseluruhan tema cerita, tempat pertama yang harus kita tengok adalah motivasi dari si tokoh itu sendiri. Bukan beban yang ringan sebenarnya bagi Eddie Redmayne untuk memainkan tokoh yang sejatinya diniatkan sebagai pengganti Harry Potter sebagai protagonis sihir yang benar-benar bikin kita peduli. Newt adalah karakter dengan punya banyak cinta untuk diberikan, tapi sikap dan gelagatnya yang eksentrik membuat dia terkadang tampak sama anehnya dengan makhluk yang ia pelajari di mata orang-orang. Cinta lah yang membuat Newt melakukan hal yang benar. Dan di film ini, cinta itu yang tepatnya membuat Newt melanggar peraturan bepergian yang disanksikan kepada dirinya. Newt ingin mencari Tina Goldstein, cewek auror yang ia cinta, yang ia ketahui berada di Paris untuk tujuan yang sama; menghentikan Grinderwald. Terlihat seperti cerita punya pijakan untuk memperkuat posisi Newt sebagai tokoh sentral; asmara itu bukan hanya satu, melainkan ada satu lagi yang bersumber dari Leta Lestrange yang lebih menarik karena menyangkut, well, kalian tahulah, Lestrange adalah nama yang cukup ‘besar’ dalam universe Harry Potter.

Untuk pertama kalinya film akan terasa nyaman untuk dinikmati, ketika cerita membawa kita ke balik dinding sekolah sihir; kita serasa alumni yang mengunjungi kembali sekolah kita yang lama. Dan ini lucu, mengingat kejadian di film ini adalah masa lampau dari cerita Harry Potter. Film terasa berhenti saat semua subplot dan tokoh-tokoh itu berganti menjadi suasana yang kita kenal. Kita melihat Dumbledore di masa mudanya. Di kesempatan berikutnya, kita melihat Newt dan Lestrange remaja. Kenapa mereka gak bikin film tentang mereka masih sekolah aja ya? Momen-momen ini yang kita pengen lebih banyak dimunculkan. Tapi film menemukan kembali rute chaotic-nya. Karena menjelang babak akhir, film banyak membahas drama silsilah keluarga Lestrange dan penelusuran darah Credence yang membingungkan sebelum akhirnya kembali diikat ke dalam masalah Grindelwald yang ingin mempersatukan penyihir di atas kaum non-penyihir.

Dunia yang sempurna adalah dunia di mana kita bisa menjadi diri sendiri dan bebas mencintai siapapun sesuai kata hati kita. Cinta sama muggle. Cinta sama makhluk aneh. Batasan itu bahkan bisa saja dinaikkan ke cinta sama jenis. Grindelwald ingin menciptakan dunia di mana penyihir bebas berkuasa, dia membujuk beberapa calon anggotanya dengan ‘bebas mencintai’. Tapi kebebasan mencinta tersebut sebenarnya adalah ekstensi dari kita tidak terpaksa oleh keadaan, atau rasa bersalah, ataupun rasa takut dan ketidakpastian

 

Yang dihormati Albus Dumbledore dari Newt adalah gimana Newt melakukan sesuatu yang benar tanpa ada apa-apanya, bahwasanya Newt tidak bergerak dengan motivasi mencari kekuasaan. Newt tak pelak adalah orang baik, namun dia sedikit terlalu baik. Karena, bahkan dalam film ini saja, dia enggak protes ketika porsinya tergeser oleh subplot-subplot yang susah dilihat koherensinya lantaran lebih terasa seperti pion-pion catur yang digerakkan, alih-alih progres natural cerita. Newt ‘pasrah’ aja (atau mungkin tepatnya; cuma bisa pasrah) padahal mestinya dia tokoh utama, dia seharusnya yang pimpin cerita. Ada banyak pengungkapan dalam narasi, tapi film tidak pernah terasa seberpetualang ataupun semengagetkan itu. Takjub yang kita rasakan sebagian besar datang dari efek visual, yang sering enggak benar-benar menambah pada bobot cerita.

Actually, banyak aspek pada film ini yang membuatku bertanya-tanya dalam hati “kok gini ya?” sehubungan dengan aspek kecil yang dijadikan detil dalam dunia film. Saat menonton Harry Potter, kita merasakan ada gejolak “whoaa, begitu ya ternyata penyihir itu” Ada sense of wonder melihat mereka begitu berbeda dengan muggle. Begitu kita masuk ke tembok Hogwarts, kita melihat dunia yang berbeda. Dunia dengan orang-orang yang berkeliaran dengan tongkat sihir dan jubah yang aneh. Aku tidak melihat atau merasakan yang serupa pada film ini. Para auror, pengikut Grindelwald, mereka mengenakan… jas. Mantel. Suit. Kenapa penyihir dalam film ini memakai busana yang sama dengan muggle? Bahkan Dumbledore; alih-alih jubah dan topi kerucut dan kacamata separuh bulan, Dumbledore di sini memakai setelan muggle yang sangat necis. Ingat gak betapa ‘norak’nya pakaian Dumbledore ketika dia mengunjungi Tom Riddle muda di panti asuhan muggle; dia pakai dress plum ungu. Kalo di film, dia pakai syal bermotif kembang-kembang. Apakah karena di kala itu Dumbledore sudah openly mengaku gay sedangkan di jaman Newt belum? Penyihir, di dunia Harry Potter yang itungannya modern, memandang aneh kepada selera muggle – mereka tidak tahu teknologi dan segala macem.

na gini dong, bukan begitu

 

Buatku aneh sekali hal seperti begini luput dari perhatian J.K. Rowling; jadi ini mungkin bukan kesalahan. Mungkin, aku mencoba untuk memahami elemen ini, mungkin di tahun 1927 itu hukum antara penyihir dan muggle belum disahkan. Mungkin saat itu mereka masih hidup berdampingan sehingga sedikit banyak fashion dan gaya hidup muggle berpengaruh terhadap penyihir. Tindak Grindelwald dan pengikutnyalah yang merenggangkan hubungan penyihir dengan muggle, yang menyebabkan gap di antara keduanya semakin jauh. Mungkin karena masalah sentimentil golongan aja yang menyebabkan di jaman Harry Potter, gaya hidup penyihir begitu berbeda dengan muggle. Who knows? Mungkin di seri berikutnya akan ada penjelasan mengenai ini.

Inilah menariknya dunia karangan J.K. Rowling. Kita bisa berspekulasi macam-macam. Dalam film ini, mungkin tokoh yang paling banyak dibicarakan adalah Nagini. Ular Pangeran Kegelapan yang ternyata dulunya manusia. Berasal dari Indonesia pula (bahkan sempat heboh kabarnya Acha Septriasa yang tadinya dapet peran ini sebelum akhirnya dibatalkan karena lagi hamil). Menarik melihat gimana tokoh Nagini diceritakan dalam film ini. Gimana tadinya dia adalah pemain sirkus. Bahkan gagasan ada sirkus di dunia penyihir aja sudah cukup aneh buatku haha. Anyway, Nagini dalam film ini dekat dengan Credence yang mencari sang ibu – mirip dengan Voldemort yang juga penasaran dengan ibunya. Ada sesuatu nih mestinyaa.. Film sepertinya menyimpan ini untuk cerita yang akan datang. Yang membuat aku penasaran karena ada bagian dari elemen Nagini yang enggak konsisten; dalam adegan disebutkan dia tidak akan bisa berubah lagi menjadi manusia setelah berubah menjadi ular, namun pada kenyataannya kita melihat Nagini bisa berubah wujud sebanyak yang ia mau. Aku hanya bisa berharap ini bukan kesalahan penulisan.

 

 

 

 

Bagian terburuknya adalah, setelah semua subplot yang bergilir muncul tanpa kesan yang berarti, seolah subplot-subplot itu ber-Disapparate begitu saja, cerita tidak benar-benar punya konklusi. Film ini hanya terasa sebagai jembatan untuk menghantarkan kita ke episode berikutnya. Kita tidak akan mengerti menonton ini jika tidak menonton film sebelumnya, pun kita tidak akan mendapat jawaban yang berarti sebelum menonton film berikutnya. Mengecewakan sekali, karena dari segi narasi, ini adalah cerita yang ‘penting’ dalam sejarah dunia sihir. J.K. Rowling sekali lagi menunjukkan kebolehannya membangun semesta yang kompleks. Tapi sepertinya memang lebih baik dibukukan terlebih dahulu. Sebagai naskah, it’s just too much. Para Potterhead sih, bakal seneng-seneng aja, soalnya mendapat eksplorasi dunia sihir yang lebih dalam. Tapi sebagai film, ini sudah bukan lagi cerita Newt Scamander. Ini adalah crimes of maksain cerita demi menghidupkan franchise yang semestinya sudah kelar.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for FANTASTIC BEASTS: THE CRIMES OF GRINDELWALD.

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Grindelwald dan Dumbledore punya motto “for the greater good” sebagai ungkapan untuk membenarkan aksi-aksi mereka. Apakah kalian setuju jika hasil itu adalah hal yang paling penting? Bagaimana menurut kalian perihal kita dibenarkan menempuh tindakan apapun demi kebaikan yang lebih besar?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

 

 

 

 

 

Advertisements